Bismillah

Ringkasan Kitab Zaadul Ma’aad Karya Ibnul Al Qayyim, dengan Tema: Pesan Dakwah di Fase Makkah
Bersama: Ustadz Nefri Abu Abdillah, Lc., MA. Hafidzahullah
Pertemuan: 16 September 2026 / 6 Rabi’ul Akhir 21448
Tempat: Grand Mosque Al-Khor Community


 


Dalam kehidupan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, terdapat sisi kebaikan dan pelajaran yang sangat luas untuk kita jadikan sebagai nilai utama serta kurikulum praktis dalam menjalankan kehidupan. Para ulama menjelaskan bahwa Sirah Nabawiyah—sejarah perjalanan hidup Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau wafat—merupakan sebuah mukjizat. Maksudnya, seluruh perjalanan hidup beliau dikontrol dan dibimbing langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidak seperti kehidupan manusia biasa. Oleh karena itu, para ulama menyusun sejarah kehidupan beliau ke dalam banyak kitab, dan tidak ada kehidupan manusia yang lebih sempurna dibandingkan perjalanan hidup beliau.

Bagi kawan-kawan yang ingin mempelajari sirah, pelajarilah dengan cara mengikuti kronologi setiap peristiwa sejarah secara berurutan dan usahakan tidak melompat-lompat. Saat ini, kita berada di tahap permulaan (mukaddimah), yaitu mengenai awal sejarah dakwah dan turunnya wahyu di fase Makkah kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada pertemuan pekan lalu, kita telah membahas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Ya ayyuhal muddatsir, qum fa andzir, wa rabbaka fakabbir.”

Ayat di awal Surat Al-Muddatsir ini merupakan wahyu pertama yang turun setelah peristiwa perjumpaan dengan Malaikat Jibril di Gua Hira. Pesan utama dari ayat ini adalah perintah agar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam mulai mendakwahkan Islam, khususnya kepada kabilah Quraisy di Makkah. Potongan ayat “Wa rabbaka fakabbir” (dan Tuhanmu agungkanlah) membawa konsekuensi tauhid.

Ketika pesan ini disampaikan kepada masyarakat Quraisy, tentu sangat berseberangan dengan ideologi mereka yang menganut paham paganisme dan politeisme (menyembah banyak berhala). Respon dari masyarakat Quraisy adalah penentangan. Mereka menolak ajakan tersebut seraya berkata: “Apakah Muhammad ingin menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi Satu Tuhan saja? Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.” Hal ini menunjukkan bahwa fokus utama dakwah di fase Makkah adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh peribadahan.

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa ketika ayat tersebut turun—yang diawali dengan seruan kepada orang yang berselimut—Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam segera bangkit. “Berselimut” merupakan kiasan dari berada di zona nyaman. Namun, di saat kenyamanan itu ada, perintah Allah datang untuk tugas yang lebih besar, yaitu dakwah. Beliau bergegas menyampaikan dakwah secara sempurna, baik siang maupun malam, demi mengharap keridaan Allah.

Metodologi dakwah siang dan malam ini meneruskan tradisi para nabi terdahulu, seperti Nabi Nuh ‘alaihissalam yang mengadu kepada Allah bahwa beliau telah mengajak kaumnya siang dan malam tanpa mengenal waktu. Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam menjalankan dakwah di Makkah secara aktif melalui pendekatan personal (head to head) maupun secara kolektif dengan mendatangi perkumpulan (simposium) suku Quraisy. Beliau menyampaikan teguran dan ajakan secara terbuka: “Wahai kaum Quraisy, sembahlah Allah dan tinggalkanlah berhala-berhala yang kalian agungkan.”

Perlu dipahami bahwa dakwah Nabi tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi dalam arti terisolasi atau tertutup dari masyarakat. Para ulama Salaf mengingatkan bahwa ajaran yang disampaikan secara rahasia dan tertutup dari publik sering kali mengarah pada pemahaman yang menyimpang. Sahabat Tabi’in pernah menyatakan: “Jika engkau melihat suatu kelompok membicarakan urusan agama secara berbisik-bisik tanpa melibatkan orang lain, ketahuilah bahwa mereka sedang membangun penyimpangan.”

Ketika turun firman Allah:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Fashda’ bima tu’mar wa a’ridh ‘anil musyrikin”

(Sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik) – QS. Al-Hijr ayat 94.

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam semakin bersemangat menjalankan perintah Allah tanpa rasa takut terhadap celaan siapa pun. Ibnu Qayyim melanjutkan bahwa beliau menyerukan dakwah kepada semua kalangan: anak-anak, orang dewasa, merdeka, budak, laki-laki, perempuan, orang Arab maupun non-Arab (Ajam), bahkan hingga bangsa jin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa beliau diutus sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

Namun, perjalanan dakwah tidak selalu terhampar karpet merah. Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mulai menghadapi intimidasi, tekanan fisik, dan ancaman dari para pembesar Quraisy. Ibnu Qayyim menegaskan bahwa hal ini merupakan sunnatullah yang pasti dialami oleh siapa saja yang menyerukan kebenaran dan tauhid. Allah menghibur Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam melalui firman-Nya dalam Surat Fussilat Ayat 43:

مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبْلِكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ

Mā yuqālu laka illā mā qad qīla lir-rusuli ming qablik, inna rabbaka lażụ magfiratiw wa żụ ‘iqābin alīm

Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.

Ayat ini menjadi penguat batin (ta’ziyah) bagi Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bahwa penolakan, tuduhan gila, maupun celaan yang dialaminya juga pernah dirasakan oleh para nabi terdahulu. Orang-orang Quraisy yang tadinya menjuluki beliau Al-Amin (yang terpercaya) berbalik menjuluki beliau Al-Kadzdzab (pendusta), bahkan mengganti nama beliau dari Muhammad (yang terpuji) menjadi Mudzammam (yang tercela).

Di tengah intimidasi tersebut, mulailah terlihat orang-orang yang menyambut seruan Islam dari berbagai kabilah:

  • Kaum Pria: Orang pertama yang beriman adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Setelah masuk Islam, beliau mengajak tokoh-tokoh lain seperti Utsman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqas.
  • Kaum Wanita: Manusia pertama secara mutlak yang beriman dan mendukung dakwah beliau adalah Ibunda Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Beliau menjadi sosok penyokong utama yang menguatkan Nabi dengan perkataan optimis: “Bergembiralah, demi Allah engkau tidak akan pernah dihinakan oleh Allah selamanya.” Ini menunjukkan peran besar wanita dalam sejarah dakwah.
  • Anak-anak & Pemuda: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyambut Islam pada usia 8 tahun, diikuti oleh Zaid bin Al-Haritsah radhiyallahu ‘anhu.

Bagi para sahabat yang tidak memiliki perlindungan keluarga atau posisi sosial yang kuat, mereka menjadi sasaran penyiksaan kejam dari pembesar Quraisy. Contohnya adalah keluarga Yasir (Yasir dan istrinya Sumayyah, yang menjadi syahid pertama dalam Islam) serta Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang disiksa di terik padang pasir dengan batu besar di atas dadanya, namun tetap teguh menyerukan “Ahad, Ahad”. Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian membeli dan membebaskan Bilal murni karena mengharap keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perlu dicatat bahwa mayoritas pemeluk Islam di fase awal Makkah sebenarnya berasal dari kalangan elite dan terpandang, seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Mus’ab bin Umair. Kalangan lemah secara sosial jumlahnya relatif sedikit. Anggapan bahwa Islam hanya diikuti oleh orang-orang lemah hanyalah framing politik dan narasi perendahan dari tokoh-tokoh penentang dakwah seperti Abu Sufyan kala itu, serupa dengan tuduhan kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam kepada pengikutnya di masa lalu.

Ketika tekanan semakin berat, Allah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin oleh seorang raja Nasrani yang adil bernama Najasyi (Ashamah). Hijrah ini terjadi dalam dua gelombang: gelombang pertama diikuti sekitar 12–15 orang, dan gelombang kedua diikuti oleh lebih dari 100 orang.

Tanya Jawab: Perbedaan Dakwah Nabi Nuh dan Nabi Muhammad

Penanya:

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, tetapi pengikutnya hanya sedikit. Apa yang membedakan dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam dengan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam?

Ustadz Menjawab:

Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah selama 950 tahun (alfa sanatin illa khomsiina ‘aama), namun menurut para ahli sejarah, pengikut beliau hanya berkisar 80 hingga 90 orang. Jika dikalkulasikan, secara rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 10 hingga 12 tahun dakwah penuh perjuangan fisik dan ancaman jiwa hanya untuk mendapatkan satu orang pengikut. Namun, Nabi Nuh tetap bersabar sehingga beliau tergolong ke dalam kelompok Ulul ‘Azmi.

Sejumlah faktor yang membedakan kondisi kedua perjalanan dakwah tersebut antara lain:

1. Akar Kesyirikan yang Sangat Mendalam pada Kaum Nabi Nuh

Kesyirikan pertama di muka bumi terjadi pada kaum Nabi Nuh. Selama 10 kurun (generasi) dari Nabi Adam hingga Nabi Nuh, manusia hidup dalam tauhid. Penyimpangan terjadi secara bertahap ketika orang-orang saleh wafat; setan membujuk masyarakat untuk membuat patung/penanda sebagai pengingat kebaikan. Pada generasi berikutnya, setan mengubah narasi dengan membujuk mereka agar berdoa dan meminta kepada patung-patung tersebut. Proses kesyirikan yang mengakar selama ribuan tahun ini membuat penentangan kaum Nabi Nuh sangat keras.

2. Pengaruh Kekayaan dan Kesombongan Masyarakat

Mayoritas masyarakat kaum Nabi Nuh adalah orang-orang kaya yang sombong dan memandang rendah ajaran tauhid.

3. Keutamaan dan Bimbingan Khusus untuk Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam

Meskipun masa dakwah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam relatif singkat (sekitar 23 tahun), Allah memberikan keutamaan berupa percepatan dakwah. Pada 5 tahun pertama saja, ratusan orang telah masuk Islam.

Tanya Jawab: Jangkauan Dakwah Nabi ke Luar Jazirah Arab

Penanya:

Apakah dakwah Rasulullah pada saat itu sudah mencakup wilayah di luar Arab, seperti Romawi, Cina, atau wilayah lainnya?

Pembicara:

Secara hukum dan syariat, dakwah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam bersifat universal untuk seluruh umat manusia (al-ahmar wa al-aswad, baik yang berkulit merah maupun hitam). Namun secara faktual pada 22–23 tahun masa kenabi-an, dakwah beliau belum menjangkau wilayah geografis yang jauh seperti Cina atau Rusia karena fokus menyelesaikan dinamika internal dan ancaman dari suku Quraisy.

Titik balik penyebaran Islam ke luar Jazirah Arab dimulai setelah terjadinya Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian damai ini memberikan jeda dari konflik militer dengan suku Quraisy, sehingga membuka peluang dakwah yang sangat besar.

Setelah situasi internal stabil, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam melakukan manuver dakwah diplomatis dengan mengirimkan surat dan utusan resmi kepada para pemimpin dunia kala itu, seperti Kaisar Heraklius di Romawi, Raja Persia, dan Muqawqis di Mesir. Peristiwa Hudaibiyah inilah yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai Al-Fath (kemenangan yang nyata) karena menjadi pintu pembuka tersebarnya cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.

*****

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم