بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-26
🎙️ Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. Hafidzahullah
📗 | Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt Hafidzahullah
🗓️ Al-khor, 08 Rabi’ul Akhir 1448 / 19 September 2026
📗 | https://shamela.ws/book/9260/1570#p1
Syarah Kitab Riyadhus Shalihin Hadis Ke-482: Tiga Kebutuhan Dasar Manusia
Innal hamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruh, wa na’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-ati a’maalinaa, may yahdihillahu falaa mudhillalah, wa may yudhlil falaa haadiyalah. Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Sallallahu ‘alaihi wa sallam tasliiman katsiiraa. Amma ba’du.
Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kita kesehatan, waktu, dan kesempatan untuk kembali melanjutkan pembahasan syarah kitab Riyadhus Shalihin.
Teks dan Terjemahan Hadis Ke-482
٢٦/٤٨٢- وعن أبي عمرو – ويقال أبو عبد الله، ويقال أبو ليلى -عثمان بن عفان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ليس لابن آدم حق في سوى هذه الخصال: بيت يسكنهُ، وثوب يُواري عورتهُ، وجلف الخُبز، والماء)) . رواهُ الترمذي وقال حديثٌ صحيحٌ.
قال الترمذي: سمعت أبا داود سليمان بن سالم البلخي يقول: سمعت النصر بن شميل يقول: الجلف: الخبز ليس معه إدام. وقال غيرهُ: هو غليظ الخبز. وقال الهروي: المراد به هنا وعاء الخبز: كالجوالق والخرج. والله أعلم.
Dari Abu ‘Amr—dikatakan juga Abu Abdullah dan Abu Laila—yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Anak Adam tidak memiliki hak (kebutuhan mendasar) selain dalam hal-hal berikut: rumah yang ia tinggali, pakaian yang menutupi auratnya, roti yang keras, dan air.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2341, dan ia menilai: Hadis Hasan Sahih)
Penjelasan Makna Kata dan Derajat Hadis
Para ulama memberikan beberapa penjelasan terkait kata jilf – جِلْفُdalam hadis tersebut:
- An-Nadhr bin Syumail: Menyebutkan bahwa jilf- جِلْفُ berarti roti yang tidak disertai lauk-pauk. Ulama lain mengartikannya sebagai roti yang keras.
- Al-Harawi: Mengartikan kata tersebut sebagai wadah penyimpanan roti, seperti karung atau loyang roti.
Penilaian Derajat Hadis:
Meskipun Imam At-Tirmidzi menilai hadis ini sahih, mayoritas ulama (seperti Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah no. 1063) menilai status hadis ini dhaif (lemah) bahkan mungkar.
Al-Imam Ad-Daraquthni pernah ditanya mengenai jalur periwayatan hadis ini. Beliau menjelaskan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Al-Harits bin As-Sa’ib dari Al-Hasan, dari Himran, dari Utsman bin Affan, lalu disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, sanad yang benar sebenarnya berhenti pada Al-Hasan dari Himran dari sebagian Ahli Kitab.
Artinya, riwayat ini tergolong kisah Israiliyat dan kurang tepat disandarkan langsung sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mengenal Ringkas tentang Riwayat Israiliyat
Sikap seorang muslim terhadap riwayat Israiliyat (kisah-kisah yang dinukil dari Bani Israil) terbagi menjadi tiga kategori:
- Diterima (Dibenarkan): Jika ada dalil dari Al-Qur’an atau hadis sahih yang membenarkannya (seperti kisah tiga orang dari Bani Israil yang diuji: penderita kusta, kepala botak, dan orang buta).
- Ditolak (Didustakan): Jika bertentangan dengan ajaran Islam dan tauhid.
- Didiamkan (Tawaqquf): Jika tidak ada dalil yang membenarkan maupun menyalahkannya. Kita tidak serta-merta membenarkan atau mendustakannya.
Tiga Tingkatan Kebutuhan Hidup dalam Ekonomi Islam
Secara hukum dan pemahaman fikih, kebutuhan manusia umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan:
1. Dharuriyat (Kebutuhan Primer):
Kebutuhan paling mendasar yang jika tidak terpenuhi akan mengancam kelangsungan hidup manusia, seperti makanan pokok, pakaian penutup aurat, dan tempat tinggal sekadarnya. Jika seseorang kekurangan pada tingkat ini, masyarakat atau tetangga sekitar wajib membantunya, dan ia berhak menerima zakat.
Penetapan skala kebutuhan ini juga bisa bersifat kontekstual. Sebagai contoh, fasilitas pendingin udara (AC) di daerah bersuhu sangat ekstrem seperti Qatar atau pemanas ruangan di wilayah Rusia bisa dikategorikan sebagai dharuriyat, sedangkan di daerah beriklim sejuk fasilitas tersebut mungkin hanya sekadar pelengkap.
2. Hajiyat (Kebutuhan Sekunder): Kebutuhan pelengkap untuk menghilangkan kesukaran hidup. Jika tidak terpenuhi, manusia masih bisa bertahan hidup, tetapi akan mengalami kesulitan. Contohnya: alas tidur yang layak, perabot rumah tangga sederhana, atau tirai penutup jendela.
3. Tahsiniyat / Takmiliyat (Kebutuhan Tersier / Pengindah): Kebutuhan yang sifatnya memperindah, menyempurnakan, atau sekadar estetika dan kemewahan. Seseorang tidak berhak menerima zakat hanya untuk memenuhi tingkatan tahsiniyat ini, seperti mengganti perabot rumah tangga semata-mata karena mengikuti tren.
Kebolehan Memiliki Harta Lebih bagi Seorang Muslim
Pesan dari pembahasan ini bukanlah melarang seorang muslim untuk kaya atau memiliki harta lebih dari sekadar kebutuhan primer. Mengisolasi diri secara berlebihan padahal mampu secara jujur justru tidak dianjurkan jika sampai menelantarkan diri atau keluarga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan kebolehan memiliki harta yang bermanfaat dalam beberapa hadits sahih, antara lain:
Sebaik-baik harta:
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad 4/197. Shahih)
Kedengkian yang diperbolehkan (Ghibthah):
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( لاَ حَسَدَ إِلاَّ في اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ القُرْآنَ ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاء اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً ، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .
(( والآنَاءُ )) : السَّاعَاتُ .
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara: seseorang yang diberikan kepandaian Al-Qur’an oleh Allah, lalu ia membaca dan mengamalkannya pada malam dan siang hari, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah, lalu ia menginfakkannya pada malam dan siang hari.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5025 dan Muslim, no. 815]
Dunia milik empat Orang
Imam At-Tirmidziy (279H) rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya “Al-Jaami’ Al-Kabiir” atau yang lebih terkenal dengan nama “Sunan At-Tirmidziy”, dari Abu Kabsyah Al-Anmaariy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
” إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ ” [ سنن الترمذي: صحيح]
“Sesungguhnya dunia itu untuk empat orang; Pertama, seorang hamba yang dikaruniai Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik, Kedua, selanjutnya hamba yang diberi Allah ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama, Ketiga, selanjutnya hamba yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu menggunakan hartanya, ia tidak takut kepada Rabbinya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya, ini adalah tingkatan terburuk, Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya, dan niatnya benar, maka dosa keduanya sama.” [Sunan Tirmidziy: Sahih]
Hadits ini disahihkan oleh Imam Tirmidziy, An-Nawawiy, Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy, syekh Albaniy dan ulama yang lain rahimahumullah.
Keutamaan hamba yang kaya dan bertakwa:
عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:
«إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ». [صحيح] – [رواه مسلم] – [صحيح مسلم: 2965]
Sa’ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, selalu merasa cukup, dan tidak ingin populer.” [HR. Ṣaḥīḥ Muslim – 2965]
Menjadi kaya itu diperbolehkan, asalkan harta tersebut diperoleh dengan cara yang halal, digunakan sesuai haknya, menunaikan zakat, serta disalurkan untuk kebajikan.
Allah mengaruniakan satu dengan yang lain kelebihan harta
نْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا. رواه مسلم
Dari Abu Dzar, bahwa manusia dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya (Ahlud Dutsur) telah pergi dengan membawa pahala. Mereka shalat sebagaimana kami, mereka berpuasa sebagaimana kami, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”
Rasulullah bersabda: “ Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan, seseungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, mengajak kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan pada kemaluan kalian ada sedekah.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang kami bermain dengan syahwatnya membuatnya mendapatkan pahala?” Beliau bersabda: “Apa pendapatmu seandainya dia meletakkannya pada yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka, begitu pula jika dia meletakkannya pada yang halal, maka dia mendapatkan pahala. “ (HR. Muslim)
Syarah Kitab Riyadhus Shalihin Hadis Ke-483: Bahaya At-Takatsur (Sikap Berbangga-bangga dengan Kemewahan)
Teks dan Terjemahan Hadis Ke-483
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الشِّخِّيرِ « بِكَسْرِ الشِّينِ وَالخَاءِ الْمُشَدَدَّةِ الْمُعْجَمَتَيْنِ » رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ: { أَلهَـٰكُمُ التَّكَاثُرُ } قَالَ: « يَقُولُ ابْنُ آدَم: مَالِي، مَالِي، وَهَل لَكَ يَابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلتَ فَأَفْنَيْتَ، أوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Daripada Abdullah bin Asy-Syikhkhir (dengan dikasrahkan syin dan khâ yang ditasydid) radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membaca surah, “Alhâkumut takâśur.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam itu berkata, “Ini adalah harta bendaku, ini adalah harta bendaku.” Wahai anak Adam, tidak ada harta kekayaan yang kamu miliki, kecuali apa yang kamu makan kemudian habis, atau apa yang kamu pakai kemudian rusak, atau apa yang kamu sedekahkan kemudian menjadi simpanan bagimu.”
[Shahih Muslim no. 2958]
Makna Alhaakum dan At-Takatsur
- Alhaakum (Al-Hā): Maknanya adalah segala sesuatu yang memalingkan atau melalaikan seseorang dari tujuan utamanya.
- At-Takatsur: Sikap saling memperbanyak dan membangga-banggakan sesuatu secara berlebihan, baik itu keturunan, harta, kedudukan, atau fasilitas duniawi.
Para ulama menasihatkan bahwa sifat at-takatsur tidak hanya terbatas pada harta benda. Bahkan, dalam urusan kebaikan atau dakwah sekalipun, seseorang harus senantiasa menata niatnya agar tidak terjebak dalam sikap bangga diri (ujub) atau pamer:
- Bangga dengan banyaknya hafalan atau tulisan karya ilmiah.
- Bangga dan terfitnah dengan banyaknya pengikut (followers) atau banyaknya jemaah yang hadir mendengarkan ceramahnya.
- Memilih ucapan hanya demi mencari pujian dan keridaan manusia semata.
- Mengabaikan Aturan Syariat Demi Memuaskan Jamaah
-
- Seorang imam atau dai kerap kali mengikuti keinginan atau tren jamaah ketimbang menyampaikan kebenaran atau menjalankan ibadah sesuai petunjuk syariat.
- Contoh Shalat Tarawih Cepat: Mempercepat shalat secara berlebihan (misalnya shalat 23 rakaat dalam 7 menit) hanya agar masjid ramai dikunjungi jamaah.
- Kekeliruan dalam Membaca Al-Qur’an (Tajwid & Wakaf)
- Meringkas atau memperpanjang bacaan, mengulang-ulang ayat, serta mementingkan nada/lagu di atas ketepatan makhraj huruf dan al-wakfu wal ibtida’ (tempat berhenti dan memulai bacaan).
- Hal ini dilakukan agar pendengar terkesan (liyuthribas-sami’in), namun dampaknya bisa merusak serta mengubah makna Al-Qur’an.
- Panjang Doa Qunut/Kutub yang Berlebihan
- Adanya kebiasaan memperpanjang doa (seperti doa Qunut) hingga berlama-lama, sementara shalatnya sendiri sangat ringkas.
- Mengutip pandangan Imam Ahmad rahimahullah, doa Qunut cukuplah membaca bacaan yang diajarkan Nabi (Allahummahdina fiiman hadait…) tanpa ditambah-tambah secara berlebihan yang memberatkan jamaah.
- Inti Pesan dan Peringatan
- Semua bentuk ibadah atau dakwah yang didasari rasa bangga atas banyaknya jumlah jamaah, cantiknya nada, atau ramainya tempat ibadah masuk ke dalam ancaman ayat At-Takatsur.
- Hal ini menjadi teguran keras bagi para imam dan penceramah agar terhindar dari sifat riya, sombong, serta mengabaikan aturan syariat hanya demi kepuasan manusia.
Seorang muslim hendaknya senantiasa meluruskan niatnya. Apabila ia dianugerahi kelapangan harta, ilmu, maupun pengaruh, hendaklah semua itu dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan untuk kesombongan atau melalaikan diri dari kehidupan akhirat.
Wallahu ta’ala a’lam.
Poster
والله أعلم.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.


