بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Al-Khor Sabtu Pagi
📗 | #5 Kitab Al-Wasail Al-Mufidah Lil-Hayatis Sa’idah ( الوسائل المفيدة للحياة السعيدة ) Karya Sheikh Abdul Rahman bin Nasser Al-Saad Rahimahullah
🎙️ | Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc. MA. Hafidzahullah
🗓️ | Al-khor, 13 Jumadil awal 1448 / 24 Oktober 2026
Kitab Al-Wasā’il Al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di Rahimahullah
Sebab Pertama Kebahagiaan: Iman, Amal Saleh, dan Kesabaran Menghadapi Ujian
Muqaddimah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, kita kembali melanjutkan pembahasan kitab Al-Wasā’il al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah, yang membahas berbagai sarana untuk meraih kehidupan yang bahagia.
Kebahagiaan merupakan tujuan yang diinginkan oleh manusia secara umum, terlebih seorang mukmin. Setiap orang mengharapkan kehidupan yang baik, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, kitab ini mengingatkan kita tentang sebab-sebab kebahagiaan yang telah Allah jelaskan melalui Al-Qur’an dan sunah Nabi ﷺ.
Pembahasan ini bukan sekadar teori untuk diketahui atau dihafalkan. Prinsip-prinsip tersebut merupakan petunjuk yang harus diyakini dan diamalkan. Persoalannya bukan hanya apakah kita sudah membaca dalil-dalil tentang kebahagiaan, tetapi apakah kita benar-benar menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Pada pembahasan sebelumnya, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di Rahimahullah telah menjelaskan bahwa sebab pertama untuk meraih kebahagiaan adalah iman dan amal saleh.
Keduanya menjadi landasan bagi seorang mukmin dalam menyikapi seluruh keadaan yang dihadapinya, baik berupa kenikmatan yang menggembirakan maupun musibah yang menyedihkan.
1. Iman dan Amal Saleh Merupakan Landasan Kebahagiaan
Syaikh as-Sa‘di Rahimahullah menjelaskan bahwa sebab kebahagiaan ini sangat jelas. Orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, kemudian keimanannya membuahkan amal saleh yang memperbaiki hati, akhlak, kehidupan dunia, dan akhirat, akan memiliki prinsip-prinsip yang kokoh untuk menghadapi berbagai keadaan.
Beliau menjelaskan:
فَإِنَّ الْمُؤْمِنِينَ بِاللَّهِ الْإِيمَانَ الصَّحِيحَ الْمُثْمِرَ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْمُصْلِحَةِ لِلْقُلُوبِ وَالْأَخْلَاقِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مَعَهُمْ أُصُولٌ وَأُسُسٌ يَتَلَقَّوْنَ فِيهَا جَمِيعَ مَا يَرِدُ عَلَيْهِمْ مِنْ أَسْبَابِ السُّرُورِ وَالِابْتِهَاجِ وَأَسْبَابِ الْقَلَقِ وَالْهَمِّ وَالْأَحْزَانِ.
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, yang membuahkan amal-amal saleh yang memperbaiki hati, akhlak, kehidupan dunia, dan akhirat, memiliki prinsip-prinsip dan landasan yang dengannya mereka menyikapi segala hal yang datang kepada mereka, baik berupa sebab-sebab kebahagiaan dan kegembiraan maupun sebab-sebab kecemasan, kegundahan, dan kesedihan.”
Sumber: Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Al-Wasā’il al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah, pembahasan tentang iman dan amal saleh.
Inti penjelasan ini adalah bahwa seorang mukmin mempunyai landasan keimanan dalam menghadapi seluruh keadaan. Ketika mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur. Ketika mendapatkan musibah, ia bersabar, berusaha mencari jalan keluar, dan tetap berharap kepada Allah.
Dengan demikian, kebahagiaan bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kesedihan, kecemasan, kerugian, atau kesulitan. Kebahagiaan yang dibahas dalam kitab ini berkaitan dengan bagaimana seorang hamba menghadapi semua keadaan tersebut berdasarkan iman dan amal saleh.
2. Menghadapi Musibah dengan Ikhtiar dan Kesabaran
Syaikh as-Sa‘di Rahimahullah melanjutkan penjelasannya bahwa orang-orang beriman menghadapi perkara-perkara yang tidak mereka sukai, berbagai kerugian, kegelisahan, dan kesedihan dengan berusaha melawannya sesuai kemampuan.
Dalam penjelasan beliau, ada dua bentuk sikap penting:
- Berusaha menghadapi dan meringankan kesulitan dengan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan.
- Bersabar dengan kesabaran yang indah terhadap perkara yang belum dapat diatasi atau yang memang tidak memiliki jalan keluar menurut kemampuan manusia.
Ini merupakan sikap seorang mukmin yang benar. Ia tidak sekadar menerima musibah tanpa berbuat apa-apa, tetapi juga tidak mengandalkan kemampuannya sendiri sampai melupakan pertolongan Allah.
Tawakal bukan berarti berpangku tangan
Tawakal adalah bersandar kepada Allah dengan hati, disertai usaha yang dibenarkan. Seorang mukmin tetap mencari jalan keluar, melakukan upaya yang diperlukan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Misalnya, seseorang mengalami pemutusan hubungan kerja. Keadaan tersebut dapat menjadi musibah yang berdampak pada kondisi ekonomi keluarga. Dalam situasi seperti ini, ia tidak cukup hanya mengatakan bahwa Allah telah menjanjikan pahala bagi orang yang bersabar, kemudian berhenti berusaha.
Ia hendaknya mencari pekerjaan lain, memperbaiki keterampilan, mengatur pengeluaran keluarga, dan menempuh jalan keluar yang memungkinkan. Pada saat yang sama, ia tetap menjaga ibadah, berdoa, bersabar, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Inilah penerapan iman dan amal saleh dalam kehidupan nyata.
Apabila berbagai upaya telah dilakukan, tetapi keadaan belum berubah, ia tetap bersabar dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua kesulitan bisa diselesaikan sesuai keinginan manusia, tetapi seorang mukmin tetap mempunyai kesempatan untuk memperoleh pahala melalui kesabaran dan ketaatannya.
Dalil Al-Qur’an: Perintah bertakwa dan bersabar
Allah Ta‘ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar [39]: 10)
Ayat ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Orang beriman diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah.
- Orang yang berbuat baik akan memperoleh kebaikan.
- Orang yang bersabar mendapatkan pahala yang sangat besar, tanpa batas yang disebutkan dalam ayat tersebut.
Syaikh as-Sa‘di Rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa kebaikan bagi orang yang berbuat ihsan mencakup kebaikan berupa rezeki yang luas, jiwa yang tenteram, dan hati yang lapang.
Beliau menjelaskan makna kebaikan tersebut dengan ungkapan:
رِزْقٌ وَاسِعٌ، وَنَفْسٌ مُطْمَئِنَّةٌ، وَقَلْبٌ مُنْشَرِحٌ
Artinya:
“Rezeki yang luas, jiwa yang tenteram, dan hati yang lapang.”
Sumber: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Az-Zumar [39]: 10. Redaksi Arab di atas merupakan rangkuman ungkapan yang dinukil dalam kajian.
Kebaikan tersebut tidak selalu berarti seseorang memiliki kekayaan berlimpah. Rezeki yang luas dapat berupa kecukupan, kesehatan, keluarga yang baik, ketenteraman jiwa, dan kemampuan menjalani kehidupan dengan hati yang lapang.
Pahala kesabaran tanpa batas
Perhatikan kembali firman Allah:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar [39]: 10)
Ungkapan bi ghairi hisāb menunjukkan besarnya keutamaan pahala bagi orang-orang yang bersabar. Allah tidak menyebutkan batas tertentu dalam ayat ini.
Kesabaran merupakan ibadah yang agung. Ketika seseorang ditimpa musibah, lalu ia menahan diri dari ucapan dan perbuatan yang dimurkai Allah, tetap menaati-Nya, serta mengharapkan pahala dari-Nya, kesabarannya menjadi sebab datangnya pahala yang besar.
Karena itu, jangan menganggap bahwa kesabaran adalah sikap pasif atau tanda kelemahan. Kesabaran justru merupakan kekuatan untuk tetap berada di atas ketaatan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
3. Amal Saleh Mengantarkan kepada Hayatan Thayyibah
Allah Ta‘ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl [16]: 97)
Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan yang baik berkaitan dengan dua hal utama: iman dan amal saleh.
Seseorang tidak cukup hanya melakukan perbuatan yang tampak baik, tetapi amal tersebut harus disertai iman. Demikian pula, pengakuan beriman harus diwujudkan dalam ketaatan kepada Allah.
Hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik tidak berarti hidup tanpa ujian. Seorang mukmin tetap dapat mengalami kemiskinan, sakit, kehilangan pekerjaan, atau kesedihan. Namun, imannya memberikan landasan untuk menyikapi keadaan itu dengan benar.
Ia berusaha ketika masih ada jalan keluar, bersabar ketika menghadapi kesulitan, bersyukur ketika memperoleh kenikmatan, dan senantiasa berharap kepada Allah.
Inilah salah satu makna kebahagiaan yang hendak ditanamkan melalui pembahasan kitab ini.
4. Musibah Dapat Menjadi Penghapus Dosa
Di antara dalil yang sering kita dengar tentang kesabaran adalah hadis Nabi ﷺ bahwa kesulitan yang menimpa seorang muslim dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya:
“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, ataupun kesusahan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya dengan sebab itu.”
Perawi: Abu Sa‘id al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiyallahu’anhuma.
Sumber: Shahih al-Bukhari, no. 5641–5642; juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2573.
Hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Kesulitan yang dialami seorang muslim tidak harus berakhir sebagai kerugian semata. Dengan karunia Allah, kesulitan itu dapat menjadi sebab terhapusnya dosa.
Seseorang mungkin mengalami sakit, kehilangan penghasilan, menghadapi persoalan keluarga, atau mengalami tekanan kehidupan. Semua itu merupakan perkara yang berat. Namun, ketika ia menghadapinya dengan iman dan tetap berusaha melakukan hal yang benar, ia memiliki harapan memperoleh kebaikan dari Allah.
Tentu, hadis ini bukan alasan untuk mencari-cari musibah atau sengaja membiarkan persoalan tanpa penyelesaian. Justru seorang mukmin menggabungkan ikhtiar dengan kesabaran dan mengharapkan pahala dari Allah.
5. Ujian Akan Terus Menimpa Seorang Mukmin
Dalam kajian ini, pemateri juga mengingatkan hadis tentang ujian yang terus dialami seorang mukmin, baik pada dirinya, hartanya, maupun keluarganya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Artinya:
“Ujian akan senantiasa menimpa seorang mukmin laki-laki dan seorang mukmin perempuan, pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.”
Perawi: Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu.
Sumber: Jāmi‘ at-Tirmidzi, no. 2399, dengan redaksi yang dikenal dalam riwayat tersebut.
Hadis ini menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan kehidupan seorang mukmin. Ujian dapat menimpa kesehatan, keadaan ekonomi, maupun keluarga.
Seseorang mungkin diuji melalui penyakit yang dialaminya sendiri, kesulitan dalam mencari nafkah, atau persoalan yang berkaitan dengan anak-anaknya. Bentuknya berbeda-beda, tetapi semuanya mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukan tempat untuk mendapatkan seluruh keinginan tanpa hambatan.
Ketika memahami hal ini, seorang mukmin tidak mudah menyimpulkan bahwa setiap kesulitan berarti Allah membencinya. Ia tetap melakukan introspeksi, bertobat dari kesalahan, memperbaiki amal, dan mengharapkan rahmat Allah.
Perlu dipahami pula bahwa tidak setiap musibah dapat kita pastikan sebagai hukuman atas dosa tertentu. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik takdir Allah. Yang menjadi kewajiban kita adalah menyikapinya sesuai tuntunan syariat.
6. Allah Menghendaki Kebaikan bagi Hamba-Nya, Maka Ia Mengujinya
Pemateri mengingatkan bahwa ujian tidak selalu merupakan tanda keburukan. Dalam hadis, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ujian dapat menjadi sebab kebaikan bagi seorang hamba.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Artinya:
“Sesungguhnya besarnya pahala seiring dengan besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa rida, maka baginya keridaan Allah; dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.”
Perawi: Anas bin Malik رضي الله عنه.
Sumber: Jāmi‘ at-Tirmidzi, no. 2396. Hadis ini dinilai hasan oleh at-Tirmidzi.
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya tidak hanya melihat ujian dari sisi beratnya, tetapi juga memperhatikan bagaimana ujian tersebut dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan iman, memperbaiki amal, dan memperoleh pahala.
Namun, rida terhadap takdir bukan berarti seseorang tidak boleh merasa sedih, berusaha mengobati penyakit, mencari pekerjaan, atau meminta pertolongan. Seseorang dapat merasa sedih sekaligus tetap bersabar dan menerima ketetapan Allah.
Yang harus dihindari adalah sikap yang membawa seseorang kepada protes terhadap Allah, berputus asa dari rahmat-Nya, atau melakukan perkara yang dilarang karena tidak menerima kenyataan.
7. Jangan Berhenti pada Teori: Dalil Harus Diamalkan
Salah satu penekanan penting dalam kajian ini adalah bahwa banyak orang telah mengetahui dalil tentang kesabaran, tawakal, dan keutamaan amal saleh. Dalil-dalil tersebut sering didengar dalam ceramah, dibaca dalam buku, dan dibagikan melalui media sosial.
Akan tetapi, persoalannya adalah apakah semua itu benar-benar memengaruhi sikap dan perilaku kita.
Kita mungkin sudah berkali-kali mendengar bahwa orang yang bersabar akan memperoleh pahala tanpa batas. Kita juga telah mengetahui bahwa musibah dapat menjadi penghapus dosa. Namun, ketika musibah benar-benar datang, belum tentu kita mampu menerapkan apa yang telah kita pelajari.
Karena itu, ilmu harus disertai iman dan amal saleh.
Membaca ayat tentang kesabaran seharusnya mendorong kita untuk bersabar ketika menghadapi kesulitan. Membaca hadis tentang tawakal seharusnya mendorong kita untuk bersandar kepada Allah sambil mengambil sebab-sebab yang dibenarkan. Membaca dalil tentang keutamaan sedekah seharusnya mendorong kita untuk berinfak sesuai kemampuan.
Jangan sampai kegiatan menuntut ilmu hanya menjadi perpindahan dari satu majelis ke majelis lain, dari satu ceramah ke ceramah lain, atau dari satu poster kajian ke poster berikutnya, sementara akhlak dan amalan kita tidak mengalami perubahan.
Bukan berarti menuntut ilmu atau membagikan nasihat itu tidak bermanfaat. Semua itu dapat menjadi kebaikan. Akan tetapi, manfaat ilmu akan semakin sempurna ketika ia diamalkan.
Dalil tentang perubahan diri
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)
Ayat ini mengingatkan pentingnya memperbaiki diri. Seorang muslim hendaknya tidak hanya menunggu keadaan berubah, tetapi juga melakukan usaha yang benar untuk memperbaiki iman, akhlak, dan amalnya.
Perubahan itu dimulai dari kesadaran, kemudian dilanjutkan dengan usaha dan latihan yang terus-menerus. Kita mungkin tidak langsung berhasil menghilangkan seluruh kebiasaan buruk, tetapi kita tidak boleh menyerah untuk memperbaikinya.
8. Kesabaran dan Akhlak Mulia Perlu Dilatih
Pemateri menjelaskan perbedaan antara sifat yang telah melekat pada seseorang sejak awal dan sifat yang diperoleh melalui latihan.
Ada orang yang sejak kecil terlihat tenang, mudah memaafkan, dermawan, atau tidak mudah tersinggung. Ada pula yang sejak kecil mudah marah, tergesa-gesa, atau sulit berbagi.
Sifat bawaan yang baik patut disyukuri dan terus dikembangkan. Adapun sifat buruk tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Seseorang yang mudah marah, misalnya, perlu belajar menahan emosinya. Orang yang cenderung bakhil perlu membiasakan diri untuk berbagi. Orang yang mudah iri perlu melatih hati agar mampu turut bergembira ketika orang lain memperoleh nikmat.
Inilah pentingnya ilmu. Ilmu membantu seseorang mengenali sifat yang tercela, memahami keutamaannya lawan dari sifat tersebut, dan mengetahui cara memperbaikinya.
Contoh: Melatih diri untuk bersedekah
Seseorang mungkin terbiasa menahan hartanya dan baru bersedia berinfak setelah berkali-kali diminta. Ketika mengetahui keutamaan sedekah dan memahami bahwa harta merupakan amanah Allah, ia dapat mulai melatih dirinya untuk memberi.
Tentu, sedekah harus diberikan dengan pertimbangan yang benar. Memastikan bahwa penerima atau lembaga yang dipilih dapat dipercaya merupakan langkah yang baik. Akan tetapi, apabila suatu kebutuhan telah jelas dan pihak penerimanya tepercaya, jangan sampai kebiasaan menunda-nunda menjadi penghalang untuk berbuat baik.
Demikian pula dengan sifat hasad atau iri. Apabila seseorang merasa berat ketika melihat temannya memperoleh keberhasilan, ia perlu melatih dirinya untuk mendoakan kebaikan bagi temannya dan membersihkan hati dari keinginan agar nikmat tersebut hilang.
Perbaikan akhlak membutuhkan ilmu, doa, latihan, dan kesungguhan. Tidak cukup hanya mengetahui bahwa suatu sifat tercela; kita harus berusaha meninggalkannya.
Hadits tentang senyum dan sedekah
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya:
“Janganlah engkau meremehkan sedikit pun kebaikan, meskipun engkau menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.”
Perawi: Abu Dzarr Radhiyallahu .
Sumber: Shahih Muslim, no. 2626.
Hadis ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu harus berupa harta yang besar atau amalan yang berat. Sikap ramah dan wajah yang berseri ketika bertemu saudara muslim pun termasuk kebaikan.
Bagi orang yang memang mudah tersenyum, hadis ini menjadi dorongan agar ia mempertahankan kebiasaan baiknya. Adapun orang yang terbiasa bermuka masam perlu melatih dirinya agar lebih ramah.
Demikianlah cara iman bekerja: ia mendorong seseorang untuk memperbaiki perilaku, meskipun perilaku tersebut tidak selalu terasa mudah baginya.
9. Seorang Mukmin Bersyukur Ketika Senang dan Bersabar Ketika Susah
Inilah salah satu inti terpenting dari pembahasan Syaikh as-Sa‘di Rahimahullah. Beliau menghubungkan iman dan amal saleh dengan kemampuan seorang mukmin menyikapi seluruh keadaan hidup.
Nabi ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
Perawi: Shuhaib bin Sinan Radhiyallohu’anhu.
Sumber: Shahih Muslim, no. 2999.
Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ menjelaskan keadaan seorang mukmin. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar. Kedua keadaan itu dapat menjadi kebaikan baginya.
Ketika memperoleh kebahagiaan
Seorang mukmin tidak hanya menikmati nikmat dunia, tetapi juga mengakui bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah. Ia menggunakannya untuk perkara yang diridai-Nya dan tidak membiarkan kenikmatan membuatnya lalai.
Misalnya, ketika seorang teman mendapatkan kendaraan baru, memperoleh kenaikan jabatan, atau meraih keberhasilan dalam pekerjaannya, seorang mukmin berusaha ikut bergembira dan mendoakan kebaikan baginya.
Ia tidak menjadikan nikmat orang lain sebagai sumber kedengkian.
Ketika menghadapi kesulitan
Ketika kehilangan pekerjaan, mengalami kerugian, sakit, atau menghadapi persoalan keluarga, seorang mukmin berusaha bersabar dan mengambil jalan keluar yang benar.
Ia tidak menganggap bahwa seluruh kehidupannya telah berakhir hanya karena satu kesulitan. Ia memahami bahwa kehidupan dunia terus berubah dan bahwa Allah mengetahui keadaan hamba-Nya.
Dengan demikian, kebahagiaan seorang mukmin tidak sepenuhnya bergantung pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau terpenuhinya seluruh keinginannya. Ia berusaha menjadikan iman sebagai landasan untuk menyikapi setiap keadaan.
10. Belajar Mencintai Kebaikan bagi Orang Lain
Pemateri juga mengingatkan hadis yang sangat masyhur tentang kesempurnaan iman, yaitu mencintai kebaikan bagi saudara muslim sebagaimana seseorang mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri.
عَنْ أَنَسٍ رَ ضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.”
Perawi: Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu.
Sumber: Shahih al-Bukhari, no. 13; Shahih Muslim, no. 45.
Hadis ini merupakan pedoman penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
Bayangkan ketika seorang rekan kerja memperoleh kenaikan jabatan, sementara kita belum mendapatkannya. Atau ketika teman kita memperoleh keberhasilan yang selama ini kita harapkan. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu memeriksa hati sendiri.
Apakah kita mampu ikut bergembira? Ataukah kita justru merasa kecewa, iri, dan berharap nikmat tersebut hilang darinya?
Jika kita mendapati adanya kedengkian, jangan langsung menyerah dan menganggapnya sebagai sifat yang tidak mungkin berubah. Jadikan hal tersebut sebagai bahan muhasabah dan mulailah melatih hati.
Mendoakan kebaikan bagi orang lain, mengucapkan selamat dengan tulus, serta tidak merendahkan keberhasilannya merupakan bentuk latihan akhlak yang mulia.
Mencintai kebaikan bagi orang lain bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau berusaha meraih keberhasilan. Kita tetap boleh berusaha mendapatkan nikmat yang serupa, selama ditempuh dengan cara yang benar. Yang perlu dihindari adalah hasad, yaitu membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain dan menginginkan nikmat tersebut hilang darinya.
Melatih sifat yang baik
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan adalah:
- Mengenali kekurangan diri. Jangan hanya sibuk menilai kekurangan orang lain, tetapi perhatikan pula sifat yang perlu diperbaiki dalam diri sendiri.
- Mempelajari dalil tentang akhlak. Ketahui keutamaan sifat sabar, dermawan, rendah hati, dan mencintai kebaikan bagi sesama.
- Memulai dengan tindakan kecil. Berlatih menahan emosi, memberi sedekah, mengucapkan perkataan yang baik, dan turut bergembira atas nikmat orang lain.
- Mengulang latihan secara konsisten. Akhlak yang baik perlu dipelihara, bukan hanya dilakukan ketika suasana hati sedang mendukung.
- Memohon pertolongan Allah. Perubahan diri membutuhkan taufik dari-Nya. Karena itu, ilmu dan latihan harus disertai doa dan ketaatan.
Jangan menjadikan sifat bawaan sebagai alasan untuk membiarkan kebiasaan buruk berlangsung sampai akhir hayat. Selama masih hidup, seseorang perlu terus berusaha memperbaiki diri.
11. Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Allah Ta‘ala berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarh [94]: 5–6)
Ayat ini memberikan harapan kepada seorang mukmin agar tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan. Kesulitan yang dialami hari ini tidak harus menjadi akhir dari seluruh kebaikan dalam kehidupannya.
Pemateri mengingatkan bahwa setelah seseorang berusaha menghadapi kesulitan, meringankan beban yang mampu diringankan, dan bersabar terhadap hal-hal yang belum dapat diselesaikan, ia dapat memperoleh berbagai kebaikan yang sebelumnya tidak terbayangkan.
Syaikh as-Sa‘di Rahimahullah menjelaskan bahwa upaya menghadapi perkara yang tidak disukai, disertai kesabaran dan harapan akan pahala, dapat menghasilkan pengalaman, kekuatan, dan berbagai manfaat yang menjadikan musibah terasa lebih ringan.
Dalam kehidupan, kita mungkin pernah mengalami masa yang sangat sulit. Namun, setelah berusaha dan bersabar, Allah memberikan jalan keluar. Ada persoalan yang selesai dengan cepat, ada pula yang membutuhkan waktu panjang. Ada kesulitan yang akhirnya berubah menjadi kemudahan di dunia, dan ada pula pahala yang kita harapkan baru akan disempurnakan di akhirat.
Karena itu, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kesabaran tidak memberikan manfaat hanya karena keadaan belum berubah sesuai keinginan.
Yang terpenting adalah tetap berada di atas ketaatan, menempuh jalan keluar yang dibenarkan, dan tidak kehilangan harapan kepada Allah.
12. Kesabaran Bukan Hanya Teori, tetapi Perjuangan Seumur Hidup
Dalam kajian ini, pemateri menekankan bahwa kita tidak cukup hanya mengetahui dalil-dalil tentang kesabaran. Kita harus melatih diri untuk mengamalkannya.
Sifat sabar, misalnya, perlu dipelajari dan diusahakan. Demikian pula sifat dermawan, rendah hati, tidak mudah marah, dan tidak iri terhadap nikmat orang lain.
Ada orang yang sejak awal lebih mudah melakukan kebaikan tertentu. Namun, ada pula yang harus berjuang lebih keras untuk mengubah kebiasaannya. Perbedaan tersebut tidak seharusnya membuat seseorang berhenti berusaha.
Apabila kita mudah marah, belajarlah menahan amarah. Apabila kita sulit memberi, mulailah membiasakan sedekah. Apabila kita mudah iri, latihlah hati agar mampu menerima dan menghargai nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain.
Kita tidak harus menunggu menjadi manusia sempurna untuk memulai perubahan. Justru dengan menyadari kekurangan diri, kita dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Muhasabah: apakah ilmu telah mengubah diri kita?
Ada beberapa pertanyaan yang patut kita renungkan:
- Setelah mempelajari ayat-ayat tentang sabar, apakah kita menjadi lebih mampu menahan diri ketika menghadapi musibah?
- Setelah mengetahui keutamaan sedekah, apakah kita semakin mudah mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan?
- Setelah mempelajari hadis tentang mencintai kebaikan bagi saudara muslim, apakah kita ikut bergembira ketika orang lain mendapatkan nikmat?
- Setelah memahami tawakal, apakah kita semakin bersungguh-sungguh mengambil sebab yang benar sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah?
- Setelah menghadiri berbagai majelis ilmu, apakah ada perubahan nyata pada ibadah dan akhlak kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita berputus asa, tetapi untuk mendorong kita melakukan perbaikan.
Ilmu yang bermanfaat seharusnya mendorong seseorang untuk semakin taat kepada Allah, memperbaiki akhlaknya, dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
13. Nasihat Syaikh as-Sa‘di: Iman Mengubah Cara Kita Menyikapi Kehidupan
Syaikh as-Sa‘di Rahimahullah dalam kitab Al-Wasā’il al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah mengajarkan bahwa iman yang benar dan amal saleh merupakan sebab penting untuk meraih kebahagiaan.
Inti nasihat beliau dalam pembahasan ini dapat dirangkum sebagai berikut:
الْإِيمَانُ الصَّحِيحُ الْمُثْمِرُ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَالصَّبْرُ عَلَى مَا لَا يُمْكِنُ دَفْعُهُ، وَاحْتِسَابُ الْأَجْرِ عِنْدَ اللَّهِ.
Artinya:
“Keimanan yang benar yang membuahkan amal-amal saleh, kesabaran terhadap perkara yang tidak dapat dihindari, serta mengharapkan pahala dari Allah.”
Catatan: Redaksi Arab di atas merupakan rangkuman makna pembahasan Syaikh as-Sa‘di. Referensi: Al-Wasā’il al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah, bagian tentang iman, amal saleh, dan sikap menghadapi perkara yang tidak disukai.
Pesan penting dari pembahasan ini adalah bahwa seorang mukmin perlu membangun landasan keimanan yang kuat agar tidak mudah kehilangan arah ketika kehidupannya berubah.
Ketika mendapatkan kenikmatan, ia tidak lupa bersyukur. Ketika kehilangan sesuatu, ia tidak larut dalam keputusasaan. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia tidak membiarkan kedengkian menguasai hati. Ketika menghadapi masalah, ia tidak berhenti berusaha.
Semua itu merupakan bagian dari latihan untuk menjadikan iman sebagai pedoman hidup, bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam pikiran.
14. Penutup: Memperkuat Iman dan Amal Saleh
Dari keseluruhan pembahasan, ada beberapa pelajaran utama yang dapat kita ambil.
- Iman dan amal saleh adalah sebab pertama kebahagiaan. Keduanya memberikan landasan bagi seorang mukmin untuk menghadapi berbagai keadaan dalam kehidupan.
- Musibah harus dihadapi dengan ikhtiar dan kesabaran. Tawakal tidak berarti berpangku tangan, tetapi berusaha sesuai kemampuan sambil bersandar kepada Allah.
- Kesabaran memiliki keutamaan yang sangat besar. Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang bersabar tanpa batas yang disebutkan dalam QS. Az-Zumar ayat 10.
- Ilmu harus diwujudkan dalam amal. Membaca dalil tentang kesabaran, tawakal, dan akhlak mulia hendaknya membawa perubahan nyata dalam kehidupan.
- Akhlak yang baik perlu dilatih. Kita harus berusaha memperbaiki sifat yang tercela dan membiasakan diri melakukan kebaikan.
- Seorang mukmin bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa kesulitan. Inilah pesan utama hadis tentang menakjubkannya urusan seorang mukmin dalam Shahih Muslim no. 2999.
- Jangan berputus asa dalam memperbaiki diri. Setiap orang memiliki kekurangan, tetapi kita harus terus berusaha memperbaikinya dengan ilmu, amal, doa, dan pertolongan Allah.
Pemateri mengingatkan bahwa majelis ilmu bukan sekadar tempat untuk mendengarkan ceramah. Majelis ilmu juga merupakan sarana untuk saling mengingatkan, memperkuat persaudaraan di atas sunah, dan membantu satu sama lain dalam memperbaiki iman.
Kita tidak boleh menganggap bahwa seseorang yang menyampaikan ilmu pasti telah mengamalkan seluruh yang disampaikannya dengan sempurna. Setiap manusia membutuhkan nasihat, termasuk orang yang menyampaikan nasihat itu sendiri. Karena itu, hendaknya kita saling menasihati dengan cara yang baik dan bersama-sama berusaha memperbaiki diri.
Allah Ta‘ala berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)
Mengingat Allah mencakup berbagai bentuk ketaatan, termasuk membaca Al-Qur’an, mempelajari sunah Nabi ﷺ, berzikir, dan saling mengingatkan dalam kebenaran.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memahami ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya dengan ikhlas, memperbaiki akhlak, dan menghadapi setiap keadaan dengan iman yang benar.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan, bersabar ketika menghadapi kesulitan, dan senantiasa berusaha memperbaiki diri hingga akhir hayat.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
Sumber utama: Al-Wasā’il al-Mufīdah lil Hayāh as-Sa‘īdah karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di رحمه الله, serta ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang disebutkan dalam pembahasan.
Poster Ringkasan
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم







