Bismillah

  • Daurah Qatar Ke-29
  • Pemateri: Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc., M.A. Hafizhahullah
    [Mudir Pondok Pesantren As-Sunnah Bagik Nyaka, Lombok Timur]
  • Tanggal: 2 Jumadil Awal 1447 H / 13 Oktober 2026 M
  • Tempat: Masjid Amir bin Jundub No. 753, Doha, Qatar


Table of Contents

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan amal kita. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.

Ma‘āsyiral-hadirin rahimakumullāh, kesempatan malam yang berbahagia ini, dan malam yang mulia ini kembali kita diberikan taufik oleh Allah ‘azza wajalla, bisa duduk kembali di majelis ilmu, taman dari taman surganya Allah ‘azza wajalla. Mudah-mudahan Allah ‘azza wajalla senantiasa memberikan kita al-‘ilman nāfi‘a, wal-amalas-sālih.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا تَنْفَعُنَا بِهِ

Allāhumma ‘allimnā mā yanfa‘unā, wanfa‘nā bimā ‘allamtana, wa zidnā ‘ilman tanfa‘unā bihī.

“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, berilah kami manfaat dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami yang dengannya Engkau memberi manfaat kepada kami.”

Definisi dan Hakikat Fitnah

Fitnah merupakan salah satu ujian besar dalam kehidupan manusia, baik yang berkaitan dengan agama maupun urusan dunia. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya agar senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah, sebagaimana doa yang dibaca pada akhir shalat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588a)

Do’a ini menunjukkan betapa berbahayanya fitnah sehingga seorang muslim diperintahkan untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah.

1. Fitnah Berawal dari Perkara Kecil

Dalam kitab Mufīdul-‘Ulūm wa Mubīdul-Humūm (hlm. 454), disebutkan perkataan Al-Bahlul kepada Harun Ar-Rasyid tentang tahapan munculnya fitnah:

النَّجْوَى، ثُمَّ الشَّكْوَى، ثُمَّ الْبَلْوَى

“Berawal dari bisik-bisik, kemudian menjadi keluhan, lalu berubah menjadi bencana.”

Fitnah sering kali bermula dari pembicaraan tersembunyi, berkembang menjadi keresahan dan keluhan, kemudian meluas menjadi musibah yang menimpa banyak orang.

Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian secara khusus. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfāl [8]: 25)

Ayat ini mengingatkan bahwa dampak fitnah dapat meluas, tidak hanya menimpa orang yang melakukan kezaliman, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.

2. Fitnah Dikenali Orang Berilmu Sejak Awal

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

إِنَّ الْفِتْنَةَ إِذَا أَقْبَلَتْ عَرَفَهَا الْعَالِمُ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ عَرَفَهَا كُلُّ جَاهِلٍ

“Sesungguhnya fitnah ketika datang akan dikenali oleh orang berilmu. Namun, ketika telah berlalu, setiap orang jahil pun mengetahuinya.” (Diriwayatkan Abu Nu‘aim dalam Hilyatul-Auliyā’, jilid 9, hlm. 24)

Orang berilmu mampu mengenali tanda-tanda keburukan sejak awal karena memiliki pemahaman yang benar terhadap agama. Adapun orang yang tidak berilmu sering kali baru menyadari bahaya fitnah setelah dampak buruknya terjadi.

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

الفتنةُ إنّما يُعرفُ ما فيها مِن الشّرِّ إذا أدبرتْ، فأما إذا أقبلتْ فإنّها تُزَيّنُ، ويُظنُّ أنّ فيها خيراً، فإذا ذاقَ النّاسُ ما فيها مِن الشّرِّ والمرارةِ والبَلاءِ؛ صارَ ذلك مُبيِّناً لهم مضرّتَها، وواعِظاً لهم أنْ يعُودوا في مثلِها

“Fitnah, keburukan di dalamnya bisa diketahui ketika ia telah berlalu. Namun ketika fitnah datang, ia akan dihiasi dan dianggap memiliki kebaikan. Ketika manusia merasakan keburukan, kegetiran, dan petaka pada fitnah itu, jadilah hal-hal tersebut sebagai penjelas kemudharatannya dan sebagai penasihat bagi mereka agar mereka tidak kembali melakukan hal serupa. (Manhajus Sunnah (4/409)).

Inilah bahaya fitnah: keburukan dapat tampil dalam bentuk yang indah sehingga manusia menyangkanya sebagai kebaikan.

Oleh karena itu, mempelajari fiqhul-fitan (pemahaman tentang fitnah) sangat penting. Imam Al-Bukhari bahkan menyediakan pembahasan khusus tentang fitnah dalam Shahih-nya, yaitu Kitābul-Fitan.

3. Definisi Fitnah Menurut Bahasa dan Istilah

Secara bahasa, al-fitnah berasal dari makna:

  • Al-Ibtilā’ (الابتلاء): ujian.
  • Al-Ikhtibār (الاختبار): cobaan atau pengujian.

Asal penggunaannya diibaratkan dengan emas yang dimasukkan ke dalam api untuk memisahkan kotoran sehingga terlihat kemurniannya.

Adapun secara istilah, fitnah adalah:

مَا يَعْرِضُ لِلْعِبَادِ مِنْ بَلَايَا فِي دِينِهِمْ أَوْ دُنْيَاهُمْ، فَتُظْهِرُ سَرَائِرَهُمْ وَتَكْشِفُ حَقَائِقَهُمْ

“Segala ujian dan cobaan yang menimpa manusia, baik dalam urusan agama maupun dunia, yang menampakkan apa yang tersembunyi dalam diri mereka dan mengungkap hakikat keadaan mereka.”

Dengan demikian, hakikat fitnah adalah ujian yang menyingkap kualitas iman, kejujuran, kesabaran, dan keadaan seseorang yang sebenarnya.

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amal saleh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari beriman, lalu sore hari menjadi kafir, atau sore hari beriman lalu pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)

Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah dapat mengguncang keimanan seseorang, bahkan menyebabkan seseorang mengorbankan agamanya demi kepentingan dunia.

4. Ujian Menampakkan Hakikat Keimanan

Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah pernah ditanya:

أَيُبْتَلَى الرَّجُلُ أَفْضَلُ أَمْ يُمَكَّنُ؟

“Manakah yang lebih utama, seseorang diuji terlebih dahulu atau diberikan kedudukan?”

Beliau menjawab:

لَا يُمَكَّنُ حَتَّى يُبْتَلَى

“Seseorang tidak akan diberikan kedudukan yang kokoh hingga ia diuji terlebih dahulu.”

Perkataan ini menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian dari proses pematangan dan pembuktian kualitas seseorang.

Allah ﷻ berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 2–3)

Ayat ini menegaskan bahwa pengakuan iman tidak terlepas dari ujian. Melalui ujian, Allah menampakkan siapa yang benar-benar jujur dalam keimanannya dan siapa yang hanya mengaku beriman. Hal ini bukan berarti Allah baru mengetahui keadaan hamba setelah mengujinya, karena ilmu Allah telah meliputi segala sesuatu.

Sebagaimana ungkapan Arab:

بِالِامْتِحَانِ يُكْرَمُ الْمَرْءُ أَوْ يُهَانُ

“Dengan ujian, seseorang akan dimuliakan atau dihinakan.”

Maka:

  • Fitnah bukan sekadar tuduhan atau berita dusta sebagaimana sering dipahami dalam bahasa sehari-hari, melainkan mencakup berbagai ujian dan cobaan dalam agama maupun kehidupan dunia.
  • Fitnah dapat bermula dari perkara kecil, berkembang menjadi bencana yang luas, dan sering kali datang dengan penampilan yang seolah-olah baik. Karena itu, ilmu agama sangat diperlukan agar seseorang mampu mengenalinya sebelum terjerumus ke dalamnya.
  • Di sisi lain, ujian merupakan sarana untuk menampakkan hakikat keimanan, kejujuran, dan kesabaran seorang hamba. Sebagaimana emas dimurnikan melalui api, demikian pula kualitas seorang mukmin tampak ketika menghadapi ujian.
  • Pelajaran terpentingnya adalah membekali diri dengan ilmu, memperbanyak amal saleh, menjaga keimanan, dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Sifat dan Karakteristik Fitnah

Fitnah memiliki karakter yang perlu dikenali agar seorang muslim dapat bersikap dengan tepat. Syaikhul Islam dinukil berkata:

الفِتَنُ إِذَا وَقَعَتْ عَجِزَ الْعُقَلَاءُ عَنْ دَفْعِ السُّفَهَاءِ

Fitnah (kekacauan/ujian) apabila telah terjadi, maka orang-orang yang berakal akan lumpuh (tidak mampu) untuk membendung tindakan orang-orang bodoh.

Artinya, ketika fitnah telah terjadi dan menyebar, orang-orang berakal pun kesulitan mencegah orang-orang yang tidak bijak agar tidak terjerumus ke dalamnya. Dalam sejarah, sebagaimana disampaikan dalam kajian, menunjukkan bahwa fitnah yang meluas sulit dikendalikan.

Lima Karakteristik fitnah

1. Datang seperti malam yang gelap

Fitnah datang bagaikan potongan malam yang gelap gulita. Keadaan dapat menjadi semakin sulit dan samar, sehingga manusia sukar membedakan jalan yang benar. Kajian mengaitkan karakter ini dengan keadaan akhir zaman: fitnah semakin berat dan datang silih berganti. Dunia adalah negeri ujian. Sebuah perkataan salaf yang dikutip dalam kajian berbunyi, “Dunia ini negeri ujian dan cobaan, falyuwat-tin nafsah”—maka hendaklah seseorang mempersiapkan dirinya.

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu dinukil berkata, sebagaimana dibawakan oleh Imam Waki‘ dalam Kitāb az-Zuhd:

لَا رَاحَةَ لِلْمُؤْمِنِ دُونَ لِقَاءِ اللهِ

“Tidak ada ketenangan (istirahat) yang sejati bagi seorang mukmin sebelum ia bertemu dengan Allah.”

Nabi ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

“Bersegeralah melakukan amal saleh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Dalam Hadits yang sama, fitnah digambarkan dapat membuat seseorang beriman pada pagi hari lalu menjadi kafir pada sore hari, atau sebaliknya, karena menjual agamanya demi keuntungan dunia.

Kajian juga mengutip sabda Nabi ﷺ tentang umat ini:

إِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ جُعِلَتْ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلاَءٌ

“Sesungguhnya umat ini dijadikan keselamatan/keafiatannya di awalnya, dan umat generasi akhirnya akan ditimpa bencana/ujian.”

Umat ini, menurut penjelasan dalam kajian, mendapatkan keselamatan pada masa awalnya, sedangkan generasi akhirnya akan ditimpa ujian. Fitnah besar mulai tampak setelah terbunuhnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, lalu berlanjut dengan terbunuhnya Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Pintu fitnah yang telah terbuka itu terus berlanjut.

