Niswah

Setiap orang tua tentu berharap anak-anaknya menjadi anak yang saleh, berbakti, dan senantiasa mengingat orang tuanya. Namun, ada satu harapan yang jauh lebih penting untuk direnungkan: apakah kelak anak-anak kita akan menjadi orang yang mendoakan kita ketika kita sudah tidak mampu lagi beramal?

Hari ini, ketika anak-anak masih kecil, kita yang bangun ketika mereka menangis. Kita yang merawat ketika mereka sakit, mencari obat, membawa mereka ke dokter, memikirkan makanan dan gizi mereka, memilih sekolah, memikirkan masa depan, serta berusaha menjaga keselamatan mereka.

Akan tetapi, akan datang suatu masa ketika keadaan berbalik.

Rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal bersama antara suami dan istri. Rumah tangga memiliki posisi yang sangat besar dalam kehidupan manusia, bahkan menjadi salah satu fondasi penting bagi terbentuknya masyarakat dan peradaban.

Karena itu, pembahasan tentang bagaimana membangun rumah tangga yang bahagia bukan perkara sederhana. Ia membutuhkan ilmu, kesabaran, ketakwaan, dan yang paling utama adalah hubungan yang baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَاتَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba Allah (para wanita) dari masjid-masjid Allah, namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (900) dan Muslim (442).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده . فإن لم يستطع فبلسانه . فإن لم يستطع فبقلبه .وذلك أضعف الإيمان

“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim, 49)

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا

“Terlaknatlah orang yang menyetubuhi istrinya melalui dubur (anus).” (HR. Abu Dawud no. 2162; An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra, 8: 200; Ibnu Majah no. 1923; Ahmad, 15: 457. Dinilai hasan oleh Al-Albani.)

Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia (ranjang) mereka.” (HR. Muslim no. 1437)

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian berhubungan intim dengan istrinya, hendaklah ia memperhatikan (memuaskan) istrinya. Kemudian, jika ia telah memenuhi kebutuhannya sebelum istrinya selesai memenuhi kebutuhannya, janganlah ia terburu-buru (meninggalkannya) hingga istrinya juga memenuhi kebutuhannya.”

(HR. Abu Ya’la no. 4201)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengucapkan tasbih itu bagi laki-laki dan menepuk tangan itu bagi perempuan.” (Muttafaqun ‘alaih. Imam Muslim menambahkan “di dalam shalat”) [HR. Bukhari, no. 1203 dan Muslim, no. 422]

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu istrinya menolak sehingga si suami melalui malam itu dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknat istrinya itu hingga pagi.” [Hadis sahih] – [Muttafaq ‘alaih]

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:

“Sesungguhnya wanita adalah aurat, apabila ia keluar maka syetan akan menghiasinya (menjadikannya indah di mata laki-laki). Dan keadaan yang paling dekat seorang wanita dengan Rabbnya adalah ketika ia berada di dalam rumahnya yang terdalam.”

Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi (1173) secara ringkas, Ibnu Hibban (5598), dan Ibnu Khuzaimah (1685) dengan lafadz ini.

Dari Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang wanita menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulan (Ramadhan), menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” 📖 HR. Ahmad dalam Musnadnya (1661).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ , beliau bersabda: “Seorang wanita tidak boleh berpuasa (sunnah) sementara suaminya hadir kecuali dengan izinnya, dan ia tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya sementara suaminya hadir kecuali dengan izinnya. Apa yang ia infakkan dari harta suaminya tanpa perintahnya, maka setengah dari pahalanya diberikan kepada suaminya.” 📖 HR al-Bukhari (5195), Muslim (1026) dengan lafaz ini.