ʙɪsᴍɪʟʟᴀʜ
- Materi : Syarah Kitab Tauhid – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
- Pemateri : Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc, MA. hafizhahullahu.
- Hari, Tanggal : Jum’at [Sebelum Maghrib], 6 November 2026 M / 24 Jumadil Awal 1448 H
- Tempat : Izighawa – Doha Qatar
- Kitab: Kitab At-Tauhid |Bab 5: بَابُ الدُّعَاءِ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
- Tema: Dakwah Mengajak kepada Syahadat Laa Ilaaha Illallah
Pendahuluan: Dakwah kepada Tauhid adalah Jalan Para Nabi
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, kita masih melanjutkan pembahasan Bab Ad-Da’wah Ilā Syahādati An Lā Ilāha Illallāh (Dakwah Mengajak kepada Syahadat La Ilaha Illallah), yaitu dakwah kepada tauhid.
Pada pertemuan sebelumnya, kita telah membahas ayat yang dinukilkan oleh penulis rahimahullah, yaitu Surah Yusuf ayat 108. Ayat tersebut dengan sangat jelas menerangkan bahwa jalan para nabi dan orang-orang yang mengikuti Rasulullah ﷺ adalah berdakwah kepada Allah, yakni mengajak manusia kepada tauhid dengan mengikhlaskan niat hanya karena Allah Ta’ala.
Dakwah tersebut harus dibangun di atas ilmu dan pemahaman yang benar, sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya.
Selanjutnya, kita akan membahas hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim tentang pengutusan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman untuk berdakwah kepada Allah Azza wa Jalla.
1. Pengutusan Mu’adz bin Jabal ke Yaman dan Prioritas Dakwah Tauhid
Pada waktu itu, mayoritas penduduk Yaman berasal dari kalangan Ahlul Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Meskipun demikian, tentu terdapat pula masyarakat musyrikin yang bukan termasuk Ahlul Kitab.
Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berdakwah di Yaman. Selain Mu’adz, beliau juga mengutus Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Wilayah Yaman yang luas menyebabkan keduanya ditempatkan di wilayah yang berbeda.
Pengutusan ini merupakan pilihan Rasulullah ﷺ yang tentu memiliki hikmah dan tujuan. Salah satu perkara penting yang harus diperhatikan adalah pesan Nabi ﷺ mengenai materi dakwah pertama yang harus disampaikan kepada masyarakat Yaman.
Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata : ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Muadz bin Jabal –Radhiallahu’anhu– ke Yaman beliau bersabda kepadanya :
“إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله -، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب”
“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat Laa Ilaaha Illallaah (Tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah)– dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Allah”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah” (HR. Al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19).
Hadis ini menjadi landasan utama pembahasan bab kita. Rasulullah ﷺ memerintahkan Mu’adz agar perkara pertama yang disampaikan kepada masyarakat Yaman adalah dakwah tauhid, yaitu mengajak mereka mengucapkan dan memahami syahadat La Ilaha Illallah beserta konsekuensinya.
Pengutusan Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ari ke Yaman bertujuan mengajarkan Islam. Namun, yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa dakwah tauhid harus didahulukan sebelum mengajarkan syariat-syariat Islam yang lainnya.
Makna syahadat harus disertai pengucapan
Syahadat La Ilaha Illallah merupakan persaksian yang harus dilafalkan. Seseorang yang menerima kebenaran tauhid di dalam hatinya, tetapi tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, belum menampakkan persaksian masuk Islam secara lahiriah.
Mengapa harus diucapkan?
Para ulama menjelaskan bahwa syahadat termasuk kategori ikhbar, yaitu pemberitahuan atau penyampaian suatu persaksian. Sesuatu yang diberitahukan tentu harus disampaikan agar dapat diketahui oleh orang lain.
Jika seseorang hanya menyimpan pengakuan tersebut di dalam hatinya, bagaimana orang lain mengetahui persaksiannya?
Oleh karena itu, seseorang yang hendak masuk Islam harus mengucapkan dua kalimat syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Inilah salah satu tujuan utama pengutusan Mu’adz bin Jabal ke Yaman, yaitu mengajak manusia kepada tauhid dan mengajarkan konsekuensi dari syahadat tersebut.
2. Tahapan dalam Berdakwah: Mengajarkan Islam secara Bertahap
Setelah Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dakwah pertama adalah tauhid, beliau melanjutkan dengan perintah berikutnya.
فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
Jika mereka telah mematuhi dan menerima dakwah tersebut, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. (HR. Al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19).
Setelah mereka menerima tauhid dan masuk Islam, barulah Mu’adz diperintahkan mengajarkan kewajiban salat lima waktu.
Salat lima waktu merupakan bagian dari rukun Islam. Hadis ini memberikan pelajaran bahwa dakwah memiliki tahapan dan urutan prioritas.
Jangan sampai seseorang yang baru masuk Islam langsung dibebani dengan berbagai perkara yang belum menjadi prioritas baginya, sementara fondasi keimanannya belum kuat.
Misalnya, seseorang baru masuk Islam, tetapi langsung diajak kepada pembahasan jihad, penegakan khilafah, atau berbagai aktivitas dakwah lainnya. Padahal, perkara mendasar yang harus diajarkan terlebih dahulu adalah tauhid dan kewajiban-kewajiban pokok dalam Islam.
Dakwah harus memperhatikan keadaan orang yang didakwahi. Tujuannya bukan membuat orang menjauh dari Islam, tetapi membimbing mereka agar menerima agama ini dengan pemahaman yang benar.
Selanjutnya mengajarkan kewajiban zakat
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan kewajiban berikutnya setelah mereka menerima dan melaksanakan salat lima waktu.
فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
Jika mereka telah mematuhi hal tersebut, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) atas mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, kemudian dikembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. (HR. Al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19).
Sedekah secara umum terbagi menjadi dua:
- Sedekah wajib, yaitu zakat yang telah ditentukan ketentuan dan kewajibannya oleh syariat.
- Sedekah sunah, yaitu pemberian sukarela di luar kewajiban zakat.
Sedekah yang dimaksud dalam hadis ini adalah zakat wajib.
Zakat tersebut diambil dari orang-orang yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, kemudian disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya, termasuk fakir miskin.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan hubungan seorang hamba dengan Allah melalui ibadah pribadi, tetapi juga mengatur hubungan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Larangan mengambil harta zakat yang paling baik
Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan kepada Mu’adz agar tidak mengambil harta pilihan milik masyarakat ketika mengumpulkan zakat.
وَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ
Jauhilah mengambil harta-harta mereka yang paling berharga. (HR. Al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19).
Misalnya, ketika petugas zakat mengambil zakat ternak berupa kambing, sapi, atau unta, jangan sampai ia memilih hewan yang paling bagus dan paling mahal.
Petugas zakat tidak boleh mengambil hewan terbaik berdasarkan keinginannya sendiri. Sebaliknya, ia harus mengambil sesuai ketentuan syariat dengan memperhatikan keadilan.
Namun, jangan pula mengambil hewan yang paling buruk kualitasnya. Pengambilan zakat harus dilakukan secara adil dan tidak merugikan pemilik harta.
Ini merupakan pelajaran penting bagi siapa pun yang diberikan amanah untuk mengelola dan mengambil harta orang lain.
Bahaya menzalimi orang lain dan doa orang yang terzalimi
Setelah memberikan peringatan mengenai pengambilan zakat, Rasulullah ﷺ melanjutkan dengan pesan yang sangat penting:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah. (HR. Al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19).
Pesan ini tidak hanya berlaku bagi Mu’adz bin Jabal ketika menjalankan tugas mengumpulkan zakat. Kandungannya bersifat umum dan menjadi peringatan bagi seluruh kaum muslimin.
Kita harus berhati-hati agar tidak menzalimi orang lain, baik secara pribadi, dalam keluarga, dalam pekerjaan, maupun melalui suatu lembaga atau institusi.
Semakin luas dampak kezaliman yang dilakukan, semakin besar pula konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Apabila kita pernah menzalimi seseorang, hendaknya kita segera meminta maaf dan menyelesaikan hak orang tersebut.
Jangan meremehkan doa orang yang terzalimi. Sebab, tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kita juga perlu mengingat kaidah:
العِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ
Yang menjadi acuan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab.
Artinya, meskipun hadis tersebut disampaikan dalam konteks tugas Mu’adz bin Jabal, pelajaran dan hukumnya tidak terbatas pada peristiwa itu saja. Peringatan agar tidak menzalimi orang lain berlaku secara umum.
3. Keutamaan Ali bin Abi Thalib dalam Perang Khaibar
Selanjutnya, kita berpindah kepada hadis yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
Hadis ini menceritakan peristiwa Perang Khaibar. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa bendera perang akan diserahkan kepada seseorang yang memiliki keutamaan luar biasa.
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ: لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ
Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda pada hari Perang Khaibar, “Sungguh, besok aku akan memberikan bendera perang kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya. Allah akan memberikan kemenangan melalui kedua tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 3009 dan Muslim no. 2406).
Hadis ini menunjukkan keutamaan besar orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah ﷺ memberikan isyarat bahwa kemenangan dalam Perang Khaibar akan diberikan kepada kaum muslimin melalui orang tersebut.
Perang Khaibar bukanlah peperangan yang ringan. Kaum muslimin menghadapi berbagai kesulitan dan pengorbanan. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kabar bahwa kemenangan akan diperoleh melalui seorang pemimpin yang memiliki keutamaan tersebut.
Menetapkan sifat cinta bagi Allah
Hadis ini juga menjadi dalil bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat cinta.
Dalam hadis tersebut terdapat dua keadaan:
- Allah mencintai hamba-Nya.
- Hamba mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sifat cinta (mahabbah) merupakan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya. Demikian pula sifat murka, sebagaimana Allah menyebutkan dalam Surah Al-Fatihah:
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(Bukan jalan) orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 7).
Dalam pembahasan akidah, sebagian kelompok seperti Asy’ariyah tidak menetapkan sifat cinta dan murka bagi Allah sebagaimana makna sifat yang dipahami oleh Ahlus Sunnah. Mereka menakwilkan sifat-sifat tersebut karena menganggapnya berkaitan dengan perasaan atau keadaan kejiwaan makhluk.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasulullah ﷺ tetapkan bagi-Nya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, tanpa menolak sifat-Nya, tanpa mengubah maknanya, dan tanpa mempertanyakan bagaimana hakikatnya.
Menetapkan sifat cinta bagi Allah tidak berarti menyamakan Allah dengan makhluk. Allah memiliki sifat yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.
Pembahasan lebih terperinci mengenai hal ini termasuk dalam bab Asma’ wa Shifat.
Mencintai Allah harus sesuai dengan apa yang dicintai-Nya
Kemenangan yang dijanjikan dalam hadis tersebut berkaitan dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Namun, cinta tidak cukup hanya diucapkan. Seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya harus membuktikan kecintaannya dengan mengikuti apa yang dicintai dan disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Jangan sampai seseorang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi justru melakukan amalan yang tidak pernah disyariatkan oleh beliau.
Contohnya, sebagian orang mengadakan perayaan Maulid Nabi dengan alasan mencintai Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, persoalan yang harus diperiksa adalah apakah amalan tersebut benar-benar dicintai dan disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya?
Jangan sampai kita merasa telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, padahal cara yang kita tempuh tidak sesuai dengan petunjuk keduanya.
Cinta yang benar harus diwujudkan dengan ketaatan dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
4. Para Sahabat Berharap Mendapatkan Kehormatan Memegang Bendera Perang
Setelah Rasulullah ﷺ menyampaikan keutamaan orang yang akan menerima bendera perang tersebut, para sahabat memperbincangkannya sepanjang malam.
Masing-masing berharap agar dirinya yang mendapatkan kehormatan tersebut.
Hal ini sangat wajar. Sebab, orang yang akan menerima bendera itu bukan sekadar mendapatkan tugas memimpin peperangan, tetapi telah mendapatkan rekomendasi langsung dari Rasulullah ﷺ bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dalam riwayat lain, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjelaskan betapa besar keinginannya untuk mendapatkan kehormatan tersebut.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَا أَحْبَبْتُ الْإِمَارَةَ إِلَّا يَوْمَئِذٍ
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak pernah menginginkan kepemimpinan kecuali pada hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam riwayat tentang Perang Khaibar).
Ini menunjukkan betapa besar perhatian para sahabat terhadap keutamaan akhirat.
Mereka bukan orang-orang yang berlomba-lomba mengejar kedudukan dunia. Namun, ketika ada kesempatan memperoleh keutamaan yang berkaitan dengan akhirat, mereka sangat bersemangat untuk mendapatkannya.
Inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi kita. Dalam urusan akhirat, hendaknya kita berlomba-lomba dalam kebaikan sesuai kemampuan masing-masing.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebaikan. (QS. Al-Baqarah: 148).
Ali bin Abi Thalib ternyata orang yang dimaksud
Pada pagi harinya, Rasulullah ﷺ mencari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Para sahabat menjelaskan bahwa Ali sedang mengalami sakit pada kedua matanya. Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan agar Ali dipanggil.
Setelah Ali datang, Rasulullah ﷺ meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Seketika itu pula kedua matanya sembuh seakan-akan tidak pernah mengalami sakit.
Inilah salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ menyerahkan bendera perang kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Peristiwa ini menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah orang yang dipilih Rasulullah ﷺ untuk menerima bendera perang dalam Perang Khaibar.
Namun, kita perlu memahami hadis ini secara benar dan tidak berlebihan dalam menyimpulkannya.
Hadis ini bukan dalil bahwa Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar
Hadis tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib ini sangat sering dijadikan argumentasi oleh kelompok Syiah untuk mengklaim bahwa Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Mereka berargumen, jika Abu Bakar dan Umar lebih utama, mengapa bendera tersebut tidak diberikan kepada salah satu dari keduanya?
Para ulama Ahlus Sunnah telah menjelaskan kekeliruan argumentasi semacam ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah kaidah penting mengenai keutamaan para sahabat.
Apabila suatu keistimewaan dimiliki bersama oleh beberapa orang, maka keistimewaan tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa salah seorang dari mereka lebih utama daripada yang lainnya.
Sebaliknya, apabila suatu keistimewaan hanya dimiliki oleh seseorang dan tidak dimiliki oleh yang lain, hal tersebut dapat menjadi salah satu ukuran keutamaannya.
Kita harus melihat inti keistimewaan yang disebutkan dalam hadis tersebut.
Apa keistimewaan utama Ali dalam hadis ini?
Bukan semata-mata karena beliau menerima bendera perang, tetapi karena beliau mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Apakah keistimewaan tersebut hanya dimiliki Ali?
Tentu tidak. Keutamaan mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya juga dimiliki oleh para sahabat lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. At-Taubah: 100).
Ayat ini menunjukkan bahwa para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Ansar mendapatkan keridaan Allah. Mereka juga memiliki kecintaan dan keridaan kepada Allah.
Dengan demikian, keistimewaan mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya bukan hanya milik Ali bin Abi Thalib.
Adapun bendera perang, penyerahan bendera kepada seorang sahabat dalam suatu peperangan tidak otomatis menunjukkan bahwa orang tersebut lebih utama daripada seluruh sahabat lainnya.
Keistimewaan khusus Abu Bakar Ash-Shiddiq
Sebagai contoh, terdapat keistimewaan yang disebutkan secara khusus oleh Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yaitu kedudukan sebagai Khalil.
Khalil merupakan tingkatan kecintaan yang sangat tinggi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai khalil-Nya. Rasulullah ﷺ juga menyebutkan kedudukan tersebut bagi diri beliau.
عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ: إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Dari Jundab bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Lima hari sebelum Rasulullah ﷺ wafat, aku mendengar beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari menjadikan seorang di antara kalian sebagai khalil. Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil.'” (HR. Muslim no. 532).
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ menyebutkan keutamaan Abu Bakar:
لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا
Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. (HR. Al-Bukhari no. 3656 dan Muslim no. 2383).
Keistimewaan ini disebutkan secara khusus bagi Abu Bakar.
Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini berdasarkan dalil dan kesepakatan para sahabat bahwa sahabat yang paling utama setelah Rasulullah ﷺ adalah:
- Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
- Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
- Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
- Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Kita menetapkan keutamaan Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tetapi tidak menjadikannya sebagai alasan untuk merendahkan atau mengurangi keutamaan sahabat lainnya.
5. Pesan Rasulullah kepada Ali: Berdakwah Sebelum Memerangi
Setelah menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib, Rasulullah ﷺ memberikan arahan mengenai tugas yang harus dilaksanakannya.
فَانْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ، فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
Berangkatlah dengan tenang hingga engkau tiba di wilayah mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan beritahukan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan dalam Islam. Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang melalui dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta merah. (HR. Al-Bukhari no. 3009 dan Muslim no. 2406).
Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat penting mengenai tujuan dakwah dan jihad dalam Islam.
Meskipun Ali bin Abi Thalib diutus dalam konteks peperangan, Rasulullah ﷺ tetap memerintahkannya agar terlebih dahulu menyeru musuh kepada Islam.
Artinya, tujuan utama dakwah dan jihad bukanlah semata-mata peperangan. Dakwah kepada Allah dan penyampaian kebenaran harus didahulukan.
Jika mereka menerima dakwah dan mendapatkan hidayah, itulah yang diharapkan.
Hidayah kepada satu orang lebih baik daripada harta dunia yang sangat berharga
Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan berupa unta-unta merah.
Pada masa itu, unta merah termasuk harta yang sangat bernilai dan menjadi simbol kekayaan yang besar.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang menjadi sebab datangnya hidayah kepada satu orang lebih baik daripada memperoleh kekayaan dunia yang sangat berharga.
Ini menunjukkan betapa mulianya tugas dakwah.
Mengajak seseorang menghadiri kajian, menuntut ilmu, mempelajari tauhid, dan mengenal sunnah merupakan bagian dari usaha mengajak kepada hidayah.
Ketika seseorang mendapatkan ilmu melalui ajakan kita, kemudian mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain, insyaallah kita memperoleh bagian dari pahala kebaikan tersebut selama Allah menghendakinya.
Oleh karena itu, mengajak orang kepada majelis ilmu dapat menjadi investasi akhirat yang sangat berharga.
Dakwah tauhid tetap menjadi prioritas dalam keadaan damai maupun perang
Ada perbedaan antara pengutusan Mu’adz bin Jabal dan Ali bin Abi Thalib.
- Mu’adz bin Jabal diutus ke Yaman dalam keadaan damai untuk mengajarkan Islam.
- Ali bin Abi Thalib diutus dalam konteks peperangan Khaibar.
Namun, keduanya memiliki kesamaan dalam hal prioritas dakwah, yaitu menyeru manusia kepada tauhid.
Dengan demikian, baik dalam keadaan damai maupun dalam konteks peperangan, dakwah tauhid tetap menjadi perkara yang sangat penting.
Inilah jalan para nabi dan orang-orang yang mengikuti Rasulullah ﷺ.
6. Kandungan dan Pelajaran Penting dari Bab Dakwah kepada Tauhid
Setelah membahas ayat dan hadis dalam bab ini, penulis rahimahullah menyebutkan sejumlah permasalahan (masā’il) yang dapat kita jadikan sebagai bahan murajaah.
Berikut penjelasan dari 30 pelajaran yang terkandung dalam bab ini.
1. Dakwah kepada tauhid merupakan jalan Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).
Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah kepada Allah, yakni dakwah tauhid, merupakan jalan Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikuti beliau.
Siapa pun yang mengaku mengikuti Rasulullah ﷺ hendaknya menjadikan dakwah tauhid sebagai bagian penting dari perjuangannya.
2. Pentingnya ikhlas dalam berdakwah
Seorang dai harus mengikhlaskan niat hanya kepada Allah.
Jangan sampai seseorang mengajak manusia kepada kebenaran, tetapi sebenarnya ia sedang mengajak mereka kepada kepentingan dirinya sendiri.
Misalnya, berdakwah hanya untuk mengumpulkan jamaah, mendapatkan banyak pengikut, memperoleh kedudukan, atau meraih keuntungan duniawi.
Dakwah yang benar adalah dakwah yang dilakukan karena Allah, bukan untuk kepentingan pribadi.
3. Memiliki ilmu dan pemahaman merupakan kewajiban dalam berdakwah
Seorang dai harus memiliki ilmu mengenai perkara yang disampaikannya.
Allah berfirman dalam Surah Yusuf ayat 108:
أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ
Aku mengajak kepada Allah berdasarkan ilmu dan pemahaman yang nyata. (QS. Yusuf: 108).
Kata bashirah mencakup ilmu, pemahaman, dan ketepatan dalam berdakwah.
Seorang dai harus memahami:
- Materi yang akan disampaikan.
- Siapa orang yang menjadi sasaran dakwah.
- Bagaimana keadaan orang yang didakwahi.
- Metode yang tepat untuk menyampaikan kebenaran.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa seorang dai wajib memiliki ilmu mengenai apa yang didakwahkannya.
Hal ini berdasarkan kaidah fikih:
مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
Sesuatu yang suatu kewajiban tidak dapat terlaksana secara sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut juga menjadi wajib.
Karena dakwah merupakan kewajiban, sedangkan dakwah tidak dapat dilakukan dengan benar tanpa ilmu, maka mempelajari ilmu yang diperlukan untuk berdakwah juga menjadi kewajiban.
Dakwah dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang mampu mengajar dan membahas kitab para ulama, ada yang mampu membagikan materi ilmiah, dan ada pula yang mengajak orang lain menghadiri majelis ilmu.
Selain dakwah dengan ilmu (bil ‘ilmi), terdapat pula dakwah melalui keteladanan amal perbuatan (bil hal).
4. Tauhid merupakan bentuk penyucian dan pengagungan kepada Allah
Salah satu bukti kebaikan tauhid adalah bahwa tauhid menyucikan Allah dari segala bentuk kekurangan dan sifat tercela.
Tauhid mengajarkan kita untuk tidak menyerupakan Allah sebagai Sang Pencipta dengan makhluk-Nya.
Allah adalah Zat Yang Mahasempurna, sedangkan makhluk memiliki kekurangan dan keterbatasan.
Menyamakan Sang Pencipta dengan makhluk berarti menurunkan derajat kesempurnaan Allah dalam keyakinan seseorang. Hal ini bertentangan dengan hakikat tauhid.
5. Syirik merupakan bentuk perendahan terhadap Allah
Syirik merupakan kebalikan dari tauhid.
Ketika seseorang menyekutukan Allah dengan makhluk, ia telah menempatkan makhluk pada kedudukan yang tidak pantas baginya.
Contohnya adalah berdoa kepada penghuni kubur, meminta pertolongan kepada selain Allah dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, atau menganggap tempat tertentu memiliki kekuatan gaib yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya secara mandiri.
Tauhid mengajarkan agar seluruh bentuk ibadah ditujukan hanya kepada Allah.
6. Menjauhkan diri dari lingkungan kesyirikan
Termasuk perkara penting dalam dakwah adalah menjauhkan kaum muslimin dari lingkungan yang dipenuhi praktik kesyirikan.
Seseorang mungkin belum melakukan kesyirikan secara langsung, tetapi apabila ia terus-menerus berada dalam lingkungan yang menormalisasi kesyirikan tanpa memiliki pemahaman yang benar, dikhawatirkan ia akan terpengaruh.
Karena itu, dakwah tauhid harus disertai usaha menjaga diri dan keluarga dari berbagai bentuk kesyirikan.
7. Tauhid merupakan kewajiban pertama
Tauhid merupakan fondasi utama agama Islam.
Perkara pertama yang harus ditanamkan kepada seseorang yang belum masuk Islam adalah keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi.
Bukan keraguan, filsafat, atau kebingungan yang menjadi dasar pertama dalam beragama, melainkan keyakinan yang benar kepada Allah.
8. Memahami makna syahadat La Ilaha Illallah
Dakwah tauhid berarti mengajak manusia memahami syahadat La Ilaha Illallah.
Syahadat bukan sekadar ucapan, tetapi memiliki makna dan konsekuensi.
Maknanya adalah tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah.
Konsekuensinya adalah memurnikan seluruh ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya.
9. Tauhid harus didahulukan sebelum kewajiban lainnya bagi orang yang baru masuk Islam
Hadis Mu’adz menunjukkan bahwa tauhid harus disampaikan terlebih dahulu sebelum kewajiban lainnya, termasuk salat.
Namun, hal ini harus dipahami sesuai keadaan orang yang didakwahi.
Apabila seseorang belum masuk Islam, maka perkara pertama yang disampaikan adalah tauhid.
Adapun apabila seseorang telah beragama Islam tetapi masih meninggalkan salat atau melakukan kemaksiatan, ia tetap harus diajarkan kewajiban salat dan dinasihati sesuai keadaan serta tingkat pemahamannya.
10. Ahlul Kitab belum tentu memahami makna syahadat
Seseorang yang berasal dari kalangan Ahlul Kitab belum tentu mengetahui makna syahadat La Ilaha Illallah.
Bahkan, sebagian orang yang mengetahui maknanya pun belum tentu mengamalkannya.
Hal yang sama juga dapat terjadi pada kaum muslimin. Tidak semua orang Islam memahami hakikat tauhid dengan benar.
Oleh karena itu, mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan tauhid merupakan kebutuhan yang sangat penting.
11. Pentingnya metode pengajaran secara bertahap
Dakwah dan pengajaran Islam harus dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan orang yang belajar.
Seseorang yang baru masuk Islam tidak langsung dibebani seluruh pembahasan agama yang berat.
Demikian pula dalam menuntut ilmu, hendaknya seseorang memulai dari kitab-kitab dasar sebelum mempelajari kitab yang lebih luas dan mendalam.
Inilah salah satu karakteristik pengajaran seorang ulama rabbani, yaitu mengajarkan ilmu dari perkara-perkara mendasar sebelum beralih kepada pembahasan yang lebih tinggi.
12. Mendahulukan perkara yang paling penting
Dalam berdakwah, kita harus mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian perkara penting berikutnya.
Prinsip ini disebut:
الْبَدَاءَةُ بِالْأَهَمِّ فَالْأَهَمِّ
Memulai dari perkara yang paling penting, kemudian perkara penting berikutnya.
Tauhid didahulukan karena merupakan fondasi agama. Setelah itu, barulah kewajiban-kewajiban lainnya diajarkan sesuai urutan dan kebutuhan.
13. Orang fakir termasuk golongan yang berhak menerima zakat
Hadis Mu’adz menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir.
Fakir merupakan salah satu golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 60.
14. Orang berilmu wajib menjelaskan perkara yang masih samar bagi orang yang belajar
Seorang guru atau dai harus memberikan penjelasan terhadap perkara yang belum dipahami oleh muridnya.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada Mu’adz agar tidak mengambil harta terbaik ketika mengumpulkan zakat.
Walaupun Mu’adz merupakan sahabat yang memiliki ilmu, beliau tetap mendapatkan pengarahan dan penjelasan dari Rasulullah ﷺ.
15. Larangan mengambil harta terbaik dalam penarikan zakat
Petugas zakat tidak boleh mengambil harta terbaik milik orang yang membayar zakat secara zalim.
Pengambilan zakat harus dilakukan sesuai ketentuan syariat dan dengan memperhatikan keadilan.
16. Wajib menjauhi kezaliman
Seorang muslim harus menjaga diri dari menzalimi orang lain, baik dalam urusan harta, kehormatan, maupun hak-hak lainnya.
Kezaliman merupakan perkara berbahaya yang dapat mendatangkan akibat buruk di dunia dan akhirat.
17. Doa orang yang terzalimi tidak terhalang dari Allah
Rasulullah ﷺ memperingatkan agar kita takut terhadap doa orang yang terzalimi.
Tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, jangan meremehkan hak orang lain dan jangan merasa aman ketika melakukan kezaliman.
18. Para nabi dan orang-orang bertauhid mengalami ujian dan kesulitan
Di antara bukti kebenaran tauhid bukan berarti seseorang terbebas dari ujian.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat pernah mengalami kesulitan, kelaparan, peperangan, dan berbagai ujian lainnya.
Peristiwa Perang Khaibar menjadi salah satu contoh beratnya perjuangan kaum muslimin.
Demikian pula setelah masa Rasulullah ﷺ, para sahabat menghadapi berbagai ujian, termasuk wabah penyakit.
Ujian tidak menunjukkan bahwa seseorang jauh dari Allah. Bahkan, ujian dapat menjadi sarana untuk meninggikan derajat dan menghapus dosa.
19. Kabar kemenangan yang disampaikan Rasulullah merupakan tanda kenabian
Sabda Rasulullah ﷺ bahwa Allah akan memberikan kemenangan melalui orang yang memegang bendera merupakan salah satu kabar tentang perkara yang akan terjadi.
Ketika kabar tersebut terwujud, hal itu menjadi bukti kebenaran kenabian beliau ﷺ.
20. Sembuhnya mata Ali setelah diludahi Rasulullah merupakan mukjizat
Ketika Rasulullah ﷺ meludahi kedua mata Ali bin Abi Thalib, penyakitnya langsung sembuh.
Peristiwa tersebut merupakan mukjizat yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ.
Mukjizat ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mengqiyaskan perbuatan tersebut kepada orang lain, seperti ulama, guru, kiai, habib, atau tokoh agama.
Tidak boleh pula menjadikan riwayat ini sebagai alasan untuk mengkultuskan seseorang secara berlebihan.
21. Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
Hadis Perang Khaibar menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib.
Beliau adalah orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Namun, keutamaan ini tidak berarti bahwa Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar.
22. Keutamaan para sahabat karena semangat mereka dalam meraih kebaikan
Para sahabat sangat bersemangat mendapatkan keutamaan akhirat.
Hal ini terlihat ketika mereka memperbincangkan sepanjang malam mengenai siapa yang akan memperoleh kehormatan memegang bendera perang.
Masing-masing berharap agar dirinya yang terpilih. Ini menunjukkan semangat mereka dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan.
23. Wajib beriman kepada takdir Allah
Para sahabat yang hadir dan menginginkan bendera tersebut ternyata tidak semuanya mendapatkannya.
Justru Ali bin Abi Thalib yang saat itu sedang sakit dan tidak hadir dalam perbincangan tersebut yang memperoleh kehormatan itu.
Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir Allah.
Manusia boleh berusaha, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
24. Adab dalam berjihad: Tidak tergesa-gesa
Rasulullah ﷺ berpesan kepada Ali agar berangkat dengan tenang.
Hal ini menunjukkan pentingnya ketenangan, perencanaan, dan tidak tergesa-gesa dalam menjalankan tugas.
Dalam setiap urusan, termasuk jihad, diperlukan pertimbangan dan strategi yang matang.
25. Mendakwahi musuh sebelum memeranginya
Hadis ini menunjukkan bahwa musuh harus terlebih dahulu diajak kepada Islam sebelum peperangan dilakukan.
Dakwah merupakan prioritas, sedangkan peperangan memiliki ketentuan dan aturan tersendiri dalam syariat.
26. Ketentuan dakwah sebelum peperangan juga berlaku bagi pihak yang pernah didakwahi
Prinsip menyampaikan dakwah sebelum peperangan bukan hanya berlaku kepada pihak yang belum pernah mengenal Islam.
Dalam kondisi yang diatur oleh syariat, dakwah tetap disampaikan sebelum peperangan dilakukan, meskipun pihak tersebut pernah berhadapan dengan kaum muslimin sebelumnya.
27. Dakwah harus dilaksanakan dengan bijaksana
Rasulullah ﷺ memerintahkan Ali untuk mengajak mereka kepada Islam dan menjelaskan hak-hak Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, memperhatikan keadaan orang yang didakwahi, serta menyampaikan ajaran Islam secara jelas dan bertahap.
Tidak boleh tergesa-gesa atau memaksakan sesuatu tanpa memperhatikan ketentuan syariat.
28. Wajib mengetahui hak-hak Allah dalam Islam
Seorang muslim harus mengenal hak-hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba-Nya.
Di antaranya adalah tauhid, salat, zakat, serta kewajiban-kewajiban lainnya yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Seorang dai juga harus memahami perkara-perkara tersebut agar dapat menyampaikannya dengan benar.
29. Besarnya keutamaan dakwah meskipun hanya menyebabkan satu orang mendapatkan hidayah
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa memberikan hidayah kepada satu orang melalui dakwah lebih baik daripada memperoleh unta merah.
Hal ini menunjukkan besarnya pahala mengajak manusia kepada Islam.
Makna dakwah juga mencakup mengajak sesama muslim untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, meninggalkan penyimpangan, serta mempelajari agama dengan benar.
30. Boleh bersumpah ketika memberikan penjelasan apabila diperlukan
Dalam hadis tersebut Rasulullah ﷺ bersumpah dengan nama Allah untuk menegaskan besarnya keutamaan memberikan hidayah kepada seseorang.
Hal ini menunjukkan bahwa bersumpah dalam menyampaikan ilmu atau menjawab pertanyaan diperbolehkan apabila terdapat kebutuhan dan kemaslahatan.
Namun, sumpah tidak boleh dijadikan kebiasaan tanpa alasan yang diperlukan dan tidak boleh dilakukan dengan berdusta.
7. Kesimpulan: Tauhid Harus Menjadi Prioritas Utama Dakwah
Dari seluruh pembahasan bab ini, terdapat beberapa prinsip besar yang harus kita pegang dalam berdakwah.
- Pertama, dakwah tauhid adalah jalan para nabi. Seluruh nabi mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan.
- Kedua, dakwah harus dilandasi keikhlasan. Jangan sampai seseorang berdakwah untuk mengumpulkan pengikut, mencari popularitas, memperoleh kedudukan, atau mengejar kepentingan dunia.
- Ketiga, dakwah harus dibangun di atas ilmu. Seorang dai wajib memahami apa yang disampaikannya, siapa yang menjadi sasaran dakwahnya, dan bagaimana cara menyampaikan kebenaran dengan tepat.
- Keempat, dakwah harus dilakukan secara bertahap. Tauhid menjadi perkara pertama yang harus ditanamkan kepada orang yang belum masuk Islam. Setelah itu, kewajiban-kewajiban lainnya diajarkan sesuai tahapan dan kemampuan.
- Kelima, dakwah harus disertai akhlak dan keadilan. Jangan sampai seseorang yang mengajak manusia kepada agama Allah justru melakukan kezaliman terhadap orang lain, mengambil hak orang lain, atau memperlakukan manusia secara tidak adil.
- Keenam, keutamaan terbesar adalah mendapatkan rida Allah. Sebagaimana para sahabat yang berlomba-lomba mendapatkan keutamaan akhirat, kita pun hendaknya bersemangat dalam menuntut ilmu, mengamalkan agama, dan mengajak orang lain kepada kebaikan.
- Terakhir, jangan pernah meremehkan usaha mengajak seseorang kepada hidayah. Bisa jadi melalui ajakan sederhana kita, seseorang mendapatkan petunjuk, kemudian mengamalkan Islam dengan benar, mengajarkannya kepada keluarga, dan menyebarkannya kepada orang lain. Sungguh, hal itu merupakan keuntungan akhirat yang sangat besar.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang ikhlas dalam berdakwah, istiqamah di atas tauhid, serta senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ hingga akhir hayat.
Penutup
Dengan demikian, pembahasan Bab Ad-Da’wah Ilā Syahādati An Lā Ilāha Illallāh telah selesai. Insyaallah, pada pertemuan berikutnya kita akan melanjutkan pembahasan ke bab selanjutnya.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.
Poster Ringkasan
******


