بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-30
Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. Hafidzahullah
| Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt Hafidzahullah
Al-khor, 6 Jumadil Awal 1448 / 17 Oktober 2026
| https://shamela.ws/book/9260/1570#p1
Pembukaan
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa dan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.
Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita melanjutkan pembahasan syarah Kitab Riyadhus Shalihin. Pembahasan kali ini melanjutkan faedah hadis tentang bahaya ketamakan terhadap harta dan kedudukan, kemudian dilanjutkan dengan hadis tentang kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan perumpamaan dunia seperti tempat berteduh seorang musafir.
1. Ketamakan terhadap Harta dan Kedudukan Merusak Agama
485. Ka‘ab bin Malik Radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menjelaskan betapa merusaknya ambisi manusia terhadap harta dan kehormatan bagi agamanya. Ketamakan itu diumpamakan seperti dua ekor serigala lapar yang dilepas di tengah sekawanan kambing. Kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar.
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak kambing-kambing itu daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan yang merusak agamanya.”
Sumber: Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 2377, dari Ka‘ab bin Malik Radhiyallahu’anhu . Riwayat ini dinilai hasan dalam sejumlah rujukan hadis.
Hadis ini berkaitan dengan pembahasan sebelumnya tentang ambisi terhadap harta dan kedudukan. Seseorang bisa begitu bersemangat memperoleh kekayaan, pangkat, pengaruh, atau kehormatan sampai tidak lagi memperhatikan apakah cara yang ditempuh diridhai Allah atau justru melanggar batas-batas syariat.
Fawaid Hadits
1. Ketamakan dalam mengumpulkan harta kekayaan dan kerakusan atau gila atas kehormatan serta kedudukan duniawi bisa merusak agama. Karena sikap mengutamakan dunia terhadap akhirat tampak begitu jelas pada keduanya.
2. Barang siapa diberikan kepercayaan oleh Allah untuk memimpin, maka dia harus melindungi rakyatnya dengan hal-hal yang bermanfaat baginya dan memeliharanya dari kebinasaan serta musuh-musuhnya. Ketahuilah, rakyat pertama bagi seorang hamba ialah dirinya sendiri yang berada di hadapannya dan yang harus dia jaga dan pelihara dari api Neraka.
3. Jiwa manusia sangat tamak. Maka itu seseorang harus mengajarinya agar senantiasa puas diri. Jika jiwa ini tidak disapih, pasti dia akan menimbulkan kerusakan.
*****
Tambahan Penjelasan
Bentuk Ketamakan terhadap Harta dan Kehormatan
Ketamakan terhadap harta menjadi berbahaya ketika seseorang tidak lagi membedakan yang halal dan yang haram. Ia mengejar keuntungan tanpa peduli sumbernya, bahkan mungkin menghalalkan segala cara demi mencapai target.
Ketamakan terhadap kehormatan pun memiliki beragam bentuk. Ada orang yang ingin dimuliakan karena kekayaan, ada yang mengejar pangkat dan jabatan, dan ada pula yang ingin memperoleh penghormatan karena kedudukan sosial atau peran tertentu, termasuk ketika seseorang dikenal sebagai tokoh agama atau penuntut ilmu.
Mendahulukan dunia daripada akhirat terlihat jelas ketika harta dan kedudukan menjadi tujuan utama. Seseorang akhirnya mengorbankan ketaatan, kejujuran, atau prinsip agama demi memperoleh apa yang diinginkannya. Karena itu, setiap orang perlu mengoreksi niat dan cara yang ditempuh ketika mencari rezeki maupun kedudukan.
Bahaya bagi Penuntut Ilmu dan Orang yang Dihormati
Bahaya ini tidak hanya menimpa orang kaya atau pejabat. Para ulama dan penuntut ilmu juga perlu waspada, sebab penghormatan dari masyarakat bisa datang tanpa mereka minta. Seseorang mungkin tidak ingin diperlakukan istimewa, tetapi orang lain tetap memberinya perlakuan khusus karena ilmu atau kedudukannya.
Dalam kajian disebutkan contoh sikap hati-hati sebagian orang berilmu: mereka berusaha berbelanja di tempat yang berbeda agar tidak dikenal lalu diberi barang secara cuma-cuma hanya karena statusnya. Sikap semacam ini menggambarkan kekhawatiran mereka terhadap kemungkinan memperoleh keuntungan duniawi karena ilmu yang dimiliki.
Maksudnya bukan bahwa setiap hadiah harus ditolak. Jika seseorang diberi sesuatu tanpa meminta dan tanpa mengharapkannya dengan penuh ketamakan, ada hadis yang menunjukkan bolehnya menerima pemberian tersebut. Yang tercela ialah menjadikan pemberian, pujian, atau kedudukan sebagai tujuan yang dikejar sehingga agama dan kebenaran dikorbankan.
Menerima Pemberian Tanpa Meminta
Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu’anhu pernah diberi sesuatu oleh Rasulullah ﷺ. Umar berkata agar pemberian itu diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Namun, Nabi ﷺ mengarahkannya untuk menerima pemberian apabila datang tanpa diminta dan tanpa ambisi terhadapnya.
خُذْهُ، إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْءٌ، وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ، فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ
“Ambillah. Jika datang kepadamu sesuatu dari harta ini sementara engkau tidak menginginkannya dengan penuh ambisi dan tidak memintanya, maka ambillah. Adapun yang tidak diberikan kepadamu, janganlah engkau mengejarnya.”
Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 1473, Kitāb az-Zakāh, bab tentang orang yang diberi sesuatu tanpa meminta dan tanpa mengharapkannya dengan penuh ambisi.
Dengan demikian, apabila seseorang menerima hadiah yang halal tanpa meminta-minta atau mengatur agar mendapatkannya, ia boleh menerimanya. Setelah itu ia dapat memanfaatkan atau menyedekahkannya. Namun, ia tetap perlu menjaga diri dari ketergantungan kepada manusia yang dapat memengaruhi sikap dan keberaniannya menyampaikan kebenaran.
Pemimpin Wajib Menjaga Amanah yang Dipimpinnya
Faedah berikutnya berkaitan dengan tanggung jawab kepemimpinan. Siapa pun yang diberi amanah untuk memimpin orang lain semestinya mengarahkan kepemimpinannya kepada hal-hal yang bermanfaat, melindungi orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dari kebinasaan, serta menjaga mereka dari ancaman yang dapat merusak kehidupan dan urusan mereka.
Prinsip ini berlaku dalam berbagai lingkup: pemimpin masyarakat, pengelola perusahaan, kepala keluarga, maupun orang yang diberi tanggung jawab dalam urusan tertentu. Seorang pemimpin perusahaan, misalnya, tidak boleh membiarkan amanah yang dipegangnya menuju kehancuran karena kelalaian atau kepentingan pribadi.
Akan tetapi, kepemimpinan yang paling awal dan paling dekat adalah kepemimpinan seseorang atas dirinya sendiri. Ia harus menjaga jiwanya dari sebab-sebab yang menjerumuskannya ke dalam neraka. Hati dan jiwa perlu dikendalikan, sebab apabila hati telah dikuasai dorongan keburukan, anggota badan akan mengikuti arah tersebut. Karena itu, memperbaiki dan mengendalikan diri merupakan bagian mendasar dari tanggung jawab seorang hamba.
Jiwa yang Rakus Perlu Dilatih agar Qanaah
Jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk terus menginginkan tambahan. Jika tidak dilatih, ia sulit merasa puas. Karena itu, seseorang perlu mendidik jiwanya agar memiliki sifat qanaah, yaitu merasa cukup dan ridha terhadap pembagian rezeki yang Allah tetapkan, sambil tetap menempuh sebab-sebab yang halal.
النَّفْسُ طَمَّاعَةٌ، فَيَنْبَغِي لِلْمَرْءِ أَنْ يُعَلِّمَهَا الْقَنَاعَةَ
“Jiwa itu cenderung rakus. Karena itu, seseorang hendaknya mengajarkan sifat qanaah kepada jiwanya.”
Ungkapan ini merupakan faedah yang dijelaskan dalam kajian. Qanaah bukan berarti berhenti bekerja atau menolak peningkatan keadaan hidup. Qanaah berarti menerima dengan lapang apa yang Allah berikan, tidak iri terhadap pembagian orang lain, dan tidak membiarkan keinginan yang tak ada habisnya menguasai hati.
Allah berfirman:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah az-Zukhruf (43): 32, bagian awal ayat.
Pembagian rezeki, keadaan, dan kedudukan manusia tidak sama. Jika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain, keinginannya tidak akan selesai. Orang yang memiliki penghasilan sederhana bisa merasa tidak puas ketika melihat atasannya memperoleh lebih banyak. Orang yang sudah memiliki kendaraan yang baik mungkin kembali gelisah ketika melihat kendaraan yang lebih mahal. Demikian pula dalam urusan pangkat, rumah, telepon genggam, atau fasilitas lainnya.
Perkembangan dunia akan terus berjalan. Jika kebahagiaan selalu digantungkan pada barang atau kedudukan terbaru, seseorang akan terus merasa tertinggal. Apa yang dahulu membuatnya senang akhirnya tidak lagi terasa nikmat karena ia terus memandang milik orang lain.
Karena itu, qanaah menjaga seseorang agar tidak menghalalkan segala cara demi harta dan kedudukan. Ketamakan dapat menyeretnya ke dalam kebinasaan: melakukan kecurangan, mencari jabatan dengan cara yang tidak benar, atau mengorbankan prinsip agama demi kepentingan pribadi.
2. Perumpamaan Dunia seperti Tempat Berteduh Musafir
486. Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu’anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah tidur di atas tikar sederhana. Ketika bangun, bekas tikar itu tampak pada kulit beliau. Para sahabat merasa iba dan menawarkan untuk menyiapkan alas yang lebih nyaman.
نَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى حَصِيرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً. فَقَالَ: مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Rasulullah ﷺ tidur di atas tikar, lalu beliau bangun sementara tikar itu meninggalkan bekas pada sisi tubuhnya. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami menyiapkan alas untuk Anda?’ Beliau menjawab, ‘Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.’”
Sumber: Sunan Ibnu Mājah no. 4109, Kitāb az-Zuhd, bab perumpamaan dunia. Dalam rujukan yang digunakan, riwayat ini dinilai hasan.
Penjelasan Hadits
Tikar yang dimaksud ialah alas sederhana yang dibuat dari bahan tumbuhan, termasuk pelepah atau daun kurma. Ia bukan alas empuk sebagaimana tempat tidur yang nyaman. Ketika Rasulullah ﷺ tidur di atasnya, bekasnya tampak pada kulit atau sisi tubuh beliau. Para sahabat pun menawarkan alas yang lebih lembut agar beliau tidak mengalami hal itu.
Namun, Rasulullah ﷺ tidak menjadikan kenyamanan dunia sebagai tujuan hidup. Beliau memberikan perumpamaan yang sangat dalam: hubungan beliau dengan dunia seperti seorang musafir yang berhenti sejenak di bawah pohon untuk berteduh, kemudian melanjutkan perjalanan. Pohon itu hanya tempat singgah, bukan tempat tinggal yang akan dibawa sepanjang perjalanan.
Pelajaran dari Kesederhanaan Rasulullah ﷺ
- Pertama, hadis ini menunjukkan tawaduk dan zuhud Rasulullah ﷺ. Beliau menggunakan apa yang tersedia dan tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran kebahagiaan. Para sahabat memahami keadaan beliau dan ingin memberikan alas yang lebih nyaman, tetapi beliau mengingatkan mereka tentang hakikat dunia.
- Kedua, zuhud tidak berarti mengharamkan sesuatu yang halal atau menyia-nyiakan harta. Seorang mukmin boleh memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan, dan harta yang baik. Yang perlu dijaga ialah agar dunia tidak menguasai hati dan menghalangi ketaatan.
- Ketiga, dunia adalah tempat singgah untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat. Seorang musafir memanfaatkan naungan pohon secukupnya, lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan utamanya. Demikian pula seorang mukmin: ia mengambil manfaat dunia yang halal, tetapi tidak melupakan tujuan akhir berupa keridaan Allah dan kehidupan akhirat.
Dalam kajian juga disinggung kisah masyhur tentang Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu’anhu yang ditemukan beristirahat di bawah pohon. Kisah tersebut dipakai sebagai ilustrasi tentang kesederhanaan dan rasa aman yang berkaitan dengan keadilan. Namun, inti pembahasan di sini tetaplah perumpamaan Nabi ﷺ bahwa dunia bukan tempat menetap selamanya.
Zuhud Bukan Berarti Meninggalkan Pekerjaan
Penjelasan tentang dunia sebagai tempat singgah tidak boleh dipahami sebagai ajakan untuk berhenti bekerja, meninggalkan keluarga, atau tidak berusaha mencari rezeki. Seorang mukmin tetap bekerja, berdagang, bertani, dan menempuh sebab-sebab yang halal. Ia berusaha agar tidak bergantung dan meminta-minta kepada orang lain.
Dalam kajian, dinukil penjelasan bahwa seorang mukmin tidak semestinya menyibukkan seluruh dirinya dengan dunia. Ia mengambil bagian dunia yang diperlukan dan tersedia dengan cara halal, tetapi tidak membiarkan kesibukan itu menguasai waktunya hingga melalaikan akhirat.
Nabi ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”
Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim no. 2664, dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu.
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin perlu berusaha mengejar hal yang bermanfaat sambil memohon pertolongan Allah. Ia tidak pasif, tetapi juga tidak menggantungkan hatinya kepada hasil duniawi.
Dalam mencari nafkah, seseorang hendaknya memilih jalan yang halal dan tidak tergesa-gesa hingga menempuh cara yang dilarang. Nabi ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Sesungguhnya suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya, meskipun rezeki itu datang terlambat. Bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik; ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”
Sumber: Sunan Ibnu Mājah no. 2144, dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما; dinilai sahih oleh al-Albani.
Mencari rezeki dengan sungguh-sungguh juga membantu seseorang memenuhi kewajiban kepada keluarga, bersedekah, berinfak, dan menolong orang lain. Yang tercela bukanlah bekerja atau memiliki harta, melainkan ketika pekerjaan membuat seseorang mengabaikan salat, ilmu, kewajiban, dan persiapan menuju akhirat.
Jangan Bergantung pada Pemberian Manusia
Salah satu pelajaran penting dalam kajian ialah pentingnya menjaga kemandirian. Apabila seseorang selalu membutuhkan pemberian atau dukungan manusia, ia bisa merasa terikat dan kesulitan menyampaikan kebenaran ketika kebenaran itu tidak disukai pihak yang memberinya manfaat.
Sebagai ilustrasi, seorang penceramah yang terlalu bergantung pada pihak yang mengundangnya mungkin mendapat tekanan agar tidak membahas persoalan tertentu. Jika ia mengutamakan kepuasan pemberi daripada kebenaran, amanah ilmu dapat terganggu. Karena itu, bekerja dan mencari rezeki halal dapat membantu seseorang menjaga kebebasan dalam menyampaikan kebenaran serta menghindari ketergantungan yang tidak sehat.
Sikap ini bukan berarti menolak setiap honor atau hadiah yang halal. Yang ditekankan adalah menjaga niat, tidak meminta-minta, tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, dan tidak membiarkan kepentingan materi mengendalikan agama.
Mengelola Dunia agar Menjadi Bekal Akhirat
Dunia seharusnya digunakan sebagai sarana untuk menaati Allah. Jika Allah memberi seseorang kendaraan yang baik, ia dapat menggunakannya untuk pergi ke masjid, menghadiri majelis ilmu, mengantar orang yang membutuhkan, atau membantu keluarga. Jika diberi harta, ia dapat menggunakannya untuk menunaikan kewajiban, bersedekah, dan menolong sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”
Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu.
Dengan demikian, nikmat dunia tidak harus menjadi penghalang akhirat. Justru harta, waktu, keahlian, kendaraan, dan kedudukan dapat menjadi sarana kebaikan jika digunakan sesuai tuntunan agama. Yang harus dihindari ialah tenggelam dalam kenyamanan dunia hingga lupa bahwa perjalanan belum selesai.
Orang Fakir dan Orang Kaya dalam Perhitungan Akhirat
Di akhir kajian, pemateri mulai menyinggung hadis tentang orang-orang fakir yang masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya. Pembahasan rinci hadis tersebut akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Salah satu hikmah yang disebutkan ialah bahwa orang yang memiliki sedikit harta pada umumnya memiliki lebih sedikit hal yang harus dipertanggungjawabkan terkait harta tersebut.
Namun, hal ini bukan berarti kemiskinan otomatis menjamin seseorang lebih utama, atau kekayaan menghalangi seseorang masuk surga. Penjelasan pemateri menegaskan bahwa perbandingan harus memperhatikan kesamaan amal dan ketakwaan. Jika dua orang setara dalam amal saleh, orang yang memiliki lebih sedikit harta mungkin lebih cepat menyelesaikan hisab hartanya. Adapun orang kaya yang bertakwa dan memiliki amal lebih utama bisa memiliki keadaan yang berbeda. Rincian hadis ini memerlukan pembahasan tersendiri.
Inti yang ditekankan ialah kewajiban memberikan perhatian besar kepada akhirat dan mempersiapkan bekal untuknya. Jangan sampai dunia menyibukkan seseorang dari tujuan yang lebih besar.
Bekerja, Beribadah, dan Menjaga Prioritas
Seorang mukmin tidak meninggalkan dunia, tetapi juga tidak membiarkan dunia melalaikannya. Ia dapat berdagang, bertani, bekerja di kantor, atau menjalankan usaha. Para sahabat pun berdagang dan bercocok tanam. Yang penting, pekerjaan itu dilakukan dengan cara yang halal dan tidak membuatnya mengabaikan kewajiban.
Ketika tiba waktu salat, seorang mukmin hendaknya menyegerakan diri memenuhi panggilan Allah. Jangan sampai ia terus menunda dengan alasan iqamah masih lama, pekerjaan belum selesai, atau urusan dunia masih bisa dikerjakan. Para salaf memberikan contoh kesungguhan dalam menyambut ibadah; ketika panggilan salat datang, mereka segera meninggalkan kesibukan yang sedang dikerjakan.
Pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang membantu seseorang menaati Allah, menafkahi keluarga, menunaikan tanggung jawab, dan memberi manfaat kepada orang lain. Namun, pekerjaan itu tidak boleh menyita seluruh waktu sampai seseorang tidak lagi belajar agama, menghadiri majelis ilmu, beribadah, atau memikirkan akhirat.
Perumpamaan musafir yang berteduh di bawah pohon mengajarkan keseimbangan: gunakan naungan itu untuk beristirahat, tetapi jangan lupa tujuan perjalanan. Begitu pula dunia. Nikmati rezeki yang halal, syukuri apa yang ada, berusahalah memperbaiki keadaan, dan jangan biarkan hati terpaut secara berlebihan kepada sesuatu yang pasti ditinggalkan.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk bersikap qanaah, mencari rezeki dari jalan yang halal, menjaga diri dari ketamakan terhadap harta dan kedudukan, serta menggunakan nikmat dunia untuk ketaatan kepada-Nya. Semoga dunia tidak melalaikan kita dari akhirat dan Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selamat.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
Poster Ringkasan
*****



