Bismillah
- Tema: Tergelincir di Usia Senja
- Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafidzahullah
- Mudir Pondok Pesantren As-Sunnah Bagik Nyaka, Lombok Timur.
- Tanggal: 1 Jumadil Awal 1447 H / 12 Oktober 2026 M
- Tempat: Masjid At-Tawheed Al-Khor Community – Qatar
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan amal kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.
Pertama-tama, alhamdulillah, kita memuji Allah Azza wa Jalla dengan pujian yang tidak henti-hentinya. Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai menyebutkan dalam hadits yang dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam Jamik-nya, “Afdhalu dzikri la ilaha illallah, wa afdhalu du’a alhamdulillah.” Zikir yang paling utama adalah kalimat tauhid “La ilaha illallah”, dan doa yang paling afdol adalah kalimat “Alhamdulillah”.
Jadi, tidak ada zikir dan doa pada satu kalimat terkumpul kecuali pada kalimat alhamdulillah. Alhamdulillah itu dzikir dan juga do’a. Kita lihat doa-doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau tidak mendapatkan sesuai dengan harapan: “Alhamdulillah ‘ala kulli hal.” Dan jika sesuai dengan harapan: “Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmus sholihat.”
Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang umur manusia dan bagaimana seseorang menghadapi akhir kehidupannya. Persoalan ini sangat penting karena kita tidak pernah mengetahui kapan ajal akan datang. Seseorang bisa meninggal ketika sedang sehat, ketika sedang sakit, bahkan ketika sedang melaksanakan ibadah.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu mempersiapkan diri dan tidak merasa aman dari kemungkinan berakhirnya kehidupan dalam keadaan yang tidak baik.
1. Umur Manusia Terbatas dan Akhir Amalan Sangat Menentukan
A. Umur manusia tidak dapat dipastikan
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa umur umat beliau pada umumnya berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun. Sebagian orang memang melampaui usia tersebut, tetapi tidak banyak.
Dalil hadits:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Namun, angka tersebut bukan jaminan bahwa seseorang akan hidup sampai usia enam puluh atau tujuh puluh tahun. Ajal setiap manusia telah ditentukan oleh Allah. Tidak ada yang mengetahui kapan kematian akan menjemputnya.
Seseorang bisa saja meninggal sebelum menyelesaikan shalatnya. Ia mungkin meninggal ketika belum mengucapkan salam, atau bahkan ketika baru memulai takbiratul ihram. Karena itu, kita tidak boleh menunda-nunda kebaikan seolah-olah masih memiliki waktu yang panjang.
B. Shalatlah seperti Shalat Perpisahan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat agar seseorang melaksanakan shalat dengan kesungguhan, seakan-akan itu adalah shalat terakhirnya.
Dalil hadits:
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, no. 4171. Beliau bersabda:
«صَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ»
“Shalatlah seperti shalat orang yang akan berpisah.”
Maksudnya, seorang muslim hendaknya memperbaiki shalatnya, menghadirkan hati, menyempurnakan rukuk dan sujud, serta tidak melaksanakannya secara tergesa-gesa. Ia tidak mengetahui apakah masih akan memperoleh kesempatan untuk melaksanakan shalat berikutnya.
Jangan sampai kita merasa aman dengan berkata, “Nanti saja saya memperbaiki shalat,” atau, “Besok saya akan lebih rajin beribadah.” Tidak ada yang menjamin bahwa hari esok masih menjadi milik kita.
C. Amalan bergantung pada penutupnya
Salah satu perkara yang paling perlu dikhawatirkan adalah bagaimana akhir kehidupan seseorang. Bukan hanya bagaimana ia memulai kehidupannya, tetapi bagaimana ia mengakhirinya.
Dalil hadits:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ»
“Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung pada penutupnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 6607.
Kita tidak mengetahui apakah shalat yang sedang kita kerjakan merupakan shalat terakhir. Kita tidak tahu apakah kesempatan berpuasa pada tahun ini masih akan berulang pada tahun berikutnya. Bahkan, kita tidak mengetahui apakah hari ini merupakan hari terakhir kehidupan kita.
Kesadaran tersebut semestinya membuat kita lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Kematian tidak menunggu seseorang menyelesaikan seluruh rencananya. Karena itu, jangan membiasakan diri menunda taubat dan amal saleh.
D. Panjang umur yang terbaik adalah panjang umur dalam kebaikan
Ketika ditanya tentang manusia yang paling baik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang terbaik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.
Sebaliknya, manusia yang paling buruk adalah orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.
Dalil hadits:
«خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ»
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.”
Riwayat At-Tirmidzi, no. 2330.
Dengan demikian, ukuran kebaikan bukan sekadar panjangnya usia, banyaknya harta, atau tingginya kedudukan. Yang terpenting adalah bagaimana umur itu digunakan untuk menaati Allah.
E. Ujian pada akhir kehidupan bisa semakin berat
Ketika seseorang memasuki usia lanjut, kemampuan fisik biasanya mulai menurun. Ia mungkin tidak lagi mampu melaksanakan ibadah sebanyak ketika masih muda. Ingatan, kesehatan, dan kekuatan tubuh pun dapat melemah.
Namun, ujian pada akhir kehidupan tidak hanya berupa kelemahan fisik. Ada pula ujian keimanan dan keteguhan hati. Seseorang perlu menjaga dirinya agar tetap istiqamah sampai akhir hayat.
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal sering disebut dalam pembahasan ini. Dalam kisah tersebut, ketika beliau mengalami kondisi menjelang wafat, putranya menuntun beliau mengucapkan kalimat tauhid. Beliau menjawab, “Belum,” karena saat itu sedang menghadapi godaan setan.
Kisah ini disampaikan dalam sejumlah literatur tentang akhir kehidupan Imam Ahmad. Pelajaran yang hendak ditekankan adalah bahwa seorang muslim tidak sepatutnya merasa aman dari fitnah sampai ia benar-benar meninggal dunia.
Seorang mukmin hidup di antara rasa takut dan harapan. Ia berharap kepada rahmat Allah, tetapi juga takut terhadap dosa dan kemungkinan buruknya akhir kehidupan.
F. Allah meneguhkan orang-orang beriman
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Ibrahim [14]: 27
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Artinya: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
Ayat ini menunjukkan bahwa keteguhan hati merupakan karunia Allah. Seorang hamba perlu memohon pertolongan-Nya agar tetap berada di atas iman, terutama ketika menghadapi sakaratul maut dan kehidupan setelah kematian.
Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa perlindungan dari berbagai fitnah.
Dalil hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ:
«إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»
Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian selesai membaca tasyahud, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara. Ia mengucapkan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.’”
Riwayat Muslim, no. 588, dengan redaksi yang disesuaikan.
Doa ini hendaknya dijaga dalam shalat. Fitnah kehidupan mencakup berbagai ujian selama hidup, sedangkan fitnah kematian mencakup ujian yang berkaitan dengan saat seseorang menghadapi ajalnya.
G. Kesempurnaan dinilai dari akhir, bukan hanya dari awal
Dalam menjalani kehidupan, kita perlu mencontoh orang yang menjaga semangat hingga akhir. Jangan sampai seseorang sangat bersemangat pada awalnya, tetapi justru melemah ketika kesempatan beramal semakin terbatas.
Hal ini dapat diambil sebagai pelajaran dari ibadah Ramadan. Semangat beribadah seharusnya tidak hanya terlihat pada hari-hari pertama, kemudian melemah ketika memasuki sepuluh hari terakhir. Justru pada penghujung Ramadan, seorang muslim dianjurkan semakin bersungguh-sungguh.
Ibnu Qayyim rahimahullah dinukil dengan perkataan:
«أَهْلُ الِاسْتِقَامَةِ نِهَايَتُهُمْ أَشَدُّ اجْتِهَادًا مِنْ بِدَايَتِهِمْ»
“Orang-orang yang istiqamah, kesungguhan mereka pada akhirnya lebih kuat daripada pada permulaannya.” (Madarijus Salikin 3/118).
Demikian pula nasihat yang dinisbatkan kepada Ibnu Jauzi rahimahullah:
إن الخيل إذا شارفت نهاية المضمار بذلت قصارى جهدها لتفوز بالسباق، فلا تكن الخيل أفطن منك! فإن الأعمال بالخواتيم، فإنك إذا لم تحسن الاستقبال لعلك تحسن الوداع…
Al-Imam Ibnu Al-Jauziy rahimahullah berkata :
“Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, dia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan, karena itu, jangan sampai kuda lebih cerdas darimu.. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya.. Karena itu, ketika kamu termasuk orang yang tidak baik dalam penyambutan, semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan.”
Walaupun tubuh melemah karena usia, seseorang masih dapat memperbanyak zikir, doa, taubat, membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan, dan memperbaiki hatinya.
H. Gunakan masa sehat sebelum datang kelemahan
Masa muda dan kesehatan merupakan kesempatan besar untuk memperbanyak amal. Orang yang telah terbiasa melakukan kebaikan ketika kuat akan lebih mudah mempertahankan kebiasaan itu ketika fisiknya melemah.
Sebaliknya, orang yang ketika muda terus-menerus lalai kemudian memasuki usia tua tanpa memperbaiki diri berada dalam keadaan yang patut dikhawatirkan.
Oleh sebab itu, jangan menunggu tua untuk bertaubat. Selagi sehat, manfaatkan waktu untuk belajar, beribadah, memperbaiki akidah, dan menunaikan hak orang lain. Taubat yang dilakukan ketika seseorang masih memiliki kekuatan memberikan kesempatan lebih luas untuk memperbaiki kesalahan dan mengganti amal yang tertinggal.
2. Akhir Kehidupan Merupakan Warisan dari Perjalanan Sebelumnya
A. Akhir kehidupan berkaitan dengan takdir Allah
Akhir kehidupan seseorang tidak terlepas dari takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits tentang penciptaan manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika manusia berada dalam kandungan, malaikat diperintahkan untuk menuliskan beberapa perkara.
Di antaranya adalah rezeki, ajal, amal, serta apakah seseorang akan menjadi orang yang celaka atau bahagia.
Dalil hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ:
«إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا … ثُمَّ يُبْعَثُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ»
Artinya: “Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari … Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat dan diperintahkan menuliskan empat perkara: amalnya, rezekinya, ajalnya, serta apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia.”
Riwayat Al-Bukhari, no. 3208, dan Muslim, no. 2643, dengan redaksi ringkas.
Perkara takdir merupakan rahasia Allah. Kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan bagi diri kita. Karena itu, seseorang tidak boleh memastikan dirinya akan memperoleh akhir yang baik hanya karena merasa telah banyak beramal. Sebaliknya, ia juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah hanya karena memiliki masa lalu yang buruk.
B. Orang beriman mengkhawatirkan akhir kehidupannya
Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan sebuah ungkapan:
«إِنَّ قُلُوبَ الْأَبْرَارِ مُعَلَّقَةٌ بِالْخَوَاتِيمِ»
Artinya: “Hati orang-orang yang saleh senantiasa terpaut pada akhir kehidupan.”
Maksudnya, mereka tidak hanya memikirkan banyaknya amal yang telah dilakukan. Mereka juga bertanya kepada diri sendiri: bagaimana keadaan kita ketika meninggal dunia nanti?
Sementara itu, orang-orang yang dekat kepada Allah juga memikirkan takdir yang telah mendahului mereka. Mereka menyadari bahwa seluruh perkara berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.
Kesadaran ini bukan alasan untuk meninggalkan amal, melainkan dorongan agar semakin bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan semakin banyak memohon pertolongan Allah.
C. Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti beramal
Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hubungan antara takdir dan amal. Jika penghuni surga dan neraka telah diketahui oleh Allah, apakah manusia masih perlu beramal?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
«اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ»
Artinya: “Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang menjadi tujuan penciptaannya.”
Riwayat Al-Bukhari, no. 4949, dan Muslim, no. 2647, dengan redaksi yang disesuaikan.
Hadits ini merupakan prinsip penting. Kita diperintahkan beramal, bukan menerka-nerka takdir. Tidak seorang pun mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Karena itu, hendaknya ia terus menaati Allah, menjauhi maksiat, memperbaiki kesalahan, dan berharap memperoleh akhir yang baik.
Jika seseorang semakin mendekat kepada Allah, semoga Allah memudahkannya dalam kebaikan. Adapun ketika seseorang justru semakin tenggelam dalam kemaksiatan, keadaan tersebut patut membuatnya takut dan segera kembali kepada Allah.
D. Mukmin menggabungkan amal baik dengan rasa takut
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Mu’minun [23]: 60
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, dengan hati yang takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”
Orang beriman tetap beramal, tetapi tidak merasa dirinya pasti selamat. Ia berpuasa, shalat, bersedekah, dan mengerjakan kebaikan sambil berharap amalnya diterima Allah.
Hasan Al-Bashri rahimahullah menjelaskan bahwa seorang mukmin menggabungkan kebaikan dengan rasa takut, sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dengan perasaan aman, kemudian beliau membacakan ayat (Surat Al-Mu’minun Ayat 57),
إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,”
Karena itu, jangan sampai seseorang merasa aman hanya karena telah melakukan sejumlah amal saleh. Ia harus terus memperbaiki niat, menjaga keikhlasan, dan memohon agar amalnya diterima.
E. Tiga tingkatan rasa takut
Dalam pembahasan yang dinukil penceramah dari kitab tafsir, manusia disebut memiliki tingkatan rasa takut yang berbeda:
- Takut terhadap dosa. Seseorang khawatir terhadap kesalahan dan kemaksiatan yang telah dilakukannya.
- Takut terhadap suul khatimah. Seseorang khawatir kehidupannya berakhir dalam keadaan buruk.
- Takut terhadap takdir yang telah mendahului. Seseorang menyadari bahwa akhir kehidupan berkaitan dengan ketetapan Allah yang tidak diketahuinya.
Tingkatan tersebut mengingatkan kita bahwa rasa takut yang benar bukanlah rasa takut yang membuat seseorang berputus asa. Rasa takut seharusnya mendorongnya untuk lebih taat, bertaubat, dan memperbanyak doa.
3. Sebab-Sebab Suul Khatimah dan Cara Menghindarinya
Suul khatimah adalah akhir kehidupan yang buruk. Pembahasan tentang penyebabnya bertujuan agar kita mengenali perkara yang membahayakan iman dan berusaha menjauhinya.
A. Rusaknya akidah dan mengikuti bid’ah
Sebab pertama yang disorot dalam kajian adalah rusaknya keyakinan, termasuk kesyirikan, hilangnya keikhlasan, dan menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beragama.
Akidah merupakan fondasi kehidupan seorang muslim. Jika fondasi ini rusak, amal yang tampak baik pun terancam kehilangan nilai dan keikhlasannya.
Karena itu, seorang muslim hendaknya terus mempelajari tauhid, memahami ibadah yang benar, dan menjaga dirinya dari kesyirikan serta amalan yang tidak memiliki landasan dalam agama.
