Ustadz Wadi Abu Hazim

Kumpulan kajian rutin bersama Ustadz Samsuril Wadi Abu Hazim, SH, M.Pd

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

Darinya (Anas Radhiyallahu’anhu), dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda:

“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka, lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’ Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’

Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga, lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’ Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.'” [HR. Mus;lim]

Darinya (Anas Radhiyallahu’anhu), dia bercerita bahwa Rasulullah bersabda:

“Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia dari penghuni Neraka, lantas dia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan saja, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan kebaikan, dan apakah kamu pernah merasakan sedikit kenikmatan?’ Maka dia akan berkata: ‘Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.’

Selanjutnya didatangkan pula orang yang paling menderita pada waktu hidup di dunia dari penghuni Surga, lalu dia dicelupkan sekali celupan ke dalam Surga, kemudian dia ditanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah merasakan adanya penderitaan, dan apakah kamu juga pernah merasakan sedikit kesulitan?’ Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, tidak, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali, dan tidak pernah pula menjumpai kesulitan sama sekali.'” [HR. Mus;lim]

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

459. Dan darinya Abu Sa’id al-Khudri), bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya dunia ini manis lagi mempesona, dan bahwa sesungguhnya Allah yang Mahatinggi telah menjadikan kalian berkuasa di dalamnya, untuk kemudian Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Maka itu waspadalah terhadap dunia, serta waspadalah pula terhadap kaum wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Nabi ﷺ menerangkan bahwa dunia itu rasanya manis dan rupanya hijau, sehingga manusia dapat tertipu dan terlena di dalamnya lalu menjadikannya sebagai tujuan yang paling besar.

Seperti halnya padang yang hijau karena disirami hujan, hingga tumbuh tanaman yang enak dipandang.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya untuk mengerjakan hal-hal yang bisa menjaganya agar tidak terjatuh dalam fitnah dunia.

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

457. Dari Amr bin Auf al-Anshari Radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah Radhiyallahu’anhu ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya. Kemudian dia kembali dari Bahrain dengan membawa sejumlah harta.

Lalu kaum Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah itu. Maka mereka pun berkumpul untuk mengerjakan shalat Shubuh bersama Rasulullah ﷺ. Setelah selesai shalat, Rasulullah ﷺ pulang, namun para Sahabat menghampiri beliau, kemudian beliau tersenyum saat melihat para Sahabatnya ini.

Selanjutnya, beliau bersabda: “Aku kira kalian sudah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Maka mereka berkata: “Benar, wahai Rasulullah.”

Selanjutnya, beliau menyatakan: “Bergembiralah serta harapkanlah apa yang kalian inginkan. Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah kekayaan dunia dihamparkan atas kalian sebagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian pun berlomba-lomba memperoleh kekayaan tersebut seperti yang pernah mereka lakukan, dan akhirnya kekayaan tadi membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

458. Dari Abu Sa’id al-Khudri (semoga Allah meridainya), beliau berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam duduk di mimbar, dan kami duduk di sekelilingnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya diantara hal-hal yang aku khawatirkan akan terjadi pada kalian setelah kematianku adalah apa yang akan dibukakan bagi kalian berupa kemegahan dan perhiasan dunia ini.” (Muttafaqun alaihi).

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

Telah banyak orang yang berbicara tentang zuhud, bahkan masing-masing telah mengisyaratkan kepada perasaannya, juga mengungkapkan tentang keadaan beserta saksinya. Kebanyakan ungkapan yang diberikan oleh orang-orang itu menyangkut perihal rasa dan keadaan diri mereka. Pembicaraan dengan lisan ilmu lebih luas daripada pembicaraan dengan lisan perasa, serta lebih dekat kepada hujjah dan bukti.

Saya pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Zuhud berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara berarti meninggalkan apa-apa yang ditakutkan bahayanya di akhirat kelak.”

Telah banyak orang yang berbicara tentang zuhud, bahkan masing-masing telah mengisyaratkan kepada perasaannya, juga mengungkapkan tentang keadaan beserta saksinya. Kebanyakan ungkapan yang diberikan oleh orang-orang itu menyangkut perihal rasa dan keadaan diri mereka. Pembicaraan dengan lisan ilmu lebih luas daripada pembicaraan dengan lisan perasa, serta lebih dekat kepada hujjah dan bukti.

Saya pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Zuhud berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara berarti meninggalkan apa-apa yang ditakutkan bahayanya di akhirat kelak.”