Bismillah
- Daurah Qatar Ke-29
- Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafizhahullah
[Mudir Pondok Pesantren As-Sunnah Bagik Nyaka, Lombok Timur] - Tanggal: 2 Jumadil Awal 1447 H / 13 Oktober 2026 M
Tempat: Masjid Amir bin Jundub No. 753, Doha, Qatar
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Kita memohon kepada-Nya agar senantiasa dianugerahi ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.
Kita berdoa:
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا
Allahumma ‘allimna ma yanfa‘una, wanfa‘na bima ‘allamtana, wa zidna ‘ilma.
“Ya Allah, ajarilah kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
Pada kesempatan ini, kita akan membahas salah satu nikmat Allah yang sangat besar, tetapi sekaligus dapat menjadi sebab kebinasaan seseorang, yaitu lisan.
Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah mengatakan:
لِأَنَّ أَرْمِي رَجُلًا بِسَهْمٍ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَرْمِيَهُ بِلسَانِي.
“Aku lebih memilih menembak seseorang dengan panah daripada menembaknya dengan lidahku.”
Maksud perkataan tersebut adalah bahwa ucapan dapat memberikan dampak yang sangat besar. Anak panah mungkin meleset dari sasarannya, sedangkan ucapan yang telah keluar dapat langsung melukai hati orang lain dan meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan.
Karena itu, kita perlu memahami bagaimana Islam memandang lisan, bahaya yang ditimbulkannya, serta cara menyelamatkan diri dari berbagai penyakit lisan.
Ada lima kaidah penting yang akan kita pelajari dan berkaitan dengan lisan:
Kaidah Pertama: Lisan Merupakan Nikmat Allah yang Agung
1. Lisan adalah nikmat yang patut disyukuri
Lisan merupakan salah satu nikmat Allah Azza wa Jalla yang sangat besar setelah nikmat Islam. Dengan lisan, manusia dapat berbicara, menyampaikan ilmu, menjelaskan kebenaran, berdakwah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Allah Ta’ala berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Artinya: “(Allah) Yang Maha Pengasih, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai menjelaskan.”
(QS. Ar-Rahman [55]: 1–4)
Allah juga berfirman:
أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
Artinya: “Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, lidah, dan sepasang bibir?” (QS. Al-Balad [90]: 8–9)
Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa kemampuan berbicara merupakan karunia Allah yang patut disyukuri. Syukur atas nikmat lisan bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menggunakannya untuk perkara yang diridai Allah.
2. Lisan dapat mendatangkan pahala yang besar
Dengan lisan, seseorang dapat membaca Al-Qur’an, mengucapkan kalimat tauhid, berzikir, mengajarkan ilmu, menasihati orang lain, dan mengucapkan perkataan yang baik.
Amalan yang tampak ringan di lisan bisa memiliki nilai besar di sisi Allah apabila dilakukan sesuai tuntunan syariat dan dengan niat yang benar.
Sebaliknya, nikmat lisan dapat berubah menjadi sebab kebinasaan apabila digunakan untuk berdusta, menggunjing, mengadu domba, mencela, memfitnah, atau mengucapkan perkataan yang mengandung kekufuran.
Karena itu, seseorang harus berhati-hati terhadap setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.
3. Lisan merupakan anggota badan yang perlu dijaga dengan serius
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang perkara yang paling beliau khawatirkan terhadap seseorang. Beliau kemudian memegang lisannya sendiri dan bersabda:
هَذَا
“Ini.”
Hadis ini diriwayatkan dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi dalam Jami‘ At-Tirmidzi, no. 2410. Intinya, lisan merupakan salah satu perkara yang sangat perlu diwaspadai karena kesalahan yang ditimbulkannya bisa sangat besar.
Oleh sebab itu, syukurilah nikmat lisan dengan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah, bukan untuk melakukan kemaksiatan.
Kaidah Kedua: Kebanyakan Kesalahan Manusia Berasal dari Lisan
Lisan termasuk anggota badan yang paling mudah digunakan untuk melakukan berbagai perbuatan. Seseorang tidak membutuhkan banyak tenaga untuk mengucapkan kalimat yang baik maupun buruk. Cukup dengan menggerakkannya, seseorang bisa mendapatkan pahala atau justru menanggung dosa.
Karena mudahnya lisan bergerak, manusia sering kali tidak menyadari banyaknya perkataan yang telah keluar sepanjang hari.
1. Banyak kesalahan berasal dari lisan
Dalam ceramah ini disebutkan sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang banyaknya kesalahan manusia yang berasal dari lisan. Redaksi dan nomor riwayat yang tepat perlu diperiksa kembali pada sumber primer sebelum dikutip sebagai hadis Nabi ﷺ.
Meskipun demikian, bahaya lisan ditegaskan dengan jelas dalam hadis-hadis sahih lainnya.
2. Lisan dapat menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam neraka
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga dan neraka.
Beliau bersabda:
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَأَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ
Artinya: “Perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik. Adapun perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, no. 2004; dinilai sahih oleh At-Tirmidzi dalam riwayat tersebut.
Mulut dalam hadis ini mencakup bahaya yang berkaitan dengan ucapan, sedangkan kemaluan berkaitan dengan perbuatan seksual yang diharamkan. Keduanya merupakan anggota badan yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
3. Menjaga lisan merupakan jalan menuju surga
Sahl bin Sa‘ad As-Sa‘idi radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Artinya: “Barang siapa menjamin kepadaku untuk menjaga apa yang berada di antara kedua rahangnya dan apa yang berada di antara kedua kakinya, aku menjamin surga baginya.”
Sumber: Shahih Al-Bukhari, no. 6474.
Yang dimaksud dengan sesuatu di antara kedua rahang adalah lisan, sedangkan yang berada di antara kedua kaki adalah kemaluan. Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan menjaga dua anggota badan tersebut.
Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan ucapan. Satu kalimat dapat menjadi sebab seseorang memperoleh kebaikan yang besar, tetapi satu kalimat pula dapat menjerumuskannya ke dalam kebinasaan.
Kaidah Ketiga: Menjaga Lisan Merupakan Kunci Kebaikan
Menjaga lisan bukan perkara kecil. Lisan berkaitan erat dengan hati dan perilaku seluruh anggota badan. Apa yang diucapkan seseorang sering kali mencerminkan keadaan batinnya, sedangkan perkataannya dapat memengaruhi tindakan dirinya maupun orang lain.
1. Wasiat Rasulullah ﷺ kepada Mu‘adz bin Jabal
Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka.
Setelah menjelaskan sejumlah pokok agama dan amalan kebaikan, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا
Artinya: “Maukah kuberitahukan kepadamu perkara yang mengendalikan semua itu?”
Aku menjawab, “Tentu, wahai Nabi Allah.”
Beliau kemudian memegang lisannya dan bersabda, “Tahanlah ini!”
Mu‘adz bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kami akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ
Artinya: “Semoga ibumu kehilanganmu, wahai Mu‘adz! Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka dengan wajah mereka—atau dengan hidung mereka—adalah hasil dari apa yang dipanen oleh lisan mereka?”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, no. 2616; dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi.
Hadis ini memperlihatkan betapa pentingnya menjaga lisan. Seseorang tidak cukup hanya memperhatikan salat dan ibadah lainnya, tetapi juga harus menjaga perkataan agar tidak merusak amalnya.
2. Anggota badan mengikuti keadaan lisan
Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ، فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا، فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Artinya: “Apabila anak Adam memasuki pagi hari, seluruh anggota badannya tunduk kepada lisan seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga kami, karena keadaan kami bergantung kepadamu. Jika engkau lurus, kami pun lurus. Jika engkau menyimpang, kami pun menyimpang.’”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, no. 2407; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani.
Hadis ini mengingatkan bahwa lisan memiliki pengaruh besar terhadap anggota badan lainnya. Perkataan yang baik dapat mendorong seseorang melakukan kebaikan, sedangkan perkataan yang buruk dapat menyeretnya kepada berbagai kemaksiatan.
3. Menjaga shalat dan lisan merupakan tanda penting kebaikan
Dalam ceramah ini dinukil perkataan Yahya bin Abi Katsir rahimahullah:
خَصْلَتَانِ إِذَا رَأَيْتَهُمَا فِي الرَّجُلِ فَاعْلَمْ أَنَّمَا وَرَاءَهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا: إِذَا كَانَ حَابِسًا لِلِسَانِهِ، مُحَافِظًا عَلَى صَلَاتِهِ
Artinya: “Ada dua perkara yang apabila engkau melihatnya pada seseorang, ketahuilah bahwa di balik keduanya terdapat kebaikan yang lebih besar: apabila ia menahan lisannya dan menjaga shalatnya.”
Kutipan ini dinisbatkan kepada Yahya bin Abi Katsir dalam Husnush-Shamt was-Samt, jilid 1, halaman 96.
4. Wasiat para salaf untuk menahan lisan
Malik bin Dinar rahimahullah dinukil mengatakan bahwa orang-orang saleh dahulu saling berwasiat dengan tiga perkara:
- Menahan dan mengendalikan lisan.
- Memperbanyak istigfar.
- Menyendiri ketika fitnah merebak, apabila hal itu diperlukan untuk menjaga agama.
Perkataan ini dirujuk kepada Tahdzib Hilyat Al-Auliya, jilid 1, halaman 427.
Pesan yang dapat diambil adalah bahwa seorang muslim perlu membiasakan diri berpikir sebelum berbicara, memperbanyak istigfar ketika melakukan kesalahan, dan menjauhi lingkungan yang mendorongnya kepada dosa.
Kaidah Keempat: Lisan Adalah Senjata Bermata Dua
Lisan dapat menjadi sarana untuk meraih pahala, tetapi juga dapat menjadi sumber dosa. Ia seperti senjata bermata dua: penggunaannya menentukan apakah seseorang mendapatkan manfaat atau justru celaka.
1. Satu kalimat dapat meninggikan atau merendahkan derajat
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang diridai Allah tanpa terlalu memikirkannya, lalu Allah mengangkat derajatnya dengan kalimat tersebut. Sebaliknya, seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah tanpa terlalu memikirkannya, lalu ia terjerumus ke dalam neraka Jahanam karenanya.”
Sumber: Shahih Al-Bukhari, no. 6478.
Hadis ini mengajarkan agar seseorang tidak menganggap remeh ucapan yang keluar dari mulutnya. Kalimat yang baik dapat menjadi sebab datangnya pahala, sedangkan ucapan buruk yang dianggap sepele dapat mendatangkan akibat yang sangat berat.
2. Jangan mengucapkan sesuatu tanpa mempertimbangkan akibatnya
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa mempertimbangkan akibatnya, lalu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.”
Sumber: Shahih Al-Bukhari, no. 6477; Shahih Muslim, no. 2988.
Oleh sebab itu, jangan terburu-buru berbicara. Pikirkan terlebih dahulu apakah ucapan tersebut benar, bermanfaat, dan dibenarkan oleh syariat.
Ucapan yang telah keluar tidak selalu mudah diperbaiki. Terlebih jika berupa fitnah, penghinaan, atau gibah yang melukai kehormatan orang lain.
3. Segera bertobat ketika terjatuh dalam dosa lisan
Apabila seseorang telah melakukan kesalahan melalui lisannya, ia harus segera bertobat kepada Allah, menyesali perbuatannya, dan bertekad tidak mengulanginya.
Apabila kesalahan tersebut berkaitan dengan hak manusia, ia juga harus mempertimbangkan cara memperbaiki kerugian dan memulihkan hak orang yang dizalimi. Cara penyelesaiannya perlu disesuaikan dengan jenis pelanggaran dan kemungkinan timbulnya mudarat tambahan.
Dalam ceramah disebutkan riwayat tentang malaikat yang menunda pencatatan dosa selama enam jam. Karena kekuatan riwayat dan ketepatan redaksinya belum dipastikan di sini, ketentuan enam jam tersebut tidak dijadikan landasan pasti. Yang jelas, pintu tobat tetap terbuka selama seseorang memenuhi syarat-syarat tobat yang benar.
4. Dua penyakit besar lisan
Ada dua penyakit besar yang perlu diwaspadai.
Pertama, berbicara dengan kebatilan (al-kalam bil-bathil).
Contohnya meliputi:
- Berdusta dan menyebarkan berita bohong.
- Gibah atau membicarakan keburukan seseorang yang tidak ia sukai apabila mendengarnya.
- Namimah atau mengadu domba.
- Menuduh orang lain tanpa bukti.
- Menghina, mencela, dan menyebarkan perkataan yang diharamkan.
- Mengucapkan perkataan kekufuran atau meremehkan agama.
Kedua, diam terhadap kebatilan (as-sukut ‘anil-bathil).
Diam tidak selalu tercela. Bahkan, diam dapat menjadi pilihan terbaik ketika seseorang tidak memiliki ilmu atau khawatir menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Namun, apabila seseorang mampu menjelaskan kebenaran atau mencegah kemungkaran dengan cara yang benar, ia tidak sepatutnya membiarkan kebatilan tanpa upaya yang sesuai.
Dalam ceramah dinukil ungkapan yang dinisbatkan kepada Ibnu Abi Jamrah:
السَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ، وَالْمُتَكَلِّمُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ
Artinya: “Orang yang diam terhadap kebenaran diumpamakan sebagai setan yang bisu, sedangkan orang yang berbicara dengan kebatilan diumpamakan sebagai setan yang berbicara.”
Ungkapan ini merupakan peringatan agar kita tidak menyampaikan kebatilan dan tidak pula meninggalkan kewajiban menyampaikan kebenaran ketika memang diperlukan. Namun, penyandaran redaksi persisnya kepada Ibnu Abi Jamrah perlu diverifikasi sebelum dicantumkan sebagai kutipan langsung.
Ibnu Qayyim rahimahullah juga membahas dua penyakit besar lisan: berbicara dengan kebatilan dan diam dari kebenaran. Dalam ceramah, pembahasan ini dirujuk kepada Al-Jawab Al-Kafi, halaman 446. Nomor halaman dapat berbeda menurut edisi kitab.
5. Mengingkari kemungkaran sesuai kemampuan
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
Sumber: Shahih Muslim, no. 49.
Mengingkari kemungkaran harus dilakukan sesuai kemampuan, ilmu, kewenangan, dan pertimbangan maslahat. Apabila tidak mampu mengubahnya dengan tindakan atau ucapan, seseorang wajib membenci kemungkaran itu dalam hatinya. Ia tidak boleh sengaja meridai kebatilan, meskipun tidak mampu menghentikannya secara langsung.
Kaidah Kelima: Jalan Keselamatan Adalah Menjaga Lisan
Setelah memahami besarnya bahaya lisan, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara menyelamatkan diri?
Di antara jalan keselamatan ialah membiasakan diri untuk diam dari perkataan yang tidak bermanfaat dan hanya berbicara apabila terdapat kebaikan yang jelas.
Diam bukan berarti meninggalkan seluruh perkataan. Seorang muslim tetap harus berkata benar, menyampaikan ilmu, menasihati dengan cara yang baik, dan menunaikan kewajiban yang membutuhkan ucapan.
Prinsipnya adalah berbicara dengan ilmu dan hikmah, serta diam dari perkataan yang tidak bermanfaat atau mengandung dosa.
1. Berkatalah yang baik atau diam
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Sumber: Shahih Al-Bukhari, no. 6018; Shahih Muslim, no. 47.
Hadis ini merupakan kaidah penting dalam menjaga lisan. Sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri: apakah ucapan ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah cara penyampaiannya tepat?
Jika tidak ada kebaikan yang jelas dalam ucapan tersebut, diam lebih selamat.
2. Luka akibat lisan sulit disembuhkan
Luka fisik terkadang dapat sembuh dalam waktu singkat. Namun, luka hati akibat perkataan yang menyakitkan bisa bertahan lama.
Seseorang mungkin meminta maaf, tetapi belum tentu orang yang disakiti dapat langsung melupakan perkataan tersebut. Karena itu, menjaga ucapan sebelum melukai orang lain lebih baik daripada sibuk memperbaiki akibatnya.
Dalam ceramah dinukil perkataan yang dinisbatkan kepada Ibnu Hibban:
اللِّسَانُ لَا يَنْدَمِلُ جُرْحُهُ، وَكَلَامُ الْقَوْلِ إِذَا وَصَلَ إِلَى الْقَلْبِ لَمْ يُنْزَعْ إِلَّا بَعْدَ مُدَّةٍ طَوِيلَةٍ
Artinya: “Luka yang ditimbulkan oleh lisan tidak mudah sembuh. Perkataan yang telah sampai ke dalam hati tidak mudah dicabut kembali kecuali setelah waktu yang panjang.”
Redaksi Arab di atas merupakan rekonstruksi makna kutipan dalam transkrip, bukan teks yang telah dipastikan verbatim dari kitab Ibnu Hibban. Karena itu, sebaiknya tidak diterbitkan sebagai kutipan langsung sebelum sumber primernya ditemukan.
3. Sedikit berbicara dapat menjadi bentuk kebijaksanaan
Dalam ceramah juga disebutkan ungkapan:
إِنْ كَانَ كَلَامُكَ مِنْ فِضَّةٍ فَالسُّكُوتُ مِنْ ذَهَبٍ
“Jika perkataanmu adalah perak, diam adalah emas.”
Ungkapan populer ini mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu dikomentari. Terkadang, diam lebih bijaksana daripada berbicara panjang lebar tanpa manfaat. Namun, ungkapan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban berkata benar.
Dalam ceramah dinukil pula perkataan Tsabit bin Qurrah rahimahullah:
رَاحَةُ الْجِسْمِ فِي قِلَّةِ الطَّعَامِ، وَرَاحَةُ الرُّوحِ فِي قِلَّةِ الْآثَامِ، وَرَاحَةُ اللِّسَانِ فِي قِلَّةِ الْكَلَامِ
Artinya: “Ketenangan tubuh terdapat pada sedikitnya makanan, ketenangan jiwa terdapat pada sedikitnya dosa, dan ketenangan lisan terdapat pada sedikitnya perkataan.”
Ungkapan ini dirujuk kepada Kitab Zadul Ma‘ad, jilid 4, halaman 186.
4. Menahan lisan membutuhkan kesabaran dan perjuangan
Menjaga lisan bukan perkara mudah. Kebiasaan mengomentari orang lain, berdebat, membicarakan kekurangan seseorang, atau ikut menyebarkan kabar yang belum jelas sering kali muncul tanpa disadari.
Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam pembahasan tentang kesabaran bahwa menahan diri dari kemaksiatan lisan dan kemaluan termasuk bentuk kesabaran yang berat, karena dorongan untuk melakukannya sangat kuat dan pelaksanaannya terasa mudah.
Lihat ‘Uddatush-Shabirin, halaman 126–127.
Karena itu, menjaga lisan memerlukan latihan yang berkelanjutan, di antaranya:
- Membiasakan diri berpikir sebelum berbicara.
- Menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat.
- Tidak terburu-buru menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.
- Menjauhi gibah, namimah, dusta, celaan, dan perdebatan yang tidak membawa manfaat.
- Memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan berbicara dengan perkataan yang baik.
- Segera bertobat apabila melakukan kesalahan melalui lisan.
- Memilih lingkungan pergaulan yang membantu menjaga agama dan akhlak.
5. Mengingat Allah merupakan obat bagi hati
Dalam ceramah disebutkan ungkapan:
ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ، وَذِكْرُ اللَّهِ دَوَاءٌ
“Membicarakan manusia dapat menjadi penyakit, sedangkan mengingat Allah merupakan obat.”
Ungkapan ini perlu dipahami secara tepat. Bukan setiap pembicaraan tentang manusia tercela. Membicarakan seseorang untuk tujuan yang dibenarkan syariat, seperti memberi kesaksian, meminta fatwa, atau memperingatkan dari bahaya yang nyata dengan ketentuan yang benar, memiliki hukum tersendiri. Yang dicela adalah pembicaraan tentang orang lain yang mengandung dosa atau tidak memiliki manfaat yang dibenarkan.
Seorang muslim hendaknya menyibukkan lisannya dengan zikir, membaca Al-Qur’an, mengajarkan kebaikan, serta mengucapkan perkataan yang bermanfaat.
Penutup
Lisan adalah nikmat Allah yang agung, tetapi sekaligus amanah yang harus dijaga. Dengan lisan, seseorang dapat meraih pahala, menyebarkan ilmu, menasihati orang lain, dan mengajak kepada kebaikan. Namun, dengan lisan pula seseorang dapat berdusta, menggunjing, mengadu domba, melukai hati, bahkan mengucapkan perkataan yang mendatangkan murka Allah.
Lima kaidah yang telah dibahas memberikan pelajaran penting:
- Lisan adalah nikmat Allah yang harus disyukuri.
- Banyak dosa dan kesalahan dapat muncul melalui lisan.
- Menjaga lisan merupakan kunci penting bagi kebaikan anggota badan dan keselamatan agama.
- Lisan adalah senjata bermata dua: dapat meninggikan derajat atau menjadi sebab kebinasaan.
- Jalan keselamatan adalah berkata baik, diam dari keburukan, dan membiasakan diri menjaga ucapan.
Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan lisan kita sebagai lisan yang senantiasa berzikir, berkata benar, menyampaikan ilmu yang bermanfaat, dan mengajak kepada kebaikan. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan lisan dan segala akibatnya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Poster Ringkasan
Materi PDF: Lisanmu Bisa Jadi Sebab Celakamu – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A.
*****
Tanya Jawab
1. Apakah Sebaiknya Meninggalkan Majelis Ilmu karena Pengaruh Teman?
Pertanyaan
Bagaimana sebaiknya seseorang menyikapi majelis ilmu yang pengajarnya berada di atas sunnah, tetapi sebagian teman yang hadir belum demikian? Kajian tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Apakah meninggalkan majelis karena khawatir imannya terpengaruh oleh teman-teman merupakan dosa atau justru bentuk menyelamatkan diri? Sampai kapan seseorang perlu mendampingi temannya dalam proses belajar, sedangkan hidayah berada di tangan Allah Azza wa Jalla?
Jawaban
Jika pengajar yang menyampaikan ilmu jelas berada di atas sunnah dan mengajarkan agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salafus shalih, hendaknya kita tetap mendatangi majelis ilmunya. Fokuslah pada ilmu yang disampaikan, bukan semata-mata pada siapa saja yang menjadi teman di majelis tersebut.
Guru dan murid memiliki hubungan yang dekat dalam proses menuntut ilmu. Dalam tradisi keilmuan Islam, para murid ulama juga sering disebut sebagai sahabat atau pengikut seorang guru. Misalnya, dikenal istilah Ashab Asy-Syafi‘i, yaitu murid-murid Imam Asy-Syafi‘i, serta istilah Ashab Malik, yaitu murid-murid Imam Malik.
Karena itu, jangan terburu-buru meninggalkan majelis ilmu yang baik hanya karena melihat keadaan sebagian teman yang belum sesuai dengan harapan kita. Selama majelis tersebut mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan benar, teruslah mengambil manfaat darinya.
Adapun dalam bergaul dengan teman-teman, seseorang tetap perlu menjaga agama dan imannya. Hendaknya ia mengajak kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana, tanpa membiarkan dirinya terseret kepada keburukan.
Hidayah memang berada di tangan Allah. Tugas kita adalah berusaha menasihati dan menunjukkan jalan yang benar, sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah Azza wa Jalla.
2. Mengapa Ilmu yang Dipelajari Belum Terasa Manis dan Belum Terwujud dalam Amal?
Pertanyaan
Bagaimana jika seseorang telah mengikuti majelis ilmu, tetapi ilmu yang dipelajari belum terasa manis dan belum terwujud dalam salat maupun amal sehari-hari? Apakah hal itu mengurangi keberkahan majelis ilmu? Bagaimana jika kegiatan di majelis justru lebih banyak diisi dengan senda gurau dunia?
Jawaban
Selama majelis tersebut merupakan majelis Al-Qur’an dan Sunnah yang mengajarkan agama sesuai pemahaman salafus shalih, maka majelis itu merupakan majelis kebaikan. Jangan meninggalkannya hanya karena kita belum merasakan manisnya ilmu atau belum melihat perubahan yang diharapkan pada diri sendiri.
Menuntut ilmu membutuhkan perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan. Terkadang seseorang memulai perjalanan menuntut ilmu dengan niat yang belum sepenuhnya lurus. Namun, ia harus terus memperbaiki niatnya hingga ilmu yang dipelajarinya benar-benar ditujukan untuk mencari keridaan Allah.
Dalam kajian ini dinukil perkataan Imam Ad-Daruquthni rahimahullah:
طَلَبْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ، فَأَبَى الْعِلْمُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ
Artinya: “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu itu enggan kecuali harus ditujukan karena Allah.”
Redaksi ini dinukil dalam kajian sebagai nasihat tentang pentingnya meluruskan niat. Penyandaran persisnya kepada Imam Ad-Daruquthni perlu diverifikasi sebelum dicantumkan sebagai kutipan langsung dari kitab tertentu.
Muhammad bin Al-Munkadir rahimahullah juga dinukil mengatakan:
كَابَدْتُ نَفْسِي أَرْبَعِينَ سَنَةً حَتَّى اسْتَقَامَتْ
Artinya: “Aku bersusah payah mendidik diriku selama empat puluh tahun hingga ia menjadi lurus.”
Perkataan ini menggambarkan bahwa memperbaiki diri membutuhkan proses panjang. Kita tidak boleh berharap bahwa hanya dengan beberapa kali mengikuti kajian, seluruh kebiasaan buruk langsung hilang.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga dinukil menegaskan bahwa tujuan ilmu adalah amal. Dalam kajian, perkataan beliau disampaikan dengan redaksi:
إِنَّمَا يُرَادُ بِالْعِلْمِ الْعَمَلُ
Artinya: “Sesungguhnya ilmu itu ditujukan untuk diamalkan.”
Oleh karena itu, jangan meninggalkan ilmu dengan alasan ingin beramal, dan jangan pula meninggalkan amal dengan alasan masih ingin terus belajar. Keduanya harus berjalan beriringan.
Jika kita belum merasakan manisnya ilmu, berarti masih ada hal yang perlu diperbaiki. Bisa jadi niat kita perlu diluruskan, kesungguhan belajar perlu ditingkatkan, atau ilmu yang diperoleh belum diamalkan secara konsisten.
Pemateri juga mengingatkan bahwa para ulama terdahulu terus menuntut ilmu sepanjang hidup mereka. Jika mereka saja bersungguh-sungguh dalam belajar, kita yang memiliki banyak kesibukan duniawi seharusnya semakin menyadari pentingnya meluangkan waktu untuk ilmu.
Salat juga merupakan makanan bagi hati. Dalam kajian disebutkan ungkapan:
الصَّلَاةُ قُوتُ الْقُلُوبِ
Artinya: “Salat adalah makanan bagi hati.”
Redaksi dan sumber kitab ungkapan ini belum dipastikan dalam transkrip. Namun, pesan yang disampaikan jelas: sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, hati juga membutuhkan ibadah. Jika salat dilakukan dengan tergesa-gesa dan perhatian yang kurang, jangan heran apabila pengaruh ilmu terhadap hati dan perilaku belum terasa kuat.
Jangan sampai seseorang mengaji hanya satu jam, tetapi pelajaran yang diperolehnya hilang dari ingatan dan amalnya selama berhari-hari. Ilmu perlu dipelajari, diulang, direnungkan, dan diamalkan agar memberikan pengaruh nyata.
3. Bagaimana Menasihati Anak yang Belum Memahami Nasihat Orang Tua?
Pertanyaan
Bagaimana sebaiknya orang tua menasihati anak yang melakukan kesalahan, tetapi terkadang anak tersebut tidak memahami inti nasihat yang disampaikan kepadanya?
Jawaban
Orang tua hendaknya tidak mudah berhenti memberikan nasihat kepada anak. Jika nasihat pertama belum dipahami atau belum diterima, bukan berarti upaya menasihati harus dihentikan.
Bisa jadi hari ini anak belum memahami maksud nasihat tersebut, tetapi suatu saat ia akan memahaminya. Karena itu, orang tua perlu bersabar, memilih cara penyampaian yang tepat, dan terus mengarahkan anak kepada kebaikan.
Allah Ta’ala mengabadikan nasihat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya‘qub kepada keturunan mereka dalam Al-Qur’an. Demikian pula, Al-Qur’an memuat berbagai nasihat para nabi kepada keluarga mereka sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Salah satu contoh ialah nasihat Nabi Luqman kepada anaknya. Allah berfirman:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ
Artinya: “Wahai anakku! Laksanakanlah salat, suruhlah manusia berbuat yang makruf, cegahlah mereka dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”
(QS. Luqman [31]: 17)
Ayat ini menunjukkan pentingnya pendidikan, nasihat, dan kesabaran dalam membimbing keluarga.
Selama anak masih hidup dan masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan, orang tua hendaknya terus berusaha. Jangan merasa cukup hanya karena sudah menasihati dua atau tiga kali.
Tentu saja, nasihat harus disampaikan dengan cara yang sesuai, tidak sekadar mengulang teguran dengan nada marah. Tujuannya adalah agar anak memahami kebenaran dan terdorong untuk memperbaiki diri.
Hasil akhirnya tetap berada di tangan Allah Azza wa Jalla. Tugas orang tua adalah berusaha mendidik, membimbing, dan mendoakan anak-anaknya.
4. Bagaimana Sikap Adik ketika Kakaknya Terus Menjelek-jelekkan Dirinya?
Pertanyaan
Bagaimana sikap seorang adik jika kakaknya sering memperburuk keadaan dengan menceritakan keburukan adiknya di hadapan anggota keluarga yang lain? Apakah adik harus diam atau mempertahankan dirinya?
Jawaban
Secara umum, nasihat hendaknya tetap diberikan dan tidak mudah dihentikan. Seseorang perlu berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya dengan cara yang baik.
Namun, ada keadaan tertentu ketika diam justru lebih tepat. Tidak setiap persoalan harus dijawab dengan perdebatan, terlebih apabila jawaban tersebut hanya akan memperbesar pertengkaran.
Karena itu, seorang adik hendaknya mempertimbangkan keadaan sebelum merespons. Jika perlu menjelaskan sesuatu yang tidak benar, lakukan dengan tenang, berdasarkan fakta, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Apabila situasi sedang memanas dan perkataan hanya akan memperburuk keadaan, menahan diri dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana. Setelah suasana tenang, persoalan dapat dibicarakan dengan cara yang lebih baik, baik secara langsung maupun melalui bantuan anggota keluarga yang dipercaya.
Prinsipnya, jangan menjadikan kesalahan orang lain sebagai alasan untuk melakukan kesalahan yang sama. Tetaplah menjaga lisan, berusaha menyampaikan kebenaran, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
5. Bagaimana Penjelasan tentang Riwayat Penundaan Pencatatan Dosa Selama Enam Jam?
Pertanyaan
Mohon penjelasan lebih lanjut tentang dalil yang menyebutkan bahwa malaikat pencatat dosa menunda pencatatan selama enam jam. Jika seseorang segera menyesal dan beristigfar, apakah dosa tersebut tidak dicatat?
Jawaban
Dalam kajian, pemateri menjelaskan bahwa terdapat riwayat mengenai malaikat pencatat di sebelah kiri yang menunda pencatatan dosa untuk suatu waktu. Jika seorang hamba menyesal dan memohon ampun kepada Allah, dosa tersebut tidak dicatat sebagaimana dijelaskan dalam riwayat itu.
Pemateri kemudian menerangkan perbedaan antara cara Allah memberikan pahala dan cara Allah memperhitungkan dosa. Dalam pemberian pahala, Allah melimpahkan karunia kepada hamba-Nya, sedangkan dalam perhitungan dosa, Allah tidak menzalimi siapa pun.
Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya: “Barang siapa berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan, dia tidak akan dibalas melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dirugikan.”
(QS. Al-An‘am [6]: 160)
Ayat ini menegaskan bahwa satu kebaikan dapat dibalas sekurang-kurangnya sepuluh kali lipat, sedangkan keburukan dibalas dengan yang seimbang dengannya, sesuai keadilan Allah.
Pemateri juga mengingatkan bahwa kehadiran dalam majelis ilmu dan zikir merupakan sebab datangnya ampunan Allah. Karena itu, seorang muslim hendaknya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh.
Catatan verifikasi: Redaksi hadis tentang penundaan pencatatan dosa selama enam jam beserta nomor dan derajatnya tidak dapat dipastikan hanya dari transkrip ini. Oleh sebab itu, ketentuan enam jam tidak sepatutnya dinyatakan sebagai kepastian tanpa pemeriksaan sumber hadis. Yang jelas, seorang muslim diperintahkan untuk segera bertobat setelah berbuat dosa dan tidak menunda-nunda istigfar.
6. Bagaimana Jika Sudah Meminta Maaf, tetapi Orang yang Disakiti Belum Memaafkan?
Pertanyaan
Pada zaman teknologi sekarang, tulisan dan pesan digital juga dapat menjadi sarana seseorang menyakiti orang lain, sebagaimana ucapan lisan. Jika kita sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh, tetapi orang tersebut belum bersedia memaafkan, bagaimana sikap yang seharusnya diambil?
Jawaban
Jika seseorang telah melakukan kesalahan, hendaknya ia berusaha memperbaiki kesalahannya, meminta maaf kepada orang yang disakiti, dan tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Apabila orang yang disakiti belum bersedia memaafkan, jangan kemudian kita membalasnya dengan keburukan. Teruslah menjaga sikap, memperbaiki diri, dan menyerahkan urusan kepada Allah.
Dalam kajian, pemateri mengingatkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah sendiri membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang bertobat.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Ayat tersebut mengajarkan agar seseorang tidak berputus asa dari ampunan Allah. Namun, ketika kesalahan menyangkut hak manusia, kita tetap harus berusaha menyelesaikan hak tersebut dengan cara yang benar.
Allah juga memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 134)
Memaafkan merupakan akhlak yang mulia. Karena itu, ketika kita berada di posisi orang yang disakiti, hendaknya kita juga berusaha membuka hati untuk memaafkan.
Adapun orang yang telah meminta maaf harus tetap bersungguh-sungguh memperbaiki kesalahannya. Ia tidak boleh merasa bahwa kewajibannya pasti selesai hanya karena sudah meminta maaf, sebab pemulihan hak orang yang dizalimi perlu dilihat sesuai jenis kesalahan dan akibatnya.
7. Apakah Obrolan tentang Sepak Bola, Politik, dan Candaan Diperbolehkan?
Pertanyaan
Apakah obrolan kosong seperti membahas sepak bola, politik, atau bercanda ketika berkumpul bersama teman diperbolehkan? Bagaimana batasan pembicaraan yang tidak bermanfaat?
Jawaban
Pada dasarnya, pembicaraan yang hukumnya mubah tetap diperbolehkan selama tidak mengandung perkara yang diharamkan dan tidak melalaikan seseorang dari kewajiban.
Membicarakan olahraga, informasi umum, atau bercanda dengan teman tidak otomatis menjadi dosa. Namun, pembicaraan tersebut dapat berubah menjadi tercela apabila berisi gibah, fitnah, penghinaan, dusta, atau perkara lain yang dilarang syariat.
Dalam membicarakan politik, seseorang juga perlu mempertimbangkan ilmu dan kemampuannya. Jangan sampai ia berbicara tentang perkara yang tidak dipahaminya, menyebarkan kabar yang belum jelas, atau terlibat dalam perdebatan yang tidak menghasilkan manfaat.
Dalam kajian, pemateri menukil ungkapan yang dinisbatkan kepada Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah:
إِنَّ مِنَ السِّيَاسَةِ تَرْكَ السِّيَاسَةِ
Artinya: “Sesungguhnya di antara bentuk berpolitik adalah meninggalkan politik.”
Ungkapan tersebut digunakan dalam kajian untuk mengingatkan bahwa tidak semua orang perlu terlibat dalam setiap pembicaraan politik. Terkadang, meninggalkan pembicaraan yang tidak dikuasai justru lebih baik bagi agama dan akhlak seseorang. Sumber kitab dan redaksi persis kutipan ini perlu diverifikasi sebelum dijadikan kutipan langsung.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Artinya: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”
Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, no. 2317; hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama.
Hadis tersebut menjadi pedoman agar seorang muslim tidak menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi agama maupun kehidupannya.
Meskipun demikian, tidak semua obrolan duniawi tercela. Dalam kajian disebutkan bahwa para sahabat juga pernah berbincang-bincang di masjid hingga tertawa, sementara Nabi ﷺ tidak mengingkari mereka. Namun, hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan pembicaraan yang dilarang atau mengabaikan adab masjid.
Kesimpulannya, pembicaraan yang mubah boleh dilakukan selama tetap menjaga batasan syariat. Akan tetapi, jika tidak ada manfaat yang jelas dan pembicaraan berpotensi menyeret kepada dosa, meninggalkannya lebih selamat.
8. Bagaimana Menasihati Orang Tua agar Tidak Merasa Tertekan?
Pertanyaan
Bagaimana cara menjaga lisan ketika menasihati orang tua agar teguran disampaikan dengan kasih sayang, bukan menjadi sebab mereka takut atau merasa tertekan? Apakah anak sebaiknya membiarkan orang tua agar mereka tidak merasa dikekang atau diawasi?
Jawaban
Apabila nasihat yang disampaikan berlandaskan dalil dan bertujuan mengajak kepada kebaikan, seorang anak hendaknya tetap menyampaikannya dengan cara yang baik. Adapun apakah nasihat tersebut diterima atau tidak, hal itu bukan sesuatu yang dapat dipaksakan oleh anak.
Terkadang nasihat terasa menyakitkan bagi orang yang menerimanya. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa setiap nasihat harus dihentikan. Yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaian, pemilihan waktu, serta bahasa yang digunakan.
Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan berbicara kepada mereka dengan perkataan yang mulia.
Allah berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 23)
Ayat ini mengajarkan bahwa nasihat kepada orang tua harus tetap disampaikan dengan penuh penghormatan. Anak dapat memberikan masukan tanpa terkesan menggurui, menggunakan bahasa yang lembut, dan memilih waktu ketika orang tua lebih siap mendengarkan.
Allah juga berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman [31]: 15)
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam perkara yang bertentangan dengan agama, seseorang tidak boleh mengikuti perintah tersebut, tetapi tetap wajib memperlakukan orang tuanya dengan baik.
Jika orang tua merasa tersinggung meskipun nasihat disampaikan dengan cara yang benar, seorang anak tetap perlu mengevaluasi pendekatan dan bahasanya. Jangan mudah menyimpulkan bahwa orang tua salah hanya karena tidak menerima nasihat. Teruslah berusaha dengan kelembutan, doa, dan penghormatan.
Tujuannya bukan membuat orang tua merasa diawasi, melainkan membantu mereka dalam kebaikan tanpa menghilangkan hak dan kehormatan mereka.
Penutup Sesi Tanya Jawab
Pemateri menyampaikan permohonan maaf karena waktu yang tersedia belum memungkinkan seluruh pertanyaan dijawab. Beberapa pertanyaan yang tersisa direncanakan untuk dilanjutkan pada kesempatan berikutnya, insyaallah, di majelis yang sama setelah salat Isya.
Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan urusan kita semua, menjaga kita dan kedua orang tua kita, merahmati serta mengampuni dosa-dosa mereka dan dosa-dosa kita, memasukkan kita ke dalam surga-Nya, dan menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta amal saleh.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَارْحَمْهُمْ وَأَدْخِلْنَا جَنَّتَكَ
Artinya: “Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, rahmatilah mereka, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu.”
Wallahu a‘lam bish-shawab.
*****



