بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Memahami Iman Kepada Allah ﷻ
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Senin, 25 Rabi’ul Awal 1448 / 07 September 2026
🕰 | Waktu: 20:00 WQ | 00:00 WIB



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah ﷻ jadikan semua manusia terlahir dalam kondisi memiliki fitrah. Dengan bekal fitrah inilah mereka bisa mengenali siapa Penciptanya. Allah ﷻ berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah ﷻ yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah ﷻ. (QS. Ar-Rum: 30)

Ibnu Katsir menjelaskan,

فإنه تعالى فطر خلقه علی معرفته وتوحیده، وأنه لا إله غیره

Sesungguhnya Allah ﷻ Ta‘ala telah menciptakan makhluk-Nya di atas fitrah untuk mengenal-Nya dan mentauhidkan-Nya, serta meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/313)

Bahkan Allah ﷻ telah mengambil perjanjian dengan Bani Adam, saat mereka berada di tulang sulbi Adam. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذْ أخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ ألَسْتُ بِرَبِّكُمْ-قَالُوا بَلَى. شَهِدْنَا

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari anak-anak Adam, dari sulbi mereka, keturunan mereka, dan Allah ﷻ mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’” (QS. Al-A‘rāf: 172)

Ibnu Abbas mengatakan,

إنَّ اللهَ تعالى أخذَ الميثاقَ من ظَهرِ آدمَ عليهِ السَّلامُ بنعمانَ یومَ عرفةَ فأخرجَ من صلبِه کلَّ ذرِیَّةٍ ذراها فنثرَها بينَ يديه ثمَّ كلَّمَهم قُبُلًا

“Sesungguhnya Allah ﷻ Ta‘ala telah mengambil perjanjian dari punggung Nabi Adam ‘alaihis salam di lembah Na‘mān pada hari ‘Arafah. Lalu Dia mengeluarkan dari tulang sulbinya seluruh keturunannya yang Dia ciptakan, kemudian Dia menebarkan mereka di hadapan-Nya, lalu Dia berbicara kepada mereka secara langsung berhadap-hadapan.” (HR. Ahmad 2455 dan Nasai dalam al-Kubro 11191)

Namun dalam perjalanannya, fitrah ini mengalami penyimpangan, disebabkan interaksi lingkungan dan pengaruh godaan setan yang mengajak manusia untuk durhaka kepada Sang Pengatur alam semesta.

Dalam hadis qudsi, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwa Allah ﷻ berfirman,

إني خلقتُ عبادي حنفاءَ فاجتالتْهم الشياطينُ فحرَّمتْ عليهم ما أحللتُ لهم وأمرتهم أن یشرکوا بي ما لم أُنزِّل به سلطانًا

Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (condong kepada tauhid), kemudian mereka dipalingkan oleh setan-setan, lalu mengharamkan apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk berbuat syirik dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan dalil atasnya. (HR. Muslim 2865 dan Ibnu Hibban 653)

Menyadari akan hal ini, seorang mukmin harus selalu menjaga kedekatan dia dengan Allah ﷻ, sebagaimana setan selalu berupaya untuk menjauhkan hatinya dari Allah ﷻ. Ketika hati manusia dibiarkan kosong dari mengenal Allah ﷻ, bisa jadi dia akan mengalami penyimpangan yang semakin parah, hingga pada titik kekufuran.

Di bagian ini, kita akan memberikan beberapa catatan terkait iman kepada Allah ﷻ. Semoga bisa meningkatkan kualitas iman dan keyakinan.

Table of Contents

Pertama, Iman kepada Allah ﷻ adalah asas semua rukun iman

Iman kepada Allah ﷻ merupakan asas dari semua rukun iman lainnya. Karena ketika seseorang tidak beriman kepada Allah ﷻ, tidak mungkin dia beriman kepada para malaikat, kitab-kitab, para nabi, maupun qadha dan qadar, serta hal ghaib lainnya yang telah Allah ﷻ sampaikan. Sebab semua kebenaran rukun iman itu, berasal dari wahyu Allah ﷻ.

Seperti kondisi orang musyrikin quraisy, mereka mengakui keberadaan Allah ﷻ, namun mengingkari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mengingkari al-Quran dan keberadaan hari akhir.

Allah ﷻ berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤفَكُونَ

“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah ﷻ.’ Maka bagaimana mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Ankabut: 61)

Di saat yang sama, mereka menolak al-Quran sebagai wahyu Allah ﷻ dan menolak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai utusan Allah ﷻ.

Allah ﷻ menceritakan bagaimana sikap mereka kepada Nabi Muhammad dan al- Quran,

وَقَالُوا يَاأيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ () لَوْ مَا تَأْتِینَا بالمَلَائِكَةِ إِنْ کُنْتَ مِنَ الصَّادِقِینَ

“Dan mereka berkata, ‘Wahai orang yang diturunkan kepadanya adz-Dzikr (Al- Qur’an), sesungguhnya engkau benar-benar orang gila. ( ) Mengapa kamu tidak mendatangkan para malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang- orang yang benar?” (QS. Al-Hijr: 6-7)

Ayat-ayat di atas menceritakan kondisi orang kafir. Mereka meyakini adanya Allah ﷻ, juga meyakini adanya Malaikat. Namun mereka mengingkari al-Quran dan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Padahal mengingkari salah satu dari 6 rukun iman bagian manapun, statusnya keluar dari islam.

*****

Kedua, Definisi iman kepada Allah ﷻ

Dr. Abdullah al-Jibrin dalam Mukhtashar Tashil al-Aqidah mendefinisikan iman kepada Allah ﷻ, Iman kepada Allah ﷻ artinya mengakui dengan sebenar-benarnya tentang keberadaan Allah ﷻ, semua nama dan sifat-Nya, kekuasaan-Nya terhadap alam semesta, serta hak-Nya yang harus ditunaikan hamba. (hlm. 21)

Berdasarkan definisi di atas, inti dari beriman kepada Allah ﷻ berporos pada 2 hal mendasar:

[1] Mengenal Allah ﷻ

Meliputi mengenal nama, sifat, perbuatan, serta semua ketetapan Allah ﷻ untuk hamba-Nya. Inilah yang dibahas dalam kajian tauhid rububiyah dan tauhid asma wa sifat. Atau yang diistilahkan dengan tauhid al-Ilmi al-Khabari.

[2] Mengenal kewajiban hamba kepada Allah ﷻ

Baik kewajiban berkaitan dengan menyembah kepada Allah ﷻ semata (bertauhid), maupun kewajiban untuk menjalankan ketetapan syariat-Nya. Dalam kajian tauhid, ini dibahas dalam tema tauhid Uluhiyah, atau yang sering diistilahkan dengan tauhid al-Ibadah.

Ibnul Qayyim menyebutnya dengan dua tauhid yang menjadi kunci kebahagiaan semua kehidupan. Beliau mengatakan,

وملاك النجاة والسعادة والفوز بتحقيق التوحيدين اللذين عليهما مدار كتب الله تعالى وبتحقيقهما بعث الله سبحانه وتعالی رسوله صلی الله علیه وسلم، والیهما رغب الرسل صلوات الله وسلامه عليهم ” كلهم” من أولهم إلی آخرهم.

“Kunci keselamatan, kebahagiaan, dan keberuntungan adalah dengan mewujudkan dua bentuk tauhid, yang menjadi inti dari seluruh kitab-kitab Allah ﷻ Ta‘ala. Demi menegakkan keduanya, Allah ﷻ Subhanahu wa Ta‘ala mengutus Rasul-Nya ﷺ. Kepada dua tauhid inilah semua para rasul—dari yang pertama hingga yang terakhir—mengajak umat mereka.”

Lalu beliau menyebutkan rincian 2 jenis tauhid itu,

أحدهما التوحيد العلمي الخبري الاعتقادي المتضمن إثبات صفات الكمال لله تعالى وتنزيهه فيها عن التشبیه والتمثیل وتنزيهه عن صفات النقص .والتوحید الثاني: عبادته وحده لا شریك له، وتجرید محبته، والإخلاص له، وخوفه ورجاؤه، والتوکل علیه، والرضی به ربا وإلها وولیا وأن لا یجعل له عدلا في شيء من الأشیاء

Yang pertama tauhid Ilmi al-khabari al-I’tiqadi (tauhid soal pengetahuan dan keyakinan). Ini mencakup pengakuan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat-sifat kesempurnaan, menyucikan-Nya dari segala bentuk penyamaan atau penyerupaan (dengan makhluk), serta menyucikan-Nya dari segala sifat kekurangan.

Tauhid yang kedua adalah tauhid dalam ibadah. Yaitu beribadah hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun. Mencintai-Nya secara tulus, ikhlas dalam beramal karena-Nya, takut dan berharap hanya kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, ridha terhadap-Nya sebagai Rabb, Tuhan, dan Pelindung—serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal apapun. (Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, 2/93).

*****

Ketiga, tujuan manusia diciptakan adalah untuk mewujudkan tauhid.

Dalam al-Quran ada beberapa ayat yang menjelaskan tujuan penciptaan alam semesta. Berikut rinciannya,

[1] Firman Allah ﷻ tentang tujuan penciptaan langit dan bumi beserta isinya,

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًاࣖ ۝١٢

“Allah ﷻ-lah yang menciptakan tujuh langit, dan dari bumi juga seperti itu. Ketetapan-Nya turun di antara semuanya, supaya kalian tahu bahwa Allah ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu Allah ﷻ itu meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalak : 12)

Ayat ini menjelaskan : bahwa tujuan Allah ﷻ menciptakan langit, bumi, berikut isinya agar hamba mengenal siapa Allah ﷻ, Sang Pencipta yang mengatur segalanya dan berikut sifat-Nya. Inilah yang disebut tauhid Ilmi al-khabari.

[2] Firman Allah ﷻ tentang tujuan penciptaan jin dan manusia

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah- Ku.” (QS. Ad-Dzariyat: 56)

Allah ﷻ juga berfirman menjelaskan tujuan Allah ﷻ ciptakan kehidupan dan kematian,

اَلَّذِيۡ خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَالۡحَيٰوةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ اَيُّكُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡغَفُوۡرُ ۙ

“Dialah (Allah ﷻ) yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ayat-ayat ini menjelaskan tentang tugas dan kewajiban hamba kepada Allah ﷻ adalah beribadah hanya kepada-Nya dan menjalankan ketaatan secara ikhlas kepada-Nya.

*****

Keempat, Pembagian Tauhid yang Tiga

Bagaimana penjelasan tentang pembagian tauhid menjadi tiga?

Secara bahasa, tauhid berasal dari kata: wahhada – yuwahhidu – tauhiidan [اديحوت – دحوي – دحو] yang berarti “menjadikan satu” atau “meng-Esa-kan”. Sehingga istilah men-tauhidkan Allah ﷻ berarti pengakuan hamba terhadap keesaan Allah ﷻ. Maha Esa Dzat-Nya, perbuatan-Nya, nama dan sifat-Nya, dan apapun yang menjadi hak-Nya.

Dengan menyimak semua dalil yang menjelaskan tentang Allah ﷻ, para ulama merangkum bahwa yang harus di-Esa-kan ada 3:

[1] Dzat Allah ﷻ berikut semua nama dan sifat-Nya. Inilah tauhid asma’ wa shifat. [2] Perbuatan Allah ﷻ kepada makhluk-Nya. Disebut dengan tauhid rububiyah.

[3] Hak Allah ﷻ yang harus ditunaikan hamba. Disebut dengan tauhid uluhiyah atau ubudiyah.

Berikut penjelasan lebih rinci dari ketiga tauhid di atas,

[1] Tauhid rububiyah

Pengakuan hamba akan keesaan Allah ﷻ terhadap perbuatan Allah ﷻ kepada makhluk-Nya, seperti menciptakan, mengatur, menghidupkan mematikan, memberi rizki, yang menurunkan wahyu, dan semacamnya.

Termasuk rububiyah Allah ﷻ di akhirat, seperti menghisab, memutuskan perkara, memasukkan makhluk ke surga, atau ke neraka. Allah ﷻ berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, hanya milik-Nya-lah segala ciptaan dan urusan. Maha Suci Allah ﷻ, Rab seluruh alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

[2] Tauhid uluhiyah

Pengakuan hamba akan keesaan Allah ﷻ terhadap apa saja yang menjadi hak- Nya, yang harus ditunaikan hamba-Nya. Seperti mengakui bahwa semua bentuk ibadah hanya hak Allah ﷻ, tawakal, rasa takut dan rasa harap yang diiringi pengagungan, hanya milik Allah ﷻ.

Allah ﷻ menegaskan bahwa manusia tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada-Nya,

وَقَصَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّاّ إِيَّاهُ

“Rabmu telah memutuskan (menetapkan), bahwa kalian tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada-Nya.” (QS. Al-Isra: 23)

[3] Tauhid Asma wa shifat

Pengakuan hamba bahwa Allah ﷻ memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran dan hadis yang shahih. Ahlus sunah memahami dalil tentang nama dan sifat Allah ﷻ sesuai dengan makna dzahir, yaitu makna yang bisa langsung dipahami (al-Mutabadar lid Dzihni), tanpa melakukan takwil, tafwidh, atau tahrif.

Sebagaimana yang Allah ﷻ ajarkan,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ في أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُّوا يَعْمَلُونَ

“Allah ﷻ punya nama-nama yang paling indah. Jadi, berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu. Jauhi orang-orang yang menyalahgunakan nama-nama Allah ﷻ, karena mereka akan mendapatkan balasan atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)

Allah ﷻ juga berfirman,

لَيْسَ گَمِثْلِه شَئءٌ وهُوَ السَّمِیعُ البصِیرُ

“Tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 11)

Ayat ini memberikan arahan bahwa Allah ﷻ memiliki nama dan sifat yang wajib diyakini, namun tidak boleh disamakan dengan semua yang ada pada makhluk- Nya.

*****

Kelima, Siapa yang pertama kali membagi tauhid menjadi tiga?

Sebagian mengklaim bahwa yang pertama membagi tauhid menjadi 3 adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H). Ada juga yang mengatakan bahwa yang pertama kali yang melakukannya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1206 H). Bahkan ada yang menegaskan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah kesesatan wahabi.

Sepakat dan tidak sepakat, seperti itulah komentar sebagian orang. Terlepas dari latar belakang komentar mereka, apakah karena didasari kebencian terhadap dakwah tauhid ataukah karena faktor lain, yang jelas komentar itu adalah bukti kegagalan mereka dalam memahami hakekat dari pembagian tauhid.

Semoga anda tidak senasib dengan mereka. Karena itu, mari kita sama-sama memahami esensi dari pembagian ini.

[1] Hampir di semua disiplin ilmu ada pembagian.

Baik ilmu agama maupun ilmu dunia, di sana ada rincian dan pembagian. Dalam ilmu pengetahuan alam, kita diperkenalkan bahwa benda dibagi 3 : padat, cair dan gas. Dalam ilmu kelistrikan kita diperkenalkan bahwa listrik dibagi 2: arus kuat dan listrik arus lemah. Dalam arsitek, dibagi menjadi arsitek tata kota dan arsitek bangunan, dan seterusnya.

Demikian pula dalam berbagai disiplin ilmu agama, di sana ada banyak pembagian. Dalam ilmu fikih, kita diperkenalkan bahwa fikih ada 4: ibadah, muamalah, usrah, dan qadha.

Dalam fikih shalat kita diperkenalkan dengan pembagian: syarat, rukun, wajib, sunah shalat. Dan seterusnya.

Termasuk juga dalam kajian ilmu aqidah, kita diperkenalkan dengan pembagian tauhid, pembagian syirik, dst.

Termasuk juga pembagian tentang sifat-sifat Allah ﷻ: sifat wajib, sifat jaiz, dan sifat mustahil bagi Allah ﷻ.

[2] Tujuan para ulama melakukan pembagian itu adalah untuk menjelaskan peta kajian dalam disiplin ilmu tersebut. Agar memudahkan bagi para pembelajar yang ingin mengkaji dan mendalami ilmu tersebut.

Karena ketika seseorang memahami sebuah peta sebuah ilmu, akan membuat dia lebih bisa mengukur tingkat pemahaman dan kemampuannya di setiap disiplin ilmu.

[3] Pembagian dalam semua disiplin ilmu, umumnya dilakukan oleh mereka yang sudah menguasai semua bagian di dalam ilmu itu. Karena itu, tingkat kebenarannya bisa diukur dengan melihat kesesuaiannya terhadap realita. Apabila pembagian itu sesuai realita, bisa diterima, dan sebaliknya, jika tidak sesuai realita, perlu dikoreksi.

Contoh:

Jika ada orang membagi: Jenis kelamin manusia ada 3: Lelaki, perempuan dan custom. Kita akan menilai, pembagian ini salah. Sebab jenis kelamin custom atau transgender, tidak diakui. Sehingga yang benar, jenis kelamin manusia ada 2: lelaki dan perempuan.

[4] Terkadang terjadi perbedaan diantara para ulama, karena beda pendekatan, namun pada prinsipnya esensinya sama.

Seperti perbedaan di kalangan ulama:

  • [Pertama] Ada yang menyebutkan bahwa tauhid dibagi tiga. Seperti keterangan Ibnu Batthah al-Ukbari atau keterangan al-Jurjani.
  • [Kedua] ada juga yang membagi tauhid menjadi dua. Seperti keterangan Ibnul Qoyim.

Masing-masing memiliki sudut pandang yang berbeda, namun hakekatnya sama.

Berikut keterangan para ulama mengenai pembagian tauhid,

[1] Ibnu Batthah al-Ukbari [Ubaidullah bin Muhammad Ibnu Batthah al-Ukbari  – ahli hadis,  Syaikhul Iraq, wafat tahun 387 H].

Dalam al-Ibanah al-Kubro, beliau menyebutkan,

وذلك أن أصل الإیمان بالله الذي یجب علی الخلق اعتقاده في إثبات الإیمان به ثلاثة أشیاء:

Sesungguhnya pokok iman kepada Allah ﷻ yang wajib diyakini oleh makhluk dalam menetapkan keimanan kepada-Nya ada tiga hal:

أحدها: أن يعتقد العبد آنيته ليكون بذلك مباينا لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعا.

  1. Bahwa seorang hamba meyakini adanya Allah ﷻ, agar dengan keyakinan itu ia berbeda dari madzhab ahlut-ta‘thil (golongan yang meniadakan sifat dan keberadaan Tuhan) yang tidak menetapkan adanya Sang Pencipta.

ف هعم اوكشأو عناصلاب اورقأ نيذلا كشلا لهأ بهاذم كلذب انيابم نوكيل ،هتينادحو دقتعي نأ :ناثلا.هيغ ةدابعلا

  1. Bahwa ia meyakini keesaan-Nya (tauhid-Nya), agar dengan keyakinan itu ia berbeda dari madzhab orang-orang musyrik, yang memang mengakui adanya Sang Pencipta, namun mereka menyekutukan-Nya dengan makhluk lain dalam ibadah.

والثالث: أن يعتقده موصوفا بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفا بها من العلم والقدرة والحکمة وسائر ما وصف به نفسه في کتابه

  1. Bahwa ia meyakini bahwa Allah ﷻ memiliki sifat-sifat yang hanya layak bagiNya, seperti ilmu, kekuasaan, hikmah (kebijaksanaan), dan seluruh sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya.

(al-Ibanah al-Kubro, 6/149)

Keterangan Ibnu Batthah ini sangat tegas menunjukkan pembagian tauhid secara keseluruhan.

[2] Keterangan Al-Jurjani [As-Syarif  Ali bin Muhammad al-Jurjani,  penulis  at-Ta’rifat, ahli bahasa dari Gorgan Iran, wafat tahun 807 H.]

Dalam at-Ta’rifat, beliau mengatakan,

التَّوحيدُ ثلاثةُ أشياءَ: مَعرِفةُ الله تعالى بالرُّبوبيَّةِ، والإقرارُ بالوحدانیَّةِ، ونفيُ الأندادِ عنه جملةً

Tauhid itu mencakup tiga hal: mengenal Allah ﷻ Ta’ala sebagai Tuhan yang Maha Mengatur (rububiyah), mengakui bahwa hanya Allah ﷻ yang satu (tidak ada sekutu), dan meniadakan segala tandingan bagi-Nya secara keseluruhan. (at- Ta’rifat, hlm. 69)

Penjelasan al-Jurjani sangat mewakili pembagian tauhid pada umumnya, yaitu tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat, dimana prinsipnya adalah meniadakan segala tandingan untuk-Nya.

[3] Keterangan Ibnul Qoyim [Muhammad bin Abu Bakr bin Ayub ad-Dimasyqi. Ayahnya adalah pengurus madrasah al-Jauziyah (Qoyim al-Jauziyah), sehingga anaknya dikenal dengan Ibnu Qoyim al-Jauziyah. Wafat tahun 751 H].

وملاك النجاة والسعادة والفوز بتحقيق التوحيدين اللذين عليهما مدار کتب الله تعالی وبتحقیقهما بعث الله سبحانه وتعالی رسوله صلی الله علیه وسلم، والیهما رغب الرسل صلوات الله وسلامه علیهم ” كلهم ” من أولهم إلی آخرهم.

“Kunci keselamatan, kebahagiaan, dan keberuntungan adalah dengan mewujudkan dua bentuk tauhid, yang menjadi inti dari seluruh kitab-kitab Allah ﷻ Ta‘ala. Demi menegakkan keduanya, Allah ﷻ Subhanahu wa Ta‘ala mengutus Rasul-Nya ﷺ. Kepada dua tauhid inilah semua para rasul—dari yang pertama hingga yang terakhir—mengajak umat mereka.”

Lalu beliau menyebutkan rincian 2 jenis tauhid itu,

أحدهما التوحيد العلمي الخبري الاعتقادي المتضمن إثبات صفات الكمال لله تعالى وتنزيهه فيها عن التشبیه والتمثیل وتنزیهه عن صفات النقص .والتوحید الثاني: عبادته وحده لا شریك له، وتجرید محبته، والإخلاص له، وخوفه ورجاؤه، والتوکل علیه، والرضی به ربا والها وولیا وأن لا یجعل له عدلا في شيء من الأشیاء

Yang pertama tauhid Ilmi al-khabari al-I’tiqadi (tauhid soal pengetahuan dan keyakinan). Ini mencakup pengakuan bahwa Allah ﷻ memiliki sifat-sifat kesempurnaan, menyucikan-Nya dari segala bentuk penyamaan atau penyerupaan (dengan makhluk), serta menyucikan-Nya dari segala sifat kekurangan.

Tauhid yang kedua adalah tauhid dalam ibadah. Yaitu beribadah hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun. Mencintai-Nya secara tulus, ikhlas dalam beramal karena-Nya, takut dan berharap hanya kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, ridha terhadap-Nya sebagai Rabb, Tuhan, dan Pelindung—serta tidak menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal apapun. (Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, 2/93)

Pada penjelasan Ibnul Qoyim, beliau membagi tauhid menjadi 2:

  1. Tauhid keyakinan, itulah tauhid tentang apa saja yang harus kita yakini tentang Allah ﷻ, meliputi tauhid rububiyah dan asma wa sifat.
  2. Tauhid amalan, itulah tauhid yang membahas tentang kewajiban kita kepada Allah ﷻ, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan itulah tauhid uluhiyah.

Siapa yang Pertama Kali Membagi Tauhid Menjadi Tiga?

Jadi siapa yang pertama kali membagi tauhid menjadi tiga? Dengan melihat keterangan Ibnu Batthah al-Ukbari dan al-Jurjani, mohon tidak ada lagi yang mengatakan bahwa yang pertama kali membaginya adalah Syaikh Muhammd bin Abdul Wahab. Ibnu Batthah wafat tahun 387 H, al-Jurjani wafat tahun 807 H, sementara Muhammad Abdul Wahab wafat tahun 1206 H.

Meskipun, menurut saya, pertanyaan ini tidak menyentuh hal yang prinsip dalam kajian tauhid. Sama halnya ketika anda bertanya, ‘Siapa yang pertama kali membagi shalat menjadi rukun, wajib, dan sunah?’

‘Siapa yang pertama membagi kata dalam bahasa arab menjadi 3: isim, fiil, dan huruf?.’ ‘Siapa yang pertama kali membagi hadis menjadi mutawatir dan ahad?.’ dst.

Siapapun yang pertama kali membaginya, sepanjang pembagian itu sesuai dengan realita, kita menilainya sebagai pembagian yang benar.

*****

Keenam, Tauhid Mulkiyah atau Hakimiyah

Bagaimana dengan orang yang membagi tauhid menjadi 4: Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa sifat, dan Mulkiyah?. Mereka menambahkan satu jenis tauhid, yaitu tauhid mulkiyah dan hakimiyah. Makna dari tauhid ini adalah meyakini bahwa satu-satunya Dzat yang berhak menetapkan hukum adalah Allah ﷻ.

Keberadaan Tauhid Mulkiyah ini benar. Namun apakah kita perlu menjadikannya sebagai salah satu bagian yang terpisah?

Saya ajak anda untuk menyimak ilustrasi berikut ini.

Ada orang membagi manusia berdasarkan jenis kelaminnya menjadi 3:  [1] Laki-laki, [2] Perempuan, [3] Anak-anak

Bagaimana menurut anda?

Anda akan menilai, cara pembagian semacam ini tidak benar, karena anak-anak tidak perlu disendirikan. Meskipun keberadaan manusia yang berusia anak- anak itu benar adanya, namun mereka ada yang laki-laki dan perempuan.

Tauhid Hakimiyah dengan makna meyakini satu-satunya Dzat yang berhak menetapkan hukum adalah Allah ﷻ adalah benar adanya, namun tauhid ini sudah menjadi bagian dari tauhid rububiyah. Karena menetapkan hukum bagian dari perbuatan Allah ﷻ terhadap hamba-Nya.

*****

Ketujuh, Allah ﷻ banyak memperkenalkan diri-Nya dalam al-Quran

Allah ﷻ memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya dengan menjelaskan nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Allah ﷻ tunjukkan bahwa bahwa yang disembah hamba-Nya bukan dzat yang tidak ada, namun Dzat yang Maha Kuasa atas segalanya, yang memiliki nama dan sifat yang sempurna.

Surat maupun ayat al-Quran yang menyebutkan tentang Allah ﷻ, umumnya memiliki keutamaan khusus. Diantaranya,

[1] Surat al-Fatihah

Di empat ayat pertama dari surat ini, Allah ﷻ menyebutkan tentang siapa diri- Nya. Allah ﷻ berfirman,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ () الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ () الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ () مَالِكِ یَومِ الدِینِ

Dengan menyebut nama Allah ﷻ Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. ( ) Segala puji bagi Allah ﷻ, Tuhan semesta alam. ( ) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. ( ) Yang menguasai di Hari Pembalasan.

Keutamaan surat ini sangat banyak sekali, diantaranya surat ini dijadikan sebagai rukun shalat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga menyebut surat ini dengan al-Qur’an yang agung. Dari Abu Said bin al-Mu’alla bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Surat al-Fatihah adalah tujuh ayat yang diulang-ulang, dan Al-Qur’an yang agung yang telah diberikan kepadaku.”

[2] Surat al-Ikhlas

Surat ini dinamakan al-ikhlas dari kata al-Khalas yang artinya murni. Disebut surat al-ikhlas karena surat ini murni membahas tentang Allah ﷻ. Kita simak surat al-Ikhlas,

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ () اللّهُ الصَّمَدُ () لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ () وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوَا أَحَدٌ

Katakanlah (Muhammad): Dialah Allah ﷻ, Yang Maha Esa. ( ) Allah ﷻ adalah Tuhan tempat bergantung segala sesuatu. ( ) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. ( ) Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. (QS. Al- Ikhlas: 1-4)

Jika kita baca surat ini, dari ayat pertama hingga ayat terakhir semuanya bercerita tentang Allah ﷻ. Karena itu, surat ini memiliki banyak keutamaan, diantaranya, Hadis dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ في لَيْلَةٍ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ اللهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ

Apakah kalian merasa keberatan untuk membaca sepertiga al-Qur’an dalam semalam?”

Hal itupun terasa berat bagi para sahabat, lalu mereka berkata: “Siapa di antara kami yang mampu melakukannya, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

Allah ﷻul Wahidush Shamad(yaitu Surah Al-Ikhlas) adalah sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 5015)

[3] Ayat kursi

Satu ayat ini membahas nama dan sifat-sifat Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥

“Allah ﷻ, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Maha Tinggi, Maha Agung”.

Surat ini memiliki banyak keutamaan, diantaranya,

Dalam hadis dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah ditanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Ayat manakah yang paling agung dalam Al-Qur’an?”

أيُّ آيةٍ في كِتَاب الله أعظَمُ

Ubay bin Ka‘b menjawab: “Allah ﷻ dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi ﷺ terus mengulangi pertanyaan itu beberapa kali, sampai akhirnya Ubay bin Ka‘b menjawab: “Ayat yang paling agung adalah Ayat Kursi.”

Lalu Nabi ﷺ bersabda,

لِيُهَنِّك العِلْم أَبَا المُنذِر

“Selamat atas ilmu yang engkau miliki, wahai Abul Mundzir!” (HR. Muslim 810)

Musa Memperkenalkan Allah ﷻ

Nabi Musa ‘alaihis salam pernah ditanya oleh Fir ’aun tentang siapakah Allah ﷻ Rabbul ‘alamin. Nabi Musa menjawab dengan menyebutkan berbagai macam sifat Allah ﷻ. Allah ﷻ menceritakan dialog itu dalam al-Quran,

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ () قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ () قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ ألَا تَسْتَمِعُونَ () قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأْوَّلِينَ () قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ () قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعقِلُونَ

Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?” ( ) Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”. ( ) Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?” ( ) Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”. ( ) Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”. ( ) Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”. (QS. As-Syu’ara: 23-28)

Dalam dialog di atas, Nabi Musa ‘alaihis salam mempekenal rububiyah Allah ﷻ, bahwa Allah ﷻ-lah yang menciptakan dan mengatur alam berikut isinya. Yang menciptakan semua manusia termasuk Fir’aun dan nenek moyangnya.

*****

Kedelapan, Bukan Semata Mengakui Keberadaan Allah ﷻ

Mengakui keberadaan Allah ﷻ dialami oleh semua makhluk kecuali mereka yang atheis. Karena itu, semata mengakui keberadaan Allah ﷻ, belum bisa menjadikan seseorang berstatus sebagai mukmin.

Iblis mengakui keberadaan Allah ﷻ bahkan berdialog langsung dengan Allah ﷻ perihal penolakannya terhadap perintah untuk sujud kepada Adam.

قَالَ يَاإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِیَدَيَّ أَسْتَكْبِرْتَ أَمْ کُنْتَ مِنَ الْعَالِینَ () قَالَ أَنا خَیْر مِنْہُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ () قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَچِیمٌ

Allah ﷻberfirman: “Wahai Iblis, apa yang membuatmu enggan sujud kepada (Adam), yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apa kamu sombong, atau kamu merasa lebih tinggi dari yang lain?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik darinya! Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia dari tanah.” Allah ﷻberfirman: “Kalau begitu, keluarlah dari surga! Karena kamu termasuk yang terkutuk.” (QS. Shad : 75 – 77)

Demikian pula orang musyrikin, mereka mengakui keberadaan Allah ﷻ, bahkan juga mengakui kuasa Allah ﷻ atas alam semesta. Namun mereka tidak mau beribadah kepada Allah ﷻ semata. Allah ﷻ berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤفَكُونَ

“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah ﷻ.’ Maka bagaimana mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Ankabut: 61)

Demikian pula yang dialami Fir’aun yang mengaku Tuhan, dia mengakui bahwa Allah ﷻ itu ada dan mukjizat yang ditampakkan Musa itu datang dari Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman menceritakan ucapan Musa kepada Fira’un,

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإنِّ لَأَظْنُّكَ يَافِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

“Sungguh kamu sendiri sudah tahu, wahai Fir‘aun, bahwa yang menurunkan semua bukti mukjizat ini hanyalah Tuhan langit dan bumi, sebagai petunjuk yang jelas. Dan aku yakin, wahai Fir‘aun, kamu benar-benar orang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra: 102)

Meskipun demikian, pengakuan itu tidak menyebabkan mereka menjadi muslim. Karena sebatas mengakui Allah ﷻ itu ada, belum cukup untuk menjadikan orang sebagai orang yang beriman.

*****

Kesembilan, Fenomena Atheis

Di masa silam, sudah ada kelompok atheis, yang diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan ad-Dahriyun. Kata dahriyun sendiri berasal dari kata ad-Dahru yang artinya waktu. Karena kelompok ini meyakini bahwa hidup ini hanya masalah waktu. Manusia terlahir, beraktivitas, hingga meninggal, semua hanya karena waktu. Mereka tidak meyakini dengan keberadaan Allah ﷻ yang mengatur semuanya.

Allah ﷻ berfirman,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظْنُّونَ

Mereka berkata: ‘Hidup ini hanya di dunia aja, kita mati dan kita hidup, dan yang bikin kita binasa itu cuma waktu (perputaran zaman).’ Padahal mereka ngomong seperti itu tanpa ilmu, hanya asal nebak saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Ibnu Katsir mengatakan,

يخبر تعالى عن قول الدهرية من الكفار ومن وافقهم من مشركي العرب في إنکار المعاد …

“Allah ﷻ mengabarkan tentang ucapan orang-orang yang berpaham ‘dahriyah’ dari kalangan orang kafir, dan juga orang-orang musyrik Arab yang sepemikiran dengan mereka dalam hal mengingkari adanya kehidupan setelah mati (hari kebangkitan).”

Lalu Ibnu Katsir menyebutkan paham dahriyah belakangan,

ويقوله الفلاسفة الدهرية الدورية المنكرون للصانع المعتقدون أن في كل ستة وثلاثين ألف سنة يعود كل شيء إلى ما كان عليه. وزعموا أن هذا قد تكرر مرات لا تتناهى، فكابروا المعقول وكذبوا المنقول

“Itu juga yang dikatakan oleh para filsuf berpaham dahriyah yang percaya siklus (waktu) berulang, yang tidak meyakini adanya Sang Pencipta. Mereka percaya bahwa setiap 36.000 tahun, semua hal akan kembali seperti semula. Mereka klaim ini udah terjadi berkali-kali tanpa batas. Dengan keyakinan itu, mereka menentang akal sehat dan mendustakan wahyu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/268-269)

Paham kuno dahriyah sama seperti sebagian kepercayaan modern, misalnya paham materialisme atau penganut teori eternal universe[ Teori eternal universe atau alam semesta kekal adalah konsep dalam kosmologi yang menyatakan bahwa alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir — alam telah selalu  ada dan akan terus ada selamanya.]

Karena itu, jika saat ini ada fenomena atheis, sejatinya hanya mengulang sejarah. Dulu sudah ada manusia seperti itu. Sejarah itu berulang, yang beda hanya pelakunya.

*****

Kesepuluh, Dimana Allah ﷻ?

Bolehkah bertanya ‘Dimanakah Allah ﷻ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya semacam ini. Sehingga ini merupakan dalil bahwa bertanya di mana Allah ﷻ adalah pertanyaan yang tidak salah.

Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami melaporkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang tindakannya kepada budaknya,

يا رسولَ الله، جاريةٌ لي صَككتُها صَكَّةً، فعظّمَ ذلِكَ عليَّ رسولُ اللهِ صلَی اللهُ علَیهِ وسلَّمَ ، فقلتُ: أفلا أعتقُها؟ قالَ : ائتِني بِها ، قالَ: فَجِثْتُ بِها

Wahai Rasulullah, aku punya seorang budak perempuan, lalu aku menamparnya.

Rasulullah ﷺ menganggap apa yang aku lakukan hal yang berat.

Lalu aku berkata, Bagaimana jika sebaiknya aku memerdekakan saja?Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Bawa dia menghadap aku.” Kemudian aku pun membawa budak itu kepada Nabi ﷺ.

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya beberapa hal kepada budak itu,

Nabi ﷺ bertanya kepada budak perempuan itu: “Di mana Allah ﷻ?” Dia menjawab: “Di langit.”  Lalu beliau bertanya lagi:  “Siapa aku?” Dia menjawab: “Anda adalah Rasulullah.”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

أعتِقها فإنَّها مُؤمِنَةٌ

“Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah.” (HR. Muslim 537 dan Abu Daud 3282)

Keterangan:

Pertanyaan ‘di mana Allah ﷻ?’ dijadikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk menguji iman seseorang. Karena orang mukmin meyakini bahwa tuhan tidak berada di bumi. Kepercayaan bahwa tuhan ada di bumi atau tuhan ada di mana-mana adalah pernyataan kaum paganisme (penyembah berhala), karena mereka meyakini para berhala sebagai tuhannya.

Sementara mukmin meyakini bahwa Allah ﷻ berada di atas, terpisah dengan semua makhluk-Nya.

*****

Kesebelas, Ribuan Dalil yang Menegaskan Allah ﷻ Berada di Atas

Dalil yang menegaskan Allah ﷻ di atas bentuknya sangat beragam. Bahkan Ibnu Daqiqil Id menyebutkan bahwa ada sekitar 20 ragam bentuk dalil yang menegaskan Allah ﷻ di atas. Dalam Syarh Aqidah at-Thahawiyah dinyatakan,

النُّصوص الواردة المتنوّعة المُحكَمة على عُلُوّ الله على خَلقِه، وكونِه فوق عبادِه، التي تَقرُب من عِشرین نوعًا

“Terdapat banyak dalil yang beragam dan muhkamah (tegas serta jelas), yang menyatakan bahwa Allah ﷻ berada di atas makhluk-Nya, dan bahwa Dia berada di atas hamba-hamba-Nya, dan keragaman dalil tersebut mendekati 20 macam.” (Syarh Aqidah at-Thahawiyah, 2/380)

Satu ragam bisa terdiri dari banyak dalil. Ibnu Abil Iz menyebutkan rinciannya, diantaranya,

[1] Ayat yang menegaskan bahwa Allah ﷻ di atas,

Allah ﷻ berfirman,

یَخَافُونَ رَبَّھُم مِنْ فَوقِھِم

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka.” (QS. An- Nahl: 50)

Allah ﷻ juga berfirman,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dia-lah yang Maha Perkasa (yang menguasai) di atas hamba-hamba-Nya.” (QS. al-An’am: 18)

[2] Ada makhluk yang naik kepada-Nya

Allah ﷻ berfirman,

تَعْرُجُ الْمَلَائِگةُ وَالرُّوحُ إِلَیْهِ

“Para malaikat dan Ruh (yaitu Jibril) naik kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’arij : 4)

Allah ﷻ juga berfirman,

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّیِّبُ

“Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik.” (QS. Fathir: 10)

[3] Penegasan bahwa Allah ﷻ mengangkat sebagian makhluk kepada-Nya

Allah ﷻ berfirman,

بَلْ رَفَعَهُ اللهُ إِلَیْهِ

“Tetapi Allah ﷻ mengangkatnya kepada-Nya.” (QS. an-Nisa: 158) Ayat semacam ini ada di beberapa tempat dalam al-Quran.

[4] Penegasan bahwa Allah ﷻ adalah Dzat yang Maha Tinggi (al-Aliy) Allah ﷻ memiliki nama al-Aliy.

Allah ﷻ berfirman,

وَهُوَ الْعَليُّ الْعَظِیمُ

“Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS. al-Baqarah: 255) Dan ayat yang menyebutkan nama ini cukup banyak dalam al-Quran.

[5] Allah ﷻ menurunkan kitab atau rahmat atau kebaikan apapun bagi hamba.

Dan kata menurunkan menunjukkan bahwa Allah ﷻ berada di atas. Allah ﷻ berfirman,

إِنَّا أنْزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. al-Qadar: 1)

Allah ﷻ juga berfirman,

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللهِ الْعَزِيزِ الحَكِیمِ

“Penurunan Kitab ini (Al-Qur’an) berasal dari Allah ﷻ Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. az-Zumar: 1)

Dan masih banyak lagi, hingga sebagian ulama syafiiyah menyimpulkan bahwa dalam al-Quran ada lebih dari 1000 dalil yang menegaskan Allah ﷻ berada di atas. Karena semua ayat yang menunjukkan kata-kata naik, kata turun atau menurunkan, dan semisalnya, sangat banyak dalam al-Quran.

Ahmad bin Abdul Halim al-Haroni menyebutkan,

قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيّ: في الْقُرْآنِ “أَلَفُ دَلِيلٍ ” أَوْ أَزْيَدُ: تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ. وَقَالَ غَيْرُهُ: فِيهِ ” ثَلَاثُمِائَةِ “دَلَيلٍ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ

“Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah ﷻ itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.” (Majmu’ al-Fatawa, 5/121)

*****

Kedua belas, Sepakat Aqidah Imam 4 Madzhab: “Allah ﷻ Berada di Atas”

Berikut keterangan para imam madzhab bahwa Allah ﷻ berada di atas,

[1] Keterangan Abu Hanifah

قال أبو حنيفة : «من قال لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض فقد كفر، وکذا من قال إنه علی العرش ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض» (شرح الطحاوية – ابن أبي العزّ)

Imam Abu Hanifah mengatakan: “Barangsiapa berkata: ‘Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi,’ maka sungguh ia telah kafir. Begitu pula orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Dia di atas ‘Arsy, tetapi aku tidak tahu apakah ‘Arsy itu berada di langit atau di bumi.’” (Sumber: Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah – karya Ibn Abi Al-‘Izz, 2/387)

Dalam keterangan lain disebutkan,

وقال أبو حنيفة: «إن الله سبحانه وتعالى في السماء دون الأرض، فقال له رجل: أرأیت قول الله تعالی: {وَهُوَ مَعَكُمْ} [الحديد: ٤]، قال: هو كما تكتب لرجل إني معك وأنت غائب عنه» (اعتقاد الأئمة الأربعة – الخمیس)

Imam Abu Hanifah berkata: “Sesungguhnya Allah ﷻ Subhanahu wa Ta’ala berada di langit, bukan di bumi.” Lalu seseorang bertanya kepadanya: “Bagaimana dengan firman Allah ﷻ Ta’ala:  ‘Dan Dia bersama kalian’ (QS. Al-Hadid: 4)?” Beliau menjawab: “Itu seperti engkau menulis kepada seseorang: ‘Aku bersamamu’, padahal engkau tidak berada di tempatnya (secara fisik).” (Sumber: I‘tiqād al-A’immah al-Arba‘ah – Muhammad al-Khumais)

Beliau juga mengatakan,

وقال أبو حنيفة: نُقِرُّ بأنَّ اللهَ تعالى على العَرْشِ استوى من غيرِ أن یکونَ له حاجةٌ (شرح وصية الإمام أبي حنیفة)

“Kami mengakui bahwa Allah ﷻ Ta’ala beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arsy, tanpa membutuhkan apa pun.” (Syarh Wasiat Abu Hanifah, hlm. 87)

[2] Keterangan dari Imam Malik

عن جعفر بن عبد الله قال:«كنا عند مالك بن أنس فجاءه رجل فقال: يا أبا عبد الله، الرحمن علی العرش استوی، کیف استوی؟. فما وجد مالك من شېء ما وجد من مسألته. فنظر إلی الأرض وجعل ینکت بعود في يده حتی علاه الرحضاء – یعني العرق – ثم رفع رأسه ورمی بالعود وقال: الكيف غير معقول،  والاستواء منه غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة وأظنك صاحب بدعة وأمر به فأخرج»

Jafar bin ‘Abdillah bercerita, “Kami pernah duduk bersama Imam Malik bin Anas, lalu datang seorang laki- laki dan berkata: Wahai Abu Abdillah (Imam Malik), Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy, bagaimana Dia beristiwa?’

Maka Imam Malik merasa sangat berat dengan pertanyaan itu. Ia pun menundukkan pandangannya ke tanah dan mulai menggambar-gambar dengan tongkat di tangannya, hingga keluar keringat dari tubuhnya karena beratnya pertanyaan tersebut.

Lalu ia mengangkat kepalanya dan melempar tongkatnya seraya berkata: Bagaimana (istiwa) itu tidak terjangkau akal, sedangkan maknanya tidaklah samar, beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentang “bagaimana”- nya adalah bid‘ah. Aku menduga engkau adalah ahli bid‘ah.’

Maka ia pun memerintahkan agar orang itu dikeluarkan dari majelisnya.” (Tafsir al-Baghawi, 2/197)

[3] Keterangan dari Imam as-Syafii

قال الشافعي: هذه وصيَّةُ محمَّدٍ بنِ إدريسَ الشَّافعيُّ، أوصى أنَّه يَشهَدُ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ وَحدَه لا شريكَ له، وأنَّ محمَّدًا صلَّى اللهُ علیه وسلَّم عَبدُه ورَسوله … وأنَّ اللهَ عزَّ وجَلَّ یُری في الآخرةِ، ینظُر إلیه المؤمنون عِيانا جِهارًا، ويَسمَعونَ كَلامَه، وأنَّه فوقَ العرشِ …

Imam asy-Syafi‘i berkata:

“Ini adalah wasiat Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i. Ia berwasiat bahwa ia bersaksi:

  • Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah ﷻ semata, tidak ada sekutu bagi-Nya,
  • Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya…

Dan bahwa:

  • Allah ﷻ akan dilihat di akhirat,
  • Orangorang mukmin akan memandang-Nya dengan mata mereka,

secara nyata dan jelas,

  • Dan mereka akan mendengar Kalam-Nya (ucapan-Nya),
  • Dan bahwa Allah ﷻ berada di atas ‘Arsy…”

(Itiqād al-Imām asy-Syāfi‘ī, Abu al-Hasan al-Hakkari, hlm. 15)

Imam as-Syafii juga memiliki pernyataan,

«القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحدیث الذین رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفیان ومالك وغیرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله وأن الله تعالی علی عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء»

“Akidah (dan prinsip) dalam Sunnah yang aku anut, dan yang aku lihat diamalkan oleh sahabat-sahabat kami, yakni para ahli hadits yang aku temui dan belajar dari mereka — seperti Sufyan (ats-Tsauri) dan Malik (bin Anas) serta selain mereka — adalah:

  • Mengakui syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah ﷻ, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah ﷻ.
  • Dan bahwa Allah ﷻ Ta‘ala berada di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya.
  • Dia mendekat kepada makhluk-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki.
  • Dan bahwa Allah ﷻ Ta‘ala turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.” (Itsbat Sifat al-Uluw, Ibnu Qudamah, hlm. 180)

[4] Keterangan dari Imam Ahmad

Imam Ahmad menyatakan,

«نحن نؤمن بأن الله علی العرش کیف شاء وکما شاء بلا حدّ ولا صفة یبلغها واصف أو یحده أحد، فصفات الله منه وله وهو کما وصف نفسه لا تدرکه الأبصار»

“Kami beriman bahwa Allah ﷻ berada di atas ‘Arsy, sebagaimana yang Dia kehendaki dan sebagaimana yang Dia kehendaki, tanpa batasan dan tanpa dapat digambarkan oleh siapa pun, tidak ada yang bisa membatasi-Nya. Sifat- sifat Allah ﷻ berasal dari-Nya dan milik-Nya, dan Dia adalah sebagaimana yang Dia sifatkan sendiri, penglihatan tidak dapat mencakup-Nya.” (Dar-u Ta’arudh al-Aql wan Naql, 2/30).

Keyakinan Allah ﷻ di Atas, Sejalan dengan Fitrah

Tersebutlah seorang tokoh Asy’ariyah – Abul Ma’ali al-Juwaini –. Pada satu kesempatan majlisnya, dia menyampaikan kajian yang diantara isinya menolak keterangan ‘Allah ﷻ di atas Arsy.’ Dia menyampaikan, bahwa Allah ﷻ itu ada tapi tidak di atas Arsy, dan Dia saat ini sesuai keadaan-Nya.

Hadir di majlis itu Muhammad bin Thahir al-Maqdisi al-Hamdani. Beliau bertanya kepada al-Juwaini,

يا شَيخ دَعْنَا مِن ذِکْر الْعَرش، وَأَخْبِرْنا عَن هَذه الضَّرُورة الَّتي نَجِدها في قُلُوبنا؛ فَإنَّه ما قَال عَارِف قَط یَا الله إِلَّا وَجَد مِن قَلْبِه ضَرُورَة تَطْلُب الْعُلْوّ وَلَا يَلْتَفِت يَمْنَة وَلَا يَسْرَة فَكَيْف نَدْفَع هَذِه الضَّرُورَة عَن قُلُوبِنا؟

“Wahai Syekh, tinggalkanlah dulu pembahasan tentang ‘Arsy, dan beritahukanlah kepada kami tentang dorongan mendesak yang kami rasakan dalam hati kami ini. Karena tidaklah seorang arif (yang mengenal Allah ﷻ) berkata ‘Ya Allah ﷻ’ kecuali ia akan merasakan dalam hatinya suatu dorongan yang kuat yang mengarah ke atas, dan ia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Maka bagaimana kami dapat menolak atau menghilangkan dorongan kuat ini dari hati kami?”

Setelah mendengar pertanyaan ini, Abul Ma’ali merasa kebingungan, sampai dia menampar pipinya sambil mengatakan,

حَيَّرَنِي الْهَمْدَانِيّ حَیَّرَني الھمْدانیُّ

“Al-Hamdani telah membuatku bingung, Al-Hamdani telah membuatku bingung.” (Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah, 2/275).

*****

Ketiga belas, Pelanggaran hak Allah ﷻ terbesar

Pelanggaran terbesar terhadap hak Allah ﷻ adalah perbuatan syirik. Karena itu,

Allah ﷻ menyebut syirik dengan kedzaliman yang besar. Allah ﷻ berfirman, menceritakan pesan Luqman kepada putranya,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat ia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah ﷻ. Sesungguhnya syirik itu benar-benar merupakan kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Karena itu, Allah ﷻ berikan ancaman bertingkat untuk pelaku kesyirikan. Artinya hanya dengan 1 kesalahan, manusia akan dikenakan pasal berlapis dan hukuman berlapis. Diantara ancaman itu,

[1] Semua amalnya hapus

Allah ﷻ berfirman menceritakan kondisi para nabi, Lalu Allah ﷻ mengakhirinya dengan mengatakan,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah ﷻ, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 87-88)

[2] Tidak akan diampuni dosanya

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah ﷻ tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisa : 48)

[3] Arwahnya dilemparkan dari langit

Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ يُشْرِك بِاللهِ فَكأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفْهُ الططَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ في مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dan barang siapa mempersekutukan Allah ﷻ, maka seakan-akan ia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh sekali.” (QS. Al-Hajj : 31)

Dalam hadis al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bercerita tentang perjalanan Ruh setelah kematian. Diantara cuplikan cerita itu, bahwa saat ruh orang kafir dibawa ke langit dunia, dia tidak diizinkan masuk lalu dilemparkan untuk kembali ke jasadnya di tanah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca ayat di atas.

[4] Haram bagi pelakunya untuk masuk surga

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أنْصَارٍ

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah ﷻ, maka sungguh Allah ﷻ mengharamkan surga baginya, dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. al-Maidah:72)

Demikian, Allahu a’lam.

Poster

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم