• Alquran-Sunnah 1
    Ahlan wa Sahlan
    Selamat Datang di situs Al-Qurán Sunnah, Jika antum menemukan kesalahan, mohon kiranya untuk mengingatkan kami... Kami sampaikan Jazaakumullohukhoiron atas kunjungan antum wabarokallohufiikum...
  • Alquran-Sunnah 2
    Kenapa Al-Qurán dan Sunnah?
    Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Rawatlah Hati!
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,"Karena hati itu diciptakan untuk diketahui kegunaannya... maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berfikir dan menilai…”.

13/469. Dan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Sungguh aku pernah melihat tujuh puluh orang dari kalangan Ahlus Shuffah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenakan ridā’. Pakaian mereka hanyalah izār atau kisā’ yang diikatkan di leher-leher mereka. Di antara pakaian itu ada yang panjangnya hanya sampai pertengahan betis, dan ada pula yang sampai ke kedua mata kaki. Maka salah seorang dari mereka menggenggam pakaiannya dengan tangannya, karena khawatir auratnya terlihat.”

(HR. Shahih al-Bukhari, no. 442).

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

Darinya (Anas Radhiyallahu’anhu), dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda:

“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka, lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’ Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’

Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga, lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’ Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.'” [HR. Mus;lim]

Darinya (Anas Radhiyallahu’anhu), dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda:

“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka, lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’ Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’

Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga, lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’ Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.'” [HR. Mus;lim]

Abu Ubaidah berkata, “Beliau memiliki 4 isteri budak, yaifu:  Mariyah al-Qibtiyah (ibu anak beliau ﷺ yang bernama lbrahim); Raihanah; lalu seorang wanita budak cantik yang didapatkan di antara tawanan perang; dan seorang budak wanita yang dihibahkan kepadanya oleh Zainab binti Jahsy.”

Di antara mantan budak beliau ﷺ adalah Zaid bin Haritsah bin syarahil, kesayangan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ memerdekakan dan menikahkannya dengan wanita mantan budaknya, ummu Aiman. Dari pernikahan mereka, lahirlah seorang anak yang diberi nama Usamah.

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

Mutiara Salaf