بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Mendidik Anak di Tengah Fitnah Zaman
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Senin, 18 Rabi’ul Awal 1448 / 31 Agustus 2026
🕰 | Waktu: 20:00 WQ | 00:00 WIB
🕌 | Tempat: Masjid At-Tawhid AKC no. 40 – Al-Khor Qatar



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat aman.

Dan bahkan Allah ﷻ menyandingkan nikmat aman ini dengan nikmat makanan. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Quraisy ayat 3-4:

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ. الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ

maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.

Dan nikmat lainya yang patut disyukuri adalah nikmat bergaul dengan orang-orang yang shalih dan keluarga yang baik. Sebagaimana disebut Allah ﷻ dalam ayat-Nya tentang kebaikan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu yang dikelilingi anggota dan tetangga yang masuk Islam.

Berkaitan dengan hal ini Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahqaf Ayat 15:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًاۗ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًاۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًاۗ حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۝١٥

wa washshainal-insâna biwâlidaihi iḫsânâ, ḫamalat-hu ummuhû kurhaw wa wadla‘at-hu kurhâ, wa ḫamluhû wa fishâluhû tsalâtsûna syahrâ, ḫattâ idzâ balagha asyuddahû wa balagha arba‘îna sanatang qâla rabbi auzi‘nî an asykura ni‘matakallatî an‘amta ‘alayya wa ‘alâ wâlidayya wa an a‘mala shâliḫan tardlâhu wa ashliḫ lî fî dzurriyyatî, innî tubtu ilaika wa innî minal-muslimîn

Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa ayat ini, menurut sebagian ulama turun berkaitan dengan keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu, Beliau masuk Islam dan bapak ibunya juga masuk Islam, yang jarang sahabat mendapatkan nikmat seperti ini.

Maka, bersyukurlah jika kita dikelilingi oleh keluarga dan kerabat yang muslim dan Ahlussunnah. Sehingga memungkinkan kembali berkumpul bersama di surgaNya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Tur Ayat 21:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Wallażīna āmanụ wattaba’at-hum żurriyyatuhum bi`īmānin alḥaqnā bihim żurriyyatahum wa mā alatnāhum min ‘amalihim min syaī`, kullumri`im bimā kasaba rahīn

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Ayat ini menjadi dasar bahwa salah satu anggota keluarga, bisa mengangkat derajat anggota keluarga yang lain di surga kelak, karena keshalihannya. Maka, jika kita tidak bisa menghadiahkan sesuatu yang istimewa di dunia kepada orang tua, kita harapkan dapat memberikan hadiah yang lebih baik daripada dunia dan seisinya, kelak di surga dengan cara menjadikan kita lebih shalih daripada mereka.

Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak-anaknya

Selanjutnya, kita akan membahas Kiat Mendidik Anak di Tengah Fitnah Zaman. Maka, di sini ada prinsip, kita tidak boleh shalih sendirian. Kita harus mengajak yang lain agar selamat dari neraka.

Dalam Surat At-Tahrim ayat 6 berisi perintah bagi orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Dalam ayat ini ada perintah menjaga keshalihan diri sendiri dan anggota keluarga. Maka, Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud yang membahas hukum-hukum, tata cara, dan panduan Islam dalam merawat serta mendidik anak:

Sebagian ulama mengatakan, bahwa kelak di hari kiamat Allah akan meminta pertanggung jawaban orang tua terhadap anaknya, sebelum Allah meminta pertanggung jawaban dari anak terkait orang tuanya. Sebagaimana anak punya kewajiban yang harus dia tunaikan kepada orang tuanya, orang tua juga punya kewajiban yang harus dia tunaikan kepada anaknya.

Maka, hal yang utama adalah mempersiapkan pertanggungjawaban terhadap apa yang nanti Allah ﷻ tanyakan. Sebagaimana Firman-Nya dalam surat Abasa ayat 34-36:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ۝٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ۝٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ۝٣٦

pada hari itu manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya.

Dan peran tanggung jawab ini bisa berkaitan Ushul (Orang tua ke atas) maupun furu’ (Anak – ke bawah) dan hawasy (ke samping atau daudara).

Dari ayat di atas, maka urutan kedekatan tanggung jawab secara nasab adalah anak, isteri, bapak, ibu kemudian saudara.

Maka, Faidah berkaitan dengan pembagian waris urutannya adalah:
1. Furu’
2. Ushul
3. Hawasy

Dalam ayat di atas, manusia yang lari dari ketiganya karena takut dimintai pertanggungjawaban. Karena manusia di sekitar kita akan menuntut di hari kiamat. Dimana, yang terdekat adalah anaknya.

Kemudian Ibnul Qoyim menyebutkan 2 ayat:

1. Firman Allah tentang perintah kepada anak untuk berbakti kepada orang tuanya,

ووصتينا الإنسان بو الديه خسݩا

Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanva. (QS, al-Ankabut: 8)

2. Firman Allah tentang tanggung jawab orang tua terhadap anaknya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Wahai orang vang beriman, Jagalah diri dan keluarga kalian dari neraka QS. at-Tahrim: 6).

Ayat yang kedua lebih ditekankan karena menggunakan perintah khusus buat Orang-orang yang beriman daripada ayat pertama yang bersifat umum.

Durhaka kepada Anak

Datang seorang bapak kepada Amirul Mukminin, Umar Radhiyallahu ‘anhu. Dia mengadukan anaknya yang durhaka kepadanya. Lalu Umar meminta anaknya didatangkan, kemudian beliau menasehati si anak agar tidak durhaka kepada orang tua.

Lalu anak ini balik bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak punya hak yang wajib ditunaikan ayahnya?’
“Betul.” jawab Umar.
“Apa saja kewajiban itu, wahai Amirul Mukminin?” tanya si anak.

Lalu Umar memberikan rincian,

أن ينتقي أمه، ويحسن اسمه، ويعلمه الكتاب (القرآن)

Hendaknya dia memilihkan ibu untuknya, memberi nama yang baik, dan mengajarkan al-Quran kepadanya.

“Wahai Amirul Mukminin, ayahku sama sekali tidak melakukan semua itu.”

Lanjut gugatan anak,

أما أمي فإنها زنجية كانت لمجوسي، وقد سماني جعلاً (جعراناً)، ولم يعلمني من الكتاب حرفاً واحداً

Ibuku wanita Zinjiyah, dulu milik orang Majusi. Ayahku memberi nama aku dengan Ju’l (kumbang), dan dia tidak pernah mengajarkan kepadaku satu hurufpun dari al-Quran.

Mendengar laporan ini, Amirul Mukminin menatap wajah si ayah sambal mengatakan,

أجئت إليّ تشكو عقوق ابنك، وقد عققته قبل أن يعقك، وأسأت إليه قبل أن يسيء إليك

Kamu datang untuk mengadukan sikap durhaka anakmu? Padahal kau telah durhaka kepadanya sebelum dia durhaka kepadamu. Kau telah berbuat jahat kepadanya sebelum dia berbuat jahat kepadamu.

Hak anak terhadap orang tua ada dua:
1. Materi berupa nafkah.
2. Pendidikan

Pendidikan di Zaman Fitnah

Batasan Fitnah

Fitnah adalah ujian yang beresiko terhadap keselamatan iman, memiliki beberapa bentuk seperti fitnah harta, informasi dan lainnya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 2-3:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ‏ ٢

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

وَلَقَدۡ فَتَـنَّا الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ​ فَلَيَـعۡلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ صَدَقُوۡا وَلَيَعۡلَمَنَّ الۡكٰذِبِيۡنَ‏ ٣

Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Maka, orang yang beriman akan diuji keimanannya dengan berbagai macam fitnah. Dan semakin jauh dari zaman kenabian, ilmu semakin diangkat, sehingga timbul berbagai macam fitnah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ العِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الهَرْجُ – وَهُوَ القَتْلُ القَتْلُ – حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ المَالُ فَيَفِيضَ»

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Nabi ﷺ bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai ilmu dicabut, banyak terjadi gempa bumi, waktu terasa lebih cepat, fitnah-fitnah bermunculan,dan merebak Al-Haraj -yaitu pembunuhan-pembunuhan-, sampai kalian dilimpahkan banyak harta dan berlebih. (Muttafaqun alaih).

Maka, semakin jauh dari kenabian maka potensi pemahaman terhadap ilmu yang merusak ke dalam hati akan semakin jauh. Dengan diicabutnya para ulama dari muka bumi.

Kita telah kehilangan Imam Ahmad, Syafi’i, Imam Bukhari dan banyak ulama lain yang telah menerangi manusia dengan ilmu. Dan mereka para ulama memiliki ulama lain yang banyak meskipun ada sebagian yang menonjol dibandingkan yang lain.

Maka dengan banyaknya ilmu yang berkurang, serta timbulnya banyak fitnah menjadikan manusia semakin jauh dari agama (lemahnya iman). Dan cara terbaik untuk menjaganya adalah dengan menghadiri majelis ilmu agar iman kita terjaga. Dengan menambah dan mengingat ilmu.

Potensi fitnah akhir zaman yang paling sangat berpengaruh adalah zaman berdekatan meskipun secara kenyataan, rotasi bumi tetaplah sama sejak alam semesta diciptakan, maknanya menurut para ulama: Cepatnya Informasi dan Hilangnya keberkahan waktu.

Cepatnya Informasi

Sehingga manusia sulit untuk membendungnya. Baik yang dia butuhkan ataupun tidak. Sementara ilmu agama terbatas.

Dan umumnya manusia lebih terbuka kepada berita daripada ilmu agama. Makanya, waktunya habis dimakan media sosial atau berita sampah atau hiburan lainnya. Maka, waktu habis bukan untuk menambah ilmu agama tetapi untuk mengakses berita.

Maka, sebagaimana hal ini berlaku untuk anak-anak, maka jadikan ia hal yang terbaik untuk diri kita sendiri.

Solusi: Belajar yang Sistematik

Buat target dengan kurikulum pribadi dan juga anak-anak dengan cara belajar yang sistematik (ta’shili).

Kebanyakan manusia lebih suka memikirkan masalah hidup daripada memikirkan pelajaran. Padahal, memikirkan masalah pelajaran akan menjadikan manusia lebih produktif.

Akibatnya, karena banyaknya informasi yang datang, kebanyakan orang lebih memilih mempelajari investasi dan ide masalah hidup lainnya, daripada mempelajari ilmu agama.

Meskipun mereka mempelajari ilmu agama, tidak pernah membekas di hati ataupun pikiran. Sebagai contoh, banyak penuntut ilmu yang bertahan puluhan tahun mengikuti program HSI. Tetapi jika ditanya hasilnya, Wallohu’alam… Banyak yang akhirnya lupa tidak membekas, karena targetnya hanya mengerjakan soal ujian saja.

Contoh kurikulum yang sistematik:

Dalam masalah fiqih:

1. Fiqih Ibadah:
– Thaharah
– Shalat
– Zakat
– Puasa
– Haji
2. Fiqih Muamalah, seperti jual beli.
3. Fiqih Keluarga
4. Fiqih Al-Qadha wal Jinayat

Kitab yang bisa menjadi rujukan:
1. Kitab Fiqih Muyassar yang Disusun oleh sekelompok ulama, antara lain Prof. Dr. Abdul Aziz Mabruk Al-Ahmadi dan tim.
2. Kitab Al-Wajiz fi Fiqhi As-Sunnah wal Kitab Al-Aziz: Karya Syaikh Abdul Azhim Badawi.

Dalam Masalah Aqidah:

1. Rukun iman dan rinciannya. Kitab yang bisa menjadi rujukan:
Syarah Rukun Iman karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah (3 jilid tebal)
– Ustadz Ammi Nur Baits Hafidzahullah juga menulis buku Pengantar Belajar Akidah. Berisi catatan tentang akidah, hal Ghaib dan rukun iman.

2. Hal Ghaibiyat: Tanda-tanda Hari Kiamat. Karena bagian ini banyak yang menyebarkan syubhat baik yang tidak percaya atau menyebarkan mitos.

3. Titik sengketa atau perbedaan Ahlussunnah dan kelompok yang menyimpang.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan kita dan menjadikan kita semua istiqamah dalam islam dan sunnah. Aamiin.

Poster

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم