Hadits

459. Dan darinya Abu Sa’id al-Khudri), bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya dunia ini manis lagi mempesona, dan bahwa sesungguhnya Allah yang Mahatinggi telah menjadikan kalian berkuasa di dalamnya, untuk kemudian Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Maka itu waspadalah terhadap dunia, serta waspadalah pula terhadap kaum wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Nabi ﷺ menerangkan bahwa dunia itu rasanya manis dan rupanya hijau, sehingga manusia dapat tertipu dan terlena di dalamnya lalu menjadikannya sebagai tujuan yang paling besar.

Seperti halnya padang yang hijau karena disirami hujan, hingga tumbuh tanaman yang enak dipandang.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya untuk mengerjakan hal-hal yang bisa menjaganya agar tidak terjatuh dalam fitnah dunia.

457. Dari Amr bin Auf al-Anshari Radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah Radhiyallahu’anhu ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya. Kemudian dia kembali dari Bahrain dengan membawa sejumlah harta.

Lalu kaum Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah itu. Maka mereka pun berkumpul untuk mengerjakan shalat Shubuh bersama Rasulullah ﷺ. Setelah selesai shalat, Rasulullah ﷺ pulang, namun para Sahabat menghampiri beliau, kemudian beliau tersenyum saat melihat para Sahabatnya ini.

Selanjutnya, beliau bersabda: “Aku kira kalian sudah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Maka mereka berkata: “Benar, wahai Rasulullah.”

Selanjutnya, beliau menyatakan: “Bergembiralah serta harapkanlah apa yang kalian inginkan. Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah kekayaan dunia dihamparkan atas kalian sebagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian pun berlomba-lomba memperoleh kekayaan tersebut seperti yang pernah mereka lakukan, dan akhirnya kekayaan tadi membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

458. Dari Abu Sa’id al-Khudri (semoga Allah meridainya), beliau berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam duduk di mimbar, dan kami duduk di sekelilingnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya diantara hal-hal yang aku khawatirkan akan terjadi pada kalian setelah kematianku adalah apa yang akan dibukakan bagi kalian berupa kemegahan dan perhiasan dunia ini.” (Muttafaqun alaihi).

Telah banyak orang yang berbicara tentang zuhud, bahkan masing-masing telah mengisyaratkan kepada perasaannya, juga mengungkapkan tentang keadaan beserta saksinya. Kebanyakan ungkapan yang diberikan oleh orang-orang itu menyangkut perihal rasa dan keadaan diri mereka. Pembicaraan dengan lisan ilmu lebih luas daripada pembicaraan dengan lisan perasa, serta lebih dekat kepada hujjah dan bukti.

Saya pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Zuhud berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara berarti meninggalkan apa-apa yang ditakutkan bahayanya di akhirat kelak.”

Telah banyak orang yang berbicara tentang zuhud, bahkan masing-masing telah mengisyaratkan kepada perasaannya, juga mengungkapkan tentang keadaan beserta saksinya. Kebanyakan ungkapan yang diberikan oleh orang-orang itu menyangkut perihal rasa dan keadaan diri mereka. Pembicaraan dengan lisan ilmu lebih luas daripada pembicaraan dengan lisan perasa, serta lebih dekat kepada hujjah dan bukti.

Saya pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Zuhud berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara berarti meninggalkan apa-apa yang ditakutkan bahayanya di akhirat kelak.”

455. Dari Abu Umamah Shuday bin Ajlan al-Bahili Radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ , beliau bersabda: “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah dari dua tetes dan dua bekas, yakni: tetes air mata karena takut kepada Allah dan tetes darah yang mengalir pada saat berjuang di jalan Allah. Adapun dua bekas adalah bekas berjuang di jalan Allah ﷻ dan bekas menjalankan salah satu dari berbagai kewajiban terhadap Allah ﷻ.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia mengatakan: “Hadits ini hasan.”)

Dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu’anhuma Bahwasanya pada saat makanan dihidangkan kepada Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu’anhu, waktu itu dia sedang berpuasa, maka dia berkata: “Mush’ab bin Umair telah terbunuh padahal dia seorang yang lebih baik daripadaku, dan tidak ada kain yang bisa dipergunakan untuk mengkafaninya kecuali sepotong selimut; jika dipergunakan untuk menutupi kepalanya maka terbuka kedua kakinya, dan jika dipergunakan untuk menutupi kedua kakinya maka terlihat kepalanya. Kemudian dunia dilapangkan bagi kami diberi kelapangan rezeki yang selapang-lapangnya, atau dia mengatakan: ‘Kami diberi kekayaan dunia sebanyak-banyaknya. ‘Kami khawatir jangan-jangan kebaikan kami telah diberikan lebih awal.’ Kemudian dia terus menangis sehingga dia meninggalkan makanan itu.

Dan darinya (Anas), ia berutur bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu’anhu pernah mengatakan kepada Umar Radhiyallahu’anhu, sepeninggal Rasulullah ﷺ : “Marilah kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman , sebagaimana Rasulullah dahulu biasa mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempatnya, Ummu Aiman menangis. Maka keduanya segera bertanya kepadanya: “Apa yang membuat engkau menangis? Bukankah engkau mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasulullah?”

Ummu Aiman pun menjawab: “Aku menangis bukan karena aku tidak mengetahui bahwa apa yang disediakan Allah ﷻ tersebut lebih baik bagiRasulullah , tetapi aku menangis karena wahyu dari langit terputus.”

Maka ucapan Ummu Aiman itu membuat keduanya terdorong untuk menangis, sehingga mereka menangis bersamanya. (HR. Muslim)

Abdullah bin Asy-Syikhkhīr -raḍiyallāhu ‘anhu- berkata, “Aku pernah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau sedang mengerjakan shalat sementara dari dada beliau ada suara (tangisan) seperti suara periuk yang mendidih karena menangis.”

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam asy-Syama’il 276), Abu Dawud (904), juga oleh Imam An-Nasa’i (III/13), serta Ahmad IV/26 dan 26).

Darinya (Abu Hurairah) juga, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata, yaitu: (1) imam (pemimpin) yang adil, (2) pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah, (3) seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, dan (5) orang yang dibujuk oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi rupawan, lalu dia mengatakan: “Sungguh aku takut kepada Allah,’ (6) serta orang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya mencucurkan air mata.” (Muttafaq ‘alaih)

Bab tentang keutamaan menangis karena takut kepada Allah ﷻ, artinya karena takut kepada-Nya dan rindu kepada-Nya, Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Hal ini karena menangis memiliki sebab: terkadang takut, terkadang sakit, terkadang rindu, dan sebab-sebab lain yang diketahui manusia.

447. Dari Anas Radhiyallahu’anhu, ia bercerita: “Rasulullah ﷺ pernah memberikan khutbah yang belum pernah aku dengar sebelumnya sama sekali, yakni beliau bersabda: ‘Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’ Maka para Sahabat beliau menutup wajah mereka sambil terisak-isak.” (Muttafaq ‘alaih)

448. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk Neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga air susu masuk kembali ke dalam payudara. Dan debu bekas perjuangan di jalan Allah itu tidak akan pernah dapat berkumpul dengan asap Neraka Jahannam.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia mengatakan: “Hadits ini hasan shahih.”)