بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Pulanglah sebelum Engkau Dipanggil Pulang
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Selasa, 19 Rabi’ul Awal 1448 / 01 September 2026
🕰 | Waktu: 09:00 WQ | 13:00 WIB
🕌 | Tempat: Masjid Amir bin Jundub Doha Qatar
atau
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat hadir dalam majelis ilmu.
Semakin sulit seseorang beribadah, seperti menghadiri majelis ilmu, pada waktu-waktu yang seseorang hanya fokus pada dunia (seperti waktu pagi yang produktif dimana orang bekerja) memiliki nilai pahala yang lebih besar daripada waktu lainnya, dan ini memiliki keutamaan khusus.
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ
“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.”
(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Bertaubatlah sebelum kematian menjemputmu.
Pulanglah sebelum Engkau Dipanggil Pulang bermakna kematian dan taubat. Artinya: Bertaubatlah sebelum kematian menjemputmu.
Sebagaimana firman Allah ﷻ :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ
Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. (Al-Inshiqaq: 6).
Sebagaimana peringatan Allah ﷻ tatkala memperingatkan Adam di dalam surga. Dalam Surat Thaha Ayat 117 Allah ﷻ berfirman:
فَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰٓ
Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.
Dalam ayat ini Allah ﷻ menurunkan Adam dari surga ke bumi dan disebut sebagai celaka, karena perbandingannya adalah surga. Dimana perbandingan dunia dan surga sangatlah jauh. Dan dunia adalah tempatnya musibah atau ujian, maka setiap orang akan merasakan capek atau lelah dalam menghadapi ujian hidup.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Surat Al-Baqarah Ayat 281:
وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)
Said Bin Jubair Radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa ayat ini turun 9 hari sebelum kematian Nabi ﷺ.
Dan cara Al-Qur’an mengingatkan akhirat adalah dengan adanya harapan dan rasa takut agar menjadi lebih waspada. Disinilah setiap hamba-Nya diwajibkan untuk mempersiapkan diri.
Siapapun Harus Bertaubat
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar Ayat 53:
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣
qul yâ ‘ibâdiyalladzîna asrafû ‘alâ anfusihim lâ taqnathû mir raḫmatillâh, innallâha yaghfirudz-dzunûba jamî‘â, innahû huwal-ghafûrur-raḫîm
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini menegaskan bahwa siapapun dan berapapun dosanya, sangat layak untuk bertaubat.
Secara Bahasa, at-Taubah berasal dari kata تَوَبَ yang bermakna kembali. Dia bertaubat, artinya ia kembali dari dosanya (berpaling dan menarik diri dari dosa).
Taubat adalah kembali kepada Allâh dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allâh Azza wa Jalla .
Maka, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi taubatnya seorang hamba. Sebagaimana kisah seseorang yang membunuh 99 orang. Ia mendatangi seorang rahib (ahli ibadah yang tidak berilmu) dan bertanya apakah dosanya bisa diampuni. Sang rahib menjawab tidak bisa karena dosanya terlalu besar. Karena putus asa, ia lalu membunuh rahib tersebut, sehingga genaplah jumlah korban pembunuhannya menjadi 100 orang.
Ia tetap ingin bertaubat lalu bertanya lagi kepada seorang yang alim (berilmu). Orang alim tersebut menyatakan bahwa pintu taubat masih terbuka lebar dan tidak ada yang bisa menghalanginya untuk bertaubat. Sang alim menyarankan agar ia meninggalkan desanya yang buruk, hingga Allah ﷻ menentukan takdirNya hingga dimasukan ke dalam surga.
Kisah seorang lelaki lanjut usia bersama Imam Fudhail bin ‘Iyadh (187 H) rahimahullahu ta’ala.
Suatu hari Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan seorang orang tua dan bertanya kepadanya, “Berapa usiamu yang telah engkau lalui?” Orang tua itu menjawab, “60 tahun!”.
Fudhail lantas berkata, “Itu berarti semenjak 60 tahun perjalanan hidupmu menuju Rabbmu, maka kini engkau sudah hampir sampai.”
Orang itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.” (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sungguh kita akan kembali kepadaNya) -seakan akan ia mengatakan, bahwa semua kita memang akan kembali kepada Allah.
“Apa engkau memahami maksud kalimat itu?” tanya Fudhail. Ia lalu melanjutkan, “Maksud perkataanmu, ‘Aku adalah hamba milik Allah, dan akan kembali kepadaNya’, ialah :
Siapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya; maka sadarilah bahwa ia pasti akan diberdirikan di hadapan pengadilan Allah. Dan bila ia menyadari bahwa ia akan diberdirikan di hadapan pengadilan Allah; maka hendaknya dia menyadari bahwa ia pasti akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya).
Dan kalau ia sudah menyadari bahwa ia akan ditanya; maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.”
Orang itu berkata, “Bila demikian, apa yang bisa dilakukan (adakah jalan keluar)?”
Fudhail menjawab, “Mudah saja!”
تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ
“Berbuat baiklah di sisa usiamu, dengan itu akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Karena jika kamu masih rajin bermaksiat di sisa usiamu maka kamu akan dihukum karena dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang.”
(Hilyah Al Awliya’, 8/113).
Kisah ini membawa pesan universal yang melampaui ruang dan waktu. Dalam usia berapa pun kita berada, maka itulah sisa usia kita, ada satu pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur: apa yang telah kita siapkan untuk kehidupan setelah dunia?
Dunia ini adalah bagian perjalanan panjang yang akhirnya nanti akan menuju jannah atau menuju neraka, oleh karena itu seorang mukmin diantara cirinya adalah senantiasa bersiap-siap menyiapkan bekal untuk menempuh perjalanan yang sangat panjang.
Taubat Hamba Diapit Dua Taubat dari Allah
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Madarijus Salikin:
وَتَوْبَةُ الْعَبْدِ إِلَى اللَّهِ مَحْفُوفَةٌ بِتَوْبَةٍ مِنَ اللَّهِ عَلَيْهِ قَبْلَهَا، وَتَوْبَةٍ مِنْهُ بَعْدَهَا، فَتَوْبَتُهُ بَيْنَ تَوْبَتَيْنِ مِنْ رَبِّهِ، سَابِقَةٌ وَلاَحِقَةٌ، فَإِنَّهُ تَابَ عَلَيْهِ أَوَّلًا إِذْنًا وَتَوْفِيقًا وَإِلْهَامًا، فَتَابَ الْعَبْدُ، فَتَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ ثَانِيًا، قُبُولًا وَإِثَابَةً (مَدَارِجُ السَّالِكِينَ)
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa taubat seorang hamba kepada Rabb-nya selalu diapit oleh dua bentuk taubat dari Allah. Pertama adalah taubat Allah yang mendahului taubat hamba, dan kedua adalah taubat-Nya setelah hamba itu kembali.
Artinya, taubat seorang hamba berada di antara dua bentuk kasih sayang dari Allah:
- Allah lebih dulu menerima taubatnya melalui ilham, izin, dan taufik, lalu hamba itu bertaubat,
- kemudian Allah menerima taubat itu sebagai bentuk rahmat dan ganjaran.
Inilah Makna dari Nama Allah At-Tawwab. Allah Ta‘ālā berfirman:
وَعَلَى ٱلثَّلَـٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوٓا۟ أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
“Dan (Allah juga menerima taubat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan (perkaranya), hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit, serta mereka yakin bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah kecuali kembali kepada-Nya. Lalu Allah menerima taubat mereka agar mereka bertaubat. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118)
Perhatikan bagaimana Allah menyebut bahwa Dia menerima taubat mereka terlebih dahulu agar mereka bisa bertaubat. Artinya, taubat yang mereka lakukan adalah buah dari kasih sayang Allah yang lebih dulu turun kepada mereka.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa: Seorang hamba tidak akan bisa bertaubat kecuali setelah Allah memberi izin dan taufik. Dan Allah pula yang akan menerima dan menolong setelah hamba itu kembali.
Hidayah untuk bertaubat melalui dua respon dalam hati seorang hamba:
- Respon baik akan menjadikan seorang hamba bertaubat dan menyesali dosa-dosanya.
- Respon buruk akan menghalangi hati untuk bertaubat dan pemicunya akan hilang, karena saat nurani berbicara tidak di dengarnya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal Ayat 24:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ ٢٤
yâ ayyuhalladzîna âmanustajîbû lillâhi wa lir-rasûli idzâ da‘âkum limâ yuḫyîkum, wa‘lamû annallâha yaḫûlu bainal-mar’i wa qalbihî wa annahû ilaihi tuḫsyarûn
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
Maka, taubat itu sesungguhnya berasal dari Allah ﷻ yang memicu seseorang untuk hijrah. Maka, jangan ujub setelah hijrah, merasa berjasa karena taubatnya. Karena hakikatnya peluang taubat berasal dari Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 17:
يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْاۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْۚ بَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٧
yamunnûna ‘alaika an aslamû, qul lâ tamunnû ‘alayya islâmakum, balillâhu yamunnu ‘alaikum an hadâkum lil-îmâni ing kuntum shâdiqîn
Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang benar.”
Dalam surat At-Taubah ayat 18 di atas, ada tiga kata taubat:
1. Tsumna taaba alaihim ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ : dari Allah ﷻ
2. Liyaatubu – لِيَتُوبُوٓا۟: agar mereka bertaubat
3. Attawaabu – ٱلتَّوَّابُ: milik Allah ﷻ
Inilah makna dari taubat hamba diapit oleh dua taubat dari Allah.
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya).
فَصْلُ مَبْدَأِ التَّوْبَةِ وَمُنْتَهَاهَا
وَالتَّوْبَةُ لَهَا مَبْدَأٌ وَمُنْتَهًى، فَمَبْدَؤُهَا الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ بِسُلُوكِ صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيمِ الَّذِي نَصَبَهُ لِعِبَادِهِ، مُوَصِّلًا إِلَى رِضْوَانِهِ، وَأَمَرَهُمْ بِسُلُوكِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ، وَبِقَوْلِهِ: وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، وَبِقَوْلِهِ: وَهَدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهَدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ.
وَنِهَايَتُهَا الرُّجُوعُ إِلَيْهِ فِي الْمِعَادِ، وَسُلُوكُ صِرَاطِهِ الَّذِي نَصَبَهُ مُوَصِّلًا إِلَى جَنَّتِهِ، فَمَن رَجَعَ إِلَى اللَّهِ فِي هَذِهِ الدَّارِ بِالتَّوْبَةِ رَجَعَ إِلَيْهِ فِي الْمِعَادِ بِالثَّوابِ، وَهَذَا هُوَ أَ…
Pasal Taubat itu Memiliki Awal dan Akhir
Awalnya adalah kembali kepada Allah dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus, yang telah Dia tetapkan bagi hamba-hamba-Nya, yang mengarah kepada keridhaan-Nya. Dia telah memerintahkan mereka untuk mengikutinya, sebagaimana firman-Nya, Yang Maha Tinggi:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain.” (QS. Al-An’am:153)
Dan sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ،
“Dan sesungguhnya kamu akan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah, milik siapa segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi,” (QS. As-Syura:52-53)
dan sebagaimana firman-Nya:
وَهَدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهَدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ.
“Dan mereka telah diberi petunjuk kepada ucapan yang baik, dan mereka telah diberi petunjuk kepada jalan Yang Maha Terpuji.” (Al-Hajj:24)
Tujuan akhirnya adalah kembali kepada-Nya di Akhirat, dan mengikuti jalan-Nya yang telah Dia tetapkan, yang mengarah kepada Surga-Nya. Siapa pun yang kembali kepada Allah di dunia ini melalui taubat akan kembali kepada-Nya di Akhirat dengan pahala. Inilah tujuan akhirnya…
Poster
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم


