Assunnah Qatar

Kegiatan Kajian Melayu Assunnah Qatar

H. Musuh Bebuyutan dan Perangkapnya

Musuh yang berat dan berbahaya itu adalah musuh yang tidak kelihatan, yang senantiasa siap memangsa kita dari arah yang tidak kita perkirakan. Ada bekas, tapi tidak terlihat wujudnya, serangannya nyata namun sulit dideteksi arahnya, senjata dan perangkap yang digunakan justru rata disukai manusia. Itulah syaithan musuh manusia yang senantiasa memalingkan manusia dari jalan menuju surga. Allâh ﷻ berfirman:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ

Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir: 6).

اِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Sungguh ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al-A’raf: 27)

۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar”. (QS. An-Nur: 21)

Ada enam tahapan iblis dalam menyesatkan manusia:

▪️ Tahapan Pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, dan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya

▪️ Langkah Kedua: Diajak untuk berbuat bid’ah

▪️Langkah Ketiga: Diajak melakukan dosa-dosa besar (al-Kabair) (Pembagian dosa besar dan kecil terdapat dalam nash Al-Quran dan Hadist. Dosa besar umumnya dosa yang diancam azab dunia dan akhirat, laknat, kemurkaan, seperti riba, zina. Lihat kitab “Al-Kabair” karya Imam Az-Zahabi).

▪️ Langkah Keempat: Diajak melakukan dosa-dosa kecil

▪️ Langkah Kelima: Disibukkan dengan perkara yang mubah (sifatnya dibolehkan)

▪️ Langkah Keenam: Disibukkan dengan amalan yang kurang utama dengan melalaikan yang utama

Syetan akan berusaha menggoda manusia untuk sibuk dengan sesuatu amalan yang kurang penting, sehingga melalaikan yang sangat utama, penting bahkan wajib. Contoh, rajin tahajjud namun luput shalat shubuh. Rajin baca quran, tapi lalai dari belajar kandungan petunjuk al-Quran. Sibuk menata fisik, namun lalai menata iman dan hati. Loyal dan lembut kepada teman, tapi kasar terhadap saudara dan orang tua. Habis umur belajar ilmu dunia, tapi lalai belajar agama. (Lihat Badai’ul Fawaid 2/260-261 (maktabah as-Syamilah) dengan penyesuaian).

Iman yang dimaksud bukan hanya percaya, tetapi adalah membenarkan dengan hati dengan ilmu, mengucapkan dengan lisan dan melakukan dengan amal perbuatan.

Beriman dengan adanya Malaikat adalah salah satu landasan agama Islam dan rukun Iman kedua yang wajib bagi diyakini setiap muslim.

Allâh ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 285:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Pembahasan ini berkaitan dengan haji dan umrah, karena ziarah ke makam Nabi ﷺ biasanya dilakukan setelah melakukan kedua ibadah tersebut.

Dalam bahasa Arab, Umrah bermakna ziarah. Dan ziarah adalah bagian dari ibadah. Seperti hadits syaddur rihal.

Syaddur rihal adalah istilah agama yang memiliki makna “mempersiapkan dengan matang untuk melakukan sebuah safar/perjalanan.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ، مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَمَسْجِدِي

“Tidak boleh melakukan syaddur rihal kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid al-Aqsha, dan masjidku.” (HR. al-Bukhari no. 1132 dari Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu dan Muslim no. 1397 dari Abu Hurairah radhiallahu anhu)

Maka, jika seseorang bermaksud ziarah ke tiga masjid itu, akan dihitung pahala, bahkan sholatnya dihitung 1000 kali untuk masjid Nabawi dibandingkan dengan masjid lainnya.

Ini berbeda dengan niat awalnya adalah ziarah kubur, meskipun ziarah kubur adalah ibadah, tetapi khusus untuk perjalanan jauh hanya untuk ziarah, maka ini sesuatu yang dilarang seperti dhohir hadits di atas.

Maka, ziarah ke masjid bersejarah lainnya, seperti Masjid Qiblatain dengan niat untuk mendapatkan keutamaan tertentu, ini dilarang.

💡 Kesimpulannya: ziarah ke Madinah, bukan bertujuan utama ziarah ke makam Nabi ﷺ akan tetapi niatnya ziarah ke masjid Nabawi, yang otomatis akan ke ziarah kubur Nabi ﷺ.

Maka tujuan ziarah ke Madinah adalah untuk aktivitas di:

Masjid Nabawi
Makam Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar
Maka baqi
Masjid Quba
Makam perang uhud

Inilah ziarah yang disyariatkan dalam rangkaian kunjungan ke Madinah. Adapun kunjungan ke tempat-tempat lain jangan menjadikannya salah dalam niat. Karena amalan-amalan akan dinilai jika dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allâh ﷻ melalui Rasul-Nya.

Pohon Kurma merupakan tumbuhan yang paling banyak disebutkan di dalam al-Qur’an. Allâh ﷻ menyebut Nakhlah (pohon kurma) dalam Al-Qur’an dan dalam Sunnah Rasul-Nya. Yaitu merupakan tanaman pohon di surga bagi yang bertasbih. Maka, sesuatu yang telah disebut Allâh ﷻ dalam kitab Nya dan Rasul-Nya, pasti memiliki keutamaan.

Allâh ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 99:

ٱنظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكُمْ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Pohon kurma memiliki karakteristik jika semakin panas atau humidity tinggi maka buahnya semakin manis.

KITAB SHALAT
Bab Tentang Hukum-hukum Adzan dan Iqamah – Bagian 2

Tidak boleh menambahkan lafadz-Iafadz dzikir lain dalam adzan. Baik sebelum atau sesudahnya, dengan suara keras. Karena itu termasuk bid’ah yang diada-adakan. Setiap lafadz yang dikumandangkan, selain dari lafadz-lafadz adzan yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, termasuk bid’ah yang diharamkan. Seperti tasbih, nasyid, do’a dan shalawat kepada Nabi yang diucapkan secara keras sebelum atau sesudah adzan. Semua itu termasuk bid’ah yang diada-adakan dan haram dilakukan. Siapapun yang melakukannya harus dilarang.

Al-Baihaqi dalam Sunan Alkubro: menambah lafadz selain lafadz adzan (hayya ala khoiril amal) maka tidak ada contohnya dari Rasulullah seperti yang diajarkan kepada bilal.

Demikian juga membaca taawudz dan basmalah sebelum adzan, tidak ada anjuran akan hal ini (Fatwa Lajnah Daaimah)

Iqamah terdiri dari sebelas kalimat, dibaca agak cepat. Disunnahkan yang Iqamah adalah yang adzan. Dan tidak boleh qomat sebelum adanya izin imam dan dilakukan oleh muadzin.

Muazin berhak mengumandangkan azan, karena ia adalah orang yang dibebani menjalani tugas.
Iqamah tidaklah dikumandangkan sampai imam memberi isyarat.

Adzan yang dikumandangkan sebelum waktunya, tidaklah sah. Karena adzan disyari’atkan untuk mengumumkan masuknya waktu shalat. Sehingga bila tidak, tujuan syari’at tersebut tidaklah tercapai. Juga dapat mempedaya orangyang mendengarnya.

Kecuali adzan Shubuh, boleh dilakukan sebelum fajar, agar kaum muslimin bersiap-siap untuk shalat Shubuh. Tapi tetap harus dikumandangkan adzan lain, saat terbitnya fajar. Agar kaum muslimin mengetahui masuknya waktu shalat, dan mulainya waktu berpuasa.

Hadits ke-48: Mencintai Kaum Anshar Sebagian dari Iman

Al-Bara’ Radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda: “Tiada yang mencintai orang-orang Anshar melainkan ia mukmin dan tiada yang membenci mereka melainkan ia munafik. Siapa yang mencintai mereka, Allah cinta kepadanya. Dan siapa yang membenci mereka, Allah benci kepadanya.” (HR. Bukhari, Kitab: “Perangai Orang-Orang Anshar” (63), Bab: Mencintai orang orang Anshar (4)) Ketika Allâh ﷻ telah mencintai sesuatu, maka tentu kita akan mencintainya. Sama halnya ketika Allâh ﷻ mencintai Anshar maka orang-orang mukmin akan mencintai mereka, kecuali orang-orang munafik.

Hadits ke-49: Iman Berkurang dengan Berkurangnya Ketaatan

Dari Abu Sa’īd Al-Khudri -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- keluar waktu iduladha atau idulfitri ke tempat salat lalu beliau melewati para wanita.
Lantas beliau bersabda, “Wahai para wanita, bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka. Mereka bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Kalian banyak mengumpat dan mengingkari suami. Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang menghilangkan akal seorang lelaki cerdas daripada kalian.”

Mereka bertanya, “Apa kekurangan agama dan akal kami, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukankah kesaksian seorang wanita separuh kesaksian seorang lelaki?”

Mereka menjawab, “Ya, betul.” Beliau bersabda, “Itulah kekurangan akalnya. Bukankah apabila seorang wanita haid ia tidak salat dan tidak berpuasa?” Mereka menjawab, “Ya, betul.” Beliau bersabda, “Itulah kekurangan agamanya.”

(HR Bukhari – Kitab Haid Bab Wanita Haid Meninggalkan Puasa).

Pada kisah Nabi Musa dan Khidir ‘alaihimussalam didapatkan faedah-faedah yang banyak, bahkan dikatakan seandainya aku menghitungnya, bisa ada seratus lebih faedahnya dan diantara faedahnya:
1. Bagaimana perjalanan dalam menuntut ilmu.
2. Ilmu didapatkan dengan belajar dan mencari tambahan ilmu adalah tanda-tanda kebaikan.
3. Sabar dalam menuntut ilmu dan tidak malas. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata: “Saudaraku, tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya yaitu kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat (belajar) dengan ustadz (guru), dan membutuhkan waktu yang lama.”
4. Tidak mengaku menguasai sesuatu. Nabi Musa saat ditanya Bani Israil siapa yang paling alim, Musa menjawab saya. Meskipun posisi Musa menjawab adalah benar, karena Nabi Musa tidak mengembalikan ilmunya kepada Allâh ﷻ.
5. Berusaha mencari Syaikh atau guru yang alim yang mengamalkannya. Karena iman adalah ucapan dan amalan.
6. Allâh ﷻ memerintahkan untuk duduk-duduk dengan orang yang berdzikir kepada Allâh ﷻ, bertahlil, memuji-Nya, bertasbih, bertakbir dan mereka meminta kepada Allâh ﷻ siang dan malam, sama saja meskipun mereka orang yang fakir, lemah atau tidak berkedudukan.

Hadits 1:

360. Dari Anas radhiyallahu’anhu, berkata: “Abu Bakar berkata kepada Umar radhiallahu ‘anhuma setelah wafatnya Rasulullah ﷺ : “Marilah berangkat bersama kita ke tempat Ummu Aiman agar kita dapat berziarah padanya, sebagaimana Rasulullah ﷺ juga menziarahinya. Setelah keduanya sampai di tempatnya, Ummu Aiman menangis, lalu keduanya bertanya: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Tidakkah engkau ketahui bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik untuk Rasulullah ﷺ ?” Ummu Aiman lalu menjawab: “Sesungguhnya saya bukannya menangis karena saya tidak mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik untuk Rasulullah ﷺ itu, tetapi saya menangis ini ialah karena sesungguhnya wahyu itu kini telah terputus dari langit.” Jawaban Ummu Aiman menyebabkan tergeraknya hati kedua orang tersebut untuk menangis lalu kedua orang itu pun mulai pula menangis bersama Ummu Aiman.” (Riwayat Muslim no. 2454)

Di antara kelemahan setan adalah mereka tidak bisa menguasai hamba Allah yang sholeh yang bagus iman dan akidahnya.

Dan ingat, tipu daya setan itu lemah,

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah” (QS. An Nisa’: 76).

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga.” (QS. Al Isra’: 65).

Allah mengabarkan bahwa musuh-Nya tidak akan memiliki kekuasaan atas hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan bertawakal kepada-Nya. Allah befirman dalam surat Al-Hijr,

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ قَالَ هٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيْمٌ اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغٰوِيْنَ

“Iblis berkata, Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah befirman, ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Akulah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 39-42).

Tafakur termasuk ibadah yang agung. Allâh ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Adzariyat ayat 21:

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Siapakah kita? Tentu sebagian besar kita akan menjawab Hamba Allah. Dan ini tidak salah…

Perkataan khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah sangatlah relevan dalam hal ini, yaitu:

رَحِمَ اللهُ امرءاً عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ

“Semoga Allah Merahmati seseorang yang mengetahui kapasitas dirinya”

Seseorang yang mengetahui kadar dirinya, tidak akan bersikap sombong, menyayangi orang lain dan menghormati mereka. Dia akan sadar, ada yang lebih besar dan tinggi darinya.

Kalau dia tahu statusnya sebagai hamba, maka ia akan tahu tanggung jawabnya terhadap Tuhanya. Kalau dia sebagai kepala keluarga, dia akan sadar akan tanggung jawab terhadap keluarganya, kalo dia sebagai pekerja, dia akan paham akan tanggung jawabnya, dan seterusnya…

Hadits dhaif dengan makna yang benar:

“Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.”

Rasulullah ﷺ menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala.

F. Peringatan Dan Rayuan

Al-Quran dan Sunnah datang memberi peringatan terbaik untuk jadi pedoman bagi manusia. Bahwa genderang perang sudah ditabuh Iblis untuk benar-benar menyesatkan keturunan Adam p sebagai bentuk kepuasannya dalam melampiaskan dendam lama. Allâh ﷻ berfirman:

وَمَا كَانَ لَهٗ عَلَيْهِمْ مِّنْ سُلْطَانٍ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُّؤْمِنُ بِالْاٰخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِيْ شَكٍّ ۗوَرَبُّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌ ࣖ .

Dan tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya akhirat dan siapa yang masih ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (QS. Saba: 21)

قَالَ فَالْحَقُّۖ وَالْحَقَّ اَقُوْلُۚ لَاَمْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ اَجْمَعِيْنَ

“Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan”. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya”. (QS. Shad: 84-85)

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيْهِمْۗ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطٰنُ اِلَّا غُرُوْرًا وَمَنۡ يَّتَّخِذِ الشَّيۡطٰنَ وَلِيًّا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ فَقَدۡ خَسِرَ خُسۡرَانًا مُّبِيۡنًا

“Siapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka”. (QS. An-Nisa: 119-120)

Allâh ﷻ dengan rahmat dan kasih sayang-Nya mengingatkan keturunan Adam akan permusuhan Iblis yang belum selesai. Peperangan belum usai. Iblis dan pasukannya akan senantiasa terus mencari mangsa manusia-manusia lalai, siang dan malam tanpa lelah, usia yang panjang ia benar-benar manfaatkan untuk menggoda anak Adam, agar dijadikan pengikut yang bernasib sama menghuni negri yang mengerikan.

G. Negri Perantauan

Sejatinya dunia ini merupakan negri perantauan. Semenjak ayah kita Adam alaihissalam menginjakan kaki di muka bumi, maka semenjak itulah sifat ujian berlaku bagi beliau dan anak cucu keturunannya. Setiap orang yang merantau akan selalu ingat dengan kampung halaman, dan berbekal untuk pulang. Dunia bukan negri kekelalan, setiap yang datang sudah membawa catatan nasib dan jatah ajal masing-masing. Ada yang bahagia dan tidak sedikit yang sengsara. Ada yang menyudahi kehidupan dengan kebaikan, juga tidak sedikit yang mati diatas keburukan dan kekafiran. Semuanya berjalan dalam rahasia Allah dan suratan yang sudah tersimpan. Allâh ﷻ berfirman:

وَكُلُّ شَىْءٍ عِندَهُۥ بِمِقْدَارٍ

“Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya”. (QS. Ar-Ra’ad: 8)

Ayat ini merupakan dalil adanya takdir. Hal itu sesuai catatan takdir di lauhul mahfudz.

فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ

“Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia”. (QS. Hud: 105)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak seorang pun diantara kalian kecuali telah dicatat baginya tempat kembalinya disurga atau di neraka”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak bersandar saja kepada Takdir? Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak, tapi beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan untuk beramal sesuai takdirnya diciptakan”. ( HR. Bukhari (no. 4947).