Dalam kajian ini, dinukil penjelasan Ibnu Qayyim rahimahullah bahwa suul khatimah dapat terjadi karena kerusakan hati, terus-menerus melakukan dosa besar, atau melakukan dosa besar tanpa segera bertaubat. Jika kematian datang sebelum seseorang memperbaiki dirinya, ia terancam meninggal dalam keadaan buruk.
Peringatan ini menunjukkan pentingnya memperbaiki keadaan batin, bukan hanya memperindah penampilan lahiriah.
B. Jangan tertipu oleh penampilan amal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»
Artinya: “Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penghuni surga sebagaimana tampak di hadapan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka.”
Hadits ini merupakan bagian dari hadits panjang tentang ketetapan akhir kehidupan, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 3208, dan Muslim, no. 2643.
Hadits ini tidak mengajarkan kita untuk mencurigai setiap orang yang tampak saleh. Sebaliknya, hadits tersebut mengingatkan bahwa penampilan luar tidak cukup untuk menilai keadaan batin seseorang.
Seseorang perlu memeriksa niatnya sendiri. Apakah ia beramal karena Allah atau karena pujian manusia? Apakah ia menjaga ketaatan ketika tidak dilihat orang lain? Apakah ia bersedia mengakui kesalahan dan memperbaiki diri?
Keikhlasan dan kesesuaian amal dengan petunjuk agama merupakan perkara yang sangat penting.
C. Ketidaksesuaian antara keadaan lahir dan batin
Sebab berikutnya adalah ketika penampilan seseorang tampak baik, tetapi di dalam hatinya terdapat kerusakan yang tidak diketahui manusia.
Ibnu Qayyim rahimahullah dinukil menjelaskan bahwa akhir kehidupan yang buruk bukanlah keadaan yang lazim bagi orang yang benar-benar menjaga istiqamah lahir dan batinnya. Namun, manusia tetap harus menyadari bahwa hatinya berada dalam kekuasaan Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ»
Artinya: “Sesungguhnya seluruh hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati; Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki.”
Riwayat Muslim, no. 2654.
Hadits ini menetapkan bahwa hati manusia berada di bawah kekuasaan Allah, sesuai dengan keagungan-Nya dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. Karena itu, kita perlu memohon agar hati senantiasa diteguhkan dalam ketaatan.
D. Memperbaiki hati dan memperkuat tauhid
Dalam kajian ini juga dinukil perkataan Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wal Hikam bahwa perjalanan akhirat berkaitan erat dengan keadaan hati, bukan semata-mata perjalanan badan.
Hati yang dipenuhi tauhid, keikhlasan, dan keimanan akan mendorong seseorang melakukan kebaikan. Sebaliknya, penyakit hati yang tersembunyi dapat merusak amal meskipun penampilan luarnya tampak baik.
Maka, di samping memperbanyak amal lahiriah, seorang muslim perlu:
- Memperbaiki niat sebelum, ketika, dan setelah beramal.
- Menjauhi kesyirikan serta perkara yang merusak tauhid.
- Membersihkan hati dari kesombongan, riya, dan kebencian yang tidak dibenarkan.
- Membiasakan diri bertaubat dan mengakui kekurangan.
- Memperbanyak doa agar Allah meneguhkan hati dalam agama.
E. Berteman dengan orang-orang saleh
Sebab berikutnya adalah bergaul dengan teman-teman yang buruk. Lingkungan pergaulan sangat berpengaruh terhadap agama, kebiasaan, dan keputusan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ»
Artinya: “Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.”
Riwayat Al-Bukhari, no. 5534, dan Muslim, no. 2628, dengan redaksi yang disesuaikan.
Teman yang baik akan membantu kita mengingat Allah, mengajak kepada ketaatan, dan menasihati ketika kita melakukan kesalahan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat membuat maksiat terasa biasa, bahkan mendorong seseorang menjauh dari kebenaran.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
Artinya: “Seseorang mengikuti agama teman dekatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”
Riwayat Abu Dawud, no. 4833, dan At-Tirmidzi, no. 2378.
Oleh sebab itu, pilihlah teman yang membantu kita menjaga iman. Mengikuti kajian, bergabung dengan lingkungan yang mendorong kebaikan, dan menjauhi pergaulan yang menjerumuskan merupakan langkah penting untuk menjaga akhir kehidupan.
F. Pelajaran dari kisah Abu Thalib
Dalam Shahih Muslim terdapat kisah ketika Abu Thalib berada di ambang kematian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan mengajaknya mengucapkan kalimat tauhid. Namun, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah juga hadir dan terus mendorongnya agar tetap mengikuti agama Abdul Muthalib.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi ajakan tersebut, tetapi Abu Thalib akhirnya meninggal dalam keadaan tetap mengikuti agama Abdul Muthalib.
Riwayat Muslim, no. 24.
Kisah ini memperlihatkan betapa besar pengaruh orang-orang yang berada di sekitar seseorang pada saat-saat terakhir kehidupannya. Bahkan, seseorang yang sangat dicintai dan dibantu oleh Nabi sekalipun tidak dapat dipaksa menerima hidayah.
Hidayah berada di tangan Allah. Tugas kita adalah berusaha menjaga iman, memilih lingkungan yang baik, dan memohon keteguhan sampai akhir hayat.
Jangan meremehkan pentingnya komunitas yang mengajak kepada ilmu dan kebaikan. Ketika seseorang menghadapi ujian, teman yang saleh dapat menjadi sebab datangnya nasihat dan pertolongan.
G. Penyesalan yang sangat menyakitkan
Dalam kajian ini dinukil perkataan Ibnu Jauzi rahimahullah tentang tiga golongan yang mengalami penyesalan mendalam:
- Orang yang berharap meninggal di atas Islam, tetapi akhir kehidupannya buruk.
- Orang yang berharap bertaubat, tetapi terus-menerus melakukan kesalahan dan menunda taubat.
- Orang yang berharap berkumpul bersama orang-orang saleh, tetapi tidak memperoleh apa yang diharapkannya.
Pelajaran paling penting adalah jangan menunda taubat. Keinginan untuk berubah harus diikuti dengan tindakan nyata. Seseorang yang menyadari kesalahannya hendaknya segera meninggalkan dosa, memohon ampun kepada Allah, dan memperbaiki hak-hak manusia yang pernah dilanggarnya.
Jangan merasa bahwa kesempatan taubat selalu tersedia tanpa batas. Kita tidak mengetahui kapan ajal datang.
4. Doa Memohon Akhir Kehidupan yang Baik
Salah satu doa yang disebutkan dalam kajian adalah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَارِنَا أَوَاخِرَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, sebaik-baik umur kami adalah akhirnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.” (HR. Thabrani 9/157 dari Sahabat Anas bin Malik).
Di samping itu, kita dapat berdoa dengan doa yang sahih untuk memohon keteguhan hati.
Doa agar hati diteguhkan dalam agama:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Riwayat At-Tirmidzi, no. 2140.
Kita juga dianjurkan membaca doa yang disebutkan dalam Al-Qur’an QS. Ali ‘Imran [3]: 8
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
Semoga Allah memberikan kepada kita keteguhan iman, memperbaiki amal, mengampuni dosa, dan menutup kehidupan kita dengan kebaikan.
Penutup Kajian
Dari pembahasan ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
- Umur manusia terbatas dan waktu kematian tidak diketahui.
- Amalan sangat bergantung pada penutupnya.
- Seorang mukmin perlu memadukan rasa takut terhadap keburukan akhir kehidupan dengan harapan kepada rahmat Allah.
- Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan amal.
- Kerusakan akidah, penyakit hati, dosa yang terus dilakukan, dan lingkungan pergaulan yang buruk merupakan perkara yang perlu diwaspadai.
- Memperbaiki tauhid, menjaga keikhlasan, memilih teman saleh, dan memperbanyak doa adalah bagian dari usaha menjaga iman.
- Taubat hendaknya disegerakan, tidak menunggu usia tua atau datangnya sakit.
- Kita perlu memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan hingga akhir hayat.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dosa kedua orang tua kita, dan dosa seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat, memudahkan kita mengamalkan ilmu, serta menganugerahkan akhir kehidupan yang baik.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Sesi Tanya Jawab
1. Apakah perubahan seseorang pada usia 40 tahun menentukan akhir kehidupannya?
Pertanyaan
Saya pernah mendengar bahwa apabila seseorang berusia 40 tahun lalu berubah menjadi lebih baik, akhir kehidupannya akan baik. Sebaliknya, jika tidak berubah, akhir kehidupannya bisa buruk. Apakah hal ini benar?
Jawaban
Urusan akhir kehidupan berada di tangan Allah. Tidak tepat memastikan bahwa seseorang pasti memperoleh akhir yang baik hanya karena berubah pada usia 40 tahun.
Allah berfirman:
- Fatir [35]: 37
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ
Artinya: “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?”
Dalam penjelasan yang disampaikan penceramah, usia 40 tahun disebut sebagai salah satu usia yang menjadi perhatian karena manusia telah mencapai kematangan tertentu. Namun, tidak berarti bahwa usia 40 tahun merupakan batas pasti yang menentukan suul khatimah atau husnul khatimah.
Yang terpenting adalah memanfaatkan umur untuk beramal saleh. Seseorang yang telah mencapai usia 40 tahun hendaknya semakin serius mempersiapkan akhirat, bukan merasa bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu.
2. Apakah dosa yang dilakukan secara diam-diam setelah usia 45 tahun akan terus berulang?
Pertanyaan
Bagaimana jika seseorang berusia 45 tahun atau lebih, melakukan dosa secara diam-diam, kemudian menyadari kesalahannya dan berniat tidak mengulanginya? Apakah dosa tersebut akan terus berulang atau dapat berhenti?
Jawaban
Dosa tidak boleh dianggap ringan hanya karena dilakukan secara diam-diam atau karena pelakunya telah berusia lanjut. Seseorang hendaknya segera bertaubat, meninggalkan dosa, menyesali perbuatannya, dan bertekad tidak mengulanginya.
Para ulama sering menyampaikan kaidah:
«لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ»
Artinya: “Tidak ada dosa besar jika disertai istighfar yang benar, dan tidak ada dosa kecil jika terus-menerus dilakukan.”
Ungkapan ini merupakan nasihat yang masyhur, bukan hadits yang boleh langsung dinisbatkan kepada Nabi tanpa pemeriksaan.
Jika seseorang jatuh kembali ke dalam dosa, ia tidak boleh berputus asa. Ia harus kembali bertaubat dan mengambil langkah nyata untuk memutus kebiasaan buruknya. Usia tidak menghilangkan kewajiban untuk bertaubat.
3. Bagaimana usaha menghadapi takdir buruk pada usia menjelang senja?
Pertanyaan
Bagaimana cara mengubah takdir buruk yang dikhawatirkan akan menimpa seseorang ketika memasuki usia lanjut?
Jawaban
Manusia tidak mengetahui takdir yang telah ditetapkan untuk dirinya. Karena itu, ia tidak diperintahkan untuk menerka-nerka takdir, melainkan beramal, berdoa, dan bertawakal kepada Allah.
Doa merupakan salah satu sebab yang Allah tetapkan. Seseorang hendaknya terus memohon keteguhan iman, ampunan, dan akhir kehidupan yang baik.
Jika seseorang khawatir terhadap masa lalunya, hendaknya ia memperbanyak taubat. Jika ia khawatir terhadap masa depannya, hendaknya ia memperbanyak doa dan amal saleh.
Kita berharap kepada Allah agar dimudahkan menuju kebaikan. Namun, kita tidak boleh memastikan hasil tertentu untuk diri sendiri tanpa dalil.
4. Bagaimana berbakti kepada orang tua dan mertua ketika tinggal jauh?
Pertanyaan
Bagaimana cara berbakti kepada orang tua dan mertua yang sudah lanjut usia ketika kita merantau untuk bekerja? Bagaimana pula mengarahkan mereka agar tidak tergelincir pada usia senja?
Jawaban
Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang sangat besar. Selama mereka masih hidup, terbuka kesempatan untuk berbuat baik, membantu kebutuhan mereka, menemani mereka, dan memberikan perhatian.
Jika orang tua membutuhkan pendampingan, keluarga perlu membicarakan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bisa dengan mengunjungi mereka secara rutin, mengatur anggota keluarga yang mendampingi, atau membawa mereka tinggal bersama apabila keadaan memungkinkan.
Alasan bekerja tidak seharusnya langsung membuat kebutuhan orang tua diabaikan. Pengaturan pekerjaan dan tempat tinggal perlu mempertimbangkan kewajiban berbakti kepada mereka.
Penceramah juga menyebut kisah Uwais Al-Qarni sebagai teladan dalam berbakti kepada ibunya. Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa perhatian terhadap orang tua merupakan amal yang sangat besar.
Adapun untuk membantu orang tua menjaga agama, lakukan dengan kelembutan: ajak mereka menghadiri majelis ilmu, bantu memenuhi kebutuhan ibadah, ingatkan dengan cara yang baik, dan doakan agar Allah meneguhkan hati mereka.
5. Apakah godaan setan saat sakaratul maut sangat berat? Adakah doa khusus untuk menghindarinya?
Pertanyaan
Hadits tentang orang yang akhir perkataannya adalah la ilaha illallah menunjukkan keutamaan kalimat tauhid. Apakah hal itu juga menunjukkan bahwa godaan setan ketika sakaratul maut sangat berat? Adakah doa khusus untuk menghindarinya?
Jawaban
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»
Artinya: “Tuntunlah orang-orang yang akan meninggal di antara kalian untuk mengucapkan la ilaha illallah.”
Riwayat Muslim, no. 916.
Hadits ini menunjukkan pentingnya menuntun orang yang sedang menghadapi kematian untuk mengucapkan kalimat tauhid. Tuntunan tersebut hendaknya diberikan dengan lembut dan tidak membuat orang yang sedang sakit merasa terbebani.
Dalam kajian, penceramah menceritakan kisah Abu Zur’ah Ar-Razi yang ketika menghadapi sakaratul maut dibantu oleh para ulama di sekitarnya untuk mengingat kembali hadits tentang keutamaan kalimat tauhid.
Pelajarannya adalah pentingnya kehadiran orang-orang yang memahami agama di dekat orang yang sedang menghadapi ajal, sehingga mereka dapat menuntun dengan benar.
Adapun doa yang perlu diperbanyak adalah doa memohon keteguhan hati, termasuk:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
6. Bagaimana memahami hadits tentang seseorang yang hampir masuk neraka, tetapi akhirnya masuk surga?
Pertanyaan
Bagaimana memahami hadits tentang seseorang yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jaraknya dengan neraka tinggal sehasta, kemudian ketetapan mendahuluinya sehingga ia melakukan amalan penghuni surga dan masuk surga?
Jawaban
Hadits tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak boleh tertipu oleh penilaian lahiriah dan tidak boleh merasa dirinya pasti selamat. Allah mengetahui keadaan batin dan akhir kehidupan setiap hamba.
Penceramah menghubungkannya dengan kisah seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang. Setelah mendapatkan penjelasan dari seorang alim, ia bertekad meninggalkan lingkungan buruk dan berpindah menuju lingkungan yang lebih baik. Ia meninggal di perjalanan, kemudian Allah memberikan rahmat kepadanya.
Kisah tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 3470, dan Muslim, no. 2766.
Di antara pelajaran pentingnya adalah jangan berputus asa dari rahmat Allah, sekalipun dosa seseorang sangat banyak. Ia harus segera bertaubat, meninggalkan kemaksiatan, dan menempuh sebab-sebab yang membantunya menjadi lebih baik.
Jangan pula menjadikan hadits tentang takdir sebagai alasan untuk berhenti beramal. Kita diperintahkan untuk terus berusaha menaati Allah.
7. Amal apa yang sebaiknya diprioritaskan oleh orang yang sudah lanjut usia?
Pertanyaan
Bagi orang yang sudah uzur, amal apa yang perlu diprioritaskan agar sisa waktunya menjadi berkah?
Jawaban
Penceramah menekankan pentingnya tauhid dan zikir kepada Allah. Ketika kemampuan fisik berkurang, seseorang tetap dapat memperbanyak zikir, doa, istighfar, dan membaca Al-Qur’an sesuai kemampuannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat kepada seorang sahabat yang merasa banyaknya syariat Islam terasa berat baginya.
Beliau bersabda:
«لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
Artinya: “Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah.”
Riwayat At-Tirmidzi, no. 3375.
Orang yang lanjut usia hendaknya menjalankan ibadah sesuai kemampuan, menjaga shalat, memperbaiki tauhid, memperbanyak zikir, dan tetap berusaha menunaikan hak orang lain.
8. Bagaimana kiat agar tidak mengulangi dosa meskipun sudah lanjut usia?
Pertanyaan
Bagaimana cara menumbuhkan rasa takut terhadap dosa pada usia yang tidak lagi muda? Terkadang seseorang lalai, lupa, dan kembali mengulangi kesalahan.
Jawaban
Jawabannya adalah terus bertaubat. Jika seseorang jatuh dalam dosa, ia hendaknya segera kembali kepada Allah dan tidak membiarkan rasa malu menghalanginya untuk bertaubat.
Penceramah menyampaikan nasihat yang dinisbatkan kepada Hasan Al-Bashri bahwa setan menyukai ketika seseorang merasa malu untuk bertaubat karena terus mengulangi dosa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
- Al-Baqarah [2]: 222
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
Jangan menjadikan pengulangan dosa sebagai alasan untuk berhenti bertaubat. Sebaliknya, evaluasi sebab yang membuat kita kembali melakukan kesalahan, jauhi pemicunya, dan perbanyak doa agar hati diteguhkan.
9. Apakah membuka kancing baju merupakan sunnah yang membantu seseorang terhindar dari suul khatimah?
Pertanyaan
Apakah membuka kancing baju sebagaimana dilakukan sebagian ustadz termasuk sunnah yang dapat membantu seseorang agar tidak tergelincir pada usia senja?
Jawaban
Dalam kajian, penceramah menjelaskan bahwa persoalan membuka kancing baju tidak memiliki hubungan langsung dengan jaminan akhir kehidupan yang baik. Seseorang tidak boleh menganggap bahwa membuka atau tidak membuka kancing baju menentukan husnul khatimah.
Jika suatu tindakan memang terbukti sebagai sunnah Nabi, seseorang dapat mengikutinya dengan niat meneladani beliau. Namun, penetapan bahwa suatu tindakan merupakan sunnah perlu didasarkan pada dalil yang benar.
Yang lebih utama dalam pembahasan akhir kehidupan adalah menjaga tauhid, keikhlasan, ketaatan, dan keteguhan hati.
10. Apakah Abu Thalib termasuk ahlul fatrah?
Pertanyaan
Dari kisah sakaratul maut Abu Thalib, apakah dapat disimpulkan bahwa beliau bukan termasuk ahlul fatrah?
Jawaban
Penceramah menekankan bahwa persoalan ini harus dibahas berdasarkan dalil, bukan semata-mata perasaan. Dalam riwayat tentang wafatnya Abu Thalib disebutkan bahwa ia meninggal di atas agama Abdul Muthalib.
Riwayat Muslim, no. 24.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berusaha mengajak pamannya mengucapkan kalimat tauhid, tetapi keputusan akhir berada di tangan Allah.
Adapun penetapan status ahlul fatrah memerlukan pembahasan tersendiri berdasarkan dalil dan penjelasan ulama. Kisah Abu Thalib tersebut tidak semestinya digunakan untuk membuat kesimpulan yang melampaui apa yang ditunjukkan oleh riwayat.
11. Apakah takdir bisa diubah dengan doa?
Pertanyaan
Jika segala sesuatu telah ditakdirkan, termasuk siapa yang menjadi penghuni surga dan neraka, apakah doa dapat mengubah takdir?
Jawaban
Segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah. Doa juga merupakan bagian dari takdir-Nya. Karena itu, tidak tepat memahami doa sebagai sesuatu yang berada di luar takdir Allah.
Dalam kajian, penceramah menyebutkan ungkapan:
«لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ»
Artinya: “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa.”
Ungkapan ini diriwayatkan dalam sejumlah kitab hadits dengan pembahasan tentang kualitas sanad yang perlu diperhatikan. Karena itu, jangan menyandarkan redaksi tersebut secara mutlak tanpa menjelaskan sumber dan penilaian haditsnya.
Intinya, seorang muslim tetap harus berdoa, beramal, dan bertawakal. Ia tidak boleh berhenti berusaha dengan alasan bahwa semuanya telah ditakdirkan. Allah menetapkan sebab dan akibat, termasuk doa dan amal sebagai sebab yang ditempuh seorang hamba.
12. Mulai usia berapa seseorang disebut memasuki usia senja?
Pertanyaan
Pada usia berapa seseorang dianggap memasuki usia senja? Apakah ada dalil yang menyatakan bahwa usia di atas 40 tahun sudah termasuk usia tua?
Jawaban
Dalam kajian, usia 40 tahun disebut sebagai usia yang patut menjadi momentum evaluasi dan persiapan akhirat. Namun, tidak tepat menjadikan usia 40 tahun sebagai batas mutlak untuk menyebut seseorang tua dalam seluruh keadaan.
Kondisi fisik setiap orang berbeda. Yang paling penting adalah menyadari bahwa setiap pertambahan usia berarti semakin dekat dengan akhir kehidupan.
Karena itu, baik masih muda maupun sudah lanjut usia, setiap muslim hendaknya memperbanyak amal saleh dan tidak menunda taubat.
13. Jika seseorang bertaubat dari dosa besar, apakah hukuman syariat tetap berlaku?
Pertanyaan
Jika seseorang melakukan dosa besar seperti zina, kemudian takut terhadap hukuman dan bertaubat, apakah hukuman syariat masih berlaku?
Jawaban
Penceramah menjelaskan bahwa taubat seseorang berkaitan dengan hubungannya kepada Allah, sedangkan perkara yang telah sampai kepada penguasa atau pengadilan memiliki ketentuan hukum tersendiri.
Dalam kajian disebutkan contoh kasus pencurian yang telah diajukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada permohonan agar hukuman dibatalkan, Nabi menegaskan bahwa hukum Allah tidak boleh dipermainkan karena kedudukan seseorang.
Pembahasan tentang hukuman pidana dalam syariat memiliki syarat, pembuktian, kewenangan, dan rincian fikih yang tidak dapat disederhanakan menjadi satu aturan untuk semua keadaan. Pelaksanaannya bukan kewenangan individu, melainkan berada dalam kerangka otoritas hukum yang sah.
Adapun taubat tetap wajib dilakukan oleh orang yang berdosa, dengan meninggalkan perbuatan tersebut, menyesal, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika berkaitan dengan hak orang lain, hak tersebut juga harus diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
14. Mengapa ucapan alhamdulillah disebut sebagai doa yang paling utama?
Pertanyaan
Mohon penjelasan tentang hadits yang menyebutkan bahwa zikir terbaik adalah la ilaha illallah dan doa terbaik adalah alhamdulillah.
Jawaban
Dalam kajian, penceramah menyampaikan hadits:
«أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ»
Artinya: “Zikir yang paling utama adalah la ilaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah.”
Riwayat At-Tirmidzi, no. 3383.
Ucapan alhamdulillah merupakan pujian kepada Allah atas kesempurnaan-Nya dan ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan. Seorang hamba mengakui bahwa segala kebaikan berasal dari Allah.
Syukur tidak seharusnya hanya diucapkan ketika keinginan kita terpenuhi. Seorang muslim juga berusaha memuji Allah dalam berbagai keadaan, seraya meyakini hikmah dan ketetapan-Nya.
Dalam kajian disebutkan dua ungkapan yang diajarkan dalam berbagai keadaan:
- Ketika mendapatkan nikmat atau kebaikan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah segala kebaikan.”
- Ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
Artinya: “Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”
Keduanya mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya senantiasa memuji Allah, baik ketika mendapatkan apa yang diinginkan maupun ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa kepada Mu’adz bin Jabal:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Riwayat Abu Dawud, no. 1522, dan An-Nasa’i, no. 1303.
Doa ini mengingatkan bahwa kemampuan untuk berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik merupakan pertolongan dari Allah yang harus terus dimohonkan.
Penutup Sesi Tanya Jawab
Demikian pembahasan dan jawaban atas berbagai pertanyaan mengenai akhir kehidupan, taubat, takdir, bakti kepada orang tua, serta pentingnya menjaga keimanan hingga ajal menjemput.
Semoga Allah mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, memberikan kemampuan untuk mengamalkan ilmu tersebut, menambah ilmu yang bermanfaat, dan menganugerahkan keteguhan di atas agama-Nya.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا
Artinya: “Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat.”
Semoga Allah mengampuni dosa kita, dosa kedua orang tua kita, serta dosa seluruh kaum muslimin; memudahkan urusan kita; dan memasukkan kita ke dalam surga dengan rahmat-Nya.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Poster Ringkasan
Artikel PDF: Tergelincir di Usia Senja – Ustadz Mizan Qudsiah
*****







