Artikel

Barzakh [البرزح] secara bahasa artinya pembatas di antara 2 hal, sehingga tidak bisa saling bertemu.

Allah berfirman,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِۙ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian bertemu; Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (QS. Ar-Rahman ayat 19-20)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa bagian dari tanda kuasanya adalah adanya pertemuan dua lautan, namun airnya tidak saling bercampur karena diantara keduanya ada barzakh yang memisahkannya.

Alam kubur disebut alam(barzakh, karena alam kubur menjadi pemisah antara kehidupan dunia dan hari kebangkitan.

Galau dapat dipahami sebagai kondisi hati yang tidak tenang, terutama karena dua hal:

Takut terhadap masa depan: khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Sedih terhadap masa lalu: menyesali kegagalan, kehilangan, atau sesuatu yang tidak berhasil diperoleh.

Dengan demikian, seseorang bisa mengalami kegalauan karena pikirannya terus terbebani oleh apa yang telah berlalu atau sesuatu yang dikhawatirkan akan terjadi.

Kajian kali ini kita akan membahas masalah harta, terutama bagi mereka yang sudah dikarunia kenikmatan harta dunia, sebagai koreksi cara pandang kita terhadap harta.

Memahami nasehat tentang hakekat harta, akan memudahkan seseorang untuk belajar menjadi manusia yang lebih tenang ketika berinteraksi dengan dunia. Terutama nasehat untuk hidup zuhud dan qana’ah. Semoga rangkaian nasehat berikut bermanfaat.

Salah satu mukjizat Rasul adalah banyaknya berita dari Nabi ﷺ tentang peristiwa tanda hari kiamat yang terbukti.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

سَيَأتِي عَلَى النَّاس سَنَوَات خَدَّاعَات، يُصَدَّق فِيهَا الكَاذِب ويُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق، ويُؤْتَمَن فِيهَا الخَائِن ويُخَوَّن فِيهَا الأَمِين، ويَنْطِق فِيهَا الرُّوَيْبِضَة، قِيْلَ: ومَا الرُّوَيْبِضَة؟ قَالَ: الرَّجُل التَّافِه في أمْر العَامَّة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.”

[HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut shalat dengan kesibukan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa beliau pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang shalat, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawabnya. Seusai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الصَّلاَةِ لَشُغْلًا

“Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan.” (HR. Abu Daud 924, Ahmad 3563 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Beliau menyebut shalat dengan kegiatan yang berisi kesibukan, karena orang yang shalat secara lahir batin sedang melakukan banyak aktivitas. Fisiknya fokus dengan gerakan tertentu, batinnya juga fokus dengan memikirkan hal tertentu. Artinya, dalam shalat, pikiran orang tidak kosong, namun penuh dengan kegiatan.

Dan secara prinsip, jika orang melakukan kesibukan tertentu, maka dia akan melupakan kesibukan yang lain. Sebagaimana batin kita, jika hati ini melakukan kesibukan tertentu, maka dia akan lupa dengan kesibukan yang lain.

Memiliki harta yang melimpah itu tidak dilarang dalam Islam, asalkan posisinya diletakkan di tangan (alat) untuk beramal, bukan di hati (tujuan utama). Harta harus diperlakukan seperti toilet: fungsional, dibutuhkan, tetapi tidak untuk dicintai secara emosional.

Jika akidah hilang karena perang, seperti karena takut kehilangan keluarga dan harta, maka bisa jadi ada bibit kemunafikan di dalam hati kita. Na’udzubillahmindalik.

Pulanglah sebelum Engkau Dipanggil Pulang bermakna kematian dan taubat. Artinya: Bertaubatlah sebelum kematian menjemputmu.

Sebagaimana firman Allah ﷻ :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. (Al-Inshiqaq: 6).