Bismillah
Daurah Qatar Ke-29 | Pertemuan Ke-9
- Tema: Keterbatasan Ilmu Manusia
- Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafidzahullah
- Mudir Pondok Pesantren As-Sunnah Bagik Nyaka, Lombok Timur.
- Tanggal: 6 Jumadil Awal 1448 H / 17 Oktober 2026 M
- Tempat: Sheikh Abdulla Bin Zaid Al Mahmoud Islamic Cultural Center – Doha Qatar
Pendahuluan: Keutamaan Menuntut Ilmu
Segala puji bagi Allah ﷻ atas nikmat Islam, iman, dan kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu syar’i. Setelah menunaikan kewajiban-kewajiban agama, menuntut ilmu termasuk amalan yang sangat utama karena dengannya seorang hamba mengenal Allah, memahami tuntunan Rasulullah ﷺ, dan dapat beribadah di atas ilmu.
Imam asy-Syafi‘i Rahimahullah berkata bahwa setelah menunaikan kewajiban, tidak ada sesuatu yang lebih utama daripada menuntut ilmu. Nukilan ini disebut dalam sumber biografi dan adab menuntut ilmu.
Ilmu merupakan sebab kokohnya agama. Ketika ilmu menyebar, umat dapat membedakan petunjuk dari kesesatan. Sebaliknya, ketika ilmu diangkat dan kebodohan merajalela, orang dapat berbicara tentang agama tanpa landasan yang benar.
Ilmu Diangkat dengan Wafatnya Para Ulama
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ilmu tidak dicabut dari dada manusia sekaligus, melainkan dengan diwafatkannya para ulama. Setelah para ulama tiada, sebagian orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki ilmu memadai. Mereka dimintai fatwa, lalu menjawab tanpa ilmu sehingga tersesat dan menyesatkan orang lain.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari para hamba. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu; mereka pun sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673).
Di antara tanda kiamat ialah diangkatnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. Yang dimaksud dalam pembahasan ini terutama adalah kebodohan terhadap agama, bukan ketiadaan keahlian dalam urusan dunia. Kemajuan duniawi dapat berjalan berdampingan dengan lemahnya pemahaman terhadap agama.
Pewarisan Ilmu dari Generasi ke Generasi
Ilmu agama sampai kepada umat melalui Rasulullah ﷺ, kemudian diajarkan kepada para sahabat, diteruskan oleh para tabi’in, lalu dibukukan dan disebarkan oleh para ulama setelah mereka. Di antara sahabat yang banyak meriwayatkan hadis adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Ummul Mukminin Aisyah, Abdullah bin Abbas, Abu Sa‘id al-Khudri, dan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhum.
Di Madinah dikenal kelompok fuqaha yang masyhur dengan sebutan al-fuqaha’ as-sab‘ah, yaitu para ulama tabi’in yang menjadi rujukan ilmu dan fikih. Nama-nama mereka disebut dengan sedikit perbedaan dalam sejumlah kitab, tetapi yang lazim disebut ialah Sa‘id bin al-Musayyib, al-Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin az-Zubair, Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, Sulaiman bin Yasar, dan Kharijah bin Zaid.
Setelah itu, ilmu tersebar ke berbagai wilayah dan dipelajari oleh para imam besar, di antaranya Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi‘i, dan Ahmad bin Hanbal. Para penyusun kitab hadis seperti al-Bukhari dan Muslim menghimpun riwayat dengan metode ilmiah yang ketat. Rantai pewarisan ini menunjukkan pentingnya sanad, ketelitian, dan penghormatan kepada para pembawa ilmu.
Ayyub as-Sakhtiyani Rahimahullah, sebagaimana dinukil dalam pembahasan tentang keutamaan ilmu, menjelaskan bahwa ilmu generasi terdahulu lebih banyak, sedangkan penjelasan dan syarah berkembang luas pada generasi belakangan. Inti ilmu adalah firman Allah dan sabda Rasul-Nya; penjelasan para ulama membantu umat memahami dalil-dalil tersebut.
Lima Faedah Keterbatasan Ilmu Manusia
Faedah Pertama: Hukum Asal Manusia Tidak Mengetahui
Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Ilmu yang dimilikinya datang melalui pengajaran Allah, baik dengan pendengaran, penglihatan, akal, pengalaman, maupun bimbingan wahyu. Karena itu, tidak layak seseorang menyombongkan ilmu yang dimilikinya.
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl [16]: 78).
إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. al-Ahzab [33]: 72).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa sifat dasar manusia secara tabiat (makhluk) cenderung pada kezaliman (az-zhulm) dan kebodohan (al-jahl), ia tidak keluar dari keduanya kecuali dengan ilmu dan petunjuk yang Allah ajarkan. (Qā‘idah fī Anwā‘ al-Istiftāḥ)
Karena manusia mudah lupa, ilmu perlu dijaga dengan pengulangan, catatan, dan tulisan. Ada ungkapan yang disebut dalam kajian: “Penyakit ilmu adalah lupa, dan sebaik-baik pengingat adalah tulisan.”
Bahaya Berbicara Tanpa Ilmu
Kebodohan dapat menjadi sumber banyak kesalahan dan fitnah. Dalam penjelasan yang dinukil dari Syaikhul Islam, banyak fitnah berawal dari lemahnya ilmu atau lemahnya kesabaran. Karena itu, orang yang belum mengetahui suatu masalah hendaknya bertanya kepada ahlinya, bukan tergesa-gesa memberi jawaban.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl [16]: 43; ayat serupa terdapat dalam QS. al-Anbiya’ [21]: 7).
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isra’ [17]: 36).
Al-Mizzi Rahimahullah mengatakan: “Seandainya orang yang tidak mengetahui memilih diam, niscaya ia membuat dirinya dan orang lain beristirahat; kesalahan akan berkurang dan kebenaran akan lebih banyak.” (Tahdzīb al-Kamāl fī Asmā’ ar-Rijāl, jilid 2, hlm. 326).
Contoh nyata bahaya fatwa tanpa ilmu adalah kisah seorang sahabat yang terluka parah lalu junub. Ia bertanya apakah ada keringanan untuk bertayamum, tetapi orang-orang di sekitarnya menyuruhnya mandi hingga ia meninggal. Nabi ﷺ mencela jawaban tersebut dan menegaskan bahwa mereka semestinya bertanya ketika tidak mengetahui. Riwayat Sunan Abi Dawud, no. 336.
Faedah Kedua: Ilmu Allah Sempurna, Ilmu Makhluk Tidak
Ilmu Allah sempurna, meliputi segala sesuatu, sedangkan ilmu manusia terbatas. Setiap orang, betapapun tinggi pendidikannya, pasti memiliki hal-hal yang belum diketahuinya. Bahkan para sahabat pun tidak selalu menghadiri seluruh peristiwa atau mendengar setiap sabda Nabi secara langsung.
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. al-Isra’ [17]: 85).
Ketika para sahabat berbeda pendapat tentang perjalanan menuju Syam pada masa wabah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf menyampaikan hadis yang pernah didengarnya dari Rasulullah ﷺ: apabila wabah terjadi di suatu negeri, jangan memasukinya; apabila wabah terjadi di tempat seseorang berada, jangan keluar darinya untuk menghindarinya. Riwayat ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari, no. 5729, dan Shahih Muslim, no. 2219. Kisah ini memperlihatkan bahwa ilmu kadang diketahui oleh seorang sahabat tetapi belum diketahui oleh sahabat lainnya.
Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu banyak meriwayatkan hadis karena sering menyertai Nabi, sementara sebagian sahabat lain sibuk berdagang atau mengurus kebun. Dalam Shahih al-Bukhari terdapat kisah Abu Hurairah mengadukan hafalannya tidak bagus, lalu Nabi memerintahkannya membentangkan selendangnya dan mendoakannya. Hingga, semenjak itu hapalannya menjadi kuat. Riwayat ini menunjukkan pentingnya memanfaatkan kesempatan belajar serta memohon pertolongan Allah ﷺ.
