Bismillah

  • Daurah Qatar Ke-29 | Pertemuan Ke-5
  • Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafizhahullah
    [Mudir Pondok Pesantren As-Sunnah Bagik Nyaka, Lombok Timur]
  • Tanggal: 4 Jumadil Awal 1447 H / 15 Oktober 2026 M
  • Tempat: Masjid no. 787 – Al-Wakra Qatar


Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menghadiri majelis ilmu. Mudah-mudahan kehadiran kita menjadi sebab diampuninya dosa-dosa, dimasukkannya kita ke dalam surga, dan diberikannya ilmu yang bermanfaat.

اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا

 “Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, ajarilah kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”

Pembahasan kali ini adalah tentang niat dan pentingnya mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Secara umum, ibadah diterima apabila memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Dua Syarat Diterimanya Amal

Seperti sudah dimaklumi, bahwa syarat diterimanya amal Adalah:

  • Syarat pertama adalah ikhlas, yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah.
  • Syarat kedua adalah al-ittiba’, yakni mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Amal yang tampak baik tidak cukup jika tidak ikhlas; demikian pula niat yang baik tidak cukup jika amalnya tidak sesuai tuntunan.

Dalil Al-Qur’an #1: Amal yang Terbaik

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

 “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” QS. Al-Mulk [67]: 2.

Ahli tafsir menjelaskan, bahwa amal terbaik bukan sekadar amal yang banyak, tetapi amal yang benar dan ikhlas.

Dalil Al-Qur’an #2: Ikhlas dan Amal Saleh

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” QS. Al-Kahfi [18]: 110.

Ayat ini menunjukkan dua hal: amal harus saleh, yakni sesuai tuntunan, dan ibadah tidak boleh dicampuri kesyirikan atau riya.

Penjelasan Ulama tentang Amal yang Diterima

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ

Amal yang paling ikhlas dan paling benar.

Sumber: Dinukil dari Al-Fudhail bin ‘Iyadh dalam tafsir Al-Baghawi ketika menjelaskan QS. Al-Mulk: 2.

Maknanya, amal diterima apabila ikhlas karena Allah dan benar sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ. Ikhlas tanpa mengikuti tuntunan tidak mencukupi, begitu pula mengikuti bentuk amalan yang benar tanpa ikhlas.

صَلَاحُ الْقَلْبِ بِصَلَاحِ الْعَمَلِ وَصَلَاحُ الْعَمَلِ بِصَلَاحِ النِّيَّةِ

“Baiknya hati bergantung pada baiknya amal, dan baiknya amal bergantung pada baiknya niat.”

Sumber: Dinukil dalam materi dari Mutharrif bin ‘Abdillah; disebutkan rujukan Hilyatul-Auliya’, jilid 2, hlm. 199.

Pembicara juga mengingatkan bahwa keadaan lahir dan batin saling berkaitan. Karena itu, memperbaiki niat tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan perbaikan amal lahir. Keduanya perlu dijaga.

1. Ikhlas adalah Dasar Diterimanya Amal dan Jalan Meraih Ilmu

Mengikhlaskan amal merupakan dasar diterimanya ibadah dan jalan untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Seorang muslim hendaknya meniatkan shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, dan seluruh ibadah hanya untuk Allah, meskipun amal itu kecil.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

 “Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5 )

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

 “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 5).

Menuntut ilmu agama termasuk ibadah. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya belajar karena Allah, bukan demi pujian, kedudukan, atau popularitas.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

 “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Niat Menuntut Ilmu Menurut Imam Ahmad

Dalam nukilan yang disebutkan pembicara dari Thabaqat al-Hanabilah, Muhanna bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang amalan yang paling utama. Imam Ahmad menjawab, “Menuntut ilmu,” bagi orang yang niatnya benar.

يَنْوِي يَتَوَاضَعَ فِيهِ وَيَنْفِيَ عَنْهُ الْجَهْلَ

“Ia berniat agar menjadi rendah hati melalui ilmu itu dan menghilangkan kebodohan dari dirinya.”

Sumber: Dinukil dari jawaban Imam Ahmad dalam Thabaqat al-Hanabilah.

Maka, ketika seseorang belajar akidah, ia berniat menghilangkan kebodohannya tentang akidah. Ketika belajar salat, ia berniat memperbaiki salatnya. Inilah di antara bentuk niat yang benar.

Peringatan dari Niat yang Rusak

Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim, disebutkan tiga golongan yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat. Salah satunya adalah orang yang mempelajari ilmu dan membaca Al-Qur’an agar disebut alim atau qari, bukan karena Allah. Ia telah memperoleh pujian yang dicarinya di dunia, tetapi amalnya tidak menyelamatkannya di akhirat.

أَوَّلُ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ … وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ …

Di antara orang yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu serta membaca Al-Qur’an, tetapi melakukannya demi pujian manusia…

Sumber: HR. Muslim no. 1905, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; ringkasan bagian hadis tentang orang yang beramal demi reputasi.

Keikhlasan Membuat Amal Bertahan

Pembicara menyampaikan bahwa keberhasilan generasi salaf dalam ilmu dan amal berkaitan erat dengan keikhlasan mereka. Nama para sahabat, imam mazhab, dan para ulama tetap dikenang karena Allah memberikan keberkahan pada ilmu mereka.

مَا كَانَ لِلَّهِ يَبْقَى وَمَا كَانَ لِغَيْرِ اللَّهِ يَزُولُ

“Apa yang dilakukan karena Allah akan bertahan, sedangkan apa yang dilakukan bukan karena Allah akan sirna.”

Sumber: Ungkapan yang dinukil dalam kisah Imam Malik tentang kitab Al-Muwaththa’. (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521).

Kisah Imam Malik Rahimahullah yang disebutkan dalam ceramah menggambarkan sikap beliau ketika penguasa ingin menjadikan kitab Al-Muwaththa’ sebagai satu-satunya pegangan dan menyingkirkan karya ulama lain. Jawaban beliau menekankan bahwa keberlangsungan sebuah karya bukan semata karena dukungan penguasa, melainkan karena keikhlasan dan pertolongan Allah.

Pembicara juga mengutip kisah ‘Atha’ bin Abi Rabah Rahimahullah. Meskipun majelis beliau terkadang hanya dihadiri sekitar tujuh atau delapan orang, beliau tetap dikenal dalam khazanah keilmuan Islam. Banyak atau sedikitnya murid bukan satu-satunya ukuran keberhasilan; yang utama adalah keikhlasan dan manfaat ilmu.

2. Makna Ikhlas

Ikhlas dijelaskan dalam ceramah sebagai memurnikan hati dari keinginan beramal untuk selain Allah. Hakikatnya ialah keinginan hati ketika beramal untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ikhlas merupakan niat yang paling sempurna karena tujuan tertingginya adalah Allah, bukan pujian atau keuntungan dunia.

Karena itu, penuntut ilmu perlu memeriksa kembali tujuan belajarnya: apakah ingin memperoleh ridha Allah, menghidupkan syariat, mengikuti ajaran Nabi, menerangi hati dengan ilmu, dan mendekatkan diri kepada Allah pada hari kiamat? Tujuan-tujuan inilah yang disebut dalam ceramah sebagai bentuk niat baik.

Pembicara juga mengingatkan tentang nikmat tertinggi di surga, yaitu melihat wajah Allah bagi orang beriman. Harapan terhadap nikmat akhirat seharusnya mendorong seorang muslim memperbaiki amal dan memurnikan ibadahnya.

3. Ikhlas adalah Syarat yang Terus Diperjuangkan

Ikhlas dalam menuntut ilmu bukan alasan untuk berhenti belajar ketika seseorang merasa niatnya belum sempurna. Ikhlas perlu terus dipupuk sepanjang perjalanan menuntut ilmu. Seseorang boleh jadi memulai belajar dengan niat yang belum matang, kemudian Allah memberinya niat yang lebih baik setelah ia terus belajar.

طَلَبْنَا الْعِلْمَ وَمَا لَنَا فِيهِ كَبِيرُ نِيَّةٍ ثُمَّ رَزَقَنَا اللَّهُ النِّيَّةَ بَعْدُ

“Dahulu kami menuntut ilmu tanpa memiliki niat yang besar, kemudian Allah menganugerahkan niat kepada kami setelah itu.”
Sumber: Dinukil dari Mujahid bin Jabr; redaksi merupakan bentuk yang disampaikan dalam materi.

طَلَبْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَأَبَى الْعِلْمُ أَنْ يَكُونَ إِلَّا لِلَّهِ

“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu enggan menetap kecuali jika dituntut karena Allah.”

Sumber: Dinukil dari Ad-Daraquthni melalui Tadzkirat as-Sami‘ wa al-Mutakallim karya Ibnu Jama‘ah, hlm. 47.

Dua nukilan tersebut mengajarkan agar seseorang terus belajar sekaligus terus memperbaiki niat. Jangan sampai rasa belum ikhlas justru membuatnya meninggalkan jalan yang dapat membimbingnya menuju keikhlasan.

4. Empat Pokok Niat Ikhlas dalam Menuntut Ilmu

Pertama: Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri

Penuntut ilmu belajar agar memahami kewajibannya sebagai hamba Allah, mengenal perintah dan larangan-Nya, serta mengetahui tujuan hidupnya. Pembicara menekankan pentingnya mempelajari akidah dan tauhid karena seorang muslim perlu mengenal kewajiban paling mendasar terhadap Rabb-nya.

Kedua: Menghilangkan Kebodohan dari Orang Lain

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).

عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ

“Ajarkanlah kepada mereka dan didiklah mereka.”

Sumber: Penjelasan yang dinukil dari Ali bin Abi Thalib dalam tafsir ayat tersebut.

Ilmu tidak hanya dimaksudkan untuk memperbaiki diri sendiri, tetapi juga untuk membimbing keluarga dan orang lain. Suami dan orang tua perlu memberi perhatian pada pendidikan agama keluarga, tidak hanya memenuhi kebutuhan materi.

Dalam ceramah, dinukil pula perkataan Amr bin Qais tentang seorang istri yang dapat mengadukan suaminya pada hari kiamat karena tidak dibimbing dalam agama, padahal kebutuhan materi dipenuhi. Pesannya adalah tanggung jawab keluarga mencakup pendidikan agama.

Ketiga: Menghidupkan dan Menjaga Ilmu

Ilmu agama dapat terlupakan apabila tidak dipelajari, diulang, dan diamalkan. Pembicara menyebut ungkapan, “Hayatul-‘ilmi mudzakaratuhu,” yakni kehidupan ilmu adalah dengan mengulang-ulang dan mengingatnya. Belajar, mengajarkan, dan mengamalkan ilmu menjadi sebab ilmu tetap hidup di tengah masyarakat.

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini pada setiap penghujung seratus tahun seseorang yang memperbarui agamanya.” (HR. Abu Dawud no. 4291, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai sahih oleh Al-Albani).

Pembicara menjelaskan bahwa tajdid bukan berarti membuat agama baru, melainkan menghidupkan kembali ajaran yang terlupakan atau ditinggalkan.

Keempat: Mengamalkan Ilmu

Ilmu dipelajari agar diamalkan. Keikhlasan tidak berhenti pada mengumpulkan pengetahuan, tetapi mendorong seseorang untuk menjalankan apa yang telah diketahuinya. Inilah salah satu ciri ilmu yang bermanfaat.

Pembicara mencontohkan kehati-hatian para ulama salaf ketika ditanya apakah mereka menuntut ilmu karena Allah. Mereka tidak mudah mengklaim dirinya ikhlas, karena takut tertipu oleh penilaian terhadap diri sendiri. Sikap ini mengajarkan pentingnya terus mengoreksi niat.

5. Ilmu dan Hafalan Bergantung pada Keikhlasan

Dalam materi disebutkan bahwa hilangnya keikhlasan dapat menjadi sebab hilangnya banyak ilmu dan kebaikan. Penuntut ilmu hendaknya memperhatikan niat dalam perkara besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi.

إِنَّمَا يَحْفَظُ الْمَرْءُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ

“Seseorang menghafal sesuai dengan kadar niatnya.”

Sumber: Dinukil dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma melalui riwayat yang disebutkan berasal dari Ibnu ‘Asakir.

Niat merupakan perkara yang berat dijaga karena hati mudah berubah. Nabi ﷺ mengajarkan doa agar hati diteguhkan di atas agama.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Sumber: HR. At-Tirmidzi no. 3522, dari Anas bin Malik.

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat untuk aku perbaiki daripada niatku, karena niat itu berubah-ubah.”

Sumber: Dinukil dari Sufyan ats-Tsauri dalam Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam karya Ibnu Rajab.

Pembicara juga menyebut perkataan Sulaiman al-Hasyimi: terkadang seseorang menyampaikan satu hadis dengan niat tertentu, lalu niatnya berubah ketika melanjutkan bagian berikutnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa niat perlu diperiksa berulang kali, bahkan dalam satu amal yang sama.

6. Bentuk-Bentuk Niat yang Merusak

Di antara penyakit niat yang disebutkan pembicara ialah senang tampil di depan, ingin terkenal atau viral, serta menuntut ilmu untuk memperoleh keuntungan dunia seperti harta, jabatan, atau kedudukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat menjadi penghalang keberkahan ilmu.

يَا قَوْمُ أَرِيدُوا بِعِلْمِكُمُ اللَّهَ

“Wahai kaumku, tujukanlah ilmu kalian untuk mencari rida Allah.”

Sumber: Dinukil dari Abu Yusuf dalam kisah yang disebutkan dalam Akhbar al-Qudhat, jilid 2, hlm. 258.

Pembicara menyampaikan bahwa Abu Yusuf pernah duduk di majelis dengan niat merendahkan hati, lalu Allah mengangkat kedudukannya. Sebaliknya, ketika seseorang duduk dengan niat mengalahkan orang lain, ia dapat dipermalukan karena niatnya sendiri.

Dikutip pula peringatan Hammad bin Salamah tentang orang yang mempelajari hadis bukan karena Allah, serta kisah Sufyan ats-Tsauri yang merasa pemahaman Al-Qur’annya dicabut setelah menerima pemberian penguasa. Kisah-kisah ini disampaikan sebagai peringatan agar ilmu tidak dijadikan jalan untuk mengejar keuntungan dunia.

Karena hati mudah berubah, seorang penuntut ilmu hendaknya banyak berdoa kepada Allah agar dijaga keikhlasannya dan tidak terjerumus dalam riya.

Kesimpulan Pembahasan

  • Ibadah harus memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
  • Menuntut ilmu adalah ibadah; niat yang benar di antaranya untuk menghilangkan kebodohan dan mendekatkan diri kepada Allah.
  • Jangan berhenti belajar hanya karena merasa belum ikhlas. Teruslah belajar sambil memperbaiki niat.
  • Niat ikhlas dalam menuntut ilmu mencakup memperbaiki diri, membimbing orang lain, menghidupkan ilmu, dan mengamalkannya.
  • Waspadai riya, keinginan terkenal, persaingan untuk mengungguli orang lain, dan tujuan duniawi.
  • Jaga hati dengan doa, murajaah, amal, dan evaluasi niat secara terus-menerus.

*****

Sesi Tanya Jawab

1. Apakah Komentar dan Unggahan di Media Sosial Akan Dihisab?

Pertanyaan: Bagaimana hukum komentar, caption, dan unggahan di media sosial? Apakah lisan di dunia digital ikut dihisab?

Jawaban: Semua perkataan yang ditulis atau diucapkan akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, seseorang hendaknya berhati-hati dengan komentar dan unggahan, sebagaimana ia menjaga lisannya ketika berbicara langsung.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf [50]: 18).

Pembicara menegaskan bahwa ucapan yang keluar langsung maupun tulisan di ruang digital sama-sama perlu dipertanggungjawabkan.

2. Apakah Orang Berilmu Mengetahui Perkara Gaib tentang Fitnah?

Pertanyaan: Jika orang berilmu dapat mengetahui akan datangnya fitnah, apakah itu berarti ia mengetahui masa depan, padahal perkara gaib hanya diketahui Allah?

Jawaban: Bukan itu maksudnya. Orang berilmu dapat mengenali tanda-tanda awal, sebab, dan arah suatu peristiwa berdasarkan ilmu dan pengalaman. Ini berbeda dengan mengetahui perkara gaib yang belum diberitahukan Allah.

3. Bolehkah Memiliki Dua Motivasi dalam Beramal?

Pertanyaan: Apakah keikhlasan dapat disertai dua niat, yaitu memperbaiki kualitas diri sebagai muslim dan beribadah karena Allah?

Jawaban: Dahulukan niat karena Allah. Manfaat lain yang baik dapat mengikuti niat tersebut. Pembicara memberi contoh puasa: seseorang berpuasa karena Allah dan mengharapkan pahala, sementara manfaat kesehatan dapat ikut diperoleh meskipun bukan tujuan utamanya.

4. Memperindah Bacaan Al-Qur’an ketika Menjadi Imam

Pertanyaan: Apakah membaguskan bacaan Al-Qur’an saat menjadi imam agar jamaah bersemangat termasuk ikhlas?

Jawaban: Memperindah bacaan dapat menjadi amal yang baik apabila dilakukan mengikuti tuntunan dan bukan demi memamerkan suara. Pembicara mengingatkan agar jamaah memperbaiki iman dan semangat beribadah, bukan menjadikan suara imam sebagai tujuan utama.

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian.”

Sumber: HR. Abu Dawud no. 1468 dan An-Nasa’i no. 1015.

Pembicara membedakan antara memperdengarkan Al-Qur’an dengan suara yang baik dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana agar orang mengagumi suara pembacanya.

5. Bagaimana Menguatkan Hafalan bagi Orang yang Mudah Lupa?

Pertanyaan: Hafalan ilmu dikatakan bergantung pada keikhlasan. Bagaimana bagi orang yang mudah lupa?

  • Jawaban: Pembicara mendoakan agar Allah menganugerahkan keikhlasan, lalu mengingatkan pentingnya metode belajar: Melakukan murajaah dan membaca ulang secara rutin setiap hari.
  • Menghafal sedikit demi sedikit, tidak mengambil materi terlalu banyak sekaligus.
  • Mengulang hafalan berkali-kali (tikrar).
  • Menuliskan kembali materi yang sedang dihafal, terutama jika kesibukan atau faktor usia membuat hafalan lebih sulit.
  • Membedakan tujuan membaca untuk memahami dan membaca untuk menghafal; hafalan memerlukan pengulangan yang teratur.

6. Ilmu Apa yang Harus Diprioritaskan bagi Orang yang Sibuk Bekerja dan Mengurus Keluarga?

Pertanyaan: Bagi orang yang sibuk bekerja dan mengurus keluarga serta memiliki waktu terbatas untuk belajar, ilmu apa yang perlu diprioritaskan agar selamat dari pertanyaan Allah?

Jawaban: Prioritaskan akidah dan dasar-dasar agama, termasuk pembahasan Ushul Tsalatsah, serta ajarkan kepada keluarga. Setelah itu pelajari hukum-hukum ibadah yang dibutuhkan, seperti bersuci, salat, zakat, puasa, dan haji. Bagi perempuan, pelajari pula hukum haid dan nifas.

Pembicara mengingatkan bahwa sarana belajar sekarang beragam. Keterbatasan waktu hendaknya membuat seseorang menyusun prioritas, bukan meninggalkan ilmu agama sama sekali.

الْعِلْمُ قُوتُ الْقُلُوبِ

“Ilmu adalah makanan bagi hati.”

Sumber: Ungkapan yang dinukil dalam ceramah dari Fath al-Mushili.

Dalam penjelasannya, hati diibaratkan seperti tubuh yang membutuhkan makanan, minuman, dan obat. Hati pun membutuhkan ilmu dan hikmah agar tetap hidup.

7. Mengapa Ajaran Sunnah Terasa Asing di Tengah Masyarakat?

Pertanyaan: Apakah benar seiring berjalannya waktu ilmu dapat terkubur dan kemudian dihidupkan kembali oleh para mujaddid? Bagaimana menyikapi orang tua yang merasa amalan yang kita pelajari sebagai ajaran baru?

Jawaban: Pembicara mengingatkan hadis tentang Islam yang awalnya asing dan kelak kembali asing. Keterasingan yang dimaksud bukan semata-mata berpindah tempat, tetapi keadaan orang yang berusaha mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah ketika tidak banyak orang yang mendukungnya.

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
Sumber: HR. Muslim no. 145; penomoran dapat berbeda menurut edisi.

Pembicara menasihati agar tidak menjadikan pembahasan ini sebagai alasan untuk bertengkar dengan orang tua. Urusan generasi terdahulu diserahkan kepada Allah; doakan mereka agar diampuni, dan fokuslah memperbaiki diri dengan ilmu serta adab.

8. Bagaimana Menyikapi Perselisihan di antara Penuntut Ilmu?

Pertanyaan: Bagaimana menasihati orang yang sedih melihat sebagian penuntut ilmu berkelompok, berselisih, dan mudah menghakimi orang lain?

Jawaban: Teruslah belajar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf, dan jangan terlalu banyak berkomentar. Perselisihan hendaknya menjadi pelajaran dan bahan untuk memahami masalah secara ilmiah, bukan alasan memperbanyak pertengkaran.

9. Bagaimana Menumbuhkan Rasa Takut kepada Allah?

Pertanyaan: Bagaimana cara menumbuhkan rasa takut kepada Allah?

Jawaban: Dengan ilmu. Seseorang tidak dapat memiliki rasa takut yang benar tanpa mengenal Allah melalui ilmu yang benar.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
Sumber: QS. Fatir [35]: 28.

Pembicara menyebutkan ungkapan yang dinukil dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ilmu dapat menumbuhkan rasa takut, sedangkan kebodohan membuat seseorang terpedaya.

10. Bolehkah Merobek Catatan Ayat Al-Qur’an untuk Hafalan?

Pertanyaan: Jika seseorang menulis ayat Al-Qur’an untuk menghafal, bolehkah kertas itu dirobek sebelum dibuang?

Jawaban: Menurut penjelasan pembicara, merobeknya untuk mencegah tulisan Al-Qur’an terhinakan tidak mengapa. Yang perlu dihindari ialah membuang tulisan tersebut sembarangan hingga terinjak atau direndahkan. Tujuannya harus menjaga kehormatan tulisan ayat.

11. Bagaimana Menyikapi Pengeras Suara Rumah Tahfiz yang Mengganggu Tetangga?

Pertanyaan: Bagaimana jika masjid atau rumah tahfiz memperdengarkan hafalan anak-anak melalui pengeras suara sepanjang hari hingga mengganggu tetangga?

Jawaban: Pembicara menjelaskan bahwa menghafal Al-Qur’an dapat memerlukan suara yang terdengar dan pengulangan, tetapi hal itu tidak berarti harus menggunakan pengeras suara yang mengganggu orang lain.

لَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan Al-Qur’an atas sebagian yang lain.”
Sumber: Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud no. 1332 dengan redaksi yang berkaitan dengan larangan saling mengganggu bacaan; periksa edisi kitab untuk penomoran dan redaksi lengkap.

Karena itu, kegiatan menghafal hendaknya tetap memperhatikan hak tetangga dan tidak mengganggu orang lain. Tujuan yang baik perlu dilakukan dengan cara yang baik pula.

Penutup

Demikian pembahasan tentang mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan niat kita, menjaga hati kita agar tetap teguh di atas agama-Nya, menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, dan memberi taufik kepada kita untuk mengamalkannya.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

“Ya Allah, wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

******

Poster Ringkasan

Download versi PDF: E-book – Mengikhlaskan Niat dalam Menuntut Ilmu – Ustadz Mizan Qudsiah

  • ┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم