بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid
Syarah Riyadhus Shalihin Bab 55-33
🎙️ Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. Hafidzahullah
📗 | Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt Hafidzahullah
🗓️ Al-khor, 27 Jumadil Awal 1448 / 7 November 2026
📗 | https://shamela.ws/book/9260/1570#p1



Hadis ke-32/488: EMPAT SEBAB WANITA BANYAK MENJADI PENGHUNI NERAKA DAN AMALAN PENYELAMATNYA

Teks Hadits

٣٢/٤٨٨- وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ، فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ، فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْضًا مِنْ رِوَايَةِ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ.

488. Dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain, dari Nabi, beliaubersabda: “Aku pernah melongok ke Surga, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Lantas aku juga melongok ke Neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.”

(Muttafaq ‘alaih dari riwayat Ibnu Abbas. Diriwayatkan oleh al-Bukhari juga dari riwayat Imran bin Hushain).

MUQADDIMAH

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Pada kesempatan ini, kita kembali melanjutkan pembahasan Syarah Kitab Riyadhus Shalihin. Kita telah sampai pada hadis ke-488, kemudian akan melanjutkan hadis ke-489 dan hadis berikutnya dalam Bab 55 tentang keutamaan zuhud terhadap dunia.

A. KEBANYAKAN PENGHUNI SURGA ADALAH ORANG-ORANG FAKIR

Pada kajian sebelumnya telah dibahas hadis dari Ibnu Abbas dan Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diperlihatkan surga dan neraka. Beliau melihat bahwa kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang fakir, sedangkan kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

Aku melihat ke dalam surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku melihat ke dalam neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut perlu dipahami bahwa kefakiran bukanlah sebab seseorang secara otomatis masuk ke dalam surga. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadikan kemiskinan itu sendiri sebagai amal saleh.

Seseorang masuk surga karena rahmat Allah dan amal saleh yang dikerjakannya. Orang fakir yang beriman dan beramal saleh mendapatkan keutamaan tersebut, bukan semata-mata karena keadaan ekonominya.

Demikian pula, pembahasan tentang banyaknya kaum wanita di neraka akan kembali diterangkan pada hadis berikutnya.

B. Empat faedah dari hadits sebelumnya

1. Orang-orang fakir di surga lebih banyak daripada orang-orang kaya.

الْفُقَرَاءُ فِي الْجَنَّةِ أَكْثَرُ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ

Orang-orang fakir di dalam surga lebih banyak daripada orang-orang kaya.

Namun, orang fakir tidak masuk surga semata-mata karena kefakirannya. Mereka masuk surga karena iman, amal saleh, dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Anjuran untuk tidak berlebihan dalam mengejar kemegahan dunia.

Dari hadis tersebut terdapat pelajaran tentang anjuran meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam memperluas kehidupan dunia dan memperbanyak kemewahan.

Hal ini bukan berarti seorang muslim dilarang memiliki harta atau menikmati rezeki yang halal. Akan tetapi, yang dilarang adalah berlebihan dalam mengejar dunia hingga seseorang menghalalkan segala cara, melalaikan kewajiban, atau melakukan perkara yang diharamkan demi mendapatkan kemewahan.

3. Anjuran kepada kaum wanita untuk memperbanyak amal saleh.

حَثُّ النِّسَاءِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَحْفَظْنَ أَنْفُسَهُنَّ مِنَ النَّارِ

Anjuran kepada kaum wanita untuk mengerjakan amal-amal saleh agar mereka menjaga diri dari api neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan pernah memberikan nasihat khusus kepada kaum wanita agar memperbanyak sedekah.

Beliau bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian. Sesungguhnya aku diperlihatkan bahwa kalian merupakan kebanyakan penghuni neraka.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

4. Surga dan neraka merupakan makhluk Allah yang telah diciptakan.

الْجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوقَتَانِ مَوْجُودَتَانِ

Surga dan neraka adalah dua makhluk Allah yang telah ada.

Keduanya bukan sekadar gambaran atau sesuatu yang baru akan diciptakan setelah hari kiamat. Keduanya merupakan kenyataan gaib yang wajib diimani.


B. HADIS KE-33/489: ORANG-ORANG MISKIN LEBIH DAHULU MASUK SURGA

Hadis berikutnya diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Hadis ini juga telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan Riyadhus Shalihin nomor 258.

Mengenal Usamah bin Zaid

Usamah bin Zaid merupakan salah seorang sahabat yang sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah, sahabat yang dahulu pernah dikenal sebagai anak angkat Rasulullah.

Ibu Usamah adalah Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha. Beliau merupakan sosok wanita yang memiliki kedekatan dengan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Zaid bin Haritsah sebelumnya menikah dengan Zainab binti Jahsy. Setelah pernikahan mereka berakhir dengan perceraian, Allah menetapkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi penjelasan syariat tentang hukum anak angkat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40).

Ayat ini menegaskan bahwa hubungan anak angkat tidak menjadikan seseorang sebagai anak kandung secara nasab. Karena itu, hukum nasab dan warisan anak angkat tidak sama dengan anak kandung.

Usamah juga memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menunjuknya sebagai pemimpin pasukan yang diberangkatkan untuk menghadapi Romawi. Pasukan tersebut kemudian kembali setelah wafatnya Rasulullah dan diberangkatkan kembali pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Lafadz hadits

عَنْ أُسَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ، فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ، وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ، غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ، وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ، فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Aku berdiri di pintu surga. Ternyata kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya masih tertahan. Adapun para penghuni neraka, mereka telah diperintahkan untuk masuk ke dalam neraka. Kemudian aku berdiri di pintu neraka. Ternyata kebanyakan orang yang memasukinya adalah kaum wanita.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan kosakata hadis

Ada beberapa kata dalam hadis ini yang perlu diperhatikan.

1. Qumtu

Kata qumtu berasal dari kata qama – yaqumu, yang berarti berdiri. Jadi, qumtu berarti aku telah berdiri.

2. Ala babil jannah

Artinya berada di pintu surga. Kata jannah pada asalnya bermakna kebun yang lebat dan dipenuhi pepohonan serta buah-buahan.

Allah menyebutkan tentang dua kebun dalam firman-Nya:

جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15).

3. Al-masakin

Kata al-masakin merupakan bentuk jamak dari miskin, yaitu orang-orang miskin.

4. Ashabul jaddi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kata al-jadd dengan huruf jim berharakat fathah memiliki makna keberuntungan, bagian, kekayaan, atau harta.

Dengan demikian, ashabul jaddi adalah orang-orang yang memiliki kekayaan dan kelapangan harta.

5. Mahbusun

Artinya tertahan atau terhalang. Dalam konteks hadis ini, orang-orang kaya masih tertahan karena harus menjalani perhitungan amal dan pertanggungjawaban atas harta mereka.

6. Ghaira anna

Maknanya adalah hanya saja atau kecuali bahwa.

7. Qad umira bihim ilannari

Artinya mereka telah diperintahkan untuk masuk ke dalam neraka. Kalimat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang memang telah ditetapkan menjadi penghuni neraka sudah diperintahkan menuju neraka.

Syarah Hadits

Mengapa orang kaya tertahan sebelum masuk surga?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang-orang kaya masih tertahan, sedangkan orang-orang miskin lebih dahulu masuk surga.

Hal ini berkaitan dengan pertanggungjawaban harta yang mereka miliki. Semakin banyak harta seseorang, semakin banyak pula perkara yang harus dipertanggungjawabkan.

Pada pembahasan hadis sebelumnya juga telah dijelaskan bahwa orang-orang kaya tertahan selama setengah hari, yang ukurannya menurut perhitungan dunia adalah lima ratus tahun.

Mereka tertahan bukan berarti seluruh orang kaya akan masuk neraka. Ini adalah kesalahan dalam memahami hadis apabila seseorang menganggap bahwa orang kaya yang tertahan pasti menjadi penghuni neraka.

Mereka hanya harus menjalani proses hisab yang lebih panjang dan terperinci.

Dari mana harta diperoleh? Bagaimana harta itu digunakan? Apakah hak-hak orang lain telah ditunaikan? Apakah harta tersebut digunakan untuk ketaatan atau justru kemaksiatan?

Semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Apakah orang-orang kafir juga dihisab?

Dalam masalah ini terdapat pembahasan di kalangan ulama. Sebagian ulama memahami bahwa orang-orang kafir tidak menjalani hisab seperti orang-orang beriman.

Di antara dalil yang dibahas adalah firman Allah:

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ

Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. (QS. Ar-Rahman: 39).

Namun, terdapat pula ulama yang menjelaskan bahwa orang-orang kafir tetap akan menghadapi proses penegakan hujah dan pengungkapan amal perbuatan mereka, meskipun bukan hisab untuk menentukan apakah mereka beriman atau tidak.

Pembahasan ini dapat dirujuk lebih lanjut dalam kitab-kitab tentang hari akhir, di antaranya karya Prof. Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengenai peristiwa hari kiamat dan hisab.

Urutan peristiwa pada hari kiamat

Setelah manusia dikumpulkan dan proses pengadilan Allah berlangsung, setiap umat akan mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.

Orang-orang yang menyembah selain Allah akan mengikuti sesembahan mereka. Adapun kaum muslimin akan menghadapi ujian yang Allah kehendaki. Orang-orang munafik tidak mampu melakukan sujud ketika diperintahkan, sedangkan orang-orang beriman mendapatkan kemudahan dari Allah.

Setelah itu, dibentangkan shirath di atas neraka Jahannam. Manusia akan melewatinya sesuai dengan keadaan iman dan amal mereka.

Dengan demikian, hadis tentang orang-orang kaya yang tertahan harus dipahami sesuai konteksnya: mereka memiliki pertanggungjawaban harta yang lebih banyak, bukan berarti semua orang kaya menjadi penghuni neraka.


MENGAPA KEBANYAKAN PENGHUNI NERAKA ADALAH WANITA?

Pada kajian sebelumnya telah disebutkan beberapa sebab yang menjadikan kaum wanita banyak menjadi penghuni neraka. Pembahasan ini merupakan peringatan agar kaum wanita memperbaiki amal dan menjaga diri dari perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah.

Empat sebab yang disebutkan dalam hadis dan penjelasannya

1. Mengingkari kebaikan suami (kufranul ‘asyir).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa salah satu sebab banyaknya wanita menjadi penghuni neraka adalah karena mereka mengingkari kebaikan suami.

Beliau bersabda:

وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

Dan kalian mengingkari kebaikan suami.

Dalam hadis yang sama, Rasulullah menjelaskan bahwa ada seorang suami yang telah berbuat baik kepada istrinya sepanjang masa. Namun, ketika istrinya melihat satu saja kekurangan darinya, ia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melihat kebaikan apa pun dari suaminya.

لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu yang tidak disukainya darimu, niscaya ia berkata, “Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ini merupakan peringatan agar seorang istri tidak melupakan pengorbanan dan kebaikan suaminya hanya karena satu kesalahan yang dilakukannya.

2. Memperbanyak laknat dan mencela.

Dalam hadis tersebut Rasulullah juga menyebutkan bahwa kaum wanita banyak melaknat dan mencela.

Seorang muslimah hendaknya menjaga lisannya. Jangan mudah melontarkan kata-kata buruk, mencaci maki, atau mendoakan keburukan kepada orang lain.

3. Tabarruj dan hilangnya rasa malu.

Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan kecantikan yang seharusnya ditutup dari pandangan laki-laki yang bukan mahram.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan tentang wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang.

نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ

Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang menyimpang dan menyesatkan.

(HR. Muslim).

Dalam lanjutan hadis tersebut terdapat ancaman bahwa mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya.

لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا

Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya.

(HR. Muslim).

4. Melalaikan kewajiban agama.

Di antara perkara yang perlu diperhatikan adalah kewajiban salat dan puasa.

Seorang muslimah harus memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan haid dan nifas, termasuk kapan mulai wajib melaksanakan salat dan bagaimana ketentuan mengqada salat ketika masa haid datang setelah masuk waktu salat.

Jangan sampai ketidaktahuan terhadap hukum agama menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban yang sebenarnya masih harus dilaksanakan.

Karena itu, penting bagi kaum wanita untuk mempelajari fikih ibadah secara benar.

Empat amalan yang hendaknya diperhatikan kaum wanita

1. Memperbanyak syukur dan berterima kasih kepada suami.

Seorang istri hendaknya membiasakan diri mengucapkan terima kasih atas kebaikan suaminya. Mengucapkan jazakallahu khairan merupakan salah satu bentuk penghargaan atas kebaikan yang telah diberikan.

Jangan membiarkan satu kekurangan menghapus seluruh kebaikan yang telah dilakukan suami.

2. Memperbanyak sedekah dan zikir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kaum wanita:

تَصَدَّقْنَ فَإِنَّكُنَّ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ

Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya kalian merupakan kebanyakan penghuni neraka.

(HR. Muslim).

Sedekah menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan. Demikian pula memperbanyak zikir, istigfar, dan berbagai amal saleh lainnya.

3. Menjauhi gibah, laknat, dan perkataan buruk.

Seorang muslimah hendaknya menjaga lisan dari gibah, namimah, mencela, melaknat, dan menyakiti orang lain.

Lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang dapat mendatangkan pahala besar, tetapi juga dapat menjadi sebab kebinasaan seseorang.

4. Berpegang teguh dengan hijab dan menjaga kehormatan.

Sebagian orang mengatakan bahwa jilbab hanyalah kebiasaan masyarakat Arab. Padahal, kewajiban berjilbab merupakan perintah Allah yang disebutkan secara jelas di dalam Al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59).

Allah juga berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS. An-Nur: 31).

Ayat tersebut memuat perintah kepada kaum wanita untuk menjaga pandangan, memelihara kehormatan, tidak menampakkan perhiasan yang wajib ditutupi, serta mengulurkan kerudung hingga menutupi bagian dada.

Kata juyub dalam ayat tersebut merujuk pada bagian bukaan pakaian di sekitar dada dan leher. Karena itu, kerudung harus dikenakan dengan benar sehingga menutupi bagian tersebut.

Seorang muslimah hendaknya tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran yang mengatasnamakan kebebasan wanita, tetapi justru mengajak untuk meninggalkan ketentuan Allah.

Menggabungkan Makna Hadits

Bagaimana menggabungkan hadis bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita dengan hadis bahwa kebanyakan penghuni surga juga wanita?

Terdapat hadis lain yang menyebutkan bahwa kaum wanita merupakan jumlah yang besar di antara penghuni surga.

Dalam memahami kedua hadis ini, perlu diperhatikan jumlah populasi wanita sejak awal penciptaan manusia hingga hari kiamat. Banyaknya wanita dalam suatu kelompok penghuni tidak serta-merta menunjukkan bahwa mereka merupakan mayoritas dibandingkan laki-laki pada kelompok lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan perbandingan jumlah wanita dan laki-laki dalam salah satu gambaran peristiwa hari kiamat.

يَكُونُ لِلرَّجُلِ الْوَاحِدِ خَمْسُونَ امْرَأَةً

Seorang laki-laki akan memiliki lima puluh wanita.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam hadis tentang banyaknya wanita).

Maksudnya adalah perbandingan jumlah wanita dan laki-laki, bukan bahwa seorang laki-laki mempunyai lima puluh istri.

Dengan demikian, hadis tentang banyaknya wanita di neraka tidak boleh dipahami sebagai penetapan bahwa setiap wanita pasti masuk neraka. Kaum wanita juga memiliki peluang yang besar untuk menjadi penghuni surga melalui iman, ketaatan, dan amal saleh.


EMPAT FAEDAH PENTING DARI HADIS KE-489

Setelah memahami kandungan hadis, terdapat beberapa faedah yang dapat diambil.

1. Penghuni surga adalah orang-orang miskin yang beramal saleh.

أَهْلُ الْجَنَّةِ هُمُ الْمَسَاكِينُ وَأَصْحَابُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ

Penghuni surga adalah orang-orang miskin yang mengerjakan amal-amal saleh.

Jangan sampai seseorang sudah hidup miskin di dunia, mengalami kesulitan, tetapi tidak memperbaiki ibadah dan amal salehnya. Kefakiran bukan jaminan masuk surga.

Orang fakir yang beriman dan beramal saleh memiliki keutamaan karena mereka tidak dibebani pertanggungjawaban harta sebanyak orang-orang yang memiliki kekayaan.

2. Harta dan anak tidak bermanfaat pada hari kiamat kecuali bagi orang yang datang dengan hati yang bersih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy-Syu’ara: 88–89).

Ayat ini mengingatkan bahwa harta dan anak-anak bukanlah jaminan keselamatan pada hari kiamat. Yang bermanfaat adalah keimanan dan hati yang bersih dari kesyirikan serta penyakit-penyakit hati.

Jangan menyombongkan harta dan anak-anak

Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan kesombongan orang-orang kafir yang merasa lebih baik karena memiliki harta, kedudukan, dan keturunan.

Allah berfirman:

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Manakah di antara kedua golongan yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuannya?” (QS. Maryam: 73).

Mereka membanggakan kedudukan, tempat tinggal, perabot rumah tangga, serta kemegahan kehidupan dunia.

Allah kemudian membantah kesombongan mereka dengan mengingatkan bahwa banyak umat terdahulu yang memiliki kemewahan lebih besar, tetapi akhirnya dibinasakan.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِئْيًا

Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal mereka lebih bagus perlengkapan rumah tangganya dan lebih indah penampilannya. (QS. Maryam: 74).

Kemudian Allah menceritakan perkataan salah seorang tokoh musyrik, Al-‘Ash bin Wa’il, yang merasa bahwa kekayaan dan anak-anaknya akan tetap diberikan kepadanya meskipun ia masuk akhirat.

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا

Sudahkah engkau melihat orang yang mengingkari ayat-ayat Kami dan berkata, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (QS. Maryam: 77).

Allah kemudian membantah perkataan tersebut:

أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

Apakah dia melihat yang gaib ataukah dia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih? (QS. Maryam: 78).

Artinya, apakah orang tersebut mengetahui perkara gaib sehingga berani memastikan bahwa dirinya akan mendapatkan kekayaan dan keturunan di akhirat? Apakah Allah pernah memberikan jaminan kepadanya?

Tentu tidak.

Allah bahkan menegaskan:

كَلَّا سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا

Sekali-kali tidak! Kami akan menulis apa yang dia katakan dan Kami akan memperpanjang azab untuknya. (QS. Maryam: 79).

Kemudian Allah berfirman:

وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأْتِينَا فَرْدًا

Dan Kami akan mewarisi apa yang dia katakan itu, dan dia akan datang kepada Kami seorang diri. (QS. Maryam: 80).

Semua harta dan keturunan yang dahulu dibanggakan tidak akan dibawa ketika seseorang menghadap Allah.

Berbeda dengan orang-orang yang mendapatkan jaminan surga berdasarkan wahyu, seperti sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga. Mereka mendapatkan keutamaan tersebut karena adanya pemberitahuan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun seseorang yang tidak memiliki wahyu tidak boleh memastikan dirinya masuk surga hanya karena merasa kaya, memiliki keturunan, atau mempunyai kedudukan tinggi.

3. Wanita yang bermaksiat kepada Allah dan mengingkari kebaikan suaminya mendapatkan ancaman keras.

Kaum wanita yang bermaksiat kepada Rabb mereka, mengingkari kebaikan suami, serta tidak menghargai pengorbanannya berada dalam ancaman yang berat.

Hal ini menjadi nasihat agar seorang istri menjaga agamanya, memperbaiki akhlaknya, dan tidak melupakan kebaikan suaminya.

4. Harta merupakan tanggung jawab besar di sisi Allah.

الْمَالُ مَسْؤُولِيَّةٌ كَبِيرَةٌ عِنْدَ اللَّهِ

Harta merupakan tanggung jawab yang besar di sisi Allah.

Karena itu, pemilik harta hendaknya menggunakan hartanya sesuai dengan perintah Allah agar hisabnya pada hari kiamat menjadi mudah.

Harta harus ditempatkan pada hak-haknya, dimulai dari nafkah wajib, kemudian nafkah sunah, sedekah, dan berbagai kebaikan lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidaklah seorang hamba memasuki waktu pagi melainkan turun dua malaikat. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah pengganti bagi orang yang berinfak.” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya (dari berinfak).”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim hendaknya menggunakan hartanya untuk memenuhi kewajiban, menafkahi keluarga, membantu orang yang membutuhkan, dan mengerjakan berbagai amal kebaikan.


C. HADIS KE-34/490: PERKATAAN PENYAIR YANG PALING BENAR

Setelah menyelesaikan pembahasan hadis ke-489, kajian dilanjutkan dengan hadis ke-490. Hadis ini masih berkaitan dengan pembahasan zuhud terhadap dunia.

Hadis diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Mengenal Abu Hurairah

Abu Hurairah merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Nama beliau adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi. Beliau dikenal dengan kunyah Abu Hurairah karena kecintaannya terhadap seekor anak kucing.

Banyak hadis yang diriwayatkan melalui beliau, termasuk hadis-hadis yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara hadis yang beliau riwayatkan adalah kabar tentang Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang kelak mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Al-Hasan:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin. Mudah-mudahan Allah akan mendamaikan melalui dirinya dua kelompok besar kaum muslimin.

(HR. Al-Bukhari).

Lafadz hadis tentang perkataan Labid bin Rabi’ah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ:

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kalimat paling benar yang pernah diucapkan oleh seorang penyair adalah perkataan Labid: Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Makna perkataan Labid

Kalimat tersebut berbunyi:

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُ

Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.

Ada beberapa kata penting yang perlu dipahami:

  • Alā: ketahuilah atau perhatikanlah.
  • Kullu: setiap atau segala sesuatu.
  • Syai’in: sesuatu.
  • Mā khalā: selain atau segala sesuatu yang bukan Allah.
  • Bāthil: batil, fana, dan tidak kekal.

Makna perkataan tersebut adalah bahwa segala sesuatu selain Allah merupakan sesuatu yang fana. Semua makhluk akan binasa, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Mahakekal.

Allah berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. (QS. Ar-Rahman: 26–27).

Perkataan Labid tersebut mengandung hikmah yang sangat besar. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai perkataan penyair yang paling benar.

Al-Qur’an bukan syair

Pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masyarakat Arab sangat terkenal dengan kemampuan bersyair. Para penyair memiliki kedudukan tinggi dan perkataan mereka sangat diperhatikan.

Ketika Al-Qur’an diturunkan, orang-orang kafir berusaha menjatuhkan Rasulullah dengan berbagai tuduhan. Di antaranya mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an hanyalah dongeng orang-orang terdahulu yang ditulis ulang.

Allah mengabadikan perkataan mereka:

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Dan mereka berkata, “(Al-Qur’an itu hanya) dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS. Al-Furqan: 5).

Mereka juga menuduh Rasulullah sebagai seorang penyair.

Allah membantah tuduhan tersebut:

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ

Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman. (QS. Al-Haqqah: 41).

Al-Qur’an bukanlah syair dan bukan pula perkataan manusia. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa mukjizat para nabi berbeda-beda?

Mukjizat yang Allah berikan kepada para nabi sesuai dengan keadaan masyarakat yang mereka hadapi.

  • Nabi Musa ‘alaihissalam diberikan mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular, ketika sihir sangat berkembang di tengah masyarakat pada zamannya.
  • Nabi Isa ‘alaihissalam diberikan mukjizat menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan penderita penyakit kusta, serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah, ketika kemampuan pengobatan menjadi sesuatu yang menonjol.
  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan mukjizat berupa Al-Qur’an, yang keindahan bahasa, kandungan, dan susunan kalimatnya tidak mampu ditandingi oleh manusia.

Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi mukjizat yang sangat agung bagi umat manusia.

Tuduhan kaum Quraisy terhadap Rasulullah

Sebelum datangnya musim haji, para pemuka Quraisy pernah berkumpul di Darun Nadwah untuk membicarakan cara menghadapi dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara tokoh yang terlibat dalam pembicaraan tersebut adalah Al-Walid bin Al-Mughirah.

Mereka berusaha mencari tuduhan yang dapat digunakan untuk menjatuhkan Rasulullah.

Ada yang mengusulkan agar beliau disebut sebagai seorang dukun. Namun, usulan tersebut ditolak karena mereka mengetahui bahwa beliau bukanlah seorang dukun.

Kemudian muncul usulan bahwa beliau adalah orang gila. Usulan ini juga ditolak karena mereka sendiri mengetahui bahwa Muhammad bukanlah orang gila.

Mereka kemudian mempertimbangkan untuk menyebut beliau sebagai penyair. Namun, tuduhan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Akhirnya mereka sepakat menuduh Rasulullah sebagai tukang sihir.

Semua itu menunjukkan bagaimana orang-orang kafir berusaha mencari berbagai cara untuk menghalangi manusia dari menerima kebenaran Al-Qur’an.

Para penyair yang membela Islam

Di antara sahabat yang memiliki kemampuan bersyair dan menggunakan kemampuan tersebut untuk membela Islam adalah:

1. Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu.

Beliau dikenal sebagai penyair yang membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syair-syairnya digunakan untuk membantah celaan dan tuduhan kaum musyrikin.

2. Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Beliau juga merupakan seorang penyair. Syair-syairnya banyak berkaitan dengan peperangan dan pembelaan terhadap kaum muslimin.

Ka’ab bin Malik juga dikenal melalui kisah taubatnya yang sangat terkenal, yang disebutkan dalam Surah At-Taubah.

Allah berfirman:

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan (karena tidak ikut berperang), hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah melainkan kepada-Nya. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah: 118).

3. Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu.

Beliau juga merupakan penyair yang menggunakan syair untuk membela Islam dan mencela kekufuran serta kebatilan.

Ketiga sahabat tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bersyair dapat dimanfaatkan untuk membela agama apabila isinya benar dan tidak bertentangan dengan syariat.


LABID BIN A’SAM DAN LABID BIN RABI’AH: DUA ORANG YANG BERBEDA

Dalam pembahasan hadis ini terdapat nama Labid yang perlu dibedakan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman.

Pertama, Labid bin A’sam Al-Yahudi.

Beliau dikenal dalam kisah sihir yang pernah menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah pernah terkena sihir sehingga seolah-olah melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:

سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ

Seorang laki-laki dari Bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al-A’sam pernah menyihir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa sihir itu dibuat dengan menggunakan rambut Rasulullah yang dimasukkan ke dalam mayang kurma jantan dan diletakkan di sebuah sumur.

Rasulullah kemudian diberi tahu oleh Allah mengenai sihir tersebut. Beliau berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah hingga Allah memberikan kesembuhan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa sihir merupakan sesuatu yang benar-benar ada dan dapat memberikan pengaruh dengan izin Allah.

Namun, seorang muslim tidak boleh takut kepada sihir secara berlebihan hingga melupakan perlindungan Allah.

Di antara perlindungan yang diajarkan Rasulullah adalah membaca Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas.

Allah berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۝ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ۝ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ۝ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1–5).

Ayat tersebut mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari berbagai keburukan, termasuk kejahatan para penyihir yang menggunakan buhul-buhul.

Kedua, Labid bin Rabi’ah Al-Amiri.

Beliau adalah seorang penyair yang berbeda dengan Labid bin A’sam. Labid bin Rabi’ah merupakan penyair yang masuk Islam dan dikenal karena perkataannya yang penuh hikmah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil perkataan beliau:

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُ

Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.

Jadi, kedua nama tersebut tidak boleh dicampuradukkan. Labid bin A’sam dikenal dalam kisah sihir, sedangkan Labid bin Rabi’ah dikenal sebagai penyair yang perkataannya dipuji oleh Rasulullah.


HUKUM MEMPELAJARI SYAIR DALAM ISLAM

Pembahasan berikutnya berkaitan dengan hukum mempelajari syair.

Pada dasarnya, syair tidak seluruhnya dilarang. Hukumnya bergantung pada isi dan pengaruhnya terhadap seseorang.

Syair yang mengandung kebaikan, nasihat, hikmah, dan pembelaan terhadap kebenaran diperbolehkan. Sebaliknya, syair yang mengandung kebatilan, kemaksiatan, keburukan, atau mengajak kepada perkara haram, maka hukumnya mengikuti kandungannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

Sungguh, rongga perut seseorang dipenuhi nanah hingga merusaknya lebih baik daripada dipenuhi syair.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini merupakan peringatan terhadap syair yang berlebihan hingga menguasai hati dan pikiran seseorang serta melalaikannya dari Al-Qur’an dan zikir kepada Allah.

Bukan berarti seluruh bentuk syair haram. Hal ini perlu dipahami dengan menggabungkan dalil-dalil yang ada.

Seorang muslim hendaknya melihat isi dan pengaruh suatu perkataan, bukan sekadar bentuk atau siapa yang menyampaikannya.

Syair yang mengandung kebaikan boleh dipelajari selama tidak berlebihan dan tidak menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban agama.

Sebaliknya, syair yang mengandung keburukan dan kemaksiatan harus dijauhi.


JANGAN SALAH MEMAHAMI TOKOH DAN SEJARAH ISLAM

Pada bagian akhir kajian, disampaikan beberapa contoh tentang bagaimana masyarakat terkadang salah memahami nama tokoh dan sejarah akibat cerita yang berkembang secara turun-temurun.

1. Abu Nuwas bukan sekadar tokoh cerita lucu

Abu Nuwas atau Abu Nuwas Al-Hasan bin Hani dikenal sebagai seorang penyair pada masa Dinasti Abbasiyah.

Syair-syairnya banyak membahas berbagai tema, termasuk kehidupan dunia dan perkara yang tidak baik.

Dalam sebagian kisah yang beredar, disebutkan bahwa pada akhir kehidupannya ia bertobat. Ada pula syair-syair yang dinisbatkan kepadanya tentang harapan terhadap ampunan Allah.

Namun, penisbatan syair-syair tersebut perlu diteliti dan tidak boleh diterima begitu saja tanpa verifikasi.

Di Indonesia, nama Abu Nawas sering dikenal melalui cerita-cerita humor. Padahal, gambaran tersebut tidak otomatis mencerminkan kehidupan dan sejarah tokoh yang sebenarnya.

Karena itu, penting bagi seorang muslim untuk memeriksa sumber sejarah sebelum menerima suatu cerita.

2. Kisah Juha dan penisbatan cerita kepadanya

Dalam cerita-cerita humor berbahasa Arab, nama Juha sering digunakan sebagai tokoh dalam berbagai kisah lucu.

Namun, dalam kajian disampaikan bahwa terdapat pembahasan tentang sosok Juha dalam literatur sejarah dan hadis.

Penyebutan nama Juha dalam berbagai cerita humor tidak boleh langsung dianggap sebagai gambaran kehidupan seorang tokoh sejarah yang benar-benar melakukan semua peristiwa tersebut.

Salah satu contoh yang disebutkan adalah kisah seseorang yang ditanya tentang guru matematikanya. Ia menjawab bahwa gurunya adalah seorang pembohong karena pada hari sebelumnya guru tersebut mengatakan empat ditambah lima sama dengan sembilan, sedangkan pada hari berikutnya mengatakan tiga ditambah enam juga sama dengan sembilan.

Ada pula cerita tentang seseorang yang ingin menuliskan nama Hasan pada cincin, tetapi hanya mempunyai uang untuk membayar dua huruf. Ia kemudian meminta agar huruf-huruf tersebut ditulis dengan cara tertentu sehingga dapat menghemat biaya.

Kisah-kisah semacam ini merupakan contoh humor yang berkembang di masyarakat. Akan tetapi, tidak semua cerita tersebut dapat dipastikan berasal dari tokoh sejarah yang namanya digunakan.

Seorang penuntut ilmu hendaknya berhati-hati dalam menisbatkan cerita kepada ulama, ahli hadis, atau tokoh terdahulu.

3. Meluruskan pemahaman tentang istilah zombie

Dalam kajian juga disinggung tentang istilah zombie yang dikenal masyarakat modern sebagai sosok menyeramkan, mayat hidup, atau makhluk yang memangsa manusia.

Ustadz mengajak jamaah untuk tidak hanya memahami suatu istilah berdasarkan gambaran yang berkembang dalam film atau media, tetapi juga menelusuri asal-usul istilah dan sejarahnya.

Disebutkan pula sebuah rujukan berjudul Min ‘Uzhama’il Islam yang dalam kajian dikaitkan dengan kisah seorang tokoh bernama Zombi dan penyebaran Islam di Brasil.

Namun, detail kisah, identitas tokoh, dan hubungan antara istilah zombie modern dengan tokoh yang disebutkan tersebut memerlukan penelitian sumber sejarah lebih lanjut. Oleh karena itu, informasi ini tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.

Pelajaran yang dapat diambil adalah pentingnya bersikap kritis terhadap informasi yang tersebar di tengah masyarakat.

Jangan sampai kita menerima suatu cerita hanya karena sering mendengarnya, tanpa mengetahui sumber dan kebenarannya.


PENUTUP DAN PELAJARAN PENTING

Dari rangkaian pembahasan hadis ke-488, ke-489, dan ke-490 dalam Bab 55 Kitab Riyadhus Shalihin, terdapat sejumlah pelajaran penting yang harus diperhatikan oleh setiap muslim.

Pertama, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan dan kedudukan dunia.

Orang-orang fakir yang beriman dan beramal saleh memiliki keutamaan besar. Mereka bahkan dapat lebih dahulu masuk surga karena sedikitnya pertanggungjawaban harta yang harus mereka jalani.

Kedua, kekayaan merupakan amanah sekaligus tanggung jawab.

Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus ditunaikan. Seorang muslim harus memastikan bahwa hartanya diperoleh dengan cara halal dan digunakan sesuai dengan perintah Allah.

Ketiga, kaum wanita harus menjaga agama dan kehormatannya.

Di antara perkara yang harus diperhatikan adalah menjaga salat, memperbanyak sedekah dan zikir, menjaga lisan, mensyukuri kebaikan suami, menjauhi tabarruj, serta berpegang teguh dengan hijab yang sesuai syariat.

Keempat, jangan membanggakan harta dan keturunan.

Harta dan anak-anak tidak akan memberikan manfaat apabila seseorang menghadap Allah dengan membawa kesyirikan dan hati yang tidak bersih.

Kelima, segala sesuatu selain Allah adalah fana.

Perkataan Labid bin Rabi’ah yang dipuji Rasulullah mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidak kekal. Semua yang kita miliki akan ditinggalkan, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Mahakekal.

Keenam, gunakan ilmu untuk memahami kebenaran.

Jangan mudah menerima cerita, perkataan, dan informasi yang beredar tanpa memeriksa sumbernya. Terlebih ketika suatu perkataan dinisbatkan kepada Rasulullah, sahabat, atau ulama.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita pemahaman agama yang benar, menjadikan kita hamba-hamba yang zuhud terhadap dunia, menggunakan harta dalam ketaatan, serta mengaruniakan kepada kita hati yang bersih ketika menghadap-Nya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Allah lebih mengetahui kebenaran.

Poster Ringkasan

*****