بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Belajar Tawakkal
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Kamis, 21 Rabi’ul Awal 1448 / 03 September 2026
🕰 | Waktu: 09:00 WQ | 13:00 WIB
🕌 | Tempat: Masjid Al-Abdullah no. 1235 Wakra Qatar



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan menjelaskan bahwa tawakkal dipengaruhi oleh akidah seseorang. Ada kelompok yang menyimpang dalam masalah takdir, yaitu qodariyah dan Jabriyah. Akibatnya mereka salah dalam menyikapi masalah tawakkal.

Bahkan kelompok Jabriyah tidak mengakui adanya hikmah, seperti adanya surga dan neraka, atau penciptaan lainya.

Sementara kelompok Qodariyah berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan penuh dan menciptakan sendiri perbuatannya tanpa campur tangan atau kehendak dari Allah ﷻ.

Maka Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, yang mencela kelompok pengingkar Takdir, bahwa Qodariyah adalah Majusi umat ini.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di sunannya, 4691 bab Al-Qadar.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضِي الله عنْهُما عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، إِنْ مَرِضُوا فَلا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلا تَشْهَدُوهُمْ )

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma dari Nabi sallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Al-Qadariyah adalah majusi umat ini, kalau mereka sakit jangan dikunjungi. Kalau mereka meninggal dunia, jangan disaksikan (jenazahnya).

HR. Hakim, 286. Baihaqi, 21391. Tabrani di ‘Al-Ausath, 2494. Al-Bagowi di Syakh As-Sunnah, 1/78.

Kaum Majusi meyakini adanya dua pencipta atau kekuatan utama yang mengatur alam semesta, yaitu pencipta kebaikan dan pencipta keburukan.

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang demikian itu karena orang-orang Qadariyah berkeyakinan bahwa perbuatan baik yang terjadi di alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Sedangkan perbuatan buruk yang terjadi di alam semesta ini bukan atas kehendak Allah dan bukan ciptaan Allah, namun ciptaan makhluk sendiri.

Dengan demikian, mereka mirip seperti orang Majusi yang meyakini ada dua Tuhan, pencipta kebaikan dan pencipta keburukan.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah ﷻ berkuasa atas segala sesuatu. Allah ﷻ berfirman

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ ۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

”Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (Al-Mulk ayat 1).

Dan kita meyakini bahwa manusia memiliki kehendak atas kehendak Allah ﷻ:

Firman-Nya dalam Surat At-Takwir Ayat 29:

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَࣖ ۝٢٩

Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Maka, manusia mempunyai kehendak dan keinginan yang dikehendaki Allah ﷻ.

Hakikat bahagia

Kita meyakini bahwa siapapun yang hidup di dunia ini akan mengalami musibah. Dan setiap orang memiliki kehendak untuk hidup bahagia.

Seseorang disebut muflihun (sukses) ketika hidup di dunia terpenuhi 2 kriteria:

  1. Mendapatkan apa yang diinginkan
  2. Terhindar dari potensi bahaya yang dikhawatirkan

Kenyataannya, manusia akan selalu menghadapi aneka rintangan ketika ingin mendapatkan apa yang diharapkan dan selalu dihantui dengan peluang terjadinya musibah. Sehingga dalam hidup, manusia selalu diiringi dengan masalah.

Hakikat Kehidupan, Ajal, dan Angan-angan Manusia

Dalam hadits sahih riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menggunakan metode visual (gambar di atas tanah) berupa persegi empat (segi empat) untuk menjelaskan hakikat kehidupan, ajal, dan angan-angan manusia.

Hadits Abdullah bin Mas’ud

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:

خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا

“Nabi ﷺ pernah membuat suatu garis persegi empat, dan menggaris tengah dipersegi empat tersebut, dan satu garis di luar garis segi empat tersebut, serta membuat beberapa garis kecil pada sisi garis tengah dari tengah garis tersebut. Lalu beliau bersabda: ‘Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya yang telah mengitarinya atau yang mengelilinginya dan yang di luar ini adalah cita-citanya, sementara garis-garis kecil ini adalah rintangan-rintangannya, jika ia berbuat salah, maka ia akan terkena garis ini, jika berbuat salah lagi maka garis ini akan mengenainya.”

Ilustrasi & Makna Gambar

Rasulullah ﷺRasulullah ﷺ kemudian menjelaskan filosofi dari komponen gambar segi empat tersebut kepada para sahabat:

  • Titik/Garis di Tengah: Melambangkan Manusia itu sendiri.
  • Kotak Persegi Empat: Melambangkan Ajal (Kematian) yang mengelilingi dan membatasi ruang gerak manusia. Manusia tidak akan pernah bisa keluar atau lolos dari kotak ini.
  • Garis Panjang yang Keluar Kotak: Melambangkan Angan-angan (Cita-cita/Harapan) manusia yang sangat panjang, bahkan melampaui batas umurnya sendiri.
  • Garis-Garis Kecil di Dalam Kotak: Melambangkan Rintangan Hidup (Ujian/Penyakit). Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika ia luput dari rintangan yang ini, ia akan terkena rintangan yang lain. Jika luput dari yang lain, ia akan diterkam oleh rintangan yang berikutnya.”

Pelajaran Utama

Hadits ini adalah bentuk metode pengajaran visual terbaik dari Nabi ﷺ untuk mengingatkan manusia agar tidak terlena oleh angan-angan duniawi yang tanpa batas, sebab kematian (kotak segi empat) selalu mengintai dan membatasi usia kita.

Islam Mengajarkan Tawakkal

Di saat yang sama, manusia memiliki aneka keterbatasan, sehingga banyak masalah tidak bisa dia selesaikan. Jika ini terus dipikirkan maka akan menjadi beban bagi batinnya. Ketika beban itu semakin berat, mereka akan mengalami stress, hingga gangguan jiwa.

Dari sinilah Islam mengajarkan sikap tawakkal, agar manusia menyerahkan beban hidupnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa dalam mengatur segalanya. Agar tidak menjadi tekanan batin baginya. Oleh karena itu, jika kita renungkan,

“Tawakkal adalah anugrah besar bagi hamba, sebab ada banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan manusia.”

Tawakkal itu Iman

Allah berfirman,

وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Bertawakkallah kalian hanya kepada Allah, jika kalian beriman.” (QS. al-Maidah: 23)

Said bin Jubair mengatakan,

التَوَكل جِمَاع الإِيمَانِ

“Tawakkal adalah poros iman.” (Riwayat Ibnu Abid Dunya)

Karena itulah kondisi seorang mukmin dalam menjalani kehidupan. Baik dalam urusan agama maupun dunianya. Ketika ibadah, mereka diajarkan tawakkal, Allah berfirman,

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

“Beribadahlah kepada-Nya dan bertawakkallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123)

Dalam urusan dunia dan rizki, mereka juga diajarkan tawakkal, Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. at-Thalaq: 2-3)

Dan masih banyak lagi… intinya:

Seorang mukmin diajarkan untuk menyerahkan segala urusannya kepada Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Urusan manusia ada dua macam:

  1. Urusan Dunia: Manusia diberikan kebebasan untuk berkreasi. “kamu lebih tahu urusan duniamu” (antum a’lamu bi amri dunyakum) adalah potongan hadis sahih dari Shahih Muslim yang berkaitan dengan urusan dunia dan keahlian.
  2. Urusan Agama: dibimbing oleh wahyu. Barangsiapa yang membuat urusan baru dalam masalah agama, dia tertolak.

Keduanya memerlukan tawakkal dalam menjalankan urusannya. Kita lihat contoh Nabi Ibrahim alaihissalam yang selalu berdo’a agar ibadahnya diterima dalam setiap aktivitas memasang batu bata untuk membuat Ka’bah sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah Ayat 127:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Kalau bukan pertolongan hamba ibadah seseorang belum tentu diterima. Maka tawakkal dalam ibadah ada dua hal:

  1. Keberhasilan seorang hamba dalam menjalankan ibadah saat di dunia.
  2. Hasil pahala di akhirat.

Memaknai Hakekat Tawakkal

Ketetapan Allah ada dua:

1. Ketetapan syar’i

Itulah semua syariat yang Allah turunkan dalam bentuk wahyu kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketetapan syariat ini berisi perintah, larangan, dan aturan.

Bentuk ibadah kita kepada ketetapan syar’i adalah dengan melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, dan mentaati aturan.

Allah ﷻ menguji hamba yang ikhbat ketika ibadah (tawdhu’), bentuknya:

  1. Tawakkal sebelum dan ketika melakukan ibadah. (Hamba mengakui kekurangannya).
  2. Tawakkal setelah ibadah, pasrah akan hasil. Maka, hamba tidak akan ujub terhadap amalan-amalannya.

Ibnul Qoyim menjelaskan,

ومن منازل: ( إياك نعبد وإياك نستعين ) منزلة الإخبات.

“Dan di antara kedudukan dalam Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan’ adalah kedudukan al-Ikhbat” (الإخبات).

Allah berfirman:

وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ () الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصّابَهُمْ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk dan patuh (al-mukhbitīn), yaitu orang-orang yang apabila nama Allah disebut, hati mereka bergetar, dan orang-orang yang bersabar atas apa yang menimpa mereka.” (QS. al-Hajj: 34)

Allah juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُوا إلَی رَبَّهمْ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الجنَّةِ هُمْ فِیھَا خَالِدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal-amal saleh, dan tunduk patuh kepada Tuhan mereka, mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Hūd: 23).

Ibnul Qoyim menjelaskan,

و” الخبت” في أصل اللغة: المكان المنخفض من الأرض. وبه فسر ابن عباس رضي الله عنهما وقتادة لفظ المخبتين وقالا: (هم المتواضعون وقال مجاهدالمخبت المطمئن إلى الله عز وجل

Kata “al-khabt” (الخبت) secara bahasa berarti tempat yang rendah di permukaan bumi.

Dengan makna tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan Qatadah menafsirkan kata al-mukhbitīn (المخبتين ) dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang rendah hati dan tawaduk.

Sedangkan Mujahid berkata: “Al-mukhbit adalah orang yang merasa tenteram kepada Allah.”

Jadi, makna ikhbāt mencakup ketundukan, kerendahan hati, dan ketenteraman hati kepada Allah . (Madarijus Salikin)

2. Ketetapan takdir

Itulah semua kejadian yang Allah ciptakan di muka bumi ini. Termasuk apapun kondisi hidup yang kita alami. Baik yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai.

Bentuk ibadah kita terhadap takdir Allah ada dua:

  1. Tawakkal sebelum takdir terjadi
  2. Ridha setelah takdir terjadi.

Urusan dunia ada 3 fase:

  1. Rencana
  2. Proses
  3. Hasil

Dan ibadah kita ada pada fase 1 dan 2 dalam bentuk tawakkal (tidak berpangku pada kemampuan pribadi) dan fase 3 dalam bentuk ridho (Dengan Syukur agar tidak ujub jika sukses dan mengembalikan kepada tqdir jika tidak sukses).

Jangan sampai seperti Qarun yang Allah ﷻ ceritakan dalam Al-Qur’an Surat Surat Al-Qashash Ayat 78:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Bandingkan dengan Sulaiman yang mengatakan:

فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). (QS. An-Naml ayat 40).

Ibnul Qayim menyebutkan keterangan gurunya,

وكان شيخنا – رضي الله عنه – يقول: المقدور يكتنفه أمران: التوکل قبله، والرضا بعده، فمن توكل على الله قبل الفعل، ورضي بالمقضي له بعد الفعل: فقد قام بالعبودية

Guru kami – Radhiyallahu ‘anhu – mengatakan, ‘Apa yang ditakdirkan itu diapit oleh 2 hal: tawakkal sebelum kejadian dan ridha setelah kejadian. Siapa yang bertawakkal kepada Allah sebelum kejadian dan ridha dengan apa yang ditakdirkan setelah kejadian, berarti dia telah menyempurnakan bentuk ubudiyah (penghambaan)’. (Madarijus Salikin, 2/123)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir].

Maka, jika sesuatu terjadi dan kita tidak menyukainya, katakanlah:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’

Ajaran Islam Tatkala Emergency

Kunci akal agar tidak emosi dengan meridhoi bahwasanya itu adalah taqdir. Dengannya otak bisa berfikir jernih agar bisa mencari solusi.

Contoh pelajaran dari Nabi Musa alaihissalam saat menemui Umatnya dalam surat Al-A’raf Ayat 150:

وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًاۙ قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوْنِيْ مِنْۢ بَعْدِيْۚ اَعَجِلْتُمْ اَمْرَ رَبِّكُمْۚ وَاَلْقَى الْاَلْوَاحَ وَاَخَذَ بِرَأْسِ اَخِيْهِ يَجُرُّهٗٓ اِلَيْهِۗ قَالَ ابْنَ اُمَّ اِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوْنِيْ وَكَادُوْا يَقْتُلُوْنَنِيْۖ فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْاَعْدَاۤءَ وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ۝١٥٠

wa lammâ raja‘a mûsâ ilâ qaumihî ghadlbâna asifang qâla bi’samâ khalaftumûnî mim ba‘dî, a ‘ajiltum amra rabbikum, wa alqal-alwâḫa wa akhadza bira’si akhîhi yajurruhû ilaîh, qâlabna umma innal-qaumastadl‘afûnî wa kâdû yaqtulûnanî fa lâ tusymit biyal-a‘dâ’a wa lâ taj‘alnî ma‘al qaumidh-dhâlimîn

Ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah lagi sedih, dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala (menjambak) saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku, kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku. Oleh karena itu, janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyorakiku (karena melihat perlakuan kasarmu terhadapku). Janganlah engkau menjadikanku (dalam pandanganmu) bersama kaum yang zalim.”

Nabi Musa sangat marah dan kecewa kepada Bani Israil karena tidak sabar menanti kepulangannya dari Bukit Tursina hingga membuang Kitab Taurat.

Hingga dalam Surat Al-A’raf ayat 151 beliau menyesal dengan memanjatkan doa permohonan ampun dan rahmat kepada Allah ﷻ yang dipanjatkan oleh Nabi Musa alaihi salam setelah meredam kemarahannya terhadap kaumnya (Bani Israil) yang menyembah patung anak sapi.

Poster

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم