Kajian Rutin

Dalam Mendekatkan Diri kepada Allah, Mereka Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram. Beribadah dengan mengharamkan yang halal, sebagaimana mereka beribadah dengan kesyirikan.

Termasuk perkara jahiliyah yaitu ibadah mereka, yakni mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan mengharamkan perkara yang diewajibkan Allah ﷻ. Mereka mengharamkan menutup aurat dalam thawaf sebagaimana kondisi orang-orang musyrik dahulu.

Menjadikan Ulama dan Ahli Ibadah Sebagai Sesembahan Selain Allah ﷻ: Beribadah dengan menjadikan para pendeta sebagai Tuhan-tuhan selain Allah.

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku sentiasa bersamanya selama dia mengingati Aku. Demi Allah, Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kamu semua yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hamba-Ku itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil.” (Muttafaq ‘alaih)

441. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu, bahwasanya dia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda tiga hari sebelum beliau wafat: “Jangan sampai salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ﷻ.”

Sesungguhnya setiap kelompok mengkalim kelompoknya yang selamat. Maka Allah medustakan mereka dengan firman-Nya:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar “. ( QS. al-baqarah : 111 ).

Kemudian Allah menjelaskan kebenaran dengan firman-Nya :

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan ” . (QS. al-Baqarah : 102 ).

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku sentiasa bersamanya selama dia mengingati Aku. Demi Allah, Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kamu semua yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hamba-Ku itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil.”

Ini disebutkan dalam salah satu riwayat Imam Muslim.

Daripada Abu Musa Al-Asy’ri radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila Allah hendak memberikan rahmat kepada suatu umat, maka Dia mewafatkan nabinya terlebih dahulu sebelum umat itu, maka jadilah nabi itu sebagai perintis dan pendahulu bagi umat itu. Dan apabila Allah hendak membinasakan suatu umat, disiksa-Nya umat itu, sedangkan nabinya masih hidup. Lalu umat itu binasa disaksikan nabinya dengan mata kepalanya, ketika mereka mendustakan dan mengingkari perintahnya.” – [Shahih Muslim no. 2288]

Hadist ini dibawakan di bab raja, kaitanya adalah bahwa umat ini manakala Nabi ﷺ wafat dan kita masih ada, menunjukkan umat ini umat yang dirahmati. Yang Allah ﷻ tidak menginginkan kebinasaan pada umat ini, karena Rasulullah ﷺ wafat duluan. Yang dimaksud adalah umat secara keseluruhannya.

Keutamaan umat Nabi ﷺ lainnya yang telah dijelaskan antara lain: Menjadi saksi bagi umat-umat yang lainya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 143: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Pada pembahasan ini terdapat hal penting yang seharusnya diperhatikan orang yang berakal, yaitu sempurnanya kelezatan, kegembiraan, kesenangan, kenikmatan hati, dan keceriaan ruh mengikuti dua perkara:

Kesempurnaan dan keindahan dzat yang dicintai, yakni kecintaan kepadanya lebih diutamakan dibandingkan terhadap selainnya.
Kesempurnaan cinta kepadanya, berupaya keras mencintainya, dan mengutamakan kedekatan dengannya di atas segala sesuatu.

Setiap orang yang berakal mengetahui bahwa kelezatan memperoleh sesuatu yang dicintai sangat bergantung pada seberapa besar kekuatan cinta itu sendiri. Semakin besar kekuatan cinta maka kelezatan cinta juga semakin sempurna. Seperti halnya kelezatan orang yang mendapatkan air segar setelah dahaga yang sangat, kelezatan orang yang mendapatkan makanan yang enak setelah kelaparan yang sangat, dan semisalnya, semua itu sesuai dengan kadar kerinduan serta kekuatan kehendak dan cinta.

Karena shalat Jum’at adalah shalat wajib, maka disyaratkan baginya masuk waktu untuk melaksanak annya,seperti shalat-shalat wajib lainnya. Karenanya, tidak sah dilakukan sebelum atau setelah habis waktunya. Dasarnya adalah firman Allah ﷻ :

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisaa: 103)

Pelaksanaan shalat Jum’at sesudah tergelincirnya matahari (setelah masuk Zhuhur) lebih baik dan aman. Karena inilah waktu di mana Rasulullah ﷺ, menunaikan sebagian besar shalat Jum’at beliau. Sementara pelaksanaannya sebelum matahari tergelincir adalah masih diperselisihkan di kalangan para ulama.

Akhir waktu Jum’at sama dengan akhir waktu Zhuhur, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.

Masalah Ke – 32: Pengingkaran Mereka terhadap Kebenaran Bila Kebenaran Itu Bersama dengan Orang Selain Mereka yang Tidak Mereka Sukai

Ini merupakan masalah yang paling berbahaya, yaitu pengingkaran mereka terhadap kebenaran jika kebenaran itu bersama orang lain yang tidak mereka suka, yakni tidak mereka cintai, maka merekapun meniggalkan kebenaran yang ada padanya karena kebencian mereka terhadap seseorang, maka mereka pun meninggalkan kebenaran karenanya.

Yang wajib bagi seorang muslim yaitu menerima kebenaran dari orang yang membawanya, karena kebenaran adalah perkara mukmin yang hilang, dimana saja ia mendapatkannya ia mengambilnya, baik kebenaran itu bersama temannya mapun bersama musuhnya; karena ia mencari kebenaran. Adapun jika tolok ukur kebenarannya manusia maka ini merupkan agama kaum jahiliyah.

Masalah Ke – 33: Kontradiksi Mereka Dalam Pengakuan dan Pengingkaran

Pengingkaran mereka terhadap perkara yang mereka akui sebagai bagian dari agama. Sebagaiman mereka lakukan dalam ibadah haji. Allah ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri “. ( QS. al-Baqarah : 130 ).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kamu semua yang menyempurnakan wuduk, lalu dia berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke dalam hidung lalu menghembukannya) kecuali dosa-dosa wajahnya, bibirnya dan hidungnya akan berjatuhan bersama air basuhan wuduk itu. Kemudian, apabila dia membasuh wajahnya sebagaimana yang di perintahkan Allah, niscaya dosa-dosa wajahnya akan berjatuhan bersama-sama air dari hujung-hujung janggutnya. Dan tidaklah dia membasuh kedua tanganya hingga pergelangan siku kecuali dosa-dosa kedua tangannya akan berjatuhan bersama air dari jari-jemarinya. Dan tidaklah dia membasuh kepalanya kecuali dosa-dosa kepalanya akan berjatuhan bersama air dari hujung rambutnya. Dan tidaklah dia membasuh kedua kakinya hingga buku lali kecuali dosa-dosa kedua kakinya juga berjatuhan bersama air dari jari-jari kakinya. Dan apabila dia mendirikan shalat lalu memuji Allah serta menyanjung-Nya dan juga memujinya dengan sesuatu yang memang Dia-lah yang berhak atasnya lalu menumpahkan hatinya semata-mata hanya tertuju untuk Allah, niscaya dia akan terlepas diri daripada dosa-dosanya sebagaimana hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

Kemudian Amr bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, salah seorang sahabat Rasulullah, lantas Abu Umamah menegurnya, “Wahai Amr, perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Apakah mungkin seseorang itu diberikan keampunan sebesar itu hanya dengan mengerjakan serangkai amalan saja?”

Amr menjawab, “Wahai Abu Umamah, usiaku sudah lanjut, tulangku sudah rapuh dan ajalku hampi tiba, maka buat apa aku berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Seandainya aku hanya mendengar satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali dan tujuh kali sahaja dari Rasulullah, aku pasti tidak akan menceritakan hal itu selama-lamanya, tetapi aku mendengarnya lebih daripada itu.”

[Shahih Muslim no. 832]

Aman sesuai regulasi maknanya beribadah sesuai dengan aturan agama yang benar. Kalau dalam masalah dunia saja segala sesuatu diatur sesuai regulasi, apalagi dalam urusan akhirat, yaitu harus memiliki dua syarat:
1. Ikhlas karena Allah ﷻ
2. Muttaba’ah (mengikuti contoh Rasulullah ﷺ.

Ciri-ciri orang yang cerdas adalah orang yang taat aturan. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an dalam Surat Az-Zumar Ayat 18:

ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan kebiasaan bid’ah dalam membaca Al-Qur’an.