Tag Archives: Ustadz Isnan Efendi

Penulis kitab ini adalah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb Rahimahullah. Nama lengkap beliau adalah: Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb bin Sulaimân bin ‘Alî bin Muhammad bin Ahmad bin Râsyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb berasal dari keluarga Al-Musyarraf. Sedangkan keluarga Musyarraf merupakan cabang dari keluarga Al-Wuhabah. Dan keluarga Wuhabah adalah salah satu dari keluarga besar kabilah Banî Tamîm yang Terkenal. Maka, nisbat yang benar dari Bani Tamîm adalah Al-Wuhabi.

Berbeda dengan penistbatan Wahabi yang merujuk kepada Abdul Wahab bin Abdurrahman Al-Rustum, Imam kedua dari Dinasti Rustamid di Afrika Utara (abad ke-2 H) dan pendiri gerakan Wahbiyyah Ibadisme (Khawarij), yang berbeda dengan gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah (penulis Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah) mengatakan,

“Ketahuilah, tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘Azza Wajalla dengan mempelajari laa ilaaha illaAllahu dan Tauhid adalah amalan pertama seseorang masuk ke dalam islam dan yang paling terakhir keluar dari dunia, maka ilmu Tauhid adalah ilmu yang paling wajib di awal dan di akhir”.

Oleh sebab itulah, maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan, dia juga menjadi kewajiban terakhir.

Selanjutnya Allah mengutus hamba, rasul dan kalimat-Nya, Al-Masih putera Maryam untuk memperbaharui agama mereka, menjelaskan tanda-tanda-Nya, untuk mengajak mereka beribadah hanya kepada Allah semata, serta berlepas diri dari berbagai hal baru (dalam agama) dan pendapat-pendapat batil. Tetapi kaumnya memusuhinya, mendustakannya serta menuduhnya, juga menuduh ibunya dengan sesuatu yang amat besar, kemudian mereka ingin membunuhnya, tetapi Allah menyucikannya dari mereka dan mengangkatnya ke hadirat-Nya, sehingga mereka tidak bisa menimpakan keburukan terhadapnya.

Wasiat ialah perjanjian untuk mengurus sesuatu atau mengelola harta setelah kematian seseorang.

Dengan definisi seperti ini, wasiat terbagi menjadi dua jenis:

Wasiat kepada orang yang diminta untuk melunasi utang, atau memberikan hak, atau mengurus kepentingan anak-anaknya yang masih kecil hingga mereka dewasa.
Wasiat untuk menyerahkan sesuatu kepada pihak yang diwasiatkan untuk menerimanya.

Telah berlalu pembahasan mengenai poin yang ke-69 dan 70 yang membahas mengenai masalah bid’ah, baik berupa penambahan maupun pengurangan dalam masalah agama.

Berdasarkan definisi yang diberikan oleh Imam Syatibi dalam kitab I’tisham, makna bid’ah secara istilah adalah suatu cara baru dalam agama yang menandingi syari’at di mana tujuan dibuatnya adalah untuk membuat nilai lebih dalam beribadah kepada Allah.

Masalah Ke – 71: Meninggalkan Sesuatu Yang Telah Diwajibkan Oleh Allah Dengan Alasan Wara’ (Berhati-hati). Mereka meninggalkan kewajiban dengan alasan wara’.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ قَدِ ٱسْتَكْثَرْتُم مِّنَ ٱلْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَآؤُهُم مِّنَ ٱلْإِنسِ رَبَّنَا ٱسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِىٓ أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ ٱلنَّارُ مَثْوَىٰكُمْ خَٰلِدِينَ فِيهَآ إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

(Al-An’am: 128).

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 213:

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّۦنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ مِنَ ٱلْحَقِّ بِإِذْنِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Masalah Ke – 68: Mereka Memuji Diri Sendiri Dengan Sesuatu yang Tidak Mereka Miliki

Mereka mendakwa telah melakukan kebenaran, sebagaimana perkataan mereka:

نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا

“Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. (QS. al-Baqarah : 91).

Padahal mereka meninggalkan kebenaran tersebut.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ قَدِ ٱسْتَكْثَرْتُم مِّنَ ٱلْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَآؤُهُم مِّنَ ٱلْإِنسِ رَبَّنَا ٱسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِىٓ أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ ٱلنَّارُ مَثْوَىٰكُمْ خَٰلِدِينَ فِيهَآ إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

(Al-An’am: 128).

Dalam Al-Qur’an, Allah telah mengisahkan kepada kita tentang iblis dan ibu-bapak kita (Lihat Surat Al-A’raf ayat 20-22), dan bahwasanya ia masih tetap menipu, memberikan janji-janji dan hayalan tentang keabadian mereka di surga, sampai ia bersumpah dengan nama Allah di hadapan keduanya bahwa ia hanya ingin menasihati mereka. Dengan begitu, keduanya merasa mantap terhadap ucapannya, sehingga keduanya memenuhi apa yang diminta dari keduanya. Dari sinilah kemudian berawal ujian itu. Keduanya keluar dari surga dan pakaian mereka terlucuti. Semua itu merupakan tipu daya dan makar syetan, yang memang telah ditakdirkan Allah. Lalu, Allah membalas tipu daya syetan tersebut, la lalu merahmati dan mengampuni kedua orangtua kita itu.