Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah sekawanan kambing lebih merusak kawanan itu daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya.

Kumpulan kajian rutin bersama Ustadz Samsuril Wadi Abu Hazim, SH, M.Pd
Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah sekawanan kambing lebih merusak kawanan itu daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya.
wudhu adalah menggunakan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu (yaitu wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki) untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau ibadah yang lain.
Rasulullah ﷺ dalam berbagai riwayat shahih justru memuji keberadaan harta yang berada pada tangan orang beriman. Harta tersebut dapat digunakan untuk menolong sesama, berinfak, dan menopang perjuangan agama. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘Alaih) dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallohu’anhu.
Air yang menetes dari anggota badan orang yang berwudhu (al-mutasaqith), dan air serupa lainnya, disebut Musta’mal – الماء المستعمل “air bekas pakai.” Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah air tersebut kehilangan kesuciannya atau tidak.
Dari Abu ‘Amr—dikatakan juga Abu Abdullah dan Abu Laila—yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Anak Adam tidak memiliki hak (kebutuhan mendasar) selain dalam hal-hal berikut: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya, roti yang keras, dan air.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2341, dan ia menilai: Hadis Hasan Sahih)
Telah berlalu pembahasan adab-adab buang hajat:
Menutup diri dari manusia.
Tidak membawa apa saja yang berkaitan dengan dzikir kepada Allah
Membaca bismillah dan ta’awudz
Mendahulukan kaki kiri Ketika masuk dan kanan Ketika keluar
Tidak menghadap atau membelakangi kiblat Ketika duduk buang hajat
Dari Abu ‘Amr—dikatakan juga Abu Abdullah dan Abu Laila—yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Anak Adam tidak memiliki hak (kebutuhan mendasar) selain dalam hal-hal berikut: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya, roti yang keras, dan air.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2341, dan ia menilai: Hadis Hasan Sahih)
Telah berlalu pembahasan adab-adab buang hajat:
Menutup diri dari manusia.
Tidak membawa apa saja yang berkaitan dengan dzikir kepada Allah
Membaca bismillah dan ta’awudz
Mendahulukan kaki kiri Ketika masuk dan kanan Ketika keluar
Tidak menghadap atau membelakangi kiblat Ketika duduk buang hajat
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-25 🎙️ Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. Hafidzahullah 📗 | Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt Hafidzahullah 🗓️ Al-khor, 01 Rabi’ul Akhir 1448 / 12 September 2026 📗 | https://shamela.ws/book/9260/1570#p1 Segala puji bagi Allah Subhanahu wa […]
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيِ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: تُوفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا فِي بَيْتِي مِنْ شَيْءٍ يَأْكُلُهُ ذُو كَبِدٍ إِلاَّ شَطْرُ شَعِيرٍ فِي رَفٍّ لِي، فَأَكَلْتُ مِنْهُ حَتَّى طَالَ علَيَّ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
474. Dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata, “Pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, di rumahku tidak ada sesuatu untuk dimakan, kecuali sedikit tepung gandum yang terletak di atas rak milikku, lalu dimakannya sehingga berlansung lama padaku. Kemudian apabila aku menakarnya dan ternyata tepung sudah habis.”
[Shahih Al-Bukhari no. 3096, 6451. Muslim no. 2973]