2. Datang cepat dan bertubi-tubi

Fitnah juga diibaratkan seperti angin musim panas: datang dengan cepat dan beruntun. Dalam kajian disebutkan Hadits riwayat Muslim yang menggambarkan fitnah sebagai sesuatu yang datang seperti angin dan tidak menyisakan apa pun. Fitnah ada yang kecil dan ada yang besar, tetapi kemunculannya dapat berturut-turut.

Potongan riwayat dari Shahih Muslim (Nomor 5147) menyebutkan bahwa Hudzaifah berkata:

“…Rasulullah ﷺ bercerita tentang fitnah kepada majelis di mana aku berada di sana. Rasulullah ﷺ bersabda seraya menghitung fitnah-fitnah tersebut: ‘Di antaranya ada tiga fitnah yang hampir tidak meninggalkan (menyisakan) apa pun, dan di antaranya ada fitnah-fitnah yang datang seperti angin musim panas, ada yang kecil dan ada yang besar.’ Hudzaifah berkata: ‘Lalu mereka pergi semua kecuali aku.'” (HR. Muslim)

3. Fitnah yang baru membuat fitnah sebelumnya terasa ringan

Fitnah yang datang kemudian dapat membuat fitnah sebelumnya terasa kecil dan ringan. Nabi ﷺ bersabda:

وَتَجِيءُ فِتَنٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا

“Akan datang fitnah-fitnah; sebagian darinya menjadikan sebagian yang lain terasa ringan.” (Riwayat Muslim, sebagaimana disebutkan dalam kajian).

Gelombang ujian itu terus membesar hingga datang fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Nabi ﷺ menyebut fitnah Dajjal sebagai fitnah terbesar yang dihadapi manusia. Kajian juga mengingatkan bahaya syirik tersembunyi (asy-syirkul-khafiyy).

Dalam penjelasan tentang peristiwa akhir zaman, pemateri menyebut bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam akan turun di menara putih di sebelah timur Damaskus, kemudian membunuh Dajjal di pintu Ludd. Dajjal akan meleleh seperti garam yang larut dalam air. Setelah itu muncul Ya’juj dan Ma’juj. Nabi Isa diperintahkan membawa kaum beriman ke Bukit Tursina karena mereka tidak mampu menghadapi Ya’juj dan Ma’juj. Nabi Isa berdoa, lalu Allah membinasakan Ya’juj dan Ma’juj dengan ulat yang menyerang leher mereka. Setelah itu Allah menurunkan hujan untuk membersihkan bumi, dan bumi kembali subur.

Pelajaran yang ditekankan dalam kajian ialah bahwa ketika kaum muslimin tidak mampu menghadapi suatu kekuatan, mereka tidak diperintahkan untuk mengambil langkah yang berujung pada kebinasaan. Dalam keadaan tersebut, Nabi Isa dan kaum beriman berlindung kepada Allah.

4. Bergelombang seperti lautan

Fitnah datang seperti gelombang laut yang terus bergulung. Nabi ﷺ bersabda:

وَلَٰكِنْ تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ

“Akan tetapi, fitnah itu bergelombang seperti gelombang lautan.” (Muttafaq ‘alaih).

Gelombang menggambarkan guncangan yang dahsyat dan keadaan manusia yang menjadi kacau. Berbeda dengan air kolam yang tenang, laut memiliki gelombang yang terus bergerak. Demikian pula fitnah dapat mengguncang kehidupan masyarakat dan datang silih berganti.

5. Meresap ke dalam hati secara bertahap

Fitnah tidak selalu datang sekaligus. Ia dapat masuk ke dalam jiwa sedikit demi sedikit, bermula dari bisik-bisik, kemudian keluhan, lalu menyebar luas. Manusia yang menerimanya terancam celaka, sedangkan orang yang menolaknya berada dalam keselamatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ

”Fitnah-fitnah dihadapkan kepada hati seperti anyaman tikar, sehelai demi sehelai. Hati yang menerimanya akan diberi titik hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya akan diberi titik putih.” (Ṣaḥīḥ Muslim, no. 144a).

Dalam penjelasan kajian, dosa yang dilakukan berulang kali juga meninggalkan titik hitam pada hati. Fitnah yang meresap sedikit demi sedikit dapat memengaruhi hati, sehingga seorang muslim perlu memohon keselamatan dan keteguhan kepada Allah.

Maka:

Fitnah dapat hadir dalam keadaan yang gelap dan membingungkan, datang cepat serta bertubi-tubi, semakin membesar, mengguncang seperti gelombang laut, dan meresap ke dalam hati secara perlahan. Ketika telah meluas, fitnah sulit dikendalikan. Karena itu, seorang muslim perlu mempersiapkan diri dengan amal saleh, menjaga hati, dan memohon kepada Allah keselamatan serta perlindungan dari fitnah.

Macam-Macam Fitnah dan Cara Menghadapinya

Fitnah dapat menguji seseorang melalui kerancuan dalam memahami agama maupun melalui dorongan hawa nafsu. Dalam kajian ini, fitnah dibagi menjadi dua: fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Memahami perbedaan keduanya membantu seorang muslim mengenali bahaya serta mencari langkah penanganan yang sesuai.

1. Fitnah syubhat

Fitnah syubhat adalah perkara yang menimbulkan keraguan terhadap agama, tauhid, dan sunnah Nabi ﷺ. Termasuk di dalamnya terjatuh ke dalam kesyirikan dan bid‘ah, serta keadaan ketika urusan menjadi rancu sehingga kebenaran sulit dibedakan dari kebatilan.

Menuntut ilmu sebagai perlindungan

Obat utama fitnah syubhat adalah menuntut ilmu. Ilmu yang dipelajari hendaknya bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ dengan pemahaman generasi salaf (kitābullāh was-sunnah ‘alā fahmi salafil-ummah). Dengan dasar tersebut, seorang muslim dapat mengenali kebenaran dan menjaga diri dari kerancuan.

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah dicarinya ilmu dari orang-orang yang kecil (muda/ahli bid’ah).” (HR. Thabrani)

Abdullah bin al-Mubarak menjelaskan aṣāghir dalam konteks ini sebagai ahli bid‘ah. Karena itu, sumber ilmu perlu dipilih dengan cermat. Kajian menekankan pentingnya mengambil ilmu dari ulama yang berpegang kepada ajaran Nabi ﷺ dan para sahabat, terutama ulama besar yang matang ilmu dan pengalamannya.

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari para ulama senior mereka.”

Para sahabat merupakan generasi paling utama setelah Rasulullah ﷺ. Karena itu, ilmu yang mereka bawa dan pemahaman mereka menjadi rujukan penting. Sebuah atsar (perkataan sahabat Nabi) yang terkenal juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

فَإِذَا أَخَذُوا عَنْ أَصَاغِرِهِمْ هَلَكُوا

“Maka apabila mereka mengambil (ilmu/urusan) dari orang-orang kecil (muda/ahli bid’ah) di antara mereka, niscaya binasalah mereka.”

 

Ungkapan ini dijelaskan sebagai peringatan agar umat tidak mengambil agama dari ahli bid‘ah.

Teladan dalam menghadapi keraguan agama

Kajian menyebut kisah Ṣabiġ bin ‘Asal al-Tamimi pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ṣabiġ memiliki sejumlah pertanyaan yang dinilai mengandung syubhat tentang ayat-ayat Allah, termasuk mengenai an-nāzi‘āt. Ketika perkara itu sampai kepada Umar, ia memanggil Ṣabiġ dan menasihatinya dengan keras. Dalam kisah yang disampaikan, Ṣabiġ kemudian mengakui, “Cukup, Amirul Mukminin, sudah hilang syubhat di otakku.”

Pada masa fitnah Khawarij di Nahrawan, Ṣabiġ disebut mengatakan,

لَقَدْ نَفَعَتْنِيْ نَصِيْحَةُ رَجُلٍ صَالِحٍ

 “Sungguh, aku telah mengambil manfaat dari nasihat seorang laki-laki saleh,” yang dimaksud ialah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Kisah ini menegaskan pentingnya merujuk kepada ulama dan pemimpin ilmu yang berpegang teguh pada kebenaran ketika menghadapi syubhat.

Selain belajar, seorang muslim hendaknya bertanya kepada ahli ilmu, khususnya ulama besar (su’ālu ahlil-‘ilm, khuṣūṣanil-kibār). Menuntut ilmu dan bertanya kepada ahlinya merupakan jalan untuk menjaga diri dari keraguan serta kekeliruan dalam agama.

2. Fitnah syahwat

Fitnah syahwat berkaitan dengan dorongan hawa nafsu yang dapat membawa seseorang kepada kemaksiatan dan kezaliman. Dalam kajian disebutkan beberapa bentuknya, antara lain ketertarikan kepada perempuan yang tidak halal, harta haram, kecintaan terhadap kedudukan dan kehormatan, serta sikap zalim atau melampaui batas.

Obat fitnah syahwat adalah keyakinan yang kuat terhadap janji pahala dan ancaman Allah (al-yaqīnu bi-wa‘dillāhi wa wa‘īdih). Untuk menguatkan keyakinan tersebut, seorang muslim perlu mempelajari dalil-dalil tentang anjuran dan keutamaan kebaikan (targhīb), serta dalil-dalil peringatan dan ancaman (tarhīb). Pengetahuan tentang balasan dan akibat perbuatan membantu seseorang menahan diri dari dorongan yang menyesatkan.

Maka:

  • Fitnah syubhat merusak kejernihan pemahaman agama.
  • Fitnah syahwat menggoda seseorang melalui dorongan hawa nafsu.
  • Fitnah syubhat dihadapi dengan menuntut ilmu dari sumber yang benar dan bertanya kepada ulama.
  • Fitnah syahwat dihadapi dengan menguatkan iman terhadap janji serta ancaman Allah, disertai mempelajari dalil-dalil targhīb dan tarhīb.

Sebab-Sebab Keselamatan dari Fitnah

Fitnah dapat mengancam agama dan kehidupan seorang muslim. Menjaga diri dan keluarga darinya memerlukan sikap yang berlandaskan ilmu, doa, dan ibadah. Materi kajian ini merangkum tiga sebab utama keselamatan: menjauhi fitnah, memohon perlindungan kepada Allah, dan memperbanyak ibadah serta menuntut ilmu.

1. Menjauhi fitnah ketika dikhawatirkan membahayakan agama

Salah satu jalan keselamatan ialah menjauh dari fitnah yang telah diketahui bahayanya. Seorang muslim tidak perlu sengaja mendatangi atau melihatnya. Dalam hadis yang dibawakan Imam al-Bukhari, Nabi ﷺ bersabda,

يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ

“Hampir saja harta muslim yang paling baik adalah kambing yang ia giring ke puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan, ia lari membawa agamanya demi menghindari fitnah (kekacauan/ujian iman).”

  • Sumber: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Akan tiba masa ketika harta terbaik seorang muslim ialah kambing yang ia bawa ke puncak-puncak gunung dan tempat-tempat turunnya hujan untuk menyelamatkan agamanya dari fitnah. Sikap mengasingkan diri dalam keadaan seperti itu disebut ‘uzlah.

Namun, menjauh ke tempat terpencil bukanlah pilihan yang tepat untuk setiap keadaan. Sebelum fitnah meluas, kehidupan di kota dapat memberi kemudahan untuk memperoleh ilmu dan bimbingan ulama. Kajian mengutip ungkapan,

سَاكِنُ الْكَافُورِ كَسَاكِنِ الْقُبُورِ

“Sākinul-kafūr ka-sākinil-qubūr”—orang yang tinggal di tempat yang sangat jauh dan sepi seperti penghuni kubur—karena ia jauh dari informasi dan majelis ilmu. Adapun ketika fitnah telah merajalela, menjauh ke gunung dapat menjadi jalan keselamatan.

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan tingkatan sikap ketika fitnah datang, sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

ستكون فتن القاعد فيها خير من الماشي، والماشي خير من الساعي

“Akan datang beberapa fitnah, (dalam masalah itu) orang yang duduk  lebih baik daripada orang yang berjalan, sedangkan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berjalan cepat” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pesan pokoknya ialah menghindari keterlibatan yang tidak perlu ketika fitnah berpotensi merusak agama. Bentuk menjauh dapat berbeda sesuai keadaan dan tingkat bahayanya.

2. Berdoa dan memurnikan ketergantungan kepada Allah

Doa menampakkan tauhid dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah. Ketika menghadapi fitnah, seorang muslim kembali kepada Allah karena tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri selain kepada-Nya. Dalam kajian disebutkan potongan do’a:

لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ

“Lā malja’a wa lā manjā minka illā ilaika.”

Tidak ada tempat perlindungan dan tidak ada pula tempat penyelamatan dari (ancaman)-Mu, kecuali kepada-Mu.

Kita lihat peristiwa ketika bangsa Tatar memasuki Syam pada masa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sebagian orang berlindung kepada kuburan dan melantunkan syair:

يَا خَائِفِينَ مِنَ التَّتَارِ * لُوذُوا بِقَبْرِ أَبِي عُمَرَ * تُنْجِيكُمْ مِنَ الضَّرَرِ

(Wahai orang-orang yang takut kepada bangsa Tatar, berlindunglah ke kubur Abu Umar, niscaya ia akan menyelamatkan kalian dari bahaya).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, meminta dukungan penguasa Mesir dan mengingatkan agar bertauhid sebelum menghadapi Tatar. Kaum muslimin kemudian berperang dan Tatar mengalami kekalahan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa perlindungan hakiki dimohonkan kepada Allah, bukan kepada penghuni kubur.

Di antara doa perlindungan yang diajarkan Nabi ﷺ pada penghujung shalat ialah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘ażābi jahannam, wa min ‘ażābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min syarri fitnatil-masīḥid-dajjāl.”

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”

Kajian menyebutkan bahwa dalam kitab Ṣifatu Ṣalāti an-Nabī karya Syaikh Al-Albani terdapat keterangan tentang perhatian seorang sahabat terhadap doa perlindungan ini. Doa tersebut memperbarui pengakuan iman dan permohonan perlindungan seorang hamba kepada Rabb semesta alam.

3. Memperbanyak ibadah dan menuntut ilmu

Sebab keselamatan berikutnya ialah memusatkan diri pada ibadah. Seorang muslim hendaknya tidak larut dalam gosip, berita yang tidak jelas, dan perkara yang tidak bermanfaat. Nabi ﷺ menganjurkan agar bersegera melakukan amal saleh sebelum datangnya fitnah.

Beliau ﷺ bersabda:

 الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Beribadah pada masa kekacauan seperti berhijrah kepadaku.” (Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Fitan wa Asyrāṭ as-Sā‘ah, no. 2948).

Di antara ibadah yang agung adalah menuntut ilmu. Seorang muslim mempelajari Kitabullah dengan membacanya, memahami maknanya, mentadaburinya, dan mengamalkannya. Ia juga mempelajari hadis serta sunnah Nabi ﷺ.

Firman-Nya Surah dalam At-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama…”

Para ulama salaf, menafsirkan bahwa Allah mengangkat bencana dari umat ini melalui perjalanan para ahli hadis untuk mempelajari hadis-hadis dan sunnah Nabi ﷺ. Sebuah perkataan ulama (atsar) yang sangat masyhur dari seorang ulama tabiat besar dan ahli zuhud, Ibrahim bin Adham Rahimahullah:

إِنَّ اللهَ يَدْفَعُ البَلَاءَ عَنْ هَذِهِ الأُمَّةِ بِرِحْلَةِ أَصْحَابِ الحَدِيثِ

“Sesungguhnya Allah mencegah/mengangkat marabahaya (bala) dari umat ini dengan sebab rihlah (perjalanan jauh) yang dilakukan oleh para penuntut ilmu hadis.”

  • Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Sharaf Ashabil Hadith.
  • Ibnu Shalah dalam kitab Muqaddimah Ibnu Shalah.
  • Abu Tahir al-Silafi dalam Al-Masyikhatul Baghdadiyyah.

Maka:

Keselamatan dari fitnah ditempuh dengan menjauhi fitnah ketika dikhawatirkan membahayakan agama, memohon perlindungan kepada Allah, dan menyibukkan diri dengan ibadah serta ilmu. Penerapan setiap langkah bergantung pada keadaan, tetapi sandarannya tetap tauhid, tuntunan Nabi ﷺ, dan bimbingan ilmu.

Fitnah Menyertai Kehidupan Seorang Mukmin

Ujian merupakan bagian dari kehidupan seorang mukmin. Ia dapat datang melalui pasangan, anak, orang tua, tetangga, atasan, bawahan, maupun masyarakat. Dunia memang merupakan tempat ujian, dan pada masa kini berbagai ujian bahkan dapat masuk ke rumah melalui telepon genggam dan internet. Teknologi memudahkan akses kepada banyak hal, termasuk perjudian daring.

1. Ujian sesuai kadar keimanan

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling menyerupai mereka. Diriwayatkan oleh Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Beliau menjawab, ‘Para nabi, kemudian orang-orang yang semisal dengan mereka, kemudian yang semisal dengan mereka. Seseorang diuji berdasarkan kadar agamanya. Jika agamanya kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Dan jika agamanya lemah, ia akan diuji menurut kadar agamanya. Ujian tersebut tidak akan pernah berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.'” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad; dinilai hasan shahih oleh Imam Tirmidzi)

Dengan demikian, ujian dapat menjadi sebab naiknya derajat dan terhapusnya dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian kesalahannya karenanya.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 5641–5642; Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2573).

Karena itu, seorang mukmin tidak semestinya hanya melihat kesulitan sebagai gangguan. Bahkan rasa sakit akibat duri pun dapat menjadi penghapus dosa. Ujian bukan diberikan untuk membinasakan orang beriman, melainkan dapat meningkatkan kualitasnya dan menampakkan keteguhan batinnya, sebagaimana proses pemurnian yang membedakan emas dari campurannya.

2. Keteguhan di atas ilmu dan iman

Dalam menghadapi fitnah, seorang mukmin perlu memiliki aṣ-ṣabāt—keteguhan dan kekokohan. Syaikhul Islam dinukil berkata:

الثَّبَاتُ عَلَى الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ عِنْدَ وُقُوعِ الْفِتَنِ وَالشُّبُهَاتِ، هُوَ أَعْظَمُ النِّعَمِ

“Keteguhan di atas ilmu dan iman saat terjadinya fitnah (ujian/cobaan) dan syubhat (kesamaran), adalah nikmat yang paling agung.”

Berada di lingkungan yang menyediakan pengajaran akidah yang benar, tauhid, dan sunnah merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Ilmu dan iman menjadi bekal agar seseorang tidak tergelincir ketika fitnah datang.

3. Tiga sumber fitnah yang perlu diwaspadai

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dinukil menyebut tiga sisi utama fitnah:

  1. Hubbun-nisā’ — kecintaan kepada perempuan yang dapat menjadi pintu syahwat.
  2. Hubb al-asyribah — kecintaan kepada minuman yang haram.
  3. Hubbud-dunyā wad-dirham — kecintaan kepada dunia dan harta.

Dalam ungkapan yang dinukil, kecintaan kepada dunia dan dirham merupakan sahmu Iblīs al-masmūm, “anak panah Iblis yang beracun.” Peringatan ini mengajak seorang muslim untuk mengendalikan syahwat dan tidak membiarkan kecintaan kepada harta serta dunia menguasai dirinya.

Maka:

Fitnah akan menyertai kehidupan seorang mukmin dalam berbagai bentuk. Ujian dapat datang melalui orang-orang terdekat, lingkungan sosial, maupun teknologi. Seorang mukmin menyikapinya dengan memahami bahwa ujian dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat, lalu menjaga keteguhan di atas ilmu, iman, dan tauhid. Ia juga memohon kepada Allah keselamatan dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.

******

Poster Ringkasan

Download versi PDF: Selamatkan Diri dari Fitnah – Ustadz Mizan Qudsiah

Pelajaran Menghadapi Fitnah: Jawaban atas Sejumlah Persoalan

Fitnah dapat hadir dalam urusan agama, keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial. Sesi tanya jawab ini menguraikan sejumlah prinsip untuk menghadapinya: berhati-hati terhadap perkara yang telah diketahui berbahaya, menjaga tauhid, merujuk kepada ilmu, bersabar, dan menunaikan hak keluarga.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Pertanyaan: Apa yang sebaiknya dilakukan setelah mengetahui bahwa suatu perkara merupakan fitnah?

Jawaban:

Seseorang mungkin belum menyadari bahwa suatu perkara merupakan fitnah. Namun, setelah mendapat penjelasan dari orang berilmu dan mengetahui bahayanya, ia tidak sepatutnya sengaja mendekat hanya untuk melihat atau menguji dirinya. Nabi ﷺ bersabda:

السَّعِيدُ لِمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ

Orang yang beruntung ialah orang yang dijauhkan dari fitnah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari sahabat Al-Miqdad bin Al-Aswad RA. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu dia bersabar, maka alangkah indahnya.” (HR. Abu Dawud)

Dalam hal fitnah Dajjal, Nabi ﷺ juga mengingatkan agar orang yang mendengar kemunculannya untuk menjauh:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ

“Barangsiapa yang mendengar tentang (kedatangan) Dajjal, maka hendaklah ia menjauh darinya.”

Potongan ini merupakan bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (No. 4319) dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Seseorang dapat mengira dirinya beriman, tetapi kemudian mengikuti Dajjal karena syubhat yang dibawanya. Karena itu, tidak selayaknya seseorang terlalu percaya diri saat berhadapan dengan fitnah. Nabi ﷺ bersabda:

Janganlah kamu berharap untuk bertemu dengan musuh, tetapi jika kamu bertemu dengan mereka, maka bersabarlah (teguhlah dalam menghadapi mereka).

Kalimat ini bersumber dari hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang disampaikan oleh sahabat Nabi, Abdullah bin Abi Aufa. Rasulullah ﷺ bersabda demikian dalam salah satu pertempuran beliau.

Dalam menghadapi keadaan sulit, seorang muslim diperintahkan untuk teguh, bersabar, dan mengingat Allah.

2. Pertanyaan: Bagaimana sikap ketika ibu yang tinggal jauh meminta anaknya pulang?

Jawaban:

Jika seorang ibu meminta anaknya pulang dan terdapat maslahat, nasihat dalam kajian ialah agar anak memenuhi permintaan tersebut. Berbakti kepada ibu merupakan pintu kebaikan yang besar. Kajian menceritakan seorang salaf yang menghentikan pengajaran ketika dipanggil ibunya, serta kisah Uwais al-Qarni yang memilih pulang untuk merawat ibunya sehingga tidak sempat menyertai Nabi ﷺ.

Tanggung jawab berbakti tidak gugur hanya karena ada saudara lain yang tinggal lebih dekat. Namun, pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan. Dalam ungkapan yang dikutip:

ما لا يُدْرَكُ كُلُّهُ لا يُتْرَكُ كُلُّهُ

“Sesuatu yang tidak dapat dicapai semuanya, janganlah ditinggalkan semuanya.”

Jika belum dapat mendampingi orang tua sepenuhnya, anak dapat mengundang mereka untuk berkunjung dan pulang menjenguk ketika ada kesempatan.

3. Pertanyaan: Apakah keinginan untuk menikah lagi termasuk fitnah?

Jawaban:

Keinginan menikah lagi disebut sebagai ujian bagi laki-laki, meskipun tidak otomatis merupakan fitnah yang membahayakan. Orang yang mempertimbangkannya hendaknya bertakwa kepada Allah dan menilai kesiapan dirinya, terutama kemampuan berlaku adil. Kajian mengingatkan ancaman bagi suami yang tidak adil terhadap istri-istrinya, yang kelak dibangkitkan dalam keadaan tubuhnya tidak seimbang.

4. Pertanyaan: Apa makna ungkapan “fitnah lebih dahsyat daripada pembunuhan” dalam bahasan ini?

 

Jawaban:

Potongan ayat “al-fitnatu asyaddu minal-qatl” dikaitkan dalam kajian dengan makna syirik. Syirik merupakan dosa yang sangat besar, bahkan lebih dahsyat daripada pembunuhan. Dengan demikian, fitnah dalam ayat tersebut tidak terbatas pada tuduhan atau kabar dusta, tetapi mencakup ujian agama yang dapat menjerumuskan kepada kesyirikan.

5. Pertanyaan: Bagaimana memilih guru dan sumber ilmu, khususnya di media sosial?

Jawaban:

Dalam memilih guru, termasuk di media sosial, ukuran kebenaran bukanlah popularitas seseorang. Dalam kajian dikutip ungkapan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu:

الْحَقُّ لَا يُعْرَفُ بِالرِّجَالِ، وَإِنَّمَا الرِّجَالُ يُعْرَفُونَ بِالْحَقِّ؛ اِعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ

“Kebenaran itu tidak dikenal melalui personal/orang, melainkan oranglah yang dikenal melalui kebenaran. Kenalilah kebenaran, maka kamu akan mengenal siapakah pengikutnya.”

Karena itu, seseorang hendaknya mempelajari akidah yang benar, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para sahabat. Dengan belajar secara sungguh-sungguh, ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan mana ajaran yang benar.

6. Pertanyaan: Apakah teknologi modern dan berbagai nikmat dunia juga termasuk ujian?

Jawaban:

Kemajuan teknologi dan berbagai nikmat dunia juga merupakan ujian. Kebaikan menguji apakah seseorang bersyukur, sementara keburukan menguji apakah ia bersabar. Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dan kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 35).

Kisah Sa‘id bin ‘Amir Radhiyallahu’anhu, gubernur Hims pada masa Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu, menggambarkan sikap hati-hati terhadap harta. Ketika menerima uang dalam jumlah besar, ia mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” Saat istrinya mengira Umar telah wafat, ia menjawab, Asyaddu min żālik”—“Lebih dahsyat daripada itu.” Ia khawatir dunia telah masuk untuk merusak akhiratnya, lalu meminta agar uang itu dibagikan. Kisah ini menunjukkan bahwa harta yang halal sekalipun dapat menjadi ujian.

7. Pertanyaan: Bagaimana asal-usul fitnah keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, dan apa teladan Imam Ahmad dalam menghadapinya?

Jawaban:

Kajian mengangkat keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal dalam menghadapi fitnah keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dalam penuturan pemateri, keyakinan tersebut dikaitkan dengan pemikiran Mu‘tazilah dan masa pemerintahan Al-Ma’mun. Imam Ahmad tetap teguh meski dipenjara, dipukul, dan dihalangi menghadiri salat Jumat. Para ulama yang menolak keyakinan itu juga menghadapi tekanan.

Di tengah ketegangan, Imam Ahmad menolak ajakan untuk melakukan perlawanan dan menyerukan kesabaran:  “Lā, iṣbirū … ḥattā yastariḥa barrun min fājir.” “Jangan; bersabarlah sampai orang baik atau orang jahat beristirahat dari yang lain.”

Dalam kajian juga dikutip ungkapan bahwa Allah memenangkan agama dengan Abu Bakar pada masa kemurtadan dan dengan Ahmad bin Hanbal pada masa fitnah: “Bi-Abī Bakrin ayyāmar-riddah, wa bi-Aḥmad ibn Ḥanbal ayyāmal-fitnah.” Kisah Baqī bin Makhlad yang datang dari Andalusia untuk belajar kepada Imam Ahmad menggambarkan semangat menuntut ilmu. Ketika Imam Ahmad tidak diizinkan mengajar, ia tetap memberinya satu hadis setiap hari dengan cara yang tidak menarik perhatian.

8. Pertanyaan: Bagaimana menyikapi perselisihan para sahabat dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin?

Jawaban:

Dalam menyikapi Perang Jamal dan Perang Shiffin, kajian mengingatkan agar kaum muslimin menjaga lisan dari mencela para sahabat. Al-Hasan al-Bashri dinukil berkata:

هَؤُلَاءِ قَوْمٌ طَهَّرَ اللَّهُ سُيُوفَنَا مِنْ دِمَائِهِمْ، فَلْنُطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنْ أَعْرَاضِهِمْ

“Mereka adalah kaum yang Allah bersihkan pedang-pedang kita dari darah mereka; maka hendaknya kita bersihkan lisan kita dari mencela kehormatan mereka.” Nukilan ini dinisbatkan kepada Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah.

Para sahabat dipandang telah berijtihad: yang benar memperoleh dua pahala, sedangkan yang keliru memperoleh satu pahala. Dalam kajian juga disebutkan nasihat, “Iżā żukiral-qadaru famsikū, wa iżā żukira aṣḥābī famsikū”—ketika takdir dibicarakan, tahanlah lisan; dan ketika para sahabat disebut, tahanlah lisan.

9. Pertanyaan: Bagaimana menghadapi konflik yang terjadi dalam rumah tangga?

Jawaban:

Pernikahan diibaratkan mengarungi lautan: kehidupan rumah tangga mengalami perubahan dan guncangan. Karena itu, suami dan istri memerlukan kesabaran, kerelaan, dan kelapangan hati. Abu Darda’ menasihati istrinya:

إِذَا غَضِبْتُ فَرْضِينِي، وَإِذَا غَضِبْتِ رَضِيتُكِ. إِذَا لَمْ نَكُنْ عَلَى هَذَا، مَا أَسْرَعَ مَا نَفْتَرِقُ! رواه ابنُ حبان في ((روضة العقلاء)) (ص: 72)، وابن عساكر في ((تاريخ دمشق)) (70/151).

Jika aku marah, tenangkanlah aku, dan jika kamu marah, aku akan menenangkanmu. Jika kita tidak seperti ini, betapa cepatnya kita akan berpisah! (Diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam “Rawdat al-Uqala” (hlm. 72), dan Ibn Asakir dalam “Tarikh Dimashq” (70/151)).

Imam Ahmad juga dinukil berkata bahwa selama dua puluh tahun hidup bersama Ummu ‘Abdillah, ia tidak berbeda pendapat dengannya bahkan dalam satu kalimat. Kajian mengangkat prinsip at-taghāful, yakni tidak membesar-besarkan kekurangan dan perselisihan kecil. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha cemburu hingga sebuah mangkuk pecah, Nabi ﷺ menyebut, “Ghārat ummukum”—“Ibu kalian sedang cemburu”—kemudian mengganti mangkuk yang pecah tanpa memperpanjang masalah.

10. Pertanyaan: Apa perbedaan Dajjal besar dengan para pendusta yang disebut dajjal kecil?

Jawaban:

Kajian membedakan Dajjal besar yang menjadi fitnah akhir zaman dari para pendusta yang disebut “dajjal-dajjal kecil”. Ungkapan yang dinukil dari ulama hadis berbunyi, “Dajjālun min ad-dajjālīn”—pendusta-pendusta termasuk bagian dari para dajjal. Mereka disebut demikian karena berdusta dan membuat hadis palsu, bukan karena mereka adalah Dajjal besar.

Dalam penjelasan pemateri, Dajjal besar memiliki ciri-ciri yang disebutkan dalam hadis, tinggal di bumi selama empat puluh hari, dan tidak dapat memasuki Makkah serta Madinah.

11. Pertanyaan: Bagaimana menimbang pendidikan agama anak, lingkungan pergaulan, dan kebersamaan keluarga?

Jawaban:

Dalam memilih pendidikan anak, kajian mendorong orang tua menimbang kebutuhan agama, akidah, lingkungan pergaulan, pendidikan, serta keadaan keluarga. Pemateri mengingatkan tradisi generasi terdahulu yang melakukan perjalanan untuk belajar dan menilai bahwa perpisahan sementara dengan orang tua demi pendidikan agama yang baik dapat menjadi pilihan.

Orang tua yang memilih jalan tersebut perlu menyiapkan mental anak dan dirinya sendiri. Kajian juga menyebut kebiasaan orang Arab dahulu mengirim anak-anak ke lingkungan Badui untuk membentuk fisik, mental, dan kemampuan bahasa. Keputusan pendidikan perlu dilandasi pertimbangan tentang manfaat bagi anak dan kesiapan keluarga.

Penutup

Berbagai persoalan dalam sesi tanya jawab ini bertemu pada satu prinsip: menjaga agama membutuhkan ilmu, keteguhan, kesabaran, doa, dan pelaksanaan hak-hak keluarga. Seorang muslim berusaha mengenali fitnah, menjauhi yang membahayakan, menjaga lisan, serta menerima bahwa nikmat dan kesulitan sama-sama dapat menjadi ujian.

  • ┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم