ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

Kajian Kitab Masail Jahiliyah (Perkara-perkara Jahiliyah)
Karya: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pemateri: Ustadz Isnan Efendi, Lc. MA. 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 33: 21 Rabi’ul Awal 1447 / 13 September 2025



Masalah Ke-42: Syirik Dalam Kekuasaan

Telah berlalu, pembahasan beberapa poin dalam Masail Jahiliyah. 41 Masail sebelumnya dapat disimak di link archive berikut ini: https://tinyurl.com/2p9sra27

Metode dalam Menetapkan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah ﷻ

Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas mengenai ahlul Jahiliyyah yang menshifati Allah ﷻ nama yang kurang, seperti beranak, fakir dan lainya. Dan menetapkan nama-nama dan shifat Allah ﷻ haruslah berdasarkan dalil dan tentu shifat terpuji yang berdasarkan dalil harus lebih tinggi dan sempurna dari makhluk-Nya. Maka:

1. Jika suatu shifat terpuji bagi manusia dan terpuji bagi Allah ﷻ, shifat Nya sempurna dan ditetapkan dengan dalil.

Bahasan ini ada dalam kitab Ushul, yang disebut ada tiga dan inilah makna nama-nama Allah ﷻ Al-Husna:

  1. Dzilaltu al-Mutabaqah: kandungan makna yang menunjukkan keseluruhan alfadz (sesuatu yang disebut atau dinamakan), seperti rumah maka termasuk didalam maknanya ada kamar, dapur, toilet dan lainnya.
  2. Dzilalatu at-Tadhammun: makna yang dikandung dalam suatu lafadz yang menunjukkan sebagian yang disebutkan. Seperti jendela, menyebut bagian dari rumah. Yaitu sebagian saja bagian dari rumah.
  3. Dzilalatul Iltizam: penunjukan atau kandungan lafadz di luar makna yang ditunjukkan. Seperti sifat indah, kotor, asri yang merupakan bagian dari sifat rumah yang dibahas.

2. Terpuji bagi manusia tetapi tidak terpuji bagi Allah ﷻ, maka tidak ditetapkan. Seperti beranak. Karena Allah ﷻ tidak beranak dan tidak diperanakan.

3. Jika ada shifat bagi manusia tidak terpuji dari satu sisi dan terpuji dari sisi lainnya, dan apabila ada pada Allah ﷻ maka kita tidak tetapkan secara mutlak dan tidak kita nafikan secara mutlak. Seperti termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 9 tentang Sifat orang-orang munafik:

يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ –

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari

Di ayat ini ada sifat menipu, yang bisa dilihat baik atau buruk tergantung keadaan penggunaannya. Dan ada dalilnya, maka kita tidak menetapkan dan tidak menafikan secara mutlak, Allah ﷻ menipu kepada orang-orang munafik sesuai dengan kehendakNya.

Dalam ayat lainnya Surat Ali ‘Imran Ayat 54:

وَمَكَرُوا۟ وَمَكَرَ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Dalam bahasa Indonesia makar selalu bermakna negatif, tetapi dalam bahasa Arab Makar adalah mengalahkan musuh dengan cara yang tidak diketahui, maka bisa jadi bermakna positif. Maka, bisa bermakna menipu. Maka, karena ada dalilnya, maka kita tidak menetapkan dan tidak menafikan secara mutlak, Allah ﷻ membuat makar sesuai dengan kehendakNya.

4. Suatu shifat yang tidak terpuji bagi manusia dan tidak terpuji bagi Allah ﷻ dan tidak ditetapkan, maka tidak ditetapkan.

Ayat-ayat yang menjelaskan Sifat-sifat negative yang dituduhkan kepada Allah ta’aala ditujukan untuk membantah tuduhan-tuduhan mereka, seperti:

  • Yahudi Mengatakan Allah Fakir

Firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: {مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (245)} [البقرة/245].

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. [Al-Baqarah/2: 245].

Pada ayat ini mereka menuduh bahwa Allah ﷻ fakir tetapi dijawab Allah ﷻ Maha kaya:

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya’. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar.” (QS. Ali Imran Ayat 181)

Itulah firman yang diturunkan-Nya ketika salah seorang Pendeta Yahudi mengatakan bahwa Allah fakir dan mereka (orang Yahudi) kaya.

  • Orang Yahudi menuduh Allah terbelenggu

Orang Yahudi menuduh Allah terbelenggu berasal dari Surat Al-Maidah Ayat 64 dalam Al-Qur’an, di mana Al-Qur’an menjelaskan ucapan orang Yahudi yang menuduh Allah kikir atau tidak mau memberi rezeki. Namun, dalam ayat tersebut, Allah membantah tuduhan itu dan menyatakan bahwa justru tangan merekalah yang terbelenggu dan mereka dilaknat karena perkataan tersebut, sementara kedua tangan Allah terbuka dan Dia memberi rezeki sebagaimana yang Dia kehendaki.

Surat Al-Maidah ayat 64, yang artinya,

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu (kikir).” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu. Mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan. Sebaliknya, kedua tangan-Nya terbuka (Maha Pemurah).”

  • Menuduh Allah punya anak

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, (QS. Al-Ikhlas 3)

Maka, agar selamat dalam memahami makna nama dan shifat Allah ﷻ perlu dilakukan:
1. Bersihkan hati dari segala syubhat.
2. Isi dengan iman berdasarkan dalil.
3. Hilangkan rasa ingin tahu.

Para ulama menegaskan bahwa kita diperintahkan hanya untuk mengimani tidak dengan yang lain, seperti bagaimana caranya.

Masalah Ke-42: Syirik Dalam Kekuasaan

Syirik dalam kekuasaan seperti perkataan kaum Majusi.

📃 Penjelasan:

Diantara prilaku Jahiliyah yaitu syirik dalam kekuasaan, seperti perkataan kaum Majusi. Majusi merupakan sekelompik manusia di negeri Persia. Mereka menyembah api dan mengatakan : ” Alam ini memiliki dua pencipta, Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan, Tuhan cahaya menciptakan kebaikan dan Tuhan kegelapan menciptakan keburukan. Oleh karena itu mereka disebut Tsanawiyah ( penyembah dua Tuhan) , dan ini syirik dalam rububiyah.

Al-Alusi menyebut ada manuskrip yang lain yaitu Asyirkatu filmulki. Yang maknanya berbagi.

Mereka membagi-bagi Kekuasaan Seperti Kaum sosialis, yaitu “Majusi mazdakiyah” mengacu pada mazhab dalam agama Majusi (Zoroastrianisme) yang didasarkan pada ajaran Mazdak, seorang reformis agama dan filsuf Persia.

Mazdakisme adalah cabang atau aliran dalam Zoroastrianisme yang menekankan kesetaraan sosial dan pembagian kekayaan, dengan ajaran yang menentang praktik-praktik yang dianggap korup dalam masyarakat saat itu.

Masalah Ke – 43: Penentangan Mereka kepada Takdir Allah ﷻ

Mengingkari Takdir.

📃 Penjelasan:

Qadar yaitu ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan ketetapan-Nya terhadapnya sebelum terjadi, dan tulisan-Nya di Lauhul Mahfuzh, kemudian penciptaan-Nya terhadapnya. Iman kepada Qadar merupakan salah satu rukun iman yang enam. Rasulullah ﷺ bersabda :

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره” .

” Iman adalah kamu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan beriman kepada hari akhir, serta beriman kepada Qadar yang baik dan buruk “.

Allah ta’aala berfirman :

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ( qadar ) ukuran “. (QS. al-Qamar: 49).

Qadar termasuk perbuatan Allah, tidaklah ada sesuatupun terjadi dalam kerajaan-Nya melainkan telah Allah takdirkan dan Allah kehendaki, karena Allah mengetahui apa yang terjaadi dan yang akan terjadi dengan ilmu-Nya yang azali yang telah menjadi sifat-Nya sejak dahulu dan selamanya. Kemudian menulisnya dalam Lauhul Mahfuzh. Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

” Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya “.( QS. al-Hadid : 22). Yakni Kami menciptakannya.

إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

” Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. ( QS. al-Hadid : 22)

Nabi ﷺ bersabda :

واعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطأك و ما أخطأك لم يكن ليصيبك

” Ketahuilah bahwa apa yang semestinya menimpa kamu, tidak akan terhindar darimu, dan apa yang semestinya tidak menimpamu tidak akan menimpamu “.

رفعت الأقلام وجفت الصحف

” pena (penulisan takdir) telah diangkat dan lembaran-lembarannya telah kering “.

Maka tidaklah sesuatu terjadi melainkan atas kehendak Allah dan tidaklah ada sesuatupun melalinkan Allah telah menciptakannya:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

” Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu “. (QS. az-Zumar : 62 ).

Telah menciptakan kebaikan dan keburukan, mentakdirkan kebaikan dan keburukan, dan ini yang disebut dengan tahapan iman kepada Qadar:

– Pertama : beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu.
– Kedua : meyakini bahwa Allah telah menuliskannya di Lauhul Mahfuzh.
– Ketiga : Beriman bahwa Allah telah menghendaki segala sesuatu terjadi, maka tidak ada satu pun yang terjadi melainkan atas kehendak Allah .
– Keempat : beriman bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, dan Dia wakil atas segala sesuatu.

Inilah iman kepada Qadar. Kaum jahiliyah dahulu mengingkari Qadar, dalilnya adalah 3 ( tiga ) ayat dalam al-Qur’an;

Pertama, dalam surat al-An’am :

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلا آبَاؤُنَا وَلا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ

” Orang-orang musyrik akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”. ( QS. al-An’am : 148 ).

Dan dalam surat an-Nahl :

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلا آبَاؤُنَا وَلا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ

” Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya”. (QS. an-Nahl : 35 ).

Dan dalam surat az-Zukhruf :

وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ

” Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)”.( QS. az-Zukhruf : 20 ).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم