Tag Archives: Ustadz Wadi

Ketahuilah bahwa pada masa Rasulullah ﷺ yang mulia, fikih belum dikodifikasi, dan kajian hukum pada masa itu belum seperti yang dilakukan para fukaha sekarang ini, yang dengan segala daya upaya menjelaskan rukun, syarat, dan adab, yang masing-masing dibedakan berdasarkan dalilnya.

Mereka menjelaskan bentuk-bentuk hukum mereka sendiri, membicarakan bentuk-bentuk yang dipaksakan itu, mendefinisikan apa yang dapat didefinisikan, membatasi apa yang dapat dibatasi, dan seterusnya. Sebaliknya, Rasulullah ﷺ berwudhu, dan para sahabat melihat wudhu beliau, lalu mereka menerimanya tanpa beliau menjelaskan: Ini rukun dan itu adab.

Beliau shalat, dan mereka melihat shalat beliau, dan mereka shalat sebagaimana mereka melihatnya shalat. Beliau berhaji, dan orang-orang pun melaksanakan haji beliau, dan mereka pun melakukan sebagaimana beliau melakukannya. Inilah pola umum perilakunya.

Beliau tidak menjelaskan bahwa rukun wudhu ada enam atau empat, dan beliau juga tidak berasumsi bahwa seseorang dapat berwudhu tanpa adanya risalah hadits yang sah, sehingga beliau dapat menentukan sah atau tidaknya wudhu. Mereka jarang bertanya kepadanya tentang hal-hal ini.

1/443- Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Seandainya orang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berharap masuk surga-Nya. Andaikan orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, pasti tidak akan ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (HR. Muslim no. 2755)

2/444- Abu Sa‘īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh orang banyak atau kaum pria di pundak mereka; jika dia orang yang saleh, dia berkata, ‘Segerakanlah aku! Segerakanlah aku!’ Namun jika dia bukan orang yang saleh, dia berkata, ‘Duhai celakanya! Ke manakah kalian akan membawanya?’ Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Andai manusia mendengarnya, pasti dia akan pingsan.” (HR. Bukhari III/181 Fathul Bari)

Mukadimah
Pengarang Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Murid Syaikh Musthofa Al ‘Adawi yang juga murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahumullah, Beliau pengarang yang bisa dipegang (terpercaya) dan bisa dijadikan rujukan. Meskipun latar belakangnya seorang engineer, tidak menghalangi Beliau untuk mendalami ilmu syar’i.
Tahkik dan Takhrijnya oleh Syaikh Nashirudin Albani, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahumullah yang terkenal akan keilmuan mereka.
Disebutkan dalam Mukadimah beliau memiliki banyak keistimewaan, meskipun ada kekurangan di bagian Akhir.
Dalam penulisanya, Metode penulisan kitab ini sangat bagus, dimana beliau sebutkan dalil suatu hukum baik dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kemudian menyebutkan perbedaan para ulama padanya. Dan ini tentu membutuhkan usaha dan waktu yang cukup lama. Semoga Allah Ta’ala membalas usaha beliau dengan pahala yang besar. Aamiin.
Setelah disebutkan perbedaan pendapat ulama, beliau mengambil pendapat beliau yang dilihat paling kuat dengan alasan-alasannya.

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Daurah Al-Khor Sabtu Pagi – Masjid At-Tauhid Syarah Riyadhus Shalihin Bab 53-1 🎙 Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di, SH, M.Pd, PhD. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱. 📖 Syarah: Prof. Dr. Khalid Utsman Ats-Tsabt 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱. 🗓 Al-khor, 14 Rabi’ul Awal 1447 / 06 September 2025 ٥٣ ـ باب الجمع بين الخوف والرجاء Bab 53: Mengumpulkan Khauf […]

Dari Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti Aku mengampunkan dosa yang telah kamu lakukan, dan Aku tidak peduli berapa pun banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu memohon keampunan kepada-Ku, pasti Aku mengampunimu. Wahai anak Adam, sesungguhnya seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu mengharap kepada-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku, maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi banyaknya itu.”

[HR. At-Tirmidzi no. 3540 Shahih Lighairihi karena banyak hadits penguat lainnya, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Sahihul Jami no. 4338 dan As-Sahihah no. 127

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku sentiasa bersamanya selama dia mengingati Aku. Demi Allah, Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kamu semua yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hamba-Ku itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil.” (Muttafaq ‘alaih)

441. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu, bahwasanya dia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda tiga hari sebelum beliau wafat: “Jangan sampai salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ﷻ.”

Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku sentiasa bersamanya selama dia mengingati Aku. Demi Allah, Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kamu semua yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hamba-Ku itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil.”

Ini disebutkan dalam salah satu riwayat Imam Muslim.

Daripada Abu Musa Al-Asy’ri radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila Allah hendak memberikan rahmat kepada suatu umat, maka Dia mewafatkan nabinya terlebih dahulu sebelum umat itu, maka jadilah nabi itu sebagai perintis dan pendahulu bagi umat itu. Dan apabila Allah hendak membinasakan suatu umat, disiksa-Nya umat itu, sedangkan nabinya masih hidup. Lalu umat itu binasa disaksikan nabinya dengan mata kepalanya, ketika mereka mendustakan dan mengingkari perintahnya.” – [Shahih Muslim no. 2288]

Hadist ini dibawakan di bab raja, kaitanya adalah bahwa umat ini manakala Nabi ﷺ wafat dan kita masih ada, menunjukkan umat ini umat yang dirahmati. Yang Allah ﷻ tidak menginginkan kebinasaan pada umat ini, karena Rasulullah ﷺ wafat duluan. Yang dimaksud adalah umat secara keseluruhannya.

Keutamaan umat Nabi ﷺ lainnya yang telah dijelaskan antara lain: Menjadi saksi bagi umat-umat yang lainya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 143: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Pada pembahasan ini terdapat hal penting yang seharusnya diperhatikan orang yang berakal, yaitu sempurnanya kelezatan, kegembiraan, kesenangan, kenikmatan hati, dan keceriaan ruh mengikuti dua perkara:

Kesempurnaan dan keindahan dzat yang dicintai, yakni kecintaan kepadanya lebih diutamakan dibandingkan terhadap selainnya.
Kesempurnaan cinta kepadanya, berupaya keras mencintainya, dan mengutamakan kedekatan dengannya di atas segala sesuatu.

Setiap orang yang berakal mengetahui bahwa kelezatan memperoleh sesuatu yang dicintai sangat bergantung pada seberapa besar kekuatan cinta itu sendiri. Semakin besar kekuatan cinta maka kelezatan cinta juga semakin sempurna. Seperti halnya kelezatan orang yang mendapatkan air segar setelah dahaga yang sangat, kelezatan orang yang mendapatkan makanan yang enak setelah kelaparan yang sangat, dan semisalnya, semua itu sesuai dengan kadar kerinduan serta kekuatan kehendak dan cinta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kamu semua yang menyempurnakan wuduk, lalu dia berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air ke dalam hidung lalu menghembukannya) kecuali dosa-dosa wajahnya, bibirnya dan hidungnya akan berjatuhan bersama air basuhan wuduk itu. Kemudian, apabila dia membasuh wajahnya sebagaimana yang di perintahkan Allah, niscaya dosa-dosa wajahnya akan berjatuhan bersama-sama air dari hujung-hujung janggutnya. Dan tidaklah dia membasuh kedua tanganya hingga pergelangan siku kecuali dosa-dosa kedua tangannya akan berjatuhan bersama air dari jari-jemarinya. Dan tidaklah dia membasuh kepalanya kecuali dosa-dosa kepalanya akan berjatuhan bersama air dari hujung rambutnya. Dan tidaklah dia membasuh kedua kakinya hingga buku lali kecuali dosa-dosa kedua kakinya juga berjatuhan bersama air dari jari-jari kakinya. Dan apabila dia mendirikan shalat lalu memuji Allah serta menyanjung-Nya dan juga memujinya dengan sesuatu yang memang Dia-lah yang berhak atasnya lalu menumpahkan hatinya semata-mata hanya tertuju untuk Allah, niscaya dia akan terlepas diri daripada dosa-dosanya sebagaimana hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

Kemudian Amr bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, salah seorang sahabat Rasulullah, lantas Abu Umamah menegurnya, “Wahai Amr, perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Apakah mungkin seseorang itu diberikan keampunan sebesar itu hanya dengan mengerjakan serangkai amalan saja?”

Amr menjawab, “Wahai Abu Umamah, usiaku sudah lanjut, tulangku sudah rapuh dan ajalku hampi tiba, maka buat apa aku berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Seandainya aku hanya mendengar satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali dan tujuh kali sahaja dari Rasulullah, aku pasti tidak akan menceritakan hal itu selama-lamanya, tetapi aku mendengarnya lebih daripada itu.”

[Shahih Muslim no. 832]