• Alquran-Sunnah 1
    Ahlan wa Sahlan
    Selamat Datang di situs Al-Qurán Sunnah, Jika antum menemukan kesalahan, mohon kiranya untuk mengingatkan kami... Kami sampaikan Jazaakumullohukhoiron atas kunjungan antum wabarokallohufiikum...
  • Alquran-Sunnah 2
    Kenapa Al-Qurán dan Sunnah?
    Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Rawatlah Hati!
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,"Karena hati itu diciptakan untuk diketahui kegunaannya... maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berfikir dan menilai…”.

Allah ﷻ jadikan semua manusia terlahir dalam kondisi memiliki fitrah. Dengan bekal fitrah inilah mereka bisa mengenali siapa Penciptanya. Allah ﷻ berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah ﷻ yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah ﷻ. (QS. Ar-Rum: 30)

Wanita mendapat janji yang sama sebagaimana lelaki. Sehingga siapapun yang beramal dengan baik akan mendapat balasan yang sebanding dengan kualitas amalnya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 124:

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا ۝١٢٤

Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia beriman, akan masuk ke dalam surga dan tidak dizalimi sedikit pun.

Artinya, baik lelaki maupun wanita punya peluang yang sama untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Tidak ada istilah bahwa pahala wanita setengah lelaki. Bisa jadi, wanita solihah yang bertaqwa, mendapatkan derajat di surga yang lebih tinggi dibandingkan lelaki yang kurang bertaqwa.

Barzakh [البرزح] secara bahasa artinya pembatas di antara 2 hal, sehingga tidak bisa saling bertemu.

Allah berfirman,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِۙ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian bertemu; Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (QS. Ar-Rahman ayat 19-20)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa bagian dari tanda kuasanya adalah adanya pertemuan dua lautan, namun airnya tidak saling bercampur karena diantara keduanya ada barzakh yang memisahkannya.

Alam kubur disebut alam(barzakh, karena alam kubur menjadi pemisah antara kehidupan dunia dan hari kebangkitan.

Galau dapat dipahami sebagai kondisi hati yang tidak tenang, terutama karena dua hal:

Takut terhadap masa depan: khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Sedih terhadap masa lalu: menyesali kegagalan, kehilangan, atau sesuatu yang tidak berhasil diperoleh.

Dengan demikian, seseorang bisa mengalami kegalauan karena pikirannya terus terbebani oleh apa yang telah berlalu atau sesuatu yang dikhawatirkan akan terjadi.

Kajian kali ini kita akan membahas masalah harta, terutama bagi mereka yang sudah dikarunia kenikmatan harta dunia, sebagai koreksi cara pandang kita terhadap harta.

Memahami nasehat tentang hakekat harta, akan memudahkan seseorang untuk belajar menjadi manusia yang lebih tenang ketika berinteraksi dengan dunia. Terutama nasehat untuk hidup zuhud dan qana’ah. Semoga rangkaian nasehat berikut bermanfaat.

Salah satu mukjizat Rasul adalah banyaknya berita dari Nabi ﷺ tentang peristiwa tanda hari kiamat yang terbukti.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

سَيَأتِي عَلَى النَّاس سَنَوَات خَدَّاعَات، يُصَدَّق فِيهَا الكَاذِب ويُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق، ويُؤْتَمَن فِيهَا الخَائِن ويُخَوَّن فِيهَا الأَمِين، ويَنْطِق فِيهَا الرُّوَيْبِضَة، قِيْلَ: ومَا الرُّوَيْبِضَة؟ قَالَ: الرَّجُل التَّافِه في أمْر العَامَّة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.”

[HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887].

Mutiara Salaf