Tag Archives: Ustadz Isnan Efendi

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (218)

Bab ini membahas tentang menyeru dan mengajak manusia kepada syahadat Laa Ilaaha Illallah. Akan tetapi, dakwah yang dimaksud bukan sekadar mengajak seseorang mengucapkan kalimat syahadat. Lebih dari itu, kita harus menerangkan makna Laa Ilaaha Illallah, baik kepada orang yang belum masuk Islam maupun kepada kaum muslimin yang telah mengucapkannya.

Syaikh Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah menyebutkan berbagai sarana, sebab, dan perkara yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat.

Pada paragraf pertama beliau mengatakan: “Sebab yang paling agung untuk meraih kebahagiaan tersebut, sekaligus asal dan fondasinya, adalah iman dan amal saleh.”

Kalimat ini sangat penting. Sebab terbesar dan paling utama untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat adalah iman dan amal saleh.

Pembahasan kali ini merupakan muraja’ah ringkas untuk meninjau kembali kesimpulan (al-masail) atau kandungan bab dari kitab Kitabut Tauhid karya Shaykh Muhammad ibn Abd al-Wahhab. Bab ini membahas tentang “Barang siapa yang mewujudkan (tahqiq) tauhid dengan sebenar-benarnya, maka ia akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”

Nikah disyariatkan berdasarkan Dalil-dalil berikut ini: Firman Allah: Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim. (An-Nisa’: 3)

Namun begitu, nikah hukumnya wajib bagi siapa saja yang mampu membiayainya dan ia khawatir akan terjerumus ke dalam Hal-hal yang haram. Nikah hukumnya sunah bagi orang yang sanggup membiayainya, namun ia tidak khawatir akan terjerumus ke dalam Hal-hal haram.