بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Aqidah Hilang karena Perang
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Selasa, 19 Rabi’ul Awal 1448 / 01 September 2026
🕰 | Waktu: 20:00 WQ | 00:00 WIB
🕌 | Tempat: Masjid Amr bin Jundub Doha Qatar


 

 

 


Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat duduk di majelis ilmu.

Seseorang akan merasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disuarakan.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)

Dengan adanya sakinah, maka iman akan bertambah, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath Ayat 4:

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Huwallażī anzalas-sakīnata fī qulụbil-mu`minīna liyazdādū īmānam ma’a īmānihim, wa lillāhi junụdus-samāwāti wal-arḍ, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,

Indikator bertambahnya iman adalah :

1. Semakin mantap di dalam hati, yakin dan bertambahnya ketetapan hati. Inilah iman. Meskipun materi yang disampaikan selalu sama.

Sebagaimana Kisah Umm Hisyam bint Haritsah Radhiyallahu’anha yang menghafal al-Qur’an langsung dari lisan Nabi ﷺ ini sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Amrah bint Abdurrahman yang mendengar Umm Hisyam Radhiyallahu’anha, bahwa dia berkata:

عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُخْتٍ لِعَمْرَةَ قَالَتْ أَخَذْتُ ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ مِنْ فِى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهُوَ يَقْرَأُ بِهَا عَلَى الْمِنْبَرِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ (صحيح مسلم، رقم: 2049).

“Aku menghafal surat al-Qaf (langsung) dari lisan Rasulullah pada setiap Jum’at. Di mana baginda membacakanya di atas Mimbar setiap (khutbah) Jum’at”. (Sahih Muslim, no. 2049).

Ini menandakan sesuatu yang berulang dalam suatu majelis, masih akan memberikan faedah kepada pendengarnya.

2. Gembira mendapatkan informasi yang baru yang belum pernah didapat dari kajian lainnya. Hal ini akan menambah keimanan dan membuat seorang mukmin bergembira (inilah iman).

Firman-Nya dalam surat At-Taubah Ayat 124:

وَاِذَا مَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَادَتْهُ هٰذِهٖٓ اِيْمَانًاۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ ۝١٢٤

wa idzâ mâ unzilat sûratun fa min-hum may yaqûlu ayyukum zâdat-hu hâdzihî îmânâ, fa ammalladzîna âmanû fa zâdat-hum îmânaw wa hum yastabsyirûn

Apabila diturunkan suatu surah, di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun (bagi) orang-orang yang beriman, (surah yang turun) ini pasti menambah imannya dan mereka merasa gembira.

Maka, menarik apa yang diungkapkan sahabat Nabi ﷺ “Mari kita beriman sejenak” (atau “Ijlis bina nu’min sa’atan”) Yaitu perkataan masyhur dari sahabat Nabi, Mu’adz bin Jabal, yang mengajak sesama Muslim untuk duduk bersama mengingat Allah dan menyempurnakan keimanan.

Akidah Hilang Karena Perang

Yaitu mengambil faedah dari Perang Ahzab (Khandak). Disebut Perang Ahzab karena musuh bersekutu (konfederasi dari berbagai suku), dan disebut Perang Khandaq karena umat Islam membuat parit pertahanan.

Lokasi bekas Perang Khandaq terletak di sebelah utara dan barat laut pinggiran kota Madinah, Arab Saudi, dengan pusat pertahanan kaum muslimin berada di sekitar Gunung Sila’.

Dalam Pertempuran Khandaq, parit pertahanan kaum Muslimin digali membentang dari Syaikhain (kawasan di ujung wilayah Bani Haritsah / sebelah timur/utara) hingga berujung di daerah Madzad (di sebelah barat).

Secara geografis di sisi utara Kota Madinah, galian parit ini menghubungkan batas dari arah Harrat timur (ladang lava / perbukitan batu hitam timur) menuju ke Harrat barat, serta melewati sisi depan Gunung Sila’ (Jabal Sala’) yang dijadikan sebagai benteng perlindungan di belakang pasukan Islam.

Kisah Perang Khandaq

Berikut sekelumit kisah perang Khandaq yang ditulis oleh Ibnu Ishaq dalam Kitab al-Siyar wa al-Maghazi (yang populer dikenal sebagai Sirah Ibnu Ishaq).:

Dalam riwayat Ibnu Ishaq, beliau menyebutkan, Ketika Rasulullah ﷺ telah selesai menggali parit (khandaq), pasukan Quraisy datang hingga mereka singgah di daerah tempat bertemunya aliran-aliran air Asyal, dari arah Rūmah, al-Jurf, dan al-Ghābah. Jumlah mereka sekitar 10.000 orang, terdiri dari orang-orang yang bersekutu dengan Quraisy, serta orang-orang dari Bani Kinanah dan penduduk Tihamah yang mengikuti mereka.

Sementara itu, kabilah Ghathafan dan orang-orang dari Najd yang bergabung bersama mereka juga datang. Mereka kemudian singgah di daerah Dzanab Nuqmäh, di sebelah Gunung Uhud.

Rasulullah ﷺ bersama kaum Muslimin pun keluar hingga mereka menjadikan Gunung Sila’ berada di belakang mereka. Jumlah kaum Muslimin saat itu sekitar 3.000 orang. Rasulullah mendirikan perkemahan di sana, sedangkan parit berada di antara beliau dan pasukan musuh.

Beliau juga memerintahkan agar para wanita dan anak-anak ditempatkan di dalam benteng-benteng pertahanan.

Pengkhianatan Bani Quraizhah

Musuh Allah, Huyai bin Akhthab dari Bani Nadhir, keluar dan mendatangi Ka’ab bin Asad al-Qurazhi, pemimpin Bani Quraizhah yang memegang perjanjian dan kesepakatan mereka. Sebelumnya, Ka’ab telah membuat perjanjian damai dengan Rasulullah atas nama kaumnya dan berjanji untuk mematuhinya.

Ketika Ka’ab mendengar bahwa Huyai bin Akhthab datang, ia menutup bentengnya dan tidak mau membukakan pintu untuknya. Huyai meminta izin untuk masuk, tetapi Ka’ab menolak.

Huyai kemudian memanggilnya: “Wahai Ka’ab, bukakan pintu untukku.”

Ka’ab menjawab: “Celaka engkau, wahai Huyai! Engkau adalah orang yang membawa kesialan. Aku telah membuat perjanjian dengan Muhammad. Aku tidak akan mengingkari perjanjian antara aku dan dia. Aku tidak melihat darinya selain sikap menepati janji dan kejujuran.”

Huyai berkata: “Celaka engkau! Bukakan pintu untukku. Aku hanya ingin berbicara denganmu.”

Ka’ab menjawab: “Aku tidak akan melakukannya.”

Huyai berkata: “Demi Allah, engkau tidak menutup pintu untukku kecuali karena takut aku akan menghabiskan makananmu bersamamu!”

Mendengar perkataan itu, Ka’ab akhirnya membuka pintu dan membiarkannya masuk.

Huyai Berkata: “Demi Allah, engkau tidak menutup pintu untukku kecuali karena takut aku akan menghabiskan makananmu bersamamu!”

Mendengar perkataan itu, Ka’ab akhirnya membuka pintu dan membiarkannya masuk.

Huyai berkata:
“Celaka engkau, wahai Ka’ab! Aku datang kepadamu membawa kejayaan sepanjang masa dan lautan yang melimpah. Aku datang kepadamu membawa pasukan Quraisy beserta para pemimpin dan tokoh mereka.
Mereka telah aku tempatkan di daerah tempat bertemunya aliran-aliran air Asyal, dari Rūmah. Aku juga datang membawa pasukan Ghathafan beserta para pemimpin dan tokoh mereka. Mereka telah aku tempatkan di Dzanab Nuqmāh, di sebelah Uhud. Mereka semua telah berjanji dan membuat kesepakatan denganku bahwa mereka tidak akan meninggalkan tempat ini sampai mereka benar-benar menghancurkan Muhammad dan orang-orang yang bersamanya.”

Ka’ab bin Asad menjawab:

“Demi Allah, engkau justru datang kepadaku membawa kehinaan sepanjang masa dan awan kosong yang telah menumpahkan airnya bersama petir dan kilat, tetapi tidak menyisakan apa pun. Biarkan aku bersama Muhammad dan apa yang telah aku sepakati dengannya. Aku tidak melihat dari Muhammad selain kejujuran dan kesetiaan.”

Namun Huyai bin Akhthab terus membujuk Ka’ab dengan berbagai cara, hingga akhirnya Ka’ab bersedia mengikutinya. Huyai bahkan memberikan janji dan sumpah atas nama Allah kepadanya:

“Jika Quraisy dan Ghathafan kembali dan tidak berhasil membunuh Muhammad, aku akan masuk bersamamu ke dalam bentengmu. Aku akan tetap bersamamu sampai aku mengalami apa yang kamu alami.”

Akhirnya Ka’ab bin Asad mengingkari perjanjiannya dan melepaskan diri dari perjanjian yang sebelumnya telah dibuat antara dirinya dan Rasulullah .

Rasulullah Memastikan Berita Pengkhianatan

Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah dan kaum Muslimin, beliau mengutus Sa’ad bin Mu’adz dari Bani Abdul Asyhal-yang saat itu merupakan pemimpin Aus-dan Sa’ad bin Ubadah dari Bani Sa’idah-yang saat itu merupakan pemimpin Khazraj.

Beliau juga mengutus Abdullah bin Rawahah, dari Bani al-Harits bin Khazraj, dan Khawwat bin Jubair, dari Bani Amr bin Auf.

Rasulullah bersabda kepada mereka:

“Pergilah dan periksalah keadaan mereka. Apakah berita yang sampai kepada kita tentang mereka benar atau tidak? Jika benar, sampaikan kepadaku dengan bahasa sindiran yang hanya aku yang memahaminya.
Jangan sampai kalian membuat orang-orang menjadi takut. Namun jika mereka masih menepati perjanjian antara kita dan mereka, umumkanlah hal itu dengan jelas kepada semua orang.”

Mereka pun berangkat hingga sampai kepada Bani Quraizhah. Mereka mendapati bahwa keadaan mereka ternyata lebih buruk daripada berita yang telah sampai kepada kaum Muslimin.

Mereka bahkan mencela Rasulullah dan berkata:

“Tidak ada lagi perjanjian antara kami dan Muhammad, dan tidak ada lagi ikatan perjanjian antara kami dengannya.”

Sa’ad bin Ubadah kemudian mencaci mereka dan mereka pun membalas mencacinya. Sa’ad memang dikenal sebagai orang yang tegas dan mudah terbawa emosi.

Melihat hal itu, Sa’ad bin Mu’adz berkata kepadanya:

“Tinggalkan saling mencaci dengan mereka. Hubungan antara kita dan mereka lebih serius daripada sekadar saling mencaci.”

Kemudian Sa’ad bin Mu’adz, Sa’ad bin Ubadah, dan orang-orang yang bersama mereka kembali kepada Rasulullah ﷺ. Mereka mengucapkan salam kepada beliau, lalu menyampaikan bahwa Bani Quraizhah telah melakukan pengkhianatan.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda: “Allahu Akbar! Bergembiralah, wahai kaum Muslimin!”

Ujian Semakin Berat

Pada saat itu, ujian yang menimpa kaum Muslimin menjadi semakin berat dan ketakutan semakin memuncak.

Musuh datang menyerang mereka dari atas dan dari bawah, sehingga orang-orang yang beriman mengalami berbagai macam prasangka dan kekhawatiran.

Allah berfirman,

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظْنُّونَ بِاللهِ الظُّنُونَا () هُنَالِكَ ابْتُلِي الْمُؤْمِنُونَ وَزُلزِلُوا زِلْزَالا شَدِيدًا

“Ketika mereka datang kepada kalian dariatas kalian dan dari bawah kalian, dan ketika pandangan mata terbelalak dan hati sampai ke tenggorokan, serta kalian berprasangka yang bermacam-macam terhadap Allah. Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 10-11)

Keterangan:

  • Musuh datang dari atas kalian :

أي: من فوق الوادي من قبل المشرق، وهمرأسد، وغطفان، وعليهم مالك بن عوف النصري وعيينة بن حصن الفزاري في ألف من غطفان، ومعهم طلیحة بن خویلد الأسدي في بني أسد وحيي بن أخطب في يهود بني قریظة

Yaitu: mereka datang dari atas lembah, dari arah timur. Mereka adalah Bani Asad dan Bani Ghathafan. Pemimpin mereka adalah Malik bin Auf an-Nashri dan ‘Uyainah bin Hishn al-Fazari, bersama sekitar seribu orang dari Ghathafan.

Bersama mereka juga terdapat Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi yang
memimpin Bani Asad, serta Huyai bin Akhthab yang bersama orang-orang Yahudi dari Bani Quraizhah.

  • Musuh datang dari arah bawah kalian:

یعني: من بطن الوادي، من قبل المغرب، وهم قریش وکنانة، علیهم أبو سفیان بن حرب في قریش ومن تبعه، وأبو الأعور عمرو بن سفيان السلمي من قبل الخندق

Maksudnya: mereka datang dari bagian bawah lembah, dari arah barat. Mereka adalah kaum Quraisy dan Kinanah. Pasukan Quraisy dan orang-orang yang mengikuti mereka dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb, sedangkan Abu al-A’war ‘Amr bin Sufyan as-Sulami berada di pihak mereka dari arah parit Khandaq.

Pada saat itu pula, kemunafikan mulai tampak dari sebagian orang munafik.

Mu’attib bin Qusyair, dari Bani Amr bin Auf, berkata:

كان محمد يعدنا أن نأكل کنوز کسری وقیصر، وأحدنا لا يقدر أن یذهب إلی الغائط، ما وعدنا الله ورسوله إلا غرورا

‘Muhammad pernah menjanjikan kepada kita bahwa kita akan memakan
harta kekayaan Kisra dan Kaisar. Padahal sekarang, kita saja tidak mampu pergi untuk buang hajat dengan aman. Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kita apa pun selain sesuatu yang menipu.’

Allah ﷻ berfirman,

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

“(ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipuan belaka.” (QS. Al-Ahzab: 12)

{وإذ قالت طائفة منهم} أي: من المنافقین، وهم أوس بن قیظي وأصحابه، {یا أهل يثرب لا مقام
لکم} أي: لا مکانه لكم تنزلون وتقیمون فیه، {فارجعوا} ؛ إلی منازلكم عن اتباع محمد صلى الله عليه وسلم، وقیل: عن القتال إلی مساکنکم

“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata”, yaitu orang-orang munafik, di antaranya Aus bin Qaidzi dan orang-orang yang
bersamanya:

“Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagi kalian untuk tinggal.” Maksudnya, tidak ada tempat yang aman bagi kalian untuk menetap dan bertahan di sana.

“Maka kembalilah kalian.” Maksudnya, kembalilah ke rumah-rumah kalian dan tinggalkan mengikuti Muhammad ﷺ.

Ada pula yang menafsirkan: kembalilah dari peperangan ke rumah-rumah kalian.

Demikian pula sebagian orang Munafik berkata kepada Rasulullah di hadapan sejumlah orang dari kaumnya: “Wahai Rasulullah, rumah-rumah kami berada dalam keadaan terbuka dan tidak terlindungi dari serangan musuh. Karena itu, izinkan kami kembali ke rumah kami, sebab rumah-rumah kami berada di luar Madinah.”

Allah berfirman,

وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيْقٌ مِّنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُوْلُوْنَ اِنَّ بُيُوْتَنَا عَوْرَةٌۗ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍۗ اِنْ يُّرِيْدُوْنَ اِلَّا فِرَارًا ۝١٣

Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi (untuk kembali), seraya berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terlindungi).’ Padahal rumah-rumah itu tidaklah terbuka. Mereka hanyalah hendak melarikan diri.” (QS. Al-Ahzab: 13)

Al-Baghawi mengatakan,

{ويستأذن فريق منهم النبي} وهم بنو حارثة وبنو سلمة، {يقولون إن بيوتنا عورة} أي: خالية ضائعة، وهو مما يلي العدو نخشى عليها السراق

“Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi”, yaitu Bani Haritsah dan Bani Salamah.

“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami dalam keadaan terbuka.'”

Maksudnya, rumah-rumah kami kosong dan tidak ada yang menjaganya, karena letaknya berada di sisi yang dekat dengan musuh. Mereka khawatir rumah-rumah tersebut akan dimasuki dan dicuri oleh para pencuri.

Mereka masih memikirkan keselamatan harta pribadi, di saat ada ancaman serius terhadap keselamatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Iman Para Sahabat semakin Bertambah

Saat para sahabat melihat pasukan ahzab yang demikian banyak, mereka merasa pertolongan Allah telah dekat. Keberanian mereka untuk berkorban jiwa dan raga semakin meningkat, di saat itulah iman mereka semakin bertambah.

Allah berfirman,

وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا

“Ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu (pasukan Ahzab), mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

Ketika kaum mukminin melihat pasukan Ahzab yang datang mengepung Madinah, mereka tidak menjadi takut atau ragu terhadap janji Allah. Sebaliknya, mereka meyakini bahwa kedatangan musuh tersebut memang bagian dari apa yang telah Allah dan Rasul-Nya ﷺ kabarkan. Janji itu disebutkan dalam firman Allah,

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncangkan dengan berbagai cobaan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).

Para Sahabat – Selalu Dalam Siaga Jihad

Dalam hati mereka tersimpan keinginan untuk jihad. Mereka selalu siaga, siap menyerahkan nyawanya demi agama.

Allah berfirman,

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌۭ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًۭا ٢٣

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah menunaikan janjinya dengan gugur (syahid), dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu. Mereka sama sekali tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab: 23)

Al-Baghawi mengatakan,

أي: قاموا بما عاهدوا الله علیه ووفوا به، {فمنهم من قضی نحبه} أي: فرغ من نذره، ووفی بعهده، فصبر على الجهاد حتى استشهد، والنحب: النذر، والنحب: الموت أيضا، قال مقاتل: “قضی نحبه” يعني: أجله فقتل على الوفاء، يعني حمزة وأصحابه. وقيل: “قضى نحبه” أي: بذل جهده في الوفاء بالعهد .. {ومنهم من ينتظر} الشهادة.

Maksudnya: Mereka melaksanakan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah dan menepatinya. “Di antara mereka ada yang telah menunaikan janjinya.” Maksudnya, ia telah menyelesaikan apa yang menjadi nazarnya dan memenuhi janjinya. Ia bersabar dalam berjihad hingga akhirnya gugur sebagai syahid.

Kata (an-nahb) memiliki beberapa makna, yaitu nazar atau janji yang harus ditunaikan. Kata ini juga dapat bermakna kematian.

Muqātil berkata:  “(telah menunaikan janjinya)” maksudnya adalah telah sampai ajalnya, lalu ia terbunuh dalam keadaan tetap memenuhi janjinya. Contohnya adalah Hamzah dan para sahabatnya. Ada pula yang mengatakan bahwa makna Qadha nahbahu adalah telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memenuhi janji tersebut.

Adapun firman Allah: “Dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu”, maksudnya adalah menunggu kesempatan untuk mendapatkan syahid.

💡 Faedah Shirah:

Sesuai dengan apa yang dikabarkan Nabi ﷺ, bahwa keberadaan seorang anak berpotensi kuat memicu sifat bakhil (pelit) dan penakut pada diri orang tuanya.

إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مَحْزَنَةٌ

“Sesungguhnya anak itu (dapat menjadi penyebab) kebakhilan, sikap penakut, kebodohan, dan kesedihan.”

(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Al-Hakim, dan termaktub pula oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad. Status hadits ini adalah Shahih).

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «من مات ولم يَغْزُ، ولم يُحدث نفسه بالغزو، مات على شُعْبَةٍ من نِفَاقٍ»
[صحيح] – [رواه مسلم]

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak pernah berperang (di jalan Allah), dan tidak pernah berniat untuk berperang, maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan.”

[Hadis sahih] – [Diriwayatkan oleh Muslim]

Yakni, dia sendiri tidak membicarakan perang dalam hatinya. Artinya tidak bertekad untuk berjihad maka hal itu mengandung kemunafikan. Salah satu tandanya secara lahir ialah mempersiapkan peralatan perang.

Maka seorang mukmin hatinya ada dua keadaan:
1. Menunaikan kesanggupannya untuk berperang.
2. Siap siaga untuk selalu siap jika ada panggilan perang.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 23:

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا

Arab-Latin: Minal-mu`minīna rijālun ṣadaqụ mā ‘āhadullāha ‘alaīh, fa min-hum mang qaḍā naḥbahụ wa min-hum may yantaẓiru wa mā baddalụ tabdīlā

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),

Di antara kaum mukminin ada orang-orang yang jujur kepada Allah, mereka menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah berupa keteguhan dan kesabaran saat berjihad di jalan Allah. Di antara mereka ada yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah, dan di antara mereka ada yang menunggu mati syahid di jalan-Nya. Orang-orang yang beriman ini tidak merubah apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, tidak sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang munafik terhadap janji-janji mereka. (Tafsir Mukhtashar).

Jika Ada Ancaman Perang

Biasanya akan timbul ketakutan:
1. Ekonomi: kurang gaji atau PHK.
2. Kehilangan nyawa.

Jika poin pertama di atas saja, kita sudah ketakutan, maka kita bisa mengukur kualitas keimanan dibandingkan dengan apa yang Allah ﷻ khabarkan dalam surat Al-Ahzab di atas.

Itulah keutamaan sahabat Nabi ﷺ, ujian yang mereka terima luar biasa. Maka, benar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu bahwa kenapa para sahabat dipilih Allah ﷻ untuk membantu perjuangan manusia terbaik Nabi ﷺ.

Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.”

(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanadnya shohih).

Zuhud Terhadap Harta

Kita simak perkataan Imam Ahmad berikut. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (2: 11) menyebutkan,

وقال الإمام أحمد الزهد في الدنيا قصر الأمل وعنه رواية أخرى : أنه عدم فرحه بإقبالها ولا حزنه على إدبارها فإنه سئل عن الرجل يكون معه ألف دينار هل يكون زاهدا فقال : نعم على شريطة أن لا يفرح إذا زادت ولا يحزن إذا نقصت

“Imam Ahmad berkata mengenai zuhud di dunia adalah sedikit angan-angan. Dalam riwayat lainnya disebutkan, “Ketika mendapatkan sesuatu tidaklah terlalu bergembira. Ketika luput dari sesuatu tidaklah bersedih.”

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seseorang yang memiliki uang 1000 dinar (2,5 Milyar rupiah). Apakah ia bisa disebut sebagai orang yang zuhud? Jawab beliau, “Iya, bisa saja asalkan ia tidaklah terlalu berbangga bertambahnya harta dan tidaklah terlalu bersedih harta yang berkurang.”

Maka, jangan sampai kita menjadi pengecut hanya karena takut berkurangnya harta (Misalkan karena perang). Jika ada, barangkali ada sifat kemunafikan di dalam dada kita…!

Antara Butuh Harta dan Cinta Harta

Butuh harta memposisikan kekayaan sebagai alat untuk bertahan hidup dan beribadah, sedangkan cinta harta menjadikannya sebagai tujuan akhir yang melalaikan.

Ibnu Taimiyah dalam kitab Az-Zuhd wal Wara’ menjelaskan bagaimana seorang Muslim seharusnya memandang harta:

“Hendaknya seseorang mengambil harta dengan jiwa yang qana’ah (tidak tamak) agar diberkahi. Jangan mengambilnya dengan ambisius dan rasa takut kekurangan. Jadikanlah harta di sisinya seperti toilet yang dia butuhkan, tanpa ada posisi sedikit pun di dalam hatinya.”

Maka: Memiliki harta yang melimpah itu tidak dilarang dalam Islam, asalkan posisinya diletakkan di tangan (alat) untuk beramal, bukan di hati (tujuan utama). Harta harus diperlakukan seperti toilet: fungsional, dibutuhkan, tetapi tidak untuk dicintai secara emosional.

Kesimpulannya: Jika akidah hilang karena perang, seperti karena takut kehilangan keluarga dan harta, maka bisa jadi ada bibit kemunafikan di dalam hati kita. Na’udzubillahmindalik.

Poster

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم