بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 47 – 2
🎙️ Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
🗓️ Al-khor, 28 Ramadhan 1445 / 6 Maret 2024


🎞️ Lihat video di Facebook


باب علامات حُبِّ الله تَعَالَى للعبد والحث عَلَى التخلق بِهَا والسعي في تحصيلها

Bab 47. Tanda-tanda Kecintaan Allah Kepada Seorang Hamba dan Anjuran untuk Berakhlak Dengannya serta Berusaha untuk Mendapatkannya.

📖 Hadits 1:

– وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم: «إنَّ الله تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا، وَرجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لأعِيذَنَّهُ». رواه البخاري. معنى «آذنته»: أعلمته بأني محارِب لَهُ. وقوله: «استعاذني» روي بالباءِ وروي بالنون.

385. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu , katanya: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman -dalam hadis Qudsi: “Barangsiapa yang memusuhi waliku (kekasihKu), maka Aku memberitahukan padanya bahwa ia akan Kuperangi -Kumusuhi. Tidaklah seorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Tidaklah seorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan melakukan hal-hal yang sunnah, sehingga akhirnya Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah telinganya yang ia pakai untuk mendengarkan, Akulah matanya yang ia pakai untuk melihat, Akulah tangannya yang ia pakai untuk mengambil dan Aku pulalah kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Jikalau ia meminta sesuatu padaKu, pasti Kuberi dan jikalau ia mohon perlindungan padaKu, pasti Kulindungi.” (Riwayat Imam Bukhari)

Hadits ini adalah hadits Qudsi.

Hadits Qudsi yakni hadits yang disampaikan Nabi ﷺ yang menyatakan firman-firman Allah selain yang tercantum dalam al-Quran.

Beberapa hal yang patut kita cermati tentang perbedaan Al-Qur’an dan Hadits Qudsi:

1. Al-Qur’an adalah mukjizat yang terjaga sepanjang masa dari segala pengubahan, serta lafal dan seluruh isinya sampai taraf hurufnya, tersampaikan secara mutawatir.

2. Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan maknanya saja. Ia harus dihafalkan sebagaimana adanya. Berbeda dengan hadits Qudsi, yang bisa sampai kepada kita dalam hadits yang diriwayatkan secara makna saja. Pun ia masih bisa dikritik secara sanad dan matan sebagaimana hadits-hadits lainnya.

3. Mushaf Al-Qur’an tidak boleh dipegang dalam keadaan berhadats kecil, serta tidak boleh dibaca saat berhadats besar. Sedangkan pada hadits Qudsi, secara hukum, ia boleh dibaca dalam kondisi berhadats.

4. Hadits Qudsi tentu tidak dibaca saat shalat, berbeda dengan ayat Al-Qur’an.

5. Membaca Al-Qur’an, membacanya adalah ibadah, dan setiap huruf diganjar sepuluh kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.

6. Al-Qur’an adalah sebutan yang memang berasal dari Allah, beserta nama-nama Al-Qur’an yang lainnya.

7. Al-Qur’an tersusun dalam susunan ayat dan surat yang telah ditentukan.

8. Lafal dan makna Al-Qur’an sudah diwahyukan secara utuh kepada Nabi Muhammad, sedangkan lafal hadits Qudsi bisa hanya diriwayatkan oleh para periwayat secara makna.

Syarah Hadits:

Makna lafaz Aadzantuhu artinya: “Aku (Tuhan) memberitahukan kepadanya (yakni orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahwa aku memerangi atau memusuhinya, sedang lafaz Ista’aadzanii, artinya “Ia memohonkan perlindungan padaKu.” Ada yang meriwayatkan dengan ba’, lalu berbunyi Ista-aadza bii dan ada yang meriwayatkan dengan nun, lalu berbunyi Ista-aadzanii.

Dalam hadis ini dijelaskan betapa tingginya derajat seseorang itu apabila telah diakui sebagai kekasih oleh Allah Ta’ala atau yang lazim disebut waliyullah.

