Artikel

Memiliki harta yang melimpah itu tidak dilarang dalam Islam, asalkan posisinya diletakkan di tangan (alat) untuk beramal, bukan di hati (tujuan utama). Harta harus diperlakukan seperti toilet: fungsional, dibutuhkan, tetapi tidak untuk dicintai secara emosional.

Jika akidah hilang karena perang, seperti karena takut kehilangan keluarga dan harta, maka bisa jadi ada bibit kemunafikan di dalam hati kita. Na’udzubillahmindalik.

Pulanglah sebelum Engkau Dipanggil Pulang bermakna kematian dan taubat. Artinya: Bertaubatlah sebelum kematian menjemputmu.

Sebagaimana firman Allah ﷻ :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدۡحٗا فَمُلَٰقِيهِ

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. (Al-Inshiqaq: 6).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ.

Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa ia mendengar Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu dengan penuh saksama sebagaimana ketika mengizinkan nabi-Nya yang memperindah suaranya saat membaca Al-Qur’an dan menjaharkannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيِ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: تُوفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا فِي بَيْتِي مِنْ شَيْءٍ يَأْكُلُهُ ذُو كَبِدٍ إِلاَّ شَطْرُ شَعِيرٍ فِي رَفٍّ لِي، فَأَكَلْتُ مِنْهُ حَتَّى طَالَ علَيَّ، فَكِلْتُهُ فَفَنِيَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

474. Dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata, “Pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, di rumahku tidak ada sesuatu untuk dimakan, kecuali sedikit tepung gandum yang terletak di atas rak milikku, lalu dimakannya sehingga berlansung lama padaku. Kemudian apabila aku menakarnya dan ternyata tepung sudah habis.”

[Shahih Al-Bukhari no. 3096, 6451. Muslim no. 2973]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al – Isra’: 23-24).

Beliau sesekali tidur menggunakan kasur, sekali waktu menggunakan an-nitha’ (tikar terbuat dari kulit), sekali wakfu menggunakan tikar, sekali wakfu tanpa alas, sekali waktu di atas ranjang, dan sekali waktu menggunakan alas kain hitam. Abbad bin Tamim meriwayatkan dari pamannya, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid seraya meletakkan salah satu kakinya di atas yang lain.”

HR. Al-Bukhari, 10/334 dan 11/68. Muslim, no. 2100.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (218)