بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Daurah Al-Khor Sabtu Pagi
📗 | #3 Kitab Al-Wasail Al-Mufidah Lil-Hayatis Sa’idah ( الوسائل المفيدة للحياة السعيدة ) Karya Sheikh Abdul Rahman bin Nasser Al-Saad Rahimahullah
🎙️ | Ustadz Abu Abdus Syahid Isnan Efendi, Lc. MA. Hafidzahullah
🗓️ | Al-khor, 22 Rabi’ul Akhir 1448 / 03 Oktober 2026
Iman dan Amal Saleh: Fondasi Meraih Kebahagiaan Hakiki
Hadirin, al-ikhwah wa al-akhawat, rahimani wa rahimakumullah.
Kita kembali melanjutkan kajian rutin dari kitab Al-Wasā’il Al-Mufīdah lil-Hayātis-Sa‘īdah, yaitu Sarana-Sarana Bermanfaat untuk Menggapai Kehidupan yang Bahagia.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Syaikh Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah menyebutkan berbagai sarana, sebab, dan perkara yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat.
Pada paragraf pertama beliau mengatakan:
وَأَعْظَمُ الْأَسْبَابِ لِذَلِكَ وَأَصْلُهَا وَأُسُّهَا هُوَ الْإِيمَانُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ
“Sebab yang paling agung untuk meraih kebahagiaan tersebut, sekaligus asal dan fondasinya, adalah iman dan amal saleh.”
Kalimat ini sangat penting. Sebab terbesar dan paling utama untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat adalah iman dan amal saleh.
Tiga Sebab Kebahagiaan
Secara umum, Syaikh As-Sa‘di rahimahullah menjelaskan bahwa sebab-sebab kebahagiaan dapat dikembalikan kepada tiga perkara:
- Al-asbāb ad-dīniyyah, yaitu sebab-sebab yang berkaitan dengan agama.
- Al-asbāb ath-thabī‘iyyah, yaitu sebab-sebab yang berkaitan dengan tabiat, sifat, dan kebiasaan seseorang.
- Al-asbāb al-‘amaliyyah, yaitu sebab-sebab yang berkaitan dengan usaha dan aktivitas manusia.
Di antara ketiga sebab tersebut, sebab yang paling utama adalah asbāb dīniyyah, yaitu sebab-sebab yang berkaitan dengan agama. Inilah yang berkaitan dengan iman sebagai fondasi kebahagiaan.
1. Iman dan Amal Saleh Tidak Dapat Dipisahkan
Ketika berbicara tentang amal saleh, kita harus memahami bahwa amal saleh selalu berkaitan dengan iman. Amal saleh tidak akan memberikan manfaat sebagaimana yang dimaksud apabila tidak dibangun di atas iman.
Secara umum, syarat diterimanya amal dapat dijelaskan dalam tiga perkara:
- Iman
- Ikhlas
- Mutāba‘ah, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Apabila salah satu dari tiga perkara tersebut tidak terpenuhi, maka seseorang tidak memperoleh amal saleh yang diterima sebagaimana yang dimaksudkan dalam pembahasan ini.
1. Iman
Iman merupakan dasar utama. Seseorang harus beriman kepada Allah dan masuk ke dalam Islam. Sebesar apa pun amal kebaikan seseorang yang tidak beriman, amal tersebut tidak menjadi bekal keselamatan di akhirat.
Allah bisa saja memberikan balasan atas sebagian kebaikan seseorang di dunia. Namun, pembahasan kita adalah tentang kebahagiaan hakiki yang mencakup dunia dan akhirat. Untuk itu, fondasinya haruslah iman.
2. Ikhlas
Setelah iman, seseorang harus mengikhlaskan amalnya hanya untuk Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
Riwayat: Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, HR. Al-Bukhari no. 1.
Ikhlas berarti seseorang beramal karena Allah, bukan menjadikan pujian manusia, kedudukan, atau kepentingan dunia sebagai tujuan utama ibadahnya.
3. Mutāba‘ah
Amal juga harus mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Tidak cukup seseorang hanya merasa bahwa amal tersebut baik; amal tersebut harus memiliki tuntunan dari syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.”
Dalam riwayat lain:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan tuntunan kami, maka amalan tersebut tertolak.”
Riwayat: ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, HR. Muslim no. 1718a–b.
Karena itu, sebelum berbicara tentang buah dan manfaat amal saleh, kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa amal tersebut dibangun di atas iman, ikhlas, dan mutāba‘ah.
2. Buah Terbesar Amal Saleh: Kehidupan yang Baik
Salah satu manfaat terbesar dari amal saleh adalah sa‘ādah, yaitu kebahagiaan.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
QS. An-Nahl: 97.
Perhatikan bahwa Allah menyebutkan dua syarat sekaligus: amal saleh dan iman. Jadi, iman dan amal saleh merupakan satu kesatuan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefinisikan amal saleh sebagai istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.
Dengan demikian, amal saleh tidak hanya berupa amalan besar yang dikenal manusia. Apa saja yang dicintai dan diridai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, lahir maupun batin, termasuk amal saleh apabila dilakukan sesuai dengan syariat dan memenuhi syarat-syaratnya.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh meremehkan amal saleh sekecil apa pun selama terdapat tuntunan yang jelas dari syariat.
Makna Hayātan Thayyibah: Kehidupan yang Baik
Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang makna hayātan thayyibah dalam Surah An-Nahl ayat 97.
Di antaranya:
1. Rezeki yang halal
Pendapat pertama adalah bahwa hayātan thayyibah berarti ar-rizqul-halāl, rezeki yang halal.
Rezeki bukan hanya persoalan banyak atau sedikit. Yang menjadi perhatian adalah kehalalannya.
Kehalalan dapat dilihat dari dua sisi:
- Halal dari sisi zatnya, yaitu sesuatu yang memang tidak diharamkan oleh Allah.
- Halal dari sisi cara memperolehnya, yaitu diperoleh dengan cara yang dibenarkan syariat.
Sesuatu yang zatnya halal bisa menjadi haram apabila diperoleh melalui cara yang haram, seperti mencuri, korupsi, merampas, atau mengambil hak orang lain.
Karena itu, rezeki yang halal merupakan bagian dari kehidupan yang baik.
2. Qanaah
Pendapat kedua adalah al-qanā‘ah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah.
Orang yang memiliki qanaah dapat merasakan ketenangan meskipun apa yang dimilikinya tidak banyak. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki qanaah bisa terus merasa kurang meskipun memiliki banyak harta.
Qanaah menjadikan seseorang lebih tenang dalam menjalani kehidupan.
3. Mendapatkan taufik untuk taat
Pendapat ketiga adalah mendapatkan taufik dari Allah untuk melakukan ketaatan.
Ketaatan akan mengantarkan seseorang kepada rida Allah. Dan mendapatkan rida Allah merupakan kebahagiaan yang hakiki.
Seseorang mungkin miskin, tidak memiliki kedudukan tinggi, atau mengalami berbagai kesulitan dunia. Namun, jika Allah memberikan kepadanya taufik untuk taat dan mendapatkan rida-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan nikmat yang sangat besar.
4. Kehidupan yang baik dalam berbagai keadaan
Disebutkan pula bahwa seseorang yang beramal saleh dan beriman, baik dalam keadaan miskin maupun kaya, maka kehidupannya adalah kehidupan yang baik.
Artinya, kebahagiaan tidak bergantung semata-mata kepada kondisi ekonomi.
5. Kehidupan di surga dan kebahagiaan
Di antara pendapat yang disebutkan adalah bahwa kehidupan yang baik merupakan kehidupan di surga. Ada pula yang menafsirkannya sebagai kebahagiaan.
Jika pendapat-pendapat tersebut tidak saling bertentangan, maka semuanya dapat dipahami sebagai bagian dari makna kehidupan yang baik: rezeki yang halal, qanaah, taufik untuk taat, kebahagiaan, dan kenikmatan akhirat.
Janji Allah Harus Melahirkan Semangat Beramal
Apabila kita memahami penjelasan para ulama tentang hayātan thayyibah, seharusnya kita semakin semangat melakukan amal saleh. Manusia memang memiliki tabiat untuk bersemangat ketika diberikan janji dan balasan. Karena itu, tidak masalah apabila seseorang berharap mendapatkan janji Allah ketika beramal saleh. Allah menjanjikan berbagai kebaikan: rezeki yang halal, ketenangan, qanaah, taufik untuk taat, kebahagiaan, dan kenikmatan akhirat.
Semua itu pada akhirnya kembali kepada Allah. Karena itu, mengharapkan karunia Allah tidak bertentangan dengan ikhlas selama Allah tetap menjadi tujuan utama amal tersebut.
Penjelasan Ibnu Katsir tentang Amal Saleh
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan janji Allah kepada orang yang beramal saleh.
Amal saleh yang dimaksud adalah amal yang mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, sementara hati pelakunya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dengan demikian, ayat ini kembali menegaskan pentingnya dua hal:
- Iman
- Amal yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah
Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang lebih baik di akhirat.
Seorang mukmin harus yakin terhadap janji Allah. Ketika membaca ayat-ayat semacam ini, iman memiliki peran yang sangat penting. Kita meyakini bahwa apa yang Allah janjikan pasti benar.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”
3. Amal Saleh Berpengaruh kepada Keturunan
Di antara faedah amal saleh yang disebutkan dalam pembahasan adalah pengaruh kesalehan seseorang terhadap keluarganya dan keturunannya. Allah berfirman ketika menjelaskan kisah Nabi Musa dan Khidir:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota tersebut, dan di bawahnya terdapat harta simpanan milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang yang saleh.” QS. Al-Kahfi: 82.
Ayat ini menunjukkan bagaimana Allah menjaga kepentingan dua anak yatim tersebut dan mengaitkannya dengan kesalehan ayah mereka.
Para ulama menjelaskan bahwa kesalehan orang tua memiliki pengaruh terhadap keluarga dan keturunan. Karena itu, jangan hanya mengejar harta dan kedudukan. Apa artinya seseorang memiliki banyak harta dan kedudukan tinggi tetapi anak-anaknya tidak saleh?
Keluarga yang aman, anak-anak yang saleh, dan keturunan yang baik merupakan bagian dari kebahagiaan.
4. Amal Saleh sebagai Sebab Keluar dari Kesulitan
Amal saleh juga dapat menjadi sebab Allah memberikan jalan keluar dari kesulitan. Kita mengenal kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua. Sebuah batu besar menutup pintu gua sehingga mereka tidak dapat keluar. Mereka kemudian berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas.
Salah seorang menyebutkan baktinya kepada kedua orang tuanya. Orang kedua menyebutkan bahwa ia meninggalkan perbuatan zina meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya. Orang ketiga menyebutkan amanahnya dalam menjaga hak seorang pekerja.
Nabi ﷺ menceritakan bahwa batu tersebut bergeser sedikit demi sedikit hingga akhirnya mereka dapat keluar.
HR. Al-Bukhari no. 2272, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Pelajaran penting dari kisah ini adalah: jangan meremehkan amal saleh. Kita tidak tahu amal mana yang akan menjadi sebab Allah memberikan jalan keluar ketika kita mengalami kesulitan. Bisa jadi amal yang menurut kita kecil justru menjadi sebab pertolongan Allah karena dilakukan dengan ikhlas.
5. Jangan Meremehkan Amal Saleh
Karena itu, selama hidup kita harus terus memperbarui niat.
Banyak aktivitas yang secara asal hukumnya mubah, tetapi dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar. Misalnya seorang ayah bekerja dari pagi hingga sore. Jika ia meniatkan pekerjaannya untuk menjalankan kewajiban mencari nafkah bagi keluarganya karena Allah, maka pekerjaan tersebut dapat menjadi amal yang bernilai ibadah.
Begitu pula seorang ibu yang mengurus rumah. Memasak, mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan rumah, dan melayani keluarga bisa menjadi amal saleh apabila dilakukan dalam rangka menaati Allah dan menjalankan tanggung jawab yang disyariatkan.
Karena itu, perbaruilah niat. Jangan sampai aktivitas yang begitu banyak dilakukan setiap hari berlalu begitu saja tanpa pahala karena kita tidak menghadirkan niat yang benar.
Amal Wajib dan Sunnah Mengantarkan kepada Cinta Allah
Di antara hadis yang sangat penting dalam pembahasan ini adalah hadis tentang wali Allah.
Allah Ta‘ala berfirman dalam hadis qudsi:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ…
Inti hadisnya menjelaskan bahwa Allah mengancam orang yang memusuhi wali-Nya. Kemudian Allah menjelaskan bahwa seorang hamba mendekat kepada-Nya dengan perkara yang paling Allah cintai, yaitu perkara-perkara yang diwajibkan-Nya. Setelah itu, hamba terus mendekat kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah hingga Allah mencintainya.
HR. Al-Bukhari no. 6502, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah memberikan taufik kepadanya sehingga pendengaran, penglihatan, tangan, dan kakinya digunakan dalam perkara yang diridai Allah. Maksudnya bukan bahwa sifat-sifat Allah menjadi anggota tubuh manusia. Maksud hadis adalah Allah memberikan taufik dan penjagaan sehingga hamba tersebut menggunakan anggota tubuhnya dalam perkara yang dicintai dan diridai Allah.
Karena itu, amal wajib dan amal sunnah sama-sama memiliki peran besar dalam mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
Pekerjaan Sehari-hari Pun Bisa Menjadi Ibadah
Ketika seseorang memahami hal ini, ia akan memandang aktivitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. Seorang ayah dapat meniatkan pekerjaannya untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarganya. Seorang ibu dapat meniatkan pekerjaan rumah tangganya untuk menjalankan tanggung jawab dan ketaatan kepada Allah.
Dengan niat yang benar, pekerjaan yang berat dapat terasa lebih ringan karena seseorang merasa bahwa ia sedang menjalankan ibadah. Sebaliknya, pekerjaan yang sebenarnya ringan dapat terasa berat apabila tidak dilandasi niat yang benar. Maka yang perlu diperbaiki bukan hanya aktivitasnya, tetapi juga niat di balik aktivitas tersebut.
6. Amal Saleh Menjadikan Seseorang Dicintai
Di antara buah amal saleh lainnya adalah seseorang mendapatkan kecintaan dari manusia. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang bagi mereka.” QS. Maryam: 96.
Orang yang mendekat kepada Allah dengan amal saleh akan mendapatkan kecintaan dari Allah. Dan Allah dapat menanamkan kecintaan terhadapnya di hati orang-orang beriman. Ini merupakan salah satu bentuk kebahagiaan. Bukan sekadar dicintai manusia, tetapi terlebih dahulu mendapatkan cinta Allah dan taufik-Nya.
Kebahagiaan Hakiki Tidak Bergantung pada Kondisi Dunia
Jika seseorang telah memperoleh:
- iman yang benar,
- amal saleh,
- rezeki yang halal,
- qanaah,
- taufik untuk taat,
- rida Allah,
- keluarga dan anak-anak yang saleh,
- serta kecintaan Allah,
maka itulah kebahagiaan yang hakiki.
Dalam keadaan demikian, kondisi ekonomi tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan. Demikian pula kedudukan, pekerjaan, kesehatan, atau keadaan dunia lainnya.
Seseorang bisa sakit tetapi tetap bahagia. Seseorang bisa mengalami kesulitan tetapi tetap tenang. Para ulama terdahulu juga mengalami sakit, dipenjara, dan berbagai kesulitan, tetapi mereka tetap memiliki kebahagiaan karena mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar: iman, amal saleh, dan hubungan yang baik dengan Allah.
Karena itu, apabila kita menginginkan kebahagiaan hakiki, maka nasihat pertama untuk diri kita dan keluarga adalah: Perbaiki iman dan perbanyak amal saleh.
Belajarlah tauhid. Perbaiki ibadah. Perbanyak amal saleh. Kejar taufik Allah. Itulah, dengan izin Allah, jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.
Tanya Jawab
Bolehkah Beramal dengan Mengharapkan Balasan Dunia dan Akhirat?
Pertanyaan:
Ketika kita beramal saleh, apakah boleh berniat mendapatkan balasan di akhirat sekaligus mendapatkan balasan di dunia? Atau hanya mengharapkan balasan akhirat?
Jawaban:
Boleh mengharapkan balasan Allah di dunia dan di akhirat. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa amal saleh memiliki buah di dunia sekaligus pahala di akhirat.
Kisah tiga orang yang terjebak di gua, misalnya, menunjukkan adanya pertolongan Allah dalam persoalan dunia. Mereka mendapatkan jalan keluar dari kesulitan melalui amal saleh yang mereka lakukan dengan ikhlas.
Demikian pula terdapat berbagai dalil tentang manfaat amal saleh di dunia.
Namun, yang harus diperhatikan adalah jangan sampai dunia menjadi tujuan utama sehingga menggeser keikhlasan kepada Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” HR. Al-Bukhari no. 1.
Karena itu, yang harus menjadi dasar adalah lillāhi ta‘ālā. Adapun seseorang juga mengharapkan karunia Allah di dunia, hal tersebut tidak menghilangkan tujuan utama selama Allah tetap menjadi tujuan amalnya. Jangan sampai seseorang melakukan ibadah yang seharusnya ditujukan kepada Allah tetapi niatnya murni hanya untuk memperoleh kepentingan dunia.
Jika seluruh orientasinya hanya dunia, maka ketika hasil duniawi yang ia inginkan tidak tercapai, ia bisa kecewa dan bahkan mempertanyakan mengapa Allah tidak memberikan apa yang ia inginkan. Inilah yang harus dihindari.
Bolehkah Menyebut Amal Saleh Ketika Berdoa kepada Allah?
Pertanyaan:
Dalam kisah tiga orang yang terjebak di gua, mereka menyebutkan amal saleh yang pernah mereka lakukan ketika berdoa kepada Allah. Apakah boleh kita melakukan hal yang sama?
Jawaban:
Ya, dalam konteks berdoa kepada Allah, seseorang boleh menyebut amal saleh yang ia lakukan dengan ikhlas sebagai bentuk tawassul kepada Allah.
Tiga orang yang berada di dalam gua melakukan hal tersebut. Masing-masing menyebut amal yang pernah ia lakukan dengan ikhlas, kemudian memohon kepada Allah agar kesulitan mereka dihilangkan.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam HR. Al-Bukhari no. 2272.
Namun, berbeda halnya jika seseorang menyebut-nyebut pemberiannya kepada manusia untuk meminta bantuan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti.” QS. Al-Baqarah: 264.
Maka, menyebut amal di hadapan Allah dalam doa berbeda dengan menyebut-nyebut pemberian kepada manusia.
Bagaimana Menghilangkan Keraguan dalam Berikhtiar?
Pertanyaan:
Kadang seseorang sudah berikhtiar, tetapi muncul keraguan apakah tujuannya akan tercapai. Bagaimana cara menghilangkan keraguan tersebut?
Jawaban:
Caranya adalah dengan yakin kepada Allah. Kita harus memahami bahwa kewajiban kita adalah melakukan sebab-sebab yang diperintahkan. Adapun hasil akhirnya merupakan perkara yang berada di tangan Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya.”
Pesannya adalah: kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita dan jangan sibuk memastikan hasil yang masih menjadi perkara gaib.
Kita berusaha, berdoa, bertawakal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Takdir merupakan rahasia Allah. Kita tidak mengetahui hasil sebelum ia terjadi. Bahkan perkara yang secara manusiawi terlihat mudah pun tidak akan terjadi apabila Allah tidak menghendakinya. Karena itu, jangan biarkan ketidakpastian hasil menghalangi kita untuk melakukan sebab-sebab yang benar.
Tetaplah beramal, tetaplah berusaha, dan tetaplah bertawakal.
Penutup
Pembahasan ini membawa kita kembali kepada kalimat Syaikh Abdurrahman As-Sa‘di rahimahullah:
وَأَعْظَمُ الْأَسْبَابِ لِذَلِكَ وَأَصْلُهَا وَأُسُّهَا هُوَ الْإِيمَانُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ
“Sebab yang paling agung untuk meraih kebahagiaan, sekaligus asal dan fondasinya, adalah iman dan amal saleh.”
Setelah memahami berbagai dalil dan penjelasan para ulama, kita dapat memahami mengapa beliau menyebut iman dan amal saleh sebagai sebab yang paling agung dan paling utama.
Sebab, buahnya sangat banyak:
- mendapatkan kehidupan yang baik;
- mendapatkan rezeki yang halal;
- memiliki qanaah;
- mendapatkan taufik untuk taat;
- memperoleh rida Allah;
- mendapatkan jalan keluar dari kesulitan;
- mendapatkan kebaikan bagi keluarga dan keturunan;
- memperoleh kecintaan Allah;
- mendapatkan kecintaan dari orang-orang beriman;
- serta mendapatkan pahala dan kebahagiaan di akhirat.
Karena itu, marilah kita menasihati diri sendiri dan keluarga untuk terus memperbaiki iman dan memperbanyak amal saleh.
Perbaiki tauhid. Perbaiki ibadah. Perbaiki niat. Jangan meremehkan amal saleh, sekecil apa pun selama sesuai dengan tuntunan syariat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan kepada kita iman yang kokoh, amal saleh yang diterima, keikhlasan, mutāba‘ah, taufik untuk senantiasa taat, serta kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Wallāhu a‘lam.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم





