Akhlak

Ketenangan dalam Perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah

Ikhwany wa akhawaty Rahimakumullah, kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari ujian. Tidak ada seorangpun yang selamat dari musibah dan bentuknya bermacam-macam. Itulah ujian yang Allah ﷻ berikan kepada hamba-Nya.

Diantara manusia, ada yang menyambut musibah dengan ketenangan dan ada yang menyikapinya dengan ketidaksabaran. Semuanya datang dari Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Surat Al-Fath ayat 4:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia (bersih dari maksiat) dan taat dalam kebaikan. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan ketika membacanya, maka baginya dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 4937 dan Muslim, no. 798]

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan orang yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah utrujah, bau dan rasanya enak. Permisalan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah kurma, tidak beraroma, tetapi rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan raihanah, baunya menyenangkan, tetapi rasanya pahit. Permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan hanzhalah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5059 dan Muslim, no. 797]

Dalam hadits disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini.” (HR. Muslim no. 817, dari ‘Umar bin Al Khattab)

Al-Qur’an tidak akan pernah menjadi usang, meskipun selalu diulang-ulang atau perubahan zaman. Allah ﷻ memudahkannya untuk diingat dan dihafal oleh anak-anak kecil dan menjamin keasliannya dari segala bentuk perubahan dan kejadian yang akan mengubahnya. Al-Qur’an tetap dipelihara dengan pujian Allah ﷻ dan anugerah-Nya sepanjang masa. Dia memilih orang-orang yang pandai dan cakap untuk memelihara ilmu-ilmu Al-Qur’an dan mengumpulkan di dalamnya setiap ilmu yang dapat melapangkan dada orang-orang yang mempunyai keyakinan.

Dengan perantara kekasih-Nya ini, Dia menghapuskan penyembahan terhadap berhala-hala tak berdaya. Allah ﷻ memuliakannya dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang kekal dari zaman ke zaman. Dengannya Dia mengajar seluruh makhluk, manusia dan jin dan mendiamkan orang-orang yang menyimpang dan sombong, serta menjadikannya penyubur bagi hati orang-orang yang memiliki mata hati dan ma’rifat.

Kitab At-Tibyan mengulas banyak hal tentang akhlak atau adab yang harus dijaga saat berinteraksi dengan Al-Qur’an, ditulis/dikarang oleh Imam Abi Zakariya Muhyiddin Yahya ibn Syarafuddin An-Nawawi dari Damaskus, atau familiar disebut Imam An-Nawawi.

Kitab Al-Tibyan adalah Panduan bagaimana cara mengagungkan dan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta hukum Fikih lainnya. Berisi 10 Bab di dalamnya.

Kitab sejenis yang dikarang para ulama antara lain:
▪️Akhlaq ahlul Qur’an oleh Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al-Baghdadi Al-Ajurri 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
▪️At-Tibyaan fi Syarh Akhlaq Hamalatil Qur’an oleh Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱.
▪️Kitab Tibyan fi aqsamil-Qur’an oleh Ibnul-Qayyim Al- Jauziyyah 𝓡𝓪𝓱𝓲𝓶𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱

Di zaman ini, kehidupan manusia hampir tidak pernah lepas dari sosial media (sosmed). Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafidzahullahu Ta’ala berkata, zaman dulu seseorang yang ingin selamat dari fitnah dianjurkan tinggal di rumah, namun di zaman sekarang, fitnah bisa dengan mudah masuk ke kamar-kamar kaum muslimin.

Sosial media merupakan sebuah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Mulai dari Facebook, Twitter, WA, Line, Telegram dan seterusnya. Seseorang dapat dengan mudah berinteraksi dengan orang yang sangat jauh sekalipun melalui sosial media. Oleh karena itu sebagai seorang muslim sudah sepantasnya mengetahui beberapa adab bersosial media. Berikut diantaranya:

1. Pasang Niat yang benar

Maksudnya hendaklah seorang muslim ketika dia akan menggunakan sosial media berniat yang baik dan bukan sebagai sarana untuk menyalurkan kemaksiatan. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya amal tergantung niatnya dan bagi seseorang apa yang dia niatkan” [HR. Bukhori no. 1, Muslim no. 1907.].

Diantara niat yang baik tersebut adalah untuk menyambung tali silaturahim dan menyambung ukhuwah Islamiyah. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia menyambung tali silaturahim” [HR. Bukhori no. 6138.].

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Kitabnya Madarijus Salikin berkata: kecintaan kepada Allah ﷻ bagi para wali-Nya, nabi-nabiNya dan rasul-rasulNya adalah sifat tambahan dari kasih sayangNya, kebaikan-kebaikanNya dan juga pemberian-pemberianNya. Ini adalah dampak atau efek dari kecintaan tersebut. Maka tatkala Allah ﷻ mencinta mereka, mereka akan memperoleh rahmat-Nya, cintaNya dengan sempurna.

📖 Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

قَالَ الله تَعَالَى: {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [آل عمران: 31]،

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah -wahai Muhammad-, jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah saya, tentu engkau semua dicintai oleh Allah, serta Allah mengampuni dosamu semua dan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Ali-Imran: 31)

Ayat ini dinamakan ayat ujian, karena hati itu ketika mengaku cinta kepada Allâh, maka Allah ﷻ menurunkan ayat ini sebagai ujian. Untuk membedakan mana yang jujur dan yang mengaku saja.

Jika dia mengikuti Nabi ﷺ maka menunjukkan kebenaran yang ada padanya. Kalau seseorang mencintai Allah ﷻ maka Allah ﷻ akan mencintainya. Inilah buah yang sangat besar, jika kita mencintai Nabi-Nya maka Allah ﷻ akan mencintai kita.

Pada ayat ini ada isyarat tentang cinta, buahnya dan faedahnya. Maka bukti dan cinta itu adalah ittiba kepada Nabi ﷺ. Faedahnya adalah cinta Allah ﷻ pada kalian. Maka seseorang yang ingin menunjukkan cintanya kepada Allah ﷻ, dia harus mencintai Rasulullah ﷺ, konsekuensinya Allah ﷻ akan mencintainya.

Karakter manusia berbeda-beda, ada yang terlalu serius dan ada yang suka riang dan bercanda. Jika terlalu kaku atau serius hendaknya membuka diri agar hidup lebih rileks dan segar. Ibarat garam dalam makanan, maka yang terlalu banyak bercanda, hendaknya dikurangi agar tidak berlebihan.

Tujuan-tujuan Bercanda

▪️ Menyegarkan suasana.
▪️ Menimbulkan senyuman dan rasa bahagia.
▪️ Mempermudah meluluhkan hati orang lain agar tunduk dan taat. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ kepada para sahabat.
▪️ Mengobati hati yang lemah, terutama wanita dan anak-anak.
▪️ Meningkatkan semangat beraktivitas dan meningkatkan kemampuan menanggung beban hidup.

Rasulullah ﷺ juga Bercanda

Sebagai manusia biasa, kadang kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu anha. Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum. [Tafsir Ibnu Katsir]

Kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah ﷻ. Tidak semuanya kaya dan tidak semuanya miskin. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 30:

اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا ࣖ

Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.

📖 Hadits 9:

وعن أَبي كَرِيمَةَ المقداد بن معد يكرب – رضي الله عنه – عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ، فَليُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ». رواه أَبُو داود والترمذي، وَقالَ: «حديث صحيح».

382. Dari Abu Karimah yaitu al-Miqdad -di sebagian naskah disebut al-Miqdam- bin Ma’dikariba 𝓡𝓪𝓭𝓱𝓲𝔂𝓪𝓵𝓵𝓪𝓱𝓾’𝓪𝓷𝓱𝓾 dari Nabi ﷺ, sabdanya: “Jikalau seorang itu mencintai saudaranya, maka hendaklah memberitahukan pada saudaranya itu bahwa ia mencintainya.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (542), Abu Dawud (5124), at-Tirmidzi (2592 -Tuhfah).

📖 Hadits 10:

وعن معاذ – رضي الله عنه: أن رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – أخذ بيدهِ، وَقالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللهِ، إنِّي لأُحِبُّكَ، ثُمَّ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ». حديث صحيح، رواه أَبُو داود والنسائي بإسناد صحيح.

383. Dari Mu’az 𝓡𝓪𝓭𝓱𝓲𝔂𝓪𝓵𝓵𝓪𝓱𝓾’𝓪𝓷𝓱𝓾 bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil tangannya dan bersabda: “Hai Mu’az, demi Allah, sesungguhnya saya ini mencintaimu. Kemudian saya hendak berwasiat padamu hai Mu’az, yaitu: Janganlah setiap selesai shalat meninggalkan bacaan -yang artinya: Ya Allah, berilah saya pertolongan untuk tetap mengingatMu serta bersyukur padaMu, juga berilah saya pertolongan untuk beribadah yang sebaik-baiknya padaMu.”

Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasaa’i dengan sanadnya yang shahih.

📒 Pengesahan Hadits:

Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (1522), an-Nasaa’i (III/53), dan lainnya melalu jalan Haiwah bin Syuraih, aku pernah mendengar Uqbah bin Muslim at-Tujibi, dia mengatakan, Abu Abdirrahman al-Hubuli memberitahuku dari ash-Shunabihi.

Penulis katakan: “Sanad hadits ini shahih dan para rijalnya pun tsiqah.”

Dan hadits ini mempunyat dua syahid (penguat) dari Abdullah bin Mas’ud dan Abu Hurairah Radhiyallahu’anhum.

(1) Memurnikan niat, ikhlash karena Alloh semata, tidak karena ingin dilihat, didengar atau mendapat sanjungan dan upah dari orang lain.

(2) Suci dari hadats besar maupun kecil.

Berdasarkan keumuman dalil baik dari Al Quran ataupun As-Sunnah.

Dalil yang mendukung pernyataan di atas adalah firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79). ‘Tidak menyentuhnya’ adalah kalimat berita namun maknanya adalah larangan. Sehingga maknanya adalah ‘janganlah menyentuhnya’.

Dalil dari hadits,

عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا فَكَانَ فِيهِ لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni no. 449. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 122).

(3). Lebih utama menghadap kiblat

Dalam Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syekh Shalih ibn Abdillah Fauzan Jilid 2 dikatakan,

“Jika seseorang mau menghadapkan tubuhnya ke arah kiblat, selama hal itu tidak menyusahkan dirinya, maka hal itu tergolong sebagai ibadah penyempurna dan tentu itu lebih baik. Jika pun ia tidak menghadap kiblat, maka tidak ada dosa baginya.”