Artikel Islam
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
Kumpulan video kajian dari beberapa asatidzah salaf yang layak kita ikuti dan dengarkan sebagai penambah ilmu agama kita.
Download materi e-book, media dan lainnya sebagai bahan referensi.
Dari Anas radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti Aku mengampunkan dosa yang telah kamu lakukan, dan Aku tidak peduli berapa pun banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu memohon keampunan kepada-Ku, pasti Aku mengampunimu. Wahai anak Adam, sesungguhnya seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu mengharap kepada-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku, maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi banyaknya itu.”
[HR. At-Tirmidzi no. 3540 Shahih Lighairihi karena banyak hadits penguat lainnya, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Sahihul Jami no. 4338 dan As-Sahihah no. 127
Dalam Mendekatkan Diri kepada Allah, Mereka Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram. Beribadah dengan mengharamkan yang halal, sebagaimana mereka beribadah dengan kesyirikan.
Termasuk perkara jahiliyah yaitu ibadah mereka, yakni mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan mengharamkan perkara yang diewajibkan Allah ﷻ. Mereka mengharamkan menutup aurat dalam thawaf sebagaimana kondisi orang-orang musyrik dahulu.
Menjadikan Ulama dan Ahli Ibadah Sebagai Sesembahan Selain Allah ﷻ: Beribadah dengan menjadikan para pendeta sebagai Tuhan-tuhan selain Allah.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku sentiasa bersamanya selama dia mengingati Aku. Demi Allah, Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kamu semua yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hamba-Ku itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil.” (Muttafaq ‘alaih)
441. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu, bahwasanya dia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda tiga hari sebelum beliau wafat: “Jangan sampai salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ﷻ.”
Sesungguhnya setiap kelompok mengkalim kelompoknya yang selamat. Maka Allah medustakan mereka dengan firman-Nya:
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar “. ( QS. al-baqarah : 111 ).
Kemudian Allah menjelaskan kebenaran dengan firman-Nya :
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan ” . (QS. al-Baqarah : 102 ).
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku sentiasa bersamanya selama dia mengingati Aku. Demi Allah, Allah lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kamu semua yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sehasta dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku dalam jarak sehasta, maka Aku mendekat padanya dalam jarak sedepa. Jikalau hamba-Ku itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil.”
Ini disebutkan dalam salah satu riwayat Imam Muslim.
Daripada Abu Musa Al-Asy’ri radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila Allah hendak memberikan rahmat kepada suatu umat, maka Dia mewafatkan nabinya terlebih dahulu sebelum umat itu, maka jadilah nabi itu sebagai perintis dan pendahulu bagi umat itu. Dan apabila Allah hendak membinasakan suatu umat, disiksa-Nya umat itu, sedangkan nabinya masih hidup. Lalu umat itu binasa disaksikan nabinya dengan mata kepalanya, ketika mereka mendustakan dan mengingkari perintahnya.” – [Shahih Muslim no. 2288]
Hadist ini dibawakan di bab raja, kaitanya adalah bahwa umat ini manakala Nabi ﷺ wafat dan kita masih ada, menunjukkan umat ini umat yang dirahmati. Yang Allah ﷻ tidak menginginkan kebinasaan pada umat ini, karena Rasulullah ﷺ wafat duluan. Yang dimaksud adalah umat secara keseluruhannya.
Keutamaan umat Nabi ﷺ lainnya yang telah dijelaskan antara lain: Menjadi saksi bagi umat-umat yang lainya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 143: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]
Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!
Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.