Faedah Ketiga: Ilmu yang Diberikan kepada Manusia Sangat Sedikit
Sedikitnya ilmu manusia semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Dalam ungkapan yang disebut dalam kajian, perjalanan menuntut ilmu seakan memiliki tiga tahap: pada tahap awal seseorang mudah merasa paling tahu; setelah belajar lebih jauh ia mulai rendah hati; dan ketika ilmunya semakin luas, ia menyadari betapa banyak hal yang belum diketahuinya.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir memberikan gambaran tentang luasnya ilmu Allah. Dalam hadis sahih, Nabi Musa diberi tahu bahwa ada seorang hamba Allah yang memiliki ilmu yang tidak diketahui Nabi Musa. Ketika keduanya berada di dekat laut, seekor burung mengambil air laut dengan paruhnya. Khidir menjelaskan bahwa ilmu dirinya dan ilmu Musa dibandingkan ilmu Allah hanyalah seperti air yang dibawa burung itu dibandingkan lautan.
Kisah tersebut diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, antara lain no. 122 dan no. 3401 serta Shahih Muslim, no. 2380.
Allah ta’ala bersabda:
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
“Katakanlah, ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.’” (QS. al-Kahfi [18]: 109).
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ
“Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, ditambah tujuh lautan lagi sesudahnya, niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah.” (QS. Luqman [31]: 27).
Allah juga berfirman, “Di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf [12]: 76). Karena itu, seseorang tidak semestinya menafikan suatu riwayat atau pengetahuan secara mutlak hanya karena ia belum mengetahuinya.
Ilmu Bisa Datang dari Orang yang Lebih Muda
Menuntut ilmu tidak berarti hanya mengambil dari orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya. Seseorang dapat belajar dari guru, teman sejawat, bahkan muridnya sendiri. Imam asy-Syafi‘i Rahimahullah dikenal menghormati keluasan ilmu hadis Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah. Dalam tradisi ilmu hadis terdapat pembahasan tentang periwayatan orang yang lebih tua dari orang yang lebih muda, karena usia tidak selalu menentukan siapa yang lebih dahulu memperoleh suatu pengetahuan.
أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ
“Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui; aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.” (QS. an-Naml [27]: 22).
Ayat ini adalah perkataan burung hudhud kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Hudhud membawa informasi yang belum diketahui Nabi Sulaiman pada saat itu. Pelajarannya, pengetahuan tertentu bisa saja dimiliki pihak yang lebih rendah kedudukannya, sehingga seorang penuntut ilmu perlu terbuka terhadap kebenaran dari siapa pun sumbernya.
Faedah Keempat: Ketika Tidak Tahu, Kembalikan Ilmunya kepada Allah
Ketika malaikat ditanya tentang nama-nama yang diajarkan kepada Adam, mereka mengakui keterbatasan pengetahuan mereka. Mereka tidak menjawab dengan dugaan, melainkan mengembalikan pengetahuan kepada Allah.
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’” (QS. al-Baqarah [2]: 32).
Demikian pula Nabi Yusuf ‘alaihissalam menyatakan bahwa kemampuan menafsirkan mimpi merupakan ilmu yang diajarkan oleh Rabbnya. (Lihat QS. Yusuf [12]: 37). Semua ini menegaskan bahwa ilmu adalah karunia Allah, bukan semata-mata hasil kecerdasan pribadi.
Dalam hadis tentang Nabi Musa dan Khidir, Nabi Musa ditegur karena menyatakan dirinya sebagai orang paling berilmu tanpa mengembalikan pengetahuan itu kepada Allah. Kemudian beliau menempuh perjalanan untuk belajar. Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang berilmu tidak menghalanginya untuk terus belajar dan mengakui adanya pengetahuan yang belum ia miliki.
Mengatakan “Saya Tidak Tahu” adalah Bagian dari Ilmu
Imam Ibnu Jama‘ah dalam pembahasan adab penuntut ilmu menyebutkan bahwa orang yang ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya hendaknya berkata, “Aku tidak tahu.” Mengakui ketidaktahuan bukan aib; justru itu bentuk amanah ilmiah. Jawaban yang keliru dapat menyesatkan orang lain dan menjadi tanggung jawab di hadapan Allah.
Imam Asy-Sya’bi rahimahullah berkata:
لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ
“Ucapan ‘aku tidak tahu’ adalah separuh ilmu.” Sumber Riwayat: Perkataan ini antara lain tercantum dalam kitab Musnad ad-Darimi (1/276).
Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi dinukil membagi manusia dalam empat keadaan:
- Orang yang tahu dan sadar bahwa dirinya tahu—ia berilmu, maka bertanyalah kepadanya;
- Orang yang tahu tetapi tidak sadar bahwa dirinya tahu—ingatkanlah dia;
- Orang yang tidak tahu dan sadar bahwa dirinya tidak tahu—ajarilah dia;
- Orang yang tidak tahu serta tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu—ia sulit menerima arahan. Pembagian ini merupakan nasihat untuk mengenali sikap manusia terhadap ilmu.
Imam Malik Rahimahullah juga dikenal sering menjawab “aku tidak tahu” ketika belum mengetahui jawaban suatu pertanyaan. Dalam Al-Adab asy-Syar‘iyyah 2/64, Ibnu Muflih menukil bahwa termasuk fikih seorang alim ialah mengatakan “aku tidak tahu”, karena sikap tersebut dapat menjadi sebab datangnya kebaikan.
Faedah Kelima: Menuntut Ilmu Sampai Meninggal Dunia
Karena manusia dilahirkan tanpa pengetahuan, ilmu yang diberikan kepadanya sedikit, dan pengetahuannya terbatas, ia harus terus belajar hingga akhir hayat. Menuntut ilmu bukan aktivitas yang berhenti ketika seseorang telah menyelesaikan pendidikan formal atau mencapai usia tertentu.
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr [15]: 99).
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Taha [20]: 114).
Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu: Nabi diperintahkan memohon tambahan ilmu. Seorang muslim hendaknya terus belajar, memperbaiki pemahaman, mengamalkan ilmu, dan mengajarkannya dengan cara yang benar.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” Riwayat Sunan Ibnu Majah, no. 224.
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal: Ketika beliau sudah lanjut usia dan menjadi seorang ulama besar serta mujtahid, beliau tetap terlihat membawa pena dan wadah tinta ke mana saja untuk mencatat hadis dan faedah.
Teguran dan Jawaban: Seseorang yang melihatnya bertanya, “Wahai Abu Abdillah, sampai kapan engkau menuntut ilmu dan membawa alat tulis ini padahal usia sudah tua?” Imam Ahmad menjawab: “Aku akan menuntut ilmu sampai aku masuk ke liang kubur” (atau “Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”).
Nukilan ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap ilmu tidak berakhir hanya karena usia bertambah.
Muhammad bin al-Fadl al-Balkhi Rahimahullah menyebut empat sebab hilangnya agama pada seseorang:
- tidak mengamalkan ilmu yang telah diketahui;
- beramal tanpa ilmu;
- tidak berusaha mempelajari hal yang belum diketahui;
- dan menghalangi orang lain dari belajar serta mengajar. Nukilan ini disebut oleh Ibnu Qayyim dalam Madārij as-Sālikīn, jilid 2, hlm. 436.
Usia tua, kesibukan, atau kesulitan hidup tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar sama sekali. Seseorang dapat menyesuaikan cara belajarnya dengan keadaan, mengulang pelajaran, membaca, bertanya kepada ulama, dan mengamalkan apa yang telah dipahami. Setan dapat memanfaatkan kebodohan untuk menyesatkan manusia, sedangkan ilmu yang benar membantu seorang hamba mengenali jalan keselamatan.
Penutup
Dari pembahasan ini, terdapat lima faedah utama:
- Pertama, hukum asal manusia tidak mengetahui;
- Kedua, ilmu Allah sempurna sedangkan ilmu makhluk tidak;
- Ketiga, ilmu yang diberikan kepada manusia sangat sedikit;
- Keempat, pengetahuan manusia terbatas sehingga ketika tidak tahu ia harus mengembalikannya kepada Allah dan bertanya kepada ahlinya;
- Kelima, menuntut ilmu harus terus dilakukan sampai akhir hayat.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang rendah hati terhadap ilmu, jujur ketika tidak mengetahui, berhati-hati dalam berbicara tentang agama, mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, dan terus menuntut ilmu hingga bertemu dengan-Nya.
Wallāhu a‘lam. Wa shallallāhu ‘alā nabiyyinā Muhammad, wa ‘alā ālihi wa shahbihi ajma‘īn. Walhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.
*****
Tanya Jawab
1. Bagaimana Cara Mendapatkan Petunjuk Allah?
Seorang penanya bertanya bagaimana cara menangkap “sinyal” dari Allah ketika menghadapi dua pilihan dan memohon petunjuk. Pemateri meluruskan bahwa petunjuk bukan sekadar ditunggu atau “ditangkap”; seorang hamba perlu mencarinya dengan menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, seperti belajar, bertanya kepada ahli ilmu, berdoa, dan melakukan istikharah ketika menghadapi pilihan.
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku akan pergi menuju Tuhanku; Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. ash-Saffat [37]: 99).
Pemateri mengingatkan bahwa pada masa sekarang, mendatangkan guru dan menghadiri majelis ilmu relatif lebih mudah dibandingkan masa lalu. Karena itu, nikmat tersebut semestinya dimanfaatkan. Imam Malik Rahimahullah dinukil berkata:
إِنَّ الْعِلْمَ يُؤْتَى وَلَا يَأْتِي
“Ilmu itu didatangi, bukan ilmu yang mendatangi.”
Pemateri kemudian menyampaikan beberapa kisah tentang kesungguhan penuntut ilmu pada masa lampau. Dalam salah satu kisah yang dinisbatkan kepada Imam Malik, seorang murid meminta agar beliau membacakan hadis, sedangkan Imam Malik memintanya membaca hadis yang telah dihafalnya. Karena murid itu terus mendesak, ia diperintahkan menerima hukuman pukulan. Murid tersebut kemudian meminta agar setiap pukulan diganti dengan satu hadis. Kisah ini disampaikan untuk menggambarkan betapa tinggi nilai ilmu di mata para penuntut ilmu terdahulu.
Pemateri juga menekankan pentingnya berdoa ketika menuntut ilmu. Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memohon tambahan ilmu:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Taha [20]: 114).
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” Doa ini diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah, no. 925, dan terdapat pula dalam sejumlah kitab doa.
2. Apa Makna Manusia Disebut Sangat Zalim dan Sangat Bodoh?
Penanya bertanya tentang makna firman Allah dalam Surah al-Ahzab ayat 72 dan contoh kezaliman dalam kehidupan sehari-hari. Pemateri menjelaskan bahwa kezaliman tidak hanya dilakukan oleh pemimpin. Setiap orang dapat berbuat zalim, misalnya mengambil hak orang lain, menggunjing, memfitnah, berbohong, atau melanggar batasan Allah.
إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. al-Ahzab [33]: 72).
Pemateri membagi kezaliman menjadi tiga kategori yang dikenal dalam penjelasan ulama:
- Kezaliman yang tidak dibiarkan begitu saja, yaitu kezaliman terhadap sesama manusia. Hak orang lain yang diambil harus diselesaikan. Jika tidak diselesaikan di dunia, perkara itu akan dituntut pada hari kiamat, ketika penyelesaian dapat berupa pengambilan pahala atau pemindahan dosa.
