• Alquran-Sunnah 1
    Ahlan wa Sahlan
    Selamat Datang di situs Al-Qurán Sunnah, Jika antum menemukan kesalahan, mohon kiranya untuk mengingatkan kami... Kami sampaikan Jazaakumullohukhoiron atas kunjungan antum wabarokallohufiikum...
  • Alquran-Sunnah 2
    Kenapa Al-Qurán dan Sunnah?
    Di antara perkara penting dalam mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah “pemahaman” (al-fahmu). Yaitu, kita diberikan pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan juga apa yang diinginkan (dimaksudkan) oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Rawatlah Hati!
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,"Karena hati itu diciptakan untuk diketahui kegunaannya... maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berfikir dan menilai…”.

Beruntunglah orang yang mendapat hidayah Islam. Hanya orang-orang pilihan Allah yang mendapat hidayah ini. Siapa yang Allah beri petunjuk kepada Islam, tak akan ada yang bisa menyesatkannya. Demikian pula sebaliknya, siapa yang Allah sesatkan dari Islam maka tak seorangpun bisa memberinya petunjuk.

📖 Hadits ke-75:

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu berkata: “Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah apakah kami akan dituntut terhadap amal perbuatan kami di masa jahiliyah? Nabi ﷺ menjawab: “Siapa yang berbuat baik di dalam Islam, maka tidak akan dituntut terhadap amal yang dilakukan di masa jahiliyah. Dan siapa yang berbuat dosa dalam Islam, maka akan dituntut amal yang awal hingga yang akhir.”

(Dikeluarkan oleh Bukhari pada Kitab ke-88, Kitab Taubatnya Orang-orang yang Murtad dan bab ke-1, bab dosa orang yang menyekutukan Allah).

📖 Hadits ke-77:

BAB: HUKUM AMAL ORANG KAFIR JIKA MASUK ISLAM

Hakim bin Hizam Radhiyallahu’anhu: “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang ibadah yang telah aku lakukan di masa jahiliyah seperi sedekah, memerdekakan budak, dan silaturrahmi, apakah mendapat pahala?” Nabi ﷺ menjawab: “Engkau masuk Islam dengan (membawa) amal kebaikan yang telah engkau lakukan.”

(Dikeluarkan oleh Bukhari pada Kitab ke-24, Kitab Zakat dan bab ke-24, bab orang yang bersedekah semasa musyrik kemudian masuk Islam)

🏷 Maksudnya: mendapat pahala dari amal kebaikan yang dilakukan di masa jahiliyah, selama engkau melakukan amal seperti itu sesudah Islam.

Yasir bin Jabir berkata: Angin merah bergejolak di Kufah lalu seseorang datang, ia tidak memiliki kebiasaan lain selain berkata: Wahai Abdullah bin Mas’ud, kiamat telah tiba. Yasir berkata: Ibnu Mas’ud duduk setelah sebelumnya bersandar lalu berkata: Kiamat tidak terjadi hingga harta warisan tidak dibagi dan harta rampasan tidak membuat senang. Setelah itu ia berisyarat dengan tangannya seperti ini, ia menunjuk ke arah Syam lalu berkata: Musuh berkumpul untuk kaum muslimin dan kaum muslimin pun berkumpul untuk (menghadapi) mereka. Aku berkata: Romawi maksudmu? Ia menjawab: Ya, saat perang itu terjadi serangan besar-besaran. Kaum muslimin mengirim sekelompok pasukan agar mati, tidak kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka menyerang hingga malam hari lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidak menang dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Kaum muslimin mengirim sepasukan untuk mati, agar tidak kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka menyerang hingga malam hari lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidak menang dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Kaum muslimin mengirim sepasukan untuk mati, agar tidak kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka menyerang hingga malam hari lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidak menang dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Pada hari keempat, sisa kaum muslimin yang masih ada maju lalu Allah menjadikan kekalahan atas mereka. Mereka membunuh banyak pasukan, mungkin ia berkata: Tidak terlihat sepertinya, atau mengatakan: Tidak terlihat sepertinya (LAM YURAA MITSLUHAA atau LAM YURA MITSLUHAA), hingga burung-burung berterbangan melintasi segala penjuru mereka dan tidaklah melintasi mereka melainkan pasti tersungkur mati. Satu kabilah menghitung, tadinya berjumlah seratus orang tapi mereka hanya menjumpai satu orang saja, lalu harta rampasan perang mana yang bisa membuat senang atau harta peninggalan mana yang bisa dibagikan. Saat mereka seperti itu, mereka tiba-tiba mendengar serangan lebih besar darinya kemudian orang yang berteriak mendatangi mereka bahwa Dajjal telah mengganti mereka dikeluarga mereka lalu mereka membuang yang ada ditangan mereka kemudian pulang, setelah itu mereka mengirim sepuluh tentara berkuda ke depan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui nama-nama mereka, nama-nama ayah mereka dan warna kuda mereka. Mereka adalah tentara berkuda terbaik di muka bumi saat itu atau diantara tentara berkuda yang terbaik di atas bumi saat itu.” 

Orang-orang yang selalu was-was itu berkata, “Kami melakukan hal itu karena kami berhati-hati dalam urusan agama kami, serta untuk mengamalkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu’.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad dari Al-Hasan bin Ali dengan sanad shahih).

Dan sabda beliau, “Siapa yang menjaga syubhat maka dia telah membebaskan dirinya (dari tuduhan) dalam hal agama dan kehormatannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim dari Nu’man bin Basyir).

Dan sabda beliau, “Dosa adalah apa yang terdetik (sebagai dosa) dalam hatimu.” (Diriwayatkan Muslim dari An-Nuwas bin Sam’an).

Dan sebagian salaf berkata, “Dosa adalah hawaz hati.” (Maksudnya, segala sesuatu yang tersimpan dalam hati, dan ditakutkan berupa maksiat yang dilakukan hamba).

Hujan adalah nikmat yang besar, dengannya akan terlaksana kehidupan di dunia, semua mahluk di dunia membutuhkan air, dan jika Allah tahan hujan beberapa waktu maka kehidupan akan hancur.

Banyak negeri yang tidak dianugrahi nikmat ini. Oleh karena itu agar kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur dan nikmat yang diberikan tidak menjadi sumber bencana, maka mari kita sebagai seorang muslim mari kita pelajari dan amalkan adab-adab yaitu dzikir ketika hujan baik sebelum, sesudah ataupun pada saat hujan.

Allah ﷻ berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan (manfaat), daripada mudharatnya (keburukan).

Telah menceritakan kepada kami Abdulmalik bin Syu’aib bin Al Laits telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Wahab telah mengkhabarkan kepadaku Al Laits bin Sa’ad telah menceritakan kepadaku Musa bin Ali dar ayahnya berkata: Al Mustaurid Al Qurasy berkata didekat Amru bin Al Ash: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kiamat terjadi dan Romawi adalah manusia yang paling banyak.” Amru berkata: Perhatikan ucapanmu. Ia berkata: Aku mengatakan yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Ia berkata: Bila kau katakan demikian, pada diri mereka terdapat empat hal; mereka adalah orang-orang yang paling sabar saat terjadi fitnah, paling cepat miskin saat terjadi musibah, paling cepat menyerang setelah mundur, dan yang terbaik dari mereka terhadap orang miskin, anak yatim dan orang lemah. Yang kelima adalah yang menawan dan cantik serta paling tahan terhadap kelaliman para raja.

📝 Syarah Hadits:

Beliau Al Mustaurid Al Qurasy Radhiyallahu’anhu tatkala mendengar hadits ini masih kecil, setelah dewasa beliau meriwayatkan hadits ini dan memahami apa yang disampaikan. Meninggal pada 45H.

Sahabat Nabi adalah siapa saja yang berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan Islam dan mati dalam keadaan Islam. Meskipun sebelumnya murtad seperti al-‘Asyats bin Qais, ‘Amru bin Ma’dikarib dan selainnya.

Sedangkan Amru bin Al Ash Radhiyallahu’anhu terkenal dengan cendekiawan Arab karena kecerdasannya. Meninggal pada 43H.

381. Dari Mu’az Radhiyallahu’anhu, katanya: “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah ‘Azzawajalla berfirman: “Orang-orang yang saling cinta-mencintai karena keagunganKu, maka mereka itu akan memiliki mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan pula oleh para nabi dan para syahid -mati dalam peperangan untuk membela agama Allah-.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadis hasan shahih.

📝 Syarah Hadits:

Hadits ini menjelaskan tentang keinginan para nabi dan syuhada terhadap Orang-orang yang saling cinta-mencintai karena Allâh ﷻ. Dimana mereka akan memiliki mimbar-mimbar dari cahaya.

Inilah sifat hasad yang diperbolehkan, dinamakan ghibthah. Ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat orang lain hilang.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816].

Sifat hasad yang buruk kelak akan dihilangkan dari penduduk surga dan akan ditambah pada penduduk neraka.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. (166)

Mutiara Salaf