Artikel

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ.

Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa ia mendengar Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu dengan penuh saksama sebagaimana ketika mengizinkan nabi-Nya yang memperindah suaranya saat membaca Al-Qur’an dan menjaharkannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dari Abu ‘Amr—dikatakan juga Abu Abdullah dan Abu Laila—yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Anak Adam tidak memiliki hak (kebutuhan mendasar) selain dalam hal-hal berikut: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya, roti yang keras, dan air.”

(HR. At-Tirmidzi no. 2341, dan ia menilai: Hadis Hasan Sahih)

Pada intinya, sebagaimana dijelaskan dalam pertemuan awal, tujuan utama dari kehidupan kita di dunia ini adalah untuk mewujudkan (mentahqiq) tauhid, beribadah kepada Allah . Dalam kajian Kitab at-Tauhid, bab pertama membahas tema “Keistimewaan Tauhid dan Dosa-Dosa yang Diampuni Karenanya.”

Setelah memahami bab pertama mengenai hakikat tauhid sebagai tujuan diciptakannya manusia—yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah—penulis (rahimahullahu ta’ala) membawakan ayat dan hadis tentang keutamaan tauhid. Tabiat dasar jiwa manusia, apabila mengetahui besarnya balasan atau keutamaan dari suatu amalan, akan tumbuh semangat yang kuat untuk meraihnya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (218)

Larangan-larangan ihram adalah perkara-perkara yang haram yang wajib dijauhi oleh muhrim karena ihram, larangan-larangan ini ada Sembilan. Kalau seseorang melakukan salah satu larangan ihram karena lupa atau tidak tahu, maka tidak terkena apa-apa. Akan tetapi dikalau uzurnya sudah tidak ada, maka dia harus meninggalkan larangan itu. Dan seharusnya mengingatkan orang yang lupa dan mengajarkan orang yang tidak tahu.

Dari Abu ‘Amr—dikatakan juga Abu Abdullah dan Abu Laila—yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Anak Adam tidak memiliki hak (kebutuhan mendasar) selain dalam hal-hal berikut: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya, roti yang keras, dan air.”

(HR. At-Tirmidzi no. 2341, dan ia menilai: Hadis Hasan Sahih)

Pada intinya, sebagaimana dijelaskan dalam pertemuan awal, tujuan utama dari kehidupan kita di dunia ini adalah untuk mewujudkan (mentahqiq) tauhid, beribadah kepada Allah . Dalam kajian Kitab at-Tauhid, bab pertama membahas tema “Keistimewaan Tauhid dan Dosa-Dosa yang Diampuni Karenanya.”

Setelah memahami bab pertama mengenai hakikat tauhid sebagai tujuan diciptakannya manusia—yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah—penulis (rahimahullahu ta’ala) membawakan ayat dan hadis tentang keutamaan tauhid. Tabiat dasar jiwa manusia, apabila mengetahui besarnya balasan atau keutamaan dari suatu amalan, akan tumbuh semangat yang kuat untuk meraihnya.

Nikah disyariatkan berdasarkan Dalil-dalil berikut ini: Firman Allah: Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim. (An-Nisa’: 3)

Namun begitu, nikah hukumnya wajib bagi siapa saja yang mampu membiayainya dan ia khawatir akan terjerumus ke dalam Hal-hal yang haram. Nikah hukumnya sunah bagi orang yang sanggup membiayainya, namun ia tidak khawatir akan terjerumus ke dalam Hal-hal haram.