- Kezaliman yang tidak diampuni apabila seseorang meninggal tanpa bertobat darinya, yaitu syirik. Dasarnya adalah firman Allah bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi orang yang meninggal dalam keadaan belum bertobat darinya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki (QS. an-Nisa’ [4]: 48 dan 116).
- Kezaliman yang berada di bawah kehendak Allah, yaitu dosa antara seorang hamba dan Rabbnya, seperti kebohongan atau perbuatan maksiat lainnya. Dosa ini berada di bawah kehendak Allah; seorang hamba wajib bertobat dan tidak meremehkannya.
Pembagian ini merupakan ringkasan penjelasan yang disampaikan dalam kajian.
3. Seorang Baru Masuk Islam, Belajar Tujuh Bulan, Lalu Meninggal
Seorang penanya menyampaikan bahwa bibinya baru masuk Islam, baru belajar shalat dan membaca huruf hijaiyah selama sekitar tujuh bulan, lalu meninggal dunia. Penanya bertanya apakah amalnya yang masih sedikit dapat diterima Allah.
Pemateri menjawab dengan harapan baik kepada Allah: semoga amalnya diterima. Ia menekankan pentingnya tauhid dan kalimat syahadat sebagai pokok agama.
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lā ilāha illallāh’, ia masuk surga.” Riwayat ini disebut dalam Sunan Abi Dawud, no. 3116.
Hadis ini tidak berarti seseorang boleh meremehkan kewajiban shalat, tetapi menegaskan keutamaan tauhid dan kalimat ikhlas.
Penanya juga menjelaskan bahwa bibinya dimakamkan di pemakaman non-Muslim karena keluarga menolak keislamannya. Pemateri menyatakan bahwa urusan akhirnya diserahkan kepada Allah, sementara hukum asalnya seorang Muslim dimakamkan di pemakaman Muslim. Dalam keadaan keluarga yang sulit dan di luar kemampuan penanya, ia tidak dibebani sesuatu yang tidak mampu dilakukannya. Penilaian akhir seseorang tetap milik Allah, dan kita berharap rahmat-Nya bagi orang yang meninggal dalam Islam.
4. Bagaimana Bersikap kepada Ahli Ilmu yang Akhlaknya Buruk?
Penanya bertanya tentang belajar kepada orang berilmu yang akhlaknya buruk, misalnya sering berdusta, hasad, menggunjing, atau memfitnah ahli ilmu lain. Pemateri menjelaskan bahwa seorang alim tetap manusia yang memiliki kekurangan. Jika benar ada perilaku buruk, kekurangan itu tidak perlu dibenarkan, tetapi kebenaran yang ia sampaikan juga tidak otomatis ditolak.
Dalam kajian disebutkan sebuah ungkapan yang maknanya: “Jangan sampai kalian terhalang mengambil manfaat dari kebaikan yang kami miliki hanya karena kekurangan akhlak kami.” Pemateri mengaitkan nasihat ini dengan kisah Sufyan bin ‘Uyainah dan Imam asy-Syafi‘i. Sufyan bin ‘Uyainah adalah salah satu guru utama Imam asy-Syafi‘i di Makkah dalam bidang hadits dan tafsir.
Prinsip yang dapat diambil ialah:
- Ahlul ilmi semestinya menjadi teladan dalam mengamalkan ilmu dan menjaga akhlak.
- Jika seseorang menyampaikan dalil yang benar dari Al-Qur’an dan Sunnah, kebenaran itu diterima berdasarkan dalil, bukan semata-mata karena kepribadian penyampainya.
- Jika guru memiliki perilaku yang merusak agama atau kepercayaan, seseorang boleh mencari guru lain yang lebih amanah dan baik akhlaknya.
- Jangan menjadikan kesalahan seorang guru sebagai alasan untuk menolak seluruh ilmu yang benar, dan jangan pula menjadikan ilmunya sebagai pembenaran terhadap kesalahan akhlaknya.
5. Shalat Isyraq dan Shalat Duha: Bolehkah Shalat Lagi pada Waktu Duha?
Penanya bertanya tentang kesahihan hadis shalat Isyraq dan apakah seseorang boleh shalat lagi ketika waktu Duha yang lebih utama tiba. Pemateri menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ahli hadis mengenai riwayat keutamaan orang yang duduk berzikir setelah shalat Subuh sampai matahari terbit, lalu shalat dua rakaat setelah matahari naik dan berakhir waktu terlarang.
Pemateri menyarankan agar seseorang tetap mengerjakan shalat tersebut dengan niat shalat Duha, karena shalat Duha memiliki dasar yang kuat. Jika seseorang kemudian ingin shalat lagi pada waktu Duha yang lebih utama, hal itu dibolehkan.
Dalam kajian disebutkan bahwa waktu yang lebih utama adalah menjelang pertengahan pagi, sebelum matahari tepat di tengah langit. Shalat sunah tidak dilakukan ketika matahari sedang berada tepat di titik kulminasi sampai bergeser.
Dalam Shahih Muslim, Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
“Shalat al-awwābīn (orang-orang yang banyak kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan oleh pasir.” (HR. Muslim, no. 748). Hadis ini menjadi dalil bahwa shalat Duha yang paling utama dilakukan ketika panas mulai terasa.
6. Memilih Jurusan Kuliah dan Tetap Memperdalam Ilmu Agama
Penanya bertanya apakah lebih utama memilih jurusan ilmu agama, seperti Al-Qur’an dan hadis, dan bagaimana bagi orang yang telanjur menempuh pendidikan umum. Pemateri menjelaskan bahwa mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya merupakan ilmu yang sangat mulia. Namun, orang yang belajar di jurusan umum tetap harus menyediakan waktu khusus untuk mempelajari agama.
Setiap Muslim wajib mempelajari ilmu agama yang dibutuhkan untuk membenarkan akidah, melaksanakan ibadah, dan menjalankan kewajiban sehari-hari. Pertanyaan di alam kubur yang disebutkan dalam kajian meliputi siapa Rabbnya, apa agamanya, dan siapa nabinya. Karena itu, pembelajaran tauhid, akidah, ibadah, dan tuntunan Rasulullah ﷺ tidak boleh ditinggalkan hanya karena kesibukan akademik atau pekerjaan.
Pemateri menegaskan bahwa belajar tidak memiliki garis akhir selama seseorang masih hidup. Ada ungkapan ulama salaf yang disebut dalam kajian:
لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا تَعَلَّمَ فَإِذَا تَرَكَ التَّعَلُّمَ صَارَ جَاهِلًا
“Seseorang akan terus menjadi berilmu selama ia belajar. Jika ia berhenti belajar, ia menjadi bodoh.”
7. Ilmu Apa yang Perlu Diprioritaskan Menjelang Akhir Hayat?
Ketika ditanya ilmu apa yang perlu diprioritaskan saat umur terasa semakin sedikit, pemateri menekankan akidah dan hukum-hukum agama yang dibutuhkan dalam kehidupan. Tauhid menjadi prioritas karena pertanyaan pertama yang disebut dalam kajian adalah “Siapa Rabbmu?” Seorang Muslim perlu terus mempelajari akidah, memperbaiki tauhid, memahami kewajiban, dan mengamalkannya.
Pemateri menutup dengan doa Nabi Yunus ‘alaihissalam:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. al-Anbiya’ [21]: 87).
Pemateri juga menyebut makna hadis bahwa sebaik-baik manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Riwayat ini terdapat dalam Jami‘ at-Tirmidzi, no. 2330, dengan redaksi: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”
Penutup
Pemateri berharap sesi ini menjadi motivasi untuk terus belajar, bersabar dalam perjalanan menuntut ilmu, dan memanfaatkan sisa umur untuk memperbaiki ibadah. Tidak ada kata selesai dalam menuntut ilmu sampai seseorang bertemu dengan Allah.
*****
Poster Kajian
*****
E-book Materi ini: Ebook Keterbatasan Ilmu Manusia – Ustadz Mizan Qudsiah
*****



