All posts by: admin-assunnahqatar

About admin-assunnahqatar

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, katanya: “Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ, juga menyertai kami Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma dalam suatu kelompok -antara tiga sampai sembilan orang. Kemudian bangunlah Rasulullah ﷺ meninggalkan kami semua, tetapi agak lambat datangnya kembali. Kami semua khawatir kalau-kalau akan terputuskan dari kami -maksudnya takut kalau-kalau Beliau memperoleh bahaya-, maka dari itu kami semua menjadi takut dan kamipun berdiri. Saya -yakni Abu Hurairah radhiyallahu’anhu- adalah pertama-tama orang yang merasa takut itu. Maka keluarlah saya untuk mencari Rasulullah ﷺ, sehingga sampailah saya di suatu dinding milik orang Anshar -Abu Hurairah lalu menceritakan Hadis ini yang agak panjang, sehingga pada sabda Nabi ﷺ, yaitu Rasulullah ﷺ bersabda: “Pergilah, maka setiap orang yang engkau temui di balik dinding ini, asalkan ia menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dengan hatinya yang benar-benar meyakinkan sedemikian itu, maka berilah kabar gembira bahwa ia akan masuk syurga.” (Riwayat Muslim no. 52)

Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari.

Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847)

⚠ Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak orang.

Akhlak tidak bisa dipisahkan dari agama dan keimanan, ia adalah penentu agama seseorang.

Akhlak adalah sifat manusia yang menentukan perangainya. Apabila sifat itu baik maka perangainya pun baik. Sebaliknya, jika sifat Itu buruk, maka perangainya pun buruk.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah dalam Madarijus Salikin mengatakan agama itu seluruhnya akhlak, orang yang mampu mengalahkanmu dari segi akhlak, maka dia pun mengalahkanmu dalam segi agama.

Setengah ayat adalah bagian dari Al-Qur’an pada surat Al-A’raf ayat 31.

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Ayat ini adalah petunjuk kehidupan. Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat ini.

Tujuan berpuasa adalah menjadi muslim yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa berasal dari hati yang sehat.

Orang-orang yang menjaga hati adalah orang yang berbahagia. Dia akan menjaga hati agar tetap lurus. Karena hati selalu berbolak balik.

Maka kita harus selalu berdo’a, Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu.” (HR. An-Nasai)

Berkumpul bersama dengan anggota keluarga adalah cita-cita setiap keluarga, baik di dunia apalagi di akhirat.

Akan tetapi sejarah melukiskan kisah nabi Nuh alaihissalam yang berpisah dengan anaknya. Sementara Fir’aun meskipun kejam memiliki isteri shalehah yang keduanya tidak bisa berkumpul di akhirat. Demikian juga nabi luth dan isterinya pun tidak bisa berkumpul di akhirat.

Ketiganya tidak bisa bersama karena kekafiran mereka. Dihalangi oleh tabir keimanan.

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menjelaskan berkumpulnya anggota keluarga di akhirat kelak.

Tidak Mau Menerima Kebenaran dengan Alasan yang Batil

Mereka tidak mau mengikuti apa yang datang kepada mereka dari Allah ﷻ dengan alasan tidak paham. Seperti perkataan mereka :

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. ( QS. al-Baqarah : 88 ).

يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيراً مِمَّا تَقُولُ

“Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan “. ( QS. Hud : 91 ).

Maka Allah mendustakan mereka dan menjelaskan bahwa ketidakpahaman mereka disebabkan ada penutup pada hati mereka, dan penutup itu karena kekufuran mereka.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 30:

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.

Ayat ini merupakan ayat bagi orang-orang yang tidak mengacuhkan Al-Qur’an (menghajr Al-Qur’an). Kata hajr bermakna memutus. Sedangkan maksud dari hajrul Qur’an adalah meninggalkan al-Qur’an dan berpaling darinya, seperti tidak mengimaninya, tidak membacanya, tidak mau mendengarkannya, tidak mau memahami dan mentadabburinya, serta tidak mengamalkannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hajrul Qur’an” itu ada beberapa macam…

Hadits ke-11:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu pula, katanya: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, andaikata engkau semua tidak ada yang melakukan dosa, sesungguhnya Allah akan melenyapkan engkau semua, lalu mendatangkan suatu kaum lain yang melakukan dosa kemudian mereka meminta pengampunan kepada Allah Ta’ala, lalu Allah mengampuni mereka itu.” (Muttafaq ‘alaih)

📖 Hadits ke-12:

Dari Abu Ayyub, yaitu Khalid bin Zaid Radhiyallahu’anhu, katanya: “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Andaikata engkau semua tidak ada yang melakukan dosa, sesungguhnya Allah akan menciptakan suatu makhluk baru yang melakukan dosa, lalu mereka memohonkan pengampunan padaNya, kemudian Allah mengampuni mereka itu.” (Riwayat Imam Muslim)