Bismillah
- Tema: Keutamaan Menuntut Ilmu
- Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafidzahullah
- Mudir Pondok Pesantren As-Sunnah Bagik Nyaka, Lombok Timur.
- Tanggal: 1 Jumadil Awal 1447 H / 12 Oktober 2026 M
- Tempat: Masjid no. 787 Al- Wakra – Qatar
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan amal kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.
Islam sangat memuliakan ilmu. Ayat pertama yang diturunkan memerintahkan manusia untuk membaca. Menuntut ilmu bukan pembahasan sampingan, sebab seluruh ajaran Islam—iman, ibadah, akhlak, hingga muamalah—perlu dipahami melalui ilmu. Ilmu juga menjadi pelindung dari kebodohan dan jalan untuk beribadah kepada Allah dengan benar.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
— Al-Qur’an, Surah al-‘Alaq (96): 1–5.
Ilmu adalah lawan dari kebodohan. Karena itu, menuntut ilmu berarti berusaha menghilangkan kebodohan dari diri, memahami kebenaran, dan menambah pengetahuan yang bermanfaat. Dalam ceramah ini, ilmu yang dimaksud terutama ilmu agama yang membimbing seseorang mengenal Allah, mengikuti Rasulullah, dan beramal sesuai tuntunan.
Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa kebodohan merupakan pintu besar bagi setan untuk menyesatkan manusia. Orang yang tidak memiliki ilmu mudah menerima kesalahan karena tidak mempunyai ukuran untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Semakin sedikit ilmu seseorang, semakin besar peluang kebatilan menguasainya. Orang berilmu pun tetap diuji, tetapi ilmu menjadi penjaga yang membantunya mengenali tipu daya.
1. Ilmu menjadi dasar iman
Seseorang tidak mungkin beriman dengan benar tanpa mengenal apa yang diimaninya. Iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir perlu dibangun di atas pengetahuan. Demikian pula syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji memiliki tuntunan yang harus dipelajari. Karena itu, belajar agama merupakan bagian dari menjaga dan menyempurnakan iman.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengetahui tauhid sebelum menyampaikan dan mengamalkannya. Para ulama mengambil pelajaran bahwa ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
— Al-Qur’an, Surah Muhammad (47): 19.
Menuntut ilmu yang bermanfaat juga merupakan tanda kebaikan yang Allah kehendaki bagi seorang hamba. Rasulullah menjelaskan bahwa pemahaman agama merupakan karunia, bukan sekadar banyaknya informasi.
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.”
— Sahih al-Bukhari, no. 71; Sahih Muslim, no. 1037.
2. Ilmu dan akhlak adalah tanda Iman
Ilmu agama seharusnya menumbuhkan akhlak yang baik. Pemahaman yang benar tidak berhenti pada hafalan atau perdebatan, tetapi tampak dalam kejujuran, amanah, kesantunan, dan kepatuhan kepada Allah. Dalam materi ceramah disebutkan riwayat tentang dua sifat yang tidak berkumpul pada diri orang munafik: akhlak yang baik dan pemahaman agama.
خَصْلتانِ لا يَجتمعانِ في مُنافقٍ : حُسْنُ سَمتٍ ، و لا فِقهٌ في الدِّينِ
HR. Tirmidzi no. 2684 dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu. Disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.
Al-Qur’an menggambarkan orang munafik sebagai kaum yang tidak memahami dan tidak mengetahui. Sebaliknya, orang beriman berusaha menerima kebenaran, memperdalam agama, dan memperbaiki perangainya. Ukuran ilmu bukan semata-mata banyaknya bahan yang diketahui, melainkan pengaruhnya terhadap iman dan amal.
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang belum mengenal baca tulis seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.”
— Al-Qur’an, Surah al-Jumu‘ah (62): 2.
3. Ilmu melipatgandakan nilai amal
Orang yang berilmu dapat memperoleh pahala besar melalui amalan yang ringan, karena ia mengetahui bacaan, waktu, dan keutamaan yang diajarkan. Rasulullah mengajarkan kepada Juwairiyah radhiyallahu ‘anha empat kalimat yang diulang tiga kali. Beliau menerangkan bahwa kalimat itu sebanding dengan zikir yang telah dibacanya sejak pagi, jika ditimbang dengan kalimat tersebut.
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
“Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sejauh keridaan-Nya, seberat Arasy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-Nya.”
— Sahih Muslim, no. 2726.
Contoh lainnya ialah zikir setelah shalat. Dalam salah satu tuntunan, tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing dibaca sepuluh kali. Ada pula tuntunan membaca tasbih dan tahmid masing-masing 33 kali, lalu takbir 34 kali. Zikir sebelum tidur yang diajarkan kepada Ali dan Fatimah juga berupa tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali. Variasi bacaan ini menunjukkan pentingnya mempelajari sunnah agar ibadah dilakukan sesuai tuntunan.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa ada amalan ringan yang sering terlewatkan. Godaan dan kesibukan dapat membuat seseorang lupa berzikir setelah shalat atau menundanya ketika hendak tidur. Ilmu membantu seseorang mengenali amalan itu dan menjaga konsistensinya.
4. Ilmu membimbing dan memperbaiki amal
Ilmu adalah imam bagi amal, sedangkan amal mengikutinya. Orang yang beribadah tanpa ilmu berisiko melakukan kesalahan dan bahkan merusak lebih banyak daripada memperbaiki. Sebaliknya, ilmu yang benar membimbing seseorang untuk ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah.
Belajar tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan ibadah. Begitu pula kesibukan beramal tidak semestinya membuat seseorang berhenti belajar. Ilmu dan ibadah perlu berjalan beriringan: ilmu mengarahkan amal, sedangkan amal menjadi buah dari ilmu.
Kisah perubahan arah kiblat memberi pelajaran tentang tanggung jawab sesuai pengetahuan yang sampai kepada seseorang. Para sahabat di Masjid Quba segera mengubah arah shalat setelah menerima kabar bahwa kiblat telah dialihkan ke Masjidil Haram. Mereka bertindak berdasarkan ilmu yang baru mereka ketahui. Seorang muslim perlu berusaha mencari tuntunan sebelum beribadah, dan beramal sesuai kadar ilmu yang telah sampai kepadanya.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah.”
— Al-Qur’an, Surah al-Hasyr (59): 7.
5. Menuntut ilmu adalah perjuangan (Jihad)
Menuntut ilmu memerlukan kesungguhan: melawan kantuk, mengatur waktu, mendengarkan dengan tenang, dan bersabar dalam memahami dalil. Dalam pengertian ini, belajar adalah perjuangan di jalan Allah. Al-Qur’an bahkan menyebut perjuangan besar dengan Al-Qur’an, yakni menyampaikan kebenaran dan hujah dengan ilmu.
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
“Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah menghadapi mereka dengannya (Al-Qur’an) dengan jihad yang besar.”
— Al-Qur’an, Surah al-Furqan (25): 52.
Menyeru kepada kebaikan dan menjelaskan kebenaran harus dilakukan dengan pemahaman, hikmah, dan adab. Bahkan dalam pembahasan perang, seseorang tidak boleh bertindak tanpa ilmu tentang hukum dan batasannya. Materi ceramah menekankan bahwa tujuan dakwah ialah mengajak manusia kepada tauhid, sedangkan tindakan harus mengikuti ketentuan syariat dan larangan untuk melampaui batas.
Keutamaan perjalanan menuntut ilmu juga disebutkan dalam hadis. Orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga. Keutamaan ini mencakup kesungguhan belajar, baik dengan mendatangi majelis maupun menggunakan sarana yang tersedia.
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
— Sahih Muslim, no. 2699.
Dalam ceramah disebutkan pula keutamaan datang ke masjid untuk belajar atau mengajarkan kebaikan, serta keutamaan khusus Masjid Nabawi yang dinisbatkan kepada riwayat dari Abu Hurairah. Inti nasihatnya ialah memakmurkan masjid dengan belajar dan mengajarkan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْـمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَمَنْ دَخَلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ.
“Barang siapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala. Dan barang siapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu, maka ia laksana orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.” (HR Ibnu Majah: 227)
Dalam riwayat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ juga bersabda,
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ
“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
6. Kebodohan membahayakan agama
Al-Qur’an mencela sikap tidak mau mengetahui dan memahami. Penghuni neraka sendiri digambarkan menyesali bahwa seandainya mereka dahulu mau mendengar dan menggunakan akal, mereka tidak akan menjadi penghuni neraka. Karena itu, seorang muslim hendaknya menggunakan pendengaran, penglihatan, dan akalnya untuk mencari petunjuk.
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Mereka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, tentu kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.””
— Al-Qur’an, Surah al-Mulk (67): 10.
Kebodohan juga dapat melahirkan permusuhan terhadap sesuatu yang belum dipahami. Sebab itu, ketika mendengar ajaran yang belum jelas, seorang muslim sebaiknya bertanya kepada orang berilmu dan mencari penjelasan sebelum menolak atau menyebarkan penilaian. Nabi Muhammad menegur Abu Dzar ketika ia mengucapkan celaan bernuansa kesukuan, lalu menyebut bahwa masih ada sifat jahiliah pada dirinya. Teguran itu menunjukkan bahwa ilmu semestinya mengikis kesombongan dan prasangka.
Allah menjelaskan bahwa sebagian penghuni neraka memiliki hati, mata, dan telinga tetapi tidak menggunakannya untuk memahami kebenaran. Karunia alat untuk mengetahui perlu disertai kemauan untuk mengambil pelajaran.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا
“Sungguh, Kami telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (isi) neraka Jahanam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.”
— Al-Qur’an, Surah al-A‘raf (7): 179.
Adab dalam menuntut ilmu
Ilmu perlu dicari dengan adab. Para sahabat mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an. Adab meliputi sikap hormat kepada guru, kesungguhan mendengar, rendah hati, sabar, serta mengamalkan apa yang telah dipahami. Adab juga berarti menjaga niat agar ilmu dicari untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan demi pujian atau perdebatan.
Adab dapat dipelajari dari teladan para ulama dan dari kitab-kitab yang membahas perilaku penuntut ilmu. Kedekatan dengan guru dan lingkungan ilmu membantu seseorang memahami bagaimana ilmu diamalkan, bukan hanya bagaimana ia diucapkan.
Penuntut ilmu perlu berhati-hati dalam memilih sumber agama. Muhammad bin Sirin berkata bahwa ilmu adalah bagian dari agama, sehingga seseorang perlu memperhatikan dari siapa ia mengambil agamanya. Sikap selektif ini bukan alasan untuk berlaku kasar, tetapi bentuk tanggung jawab agar ajaran yang diikuti memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menjawab beberapa pertanyaan
Belajar tatap muka dan belajar daring
Belajar langsung di majelis memberi kesempatan untuk berinteraksi, bertanya, dan beradab kepada guru. Ceramah menekankan keutamaan berjalan menuju masjid dan menghadiri majelis ilmu. Namun, ketika kesempatan hadir langsung terbatas, belajar daring dapat menjadi sarana untuk memperoleh manfaat. Prinsipnya, gunakan sarana yang tersedia, pilih pengajar dan materi yang tepercaya, serta jangan menjadikan kemudahan daring sebagai alasan berhenti belajar.
Menghafal Al-Qur’an dan membaca
Menghafal Al-Qur’an memiliki keutamaan besar, tetapi hafalan hendaknya disertai pemahaman, pengamalan, dan penjagaan adab terhadap Al-Qur’an. Istilah qari pada masa awal Islam sering merujuk kepada orang yang membaca dan menguasai Al-Qur’an, bukan semata-mata orang yang merdu suaranya. Pada Ramadan, memperbanyak tilawah juga merupakan amal yang utama. Keutamaan suatu amal bergantung pada tuntunan, niat, keadaan, dan manfaatnya; karena itu, jangan mempertentangkan hafalan dan membaca seolah-olah salah satunya tidak penting.
Belajar agama dari sumber yang tepercaya
Untuk urusan dunia, seseorang lazim memeriksa keahlian orang yang dimintai bantuan. Dalam urusan agama, kehati-hatian lebih diperlukan: pelajari agama dari guru yang dikenal ilmunya, rujuk dalil, dan tanyakan perkara yang belum jelas. Ilmu dunia bermanfaat sesuai bidangnya, sementara pemahaman agama perlu dijaga agar seseorang tidak mengikuti pendapat tanpa mengetahui dasarnya.
Zikir dengan jumlah dan susunan yang diajarkan
Zikir memiliki beberapa bentuk yang diriwayatkan. Penuntut ilmu hendaknya mempelajari setiap bentuk dengan benar dan mengamalkannya sesuai keadaan, tanpa mencampur jumlah atau lafaz dari riwayat yang berbeda. Memahami dalil membuat amalan lebih tertib dan menolong seseorang menjaga sunnah.
Penutup
Keutamaan menuntut ilmu dapat dirangkum dalam enam pelajaran: ilmu menjadi dasar iman; pemahaman agama dan akhlak baik menandai kebaikan; ilmu membuat seseorang mengenali amalan ringan yang besar pahalanya; ilmu membimbing amal agar sesuai tuntunan; perjalanan mencari ilmu adalah perjuangan; dan kebodohan dapat membahayakan agama serta kehidupan akhirat.
Karena itu, hendaknya kita terus belajar dengan niat yang ikhlas, adab yang baik, sumber yang tepercaya, dan tekad untuk mengamalkan ilmu. Semoga Allah mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, memberi manfaat melalui ilmu yang telah Dia ajarkan, dan menambah ilmu yang berguna bagi kita.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, berilah manfaat kepada kami melalui apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
****
Download Versi PDF: Keutamaan Menuntut Ilmu – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafidzahullah
Poster Ringkasan
*****



