بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Al-Khor Sabtu Pagi
📗 | #6 Kitab Al-Wasail Al-Mufidah Lil-Hayatis Sa’idah ( الوسائل المفيدة للحياة السعيدة ) Karya Sheikh Abdul Rahman bin Nasser Al-Saad Rahimahullah
🎙️ | Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc. MA. Hafidzahullah
🗓️ | Al-khor, 20 Jumadil awal 1448 / 31 Oktober 2026
Kitab Al-Wasā’il Al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di Rahimahullah
Al-Iman wal ‘Amal Ash-Shalih: Kunci Meraih Kehidupan yang Bahagia di Dunia dan Akhirat
Materi ini merupakan kelanjutan pembahasan kitab Al-Wasā’il al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, khususnya tentang wasilah pertama untuk meraih kehidupan yang bahagia, yaitu iman dan amal saleh.
Muqaddimah
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn. Washshalātu wassalāmu ‘alā asyrafil anbiyā’i wal mursalin, Nabiyyinā Muhammadin, wa ‘alā ālihi wa shahbihi wa man tabi‘ahum bi ihsānin ilā yaumiddīn.
Amma ba‘du.
Hadirin, ikhwan dan akhwat rahimani wa rahimakumullah.
Alhamdulillah, sampai saat ini kita masih diberikan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghadiri dan mengikuti kajian rutin kita. Kita senantiasa berdoa kepada Allah agar diberikan keikhlasan, istiqamah di atas kebaikan, serta mendapatkan keridaan-Nya, Rabb semesta alam, baik di dunia maupun di akhirat.
Pada kesempatan ini, kita masih melanjutkan pembahasan poin pertama dari wasilah untuk menggapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat sebagaimana dijelaskan oleh penulis, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah.
Wasilah pertama tersebut adalah al-iman wal ‘amal ash-shalih (iman dan amal saleh).
Beliau rahimahullah mengatakan:
وَأَعْظَمُ الْأَسْبَابِ لِذَلِكَ وَأَصْلُهَا هُوَ الْإِيمَانُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ
“Sebesar-besar sebab untuk memperoleh kebahagiaan tersebut, sekaligus fondasi dan dasarnya, adalah iman dan amal saleh.”
Ini merupakan perkara yang sangat penting. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memperbarui iman dan memperbaiki amal saleh agar keduanya senantiasa menyertai kita di mana pun berada.
1. Saling Mengingatkan dalam Iman dan Amal Saleh
Tidak mengherankan apabila dahulu para sahabat Nabi ﷺ memiliki kebiasaan saling mengingatkan dalam perkara iman dan amal saleh.
Diriwayatkan bahwa apabila dua orang sahabat Rasulullah ﷺ bertemu, kemudian hendak berpisah, salah seorang di antara mereka membacakan Surah Al-‘Ashr kepada yang lainnya. Setelah itu, mereka saling mengucapkan salam.
Kebiasaan ini menunjukkan betapa pentingnya saling mengingatkan dalam kebaikan. Kandungan Surah Al-‘Ashr merupakan peringatan agar manusia tidak menjadi orang-orang yang merugi. Allah menjelaskan bahwa manusia akan berada dalam kerugian kecuali mereka yang memiliki empat sifat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Dengan demikian, kebiasaan para sahabat tersebut merupakan bentuk saling mengingatkan agar tidak lalai dari fondasi kebahagiaan, yaitu iman dan amal saleh.
Kita pun hendaknya senantiasa melakukan muhasabah terhadap diri sendiri. Sejauh mana kualitas iman kita? Sejauh mana amal saleh yang telah kita kerjakan?
Jangan sampai ilmu yang kita dengar hanya menjadi teori. Kita menghadiri kajian, membaca buku, mengumpulkan artikel, bahkan terkadang menangis ketika mendengar ceramah, tetapi semua itu tidak memberikan pengaruh terhadap perubahan iman dan amal kita.
Padahal, iman dan amal saleh merupakan fondasi utama untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
2. Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seluruh urusan seorang mukmin mengandung kebaikan, baik ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan maupun ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai.
Beliau ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain orang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.”
HR. Muslim no. 2999, dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu.
Hadis ini telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya. Namun, poin yang perlu kembali kita tekankan adalah bahwa kebaikan tersebut hanya akan diperoleh oleh seorang mukmin yang benar-benar memiliki iman.
Ketika mendapatkan kebahagiaan, dia bersyukur. Ketika mendapatkan musibah, dia bersabar. Kedua keadaan tersebut sama-sama menjadi kebaikan baginya.
Akan tetapi, apabila iman hanya sebatas pengetahuan dan teori, seseorang belum tentu mampu menerapkannya ketika menghadapi kenyataan hidup.
Karena itu, kita harus membangun iman terlebih dahulu, kemudian mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.
3. Dua Jenis Manusia dalam Menghadapi Ujian Kehidupan
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah kemudian menjelaskan bahwa dua orang bisa saja mengalami peristiwa yang sama, baik berupa kebahagiaan maupun musibah, tetapi keduanya memiliki sikap yang sangat berbeda dalam menghadapinya.
Beliau berkata:
وَلِهَذَا تَجِدُ اثْنَيْنِ تَطْرُقُهُمَا نَوَائِبُ مِنْ نَوَائِبِ الْخَيْرِ أَوِ الشَّرِّ، فَيَتَفَاوَتَانِ تَفَاوُتًا عَظِيمًا فِي تَلَقِّيهَا، وَذَلِكَ بِحَسَبِ تَفَاوُتِهِمَا فِي الْإِيمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ
“Oleh karena itu, engkau akan mendapati dua orang yang mengalami peristiwa berupa kebaikan ataupun keburukan, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar dalam menyikapinya. Hal itu sesuai dengan perbedaan tingkat iman dan amal saleh yang mereka miliki.”
Apa yang beliau sampaikan merupakan kenyataan yang kita jumpai dalam kehidupan. Selama masih hidup, manusia tidak akan terlepas dari dua keadaan:
- Mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan.
- Mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, seperti musibah, kesulitan, kehilangan, dan berbagai persoalan kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Anbiya [21]: 35
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”
Ayat ini menjelaskan bahwa ujian Allah tidak hanya berbentuk sesuatu yang buruk atau menyusahkan. Kenikmatan, kesehatan, kekayaan, jabatan, dan berbagai hal yang kita sukai juga merupakan ujian.
Kata asy-syarr menunjukkan sesuatu yang tidak disukai, sedangkan al-khair menunjukkan sesuatu yang dianggap baik dan menyenangkan.
Dengan demikian, seseorang yang ingin memperoleh kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Ajaban li amril mukmin, harus mampu menyikapi kedua keadaan tersebut dengan benar.
Perbedaan sikap antara seseorang dengan orang lainnya kembali kepada perbedaan iman dan amal saleh yang ada di dalam dirinya.
Semakin kuat imannya dan semakin baik amal salehnya, semakin baik pula sikapnya dalam menghadapi berbagai keadaan kehidupan.
Sebaliknya, apabila iman tidak tertanam kuat, ilmu yang diperoleh dari berbagai kajian dan ceramah bisa saja hanya menjadi pengetahuan yang tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kehidupannya.
Kita sering menjumpai seseorang yang rajin menghadiri kajian, mengikuti dauroh dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan menangis ketika mendengar nasihat. Namun, ketika menghadapi persoalan hidup, dia tidak mampu menyikapinya dengan benar.
Hal tersebut mengingatkan kita bahwa tujuan menuntut ilmu bukan sekadar mengumpulkan informasi, melainkan agar ilmu tersebut membuahkan iman, amal saleh, dan perubahan dalam kehidupan.
4. Orang Beriman Menerima Nikmat dengan Syukur dan Musibah dengan Sabar
Selanjutnya, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan keadaan orang yang memiliki iman dan amal saleh.
Beliau berkata:
هَذَا الْمَوْصُوفُ بِهَذَيْنِ الْوَصْفَيْنِ يَتَلَقَّى الْخَيْرَ وَالشَّرَّ بِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الشُّكْرِ وَالصَّبْرِ، وَمَا يَتْبَعُهُمَا، فَيَحْدُثُ لَهُ السُّرُورُ وَالِابْتِهَاجُ، وَزَوَالُ الْهَمِّ وَالْغَمِّ وَالْقَلَقِ وَضِيقِ الصَّدْرِ وَشَقَاءِ الْحَيَاةِ، وَتَتِمُّ لَهُ الْحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ فِي هَذِهِ الدَّارِ
“Orang yang memiliki dua sifat ini, yaitu iman dan amal saleh, akan menerima kebaikan maupun keburukan dengan sikap sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu bersyukur dan bersabar serta segala konsekuensi dari keduanya. Dengan demikian, akan muncul dalam dirinya kebahagiaan dan kegembiraan, hilangnya kegelisahan, kesedihan, kecemasan, kesempitan dada, dan penderitaan hidup. Dengan demikian, sempurnalah baginya kehidupan yang baik di dunia ini.”
Perhatikan penjelasan beliau. Orang yang beriman dan beramal saleh akan menyikapi setiap keadaan dengan dua sikap utama, yaitu syukur dan sabar.
A. Ketika mendapatkan nikmat, dia bersyukur
Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah. Syukur mencakup tiga perkara:
Syukur dengan hati, yaitu meyakini bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Syukur dengan lisan, yaitu memuji Allah, mengucapkan hamdalah, dan mengakui nikmat yang telah diberikan-Nya.
- Syukur dengan anggota badan, yaitu menggunakan nikmat tersebut untuk melakukan ketaatan dan perkara yang diridai Allah.
Ketika seseorang mendapatkan kekayaan, misalnya, dia tidak menggunakan kekayaannya untuk bermaksiat. Ketika mendapatkan jabatan, dia menggunakannya untuk menunaikan amanah. Ketika mendapatkan kesehatan, dia memanfaatkannya untuk beribadah.
Inilah hakikat syukur yang sesungguhnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman QS. Ibrahim [14]: 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.'”
B. Ketika mendapatkan musibah, dia bersabar
Sikap kedua adalah sabar. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, seorang mukmin tidak langsung berkeluh kesah, menyalahkan takdir, atau melakukan tindakan yang dilarang Allah.
Dia memahami bahwa musibah merupakan bagian dari ujian kehidupan dan terdapat pahala besar bagi orang yang bersabar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman QS. Al-Baqarah [2]: 155–157
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ١٥٥الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ١٥٦أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ١٥٧
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dengan syukur dan sabar, seorang mukmin memperoleh ketenangan, kebahagiaan, serta kehidupan yang baik.
Inilah yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Bukan berarti kehidupan mereka tidak memiliki masalah, tetapi mereka memiliki landasan iman untuk menghadapi setiap persoalan.
5. Ujian Menjadi Sebab Terhapusnya Dosa
Di antara dalil yang menunjukkan besarnya pahala orang yang diuji adalah hadis Rasulullah ﷺ bahwa seorang mukmin dan mukminah akan senantiasa mendapatkan ujian pada dirinya, anak-anaknya, dan hartanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Ujian akan senantiasa menimpa seorang mukmin laki-laki dan perempuan, pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga dia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.”
HR. At-Tirmidzi no. 2399, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadis ini hasan sahih.
Hadis ini memberikan kabar gembira bahwa musibah yang dihadapi seorang mukmin dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa.
Bentuk ujian tersebut bermacam-macam, di antaranya:
- Ujian pada diri sendiri, seperti sakit, kelemahan fisik, dan gangguan kesehatan.
- Ujian pada harta, seperti kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, dan kerugian usaha.
- Ujian pada anak-anak dan keluarga, seperti sakit, persoalan pendidikan, serta berbagai keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.
Apabila semua itu dihadapi dengan iman dan kesabaran, maka ujian tersebut dapat menjadi sebab penghapusan dosa.
Karena itu, ketika membaca hadis-hadis tentang ujian, kita harus membacanya dengan kacamata iman. Jangan sampai hadis hanya menjadi informasi yang kita dengar, tetapi tidak mampu memberikan ketenangan ketika kita benar-benar mengalaminya.
Pahala orang yang tertimpa musibah pada hari kiamat
Ada sebuah hadis yang sangat mengesankan tentang besarnya pahala orang-orang yang mendapatkan ujian di dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيضِ
“Orang-orang yang dahulu mendapatkan keselamatan dan kesehatan (di dunia) pada hari kiamat akan berharap, ketika orang-orang yang tertimpa musibah diberikan pahala, seandainya kulit mereka dahulu dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia.”
HR. At-Tirmidzi no. 2402, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi.
Perhatikan kandungan hadis ini.
Pada hari kiamat, orang-orang yang dahulu hidup dalam keadaan sehat dan berkecukupan akan melihat besarnya pahala yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan ujian di dunia.
Ketika melihat pahala tersebut, mereka berangan-angan seandainya dahulu mereka juga mendapatkan ujian yang berat, bahkan sampai kulit mereka dipotong-potong dengan gunting, karena mereka melihat betapa besarnya pahala yang Allah berikan kepada orang-orang yang tertimpa musibah.
Ini menunjukkan bahwa ujian yang dihadapi dengan iman dan kesabaran dapat menghasilkan pahala yang sangat besar di akhirat.
Hadis ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita. Ketika mendapatkan musibah, jangan terburu-buru berkeluh kesah. Ingatlah bahwa ada pahala yang Allah persiapkan bagi hamba-Nya yang bersabar.
Namun, perlu dipahami bahwa hadis ini menceritakan keadaan yang terjadi pada hari kiamat. Bukan berarti kita dianjurkan meminta musibah atau mengharapkan penderitaan ketika masih hidup di dunia.
Jangan meminta ujian dan hukuman kepada Allah
Justru, terdapat hadis yang menunjukkan bahwa kita tidak dianjurkan meminta agar hukuman yang mungkin akan diterima di akhirat disegerakan di dunia.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ menjenguk seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin yang sedang sakit parah. Kondisinya sangat lemah hingga tubuhnya menjadi seperti anak burung.
Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya:
هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ؟
“Apakah engkau dahulu berdoa meminta sesuatu kepada Allah?”
Orang tersebut menjawab:
نَعَمْ، كُنْتُ أَقُولُ: اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا
“Ya. Aku dahulu berdoa, ‘Ya Allah, hukuman apa pun yang Engkau akan timpakan kepadaku di akhirat, maka segerakanlah hukuman itu kepadaku di dunia.'”
Mendengar hal tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:
سُبْحَانَ اللَّهِ، لَا تُطِيقُهُ أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ، أَفَلَا قُلْتَ: اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؟
“Mahasuci Allah! Engkau tidak akan sanggup menanggungnya. Mengapa engkau tidak berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka’?”
Anas melanjutkan:
قَالَ: فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ
“Kemudian orang tersebut berdoa kepada Allah dengan doa itu, lalu Allah menyembuhkannya.”
HR. Muslim no. 2688, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dalam Bab Larangan Meminta Disegerakan Hukuman di Dunia.
Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ tersebut merupakan doa yang sangat agung dan dikenal sebagai doa sapu jagat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkannya dalam Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah [2]: 201
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.'”
Ada pelajaran penting dari hadis ini. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan sahabat tersebut untuk meminta hukuman atau musibah disegerakan di dunia. Beliau justru mengajarkan agar meminta kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan perlindungan dari azab neraka.
Inilah doa yang seharusnya senantiasa kita panjatkan.
Jadi, ada perbedaan antara dua keadaan:
- Sebelum mendapatkan ujian: Kita tidak dianjurkan meminta musibah atau penderitaan kepada Allah. Kita justru meminta keselamatan, kesehatan, dan kebaikan.
- Setelah mendapatkan ujian: Kita diperintahkan untuk bersabar, mengharap pahala, menerima ketetapan Allah, serta berusaha mencari jalan keluar yang dibenarkan syariat.
Ridha terhadap takdir bukan berarti berpangku tangan. Sabar bukan berarti tidak berusaha. Seseorang tetap diperintahkan untuk mencari pengobatan ketika sakit, bekerja ketika mengalami kesulitan ekonomi, dan mencari solusi ketika menghadapi masalah.
Dengan demikian, jangan salah memahami hadis tentang pahala besar bagi orang yang tertimpa musibah.
6. Kehidupan yang Baik Hanya Dapat Diraih dengan Iman dan Amal Saleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kehidupan yang baik kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Allah berfirman dalam QS. An-Nahl [16]: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
Perhatikan bahwa Allah mengaitkan kehidupan yang baik dengan dua perkara, yaitu amal saleh dan iman.
Karena itu, jangan membayangkan bahwa kebahagiaan hanya dapat diraih dengan kekayaan, jabatan, popularitas, atau terpenuhinya seluruh keinginan duniawi.
Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang diliputi keberkahan, ketenangan hati, rasa cukup, dan ketaatan kepada Allah.
Penulis juga mengingatkan bahwa beliau sendiri dan para ulama terdahulu telah menunjukkan bagaimana iman dapat menjadikan seseorang tetap bahagia meskipun menghadapi kesulitan yang sangat berat.
Kita mengetahui kisah para ulama yang dipenjara, mendapatkan penyiksaan, dan mengalami berbagai kesulitan. Namun, mereka tetap memiliki ketenangan karena iman dan amal saleh yang tertanam dalam hati mereka.
Salah satu contoh yang masyhur adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Ketika menghadapi musuh-musuhnya, beliau pernah mengatakan:
مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِي بِي؟ أَنَا جَنَّتِي وَبُسْتَانِي فِي صَدْرِي، أَيْنَمَا رُحْتُ فَهِيَ مَعِي لَا تُفَارِقُنِي، إِنَّ حَبْسِي خَلْوَةٌ، وَقَتْلِي شَهَادَةٌ، وَإِخْرَاجِي مِنْ بَلَدِي سِيَاحَةٌ
“Apa yang dapat dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamanku berada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, ia selalu bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku. Penjaraku adalah tempat menyendiri bersama Allah, pembunuhanku adalah syahid, dan pengusiranku dari negeriku adalah perjalanan.”
Sumber: Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib, pada pembahasan keadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Perkataan ini menggambarkan bagaimana seseorang yang memiliki kekuatan iman dapat merasakan ketenangan meskipun berada dalam keadaan yang sangat sulit.
Bagi orang yang hanya melihat keadaan lahiriah, penjara adalah penderitaan. Namun, bagi orang yang memiliki iman dan kedekatan dengan Allah, keadaan tersebut tidak menghilangkan kebahagiaan batinnya.
Tentu saja, ini bukan sekadar cerita atau dongeng. Ini merupakan pelajaran dari perjalanan hidup para ulama.
Jika kita ingin mendapatkan ketenangan sebagaimana yang mereka dapatkan, kita juga harus menempuh sebab-sebab yang mereka tempuh, yaitu memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh.
7. Orang yang Tidak Memiliki Iman dan Amal Saleh Menghadapi Nikmat dengan Kesombongan dan Ketamakan
Setelah menjelaskan keadaan orang yang beriman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan keadaan orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh.
Beliau berkata:
وَالْآخَرُ يَتَلَقَّى الْمَحَابَّ بِأَشَرٍ وَبَطَرٍ وَطُغْيَانٍ، فَتَنْحَرِفُ أَخْلَاقُهُ، وَيَتَلَقَّاهَا كَمَا تَتَلَقَّاهَا الْبَهَائِمُ بِجَشَعٍ وَهَلَعٍ
“Adapun orang yang lainnya, dia menerima berbagai hal yang disukai dengan sikap berlebihan, kesombongan, dan melampaui batas. Akhlaknya pun menyimpang. Dia menerima kenikmatan sebagaimana hewan menerimanya, dengan ketamakan dan kegelisahan.”
Maksudnya, orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh akan menghadapi kenikmatan dengan berbagai sifat buruk, seperti:
- Tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.
- Sombong dan membanggakan diri ketika memperoleh keberhasilan.
- Zalim terhadap orang lain demi mempertahankan kenikmatannya.
- Tamak dan selalu menginginkan lebih banyak.
- Menggunakan berbagai cara, termasuk cara yang tidak dibenarkan, untuk mendapatkan keuntungan duniawi.
Beliau mengumpamakan keadaan mereka seperti hewan yang menerima makanan. Yang menjadi perhatian hanya terpenuhinya kebutuhan dan kesenangan diri sendiri, tanpa memikirkan tujuan kehidupan dan pertanggungjawaban di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan keadaan orang-orang kafir dalam firman-Nya dalam QS. Muhammad [47]: 12
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Adapun orang-orang yang kafir, mereka bersenang-senang dan makan sebagaimana hewan makan, dan nerakalah tempat tinggal bagi mereka.”
Ayat ini menunjukkan perbedaan mendasar antara orang beriman dan orang kafir dalam memandang kehidupan.
Orang beriman memiliki tujuan akhirat. Dia mengetahui bahwa nikmat yang dimiliki akan dimintai pertanggungjawaban. Adapun orang yang tidak memiliki keimanan kepada akhirat menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan utama kehidupannya.
Namun, perlu dipahami bahwa sifat-sifat buruk tersebut tidak boleh digeneralisasi kepada setiap individu hanya berdasarkan keadaan lahiriahnya. Yang menjadi pokok pembahasan adalah karakteristik manusia ketika kenikmatan dunia tidak dibingkai dengan iman dan ketaatan.
Sifat tamak merupakan penyakit yang harus dikendalikan
Pada dasarnya, manusia memiliki sifat mencintai harta dan menginginkan lebih banyak kenikmatan. Apabila tidak dikendalikan dengan iman, sifat tersebut dapat dimanfaatkan setan untuk menjerumuskan manusia.
Seseorang yang sudah memiliki satu kendaraan ingin memiliki kendaraan yang lebih bagus. Setelah mendapatkannya, dia ingin yang lebih mahal. Setelah memperoleh kekayaan, dia masih ingin menambah kekayaan, bahkan terkadang tidak peduli apakah cara yang ditempuh halal atau haram.
Inilah bahaya ketamakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya dia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”
HR. Al-Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048, dari Anas bin Malik dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum.
Maksudnya, manusia tidak akan pernah merasa puas dengan harta dunia apabila hatinya dikuasai ketamakan. Keinginan tersebut baru terputus ketika kematian datang.
Oleh karena itu, seorang mukmin harus melatih dirinya agar memiliki sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah, tanpa meninggalkan usaha untuk mencari rezeki yang halal.
8. Ketamakan Membuat Hati Tidak Pernah Tenang
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah melanjutkan penjelasannya:
وَمَعَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ غَيْرُ مُسْتَرِيحِ الْقَلْبِ، بَلْ مُشَتَّتٌ مِنْ جِهَاتٍ عَدِيدَةٍ، مُشَتَّتٌ مِنْ جِهَةِ خَوْفِهِ مِنْ زَوَالِ مَحْبُوبَاتِهِ، وَمِنْ كَثْرَةِ الْمُعَارِضَاتِ الَّتِي تَعْرِضُ لِذَلِكَ الْمَطْلُوبِ، وَمِنْ قَلَقِ النَّفْسِ الَّتِي لَا تَقِفُ عِنْدَ حَدٍّ، بَلْ لَا تَزَالُ تَتَطَلَّعُ إِلَى أُمُورٍ أُخْرَى قَدْ تَحْصُلُ وَقَدْ لَا تَحْصُلُ
“Walaupun demikian, hatinya tidak pernah merasa tenang. Bahkan pikirannya tercerai-berai dari berbagai arah. Dia gelisah karena takut kehilangan sesuatu yang dicintainya, karena banyaknya hambatan yang mungkin muncul dalam memperoleh hal yang diinginkannya, serta karena kegelisahan jiwa yang tidak pernah berhenti pada suatu batas. Dia terus-menerus menginginkan perkara-perkara lain yang mungkin tercapai dan mungkin pula tidak tercapai.”
Inilah kenyataan yang sering kita jumpai.
Ada orang yang memiliki harta melimpah, gaji besar, jabatan tinggi, dan bisnis yang terus berkembang. Namun, hatinya tidak tenang.
Dia takut kehilangan hartanya, takut kehilangan pekerjaannya, takut bisnisnya mengalami kerugian, dan takut berbagai kenikmatan yang dimilikinya hilang.
Bahkan, tidak sedikit orang yang mengalami kesulitan tidur, mengalami stres, dan membutuhkan berbagai bantuan untuk mengatasi kegelisahan yang ada dalam dirinya.
Mengapa hal itu terjadi?
Karena jiwanya tidak pernah berhenti menginginkan sesuatu. Setelah mendapatkan satu hal, dia menginginkan hal lainnya. Ketika keinginannya terpenuhi, muncul lagi keinginan baru.
Inilah keadaan hati yang tidak memiliki qana’ah.
Padahal, salah satu bentuk kehidupan yang baik sebagaimana dijelaskan para ulama adalah ketika seseorang memiliki sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah.
Qana’ah merupakan bagian dari kehidupan yang baik
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 97 sebagaimana telah disebutkan sebelumnya:
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kehidupan yang baik mencakup ketenteraman hati, ketenangan jiwa, kelapangan dada, dan rezeki yang halal. Para ulama juga menjelaskan qana’ah sebagai salah satu bentuk kehidupan yang baik.
Karena itu, jangan mengukur kebahagiaan hanya dari banyaknya harta yang dimiliki.
Seseorang mungkin memiliki harta yang sedikit, tetapi hatinya tenang. Sebaliknya, ada orang yang memiliki harta sangat banyak, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan.
Perbedaannya bukan semata-mata pada jumlah harta, tetapi pada keadaan hati dan keimanan.
9. Wali Allah Tidak Takut terhadap Masa Depan dan Tidak Bersedih atas Masa Lalu
Pembahasan berikutnya berkaitan dengan sifat para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman dalam QS. Yunus [10]: 62–63
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٦٢الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ٦٣
“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.”
Perhatikan bahwa Allah menjelaskan siapa wali-wali-Nya pada ayat berikutnya, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Dengan demikian, wali Allah bukanlah orang yang sekadar memiliki kelebihan tertentu, seperti dianggap kebal, memiliki kemampuan luar biasa, atau melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan manusia.
Seseorang disebut wali Allah karena keimanan dan ketakwaannya kepada Allah.
Orang yang mengaku sebagai wali Allah, tetapi meninggalkan salat wajib dan tidak menjalankan perintah Allah, tidak bisa dianggap sebagai wali Allah hanya karena memiliki kelebihan tertentu.
Iman dan takwa merupakan ukuran utama kewalian.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa firman Allah:
لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Memiliki dua makna penting:
A. Tidak takut terhadap perkara yang akan datang
Maksudnya, mereka tidak diliputi ketakutan dan kegelisahan terhadap berbagai perkara yang belum terjadi.
Orang yang tidak memiliki ketenangan iman sering kali terus-menerus memikirkan masa depannya:
- Bagaimana nasib pekerjaan saya nanti?
- Bagaimana jika penghasilan saya berkurang?
- Bagaimana jika saya tidak mendapatkan pekerjaan setelah pindah dari tempat ini?
- Bagaimana nasib anak-anak saya kelak?
- Bagaimana jika harta yang saya miliki hilang?
Semua itu merupakan kekhawatiran terhadap perkara yang akan datang.
Adapun orang yang beriman dan bertakwa, dia tetap berusaha mempersiapkan masa depannya, tetapi hatinya tidak dikuasai oleh ketakutan tersebut. Dia bertawakal kepada Allah dan yakin bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan-Nya.
B. Tidak bersedih atas sesuatu yang telah berlalu
Makna wala hum yahzanun juga menunjukkan bahwa mereka tidak larut dalam kesedihan atas sesuatu yang telah berlalu dan tidak berhasil mereka peroleh.
Misalnya, seseorang dahulu kuliah bersama temannya. Setelah lulus, ternyata temannya mendapatkan jabatan tinggi, sedangkan dirinya masih bekerja sebagai bawahan.
Orang yang tidak memiliki ketenangan iman mungkin akan terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Dia merasa tidak bahagia ketika melihat orang lain memperoleh sesuatu yang tidak dia dapatkan.
Bahkan, kesedihan tersebut dapat berkembang menjadi hasad dan kedengkian.
Adapun orang yang beriman akan memahami bahwa rezeki dan ketetapan Allah berbeda-beda bagi setiap hamba. Dia tetap berusaha memperbaiki kehidupannya tanpa harus membenci keberhasilan orang lain.
Tentu saja, hal ini bukan berarti seorang mukmin tidak boleh membuat perencanaan, berusaha, atau memperbaiki keadaan. Dia tetap melakukan semua itu, tetapi tidak menggantungkan ketenangan hatinya pada hasil yang belum tentu diperolehnya.
Inilah perbedaan antara orang yang hatinya dipenuhi iman dan orang yang hatinya dikuasai ketakutan serta ketamakan.
10. Mendapatkan Apa yang Diinginkan Tidak Selalu Menghilangkan Kegelisahan
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah melanjutkan:
وَإِنْ حَصَلَتْ لَهُ عَلَى الْفَرْضِ وَالتَّقْدِيرِ، فَهُوَ أَيْضًا قَلِقٌ مِنَ الْجِهَةِ الْمَذْكُورَةِ
“Kalaupun apa yang diinginkannya berhasil diperoleh, dia tetap saja gelisah dari sisi-sisi yang telah disebutkan.”
Ini merupakan kenyataan yang sangat penting untuk kita pahami.
Seseorang yang menginginkan mobil tertentu mungkin merasa sangat bahagia ketika berhasil membelinya. Namun, setelah mobil tersebut berada di rumahnya, muncul kegelisahan baru.
Dia mulai memikirkan bagaimana merawatnya, bagaimana jika terjadi kecelakaan, bagaimana jika rusak, bagaimana jika hilang, dan bagaimana berbagai urusan lainnya.
Demikian pula ketika seseorang mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar. Setelah mendapatkan pekerjaan tersebut, muncul ketakutan kehilangan jabatan, takut penghasilan menurun, dan takut tidak mampu mempertahankan kedudukannya.
Begitu pula ketika memperoleh kekayaan dan kedudukan. Tidak jarang seseorang justru semakin sibuk memikirkan bagaimana mempertahankan dan menambah apa yang sudah dimilikinya.
Akibatnya, dia tetap gelisah meskipun semua yang dahulu diinginkannya telah tercapai.
Bahkan, apabila kita melihat kehidupan sebagian orang melalui media sosial, mungkin tampak seolah-olah mereka selalu bahagia. Mereka bepergian ke tempat-tempat indah, menikmati berbagai fasilitas, mengadakan pesta, dan menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna.
Namun, kita tidak mengetahui bagaimana keadaan hati mereka yang sesungguhnya.
Keindahan tempat yang dikunjungi tidak otomatis menjadikan hati seseorang bahagia. Bisa jadi secara lahiriah kehidupannya tampak menyenangkan, tetapi batinnya dipenuhi berbagai persoalan dan kegelisahan.
Karena itu, jangan menjadikan tampilan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan.
Jangan pula merasa bahwa seseorang yang memiliki harta, jabatan, dan popularitas pasti memiliki kehidupan yang lebih bahagia.
Yang terpenting adalah bagaimana keadaan hati kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
11. Tidak Adanya Iman dan Kesabaran Menyebabkan Penderitaan Semakin Berat
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa orang yang tidak memiliki iman dan kesabaran akan semakin berat menghadapi persoalan kehidupan.
Beliau menjelaskan bahwa orang tersebut tidak memiliki harapan pahala dari Allah dan tidak memiliki kesabaran yang dapat menghibur serta meringankan beban hidupnya.
Berbeda dengan orang yang beriman. Ketika membaca hadis tentang pahala orang yang mendapatkan ujian, hatinya menjadi tenang karena dia mengetahui bahwa kesabaran tersebut tidak akan sia-sia.
Dia memahami bahwa Allah akan memberikan balasan atas kesabarannya.
Adapun orang yang tidak memiliki keimanan yang kuat, nasihat dan hadis tentang pahala kesabaran belum tentu memberikan pengaruh pada dirinya.
Karena itu, hati harus senantiasa dibangun dengan iman dan diasah melalui amal saleh.
Hati yang dipenuhi iman akan lebih mudah menerima nasihat, lebih mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, dan lebih mudah menerima hadis-hadis Rasulullah ﷺ.
Sebaliknya, hati yang keras akan sulit menerima nasihat, meskipun berbagai dalil telah disampaikan kepadanya.
Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan hati yang lembut dan istiqamah dalam ketaatan.
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
HR. At-Tirmidzi no. 2140, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis.
Kita harus sering memohon kepada Allah agar hati kita diteguhkan di atas agama-Nya, dilembutkan untuk menerima kebenaran, dan dijauhkan dari penyakit hati.
Jangan sampai kita memiliki banyak harta, jabatan tinggi, dan berbagai fasilitas kehidupan, tetapi rumah tangga selalu dipenuhi prahara dan hati tidak pernah merasakan ketenangan.
Selama manusia masih hidup, persoalan kehidupan pasti akan ada. Rumah tangga memiliki persoalannya sendiri, pekerjaan memiliki tantangannya sendiri, dan setiap orang memiliki ujian masing-masing.
Namun, iman dan amal salehlah yang menentukan bagaimana kita menyikapi semua persoalan tersebut.
12. Penjelasan tentang Ayat La Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’aha
Pada sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” QS. Al-Baqarah [2]: 286.
Ayat ini sering dikaitkan dengan berbagai ujian kehidupan. Namun, perlu dipahami bahwa makna at-taklif dalam ayat tersebut tidak hanya berkaitan dengan musibah atau ujian kehidupan.
At-Taklif memiliki makna yang lebih luas, yaitu segala bentuk pembebanan tanggung jawab syariat kepada manusia, baik berupa perintah maupun larangan.
Dalam pembahasan hukum Islam dikenal istilah al-ahkam at-taklifiyah, yang mencakup:
- Wajib.
- Sunnah.
- Haram.
- Makruh.
- Mubah.
Seluruhnya berkaitan dengan tanggung jawab manusia dalam menjalankan syariat Allah.
Dengan demikian, ayat tersebut tidak hanya membicarakan ujian berupa sakit, kehilangan harta, atau kesulitan hidup, tetapi juga mencakup beban menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Ujian sesuai dengan keadaan dan kemampuan manusia
Dalam kehidupan, setiap orang mendapatkan ujian yang berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan harta, ada yang diuji dengan keluarga, dan ada pula yang diuji dengan berbagai persoalan lainnya.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling dekat dengan mereka dalam kebaikan.
Beliau ﷺ bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, kemudian yang berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, ujiannya akan semakin berat. Jika agamanya memiliki kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Ujian akan senantiasa menimpa seorang hamba hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak memiliki dosa.”
HR. At-Tirmidzi no. 2398, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadis ini hasan sahih.
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa para nabi merupakan manusia yang paling berat ujiannya karena mereka memiliki kedudukan dan keimanan yang sangat tinggi.
Karena itu, ketika mendapatkan ujian, kita hendaknya mempersiapkan diri agar mampu menghadapinya dengan sikap yang diridai Allah.
Analogi ujian di sekolah
Untuk memudahkan pemahaman, kita bisa mengumpamakan ujian kehidupan seperti ujian di sekolah.
Seorang siswa mengikuti ujian sesuai dengan kurikulum dan materi yang telah dipelajari. Namun, ada siswa yang berhasil dan ada pula yang gagal.
Apabila seorang siswa gagal dalam ujian, kita tidak serta-merta menyalahkan kurikulum atau gurunya. Bisa jadi dia kurang belajar, kurang mempersiapkan diri, atau tidak mampu berkonsentrasi ketika mengerjakan soal.
Demikian pula dalam kehidupan. Ketika menghadapi ujian, kita perlu mengevaluasi diri dan memperbaiki cara kita menyikapinya.
Apakah kita sudah memiliki kesabaran? Apakah kita sudah bertawakal kepada Allah? Apakah kita sudah berusaha mencari jalan keluar yang benar?
Jika seseorang melakukan tindakan yang dilarang Allah ketika menghadapi musibah, maka tindakan tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan sedang mendapatkan ujian.
Namun, kita juga tidak boleh gegabah menghakimi individu yang mengalami gangguan berat atau melakukan tindakan yang membahayakan dirinya. Keadaan setiap orang berbeda, dan penilaian terhadap keadaan batin seseorang berada di tangan Allah.
Yang harus kita lakukan adalah saling menolong, memberikan nasihat, mencari pertolongan yang diperlukan, dan memperkuat iman serta kesabaran.
Intinya, ayat La yukallifullahu nafsan illa wus’aha tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa ada manusia yang gagal menghadapi ujian. Ayat tersebut harus dipahami sesuai dengan konteks pembebanan syariat dan keluasan maknanya.
13. Apakah Boleh Menyebut Orang Kafir Bersikap Rakus seperti Hewan?
Pada sesi tanya jawab berikutnya, dibahas mengenai penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di yang mengumpamakan orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh ketika menerima kenikmatan seperti hewan yang makan dengan rakus.
Apakah boleh menyebutkan bahwa orang kafir bersikap rakus ketika mendapatkan kenikmatan?
Jawabannya, sifat tersebut memang disebutkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah:
QS. Muhammad [47]: 12
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Adapun orang-orang yang kafir, mereka bersenang-senang dan makan sebagaimana hewan makan, dan nerakalah tempat tinggal bagi mereka.”
Perumpamaan tersebut bukan sekadar membicarakan cara makan secara lahiriah, tetapi juga menggambarkan orientasi kehidupan yang hanya berpusat pada kenikmatan dunia.
Hewan makan untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Demikian pula manusia yang menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan utama kehidupannya tanpa memikirkan pertanggungjawaban di akhirat.
Adapun seorang mukmin memiliki prinsip yang berbeda. Dia memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menjadikan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya.
Dia harus menggunakan semua nikmat tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
14. Penutup: Perbarui Iman dan Amal Saleh agar Meraih Kebahagiaan
Dari seluruh pembahasan ini, kita kembali diingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, atau terpenuhinya seluruh keinginan duniawi.
Kebahagiaan yang sesungguhnya berkaitan erat dengan keadaan iman dan amal saleh seseorang.
Orang yang beriman akan menghadapi dua keadaan kehidupan dengan sikap yang benar:
- Ketika memperoleh kenikmatan, dia bersyukur.
- Ketika mendapatkan musibah, dia bersabar.
- Ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dia tidak sombong.
- Ketika tidak mendapatkan sesuatu yang diharapkan, dia tidak larut dalam kesedihan dan kedengkian.
- Ketika memiliki harta, dia menggunakannya untuk ketaatan.
- Ketika mengalami kesulitan, dia bertawakal dan tetap berusaha mencari jalan keluar.
Inilah sebabnya mengapa iman dan amal saleh menjadi wasilah pertama dan paling agung untuk meraih kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
Jangan sampai kita hanya sibuk mengumpulkan ilmu, mengikuti berbagai kajian, dan membaca banyak artikel, tetapi tidak memperbaiki keadaan hati dan amal kita.
Mari kita senantiasa bermuhasabah, memperbarui iman, memperbaiki amal saleh, serta memohon kepada Allah agar hati kita senantiasa diteguhkan di atas agama-Nya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki iman yang kokoh, hati yang tenang, kesabaran ketika mendapatkan musibah, dan rasa syukur ketika memperoleh kenikmatan.
Semoga Allah memberikan kepada kita kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
Kemudian ditutup dengan membaca Surah Al-‘Ashr.
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Poster Ringkasan
┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم



