Tag Archives: Ustadz Wadi

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

459. Dan darinya Abu Sa’id al-Khudri), bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya dunia ini manis lagi mempesona, dan bahwa sesungguhnya Allah yang Mahatinggi telah menjadikan kalian berkuasa di dalamnya, untuk kemudian Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Maka itu waspadalah terhadap dunia, serta waspadalah pula terhadap kaum wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Nabi ﷺ menerangkan bahwa dunia itu rasanya manis dan rupanya hijau, sehingga manusia dapat tertipu dan terlena di dalamnya lalu menjadikannya sebagai tujuan yang paling besar.

Seperti halnya padang yang hijau karena disirami hujan, hingga tumbuh tanaman yang enak dipandang.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya untuk mengerjakan hal-hal yang bisa menjaganya agar tidak terjatuh dalam fitnah dunia.

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

457. Dari Amr bin Auf al-Anshari Radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah Radhiyallahu’anhu ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya. Kemudian dia kembali dari Bahrain dengan membawa sejumlah harta.

Lalu kaum Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah itu. Maka mereka pun berkumpul untuk mengerjakan shalat Shubuh bersama Rasulullah ﷺ. Setelah selesai shalat, Rasulullah ﷺ pulang, namun para Sahabat menghampiri beliau, kemudian beliau tersenyum saat melihat para Sahabatnya ini.

Selanjutnya, beliau bersabda: “Aku kira kalian sudah mendengar bahwa Abu Ubaidah telah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Maka mereka berkata: “Benar, wahai Rasulullah.”

Selanjutnya, beliau menyatakan: “Bergembiralah serta harapkanlah apa yang kalian inginkan. Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah kekayaan dunia dihamparkan atas kalian sebagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian pun berlomba-lomba memperoleh kekayaan tersebut seperti yang pernah mereka lakukan, dan akhirnya kekayaan tadi membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

458. Dari Abu Sa’id al-Khudri (semoga Allah meridainya), beliau berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam duduk di mimbar, dan kami duduk di sekelilingnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya diantara hal-hal yang aku khawatirkan akan terjadi pada kalian setelah kematianku adalah apa yang akan dibukakan bagi kalian berupa kemegahan dan perhiasan dunia ini.” (Muttafaqun alaihi).

Ketahuilah bahwa sikap kita terhadap keempat imam (semoga Allah merahmati mereka) dan lainnya sama dengan sikap semua Muslim yang berpikiran adil: setia kepada mereka, mencintai mereka, menghormati dan menghargai mereka, dan memuji mereka atas ilmu dan ketakwaan mereka.

Kita mengikuti mereka dalam mengamalkan Kitab dan Sunnah, mendahulukan mereka daripada pendapat mereka sendiri, dan kita mempelajari perkataan mereka untuk menggunakannya dalam menegakkan kebenaran dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.

Telah banyak orang yang berbicara tentang zuhud, bahkan masing-masing telah mengisyaratkan kepada perasaannya, juga mengungkapkan tentang keadaan beserta saksinya. Kebanyakan ungkapan yang diberikan oleh orang-orang itu menyangkut perihal rasa dan keadaan diri mereka. Pembicaraan dengan lisan ilmu lebih luas daripada pembicaraan dengan lisan perasa, serta lebih dekat kepada hujjah dan bukti.

Saya pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Zuhud berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara berarti meninggalkan apa-apa yang ditakutkan bahayanya di akhirat kelak.”

Telah banyak orang yang berbicara tentang zuhud, bahkan masing-masing telah mengisyaratkan kepada perasaannya, juga mengungkapkan tentang keadaan beserta saksinya. Kebanyakan ungkapan yang diberikan oleh orang-orang itu menyangkut perihal rasa dan keadaan diri mereka. Pembicaraan dengan lisan ilmu lebih luas daripada pembicaraan dengan lisan perasa, serta lebih dekat kepada hujjah dan bukti.

Saya pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Zuhud berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara berarti meninggalkan apa-apa yang ditakutkan bahayanya di akhirat kelak.”

Pada pertemuan kali ini, Ustadz menerangkan kembali ringkasan perkembangan Fikih dalam bentuk slide yang telah beliau rangkum dalam file power point terlampir.

Beberapa hal yang telah dijelaskan antara lain:
1. Fikih: Pengertian, Objek, Keutamaan, Sumber dan hukum mempelajarinya.
2. Tahapan-tahapan Fikih dan penjelasannya:
– Tahap pertama: Masa Tasyri’ (Legislasi) sampai 11H.
– Tahap kedua: Masa Fikih sebelum Madzhab (sampai 100H)
– Tahap ketiga: Masa Madzhab Fikih (Sampai 1300H)
– Tahap Keempat: Era Modern (Sejak 1300H)
3. Sebab dan sikap terhadap perbedaan pendapat.

Berikut beberapa ciri fiqih di Era Modern yang disusun Ustadz Abu Hazim Syamsuril Wa’di berdasarkan penjelasan Syaikh Dr. Amir Bahjat Hafidzahullah:

1. Mencetak Kitab-Kitab Fikih
2. Munculnya Majelis Fiqih
3. Munculnya Ensiklopedia Fikih
4. Muncul Majalah Majalah Fikih
5. Dibuatnya Situs Web Fikih di Internet
6. Klaim Pembaharuan Dalam Ushul Fikih
7. Banyaknya Nawazil (peristiwa baru) Fikih.
8. Muncul dan Berdirinya Fakultas Syariah dan Jurusan Fikih.

455. Dari Abu Umamah Shuday bin Ajlan al-Bahili Radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ , beliau bersabda: “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah dari dua tetes dan dua bekas, yakni: tetes air mata karena takut kepada Allah dan tetes darah yang mengalir pada saat berjuang di jalan Allah. Adapun dua bekas adalah bekas berjuang di jalan Allah ﷻ dan bekas menjalankan salah satu dari berbagai kewajiban terhadap Allah ﷻ.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia mengatakan: “Hadits ini hasan.”)