بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Belajar Shalat Khusyu’
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Kamis, 22 Rabi’ul Awal 1448 / 03 September 2026
🕰 | Waktu: 20:00 WQ | 00:00 WIB
🕌 | Tempat: Masjid no. 365 Messaied Qatar
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan menjelaskan keutamaan hari Jum’at dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.
Keutamaan Memperbanyak Shalawat di Hari Jum’at
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-).
Dan keutamaan waktu ini tidak dibarengi dengan keutamaan tempat, maka bershalawat tidak harus datang ke Madinah atau titip salam kepada Beliau Nabi ﷺ, bisa dilakukan dimanapun berada.
Belajar Khusyu dalam Shalat
Kekhusyukan dalam shalat menentukan nilai dari shalat seseorang. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ berikut,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ، وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْر صَلاَتِهِ، تُسْعُهَا ثُمُنُها، سُبْعُها سُدُسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثُلُثها، نصفُها
“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang mengerjakan salat, namun pahala salat yang tercatat baginya hanyalah sepersepuluh (dari) salatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperduanya saja.”
HR. Abu Daud (796). Cet. Al-Maktabah Al-’Asriyah. Tahqiih: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid.
Dan jika menilai amal seseorang, Allah ﷻ menilainya dengan sangat detail. Perhatikan hadits berikut:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إنَّ في الجنَّة مائةَ دَرَجَة أعَدَّهَا الله للمُجاهِدين في سَبِيل الله ما بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كما بين السماء والأرض».
[صحيح] – [رواه البخاري]
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat 100 (seratus) tingkatan yang telah disiapkan Allah untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara 2 (dua) tingkat seperti jarak antara langit dan bumi.” [Hadis sahih] – [Diriwayatkan oleh Bukhari]
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan detailnya Allah ﷻ dalam menilai amalan-amalan hamba-Nya, hingga pahala jihad dibagi menjadi 100 tingkatan.
Maka, apapun amalannya meskipun dalam satu jenis ibadah, memiliki nilai yang berbeda-beda, seperti halnya dalam majelis ilmu, dalam shalat Jum’at dan amalan lainnya.
Cara Mudah Agar Bisa Khusyu
Sebelumnya kita awali dari pertanyaan, mengapa kita tidak khusyu’ dalam shalat? Coba kita perhatikan hadis berikut,
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,
أن النبي صلى الله عليه وسلم صلَّى في خَمِيصَةٍ لها أعْلَام، فَنَظَر إلى أَعْلاَمِهَا نَظْرَةً، فلمَّا انْصَرف قال: «اذهبوا بِخَمِيصَتِي هذه إلى أبي جَهْم وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أبي جَهْم؛ فإنها أَلْهَتْنِي آنِفًا عن صَلاتي»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dengan memakai khamisah yang ada coraknya. Lalu beliau melihat ke corak itu. Ketika salam, beliau bersabda, Antarkan khamisah ini ke Abu Jahm bin Hudzaifah, dan bawakan untukku kain Anbijaniyah milik Abu Jahm. Karena tadi Khamisah ini mengganggu shalatku. (Muttafaq ‘alaih)
Subhanallah… hanya karena lurik di baju, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merasa terganggu ketika shalat. Sampai beliau meminta, agar diberi kain ganti yang polos sehingga tidak mengganggu konsentrasi beliau ketika shalat.
Kebalikannya, berkali-kali kita shalat dengan baju batik, sajadah yang penuh gambar, masjid yang penuh ornamen ukiran, namun kita tidak merasa terganggu ketika shalat. Mengapa itu bisa terjadi?
Jawabannya: karena masalah konsentrasi. Seseorang yang fokus dalam melakukan shalat akan merasa terganggu jika ada hal yang mengalihkan konsentrasinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat konsentrasi ketika beliau sedang shalat. Sehingga ketika ada sesuatu yang mengganggu, beliau berusaha untuk menghindarinya. Sebaliknya, konsentrasi kita ketika shalat masih sangat rendah, sehingga kita tidak perhatian dengan semua yang mengganggu di sekitar kita ketika shalat.
Sebagai ilustrasi, ketika kita sedang ujian matematika untuk kenaikan kelas, kita akan berusaha untuk konsentrasi. Sehingga panitia ujian berusaha mengkondisikan agar suasana ujian dibuat sangat tenang. Karena peserta ujian akan sangat terganggu, sekalipun hanya dengan suara kendaraan.
Lain halnya ketika kita sedang makan di warung, dalam suasana santai sambil membaca berita, meskipun diiringi musik yang keras dan nyanyian yang bersajak indah, kita tidak merasa terganggu. Karena kita tidak sedang konsentrasi. Bagi anda, membaca berita tidak perlu konsentrasi, berbeda ketika anda membaca soal ujian, anda butuh konsentrasi.
Karena itu, keseriusan seseorang dalam melakukan sesuatu, berbanding dengan tingkat konsentrasinya. Semakin anda berkonsentrasi, anda akan semakin khusyu’ dalam mengerjakannya.
Berangkat dari ilustrasi ini, kita bisa memahami, apa pengertian khusyu’ dalam shalat? Bahwa khusyu’ dalam shalat adalah menghadirkan hati ketika sedang melaksanakan shalat.
Definisi Khusyu’
Dr. Sa’id al-Qahthani dalam kitabnya al-Khusyu’ fi Shalat menyimpulkan pengertian khusyu’ dalam shalat, Menghadirkan hati ketika seseorang sedang melakukan ketaatan kepada Allah. ( al-Khusyu’ fi Shalat hlm. 13).
Sehingga khusyu’ dalam shalat berarti, menghadirkan hati ketika seseorang sedang melakukan shalat. Khusyu’ ketika membaca al-Quran berarti, menghadirkan hati ketika seseorang sedang membaca al-Quran. Khusyu’ ketika thawaf berarti menghadirkan hati ketika seseorang sedang thawaf, dst.
Definisi khusyu’ semacam ini yang dijelaskan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dimana beliau mengatakan, “Pahala dari shalatmu hanya senilai apa yang kamu pikirkan dari shalatmu.” (Imam al-Albani menilai: shahih dari sebagian salaf ~ Silsilah al-Ahadits Dhaifah, 14/1026).
Pengaruh dari khusyu’: ketika orang itu khusyu’ dalam shalatnya, dia akan berusaha tenang dan fokus terhadap semua gerakan dan bacaan dalam shalat.
Macam-macam Khusyu’ Dalam Shalat
Khusyu’ dalam shalat ada 2:
1. Khusyu’ Fisik
Khusyu’ fisik berarti ketenangan fisik, tidak banyak bergerak ketika sedang melaksanakan shalat.
Seorang tentara inggris yang bertugas jaga di pintu masuk, dia selalu diam dengan posisi tertentu. Yang dia lakukan hakekatnya adalah khusyu’ secara fisik. Ketika orang takbiratul ihram, dia mengangkat tangan, lalu sedekap, kemudian tenang diam, maka hakekatnya dia telah melakukan khusyu’ secara fisik.
Sehingga inti khusyu’ secara fisik adalah tidak bergerak, tidak tolah-toleh, fokus dengan satu gérakan yang sedang dilakukan.
Khusyu’ secara fisik secara umum lebih mudah untuk dilakukan, sampaipun orang yang sama sekali tidak paham dengan semua bacaan dalam shalat. Selagi dia diam fisiknya, berarti dia khusyu’ secara fisik. Karena itu, suka melirik atau tolah-toleh dalam shalat disebut sebagai pencurian dalam shalat.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ الاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ فَقَالَ “ هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ
”Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tolah-toleh ketika shalat. Jawaban beliau, ‘Itu adalah sambaran setan untuk mencolek shalatnya seorang hamba.’ (HR. Bukhari 751, Abu Daud 911 dan yang lainnya).
2. Khusyu’ batin
Khusyu’ batin berarti batinnya fokus memikirkan isi shalat. Tidak berkeliaran, tidak berlarian, tidak memikirkan selain shalat yang sedang dia kerjakan.
Bisa jadi, ada orang yang mengerjakan shalat, fisiknya diam di masjid, namun batinnya berada di dapur, di warung kopi, melayang memikirkan usaha, memikirkan jodoh dan semua perasaan yang mungkin saja muncul ketika sedang shalat. Dalam kondisi semacam ini, berarti dia khusyu’ secara fisik, namun tidak khusyu’ secara batin.
Karena itulah, khusyu’ batin lebih susah dibandingkan khusyu’ fisik. Karena umumnya batin, lebih susah untuk dikendalikan dibandingkan fisik. Dua orang yang saling mencintai, bisa saja fisiknya dipisahkan sejauh-jauhnya, namun batin selalu bersatu saling memikirkan kekasihnya.
Orang yang tidak khusyu’ ketika shalat, disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang yang sedang mengobrol dengan batinnya. Karena batinnya sedang bercerita banyak hal di luar shalat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dengan khusyu’.
«مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka‘at dan tidak berbicara dengan jiwanya dalam shalat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari 159 & Muslim 560).
Untuk itu, upaya yang dilakukan setan dalam menggoda manusia ketika shalat adalah dengan mempengaruhinya agar orang itu ngobrol dengan hatinya. Ingat ini, ingat itu, sehingga sesuatu yang tidak kita pikirkan dalam shalat, tiba-tiba muncul dalam shalat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِذَا نُودِيَ بالصَّلاَةِ، أدْبَرَ الشَّيْطَانُ، وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأذِينَ، فَإذَا قُضِيَ النِّدَاءُ أقْبَلَ، حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ للصَّلاةِ أدْبَرَ، حَتَّى إِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ أقْبَلَ، حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ المَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ: اذْكُرْ كَذَا واذكر كَذَا – لِمَا لَمْ يَذْكُر مِنْ قَبْلُ – حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ مَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى».
[صحيح] – [متفق عليه]
Ketika adzan dikumandangkan, setan menjauh sambil terkentut-kentut, sehingga tidak mendengarkan adzan. Setelah adzan selesai, dia datang lagi. Ketika iqamah dikumandangkan, dia pergi. Setelah selesai iqamah, dia balik lagi, lalu membisikkan dalam hati orang yang shalat: ayo ingat A, ayo ingat B, dia mengingatkan sesuatu yang tidak terlintas dalam ingatan. Hingga dia lupa berapa jumlah rakaat yang dia kerjakan. (HR. Ahmad 8361, Bukhari 608, Muslim 885 dan yang lainnya).
Shalat itu Sudah Sibuk
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut shalat dengan kesibukan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa beliau pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang shalat, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawabnya. Seusai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِي الصَّلاَةِ لَشُغْلًا
“Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan.” (HR. Abu Daud 924, Ahmad 3563 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Beliau menyebut shalat dengan kegiatan yang berisi kesibukan, karena orang yang shalat secara lahir batin sedang melakukan banyak aktivitas. Fisiknya fokus dengan gerakan tertentu, batinnya juga fokus dengan memikirkan hal tertentu. Artinya, dalam shalat, pikiran orang tidak kosong, namun penuh dengan kegiatan.
Dan secara prinsip, jika orang melakukan kesibukan tertentu, maka dia akan melupakan kesibukan yang lain. Sebagaimana batin kita, jika hati ini melakukan kesibukan tertentu, maka dia akan lupa dengan kesibukan yang lain.
Apa yang Perlu Dipikirkan ketika Shalat?
Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang perlu kita pikirkan ketika sedang shalat? Sementara berbicara dengan jiwa sendiri menghilangkan rasa khusyu’ dalam shalat?
Khusyu’ ketika shalat berarti fokus shalat.
Fokus fisik berarti melakukan gerakan yang sesuai sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat. Ketika anda diam dalam posisi sedekap, wajah menghadap ke tempat sujud, tidak banyak bergerak, berarti gerakan anda telah fokus. Dan itulah khusyu’ fisik.
Sementara fokus batin berarti batin fokus memikirkan isi shalat.
Apa itu konten shalat?
Konten shalat berarti unsur shalat, dan itu ada 2: gerakan dan bacaan.
Karena itu, fokus terhadap isi shalat berarti fokus memikirkan gerakan dan bacaan dalam shalat.
1. Fokus memikirkan gerakan shalat berarti memikirkan bagaimana agar kita bisa melakukan gerakan shalat yang sesuai sunah. Bagaimana caranya sedekap yang benar, bagaimana mengatur arah pandangan, bagaimana rukuk yang benar, dimana posisi tangan ketika sujud, bagaimana posisi duduk yang sesuai sunah, dst.
Shalat di atas mimbar ini pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam dan ini dibolehkan. Terutama untuk tujuan memberikan pengajaran kepada kaum muslimin sebagaimana hal tersebut dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam.
Nabi Muhammad ﷺ pernah shalat di atas mimbar untuk mengajarkan tata cara shalat kepada para sahabat secara langsung.
- Praktik Nabi: Rasulullah ﷺ berdiri di atas mimbar, bertakbir, membaca ayat, dan ruku’ di atasnya.
- Gerakan Turun: Saat hendak sujud, beliau mundur ke belakang lalu turun ke lantai (dasar mimbar) untuk bersujud.
- Kembali ke Mimbar: Setelah sujud, beliau bangkit dan naik kembali ke atas mimbar untuk rakaat berikutnya dengan cara yang sama.
- Tujuan Pengajaran: Selesai shalat, beliau menghadap para sahabat dan bersabda: “Sesungguhnya aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mempelajari cara shalatku.”
Karena itu, seorang hamba dituntut untuk mempelajari tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu sesuaikan gerakan dia dalam shalat dengan gerakan yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Prinsipnya adalah jadikan gerakan shalat kita berdalil. Sesuaikan dengan dalil, maka kita akan bisa khusyu’ dalam shalat.
Termasuk bagian dari fokus memikirkan gerakan adalah merenungkan dan memahami arti dari gerakan shalat. Seperti, merenungkan mengapa harus berdiri, mengapa harus bersedekap ketika berdiri, mengapa harus rukuk, atau mengapa posisi sujud seperti itu, dst.
2. Fokus memikirkan bacaan dalam shalat
Bentuknya adalah merenungkan makna setiap bacaan yang dilantunkan dalam shalat. Seperti memahami makna takbiratul ihram, memahami makna doa iftitah, merenungi bacaan al-Fatihah, dst. Fokus di bagian yang kedua ini lebih rumit untuk dilakukan, karena orang yang shalat harus mengerti bahasa arab, dan mampu memahami maknanya.
Bagian inilah yang akan kita jabarkan lebih banyak, sehingga sangat membantu seorang hamba untuk menyibukkan dirinya untuk memikirkan setiap bacaan dalam shalat.
Ketika seorang hamba fokus memikirkan 2 hal ini, berarti sang hamba telah fokus memikirkan isi shalat, dan itulah jatah khusyu’nya dalam shalat.
Demikian. Allahu a’lam.
Poster
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم


