ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
📚┃Materi : Syarah Kitab Tauhid – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
🎙️┃ Pemateri : Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc, MA. hafizhahullahu.
🗓️┃ Hari, Tanggal : Jum’at [Sebelum Maghrib], 23 Oktober 2026 M / 10 Jumadil Awal 1448 H
🕌┃Tempat : Izighawa – Doha Qatar
Kitab Tauhid: Takut terhadap Kesyirikan dan Bahaya Riya
Pendahuluan
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas taufik dan pertolongan-Nya sehingga kita masih diberi kesempatan untuk menghadiri dan melanjutkan kajian rutin Kitab Tauhid. Semoga ilmu yang kita pelajari menjadi amal saleh yang diterima di sisi Allah dan menjadi pemberat timbangan kebaikan kita pada hari kiamat.
Pada kesempatan ini, pembahasan dilanjutkan pada bab الخوف من الشرك (al-khauf minasy-syirk), yaitu takut terhadap kesyirikan.
Bab ini mengingatkan kita bahwa syirik bukan perkara ringan. Seorang muslim yang menginginkan keselamatan agamanya dan kebahagiaan akhirat harus memiliki rasa takut terhadap kesyirikan, berusaha mengenal berbagai bentuknya, menjauhinya, dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar tidak terjerumus ke dalamnya.
1. Mengapa Kita Harus Takut terhadap Kesyirikan?
Syirik merupakan dosa yang sangat besar. Allah menjelaskan ancaman bagi orang yang mempersekutukan-Nya, di antaranya bahwa syirik tidak diampuni apabila pelakunya meninggal dunia tanpa bertobat darinya, serta bahwa orang yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar berada dalam ancaman neraka.
A. Syirik tidak diampuni apabila pelakunya meninggal tanpa bertobat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh, dia telah melakukan dosa yang besar.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah An-Nisa (4): 48.
Ayat ini menunjukkan besarnya bahaya syirik. Adapun orang yang bertobat dengan benar sebelum meninggal, Allah membuka pintu ampunan baginya. Karena itu, ayat ini tidak boleh dipahami sebagai tertutupnya pintu tobat bagi orang yang pernah melakukan syirik.
B. Syirik merupakan kezaliman yang sangat besar
Allah berfirman:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar merupakan kezaliman yang besar.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Luqman (31): 13.
Syirik disebut sebagai kezaliman yang besar karena hak Allah untuk diibadahi semata-mata justru diberikan kepada selain-Nya. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh meremehkan perkara akidah dan tauhid.
C. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun takut terhadap kesyirikan
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah imam orang-orang yang bertauhid. Meskipun demikian, beliau tetap berdoa agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan berhala.
Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.’”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Ibrahim (14): 35.
Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau tidak hanya meminta perlindungan untuk dirinya, tetapi juga untuk keturunannya. Ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap kesyirikan harus mendorong seseorang untuk terus memohon pertolongan Allah.
Jika seorang nabi yang memiliki kedudukan tinggi dalam tauhid saja takut terhadap kesyirikan, manusia setelah beliau tentu lebih membutuhkan kewaspadaan dan perlindungan Allah.
Karena itu, jangan menunggu sampai akibat suatu penyimpangan terlihat di akhirat. Selagi masih hidup, pelajarilah tauhid, kenalilah berbagai bentuk kesyirikan, dan jagalah diri serta keluarga darinya.
2. Syirik Kecil yang Paling Dikhawatirkan Menimpa Umat
Di antara dalil yang disebutkan dalam bab ini adalah hadis tentang kekhawatiran Rasulullah ﷺ terhadap syirik kecil, yaitu riya.
Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
Mereka bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
الرِّيَاءُ
Artinya:
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.”
Sumber riwayat: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad dari Mahmud bin Labid. Hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis, di antaranya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
Hadis ini menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah ﷺ terhadap keselamatan umatnya. Beliau tidak hanya memperingatkan dari syirik besar, tetapi juga dari syirik kecil yang dapat menyusup ke dalam amal saleh.
Seorang muslim hendaknya tidak merasa aman dari penyakit hati. Ia mungkin rajin salat, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, atau menyebarkan nasihat yang bermanfaat, tetapi tetap perlu memeriksa niatnya: apakah semua itu dilakukan karena Allah atau karena ingin mendapatkan pujian manusia?
Lawan riya adalah ikhlas, yakni memurnikan ibadah untuk Allah semata.
3. Memahami Hakikat Riya dan Sum’ah
Riya adalah melakukan atau memperindah suatu amal agar dilihat dan dipuji manusia. Adapun sum’ah berkaitan dengan keinginan agar amal atau kebaikan seseorang didengar dan diketahui orang lain.
Keduanya dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
- Memperindah salat karena mengetahui ada orang yang sedang memperhatikan.
- Bersedekah agar dianggap dermawan.
- Menyampaikan ilmu agar dipuji sebagai orang berilmu.
- Membagikan nasihat yang baik, tetapi merasa kecewa ketika tidak memperoleh tanggapan atau pujian.
- Menceritakan amal kebaikan dengan tujuan membangun reputasi di hadapan manusia.
Tidak setiap amal yang terlihat orang lain berarti riya. Amal yang dilakukan secara terbuka tetap dapat ikhlas apabila memang ada alasan yang dibenarkan syariat dan tujuannya tetap karena Allah. Sebaliknya, amal yang dilakukan sendirian pun dapat tercampuri tujuan selain Allah.
Karena itu, ukuran utamanya bukan sekadar apakah amal tersebut diketahui orang lain, melainkan apa yang menjadi tujuan hati ketika melakukannya.
4. Riya yang Muncul Sejak Awal Ibadah
Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa riya yang berkaitan dengan ibadah perlu dibedakan berdasarkan kapan dan bagaimana riya tersebut muncul.
Keadaan pertama adalah ketika riya menjadi dasar niat ibadah sejak awal. Seseorang melakukan ibadah bukan untuk Allah, melainkan semata-mata untuk memperoleh pujian, kedudukan, atau keuntungan duniawi.
Contohnya, seseorang bersedekah bukan karena mengharap pahala dari Allah, tetapi semata-mata agar dikenal sebagai dermawan. Contoh lainnya adalah seseorang memperlihatkan ibadahnya demi mendapatkan dukungan atau kedudukan di mata manusia.
Apabila ibadah sejak awal ditujukan kepada selain Allah, maka amal tersebut tidak memenuhi keikhlasan yang menjadi syarat diterimanya ibadah.
Allah berfirman dalam hadis qudsi:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Artinya:
“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal yang di dalamnya dia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, Aku akan meninggalkannya bersama kesyirikannya.”
Sumber: Sahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa’iq, hadis no. 2985.
Hadis ini memperingatkan bahwa Allah tidak menerima ibadah yang ditujukan kepada-Nya sekaligus kepada selain-Nya. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan amal manusia. Manusialah yang membutuhkan rahmat, pertolongan, dan penerimaan amal dari Allah.
Oleh karena itu, keikhlasan harus menjadi dasar setiap ibadah, bukan sekadar pelengkap setelah seseorang memperoleh perhatian manusia.
5. Riya yang Muncul di Tengah Ibadah
Keadaan kedua adalah seseorang memulai ibadah dengan ikhlas, kemudian muncul dorongan untuk mencari pujian ketika ibadah sedang berlangsung.
Misalnya, seseorang memulai salat karena Allah. Ketika sedang salat, ia melihat seseorang yang dihormatinya datang. Tiba-tiba muncul keinginan untuk memperpanjang rukuk, memperbagus gerakan, atau menampakkan kekhusyukan agar dipuji.
Dalam keadaan seperti ini, terdapat dua kemungkinan.
A. Melawan dorongan riya
Jika seseorang berusaha menolak dorongan tersebut dan tetap melanjutkan ibadah karena Allah, dorongan yang tidak dikehendaki itu tidak serta-merta membatalkan amalnya.
Ia perlu menjaga niat, tidak sengaja memperindah ibadah demi manusia, dan tidak menyerah kepada bisikan tersebut. Usaha melawan penyakit hati merupakan bagian dari perjuangan menjaga keikhlasan.
Hal ini juga berlaku pada ibadah lain. Ketika bersedekah, menuntut ilmu, berpuasa, atau melakukan amal saleh lainnya, seseorang dapat menghadapi godaan untuk mendapatkan pengakuan. Yang perlu dilakukan adalah mengembalikan niat kepada Allah.
B. Mengikuti dorongan riya secara terus-menerus
Keadaan yang berbeda terjadi ketika seseorang sengaja mengikuti dorongan riya, lalu memperindah amalnya demi pujian manusia.
Dalam keadaan ini, ia harus segera memperbaiki niat dan bertobat. Dampaknya terhadap keabsahan amal bergantung pada bentuk ibadah, bagian amal yang tercampuri riya, dan apakah ibadah tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap lintasan riya yang muncul otomatis membatalkan seluruh ibadah. Lintasan hati yang tidak dikehendaki berbeda dari niat yang sengaja diikuti dan diwujudkan dalam perbuatan.
Pelajaran pentingnya adalah jangan menyerah kepada dorongan tersebut. Berusahalah melawannya dan terus memohon pertolongan Allah.
6. Pentingnya Menjaga Niat dari Awal hingga Akhir
Dalam pembahasan fikih, pengaruh riya terhadap suatu ibadah tidak selalu sama. Hal itu berkaitan dengan sifat ibadah tersebut dan hubungannya dengan niat.
Salat dan puasa, misalnya, merupakan ibadah yang pelaksanaannya berkaitan erat dengan niat dan memiliki rangkaian yang menyatu. Adapun beberapa amal seperti sedekah yang dilakukan secara terpisah dapat berdiri sendiri-sendiri, sehingga niat pada satu amal tidak selalu menentukan hukum amal lainnya.
Oleh sebab itu, pembahasan tentang riya perlu dilakukan dengan teliti. Jangan tergesa-gesa memvonis seluruh amal seseorang batal hanya karena muncul lintasan hati. Namun, jangan pula menjadikan lintasan tersebut sebagai alasan untuk sengaja mengikuti riya.
Seorang muslim perlu membiasakan diri memperbarui niat, menjaga keikhlasan, dan meminta pertolongan Allah agar amalnya diterima.
7. Ancaman bagi Orang yang Meninggal dalam Keadaan Mempersekutukan Allah
Dalil berikutnya diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
Artinya:
“Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan berdoa kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, niscaya dia masuk neraka.”
Sumber: Sahih Al-Bukhari, hadis no. 4497.
Hadis ini merupakan peringatan keras agar seseorang tidak mengarahkan ibadah kepada selain Allah. Kata yad‘u berkaitan dengan doa atau seruan. Dalam konteks tauhid, doa memiliki dua pengertian yang perlu dibedakan.
A. Doa ibadah
Doa ibadah adalah ibadah yang dilakukan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, disertai harapan memperoleh pahala, rahmat, ampunan, dan surga-Nya.
Salat, puasa, sedekah, dan berbagai amal ketaatan termasuk ibadah yang mengandung makna penghambaan dan pengharapan kepada Allah.
B. Doa permohonan
Doa permohonan adalah permintaan yang diucapkan secara langsung, seperti memohon ampunan, meminta petunjuk, atau meminta perlindungan kepada Allah.
Contohnya adalah doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah (2): 201.
Kedua bentuk doa tersebut harus ditujukan kepada Allah dalam perkara yang merupakan hak khusus-Nya. Seorang muslim hendaknya memahami makna doa dan menjauhi segala bentuk ibadah yang mengandung penyekutuan terhadap Allah.
8. Keutamaan Orang yang Meninggal Tanpa Mempersekutukan Allah
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
Artinya:
“Barang siapa menemui Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, niscaya dia masuk surga. Dan barang siapa menemui-Nya dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, niscaya dia masuk neraka.”
Sumber: Sahih Muslim, hadis no. 93.
Hadis ini menegaskan besarnya kedudukan tauhid. Keselamatan akhirat bukan hanya berkaitan dengan banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga dengan tauhid dan keikhlasan.
Seorang muslim tidak boleh merasa cukup hanya dengan banyak beribadah. Ia harus berusaha agar ibadahnya benar, ditujukan kepada Allah semata, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Ancaman neraka dalam hadis tentang syirik tidak boleh digunakan secara serampangan untuk menghakimi individu tertentu. Penetapan hukum terhadap orang tertentu memiliki rincian dan syarat yang harus dipahami berdasarkan dalil-dalil syariat.
9. Memohon Perlindungan dari Syirik yang Samar
Syirik tidak selalu tampak jelas. Sebagian bentuknya dapat tersembunyi dalam niat dan keinginan hati. Karena itu, seorang muslim perlu belajar tauhid sekaligus membiasakan diri berdoa agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan.
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ، فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ
Artinya:
“Wahai manusia, takutlah kalian terhadap syirik ini, karena sesungguhnya ia lebih samar daripada langkah semut.”
Hadis tentang syirik yang lebih samar daripada langkah semut diriwayatkan melalui beberapa jalur, antara lain dalam Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari. Redaksi, penomoran, dan penilaian sanadnya perlu diperiksa berdasarkan edisi kitab yang digunakan sebelum dicantumkan sebagai kutipan final.
Dalam riwayat yang disebutkan dalam pembahasan ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa untuk memohon perlindungan dari syirik yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
Sumber: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad dari Abu Musa Al-Asy‘ari. Penomoran hadis berbeda menurut edisi; redaksi dan jalur periwayatannya perlu dicocokkan dengan edisi rujukan yang dipakai.
Doa ini mengandung pelajaran penting: seseorang tidak boleh merasa dirinya telah aman dari kesalahan akidah. Ia perlu terus belajar, memeriksa niat, dan memohon ampunan Allah atas kekeliruan yang mungkin tidak disadarinya.
10. Tetap Istikamah Mempelajari Tauhid
Di antara bentuk nyata rasa takut terhadap kesyirikan adalah terus mempelajari tauhid. Jangan sampai seseorang menganggap pembahasan tauhid tidak perlu diulang hanya karena telah mempelajarinya sebelumnya.
Tauhid merupakan fondasi agama. Pemahaman yang benar tentang tauhid membantu seseorang mengenali ibadah yang harus ditujukan kepada Allah, memahami bahaya kesyirikan, serta menjaga diri dari berbagai penyimpangan.
Di tengah banyaknya informasi dan pendapat yang beredar, seorang muslim perlu bersikap teguh di atas dalil, tetap rendah hati, dan tidak berhenti belajar. Mempelajari tauhid tidak berarti mengabaikan ilmu lainnya. Seorang muslim tetap mempelajari fikih, hadis, tafsir, akhlak, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya sesuai kemampuan dan kebutuhannya.
11. Menjaga Keikhlasan di Media Sosial
Godaan riya juga dapat muncul ketika seseorang membagikan ilmu atau nasihat di media sosial. Ada kalanya seseorang merasa kecewa ketika unggahannya tidak memperoleh tanda suka, ucapan terima kasih, atau tanggapan yang diharapkan.
Perasaan seperti ini perlu diwaspadai. Membagikan ilmu yang bermanfaat merupakan perbuatan baik apabila dilakukan dengan niat yang benar dan isi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, hendaknya seseorang tidak menjadikan respons manusia sebagai tujuan utama amalnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Luruskan niat sebelum membagikan sesuatu. Niatkan untuk menyebarkan manfaat dan mengharap pahala dari Allah.
- Jangan bergantung pada pujian. Ada atau tidaknya tanda suka dan komentar tidak menjadi ukuran utama diterimanya amal.
- Periksa isi yang dibagikan. Pastikan ayat, hadis, dan kutipan ulama memiliki sumber yang benar.
- Perbarui niat ketika muncul keinginan dipuji. Jika mulai mengharapkan sanjungan, kembalikan hati kepada Allah.
- Teruslah berbuat baik. Jangan meninggalkan amal yang bermanfaat hanya karena kurang mendapat perhatian manusia.
Yang menjadi perhatian utama adalah apakah amal tersebut dilakukan dengan benar dan ikhlas, bukan seberapa banyak manusia memberikan apresiasi.
12. Kandungan Penting Bab Takut terhadap Kesyirikan
Pembahasan bab ini menghasilkan sejumlah pelajaran penting.
- Takut terhadap kesyirikan merupakan bagian dari penjagaan tauhid. Syirik adalah dosa besar yang harus dijauhi dan tidak boleh diremehkan.
- Riya termasuk syirik kecil. Riya harus diwaspadai karena dapat merusak keikhlasan dalam beribadah.
- Riya merupakan perkara yang dikhawatirkan menimpa orang saleh. Orang yang rajin beribadah tetap perlu menjaga hati dan niatnya.
- Lintasan riya harus dilawan. Dorongan yang tidak dikehendaki tidak sama dengan sengaja mengikuti riya. Seseorang hendaknya berusaha menjaga niat dan tidak menyerah kepada bisikan tersebut.
- Tauhid dan keikhlasan merupakan perkara mendasar. Banyaknya amal tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kemurnian ibadah.
- Surga dan neraka berkaitan erat dengan keadaan seseorang ketika meninggal. Karena itu, seorang muslim harus menjaga tauhid hingga akhir hayat.
- Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan dalam memohon perlindungan dari syirik. Beliau berdoa agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan berhala.
- Syirik dapat samar dalam hati. Oleh sebab itu, seorang muslim perlu belajar, mengoreksi niat, dan memohon perlindungan kepada Allah.
- Memurnikan makna la ilaha illallah berarti memurnikan ibadah untuk Allah. Syahadat menuntut penolakan terhadap segala sesembahan yang disembah secara batil dan penetapan bahwa ibadah hanya berhak diberikan kepada Allah.
- Keselamatan dari syirik merupakan keutamaan yang besar. Orang yang menjaga tauhid berada di atas fondasi keselamatan yang paling mendasar.
Penutup
Rasa takut terhadap kesyirikan tidak cukup hanya diucapkan. Rasa takut tersebut perlu diwujudkan dengan mempelajari tauhid, mengenali bentuk-bentuk kesyirikan, menjaga keikhlasan, berusaha melawan riya, dan senantiasa memohon pertolongan Allah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin di atas tauhid. Semoga Dia menjauhkan kita dari syirik yang nyata maupun yang tersembunyi, memperbaiki niat kita, dan menerima amal-amal saleh kita.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Poster Ringkasan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آل







