Assunnah Qatar

Kegiatan Kajian Melayu Assunnah Qatar

Shalat witir itu sunah muakkad (yang ditekankan) menurut jumhur Ulama. Dan diantara para ahli fikih ada yang mewajibkannya. Yang menunjukkan tidak wajibnya adalah apa yang diriwayatkan Bukhori, (1891) dan Muslim, (11) dari Tolhah bin Ubaidillah radhiallahu anhu berkata:

Ada seseorang mendatangi Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan bertanya,”Wahai Rasulullah, tolong saya diberitahu apa yang Allah wajibkan shalat atas diriku? Maka beliau menjawab, “Shalat lima waktu. Kecuali anda melakukan sesuatu yang sunah.” Dalam redaksi Muslim, “Lima shalat sehari semalam. Bertanya,”Apakah adalah selain itu untuku? Beliau menjawab, “Tidak, kecuali shalat sunah untukmu.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalamnya menunjukkan bahwa shalat witir bukan wajib.”

Sahabat Nabi ﷺ adalah para teladan dalam awal sejarah Islam. Merekalah teladan dalam memegang amanah dan tanggung jawab.

Karena setiap muslim akan ditanya akan pertanggungjawabannya di sisi Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang ia pimpin [HR. Al-Bukhâri, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dari hadits Abdullah Bin Amr].”

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra:

وَكُلَّ اِنۡسَانٍ اَلۡزَمۡنٰهُ طٰۤٮِٕرَهٗ فِىۡ عُنُقِهٖؕ وَنُخۡرِجُ لَهٗ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلۡقٰٮهُ مَنۡشُوۡرًا‏ ١٣ اِقۡرَاۡ كِتٰبَك َؕ كَفٰى بِنَفۡسِكَ الۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيۡبًا ؕ‏ ١٤

Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas amalmu.”

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدِ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً, يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ, وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ, إِلَّا حَرَّمَ اَللَّهُ عَلَيْهِ اَلْجَنَّةَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ma’qil Bin Yasâr Radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya”. [Muttafaq alaih]

Hadits ke-110:

حدثنا قتيبة: حدثنا أبو عوانة: حدثنا أبو إسحاق الشيباني قال سألت زر بن حبيش عن قول الله تعالى: (( فكان قاب قوسين أو أدنى. فأوحى إلى عبده ما أوحى )). قال: حدثنا ابن مسعود: أنه رأى جبريل، له ستمائة جناح .

Abu Ishaq Asy-Syaibany berkata: “Aku bertanya pada Zirr bin Hubaisy tentang firman Allah ﷻ “Maka ia telah mendekat sehingga hampir sedekat dua ujung panah atau lebih dekat. Dan telah mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang diwahyukan”. Ia berkata: Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma telah menerangkan kepada kami bahwa Nabi telah melihat Jibril memiliki enam ratus sayap.'”

(Dikeluarkan oleh Bukhari pada Kitab ke-59, Kitab Awal Mula Penciptaan bab ke-7, apabila salah seorang dari kalian berkata ‘amin’ bersamaan dengan Malaikat yang berada di langit).

Dalil dalam Al-Qur’an:

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 13-14:

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,

عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ

(yaitu) di Sidratil Muntaha.

Nabi ﷺ bertemu Jibril Alaihissalam

Apakah orang musyrikin hendak meragukan dan membantah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Jibril. Padahal dia telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak 2 kali: (1) ketika Jibril berada di atas ufuk yang tinggi (di bawah langit dunia) dan jibril mendekat untuk menyampaikan wahyu kepadanya. (2) ketika di Sidratil muntaha di atas langit ke tujuh, pada saat beliau menjalani isra’ miraj.

Dajjal datang untuk memberikan ujian, bagi yang beriman akan menambah keimanannya dan bagi orang kafir akan menambah kekafirannya.

📖 Hadits Muslim Nomor 5231:

بْنِ أَبِي حَازِمٍ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ مَا سَأَلَ أَحَدٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الدَّجَّالِ أَكْثَرَ مِمَّا سَأَلْتُ قَالَ وَمَا يُنْصِبُكَ مِنْهُ إِنَّهُ لَا يَضُرُّكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّ مَعَهُ الطَّعَامَ وَالْأَنْهَارَ قَالَ هُوَ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami [Syihab bin Abbad Al Abdi] telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Humaid Ar Ru`asi] dari [Isma’il bin Abu Khalid] dari [Qais bin Abu Hazim] dari [Al Mughirah bin Syu’bah] berkata: Tidak ada seorang pun yang lebih banyak bertanya tentang Dajjal kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melebihiku. Beliau bertanya: “Apa yang memberatkanmu darinya, sesungguhnya ia tidak membahayakanmu.” aku menjawab: Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka mengatakan bahwa bersamanya ada makanan dan sungai. Beliau bersabda: “Itu lebih mudah bagi Allah.”

Meskipun Rasulullah ﷺ telah mengkhabarkan datangnya Dajjal, maka sahabat seperti Al-Mughirah merasa takut. Dan Rasulullah ﷺ mengingatkan untuk tidak takut karena itu bagian dari takdir Allah ﷻ yang itu mudah bagiNya.

Al-Qadhi menafsirkan هُوَ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ ذَلِكَ sebagai itu lebih mudah bagi Allah ﷻ yaitu menjadikan apa yang diciptakan oleh-Nya dari tangan Allah ﷻ yaitu seseorang yang menyesatkan kaum muslimin dan seseorang yang membuat hati mereka ragu-ragu. Tapi Hikmah dibalik penciptaan tersebut, agar iman kaum Mukminin bertambah dan tegak hujah kepada kaum kafirin, munafikin dan orang-orang yang seperti mereka.

Maka tidak ada lagi alasan bagi hamba untuk protes terhadap takdir Allâh ﷻ. Bahwa setiap penciptaan Nya pasti ada hikmahnya.

Pada pelajaran terdahulu telah dijelaskan beberapa sebab takut (Khauf) kepada Allah ﷻ:
1. Memikirkan keagungan Allah ﷻ.
2. Melihat lalainya dia kepada Allah ﷻ dan selalu merasa dalam pengawasan Nya.
3. Mengambil pelajaran kepada orang-orang yang menyelisihi dan bermaksiat kepada Allah ﷻ.
4. Menghindar dan lari dari janji akan pedihnya azab Allah ﷻ dengan menjauhi larangan-Nya.

Yang dikecualikan adalah takut yang normal seperti takut binatang buas, takut dipatuk ular dan lainnya.

Pada pertemuan ini dibahas 8 ayat yang berkaitan dengan dalil-dalil perintah takut kepada Allah ﷻ.

Termasuk tipu daya dan perangkap musuh Allah, yang dengannya terperdaya orang yang sedikit ilmu dan agamanya, serta terjaring dengannya hati orang-orang bodoh dan batil adalah mendengarkan siulan, tepuk tangan dan nyanyian dengan alat-alat yang diharamkan, yang menghalangi hati dari Al-Qur’an dan menjadikannya menikmati kefasikan dan kemaksiatan.

Ia adalah qur’annya syetan, dinding pembatas yang tebal dari Ar-Rahman. Ia adalah mantera homosexual dan zina. Dengannya, orang fasik yang dimabuk cinta mendapatkan puncak harapan dari orang yang dicintainya. Dengan nyanyian ini, syetan memperdaya jiwa-jiwa yang batil, ia menjadikan jiwa-jiwa itu -melalui tipu daya dan makarnya- menganggap baik terhadap nyanyian. Lalu, ia juga meniupkan syubhat-syubhat (argumen-argumen) batil sehingga ia tetap menganggapnya baik dan menerima bisikannya, dan karenanya ia menjauhi Al-Qur’an.

Pertama-tama yang mesti dilakukan oleh guru dan pembaca adalah mengharapkan keridhaan Allah ﷻ.

Hendaknya seseorang belajar ilmu agama bukan untuk mendapatkan tujuan duniawi berupa harta atau ketenaran, kedudukan, keunggulannya di atas orang lain, pujian dari orang banyak atau ingin mendapatkan perhatian orang dan hal-hal semacam itu.

Allah berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَـهُ الدِّيۡنَۙ  حُنَفَآءَ وَيُقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيۡنُ الۡقَيِّمَةِ ؕ‏ ٥

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah ﷻ dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah 98:5)

Setiap manusia, ridha atau atau tidak pasti akan meninggalkan dunia, maka setiap yang berakal tentu akan mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal kelak.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-A’la Ayat 17:

وَالۡاٰخِرَةُ خَيۡرٌ وَّ اَبۡقٰىؕ‏

Dan akhirat itu lebih kekal

Maka kita berusaha memperbaiki kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan itu tidak ada jalan kebahagian yang hakiki kecuali dengan meniru Rasulullah ﷺ.

Islam menjelaskan hakikat kebahagian baik dunia maupun akhirat. Dan bagi sebuah keluarga, diawali dengan kebahagiaan suami dan isteri. Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada kita dan mencontohkan agar bisa hidup bahagia.

Allâh ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 177:

لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dua Perkara yang Dicintai

Perkara yang dicintai terdiri dari dua bagian:
1. Perkara yang dicintai karena dirinya (mahbub li nafsihí).
2. Perkara yang dicintai karena yang lain (mahbub li ghairibi).

Perkara yang dicintai karena yang lain pasti berakhir pada perkara yang dicintai karena dirinya (mahbub li nafsihi). Hal ini untuk mencegah terjadinya lingkaran setan. Segala sesuatu yang dicintai selain dari Allah merupakan sesuatu yang dicintai karena yang lain (mahbub li ghairibi). Tidak ada sesuatu yang dicintai karena dirinya (dzatnya), melainkan Allah semata. Segala sesuatu yang dicintai selain Allah hanyalah mengikuti kecintaan kepada Allah, seperti kecintaan terhadap para Malaikat Nabi, dan wali-Nya, maka kecintaan tersebut mengikuti kecintaannya kepada Allah ﷻ dan itu termasuk syarat mencintai-Nya. Sebab, mencintai Allah mewajibkan mencintai juga apa yang dicintai-Nya. Perkara ini wajib diperhatikan karena merupakan pembeda antara kecintaan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, bahkan terkadang membahayakan.