Banyak orang yang salah pengertian perihal siapa yang dapat disebut waliyullah itu. Sebagian ada yang mengatakan bahwa waliyullah ialah semacam dukun yang dapat menyembuhkan beberapa orang sakit atau yang dapat menerka nasib seorang dikemudian harinya, atau orang yang tidak mudah ditemui karena selalu menghilang-hilang saja dan siapa yang ditemui olehnya adalah orang yang bahagia, dan bahkan ada yang mengatakan bahwa waliyullah itu tidak perlu bershalat dan berpuasa sebab sudah menjadi kekasih Allah.

Persangkaan sebagaimana di atas itu tidak benar, sebab memang tidak sedemikian itu sifat waliyullah. Maka yang lebih dulu perlu kita ketahui ialah: Siapakah yang sebenarnya dapat disebut waliyullah atau kekasih Allah itu? Jawabnya: Dalam al-Quran, Allah berfirman: “Tidak ada yang dianggap sebagai kekasih Allah, melainkan orang-orang yang bertaqwa kepadaNya.”

Waliyullah yang berupa orang-orang yang bertaqwa kepada Allah itulah yang dijamin oleh Allah akan mendapatkan perlindungan dan penjagaanNya selalu dan siapa saja yang hendak memusuhinya, pasti akan ditumpas oleh Allah, sebab Allah sendiri menyatakan permusuhan terhadap orang tadi.

Orang yang memusuhi wali Allah ﷻ diancam perang melawan Allah ﷻ. Orang yang memusuhi wali Allah ﷻ sebenarnya tidak ada gunanya, karena dia menantang perang dengan Allah ﷻ, yang hal ini tidak mungkin menang.

Bagaimanakah langkah pertama agar kita dikasihi oleh Allah? Jawabnya: Mendekatkan (bertaqarrublah) kepada Allah dengan penuh melakukan segala yang difardhukan (diwajibkan). Inilah cara taqarrub yang sebaik-baiknya dalam taraf permulaan. Kemudian sempurnakanlah taqarrub kepada Allah Ta’ala itu dengan jalan melakukan hal-hal yang sunnah.

Allah ﷻ lebih mencintai yang fardhu daripada sunnah. Maka sholat lima waktu lebih Allah ﷻ cintai daripada sholat rawatib, sholat wajib lebih dicintai dari pada sholat tahajud, maka sungguh rugi jika mendahulukan sholat tahajud tetapi terlewat sholat subuh. Demikian Juga zakat lebih Allah ﷻ cintai daripada sedekah.

Maka kerjakan yang wajib terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan amalan-amalan sunnah. Baik masalah ibadah maupun muamalah. Seperti mencukupi nafkah keluarga yang wajib lebih didahulukan daripada kebutuhan sekunder.

Kaitannya dengan zakat, seperti perhiasan yang dipakai yang tidak dizakati (meskipun para ulama berbeda pendapat). Mereka tidak memperhatikan masalah nishab harta dan haulnya, yang ada hak orang lain di hartanya.

Kaitannya dengan sedekah, maka skala prioritas adalah kerabat dekat terlebih dahulu.

Kaitannya dengan shalat, wanita yang datang ke masjid hukum asalnya boleh. Tetapi sisi keutamaannya di tempat tinggalnya lebih baik dari pada di masjid.

Kemudian, untuk mendapatkan cinta Allah ﷻ yang khusus adalah melaksanakan perkara-perkara yang sunnah yang dilakukan setelah melaksanakan yang wajib. Maka dia akan diberikan taufik untuk melihat, mendengar, tangan dan kaki yang semua dilakukannya kepada apa yang diridhoi Allah ﷻ. Jika dia berdo’a maka akan dikabulkan dan jika minta perlindungan maka Allah ﷻ akan lindungi.

Fawaid Hadits:

1. Bahayanya memusuhi wali Allah Ta’ala baik dengan membencinya maupun menyakitinya.
2. Mengerjakan yang fardhu lebih didahulukan daripada yang sunnah.
3. Sebab mendapatkan cinta Allah ﷻ adalah mengerjakan perkara yang sunnah seperti qiyamul, membaca Al-Qur’an, sholat rawatib dan lainya.
4. Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan yang fardhu.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم