بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Aqidah dan Ketenangan Hati
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Senin, 18 Rabi’ul Awal 1448 / 31 Agustus 2026
🕰 | Waktu: 09:00 WQ | 13:00 WIB
🕌 | Tempat: Masjid Al-Abdullah no. 1235 Wakra Qatar



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan menjelaskan latar belakang tema kajian yang berkaitan dengan pengaruh akidah terhadap ujian seorang hamba.

Allah ﷻ menguji hamba dengan 2 macam ujian:

1. Ujian Takdir: yang diberikan kepada manusia dengan ujian kebaikan dan keburukan atau musibah.

Maka, Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita untuk beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

Firman-Nya dalam Surat Al-Anbiya Ayat 35:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

Bentuk ibadah terhadap ujian takdir adalah dengan ridha dan sabar.

2. Ujian syari’at : Baik berupa perintah maupun larangan.

Dimana hamba diatur untuk mengikuti ujian-ujian ini. Dan kita diharuskan ridha dengan takdir dan ini bagian dari ibadah, sementara ujian yang berkaitan dengan syari’at dilakukan dengan menjalankan syariat dan menjauhi larangan-Nya.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi takdir, ada yang kuat dalam menghadapi ujian takdir dan ada yang lebih mudah bertahan dalam ujian syari’at.

Dan kita diajarkan untuk berdoa memohon keselamatan, ampunan, dan kesehatan (afiyah) di dunia dan akhirat yang sering dibaca Rasulullah ﷺ pada dzikir pagi dan sore.

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلَاخِرَةِ، اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَاٰمِنْ رَوْعَاتِيْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aibku dan tenteramkanlah aku dari rasa takut.”

Dalam hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad ﷺ menjenguk seorang sahabat yang kondisinya sangat kurus dan lemah melemah seperti anak burung (dalam riwayat digambarkan sangat kurus/lemah).

Nabi ﷺ kemudian bertanya kepadanya: “Apakah engkau pernah berdoa kepada Allah dengan suatu doa atau memintanya?”

Sahabat itu menjawab: “Ya, aku pernah berdoa: ‘Ya Allah, apa saja siksaan yang akan Engkau timpakan kepadaku di akhirat kelak, maka segerakanlah siksaan itu atasku di dunia ini.'”

Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Subhanallah! Engkau tidak akan sanggup menanggungnya. Mengapa engkau tidak berdoa: ‘Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-nar’ (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka)?”

Lalu Rasulullah ﷺ mendoakannya, sehingga Allah ﷻ memberikan kesembuhan kepada sahabat tersebut.

Pengaruh Akidah Terhadap Ujian

Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yaitu menurunkan syari’at secara berangsur-angsur dan bertahap agar tidak memberatkan dan membuat hamba-Nya tersebut lari dari jalan yang benar.

Aisyah radhiyallahu anha pernah mengatakan:

إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ المُفَصَّلِ، فِيهَا ذِكْرُ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الإِسْلاَمِ نَزَلَ الحَلاَلُ وَالحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ: لاَ تَشْرَبُوا الخَمْرَ، لَقَالُوا: لاَ نَدَعُ الخَمْرَ أَبَدًا، وَلَوْ نَزَلَ: لاَ تَزْنُوا، لَقَالُوا: لاَ نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا

Sesungguhnya yang turun pertama dari al-Qur’an adalah surat-surat al-Mufashal. Disana disebutkan tentang surga dan neraka. Sampai ketika manusia telah kokoh dalam keislaman baru turun ayat tentang halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun itu adalah larangan; “Jangan kalian meminum khamr!” Maka niscaya pasti mereka akan mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan khamr untuk selamanya.” Dan kalau seandainya yang turun pertama adalah larangan: “Jangan kalian berzina!” Maka pasti mereka akan mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.” (HR. Bukhari: 4993)

Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa Al-Qur’an ini terbagi menjadi 4 bagian. Yaitu:

1. Tujuh surah yang panjang itu adalah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf, Al-Anfal dan At-Taubah. Tujuh surah yang panjang ini menggantikan Taurat.
2. Kemudian ada المئين . Yang dimaksud dengan المئين yaitu surah-surah yang jumlah kebanyakan ayatnya 100 lebih. Yaitu dari surah Yunus sampai akhir surah As-Sajadah.
3. Kemudian ada المثاني. Yang dimaksud المثاني yaitu surah-surah yang jumlah ayatnya kurang dari seratus. Yaitu dari surah Al-Ahzab sampai akhir surah Al-Hujurat.
4. Kemudian ada المفصل. Ini kelebihan yang diberikan untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam daripada nabi-nabi yang lainnya. Surah المفصل lebih pendek daripada surah yang lainnya. Dia dimulai dari surah Qaf sampai An-Naas.

Hadits Aisyah Radhiyallahu’anha menjelaskan bahwa awal mula diturunkannya ayat berkaitan dengan penguatan akidah, dan ini menjadi pondasi yang selanjutnya umat akan siap menerima konsekuensi dari aturan halal dan haram.

Seperti halnya pengharaman khamr melalui tiga tahapan:

  • Awalnya khamar dibolehkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 67).

  • Pertama: Turun ayat berisi perintah menjauhkan diri dari khamar karena mudaratnya lebih besar daripada maslahatnya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah: 219).

  • Kedua: Turun ayat untuk melarang khamar pada satu waktu, dibolehkan pada waktu lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisaa’: 43).

  • Ketiga: Terakhir, khamar diharamkan secara tegas.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90).

Peristiwa Abu Thalhah dan khamr

Kisah keteladanan yang patut dijadikan renungan adalah ketika sahabat Abu Thalhah Radhiyallahu’anhu langsung menumpahkan seluruh minuman keras di rumahnya seketika setelah mendengar pengumuman turunnya ayat pengharaman.

Kronologi Kejadian

  • Jamuan di Rumah: Anas bin Malik menuangkan minuman khamr dari campuran kurma untuk Abu Thalhah, Ubay bin Ka’ab, dan Abu Dujanah.
  • Pengumuman Turunnya Larangan: Tiba-tiba seseorang datang berteriak di luar rumah dan mengabarkan bahwa Allah ﷻ telah mengharamkan khamr (Surat Al-Maidah ayat 90-91).
  • Reaksi Cepat: Abu Thalhah langsung meminta Anas bin Malik keluar untuk mengecek pengumuman tersebut.
  • Menumpahkan Arak: Begitu mendengar kebenarannya, Abu Thalhah memerintahkan agar seluruh gentong dan sisa arak ditumpahkan seketika hingga mengalir di jalan-jalan Madinah.

Reaksi cepat ini menunjukkan kepatuhan total para sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa ragu.

Maka, penguatan akidah diperlukan agar tetap istiqomah, setiap ujian seperti kendala ekonomi karena kondisi perang, pemutusan hubungan kerja dan lainnya akan dia lalui dengan penuh ketundukan dan keikhlasan.

Ujian Takdir

Banyak yang gagal dalam menghadapi ujian takdir, indikatornya antara lain: Melanggar Syariat.

Maka, kita dianjurkan berdo’a agar musibah tidak menimpa agama dan agar dunia bukan sebagai tujuan:

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

Wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj’alid-dunyaa akbaro hamminaa wa laa mablagho ‘ilminaa.

(Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah pada kami menimpa agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia (harta dan kemewahan) sebagai cita-cita terbesar kami dan tujuan utama dari ilmu kami.

HR. At-Tirmidzi V/528 no.3502, An-Nasa’I dalam As-Sunan Al-Kubro VI/106, Al-Hakim I/528 dan Ibnu As-Sunny dalam Amalul Yaum wa Al-Lailah no.445. Derajat hadits tersebut hasan (baik), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih Sunan At-Tirmidzi III/168 no.2783 dan Shohih Al-Jami’ I/400.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata bahwa Kenikmatan dunia itu selalu bercampur dengan musibah.

Karena nikmat mutlak hanya akan dimiliki mereka yang ada di dalam surga.

Maka, ketika dapat musibah, hendaklah berdo’a agar musibah yang kita terima tidak berimbas terhadap agama kita.

Kisah Orang-orang Shalih dalam Menghadapi Takdir

1. Ujian Nabi Ibrahim alaihissalam

Beliau tidak mendapatkan syariat jihad dan beliau hidup pada saat kaum muslimin sangat lemah.

Bentuk teguran dan pertanyaan retoris dari Nabi Ibrahim alaihissalam kepada kaumnya yang menyembah berhala, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Anbiya Ayat 66.

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْـًٔا وَلَا يَضُرُّكُمْ

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”

Nabi Ibrahim menolak keras penyembahan selain Allah dan mempertanyakan alasan kaumnya yang menyembah berhala yang tidak dapat memberi manfaat atau bahaya sedikit pun.

Beliau dibakar kaumnya karena menasehati kaumnya agar tidak berbuat syirik. Saking besarnya api yang membakar, hingga mereka tidak berani mendekat dan membakarnya dengan alat Manjani (seperti ketapel besar).

  • Saat Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api yang besar oleh Raja Namrud, Malaikat Jibril datang menghampiri.
  • Jibril bertanya apakah Ibrahim butuh bantuan. Nabi Ibrahim menjawab, “Adapun kepada-kamu, aku tidak butuh,” dan mengucapkan “Hasbunallah wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung).
  • Tingkat Tawakal: Nabi Ibrahim menolak bantuan Jibril karena kepasrahan dan tawakalnya yang mutlak hanya kepada Allah ﷻ.
  • Karena ketawakalannya yang mutlak ini, Allah berfirman menjadikan api tersebut dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Atas dasar inilah Nabi-Nya Ibrahim alaihissalam termasuk Ulul Azmi yaitu, gelar khusus bagi para rasul pilihan yang memiliki tingkat kesabaran, ketabahan, dan keteguhan hati yang luar biasa dalam menjalankan dakwah serta menyebarkan ajaran Allah.

2. Ujian Nabi Musa dan Harun Alaihimassalam

Bani Israil diperintahkan menjaga shalat meskipun di rumah.

Latar Belakang Perintah:

  • Situasi Sulit: Bani Israil hidup dalam penindasan di bawah kekuasaan Firaun.
  • Rasa Takut: Mereka tidak dapat menampakkan ibadah atau pergi ke tempat ibadah umum karena khawatir dihukum atau dibunuh oleh pengikut Firaun.
  • Solusi Ilahi: Allah mewahyukan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat tinggal, tempat ibadah, serta kiblat untuk menegakkan shalat.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yunus Ayat 87:

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰى وَاَخِيْهِ اَنْ تَبَوَّاٰ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوْتًا وَّاجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قِبْلَةً وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝٨٧

Telah Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya (Harun), “Ambillah oleh kamu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal kaummu, jadikanlah rumah-rumahmu itu kiblat (tempat ibadah), dan tegakkanlah salat. Gembirakanlah orang-orang mukmin.”

Gambaran Ujian Mental di Laut Merah

  • Terjepit Situasi: Di depan adalah Laut Merah yang dalam, di belakang adalah Fir’aun dengan pasukan lengkap yang siap membinasakan.
  • Mental Budak: Akibat ratusan tahun dijajah dan disiksa oleh Mesir, Bani Israil memiliki mental yang lemah, ketakutan akut, dan belum sepenuhnya percaya diri di hadapan kemegahan serta kekuatan Fir’aun.
  • Keimanan yang Kuat: Saat kaum Bani Israil panik melihat laut di depan dan musuh di belakang, Musa berkata, “Jangan takut, Tuhan akan berperang bagimu”.
  • Ketaatan Mutlak: Musa tetap tenang dan mendengarkan petunjuk Sang Pencipta untuk mengangkat serta memukulkan tongkatnya tanpa ragu.
  • Pelajaran Tawakal: Sikap ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi jalan buntu atau masalah berat, ketenangan batin lahir dari rasa pasrah dan ikhtiar yang benar.
  • Keajaiban dan Keraguan: Laut akhirnya terbelah atas izin Allah melalui tongkat Nabi Musa. Namun, bahkan setelah selamat dan Fir’aun tenggelam, sebagian dari mereka masih ragu apakah musuh besar mereka itu benar-benar telah mati. Atas permintaan atau keraguan itu, Allah ﷻ memerintahkan laut memuntahkan jasad Fir’aun ke tepian agar mereka melihatnya secara langsung, menjadi tenang, dan percaya.

Berikut beberapa rujukan ayat utama yang mengisahkan peristiwa tersebut:

1. Surah Al-Baqarah Ayat 50:

“Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, maka Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikut Firaun, sedang kamu menyaksikan.”

2. Surah Asy-Syu’ara’ Ayat 60–66:

“Lalu mereka menyusul Firaun dan bala tentaranya pada waktu matahari terbit. Setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab, ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelah lah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain (Firaun dan tentaranya). Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.”

3. Surah Taha Ayat 77–78:

“Dan sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah pada malam hari dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil), dan pukullah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, tidak usah takut akan menyusul dan tidak usah cemas (akan tenggelam).’ Maka Firaun dengan bala tentaranya mengejar mereka, tetapi mereka digulung ombak laut yang menenggelamkan mereka.”

4. Surah Ad-Dukhan Ayat 24:

“Dan biarkanlah laut itu tenang. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan.”

3. Ujian Ibunda Hajar

Ibunda Hajar menunjukkan tawakal yang luar biasa saat ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah Mekah yang tandus bersama bayi Ismail tanpa perbekalan air dan makanan.

Titik Balik dan Pertanyaan Iman

  • Pertanyaan Hajar: Ketika Nabi Ibrahim berjalan pergi tanpa menoleh, Hajar mengikuti dan bertanya apakah ini perintah Allah.
  • Jawaban Ibrahim: Nabi Ibrahim menjawab “Ya” (Naam).
  • Keyakinan Hajar: Mendengar jawaban itu, Hajar langsung tenang dan berkata bahwa Allah tidak akan menelantarkan mereka.

Usaha dan Ikhtiar (Sa’i)

  • Kehausan Ismail: Persediaan air habis dan bayi Ismail menangis kehausan.
  • Bolak-balik Shafa-Marwah: Hajar berlari kecil mendaki Bukit Shafa lalu ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari pertolongan.
  • Mukjizat Air Zamzam: Usaha maksimal Hajar dibalas Allah dengan munculnya mata air Zamzam dari hentakan kaki Ismail (atau Malaikat Jibril).

Kisah ini diabadikan umat Islam dalam rukun haji dan umrah melalui ibadah sa’i, mengajarkan bahwa beliau bersandar sepenuhnya pada sifat Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Memelihara, sehingga rasa takut dan cemas seketika hilang setelah mengetahui bahwa situasi tersebut adalah perintah-Nya dan tawakal harus disertai ikhtiar yang gigih.

Demikianlah kisah-kisah yang menunjukkan pengaruh akidah yang kuat terhadap kekuatan mental seorang hamba.

Poster:

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم