Tag Archives: Riyadhus Shalihin

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahuโ€™anhu bahwasanya Nabi ๏ทบ bersabda: “Seseorang itu beserta orang yang dicintainya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam suatu riwayat lain disebutkan: Abu Musa Radhiyallahuโ€™anhu berkata: “Nabi ๏ทบ ditanya: “Ada seorang mencintai sesuatu kaum, tetapi ia tidak pernah menemui mereka itu, bagaimanakah?” Beliau ๏ทบ lalu bersabda: “Seseorang itu beserta orang yang dicintainya.” (HR Bukhari Muslim)

ูˆุนู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฌุงุก ุฑุฌู„ูŒ ุฅู„ู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽู‚ููˆู„ู ููŠ ุฑูŽุฌูู„ู ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู„ู’ุญูŽู‚ู’ ุจูู‡ูู…ู’ุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ยซุงู„ู…ูŽุฑู’ุกู ู…ูŽุนูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃุญูŽุจู‘ูŽยป. ู…ูุชู‘ูŽููŽู‚ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู‡ู.

11. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahuโ€™anhu katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah ๏ทบ lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Tuan mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?” [1)] Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Seorang itu beserta orang yang dicintainya.” (Muttafaq ‘alaih)

1) Dalam riwayat Imam Ibnu Hibban ada tambahannya sesudah kata-kata “Walam yalhaq bihim”, sedang tambahannya itu berbunyi: Artinya: “Dan orang itu tidak dapat mengamalkan sebagaimana yang diamalkan oleh kaum yang dicintainya itu.”

Hadits ini merupakan kabar gembira bagi hamba-Nya yang beriman yang bermakna agung. Seseorang terkadang tidak bisa beramal dengan amalan yang banyak dan Allรขh ๏ทป menyertakan bersama orang-orang yang baik tersebut.

Ada jiwa yang tidak mendorong ke suatu amalan yang baik, maka setidaknya dia mencintai orang yang baik dan mencintai majelis-majelis mereka, jangan sebaliknya. Karena seseorang akan bersama orang yang dicintainya. Minimal kita akan terpacu untuk mengikuti jejak mereka.

Kalau yang menjadi idolanya adalah para artis atau model, atau yang serupanya, maka mereka akan diikutsertakan dengan mereka meskipun tidak ikut dengan mereka karena sebab kecintaan kepada mereka.

Namun jika para Ummahat mencintai para Ummahatul Mukminun (karena tidak bisa dinikahi sahabat Nabi ๏ทบ yang lain) atau dari perempuan yang bertakwa, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka meskipun dia beramal tidak sampai sederajat dengan mereka.

๐Ÿ“– Hadis ke-43: Cobaan bagi Orang yang Beriman merupakan Bukti Allรขh ๏ทป Menghendaki Kebaikan.

43- ูˆุนู† ุฃู†ุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„โ€:โ€ ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€:โ€โ€โ€โ€ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจุนุจุฏู‡ ุฎูŠุฑุงู‹ ุนุฌู„ ู„ู‡ ุงู„ุนู‚ูˆุจุฉ ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุงุŒ ูˆุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจุนุจุฏู‡ ุงู„ุดุฑ ุฃู…ุณูƒ ุนู†ู‡ ุจุฐู†ุจู‡ ุญุชู‰ ูŠูˆุงููŠ ุจู‡ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉโ€โ€โ€โ€.โ€

ูˆู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€:โ€ โ€โ€โ€ุฅู† ุนุธู… ุงู„ุฌุฒุงุก ู…ุน ุนุธู… ุงู„ุจู„ุงุกุŒ ูˆุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฅุฐุง ุฃุญุจ ู‚ูˆู…ุงู‹ ุงุจุชู„ุงู‡ู…ุŒ ูู…ู† ุฑุถูŠ ูู„ู‡ ุงู„ุฑุถู‰ุŒ ูˆู…ู† ุณุฎุท ูู„ู‡ ุงู„ุณุฎุทโ€โ€โ€ โ€(โ€โ€(โ€ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูˆู‚ุงู„ โ€:โ€ ุญุฏูŠุซ ุญุณู†โ€)โ€โ€)โ€โ€.โ€

43. Dari Anas Radhiyallahuโ€™anhu, berkata: โ€œRasulullah ๏ทบ bersabda: โ€œJikalau Allah menghendaki kebaikan pada seseorang hambaNya, maka ia mempercepatkan suatu siksaan โ€“ penderitaan โ€“ sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seseorang hambaNya, maka orang itu dibiarkan sajalah dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan โ€“ siksaannya โ€“ hari kiamat.โ€

Dan Nabi ๏ทบ bersabda โ€“ juga riwayat Anas Radhiyallahuโ€™anhu: โ€œSesungguhnya besarnya balasan โ€“ pahala โ€“ itu sesuai besarnya balaโ€™ yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cobaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela โ€“ menerima balaโ€™ tadi, ia akan memperolehi keredhaan dari Allah dan barangsiapa yang marah-marah maka ia memperolehi kemurkaan Allah pula.โ€

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini Hadis hasan.

Dari hadits di atas, diambil benang merah, jika seorang hamba penuh dengan kemaksiatan tetapi hidupnya selalu enak dan tidak ada cobaan, maka itu adalah istidraj. Allรขh ๏ทป ulur waktunya untuk melakukan dosa-dosa dan menunda siksanya nanti di akhirat. Allรขh ๏ทป menginginkan keburukan pada orang tersebut. Sungguh, cobaan di dunia jauh lebih ringan daripada kelak di akhirat.

Inti ibadah dibangun atas rasa cinta kepada Allรขh ๏ทป, dari rasa cinta melahirkan ketaatan, tunduk kepada Allรขh ๏ทป. Sama halnya seseorang yang cinta mati kepada orang lain, akan tunduk dan mengikuti apa yang diinginkan oleh orang yang dicintainya.

Hadits 8:

367 – ูˆุนู† ุฃูŽุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ุฃู† ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏููŠู†ู ุฎูŽู„ููŠู„ูู‡ูุŒ ููŽู„ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู’ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูŠูุฎูŽุงู„ูู„ูยป. ุฑูˆุงู‡ ุฃูŽุจููˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ุจุฅุณู†ุงุฏ ุตุญูŠุญุŒ ูˆูŽู‚ุงู„ูŽ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ: ยซุญุฏูŠุซ ุญุณู†ยป.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuโ€™anhu bahwasanya Nabi ๏ทบ bersabda: “Seorang itu adalah menurut agama kekasihnya -teman atau sahabatnya-. Maka hendaklah seorang dari engkau semua itu melihat -meneliti benar-benar- orang yang dijadikan kekasihnya itu.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan isnad shahih dan Imam Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadis hasan.

Kata ุฎูŽุงู„ูู„ู bermakna teman dekat atau sahabat. Dan seseorang akan dipengaruhi agamanya oleh teman dekatnya.

Bab ini menjelaskan tentang berteman dengan orang-orang yang baik dan mencintai mereka. Karena agama pasti akan dipengaruhi oleh teman dekatnya. Dan ini tidak bisa dielakkan, sebagaimana Rasulullah ๏ทบ jelaskan : “Ruh yang baik berkumpulnya dengan ruh yang baik, sedang yang buruk dengan yang buruk.” (Hadits selanjutnya).

Maka jiwa yang baik akan berkumpul dengan jiwa yang baik atau yang semisal dengannya pada hal-hal yang sama. Maka, jika berkumpul dengan yang buruk, akan mempengaruhi satu dengan lainnya. Jiwa akan condong dengan yang satu kesamaan tabiat.

Hati yang memiliki kehidupan akan mampu mendengarkan kebaikan dan akan terus bersama dengan orang yang baik, dan temannya akan menunjukkan kebaikan dunia dan akhirat. Teman yang baik akan mempengaruhi tingkah laku, sikap dan kebiasaan hidupnya, dan dijauhkan dari segala penyakit hati sebab teman yang baik.

๐Ÿ“– Hadits 6:

365 – ูˆุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู„ูุฌุจุฑูŠู„: ยซู…ูŽุง ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนููƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฒููˆุฑู†ูŽุง ุฃูƒุซูŽุฑ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูŽุฒููˆุฑูŽู†ูŽุงุŸยป ููŽู†ูŽุฒูŽู„ูŽุชู’: {ูˆูŽู…ูŽุง ู†ูŽุชูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุฃูŽู…ู’ุฑู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ู’ููŽู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ} [ู…ุฑูŠู…: 64]. ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahuโ€™anhuma, katanya: “Nabi ๏ทบ bersabda -kepada- Jibril Alaihissalam: “Apakah sebabnya Tuan tidak suka berziarah pada kami yang lebih banyak lagi -lebih sering- daripada yang Tuan berziarah sekarang ini?” Kemudian turunlah ayat -yang artinya-: Dan kami tidak turun melainkan dengan perintah Tuhanmu. BagiNya adalah apa yang ada di hadapan serta di belakang kita [note 1] dan apa saja yang ada diantara yang tersebut itu.” (Maryam: 64) (Riwayat Imam Bukhari)

โœ๏ธ Note 1: Maksudnya ialah bahwa bagi Allah itu adalah semua yang ada di muka dan di belakang kita serta apa pun yang ada diantara keduanya itu, baik mengenai waktu dan tempat. Oleh sebab itu kita semua ini tidak dapat berpindah dari satu keadaan atau tempat kepada keadaan atau tempat yang lain, kecuali dengan perintah dan kehendak Allah sendiri.

๐Ÿ“– Hadits 7:

366 – ูˆุนู† ุฃูŽุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ุนู† ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู„ุง ุชูุตูŽุงุญูุจู’ ุฅู„ุงู‘ูŽ ู…ูุคู’ู…ูู†ู‹ุงุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ู’ ุทูŽุนูŽุงู…ูŽูƒูŽ ุฅู„ุงู‘ูŽ ุชูŽู‚ููŠู‘ูŒยป. ุฑูˆุงู‡ ุฃูŽุจููˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ุจุฅุณู†ุงุฏ ู„ุง ุจุฃุณ ุจูู‡ู.

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahuโ€™anhu dari Nabi ๏ทบ , sabdanya: “Janganlah engkau bersahabat, melainkan -dengan- orang yang mu’min dan janganlah makan makananmu itu kecuali orang yang bertaqwa.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan isnad yang tidak mengapa untuk dijadikan pegangan.

Hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa kita diperintahkan menjadikan orang-orang beriman sebagai teman dekat. Kata pepatah Arab, as sohib sahib, sahabat itu bisa menyeret. Punya sahabat yang buruk (keadaan agamanya), terkadang kita merasa aman dari pengaruh buruknya, namun tanpa sadar kita terseret sedikit-demi-sedikit.

Yang dimaksud dengan “janganlah makan makananmu itu kecuali orang yang bertaqwa” adalah mengundang makan dan bercengkerama seperti teman dekat. Adapun memberi makan berdasarkan kebutuhan si penerima, maka tidak mengapa dengan harapan disertai dengan nasehat yang baik.

Wanita Dinikahi karena Empat Hal

๐Ÿ“–ย  Hadits 5:

364 – ูˆุนู† ุฃูŽุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ุนู† ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุชูู†ู’ูƒูŽุญู ุงู„ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ู„ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู: ู„ูู…ูŽุงู„ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูุญูŽุณูŽุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูุฌูŽู…ูŽุงู„ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูุฏููŠู†ูู‡ูŽุงุŒ ููŽุงุธู’ููŽุฑู’ ุจูุฐูŽุงุชู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุชูŽุฑูุจูŽุชู’ ูŠูŽุฏูŽุงูƒยป. ู…ูุชู‘ูŽููŽู‚ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู‡ู. ูˆู…ุนู†ุงู‡: ุฃู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูŠูŽู‚ู’ุตุฏูˆู†ูŽ ููŠ ุงู„ุนูŽุงุฏูŽุฉ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽุฑู’ุฃุฉู ู‡ุฐูู‡ู ุงู„ุฎูุตูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฃุฑู’ุจูŽุนูŽุŒ ููŽุงุญู’ุฑูŽุตู’ ุฃู†ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽุงุชู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ูุŒ ูˆูŽุงุธู’ููŽุฑู’ ุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงุญู’ุฑูุตู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูุญู’ุจูŽุชูู‡ุง.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuโ€™anhudari Nabi ๏ทบ sabdanya: “Seorang wanita itu dikawini karena empat perkara, yaitu karena ada hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena teguh agamanya. Maka dari itu dapatkanlah -yakni usahakanlah untuk memperoleh- yang mempunyai keteguhan agama, tentu kedua tanganmu merasa puas -yakni hatimu menjadi tenteram.” (Muttafaq ‘alaih).

Adapun maknanya hadis di atas itu ialah bahwasanya para manusia itu dalam ghalibnya menginginkan wanita itu karena adanya empat perkara di atas itu, tetapi engkau sendiri hendaklah menginginkan lebih-lebih yang beragama teguh. Wanita sedemikian itulah yang harus didapatkan dan berlumbalah untuk mengawininya.

Hadits ini menjelaskan kriteria memilih pasangan hidup dalam perkawinan. Perempuan memiliki hak khiyar (hak dalam memilih baik fisik, pekerjaan, kesehatan, keturunan dan lainnya). Hadits ini juga menjelaskan latar belakang pernikahan dilihat dari tujuannya karena ada hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena teguh agamanya. Akan tetapi, dalam hal ini hendaknya dipilih yang sekufu (sebanding).

Syaikh Dr. Amir Bahjad Hafidzahullah menjelaskan, apabila nadzhar (melihat) dan kemungkinan besar pada dirinya akan ditolak, maka haram hukumnya untuk melihat. Karena ini termasuk mempermainkan si wanita.

Karena Hartanya…

Permasalahan saat ini segala permasalahan diawali dengan permasalahan masalah harta. Seperti bisa jadi si wanita bekerja sebagai pegawai, atau memiliki banyak harta warisan baik dari suami atau bapaknya. Dan suami yang baru biasanya terkadang terlilit hutang yang akhirnya menjadi tanggungan isteri juga. Atau di sisi lain jika si wanita bekerja, terkadang si suami tidak bertanggung jawab memberi nafkah yang menjadi kewajibannya dengan alasan si wanita sudah bekerja dan memiliki penghasilan. Allohul musta’aan.

Sampai ada calon istri yang memberikan syarat agar suami tidak berhak menanyakan harta yang ada pada isteri dari hasil jerih payahnya. Maka, hendaknya mempertimbangkan meminang seseorang karena hartanya. Jika harta ada cinta berkembang, jika harta habis maka Cinta pun lepas… Waliyadzubillah…

Pentingnya Teman yang Baik dalam Bergaul dan Perumpamaan Teman yang Baikย 

๐Ÿ“–ย  Hadits 4:

363 – ูˆุนู† ุฃูŽุจูŠ ู…ูˆุณู‰ ุงู„ุฃุดุนุฑูŠ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู…ูŽุซู„ู ุงู„ุฌูŽู„ููŠุณู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญู ูˆูŽุฌูŽู„ููŠุณู ุงู„ุณู‘ููˆุกูุŒ ูƒูŽุญูŽุงู…ูู„ู ุงู„ู…ูุณู’ูƒูุŒ ูˆูŽู†ูŽุงููุฎู ุงู„ู’ูƒููŠุฑูุŒ ููŽุญูŽุงู…ูู„ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ูƒู: ุฅู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูุญู’ุฐููŠูŽูƒูŽุŒ ูˆูŽุฅู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุจู’ุชูŽุงุนูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฅู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌูุฏูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฑูŠุญู‹ุง ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽู†ูŽุงููุฎู ุงู„ูƒููŠุฑู: ุฅู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูุญู’ุฑูู‚ูŽ ุซููŠูŽุงุจูŽูƒูŽุŒ ูˆูŽุฅู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌูุฏูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฑููŠุญู‹ุง ู…ูู†ู’ุชูู†ูŽุฉู‹ยป. ู…ูุชู‘ูŽููŽู‚ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู‡ู. (ูŠูุญู’ุฐููŠูƒูŽ): ูŠูุนู’ุทููŠูƒูŽ.

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahuโ€™anhu bahwasanya Nabi ๏ทบ bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk adalah sebagai pembawa minyak misik -yang baunya harum- dan peniup perapian -pandai besi. Pembawa minyak misik ada kalanya memberikan minyaknya padamu, atau engkau dapat membelinya, atau -setidak-tidaknya- engkau dapat memperoleh wanginya -bau yang harum daripadanya. Adapun peniup perapianmu, maka ada kalanya akan membakarkan pakaianmu atau engkau akan memperoleh bau yang busuk daripadanya.” (Muttafaq ‘alaih)

๐Ÿ“–ย  Hadits 5:

364 – ูˆุนู† ุฃูŽุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ุนู† ุงู„ู†ู‘ูŽุจูŠู‘ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุชูู†ู’ูƒูŽุญู ุงู„ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ู„ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู: ู„ูู…ูŽุงู„ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูุญูŽุณูŽุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูุฌูŽู…ูŽุงู„ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูุฏููŠู†ูู‡ูŽุงุŒ ููŽุงุธู’ููŽุฑู’ ุจูุฐูŽุงุชู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุชูŽุฑูุจูŽุชู’ ูŠูŽุฏูŽุงูƒยป. ู…ูุชู‘ูŽููŽู‚ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู‡ู. ูˆู…ุนู†ุงู‡: ุฃู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูŠูŽู‚ู’ุตุฏูˆู†ูŽ ููŠ ุงู„ุนูŽุงุฏูŽุฉ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู…ูŽุฑู’ุฃุฉู ู‡ุฐูู‡ู ุงู„ุฎูุตูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฃุฑู’ุจูŽุนูŽุŒ ููŽุงุญู’ุฑูŽุตู’ ุฃู†ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽุงุชู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ูุŒ ูˆูŽุงุธู’ููŽุฑู’ ุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงุญู’ุฑูุตู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูุญู’ุจูŽุชูู‡ุง.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuโ€™anhudari Nabi ๏ทบ sabdanya: “Seorang wanita itu dikawini karena empat perkara, yaitu karena ada hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena teguh agamanya. Maka dari itu dapatkanlah -yakni usahakanlah untuk memperoleh- yang mempunyai keteguhan agama, tentu kedua tanganmu merasa puas -yakni hatimu menjadi tenteram.” (Muttafaq ‘alaih) Adapun maknanya hadis di atas itu ialah bahwasanya para manusia itu dalam ghalibnya menginginkan wanita itu karena adanya empat perkara di atas itu, tetapi engkau sendiri hendaklah menginginkan lebih-lebih yang beragama teguh. Wanita sedemikian itulah yang harus didapatkan dan berlumbalah untuk mengawininya.

Hadits 2:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuโ€™anhu dari Nabi ๏ทบ bahwasanya ada seorang lelaki berziarah kepada seorang saudaranya di suatu desa lain, kemudian Allah memerintah seorang malaikat untuk melindunginya di sepanjang jalan -yang dilaluinya-. Setelah orang itu melalui jalan itu, berkatalah malaikat kepadanya: “Kemana engkau menghendaki?” Orang itu menjawab: “Saya hendak ke tempat seorang saudaraku di desa ini.” Malaikat bertanya lagi: “Adakah suatu kenikmatan yang hendak kau peroleh dari saudaramu itu?” Ia menjawab: “Tidak, hanya saja saya mencintainya karena Allah.” Malaikat lalu berkata: “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah untuk menemuimu -guna memberitahukan- bahwa sesungguhnya Allah itu mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena Allah.” (Riwayat Muslim)

Hadits 3:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahuโ€™anhu pula, katanya: “Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Barangsiapa yang meninjau orang sakit atau berziarah kepada saudaranya karena Allah, maka berserulah seorang yang mengundang-undang: “Engkau melakukan kebaikan dan baik pulalah perjalananmu, serta engkau dapat menduduki tempat dalam syurga.” ” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadis hasan dan dalam sebagian naskah disebutkan sebagai hadis ghaib. (Shahih dengan banyaknya penguat).

Riyadhus Shalihin Bab Sabar memuat beberapa hadits lanjutan:

32. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: โ€œAllah Taโ€™ala berfirman: โ€œTidak ada balasan bagi seorang hambaKu yang muโ€™min di sisiKu, di waktu Aku mengambil -mematikan- kekasihnya dari ahli dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaan Allah, melainkan orang itu akan mendapatkan syurga.โ€ (Riwayat Bukhari)

33. Dari Aisyah radhiallahu โ€˜anha, bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam perihal penyakit taun, lalu beliau memberitahukannya bahwa sesungguhnya taun itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Taโ€™ala kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya, tetapi juga sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah Taโ€™ala kepada kaum muโ€™minin. Maka tidak seorang hambapun yang tertimpa oleh taun, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keridhaan Allah serta mengetahui pula bahwa taun itu tidak akan mengenainya kecuali karena telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan memperoleh seperti pahala orang yang mati syahid.โ€ (Riwayat Bukhari)

34. Dari Anas radhiyallahu anhu, katanya: โ€œSaya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: โ€œSesungguhnya Allah โ€˜Azzawajalla berfirman: โ€œJikalau Aku memberi cobaan kepada hambaKu dengan melenyapkan kedua matanya -yakni menjadi buta, kemudian ia bersabar, maka untuknya akan Kuberi ganti syurga karena kehilangan keduanya yakni kedua matanya itu.โ€ (Riwayat Bukhari)

35. Dari โ€˜Athaโ€™ bin Abu Rabah, katanya: โ€œIbnu Abbas radhiallahu โ€˜anhuma mengatakan padaku: โ€œApakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?โ€ Saya berkata: โ€œBaiklah.โ€ Ia berkata lagi: โ€œWanita hitam itu pernah datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasalam lalu berkata: โ€œSesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu lalu saya membuka aurat tubuhku. Oleh karenanya haraplah Tuan mendoakan untuk saya kepada Allah -agar saya sembuh.โ€ Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: โ€œJikalau engkau suka hendaklah bersabar saja dan untukmu adalah syurga, tetapi jikalau engkau suka maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Taโ€™ala agar penyakitmu itu disembuhkan olehNya.โ€ Wanita itu lalu berkata: โ€œSaya bersabar,โ€ lalu katanya pula: โ€œSesungguhnya karena penyakit itu, saya membuka aurat tubuh saya. Kalau begitu sudilah Tuan mendoakan saja untuk saya kepada Allah agar saya tidak sampai membuka aurat tubuh itu.โ€ Nabi shalallahu alaihi wasalam lalu mendoakan untuknya -sebagaimana yang dikehendakinya itu.โ€ (Muttafaq โ€˜alaih)

Pada kisah Nabi Musa dan Khidir ‘alaihimussalam didapatkan faedah-faedah yang banyak, bahkan dikatakan seandainya aku menghitungnya, bisa ada seratus lebih faedahnya dan diantara faedahnya:
1. Bagaimana perjalanan dalam menuntut ilmu.
2. Ilmu didapatkan dengan belajar dan mencari tambahan ilmu adalah tanda-tanda kebaikan.
3. Sabar dalam menuntut ilmu dan tidak malas. Imam Asy-Syafiโ€™i Rahimahullah berkata: โ€œSaudaraku, tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya yaitu kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat (belajar) dengan ustadz (guru), dan membutuhkan waktu yang lama.โ€
4. Tidak mengaku menguasai sesuatu. Nabi Musa saat ditanya Bani Israil siapa yang paling alim, Musa menjawab saya. Meskipun posisi Musa menjawab adalah benar, karena Nabi Musa tidak mengembalikan ilmunya kepada Allรขh ๏ทป.
5. Berusaha mencari Syaikh atau guru yang alim yang mengamalkannya. Karena iman adalah ucapan dan amalan.
6. Allรขh ๏ทป memerintahkan untuk duduk-duduk dengan orang yang berdzikir kepada Allรขh ๏ทป, bertahlil, memuji-Nya, bertasbih, bertakbir dan mereka meminta kepada Allรขh ๏ทป siang dan malam, sama saja meskipun mereka orang yang fakir, lemah atau tidak berkedudukan.

Hadits 1:

360. Dari Anas radhiyallahuโ€™anhu, berkata: “Abu Bakar berkata kepada Umar radhiallahu ‘anhuma setelah wafatnya Rasulullah ๏ทบ : “Marilah berangkat bersama kita ke tempat Ummu Aiman agar kita dapat berziarah padanya, sebagaimana Rasulullah ๏ทบ juga menziarahinya. Setelah keduanya sampai di tempatnya, Ummu Aiman menangis, lalu keduanya bertanya: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Tidakkah engkau ketahui bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik untuk Rasulullah ๏ทบ ?” Ummu Aiman lalu menjawab: “Sesungguhnya saya bukannya menangis karena saya tidak mengerti bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik untuk Rasulullah ๏ทบ itu, tetapi saya menangis ini ialah karena sesungguhnya wahyu itu kini telah terputus dari langit.” Jawaban Ummu Aiman menyebabkan tergeraknya hati kedua orang tersebut untuk menangis lalu kedua orang itu pun mulai pula menangis bersama Ummu Aiman.” (Riwayat Muslim no. 2454)

Bab 45. Berziarah Kepada Para Ahli Kebaikan, Duduk-duduk Dengan Mereka, Mengawani -Menemani- Mereka, Mencintai Mereka, Meminta Mereka Supaya Berziarah Ke Tempat Kita, Meminta Doa Dari Mereka Serta Berziarah Ke Tempat-tempat Yang Utama

Bab ini membahas tema lanjutan dari bab sebelumnya yang faedahnya, sahabat yang shalih bisa memberikan syafaat sahabatnya sehingga akan ditarik ke surga.

Sesuai hadits riwayat Muslim: Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: โ€Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.โ€ Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, โ€Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.โ€….