بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kitab Al-Lu’lu wal Marjan – Muhammad Fu’ad Abdul Baqi
(Kumpulan hadits yang disepakati Bukhari Muslim)
📖 Hadits ke-457: Nabi ﷺ Membaca surat Al-Fath dalam Fathu Mekah
Keberhasilan dan Kemenangan dengan Pertolongan Allah serta Kedekatan dengan Al-Qur’an
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita kesehatan, kemudahan, dan taufik sehingga kita dapat kembali menghadiri majelis ilmu pada pagi hari ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat.
Di antara doa yang senantiasa kita panjatkan pada pagi hari adalah:
Allahumma inna nas’aluka ‘ilman nafi‘an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”
Perhatikan bahwa yang pertama kali kita minta adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, tetapi ilmu yang memberikan perubahan pada diri seseorang: dari keburukan menuju kebaikan, dari ketidaktahuan tentang perkara haram menjadi mengetahui dan meninggalkannya, serta beralih kepada perkara yang halal.
Demikian pula dalam masalah tauhid. Seseorang yang mengetahui perkara-perkara kesyirikan akan meninggalkannya dan berusaha mentauhidkan Allah ﷻ. Demikian juga seseorang yang sebelumnya tidak mengetahui sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mendapatkan ilmu ia berusaha mengikuti dan mengamalkan sunnah tersebut.
Dengan demikian, ukuran ilmu yang bermanfaat adalah adanya perubahan dalam diri dan amal seseorang.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Fathu Makkah
Pembahasan kita adalah hadis dari kitab Lu’lu’ wal Marjan, hadis nomor 457, mengenai bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Makkah.
حَدِِثُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيَّ يَقُولُا قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فِي مَسِيرٍ لَهُ سُورَةَ الْفَتْحِ عَلَى رَاحِلَتِهِ فَرَجَّعَ فِي قِرَاءَتِهِ قَالَ مُعَاوِيَةُ لَوْلَا أَنِّي أَخَافُ أَنْ يَجْتَمِعَ عَلَيَّ النَّاسُ لَحَكَيْتُ لَكُمْ قِرَاءَتَهُ
‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu berkata:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al Fath pada tahun Al Fath (penaklukan kota Makkah) dalam suatu perjalanan disaat beliau berada di atas kendaraannya. Kemudian beliau mengulang-mengulang bacaannya. Mu’awiyah berkata: “Sekiranya aku tidak khawatir manusia akan berkumpul mengerumuniku, niscaya akan saya ceritakan kepada kalian seperti apa bacaan beliau.”
HR. Muslim 1323
Hadis ini mengandung banyak pelajaran penting, antara lain :
1. Kemenangan Datang dari Allah ﷻ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Makkah dengan tujuan yang sangat besar, yaitu menaklukkan Makkah. Namun, kemenangan tersebut tidak semata-mata karena kekuatan manusia. Kemenangan datang dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Oleh karena itu, ketika seseorang menginginkan keberhasilan, ia harus meminta pertolongan kepada Allah dan menempuh sebab-sebab yang diridai-Nya.
Di antara sebab yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memperbanyak istighfar, memuji dan menyucikan Allah, serta membaca Al-Qur’an.
Dalam surah An-Naṣr, yang merupakan pertanda dekatnya kemenangan:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Naṣr: 1–3)
Hal ini menunjukkan ketundukan dan kerendahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan Allah. Beliau tidak menyandarkan keberhasilan kepada kekuatan dirinya, jumlah pasukannya, ataupun kemampuan manusia, tetapi kepada pertolongan Allah.
Ini merupakan pelajaran besar bagi kita.
Ketika menginginkan keberhasilan dalam suatu urusan, jangan hanya mengandalkan kemampuan dan usaha. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, tetapi sertailah usaha tersebut dengan doa, istighfar, ibadah, dan ketergantungan kepada Allah.
2. Kesuksesan Tidak Selalu Berarti Kemenangan dalam Peperangan
Fathu Makkah merupakan peristiwa besar. Makkah ketika itu dihuni oleh orang-orang yang kuat dan memiliki pengaruh besar. Namun, Allah memberikan kemenangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara yang luar biasa.
Kemenangan tidak selalu berarti memenangkan peperangan. Kemenangan dapat berupa kesuksesan, kemudahan, taufik, istiqamah dalam ketaatan, dan kemampuan untuk terus berada di atas jalan yang benar.
Karena itu, seseorang yang ingin berhasil dalam kehidupannya hendaknya banyak membaca Al-Qur’an dan memohon pertolongan kepada Allah.
Seorang ayah yang menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh hendaknya memperbanyak doa, istighfar, dan membaca Al-Qur’an. Ketika anak-anak masih kecil, orang tua hendaknya menitipkan mereka kepada Allah dengan doa dan mendidik mereka sejak dini.
Demikian pula ketika anak-anak telah dewasa, menikah, dan memiliki keluarga sendiri. Jangan berhenti mendoakan mereka. Doakan anak-anak, keturunan, dan keluarga agar senantiasa mendapatkan kebaikan dan taufik dari Allah.
3. Kesuksesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Tidak ada manusia yang lebih sukses daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
Dakwah beliau pada awalnya hanya diikuti oleh sedikit orang. Namun, dari jumlah yang sedikit itu, Islam berkembang dan tersebar luas ke berbagai penjuru dunia.
Keberhasilan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah semata-mata karena kemampuan manusiawi beliau, tetapi karena pertolongan Allah.
Jika kita ingin meniti jalan keberhasilan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik.
Salah satu hal yang dapat kita lihat dari perjalanan beliau menuju Fathu Makkah adalah banyaknya istighfar, pujian kepada Allah, dan bacaan Al-Qur’an.
Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah merupakan salah satu sebab datangnya pertolongan dan keberhasilan.
4. Bersyukur Ketika Mendapat Keberhasilan
Apa pun keberhasilan yang kita dapatkan pada hakikatnya berasal dari Allah.
Seseorang mungkin mendapatkan pekerjaan yang baik, memperoleh kesempatan bekerja di tempat yang bagus, mendapatkan rezeki yang luas, atau diberi berbagai kemudahan dalam kehidupannya. Semua itu merupakan karunia Allah.
Ketika memperoleh keberhasilan, tugas kita bukan menjadi sombong, tetapi bersyukur kepada Allah.
Jika Allah memberikan pekerjaan yang baik, manfaatkan pekerjaan tersebut untuk mendukung ketaatan. Gunakan waktu yang ada untuk menuntut ilmu, beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat.
Jangan sampai keberhasilan dalam urusan dunia justru membuat seseorang semakin jauh dari agama.
Orang yang baru datang ke suatu negeri atau mendapatkan kehidupan yang lebih baik hendaknya segera mengisi kehidupannya dengan kebaikan. Sebab, jika seseorang telah terbiasa dengan keburukan, ia akan semakin sulit untuk kembali kepada kebaikan.
5. Tawaduk, Bukan Kesombongan
Salah satu pelajaran penting dari kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Makkah adalah tawaduk.
Ketika mendapatkan kemenangan besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadi sombong. Justru beliau semakin menunjukkan ketundukan kepada Allah.
Berbeda dengan manusia pada umumnya. Ketika mendapatkan keberhasilan, seseorang terkadang merasa bahwa keberhasilan tersebut semata-mata karena kepandaiannya, pendidikan yang ditempuhnya, relasi yang dimilikinya, atau kemampuan dirinya.
Ini merupakan perkara yang berbahaya.
Seseorang bisa mengatakan, “Saya berhasil karena pendidikan saya,” atau, “Saya mendapatkan pekerjaan ini karena kepandaian saya.” Padahal, siapa yang memberikan kepandaian? Siapa yang memberikan kesempatan? Siapa yang memberikan kesehatan? Siapa yang memberikan jalan menuju keberhasilan?
Semuanya berasal dari Allah.
Al-Qur’an telah menjelaskan kisah Qarun yang tertipu dengan hartanya. Ketika ditanya tentang kekayaannya, ia menyandarkannya kepada pengetahuan dan kemampuan dirinya. Kesombongan seperti ini akhirnya menjadi sebab kehancurannya.
Karena itu, jangan sampai keberhasilan merusak tauhid dan menumbuhkan kesombongan.
Kita harus senantiasa mengatakan dalam hati bahwa semua kebaikan yang kita peroleh adalah karunia Allah.
Belajar untuk Senantiasa Tawaduk
Dalam menuntut ilmu pun kita harus tawaduk.
Seorang ustaz atau guru juga tetap membutuhkan nasihat dan ilmu. Ketika menghadiri kajian, kita semua pada hakikatnya sedang belajar dan berusaha memperbaiki diri.
Mendengarkan kajian bukan hanya untuk menyampaikan ilmu kepada orang lain, tetapi pertama-tama untuk memperbaiki diri sendiri.
Oleh sebab itu, jangan merasa telah cukup dengan ilmu yang dimiliki. Teruslah belajar, teruslah mendengarkan nasihat, dan teruslah memperbaiki diri.
6. Memperindah Bacaan Al-Qur’an
Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surah Al-Fath dengan mengulang-ulang dan memperindah bacaannya.
Para ulama menjelaskan bahwa hal tersebut menunjukkan adanya usaha untuk memperindah bacaan Al-Qur’an.
Memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an dapat membantu menghadirkan ketenangan dan kekhusyukan. Karena itu, seseorang hendaknya berusaha memperbaiki bacaan Al-Qur’annya.
Jangan merasa, “Suara saya tidak bagus, jadi saya tidak perlu memperbaiki bacaan.”
Justru hendaknya seseorang terus berusaha memperindah bacaannya sesuai dengan kemampuan, selama tidak keluar dari kaidah dan tidak berlebihan.
Dari Abu Lubababh Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
“Barangsiapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Namun, apabila bacaan seseorang justru mengganggu orang lain, hendaknya ia memperhatikan kondisi dan tempatnya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah, tetapi seseorang juga harus memperhatikan agar ibadahnya tidak mengganggu orang lain.
7. Al-Qur’an Sebagai Teman dalam Setiap Keadaan
Di antara pelajaran penting lainnya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai teman dalam berbagai keadaan.
Ketika lapang, membaca Al-Qur’an.
Ketika sempit, membaca Al-Qur’an.
Ketika bahagia, membaca Al-Qur’an.
Ketika sedih, membaca Al-Qur’an.
Ketika takut, membaca Al-Qur’an.
Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi teman ketika kita berada di pesantren atau ketika masih belajar. Setelah menyelesaikan pendidikan, mushaf justru ditinggalkan.
Dahulu ketika berada di pesantren, seseorang terbiasa membawa mushaf karena harus menghafal, menyetorkan hafalan, atau mempersiapkan ujian. Kebiasaan seperti itu hendaknya terus dipertahankan setelah keluar dari pesantren.
Jika dahulu kita terbiasa membawa mushaf, maka jangan sampai sekarang kita lebih sering membawa telepon genggam yang akhirnya lebih banyak digunakan untuk membuka media sosial daripada membaca Al-Qur’an.
Teknologi boleh dimanfaatkan untuk kebaikan. Namun, jangan sampai keberadaan telepon genggam membuat kita jauh dari Al-Qur’an.
8. Orang Tua Harus Menjadi Teladan
Khususnya bagi para orang tua, hendaknya memberikan contoh kepada anak-anak.
Anak-anak akan belajar dari apa yang mereka lihat. Jika seorang ibu dan ayah terbiasa membaca Al-Qur’an, insya Allah anak-anak akan melihat bahwa Al-Qur’an adalah bagian penting dari kehidupan keluarga.
Jangan hanya memerintahkan anak untuk membaca Al-Qur’an, sementara orang tuanya sendiri jarang membacanya.
Para ibu dan ayah hendaknya menjadi teladan. Biasakan membaca Al-Qur’an di rumah. Ketika anak melihat orang tuanya dekat dengan Al-Qur’an, hal itu akan memberikan pengaruh yang besar dalam pendidikan mereka.
Firman-Nya dalam Surat Al-Isra Ayat 9:
إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.
9. Menjaga Keikhlasan
Muawiyah Radhiyallahu’anhu dalam hadits berkata Sekiranya aku tidak khawatir manusia akan berkumpul mengerumuniku…
Sehingga beliau bersikap tawadhu dengan menjaga keikhlasannya.
10. Keberhasilan yang Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan kepada kita jalan menuju keberhasilan.
Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, bagusnya pekerjaan, atau luasnya kehidupan dunia.
Keberhasilan yang sebenarnya adalah ketika Allah memberikan taufik kepada seseorang untuk tetap berada dalam ketaatan.
Karena itu, jika Allah memberikan kita rezeki, gunakan untuk kebaikan. Jika Allah memberikan pekerjaan, manfaatkan untuk ketaatan. Jika Allah memberikan anak, didik mereka di atas agama. Jika Allah memberikan pasangan hidup, ajak dan nasihati untuk bersama-sama melakukan kebaikan.
Anak adalah amanah. Istri adalah amanah. Keluarga adalah amanah. Semuanya harus dijaga dan diarahkan kepada kebaikan.
Allah telah mengingatkan bahwa keluarga dan harta dapat menjadi fitnah bagi manusia. Karena itu, kita harus berhati-hati agar kecintaan kepada keluarga dan dunia tidak justru menyeret kita kepada kemaksiatan.
💡 Faedah Hadits:
Dari hadis tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fathu Makkah, kita mendapatkan banyak pelajaran:
1. Kemenangan dan keberhasilan datang dari Allah.
2. Doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan ibadah merupakan sebab datangnya pertolongan Allah.
3. Ketika mendapatkan keberhasilan, kita harus bersyukur, bukan menyombongkan diri.
4. Tawaduk merupakan sifat penting bagi orang yang ingin mendapatkan keberhasilan.
5. Al-Qur’an hendaknya menjadi teman dalam keadaan lapang maupun sempit.
6. Orang tua harus memberikan teladan kepada anak dalam membaca dan mengamalkan Al-Qur’an.
7. Jangan meninggalkan kebiasaan membaca Al-Qur’an setelah selesai belajar di pesantren.
8. Keberhasilan dunia hendaknya menjadi sarana untuk semakin dekat kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya.
9. Kemenangan yang paling besar adalah mendapatkan taufik untuk istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat.
📖 Hadits ke-458: Turunnya Sakinah Saat Dibacakan Al-Qur’an
٤٥٨ – عن البراء بن عازب –رضي الله عنهما- قال: كانَ رجلٌ يَقرَأُ سُورةَ الكهفِ، وعندَه فَرَسٌ مَربُوطٌ بِشَطَنَيْنِ، فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو، وجَعلَ فَرَسُه يَنفِرُ منها، فلمّا أصبحَ أتَى النبيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكرَ ذلك له، فقالَ: «تِلكَ السَّكِينةُ تَنَزَّلَتْ للقُرآنِ».
[صحيح] – [متفق عليه]
458. Dari Al-Barā` bin ‘Āzib -raḍiyallāhu ‘anhumā- mengatakan,
“Seseorang tengah membaca surah Al-Kahfi sedang di dekatnya terdapat kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu awan kecil menutupinya dan mendekat sehingga kudanya lari menjauhi awan ini. Pada pagi harinya, ia mendatangi Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-, lalu menceritakan peristiwa tersebut pada beliau. Maka beliau bersabda, “Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur’ān.”
📃 Penjelasan:
Nama sahabat yang membaca Al-Qur’ān ini adalah Usaid bin Ḥuḍair -raḍiyallāhu ‘anhu-.
Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa itu adalah ketenangan yang turun pada saat Alquran dibaca, sebagai karamah sahabat yang tengah membaca Al-Qur’ān ini dan kesaksian dari Allah bahwa firman-Nya adalah benar.
Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, amal yang diterima, hati yang tawaduk, serta taufik untuk senantiasa dekat dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan sebagai pedoman hidup manusia. Ia tidak hanya berisi hukum-hukum dan petunjuk, tetapi juga menjadi syifa (penyembuh) dan rahmat (kasih sayang) bagi orang-orang yang beriman.
Allah ﷻ berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”
(QS. Al-Isra’: 82)
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, membaca kitab-Nya dan mempelajarinya, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat mel iputi mereka.”
(HR. Muslim, no. 2699).
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupan kita dan memberikan kepada kita keberhasilan di dunia dan akhirat.
Wallahu a‘lam.
Poster
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم



