ʙɪsᴍɪʟʟᴀʜ
📚┃Materi : Syarah Kitab Tauhid – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
🎙️┃ Pemateri : Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc, MA. hafizhahullahu.
🗓️┃ Hari, Tanggal : Jum’at [Sebelum Maghrib], 30 Oktober 2026 M / 19 Jumadil Awal 1448 H
🕌┃Tempat : Izighawa – Doha Qatar
- Kitab: Kitab At-Tauhid
- Bab 5: باب الدعوة إلى شهادة أن لا إله إلا الله
- Tema: Dakwah Mengajak kepada Syahadat Laa Ilaaha Illallah
Mukadimah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan taufik kepada kita untuk kembali berkumpul dan melanjutkan kajian rutin. Semoga Allah senantiasa memberikan keikhlasan kepada kita, menerima seluruh amal ibadah kita, serta menjadikannya sebagai pemberat timbangan amal kebaikan pada hari kiamat.
Pada kesempatan ini, insyaallah kita melanjutkan pembahasan Kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Kita telah sampai pada bab kelima, yaitu:
باب الدعوة إلى شهادة أن لا إله إلا الله
Bab Dakwah Mengajak kepada Syahadat Laa Ilaaha Illallah.
Bab ini membahas tentang menyeru dan mengajak manusia kepada syahadat Laa Ilaaha Illallah. Akan tetapi, dakwah yang dimaksud bukan sekadar mengajak seseorang mengucapkan kalimat syahadat. Lebih dari itu, kita harus menerangkan makna Laa Ilaaha Illallah, baik kepada orang yang belum masuk Islam maupun kepada kaum muslimin yang telah mengucapkannya.
Seorang muslim perlu memahami makna syahadat, konsekuensinya, serta perkara-perkara yang dapat merusak dan membatalkannya.
1. Mendahulukan memperbaiki diri sebelum berdakwah kepada orang lain
Bab ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan bab-bab sebelumnya dalam Kitab At-Tauhid. Sebelum sampai pada pembahasan dakwah kepada tauhid, penulis telah menerangkan beberapa perkara penting yang harus dipahami dan diamalkan oleh seorang muslim, di antaranya:
- Takut terhadap kesyirikan.
- Memahami hakikat tauhid.
- Keutamaan tauhid dan amalan yang menjadi sebab dihapuskannya dosa.
- Keutamaan orang-orang yang merealisasikan tauhid dengan sempurna.
Semua pembahasan tersebut merupakan bekal bagi seorang muslim untuk memperbaiki dirinya sendiri. Setelah seseorang berusaha mengisi dirinya dengan ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut, barulah ia berusaha mengajak orang lain kepada kebenaran.
Dengan demikian, seorang muslim hendaknya memperbaiki dirinya terlebih dahulu sebelum berusaha memperbaiki orang lain.
Hal ini juga berkaitan dengan tujuan seseorang dalam menuntut ilmu. Para ulama menjelaskan bahwa di antara tujuan utama menuntut ilmu adalah:
- رَفْعُ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ (Raf’ul jahli ‘an nafsihi), yaitu menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri.
- رَفْعُ الْجَهْلِ عَنْ غَيْرِهِ (Raf’ul jahli ‘an ghairihi), yaitu menghilangkan kebodohan dari orang lain.
Tujuan pertama adalah memperbaiki diri dengan ilmu. Setelah itu, seseorang berusaha menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain agar mereka juga mendapatkan manfaat.
Demikian pula dalam masalah tauhid. Kita harus terlebih dahulu memenuhi diri dengan ilmu tentang tauhid, mengenali kesyirikan, serta senantiasa memiliki rasa takut agar tidak terjatuh ke dalamnya.
Setelah itu, kita tidak boleh berhenti pada perbaikan diri sendiri. Kita juga harus berusaha mengajak orang lain kepada tauhid.
Mengapa demikian? Karena mengajak kepada tauhid merupakan bagian dari amar makruf nahi mungkar. Agama Islam tidak mengajarkan seseorang hanya memperhatikan keselamatan dirinya sendiri, sementara ia tidak peduli terhadap kesyirikan dan penyimpangan yang terjadi di lingkungan keluarganya.
Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kaum muslimin untuk saling mengingatkan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, hendaklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 49).
Hadis ini menunjukkan bahwa amar makruf nahi mungkar merupakan bagian penting dari agama. Mengajak manusia kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari kesyirikan termasuk di dalamnya.
Oleh karena itu, seseorang yang hanya berusaha menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri, tetapi tidak peduli terhadap keadaan keluarganya dan orang-orang di sekitarnya, belum merealisasikan seluruh tanggung jawab yang berkaitan dengan ilmu yang telah ia pelajari.
2. Dakwah tauhid merupakan metode seluruh nabi dan rasul
Dakwah kepada tauhid bukan sekadar salah satu tema dakwah yang boleh diabaikan. Ia merupakan inti dakwah seluruh nabi dan rasul.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25).
Ayat ini dengan sangat jelas menerangkan metode dakwah para nabi dan rasul. Pokok utama dakwah mereka adalah mengajak manusia agar hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah perkara yang harus menjadi perhatian setiap muslim. Dakwah tauhid tidak boleh dihilangkan dari kehidupan seorang dai, baik disampaikan secara langsung maupun tidak langsung.
Dakwah secara langsung misalnya dengan mengajarkan kitab-kitab tauhid. Adapun dakwah secara tidak langsung dapat dilakukan dengan menyisipkan pembahasan tentang ikhlas, bahaya riya, kesyirikan, dan konsekuensi kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam kajian-kajian lainnya.
Seorang muslim hendaknya berdakwah sesuai kemampuan dan kadar ilmunya. Jika mampu mengajarkan kitab-kitab tauhid, hendaknya ia melakukannya. Jika belum mampu, ia bisa menyampaikan artikel ilmiah yang tepercaya, mengajak orang lain menghadiri kajian tauhid, atau setidaknya membimbing keluarganya agar memahami tauhid dan menjauhi kesyirikan.
Jangan sampai seseorang beralasan belum memiliki ilmu yang tinggi, kemudian sama sekali tidak berusaha menyampaikan kebaikan yang telah ia ketahui.
Namun, semua itu harus dilakukan berdasarkan ilmu, bukan sekadar semangat.
3. Dakwah tauhid harus dijelaskan secara terperinci
Ada satu pelajaran penting dari susunan bab dalam Kitab At-Tauhid.
Setelah membahas kewajiban memahami tauhid dan menjauhi kesyirikan, penulis kemudian membawakan bab tentang dakwah kepada syahadat Laa Ilaaha Illallah. Setelah bab ini, pembahasan dilanjutkan dengan penjelasan tentang hakikat tauhid dan makna syahadat, kemudian perkara-perkara yang dapat merusak tauhid.
Susunan ini memberikan isyarat bahwa dakwah tauhid yang benar bukan sekadar dakwah secara umum, melainkan dakwah yang menjelaskan tauhid secara terperinci.
Tidak cukup hanya mengatakan, “Jangan menyembah selain Allah.” Tidak cukup pula hanya mengajak manusia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.
Seorang muslim perlu mengetahui dan memahami:
- Apa makna Laa Ilaaha Illallah?
- Apa konsekuensi dari kalimat syahadat tersebut
- Apa saja perkara yang bertentangan dengan tauhid?
- Apa saja bentuk kesyirikan?
- Apa saja amalan yang dapat mengurangi atau merusak kesempurnaan tauhid?
- Apa saja perkataan, perbuatan, dan keyakinan yang dapat membatalkan keislaman seseorang?
Mengapa harus terperinci? Karena banyak perkara yang dianggap biasa oleh masyarakat, padahal dapat bertentangan dengan tauhid.
Sebagai contoh, membaca ramalan bintang atau zodiak. Sebagian orang menganggapnya sekadar hiburan. Mereka tidak memahami bahwa zodiak berkaitan dengan ramalan nasib dan perkara gaib.
Padahal, Islam melarang mendatangi dan membenarkan perkataan dukun atau tukang ramal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barang siapa mendatangi seorang peramal, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim, no. 2230).
Dalam hadis lain disebutkan ancaman yang lebih berat bagi orang yang membenarkan perkataan tukang ramal.
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ
“Barang siapa mendatangi seorang dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Abu Dawud, no. 3904; diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, no. 135).
Karena itu, perkara seperti ini harus dijelaskan dalam dakwah tauhid. Masyarakat perlu mengetahui mengapa membaca dan mempercayai ramalan merupakan perkara yang berbahaya bagi akidah.
Contoh lainnya adalah berdoa kepada penghuni kubur, meminta pertolongan kepada selain Allah dalam perkara yang hanya mampu dilakukan Allah, serta melakukan pengagungan yang berlebihan kepada manusia.
Tidak semua orang memahami hukum dan rincian perkara tersebut. Oleh sebab itu, dakwah tauhid harus disampaikan dengan ilmu dan penjelasan yang benar.
Inilah maksud dakwah tauhid secara terperinci: menerangkan makna syahadat, konsekuensinya, serta perkara-perkara yang bertentangan dengannya, baik berupa keyakinan hati, perkataan lisan, maupun perbuatan anggota badan.
4. Dakwah adalah jalan Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya
Setelah menerangkan pentingnya dakwah tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Dalil 1 – Dakwah merupakan jalan Rasulullah ﷺ
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.'” (QS. Yusuf: 108).
Ayat ini memiliki beberapa pelajaran penting.
Pertama, dakwah merupakan jalan Rasulullah ﷺ.
Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyatakan bahwa dakwah kepada Allah merupakan jalan yang beliau tempuh. Dengan demikian, siapa pun yang berdakwah kepada tauhid sesuai petunjuk dan kemampuan yang dimilikinya sedang berusaha mengikuti jalan Rasulullah ﷺ.
Kedua, dakwah harus dilakukan dengan ikhlas.
Perhatikan firman Allah:
أَدْعُو إِلَى اللَّهِ
“Aku mengajak kepada Allah.”
Para ulama menjelaskan bahwa kalimat ad’u ilallah memiliki dua kandungan penting:
- Mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah, yaitu berdakwah kepada tauhid dan syahadat Laa Ilaaha Illallah.
- Mengajak manusia kepada Allah dengan ikhlas, bukan untuk mencari popularitas, penghormatan, atau keuntungan pribadi.
Dua hal ini harus diperhatikan oleh setiap orang yang berdakwah.
Ada orang yang menyampaikan materi agama, membahas kitab tauhid, tafsir, hadis, dan berbagai ilmu syar’i. Namun, apabila tujuan akhirnya adalah agar dirinya diagungkan, dihormati, atau agar orang-orang mengikuti kelompok dan tokohnya, maka ia perlu mengevaluasi niatnya.
Dakwah seharusnya mengajak manusia kepada Allah, bukan mengajak manusia kepada diri sendiri.
Hal ini juga sangat relevan dengan dakwah melalui media sosial. Jangan sampai seseorang membuat konten agama hanya demi memperbanyak pengikut, pelanggan kanal, tayangan, komentar, dan tanda suka.
Apabila Allah memberikan banyak pengikut dan orang yang mengambil manfaat dari dakwah kita, hendaknya kita bersyukur. Namun, apabila jumlahnya sedikit, jangan sampai hal tersebut membuat kita kehilangan semangat.
Tujuan utama kita adalah menyampaikan kebenaran dengan ikhlas karena Allah.
Bahkan, membagikan artikel bermanfaat, meneruskan informasi kajian yang benar, dan mengajak seseorang menghadiri majelis ilmu juga termasuk bentuk usaha berdakwah. Tidak harus selalu menjadi penceramah atau pengajar.
Seseorang bisa berdakwah dengan ilmu, harta, tenaga, dan kemampuan yang dimilikinya. Bahkan, membantu kegiatan kajian dan menyiapkan konsumsi untuk para penuntut ilmu juga dapat menjadi amal kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Peringatan Syaikh Ibnu Utsaimin tentang keikhlasan seorang dai
Dalam penjelasan beliau terhadap ayat ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah membedakan antara orang yang benar-benar berdakwah kepada Allah dan orang yang sebenarnya berdakwah untuk dirinya sendiri.
Beliau menjelaskan:
فَالدَّاعِي إِلَى اللَّهِ هُوَ الْمُخْلِصُ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُوصِلَ النَّاسَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالدَّاعِي إِلَى غَيْرِهِ قَدْ يَكُونُ دَاعِيًا إِلَى نَفْسِهِ، يَدْعُو إِلَى الْحَقِّ لِأَجْلِ أَنْ يُعَظَّمَ بَيْنَ النَّاسِ وَيُحْتَرَمَ.
“Orang yang berdakwah kepada Allah adalah orang yang ikhlas, yang menginginkan agar manusia sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang yang berdakwah kepada selain-Nya, bisa jadi ia sebenarnya berdakwah kepada dirinya sendiri. Ia mengajak kepada kebenaran agar dirinya diagungkan dan dihormati di tengah manusia.”
(Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarh Kitab At-Tauhid, penjelasan bab dakwah kepada syahadat Laa Ilaaha Illallah).
Perkataan ini menjadi peringatan bagi kita semua. Materi dakwah yang benar belum tentu menunjukkan bahwa niat orang yang menyampaikannya juga benar. Seseorang harus terus mengoreksi niatnya agar dakwahnya benar-benar ditujukan kepada Allah.
Ketiga, dakwah harus berdasarkan ilmu dan hujah yang nyata
Allah berfirman:
عَلَىٰ بَصِيرَةٍ
“Dengan hujah yang nyata.”
Inilah prinsip yang sangat penting. Dakwah tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan semangat, perasaan, atau perkiraan. Seorang muslim harus mengetahui dasar dari apa yang disampaikan.
Ketika mengajak seseorang melakukan sesuatu, harus ada dalilnya. Ketika melarang suatu perbuatan, juga harus ada landasannya.
Dalil tersebut harus bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ dengan pemahaman yang benar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini menjelaskan tiga metode dakwah:
- Al-Hikmah (الحكمة): Berdakwah dengan ilmu, hujah, dan cara yang tepat. Metode ini digunakan kepada orang yang siap menerima kebenaran dan mau mengikuti dalil.
- Al-Mau’izhah Al-Hasanah (الموعظة الحسنة): Memberikan nasihat dan peringatan yang baik. Di antaranya dengan menyampaikan janji pahala, ancaman siksa, serta dalil-dalil yang dapat melembutkan hati dan mendorong seseorang menerima kebenaran.
- Al-Mujadalah Billati Hiya Ahsan (المجادلة بالتي هي أحسن): Berdiskusi atau berdebat dengan cara terbaik. Hal ini dilakukan dengan ilmu, adab, dan argumentasi yang baik, bukan dengan celaan, emosi, atau tindakan yang memperburuk keadaan.
Dengan demikian, bashirah dalam dakwah tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang materi yang disampaikan, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana cara menyampaikannya.
Seorang dai harus memiliki ilmu tentang apa yang disampaikan sekaligus memahami metode dakwah yang sesuai.
5. Keutamaan berdakwah kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?'” (QS. Fussilat: 33).
Ayat ini menunjukkan tingginya kedudukan orang yang mengajak manusia kepada Allah. Tidak ada perkataan yang lebih baik daripada perkataan orang yang menggabungkan tiga perkara:
- Mengajak manusia kepada Allah.
- Mengamalkan amal saleh.
- Menyatakan ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah sebagai seorang muslim.
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya menyebutkan dakwah, tetapi juga amal saleh. Artinya, seorang dai harus berusaha mengamalkan apa yang disampaikannya.
Dakwah tidak cukup hanya dengan ucapan. Harus ada usaha untuk memperbaiki diri dan mengamalkan ilmu.
Di antara keutamaan dakwah adalah seseorang bisa mendapatkan pahala besar ketika Allah memberikan hidayah kepada orang lain melalui sebab dirinya.
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada satu orang melalui sebab dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (HR. Al-Bukhari, no. 4210; Muslim, no. 2406).
Unta merah pada masa itu merupakan harta yang sangat berharga. Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah.
Namun, kita harus mengingat bahwa hidayah berada di tangan Allah. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan ikhlas, ilmu, dan cara yang benar.
6. Menyampaikan ilmu harus disertai ketelitian dan pemahaman
Sering kita mendengar hadis Rasulullah ﷺ:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Al-Bukhari, no. 3461).
Hadis ini sering dipahami secara kurang tepat. Ada orang yang menganggap bahwa karena kita diperintahkan menyampaikan walaupun satu ayat, berarti kita harus menyampaikan sebanyak-banyaknya tanpa perlu memperhatikan apakah materi yang disampaikan benar-benar dipahami.
Bukan demikian maksudnya.
Satu ayat yang disampaikan harus dipastikan kebenarannya. Satu hadis yang dibagikan harus diperiksa kesahihannya. Makna dan penjelasannya juga harus dipahami dengan benar.
Jangan sampai seseorang menyampaikan banyak materi, tetapi ternyata sebagian isinya tidak benar atau tidak dipahami.
Rasulullah ﷺ memberikan ancaman yang sangat keras bagi orang yang berdusta atas nama beliau.
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari, no. 110; Muslim, no. 3).
Oleh karena itu, jangan meremehkan persoalan menyampaikan hadis. Sebelum menyebarkan sebuah materi, pastikan sumber dan isinya.
Jangan sampai niat kita berdakwah justru membuat kita menyebarkan informasi yang tidak benar.
7. Berdakwah dengan mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya
Allah menyebutkan dalam QS. Yusuf ayat 108 bahwa Rasulullah ﷺ berdakwah bersama orang-orang yang mengikutinya.
Ini menunjukkan bahwa dakwah harus mengikuti jalan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan metode yang dibuat-buat tanpa landasan.
Seorang muslim perlu menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, termasuk dalam menentukan prioritas dakwah dan metode penyampaiannya.
Di antara perkara yang sangat penting adalah mendahulukan dakwah tauhid. Hal ini terlihat jelas dalam perintah Rasulullah ﷺ ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman.
8. Perintah pertama Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal adalah mengajak kepada tauhid
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kemudian membawakan hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang pengutusan Mu’adz bin Jabal ke Yaman.
Dalil 2 – Prioritas pertama dalam dakwah adalah tauhid
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ …
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah…”
Hadis ini kemudian menjelaskan bahwa apabila mereka menerima seruan tersebut, Mu’adz diperintahkan mengajarkan kewajiban shalat lima waktu. Setelah itu, barulah mengajarkan kewajiban zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang miskin.
(HR. Al-Bukhari, no. 1395; Muslim, no. 19).
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan arahan kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Beliau tidak memerintahkan Mu’adz untuk langsung mengajarkan seluruh perkara agama sekaligus. Ada urutan dan prioritas yang harus diperhatikan.
Perkara pertama adalah mengajak manusia kepada tauhid.
Mengapa Mu’adz yang diutus? Karena beliau termasuk sahabat yang memiliki ilmu. Meskipun relatif muda, Mu’adz bin Jabal termasuk sahabat yang memiliki keutamaan dan kedalaman ilmu.
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak sembarangan mengutus seseorang untuk berdakwah. Orang yang diutus harus memiliki bekal ilmu yang memadai.
Dari hadis ini kita juga mengetahui bahwa dakwah harus memperhatikan kondisi orang yang menjadi sasaran dakwah.
Orang-orang yang didatangi Mu’adz adalah Ahli Kitab yang belum menerima Islam. Maka, perkara pertama yang harus disampaikan kepada mereka adalah tauhid dan persaksian terhadap kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.
Inilah prioritas dakwah yang harus kita pahami.
Mengapa tauhid harus menjadi prioritas?
Karena tauhid merupakan dasar agama. Ibadah seseorang tidak akan benar apabila fondasi tauhidnya rusak.
Dakwah kepada tauhid juga merupakan ciri utama dakwah para nabi dan rasul. Karena itu, dakwah yang terus-menerus mengabaikan tauhid patut dievaluasi.
Ada kalanya seseorang berdakwah dengan materi akhlak, kejujuran, amanah, dan berbagai pembahasan umum lainnya. Semua itu memang penting dan termasuk bagian dari agama. Akan tetapi, apabila sepanjang hidupnya hanya membahas perkara-perkara tersebut tanpa pernah menerangkan tauhid secara terperinci, maka ada bagian penting dari dakwah para nabi yang tidak mendapatkan perhatian.
Mengapa demikian? Karena dakwah tauhid memiliki konsekuensi. Ketika menjelaskan kesalahan keyakinan atau kebiasaan yang sudah mengakar di masyarakat, mungkin akan ada orang yang tidak menyukai penjelasan tersebut.
Contohnya adalah pembahasan tentang berdoa kepada penghuni kubur, kesyirikan dalam nazar, ramalan, dan pengagungan berlebihan terhadap manusia.
Bisa jadi pembahasan seperti ini tidak populer. Namun, ukuran kebenaran bukanlah banyak atau sedikitnya orang yang menyukai suatu dakwah.
Ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam mengagungkan beliau.
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya. Maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Al-Bukhari, no. 3445).
Dengan demikian, dakwah tauhid harus disampaikan secara jelas, sekalipun terkadang tidak disukai oleh sebagian orang. Tentu saja, penyampaiannya tetap harus mengikuti hikmah, ilmu, dan adab.
9. Jangan hanya mengandalkan semangat dalam berdakwah
Dari hadis pengutusan Mu’adz ke Yaman, kita memahami bahwa dakwah harus dilandasi ilmu. Semangat saja tidak cukup.
Seseorang yang berangkat berdakwah ke berbagai tempat, tetapi tidak memiliki bekal ilmu yang memadai, perlu mengevaluasi metode yang ditempuhnya.
Rasulullah ﷺ memilih orang yang memiliki ilmu untuk menyampaikan agama. Ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan bekal penting bagi seorang dai.
Karena itu, jangan sampai seseorang merasa telah melakukan dakwah yang benar hanya karena telah bepergian ke berbagai tempat atau mengajak banyak orang, sementara ia tidak memperhatikan kebenaran materi dan metode yang disampaikan.
Dakwah harus memiliki:
- Tujuan yang benar, yaitu mengajak manusia kepada Allah.
- Keikhlasan, bukan mencari pujian dan penghormatan.
- Ilmu dan hujah yang jelas.
- Metode yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.
- Prioritas yang benar, dengan mendahulukan tauhid.
Jika prinsip-prinsip tersebut telah dipahami, seorang muslim hendaknya terus berusaha berdakwah sesuai kemampuannya dan tidak mudah goyah hanya karena komentar atau celaan manusia.
Dakwah tauhid merupakan jalan para nabi. Maka, selama kita berusaha berjalan di atas petunjuk mereka, jangan sampai mundur karena tekanan atau ketidaksukaan orang lain.
Kita juga tidak boleh merasa bosan mempelajari tauhid. Mengulang pembahasan tauhid bukanlah sesuatu yang tercela. Justru perkara ini harus senantiasa dipelajari, diingat, dan diamalkan.
10. Sesi tanya jawab
Setelah menyelesaikan pembahasan awal bab dakwah kepada syahadat Laa Ilaaha Illallah, kajian dilanjutkan dengan menjawab beberapa pertanyaan dari peserta.
Pertanyaan pertama: Apakah memberikan sedekah kepada anak termasuk riya?
Pertanyaan:
Bagaimana jika orang tua memberikan sedekah atau sesuatu kepada anaknya dengan harapan anak tersebut kelak juga melakukan hal yang sama kepada orang lain? Apakah hal itu termasuk riya?
Jawaban:
Perlu dibedakan terlebih dahulu antara sedekah yang hukumnya wajib dan sedekah yang hukumnya sunah.
Pemberian orang tua kepada anak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk nafkah yang wajib ditunaikan. Adapun pemberian tambahan di luar kebutuhan wajib bisa termasuk pemberian sunah.
Terkait pertanyaan tersebut, pada dasarnya memberikan sesuatu kepada anak dengan tujuan mendidiknya agar memiliki sifat dermawan bukanlah riya.
Orang tua boleh memberikan nasihat dan menanamkan nilai-nilai kebaikan ketika memberikan sesuatu kepada anaknya. Misalnya, mengajarkan agar anak tersebut kelak juga suka membantu orang lain.
Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan: orang tua hendaknya tidak mengharapkan balasan dari anak atas pemberiannya.
Jangan sampai seseorang memberikan nafkah kepada anak dengan niat agar ketika sudah tua nanti anak tersebut wajib membalasnya dengan merawat dan menafkahinya.
Niatkan pemberian dan nafkah tersebut karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita mengharapkan balasan dari Allah, bukan balasan dari manusia.
Apabila Allah memberikan rezeki melalui anak, tentu itu merupakan karunia. Namun, jangan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada anak. Rezeki dan pertolongan Allah sangat luas.
Pertanyaan kedua: Apakah semua konten media sosial akan dihisab?
Pertanyaan:
Sekarang adalah zaman konten. Apakah semua postingan dan konten yang kita buat akan dihisab oleh Allah? Apakah konten dakwah dapat menjadi tabungan pahala?
Jawaban:
Jawabannya, ya. Semua yang dilakukan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, termasuk apa yang ditulis, diucapkan, dan disebarkan melalui media sosial.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).
Ayat ini merupakan peringatan yang sangat mendalam. Tidak ada amal yang luput dari perhitungan Allah, sekecil apa pun amal tersebut.
Jangankan postingan di media sosial, gerakan dan perbuatan yang tidak diketahui orang lain pun akan diperhitungkan oleh Allah.
Lalu, apakah membuat konten dakwah bisa menjadi tabungan pahala? Bisa, insyaallah, selama memenuhi ketentuan dan persyaratan yang benar.
Tidak semua konten otomatis menjadi amal saleh. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
- Pertama, kebenaran isi konten.
Pastikan materi yang disampaikan benar dan memiliki landasan. Jangan sampai seseorang asal meneruskan informasi tanpa memeriksa kesahihannya.
- Kedua, memahami apa yang disampaikan.
Jangan hanya melakukan forward atau membagikan konten tanpa mengetahui isinya. Bisa jadi di dalamnya terdapat hadis lemah, informasi yang keliru, atau penjelasan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
- Ketiga, memperhatikan kepada siapa konten disampaikan.
Materi harus disesuaikan dengan orang yang menerimanya. Tidak semua materi cocok diberikan kepada setiap orang.
Ada pembahasan yang mungkin sesuai untuk penuntut ilmu, tetapi belum tentu tepat disampaikan kepada masyarakat awam yang belum memiliki dasar pengetahuan tentang perkara tersebut.
- Keempat, memperhatikan keadaan dan waktu penyampaian.
Konten yang baik juga harus memperhatikan situasi. Jangan sampai materi yang dibagikan tidak sesuai dengan konteks pembicaraan atau keadaan orang yang menerimanya.
Semua ini berkaitan dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).
Perkataan yang benar bukan hanya harus benar dari segi isi, tetapi juga harus disampaikan dengan memperhatikan orang yang menerima, keadaan, dan waktu penyampaiannya.
Karena itu, sebelum memposting sesuatu, periksa terlebih dahulu apakah isinya benar, apakah sesuai dengan orang yang dituju, dan apakah tepat disampaikan pada saat tersebut.
Jika semua ketentuan ini diperhatikan dan niatnya ikhlas karena Allah, maka konten dakwah bisa menjadi amal kebaikan yang pahalanya diharapkan terus mengalir.
Pertanyaan ketiga: Salat sunah ba’diyah ketika tertahan di belakang jamaah yang sedang salat
Pertanyaan:
Setelah salat berjamaah di masjid, seseorang hendak keluar. Namun, jamaah yang berada di belakangnya masih melaksanakan salat karena tertinggal dari imam. Akibatnya, ia tidak bisa keluar dan harus menunggu.
Daripada hanya menunggu, ia kemudian melaksanakan salat sunah ba’diyah. Apakah ia mendapatkan pahala salat sunah tersebut?
Jawaban:
Pada dasarnya, melaksanakan salat sunah dalam kondisi tersebut diperbolehkan. Namun, perlu diingat bahwa salat sunah lebih utama dikerjakan di rumah.
Apabila seseorang tetap melaksanakannya di masjid karena kondisi yang dihadapi, hendaknya ia memperbaiki dan mengikhlaskan niatnya.
Perhatikan niat sejak awal. Jangan sampai seseorang melakukan ibadah hanya karena ingin mengisi waktu atau sekadar mengikuti keadaan tanpa menghadirkan niat ibadah kepada Allah.
Jika niatnya benar dan ikhlas karena Allah, insyaallah ia berharap mendapatkan pahala dari amal yang dikerjakannya.
Wallahu a’lam.
11. Kesimpulan dan faedah penting kajian
Dari keseluruhan pembahasan bab dakwah kepada syahadat Laa Ilaaha Illallah, terdapat beberapa pelajaran penting yang perlu kita ingat dan amalkan.
- Memperbaiki diri merupakan langkah awal sebelum berdakwah. Seorang muslim harus terlebih dahulu mempelajari tauhid, memahami kesyirikan, dan mengamalkan ilmunya.
- Dakwah tauhid merupakan jalan seluruh nabi dan rasul. Semua nabi menyerukan agar manusia hanya beribadah kepada Allah.
- Dakwah tauhid tidak boleh hanya bersifat umum. Makna syahadat, konsekuensi, dan perkara-perkara yang bertentangan dengannya harus diterangkan secara terperinci.
- Dakwah harus ikhlas karena Allah. Jangan menjadikan dakwah sebagai sarana mencari popularitas, pujian, penghormatan, atau mengajak manusia mengikuti diri dan kelompok kita.
- Dakwah harus berdasarkan ilmu dan dalil. Jangan menyampaikan sesuatu yang belum dipastikan kebenarannya.
- Metode dakwah harus mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ. Gunakan hikmah, nasihat yang baik, dan diskusi dengan cara terbaik.
- Tauhid merupakan prioritas pertama dalam dakwah. Hal ini ditunjukkan oleh perintah Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal ketika diutus ke Yaman.
- Dakwah dapat dilakukan sesuai kemampuan. Mengajarkan ilmu, membagikan artikel yang benar, mengajak menghadiri kajian, dan membantu kegiatan dakwah merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan seorang muslim.
- Semua aktivitas manusia akan dihisab. Termasuk tulisan, komentar, dan konten yang dibagikan melalui media sosial.
- Keikhlasan harus senantiasa dijaga. Jangan sampai amal yang terlihat baik justru kehilangan nilainya karena tujuan yang tidak benar.
Penutup
Bab ini mengingatkan kita bahwa dakwah tauhid bukan sekadar kegiatan menyampaikan materi agama. Dakwah tauhid merupakan jalan para nabi dan rasul yang harus dijalankan dengan keikhlasan, ilmu, dan metode yang benar.
Kita harus memulai dengan memperbaiki diri, kemudian berusaha mengajak keluarga dan masyarakat kepada tauhid sesuai kemampuan.
Jangan merasa bosan mempelajari tauhid. Jangan pula mudah mundur ketika dakwah yang disampaikan tidak disukai sebagian orang. Selama kita berusaha mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, hendaknya kita tetap istiqamah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, dan keteguhan di atas tauhid hingga akhir hayat.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
*****
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آل


