بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-31
Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. Hafidzahullah
| Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt Hafidzahullah
Al-khor, 13 Jumadil Awal 1448 / 24 Oktober 2026
| https://shamela.ws/book/9260/1570#p1
Syarah Hadits: Zuhud terhadap Dunia, Hisab Harta, dan Bekal Menuju Akhirat
Pendahuluan
Pada pertemuan sebelumnya, kita telah membahas hadis tentang Rasulullah ﷺ yang tidur di atas tikar hingga bekas tikar tersebut membekas pada kulit beliau. Melihat keadaan itu, para sahabat menawarkan agar dibuatkan tempat tidur yang lebih lembut dan nyaman untuk beliau.
Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan hakikat hubungan beliau dengan dunia melalui sebuah perumpamaan:
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, hadis no. 2377 dalam penomoran yang umum digunakan. At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu’anhu.
Hadis ini menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ menempatkan dunia pada kedudukannya yang sebenarnya. Dunia digunakan seperlunya, bukan dijadikan tujuan utama kehidupan. Seseorang boleh memanfaatkan nikmat Allah, tetapi jangan sampai hatinya bergantung kepada dunia hingga melalaikan akhirat.
Fawaid Hadits #30/486: Dunia Hanyalah Tempat Singgah
Dari hadis tersebut, terdapat beberapa faedah penting.
1. Zuhudnya Rasulullah ﷺ terhadap Dunia
Faedah pertama adalah menunjukkan kezuhudan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak menjadikan kemewahan dunia sebagai tujuan hidup, meskipun Allah memberikan kepada beliau kedudukan yang sangat mulia.
Zuhud bukan berarti seseorang harus mengenakan pakaian kasar, tinggal di tempat yang tidak layak, atau sengaja meninggalkan seluruh kenikmatan yang halal. Hakikat zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai sesuatu yang menguasai hati.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan makna zuhud dengan menekankan bahwa yang menjadi ukuran bukanlah penampilan lahiriah seseorang, melainkan kedudukan dunia di dalam hatinya.
Dengan demikian, seseorang boleh memiliki rumah yang nyaman, kendaraan yang baik, dan harta yang cukup. Yang perlu dijaga adalah agar semua itu tidak melalaikannya dari ketaatan kepada Allah.
Seorang muslim hendaknya memanfaatkan dunia untuk membantu dirinya beribadah, menafkahi keluarga, menolong orang lain, dan menyiapkan bekal akhirat.
2. Seorang Murid Hendaknya Memperhatikan Adab Gurunya
Faedah kedua adalah anjuran bagi seorang murid untuk memperhatikan keadaan gurunya, terutama dalam hal adab, ketenangan, kewibawaan, dan sikap yang baik.
Dalam pembahasan ini disebutkan:
مُرَاقَبَةُ التِّلْمِيذِ لِحَالِ شَيْخِهِ لِيَعْلَمَ مِنْهُ السَّمْتَ الْحَسَنَ
“Seorang murid memperhatikan keadaan gurunya agar dapat mempelajari darinya perilaku dan adab yang baik.”
Seorang penuntut ilmu tidak cukup hanya memperhatikan apa yang disampaikan gurunya. Ia juga dapat mengambil pelajaran dari ketenangan, kesabaran, kesungguhan, dan cara gurunya menyikapi berbagai keadaan.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan: tidak semua kebiasaan pribadi guru harus ditiru.
Sebagai contoh, apabila seorang ustaz menyukai merek minuman tertentu, bukan berarti seluruh murid harus membeli dan meminum merek yang sama. Bisa jadi itu hanyalah selera pribadi, bukan bagian dari adab atau tuntunan agama.
Yang patut diteladani adalah perkara yang memang baik dan berkaitan dengan ilmu, ibadah, akhlak, serta adab. Adapun kebiasaan pribadi yang tidak berkaitan dengan tuntunan agama, seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk menirunya.
3. Seorang Murid Dianjurkan Mencegah Kemudaratan bagi Gurunya
Faedah berikutnya adalah dianjurkannya seorang murid untuk membantu gurunya dan menawarkan sesuatu yang dapat menghilangkan kesulitan atau mencegah kemudaratan, selama dilakukan dengan cara yang baik.
Apabila seorang guru menghadapi keadaan yang membahayakan atau membutuhkan bantuan, murid boleh menawarkan pertolongan. Namun, hendaknya ia memahami kebutuhan gurunya terlebih dahulu, bukan bertindak tergesa-gesa berdasarkan prasangkanya sendiri.
Misalnya, seseorang melihat gurunya menggunakan kipas angin dan ingin memasang pendingin ruangan. Sebelum melakukannya, ia sebaiknya bertanya terlebih dahulu. Bisa jadi guru tersebut memang lebih nyaman menggunakan kipas angin karena alasan kesehatan atau keadaan keluarganya.
Maksudnya, berbuat baik harus disertai pemahaman terhadap keadaan orang yang hendak dibantu.
4. Dunia Adalah Tempat Melintas, Bukan Tempat Tinggal Selamanya
Faedah keempat adalah bahwa dunia merupakan tempat perjalanan menuju akhirat.
الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ وَعُبُورٍ، وَالْمَرْءُ فِيهَا عَابِرُ سَبِيلٍ
“Dunia adalah tempat untuk lewat dan melintas, sedangkan manusia di dalamnya hanyalah seorang yang sedang melewati perjalanan.”
Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidaklah kekal. Manusia datang ke dunia, menjalani kehidupannya untuk waktu yang telah ditetapkan, kemudian meninggalkannya.
Karena itu, seorang muslim tidak sepatutnya menghabiskan seluruh perhatian dan waktunya hanya untuk mengumpulkan kekayaan. Ia perlu mengingat bahwa tujuan akhir perjalanannya adalah menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
Harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Kekuatan fisik akan melemah. Yang akan menemani seseorang menuju akhirat adalah iman dan amal salehnya.
5. Memakmurkan Akhirat dengan Amal Saleh
Faedah kelima adalah pentingnya mempersiapkan kehidupan akhirat melalui amal saleh.
Kita tidak mengetahui berapa lama lagi usia yang tersisa. Karena itu, hendaknya setiap amal dilakukan dengan ikhlas karena Allah, termasuk pekerjaan yang tampak sebagai urusan dunia.
Bekerja untuk menafkahi keluarga, memenuhi kebutuhan anak dan istri, serta menjalankan tanggung jawab dengan cara yang halal dapat menjadi amal saleh apabila disertai niat yang benar dan memenuhi ketentuan syariat.
Di antara doa yang dianjurkan untuk sering kita panjatkan adalah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالِي كُلَّهَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang saleh dan ikhlas semata-mata karena mengharapkan wajah-Mu.”
Redaksi doa ini disampaikan dalam kajian sebagai doa untuk memohon keikhlasan dan kebaikan amal.
Hendaknya kita tidak hanya memohon agar pekerjaan menghasilkan uang, tetapi juga agar pekerjaan tersebut menjadi sebab datangnya pahala dari Allah.
Jangan sampai seseorang bekerja sepanjang hari, mengeluarkan tenaga dan pikiran, tetapi melupakan niat dan tujuan akhirat. Dengan niat yang benar, pekerjaan yang halal dapat menjadi sarana beribadah kepada Allah.
Hadis ke-31/487: Orang-Orang Fakir Mendahului Orang-Orang Kaya Masuk Surga
Teks Hadits
487.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِمِائَةِ عَامٍ
“Orang-orang fakir masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya selama lima ratus tahun.”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, hadis no. 2354. Riwayat ini dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi dalam sejumlah edisi yang memuat hadis tersebut.
Hadis ini menjelaskan bahwa orang-orang fakir dapat mendahului orang-orang kaya masuk surga. Salah satu hikmahnya adalah orang-orang kaya memiliki tanggung jawab yang lebih besar berkaitan dengan harta yang mereka miliki.
Bukan semata-mata karena mereka kaya, tetapi karena mereka harus mempertanggungjawabkan bagaimana harta itu diperoleh dan bagaimana harta tersebut digunakan.
1. Harta Akan Dipertanggungjawabkan pada Hari Kiamat
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; tentang ilmunya, apa yang telah diamalkannya; tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya; serta tentang tubuhnya, untuk apa digunakannya.”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, Kitab Shifat Al-Qiyamah, hadis no. 2417 dalam penomoran yang umum digunakan. Riwayat dari Abu Barzah Al-Aslami Radhiyallahu’anhu.
Hadis ini mengingatkan bahwa harta bukan sekadar sesuatu yang dinikmati, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Ada dua pertanyaan penting mengenai harta:
- Dari mana harta diperoleh? Apakah melalui pekerjaan dan transaksi yang halal, atau melalui jalan yang haram?
- Ke mana harta dibelanjakan? Apakah digunakan untuk kebutuhan yang dibenarkan, menafkahi keluarga, bersedekah, dan membantu sesama, atau justru untuk perkara yang dilarang?
Seseorang yang memiliki harta melimpah tidak cukup hanya memastikan bahwa hartanya tersimpan dengan baik. Ia juga harus memperhatikan cara memperolehnya dan penggunaannya.
Setiap harta yang diperoleh melalui transaksi, pekerjaan, perdagangan, maupun sumber lainnya harus diperiksa kehalalannya. Demikian pula pengeluarannya harus sesuai dengan ketentuan Allah.
Inilah salah satu alasan mengapa hisab orang yang memiliki banyak harta dapat menjadi lebih panjang: pertanyaan dan tanggung jawab yang harus dijawab juga lebih banyak.
2. Orang-Orang Fakir dari Kalangan Muhajirin
Terdapat pula hadis yang menyebutkan bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin mendahului orang-orang kaya masuk surga selama empat puluh tahun.
Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الْأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا
“Sesungguhnya orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin mendahului orang-orang kaya masuk surga pada hari kiamat selama empat puluh tahun.”
Sumber: Sahih Muslim, hadis no. 2979. Riwayat dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu’anhu.
Perbedaan angka empat puluh tahun dan lima ratus tahun dalam berbagai riwayat tidak boleh langsung dipahami sebagai pertentangan. Riwayat-riwayat tersebut perlu dipahami berdasarkan jalur periwayatan, redaksi, dan keadaan orang yang dibicarakan. Keduanya menunjukkan adanya keutamaan bagi orang-orang fakir yang beriman dan dapat mendahului orang-orang kaya dalam memasuki surga.
Namun, hal yang sangat penting untuk dipahami adalah bahwa kemiskinan bukanlah jaminan otomatis masuk surga lebih dahulu, sebagaimana kekayaan bukanlah penyebab otomatis seseorang tertinggal.
Keadaan iman, amal saleh, dan pertanggungjawaban masing-masing hamba tetap menjadi perkara yang menentukan.
3. Satu Hari di Sisi Allah
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Hajj [22]: 47.
Ayat ini menyebutkan perbandingan waktu di sisi Allah dengan hitungan manusia. Dalam pembahasan hadis tentang lima ratus tahun, angka tersebut juga dikaitkan dengan setengah hari menurut perhitungan seribu tahun.
Meskipun demikian, ayat ini tidak boleh digunakan untuk menyederhanakan seluruh keadaan hari kiamat menjadi hitungan kalender dunia secara mutlak. Perkara waktu di akhirat termasuk perkara gaib yang harus dipahami berdasarkan dalil.
4. Apakah Orang Kaya Selalu Lebih Rendah Derajatnya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa mendahului orang lain masuk surga tidak selalu berarti derajatnya lebih tinggi daripada orang yang masuk belakangan.
Perlu dibedakan antara dua perkara:
- Keutamaan dalam mendahului masuk surga, yaitu siapa yang lebih dahulu memasukinya.
- Ketinggian derajat di surga, yaitu kedudukan seseorang berdasarkan keutamaan yang Allah berikan kepadanya.
Kedua hal itu tidak selalu sama. Bisa jadi seseorang masuk surga lebih dahulu, sedangkan orang lain masuk belakangan tetapi memiliki derajat yang lebih tinggi.
Karena itu, hadis tentang orang-orang fakir yang mendahului orang-orang kaya tidak boleh dipahami sebagai celaan mutlak terhadap setiap orang kaya.
Kita mengenal para sahabat yang memiliki kekayaan besar sekaligus termasuk orang-orang yang mulia, seperti Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf رضي الله عنهما. Kekayaan mereka tidak menghalangi keutamaan karena harta tersebut digunakan dalam ketaatan kepada Allah.
Persoalannya bukan sekadar banyak atau sedikitnya harta, melainkan bagaimana seseorang memperolehnya, menggunakannya, dan menunaikan kewajibannya.
Jangan Sampai Sibuk Mengumpulkan Harta, tetapi Tidak Menikmatinya
Salah satu pelajaran penting dari pembahasan Syaikh Al-‘Utsaimin adalah bahwa manusia terkadang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengumpulkan harta, tetapi hanya memiliki sedikit waktu untuk menikmati hasil usahanya.
Seseorang bekerja selama berjam-jam, menghabiskan waktu di perjalanan, menghadapi tekanan pekerjaan, kemudian pulang dalam keadaan lelah. Setelah itu, sebagian besar waktu yang tersisa digunakan untuk beristirahat dan tidur karena tubuhnya sudah tidak sanggup melakukan banyak hal.
Apabila keadaan ini berlangsung terus-menerus, kapan ia memiliki waktu yang cukup untuk keluarga, ibadah, menuntut ilmu, dan menikmati rezeki yang Allah berikan?
Tentu saja, bekerja keras bukanlah sesuatu yang tercela. Menafkahi keluarga melalui jalan yang halal merupakan tanggung jawab yang mulia. Yang perlu dihindari adalah keadaan ketika pekerjaan dan pencarian harta menguasai seluruh kehidupan sehingga kewajiban lain terbengkalai.
Ada orang yang bahkan memiliki lebih dari satu pekerjaan. Setelah menyelesaikan pekerjaan utama, ia kembali berdagang atau menjalankan usaha lain. Ketika tiba masa liburan, ia tetap membawa pekerjaannya sehingga hampir tidak memiliki waktu bersama keluarga.
Keadaan setiap orang berbeda. Ada yang terpaksa bekerja lebih keras karena kebutuhan hidup, ada pula yang terus menambah pekerjaannya karena ingin mengumpulkan lebih banyak harta. Karena itu, pembahasan ini bukan untuk menghakimi orang yang bekerja keras, tetapi untuk mengajak setiap orang menimbang kembali tujuan hidupnya.
Harta seharusnya menjadi sarana, bukan belenggu. Apabila Allah memberikan kecukupan, seseorang hendaknya memanfaatkannya secara wajar, menunaikan hak keluarga, bersyukur, serta menyediakan waktu untuk beribadah dan beristirahat.
Jangan sampai seseorang mempunyai banyak harta, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk menggunakannya dalam kebaikan.
Ketika Usia Bertambah dan Kekuatan Berkurang
Ketika manusia memasuki usia tua, keadaan tubuh biasanya berubah. Makanan yang dahulu dapat dinikmati tanpa banyak pertimbangan mungkin harus dibatasi. Tidur tidak selalu terasa nyaman. Perjalanan jauh semakin melelahkan, sedangkan berbagai penyakit dapat mulai muncul.
Sebagian orang akhirnya menggunakan harta yang telah dikumpulkannya untuk berobat dan merawat kesehatannya. Hal itu tentu bukan sesuatu yang tercela. Berobat merupakan ikhtiar yang dibenarkan. Akan tetapi, keadaan ini mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki jaminan untuk menikmati seluruh hasil usahanya sesuai rencana.
Seseorang mungkin mengumpulkan banyak kekayaan, tetapi tidak mengetahui apakah ia akan hidup sampai usia tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun. Bahkan apabila usianya panjang, ia belum tentu memiliki kekuatan untuk menikmati semua yang dimilikinya.
Karena itu, gunakanlah masa muda, kesehatan, kesempatan, dan harta untuk menyiapkan bekal akhirat. Jangan menunda seluruh amal saleh hingga usia tua, sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya datang.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-A‘la [87]: 17.
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada kehidupan dunia. Karena itu, seorang muslim tidak sepatutnya mengorbankan akhirat demi kesenangan dunia yang sementara.
Kekayaan dan Kemiskinan Sama-Sama Ujian
Kekayaan bukan selalu tanda kemuliaan, sebagaimana kemiskinan bukan selalu tanda kehinaan. Keduanya merupakan keadaan yang dapat menjadi ujian bagi seorang hamba.
Orang kaya diuji dengan hartanya: apakah ia bersyukur, menunaikan zakat, menafkahi keluarga, bersedekah, dan menjauhi kesombongan? Orang fakir diuji dengan kesabarannya: apakah ia tetap taat, menjaga kehormatan, berusaha mencari rezeki halal, dan tidak menempuh jalan yang diharamkan?
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa keadaan seorang mukmin selalu dapat menjadi kebaikan baginya.
Hadis tentang Keadaan Seorang Mukmin
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.”
Sumber: Sahih Muslim, hadis no. 2999, dari Shuhaib رضي الله عنه.
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin berusaha menjadikan setiap keadaan sebagai jalan menuju pahala. Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur. Ketika mengalami kesulitan atau sakit, ia bersabar, tetap berikhtiar, dan berharap pahala dari Allah.
Dengan demikian, yang paling penting bukanlah apakah seseorang kaya atau miskin, melainkan bagaimana ia menghadapi keadaan yang Allah tetapkan baginya.
Doa-Doa Nabi ﷺ Berkaitan dengan Kekayaan, Kemiskinan, dan Hisab
Dalam kajian ini, pemateri mengingatkan pentingnya memperbanyak doa agar terhindar dari fitnah harta, kemiskinan yang membahayakan, kemalasan, dan hisab yang berat.
1. Berlindung dari Kekufuran, Kefakiran, dan Azab Kubur
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran, kefakiran, dan azab kubur.”
Sumber: Sunan An-Nasa’i, Kitab Al-Isti‘adzah, hadis no. 1347 dalam penomoran yang umum digunakan; juga diriwayatkan melalui jalur-jalur lain. Penomoran perlu disesuaikan dengan edisi kitab.
Doa ini mengajarkan bahwa seorang muslim memohon perlindungan dari kemiskinan yang dapat menjadi sebab kesulitan berat dan membuka pintu keburukan. Doa ini tidak bertentangan dengan hadis tentang orang-orang fakir yang mendahului orang kaya masuk surga.
Kemiskinan tidak otomatis membuat seseorang mulia, dan kekayaan tidak otomatis membuat seseorang tercela. Keduanya memiliki ujian masing-masing.
2. Memohon Petunjuk, Ketakwaan, Kehormatan, dan Kecukupan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan kehormatan, dan kecukupan.”
Sumber: Sahih Muslim, hadis no. 2721, dari Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه.
Doa ini sangat penting untuk diamalkan. Kita tidak hanya memohon harta yang banyak, tetapi juga petunjuk agar menggunakannya dengan benar, ketakwaan dalam menjalani kehidupan, kehormatan agar tidak bergantung kepada cara yang haram, serta kecukupan yang membuat hati merasa cukup dengan pemberian Allah.
Kecukupan tidak selalu berarti memiliki rumah megah, kendaraan mewah, atau tabungan yang sangat besar. Seseorang dapat memperoleh kecukupan ketika Allah memberikan rezeki halal yang mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya, disertai hati yang bersyukur.
3. Berlindung dari Kemalasan, Usia yang Lemah, Dosa, dan Utang
Di antara doa Rasulullah ﷺ adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ، وَالْبُخْلِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kepikunan karena usia lanjut, dan kebakhilan.”
Terdapat pula doa berlindung dari dosa dan lilitan utang:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”
Sumber: Sahih Al-Bukhari, Kitab Ad-Da‘awat, antara lain hadis no. 6363 dan riwayat terkait; Sahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du‘a’. Redaksi doa-doa tersebut terdapat dalam beberapa riwayat dengan susunan yang berbeda.
Doa ini mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya meminta perlindungan dari keadaan yang melemahkan dirinya dalam beribadah dan menjalankan tanggung jawab. Ia juga memohon agar terhindar dari utang yang membebani dan dosa yang merusak kehidupan akhirat.
4. Berlindung dari Keburukan Fitnah Kekayaan dan Kefakiran
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan fitnah kekayaan dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan fitnah kefakiran.”
Sumber: Makna dan redaksi doa ini terdapat dalam riwayat-riwayat sahih tentang doa perlindungan Nabi ﷺ, termasuk dalam Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim dengan variasi redaksi. Nomor hadis spesifik untuk susunan di atas perlu dicocokkan dengan jalur riwayat yang digunakan.
Kekayaan dapat menjadi fitnah apabila membuat seseorang sombong, lalai, bakhil, atau menggunakan hartanya dalam kemaksiatan. Kemiskinan juga dapat menjadi fitnah apabila membuat seseorang berputus asa, menghalalkan segala cara, atau meninggalkan kewajiban agama.
Karena itu, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan keduanya. Jangan tertipu oleh kekayaan, dan jangan pula berputus asa ketika berada dalam kekurangan.
5. Memohon Hisab yang Mudah
Di antara doa yang disebutkan dalam kajian adalah:
اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا
“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”
Doa ini berkaitan dengan pembahasan Allah Ta’ala tentang hisab yang mudah dalam Surah Al-Insyiqaq.
Allah berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.”
Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Insyiqaq [84]: 7–8.
Dalam hadis Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang diperiksa secara mendalam akan mendapatkan hukuman. Riwayat ini terdapat dalam Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim dengan redaksi yang dikenal sebagai penjelasan tentang al-hisab al-yasir.
Karena itu, seorang muslim hendaknya memohon agar Allah memberikan kemudahan dalam hisab, mengampuni dosa-dosanya, dan menerima amal salehnya.
Fawaid Hadits ke-31/487
1. Keutamaan Orang Fakir yang Saleh Dibandingkan Orang Kaya yang Bermaksiat
Orang fakir yang beriman dan mengerjakan amal saleh memiliki keutamaan dibandingkan orang kaya yang menggunakan hartanya untuk bermaksiat. Namun, perbandingan ini berkaitan dengan keadaan iman dan amal, bukan sekadar ukuran kekayaan.
Orang kaya yang bersyukur, menunaikan kewajiban, dan menggunakan hartanya untuk kebaikan juga memiliki peluang besar meraih keutamaan di sisi Allah.
2. Pemilik Harta Akan Ditanya tentang Cara Memperoleh dan Membelanjakannya
Setiap orang yang memiliki harta harus memperhatikan asal dan penggunaannya. Harta yang banyak berarti tanggung jawab yang harus dipenuhi juga semakin besar.
Karena itu, hendaknya seorang muslim mencari rezeki melalui jalan yang halal, menunaikan kewajiban hartanya, menafkahi keluarganya, dan menggunakan rezeki tersebut untuk perkara yang diridai Allah.
3. Ambillah Dunia Secukupnya untuk Menyiapkan Akhirat
Seorang hamba hendaknya memanfaatkan dunia sesuai kebutuhannya dan menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai kehidupan akhirat.
يَنْبَغِي لِلْعَبْدِ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يَبْلُغُ بِهِ مَحَلَّ الدَّارِ الْآخِرَةِ
“Hendaknya seorang hamba mengambil dari dunia apa yang dapat mengantarkannya menuju tempat tinggal di akhirat.”
Kalimat ini merangkum pesan kajian: jangan sampai seseorang hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal.
Bekerjalah, carilah rezeki yang halal, tunaikan kewajiban, nikmati karunia Allah secara wajar, dan jangan melupakan ibadah serta keluarga. Jadikan seluruh aktivitas yang dibenarkan syariat sebagai sarana untuk mendapatkan rida Allah.
Penutup
Dunia hanyalah tempat persinggahan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama ia akan hidup, kapan kesehatannya berkurang, atau kapan ia harus meninggalkan segala yang dimilikinya.
Karena itu, hendaknya kita memperbanyak amal saleh, menjaga keikhlasan, dan memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Semoga Allah menjadikan seluruh amal kita sebagai amal saleh, melindungi kita dari fitnah kekayaan dan kefakiran, memberikan rezeki yang halal dan berkah, serta menganugerahkan hisab yang mudah pada hari kiamat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَاجْعَلْ حِسَابَنَا حِسَابًا يَسِيرًا.
“Ya Allah, jadikanlah seluruh amal kami sebagai amal yang saleh dan ikhlas karena-Mu, serta jadikanlah hisab kami sebagai hisab yang mudah.”
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.
Poster Ringka
*****







