بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Menjelajah Alam Barzakh
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Sabtu, 24 Rabi’ul Awal 1448 / 06 September 2026
🕰 | Waktu: 20:00 WQ | 00:00 WIB
🕌 | Tempat: Grand Mosque Al-Khor Community Qatar


Latar Belakang

Latar belakang mempelajari kehidupan alam kubur, antara lain:

1. Perintah Nabi ﷺ akan ziarah kubur agar ingat akhirat. sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ، وَلاَ تَقُوْلُوْا هُجْرًا.

“Aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, sekarang ziarahilah kubur karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan negeri Akhirat dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata kotor (di dalamnya).”

HR. Al-Hakim (I/376) dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dengan sanad yang hasan. Lihat keterangan lebih lengkap dalam Ahkaamul Janaa-iz wa Bida’uha (hal. 227-229) oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.

Dan salah satu usaha mengerem gejolak dunia adalah dengan ziarah kubur, dimana mengingatkan kita bahwa tidak ada satupun harta yang dibawa di alam kubur selain kain kafan.

2. Banyak akidah atau pemahaman alam kubur berdasarkan berita nenek moyang atau keyakinan budaya, bukan dalil dari Nabi ﷺ. Seperti apabila jenazah sudah telanjur dikubur dan tali ikatan lupa dilepas mitosnya akan menjadi gentayangan sampai 40 hari, atau keyakinan menyimpang lainnya.

Dan cara membersihkannya adalah belajar akidah yang benar. Karena keyakinan yang menyimpang akan berakibat pada pertanggungjawaban kita di akhirat.

Sahabat Tatkala Ziarah Kubur

Dari Hani’ mantan budak Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Apabila Utsman bin Affan berdiri di pekuburan beliau menangis hingga membasahi jenggotnya. Beliau ditanya: “Saat engkau mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis cuma karena masalah ini?. Maka Usman berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ ، فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ، فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ: وَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إلَّا وَالقَبْرُ أَفْظَعُ منهُ

“Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan akhirat yang pertama, jika seseorang selamat darinya, maka yang setelahnya akan lebih mudah, namun jika ia tidak selamat darinya, yang setelahnya jauh lebih sulit”. Rasulullah lalu bersabda: “Saya tidak pernah melihat pemandangan (di dunia) kecuali pemandangan kubur yang lebih mengerikan darinya”

(HR. Ibnu Majah nomor 4267)

Hadits ini menjelaskan beberapa faedah, antara lain:

  • Kehidupan di dunia pasti akan berakhir dan pindah kepada akhirat.
  • Kematian adalah gerbang menuju akhirat dia adalah tempat pertama dari tahapan-tahapan di akhirat.
  • Hadits ini mengingatkan kita untuk selalu menyiapkan bekal kehidupan hari kemudian.
  • Ujian di alam kubur sangatlah berat dan tidak akan mampu ditahan oleh siapa pun.
  • Kehidupan di alam kubur sangat mengerikan dan tidak ada yang lebih mengerikan di dunia ini jika dibandingakan siksa dan azab dalam kubur.

Dalam hadits yang lain:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: بَلَغَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ‌عَنْ ‌أَصْحَابِهِ ‌شَيْءٌ، فَخَطَبَ فَقَالَ:

«عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا» قَالَ: فَمَا أَتَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمٌ أَشَدُّ مِنْهُ، قَالَ: غَطَّوْا رُءُوسَهُمْ وَلَهُمْ خَنِينٌ، قَالَ: فَقَامَ عُمَرُ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، قَالَ: فَقَامَ ذَاكَ الرَّجُلُ فَقَالَ: مَنْ أَبِي؟ قَالَ: «أَبُوكَ فُلَانٌ»، فَنَزَلَتْ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ} [المائدة: 101].
[صحيح] – [متفق عليه] – [صحيح مسلم: 2359]

Anas bin Mālik -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Sampai kepada Rasulullah ﷺ suatu perkara dari para sahabatnya sehingga beliau bersabda,
“Diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Aku belum pernah melihat seperti hari ini dalam kebaikan dan keburukan. Kalau saja kalian tahu apa yang kutahu, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Anas melanjutkan: Belum pernah sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ melewati suatu hari yang lebih berat dari hari itu. Mereka saat itu menutup kepala sambil menangis. Lantas Umar bangun dan berkata, “Kami rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi kami.” Lalu bangunlah laki-laki itu dan bertanya, “Siapakah ayahku?” Beliau menjawab, “Ayahmu polan.” Maka turunlah ayat: “Wahai orang-orang beriman! Janganlah engkau tanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu justru menyusahkanmu.” (QS. Al-Mā`idah: 101)

[Sahih] – [Muttafaq ‘alaih] – [Ṣaḥīḥ Muslim – 2359]

Hadits ini menjelaskan juga beberapa faedah, antara lain:

  • Anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allah dan tidak banyak tertawa karena hal itu menunjukkan sifat lalai dan hati yang keras.
  • Penerimaan para sahabat -raḍiyallāhu ‘anhum- terhadap nasihat dan tingginya rasa takut mereka pada siksa Allah ﷻ.

Menjelajahi Alam Barzakh

Pertama, Alam Barzakh

Barzakh [البرزح] secara bahasa artinya pembatas di antara 2 hal, sehingga tidak bisa saling bertemu.

Allah berfirman,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِۙ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian bertemu; Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (QS. Ar-Rahman ayat 19-20)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa bagian dari tanda kuasanya adalah adanya pertemuan dua lautan, namun airnya tidak saling bercampur karena diantara keduanya ada barzakh yang memisahkannya.

Alam kubur disebut alam(barzakh, karena alam kubur menjadi pemisah antara kehidupan dunia dan hari kebangkitan.

Penyebutan alam kubur dengan alam barzakh telah dinyatakan dalam al-Quran. Allah berfirman,

﴿حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ﴾﴿لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. [QS. Muminun: 99-100]

Maka, keyakinan orang yang sudah mati bisa Kembali lagi adalah adalah keyakinan yang batil dan bertentangan dengan ayat ini.

Dalam pandangan Islam dan sunnah, konsep “mati suri” atau kematian yang terjadi dua kali tidak dikenal karena kematian yang hakiki hanya terjadi satu kali saja. Peristiwa yang disebut mati suri sebenarnya adalah kondisi pingsan, koma, atau mati klinis di mana fungsi organ dan tanda vital sangat melemah, mirip dengan keadaan tidur saat ruh ditahan sementara. Dan bisa jadi dia seperti melihat sesuatu seperti mimpi biasa.

Mujahid – ulama tafsir zaman tabiin – menjelaskan alam Barzakh: Alam barzakh adalah antara kematian dan kebangkitan.

Di alam barzakh, manusia mengalami kondisi yang berbeda dengan alam dunia. Karena sejatinya mereka sudah memasuki alam akhirat sebelum terjadinya hari kebangkitan.

Di alam barzakh, mereka sama sekali tidak bisa balik ke dunia. Karena kesempatan hidup di dunia hanya sekali, dan tidak mungkin berulang, sehingga yang sudah mati tidak mungkin kembali.

Jabir bin Abdillah bercerita,

Bahwa ayahnya Abdullah bin Amr meninggal saat peristiwa perang Uhud. Jabir terlihat sedih, karena Ketika ayahnya wafat, beliau meninggalkan beban keluarga dan utang. Saat Nabi ketemu Jabir, beliau bertanya,

“Maukah aku sampaikan kabar gembira kepadamu tentang apa yang Allah berikan kepada ayahmu (yakni Abdullah bin Amr)?”

Jabir menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!”

Beliau bersabda,

ما كلَّمَ الله أحدًا قطُّ إلَّا من وراءِ حجابٍ، وَكَلَّمَ أباكَ كِفاحًا، فقالَ: يا عَبدي! تَمنَّ عليَّ أُعْطِكَ

“Allah tidak pernah berbicara kepada siapa pun secara langsung kecuali dari balik tabir. Namun, Allah berbicara langsung kepada ayahmu tanpa perantara.

Allah berfirman kepadanya: ‘Wahai hamba-Ku, mintalah apa yang engkau inginkan, niscaya Aku akan memberimu.’

Ayahmu berkata: ‘Wahai Tuhanku, hidupkanlah aku kembali agar aku dapat terbunuh (syahid) di jalan-Mu sekali lagi.’

Maka Allah berfirman:

إنَّهُ سبقَ منِّي أنَّهم إليها لا يُرجعونَ

‘Telah Aku tetapkan bahwa mereka (yang telah mati) tidak akan kembali lagi ke dunia.’

Lalu ayahmu berkata:

یا ربِّ ! فابلِغْ مَن ورائي

‘Wahai Tuhanku, sampaikanlah (kabar ini) kepada orang-orang yang aku tinggalkan (di dunia).’

Karena inilah Allah menurunkan firman-Nya,

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

‘Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhannya dan diberi rezeki.’ (QS. Āli ‘Imrăn: 169)

Kedua, Fitnah kubur

Fitnah kubur [فتنة القبر] berbeda dengan adzab kubur. Fitnah kubur adalah pertanyaan dua malaikat – Munkar dan
Nakir – yang akan bertanya kepada hamba saat pertama kali dia memasuki alam kubur.

Allah berfirman,

يُقَبِّثُ اللَهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan oranq-oranq yang zalim serta Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Maksudnya, Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang benar, yaitu kalimat “Lā ilāha illallāh,Muhammadur Rasūlullāh” yang tertanam kuat di dalam hati mereka dan menenangkan jiwa mereka.

Sehingga Allah meneguhkan mereka di dunia agar tetap berada di atas keimanan kepada-Nya dan Rasul-Nya, serta menyelamatkan mereka dari godaan syahwat dan syubhat. Dan Allah juga meneguhkan mereka di dalam kubur saat ditanya oleh dua malaikat. (at-Tafsir al-Muharrar, hlm. 335)

Dari al-Barra’ bin Azib, bahwa Nabi bersabda,

“Seorang muslim apabila ditanya di dalam kuburnya, ia akan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah makna firman-Nya:

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.'” (HR. Bukhari 4699 & Muslim 2871)

Dalam riwayat lain dari Asma binti Abi Bakr, bahwa Nabi pernah berkhutbah dan beliau menyebutkan tentang fitnah kubur. Setelah beliau menyampaikan mukadimah khutbah, beliau berpesan:

ممَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ أُرِيتُهُ إِلَّا رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي، حَتَّى الجَنَّةُ وَالنَّارُ، فَأُوحِيَ إِلَيَّ: أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ قَرِيبٌ مِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ، يُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ؟ فَأَمَّا المُؤْمِنُ فَيَقُولُ: هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّهِ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالهُدَى، فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا، فَيُقَالُ: نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ. وَأَمَّا المُنَافِقُ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

“Tidak ada sesuatu pun yang sebelumnya aku tidak diperlihatkan, melainkan saat ini aku telah melihatnya, sampai surga dan nerakapun aku lihat. Lalu diwahyukan kepadaku: Sesungguhnya kalian akan diuji di dalam kubur kalian, seperti (beratnya) firnah Al-Masih Ad-Dajjal. Akan dikutakan (kepada mayit): Apa yang kamu tahu tentang laki-laki ini? (yaitu sang nabi).

Adapun orang beriman akan menjawab: Dia adalah Muhammad, Rasulullah. Beliau datang kepada kami membawa bukti-buki nyata dan petunjuk, maka kami menerima dan mengikutinya. Lalu dīkatakan kepadanya: Tidurlah dengan baik (dalam keadaan senang), sungguh kami mengetahui bahwa engkau dahulu benar-benar meyakininya. Sedangkan orang munafik akan berkata: Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku pun mengatakannya.” (HR. Bukhari 86 & Muslim 903)

Maka, jawaban di alam kubur hanya ada dua kemungkinan:
1. Benar
2. Tidak tahu.

Gambaran keadaan orang-orang munafik atau orang kafir saat berada di alam kubur (barzakh).Ketika mereka didatangi oleh dua malaikat, Munkar dan Nakir, dan diberi pertanyaan tentang tuhannya, agamanya, serta nabinya, mereka tidak bisa menjawab dan hanya mengatakan:”Ha… ha… aku tidak tahu.” (Dalam riwayat hadis sering ditulis: “Hah, hah, laa adrii…”)

Maka, hanya orang-orang yang berkomitemen dengan Tauhidlah yang mampu menjawab dengan benar.

Dalam hadis lain dari Abu Said al-Khudri, Nabi ﷺ bersabda,

أيُّها النَّاسُ، إنَّ هذه الأمَّةَ تُبتَلَى في قُبورِها، فإذا الإنسانُ دُفِنَ فتفَرَّقَ عنه أصحابُه، جاءه ملَكٌ في يَدِه مِطراقٌ فأقعَدَه، قال: ما تقولُ في هذا الرَّجُلِ؟ فإن كان مؤمِنًا قال: أشهَدُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وأنَّ مُحمَّدًا عبدُه ورسولُه، فيقولُ: صَدَقتَ

“Wahai manusia, sungguh umat ini akan diuji di dalam kuburnya. Apabila seseorang dikuburkan dan para sahabatnya telah pergi meninggalkannya, datanglah scorang malaikat dengan membawa palu besar di tangannya lala mendudukkan si mayit. Ia berkata kepadanya: ‘Apa yang engkau katakan tentang laki-laki ini (Nabi Muhammad)?

Jika ia adaļah seorang mukmin, ia akan menjawab: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’ Maką malaikat itu berkata: ‘Engkau benar.” (HR. Ahmad 11000 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Mereka yang Diselamatkan dari Fitnah Kubur

Ada beberapa orang yang dilindungi Allah dari fitnah kubur.

1. Orang yang meninggal dalam kondisi ribath (berjaga di daerah perbatasan)

Dari Salman al-Farisi, Nabi ﷺ, bersabda,

رِباطُ يَومٍ ولَيلةٍ خَيرٌ من صيامِ شَهرٍ وقيامِه، وإن مات جَری عليه عَمَلُه الَّذي كانَ يَعمَلُه، وأَجريَ عليه رِزقُه، وأمِنَ الفَتَّانَ

“Berjaga di perbatasan (ribath) selama satu hari satu malam lebih baik daripada berpuasa sebulan penuh dan mengerjakan shalat malamnya. Jika ia meninggal (saat berjaga), akan terus dicatat baginya amal yang biasa ia kerjakan, rezekinya akan tetap mengalir untuknya, dan ia akan selamat dari fitnah (pertanyaan) dua malaikat di dalam kubut.” (HR. Muslim 1913)

2. Orang yang mati di medan jihad

Rasulullah pernah ditanya,

يا رسولَ اللهِ! ما بالُ المؤمنينَ يُفتَنونَ في قبورِهِم إلّا الشَّهيدَ؟!

“Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang mukmin diuji di dalam kubur mereka, kecuali seorang syahid?”

Jawab Nabi,

كفَى ببارقةِ السُّيوفِ علَى رأسِهِ فتنةً

Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai sebuah fitnah (ujian).” (HR. Nasai 2053, Abu Nuaim dalam Ma’rifah as-Shahabah 7211 dan yang lainnya)

Catatan:

Jika orang yang mati syahid dijaga oleh Allah dari pertanyaan (fitnah) kubur, maka para nabi dan as-Shiddiq juga tidak mendapatkan fitnah kubur. Karena derajat para nabi, para shiddiqun di atas para syuhada’.

Dalam Durarus Saniyah dinyatakan,

وأمَّا الصِّدِّيقون فلا يُسأَلون؛ لِأن مَرتَبة الصِّدِّيقين أعلَى من مَرتَبة الشُّهداء؛ فإذا كانَ الشُّهداء لا يُسأَلون؛ فالصِّدِّيقون من باب أَولى، ولِأن الصِّدِّيق على وصفِه مُصَدِّق وصادِق؛ فهو قَد عُلِم صِدقُه؛ فلا حاجة إلَى اختِباره؛ لِأنّ الاختِبار لِمَن يُشَك فيه

“Adapun para shiddiqin, maka mereka tidak ditanya (di dalam kubur). Karena derajat para shiddiqin lebih tinggi daripada derajat para syuhada. Jika para syuhada saja tidak ditanya, maka para shiddiqin tentu lebih utama lagi (untuk tidak ditanya).

Hal itu karena seorang shiddiq, dengan sifatnya yang membenarkan kebenaran dan jujur, telah diketahui kejujurannya. Maka tidak ada kebutruhan untuk mengujinya. Ujian itu dilakukan terhadap orang yang masih diragukan (kejujurannya).”

3. Orang yang mati di malam jumat atau hari Jum’at

Dari Abdullah bin Amr, Nabi bersabda,

ما مِنْ مُسلِم يموتُ يومَ الجمعةِ – ؛ أو ليلةَ الجمعةِ – ؛ إلا وَقَاه اللهُ فِتْنَةَ القبرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah (ujian) kubur.” (HR. Tirmidzi 1074 dan Ahmad 6582)

Ketiga, Himpitan Kubur

Kuburan akan menghimpit penghuninya, baik yang mukmin maupun yang kafir. Bahkan sampaipun orang soleh, tidak selamat dari himpitan kuburan.

Katika sahabat Sa’ad bin Mu’adz meninggal dunia, Rasulullah menceritakan kondisi beliau saat dikuburkan,

هَذا الَّذي تَحَرَّكَ لَه العَرشُ، وفتِحَت لَه أبوابُ السَّماءِ، وشَهِدُه سَبعونَ ألفًا مِنَ المَلائِكةِ، لَقَد ضُمَّ ضَمَّةً، ثُمَّ فُرِجَ عَنه

“Inilah orang yang karena dirinya Arsy bergetar, pintu-pintu langit terbuka, dan ia disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat; sungguh ia tetap mengalami himpitan (kubur), kemudian Allah pun melapangkannya kembali.” (HR. Nasai 2055, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 3111 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dalam hadis yang lain dari Aisyah, Nabi bersabda,

إنَّ لِلقَبرِ ضَغطةً لَو كانَ أحَدٌ ناجيًا مِنها نَجَا سَعدُ بنُ مُعاذٍ

“Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan. Seandainya ada seseorang yang bisa selamat darinya, niscaya Sa’ad bin Muadzlah orangnya.” (HR. Ahmad 24283 & Ibnu Hibban 3112)

Al-Munawi menjelaskan,

إنّ المُؤمِن الكامِل يَنضَمّ عليه ثُمَّ يَنفرِج عَنه سَريعًا، والمُؤمِن العاصي يَطول ضَمُّه ثُمّ يَتَراخَى عَنه بَعد، وإنّ الكافِر يَدوم ضَمُّه أو يَكادُ أن يَدوم

“Sesungguhnya seorang mukmin yang sempurna imannya akan mengalami himpitan (kubur), namun segera dilapangkan kembali. Adapun mukmin yang bermaksiat, himpitan itu akan berlangsung lama, kemudian setelahnya dilonggarkan. Sedangkan orang kafır, himpitan itu terus menerus terjadi padanya atau hampir tidak pernah berhenti.” (Faidhul Qadir, 2/168)

Keterangan yang lain disampaikan Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani,

وأنّ المُؤمنين يُفتَنون في قُبورِهم ويُضغَطون ويُبْلَون، ويُئبِّت الله مَنطِق مَن أحَبٌ تَثبيتَه

“Dan sesungguhnya orang-orang beriman akan diuji di dalam kubur mereka; mereka akan mengalami himpitan dan ujian. Namun Allah akan meneguhkan ucapan orang yang Dia kehendaki untuk diteguhkan.” (al-Jami’ fi Sunan wal Adab, hlm. 112)

Keempat, Nikmat dan Adzab Kubur

Di alam kubur ada nikmat dan ada adzab. Ini merupakan bagian prinsip yang menjadi aqidah ahlus sunnah. Mengingat ada sebagian kelompok ahli filsafar yang menolaknya.

Ibnu Abil Iz menjelaskan,

قال ابنُ أبي العِزِّ: (قَد تَواتَرَتِ الأخبارُ عَن رَسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم في ثُبوتِ عَذابِ القَبرِ ونَعيمِه لِمَن كانَ لِذلك أهلًا، وسُؤالُ المَلَكينَ، فيَجِبُ اعتِقادُ ثُبوتِ ذلك والإيمانُ به، ولا نَتَكَلَّمُ في كَيفيَّتِه؛ إذ لَيسَ لِلعَقلِ وُقُوفٌ على كَيفيَّتِه؛ لِكَونِه لا عَهدَ لَه به في هَذِه الدَّارِ، والشَّرعُ لا يأتي بما تُحيلُه العُقولُ، ولَكِنَّه قَد يأتي بما تَحارُ فيه العُقولُ، فإنَّ عَودةَ الرُّوحِ إلَى الجَسَدِ لَيسَ على الوَجهِ المَعهودِ في الدُّنيا، بَل تُعادُ الرُّوحُ إلَيه إعادةً غَيرَ الإعادةِ المألوفةِ في الدُّنيا)  ((شرح الطحاوية)) (2/ 578).

Telah datang riwayat yang mutawarir dari Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam telah berulang kali disampaikan yang menegaskan keberadaan siksaan dan kebahagiaan di kubur bagi orang-orang yang pantas mendapatkannya, serta adanya pertanyaan dari dua malaikat. sehingga wajib untuk meyakini dan beriman dengannya. Kita tidak membahas bagaimana caranya, karena akal tidak bisa memahami bagaimana hal itu terjadi, karena tidak ada pengalaman tentangnya di dunia ini. (Syarh Aqidah Thahawiyah, 2/578)

Poster

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم