بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Belajar Prinsip: Dunia Hanya di Tangan
🎙️| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓️ | Hari : Jum’at, 22 Rabi’ul Awal 1448 / 04 September 2026
🕰️ | Waktu: 20:00 WQ | 12:00 WIB
🕌 | Tempat: Masjid #376 Nafi bin Utbah Dukhan Qatar
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengucapkan terima kasih kepada shahibul bait atas kesempatan dalam majelis ilmu.
Kajian kali ini kita akan membahas masalah harta, terutama bagi mereka yang sudah dikarunia kenikmatan harta dunia, sebagai koreksi cara pandang kita terhadap harta.
Belajar Zuhud
Memahami nasehat tentang hakekat harta, akan memudahkan seseorang untuk belajar menjadi manusia yang lebih tenang ketika berinteraksi dengan dunia. Terutama nasehat untuk hidup zuhud dan qana’ah. Semoga rangkaian nasehat berikut bermanfaat.
Karena Anda Sadar Akhirat
Kita layak bersyukur kepada Allah, kita memiliki kesadaran akan akhirat. Bermodal dengan kesadaran ini, kita yakin akan adanya kehidupan yang kedua, kehidupan yang isinya hisab, dan tidak ada amal. Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan,
فإنَّ اليومَ عملٌ ولا حسابٌ وغدًا حسابٌ ولا عملٌ
Hari ini isinya amal dan tidak ada hisab, besok isinya hisab dan tidak ada amal. (HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 3426)
Seorang mukmin selalu menyadari, semua hartanya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Allah berfirman,
ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ
“Kemudian di hari itu, kalian akan ditanya tentang nikmat yang kalian rasakan.” (QS. at-Takatsur: 8)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan manusia agar berhati- hati dalam mencari dan memanfaatkan harta. Karena semua akan dihisab. Beliau bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah bergeser pada hari kiamat hingga dia ditanya mengenai (5 hal, salah satunya), tentang hartanya bagaimana dia peroleh dan di mana dia belanjakan…” (HR. Tirmidzi 2417 dan dishahihkan al- Albani)
Bahkan air putih yang kita minum juga akan dihisab.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ یَعْنى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِیمِ أَنْ یُقَالَ لَهُ ألَمْ نُصِحَّ لَكَ ِسْمَكَ وَنُزوِیكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
“Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani).
Karena itu, semakin banyak harta seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. Sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ماع ةئام سمخ وهو ،موي فصنب مهئاينغأ لبق ةنجلا يملسملا ءارقف لخدي
“Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Turmudzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Anda layak merasa heran ketika ada orang yang iri kepada orang lain yang lebih kaya. Berarti dia iri kepada orang yang hisabnya lebih lama…
Bahaya Rakus Dunia
Rakus dunia bisa mencelakakan diri hamba ketika di dunia dan akhirat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggambarkan, orang yang rakus dunia akan merusak agamanya.
Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِیَائهِمْ پنِصْفٍ یَوْم، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامِ
Dua serigala lapar yang dilepas di kandang kambing, tidaklah lebih merusak dibandingkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan terhadap dunia dan jabatan. (HR. Ahmad 16198 dan Turmudzi 2550).
Amr bin Auf al-Muzani radhiyallahu ‘anhu menceritakan, Rasulullah ﷺ mengutus Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya. Mereka adalah masyarakat Majusi di wilayah tersebut – setelah Rasulullah ﷺ membuat perjanjian dengan mereka.
Pada masa itu, istilah Bahrain mencakup wilayah yang sekarang meliputi Bahrain, al-Ahsa, dan al-Qatif, Qatar yang terletak di sebelah timur Arab Saudi. Wilayah tersebut ditaklukkan pada tahun 8 H.
Nabi ﷺ mengangkat al-Mundzir bin Sawa sebagai pemimpin wilayah tersebut. Setelah beliau meninggal, Nabi ﷺ mengangkat al-‘Ala bin al- Hadhrami sebagai pemimpin mereka.
Ketika Abu ‘Ubaidah radhiyallahu ‘anhu datang membawa harta tersebut, waktunya bertepatan dengan shalat Subuh. Orang-orang pun menghadiri shalat berjamaah. Ketika Nabi ﷺ datang, sama sekali beliau tidak menoleh ke harta itu. Setelah Nabi ﷺ selesai melaksanakan shalat, beliau berbalik menghadap kepada mereka, orang-orang Anshar mendekati beliau. Seakan- akan mereka meminta dengan isyarat agar harta yang dibawa Abu ‘Ubaidah tersebut dibagikan kepada mereka.
Hal itu mereka lakukan karena kebutuhan dan kesulitan ekonomi yang sedang mereka alami, bukan karena tamak terhadap dunia atau sangat menginginkannya. Nabi ﷺ memahami maksud mereka.
Beliau pun tersenyum dan bertanya,
أظُنُّكُم قد سَمِعتُم أنَّ أبا عُبيدةَ قد جاءَ بشيءٍ؟
“Aku kira kalian telah mendengar bahwa Abu ‘Ubaidah telah datang membawa sesuatu?”
Mereka menjawab:
“Benar, Ya Rasulullah.”
Beliau ﷺ bersabda:
فأبشِروا وأمِّلوا ما یَسُُگُم
“Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah.”
Kemudian beliau ﷺ bersumpah dan bersabda,
فَوَاللّهِ ما الفَقْرَ أخْشَى علَيْكُم، ولَكِنّي أخْشَى أنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كما بُسِطَتْ علَى مَن كانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كما تَنَافَسُوھَا، وتُهلِكگمْ كما أهْلَگتْھُمْ
Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian, namun yang aku takutkan ketika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaiman dibantangkan untuk umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana umat masa silam berlomba mencarinya, sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana dunia telah membinasakan mereka. (HR. Bukhari 4015 & Tirmidzi 2462)
Saat Dunia Dibentangkan
Allah tidak membentangkan dunia untuk manusia sepenuhnya, karena hal itu akan berbahaya bagi manusia.
Allah berfirman,
وَلَوْ بَسَطَ اللهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا في الْأَرْضِ وَلَكِنْ یُنزِّلُ بِقَدَڕٍ مَا یَشَاءُ إِنَّهُ بعِبادِە خَبيرٌ بَصِيرٌ
“Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya secara berlebihan, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di muka bumi. Akan tetapi, Dia menurunkannya menurut ukuran yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat keadaan hamba- hamba-Nya.” (QS. As-Syura: 27)
Ibnu Katsir menjelaskan,
أي: لو أعطاهم فوق حاجتهم من الرزق، لحملهم ذلك على البغي والطغيان من بعضهم علی بعض، أشرا وبطرا
Seandainya Allah memberi mereka rezeki melebihi kebutuhan mereka, niscaya hal itu akan mendorong mereka untuk berbuat zalim dan melampaui batas, saling menindas satu sama lain, karena kesombongan dan keangkuhan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/206)
Ukuran rizki yang Allah tetapkan untuk hamba-Nya, telah disesuaikan takarannya agar kehidupan mereka berjalan dengan nyaman. Hanya saja, manusia tidak terima dengan kondisi itu, sehingga mereka merasa telah didzalimi keadaan, padahal tidak selamanya kaya bisa membahagiakan.
Rebutan Gunung Emas
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
لا تَقومُ السّاعةُ حتَّى یَحسِرَ الفُراتُ عن جَبَلٍ مِن ذَهَب، یَقتَتِلُ النَّاسُ علیه، فیُقتَلُ مِن کُلِّ مِائةٍ تِسعةٌ وتِسعونَ، ويقولُ كُلُّ رَجُلٍ منهم: لَعَلِّي أكونُ أنا الذي أُنجو
“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga Sungai Eufrat menyingkap sebuah gunung emas. Orang-orang akan saling berperang untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang, akan terbunuh sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang di antara mereka akan berkata, ‘Barangkali akulah orang yang akan selamat.’” (Muttafaq ‘alaih)
Suhail bin Abi Shalih—seorang perawi hadis—bahwa ayahnya pernah berwasiat kepadanya,
إنْ رأيتَه فلا تَقْرَبَنَّه
“Jika engkau melihatnya, jangan sekali-kali engkau mendekatinya.”
Obsesi Vs Kondisi
Ketika dalam pikiran seseorang hanya dunia, dia akan lupa dengan hal terpenting dalam hidupnya, yaitu ibadah. Sehingga semua aktivitasnya dikendalikan oleh obsesinya. Bahkan sampai tujuan ibadahnya ditujukan untuk mewujudkan obsesi duniawinya. Rajin tahajud untuk kaya, rajin shalat dhuha untuk kelancara rizki, rajin puasa sunah agar karirnya lancar, dan seterusnya. Bahkan isinya doanya tidak keluar dari kata minta rizki dan rizki. Karena hanya itu, isi pikiran dia.
Hal yang perlu kita sadar, terkadang Allah menyikapi hamba berkebalikan dengan obsesinya. Ada orang yang memiliki cita-cita besar untuk mendapatkan dunia, namun oleh Allah dia justru dijauhkan dari dunia. Sebaliknya, ada orang yang memiliki cita-cita besar untuk mendapatkan kesuksesan akhirat, namun dunia justru mengejarnya. Allah memberikan balasan kepadanya, berkebalikan dengan obsesinya.
Diantara contoh hal ini adalah firman Allah tentang hasil akhir pelaku riba dan orang yang bersedekah.
Sebaliknya, orang yang bersedekah, secara lahiriyah hartanya berkurang, namun Allah memberikan balasan dengan ditambah hartanya.
Allah berfirman,
يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِۗ
“Allah membinasakan riba dan menumbuh kembangkan sedekah.” (QS. al- Baqarah: 276)
Ketika menafsirkan ayat ini, al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan,
وهذا من باب المعاملة بنقيض المقصود
“Ini termasuk diantara bentuk muamalah, yang hasilnya berkebalikan dengan obsesinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/713)
Diantara bukti bahwa manusia mendapatkan balasan berkebalikan dengan obsesinya adalah hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللّهُ غِنَاهُ فی قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتتْهُ الدُّنْیَا وَهِیَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ کَانَتِ الدُّنْیَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَیْنَ عَینَیْهِ وَفَرَّقَ عَلَیْهِ شَملَهَ وَلَمْ یَأْتِهِ مِنَ الدُّنْیَا إلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang akhirat menjadi obsesinya, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan memudahkan urusannya, dan dunia pun akan datang kepadanya dalam kondisi terhina. Sedangkan siapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah akan menjadikan fakirnya berada di depan matanya, Dia akan mencerai beraikan keinginannya, dan dunia tidak diperolehnya kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi 2465 dan dishahihkan al-Albani)
Karena itu, bagian dari doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memohon kepada Allah, agar dunia tidak menjadi puncak harapan dan pengetahuan hamba, sehingga isi pikirannya hanya dunia. Beliau berdoa,
وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
Jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak harapan kami dan puncak pengetahuan kami. (HR. Turmudzi 3841 dan dihasankan al-Albani)
Agar perhatian kita tidak hanya terkait masalah ilmu dunia, Allah ajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang haus dengan ilmu akhirat. Dalam al- Quran, kita diperintahkan untuk berdoa agar meminta tambahan ilmu. Allah berfirman,
وَقُلْ رَبِّ زِڈْنِي عِلْمًا
Dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabku, tambahkan ilmu untukku’ (QS. Thaha: 114) Inilah satu-satunya doa permohonan tambahan yang diperintahkan Allah dalam al-Quran.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani,
“Firman Allah, ’Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali tambahan ilmu. (Fathul Bari, 1/141).
Manusia yang Dikejar Dunia
Sufyan bin Uyainah bercerita, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik – khalifah Bani Umayyah yang ke-10 – pernah menemui cucunya Umar bin Khatab, yang bernama Salim bin Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika sedang beribadah di Masjidil Haram.
Kemudian Khalifah Hisyam menawarkan,
“Wahai tuan Salim, silahkan minta kepadaku apa yang anda butuhkan.” Mendengar tawaran ini, Imam Salim menjawab,
إِنِّ أَسْتَجِي مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَی أَنْ أَسْأَلَ في بَیْتِ اللهِ غَیْرَ اللهِ
“Aku malu kepada Allah Ta’ala, untuk meminta di rumah-Nya kepada selain Allah.”
Lalu Salim keluar dari masjidil haram dan diikuti oleh Khalifah Hisyam. Khalifah Hisyam mengulangi tawarannya,
الآنَ قَدْ خَرَجْتَ فَسَلْنِي حَاجَةً
“Sekarang anda sudah di luar baitullah. Silahkan minta kebutuhan anda kepadaku..”
Imam Salim balik tanya, “Kebutuhan dunia ataukah kebutuhan akhirat?” “Kabutuhan dunia.” Jawab Hisyam.
مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا أَمْ مِنْ حَوَائِجِ الآخِرَةِ؟
Kemudian Imam Salim menjawab,
أَمَا وَاللهِ مَا سَأَلْتُ الدُّنْيَا مَنْ يَمْلِكُهَا فَكَيْفَ أَسْأَلُ مَنْ لا يَمْلِكُها
“Demi Allah, aku tidak pernah meminta dunia kepada Dzat yang memilikinya, lalu bagaimana mungkin aku memintanya kepada orang yang tidak memilikinya?” (al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 80)
Subhanallah… tawaran dunia dari sang raja ditolak dengan kalimat yang sangat indah. Itulah manusia yang dikejar dunia dalam kondisi dunia terhina di hadapannya.
Qanaah, Kekayaan yang Sejatinya
Dalam bahasa arab, kaya dinyatakan dengan kata: al-Ghina artinya tidak butuh. Kebalikannya adalah fakir yang artinya butuh. Hakekat dari kaya adalah kaya hati, bukan kaya materi. Orang yang kaya materi, namun dia selalu merasa butuh, hakekatnya adalah orang fakir.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَی عَنْ کَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَی غِنَى النَّفْسِ
Hakekat kaya bukanlah kaya harta, tapi hakekat kaya adalah kaya batin. (HR. Bukhari & Muslim)
Karena itulah, Allah letakkan ketenangan dan kebahagiaan itu ketika seseorang memiliki perasaan selalu merasa cukup (qanaah).
Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللّهُ بِمَا آتَاهُ
Sungguh beruntung orang yang masuk islam, diberi rizki yang cukup, dan Allah buat dia qanaah terhadap apa yang Allah berikan untuknya. (HR. Muslim 1054)
Imam as-Syafii pernah menyebutkan bahwa orang yang qana’ah itu seperti raja dunia. Karena dia merasa paling kaya, dia tidak mengharapkan apapun yang dimiliki orang lain. Dalam syairnya Imam as-Syafi’i mengatakan,
إذا ماكُنْتَ ذا قَلبٍ قَنُوع … فَأنْتَ ومالِكُ الدنيا سَوَاءُ
Ketika kamu memiliki hati yang qana’ah… maka kamu dan raja dunia sama saja…
Hasad, Ancaman Kebahagiaan
Sekaya apapun manusia, selama dia masih memiliki sifat hasad terhadap orang lain, dia tidak akan bisa merasakan kebahagiaan dengan kenikmatan yang dia miliki.
Hatinya selalu dihantui perasaan jengkel, ketika ada orang lain yang lebih sukses dibandingkan dirinya. Atau setidaknya pikirannya selalu tertuju pada apa yang ada di tangan orang lain. Sehingga dia lupa dengan apa yang dia miliki.
Karena alasan inilah, Allah hilangkan rasa hasad dan dengki dalam hati para penduduk surga. Agar mereka bisa merasakan keikmatan surga seutuhnya, Allah berfirman,
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلِّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
Kami lenyapkan segala rasa dendam dan kebencian yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS. al-Hijr: 47)
Di ayat lain, Allah berfirman,
وَنَزَعْنَا مَا في صُدُورِهِمْ مِنْ غِلِّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأَنْھَارُ
“Dan Kami cabut segala rasa dengki yang ada di dalam dada mereka; di bawah mereka mengalir sungai-sungai.” (QS. al-A’raf : 43)
Itulah kunci terbesar, para ahli surga bisa menikmati surga. Allah jadikan mereka sehati, tidak ada dengki dan iri.
Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ، يُرَى مُخَّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الحُسْنِ، لاَ اخْتِلافَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ، يُسَبِّحُونَ اللّهَ بُكْرَةً وَعشِيًّا
“…masing-masing mereka memiliki dua istri. Sumsum tulang betisnya kelihatan di balik daging, karena saking indahnya. Tidak ada perselisihan dan permusuhan diantara mereka. Mereka sehati, senantiasa bertasbih mensucikan Allah, pagi dan sore.” (HR. Bukhari 3245, Muslim 2843, dan yang lainnya)
Ibnul Jauzi mengatakan,
وما طاب عيش أهل الجنة إلا حين نزع الحسد والغل من صدورهم. ولولا أنه نزع؛ تَحَاسَدوا وتَنْغَصُّ عێشهم
Kehidupan penduduk surga tidak terasa nikmat, sampai ketika Allah cabut perasaan hasad dan kebencian dari hati mereka. Andai sifat ini tidak dibersihakan, mereka akan saling hasad, dan kehidupan mereka akan tertekan. (Shaidul Khathir, hlm. 152)
Teori Zuhud Ibnul Qoyim
Zuhud bukan masalah kaya atau miskin. Karena zuhud adalah amalan hati. Bisa saja orang hidup zuhud, meskipun hartanya berlimpah.
Sebagaimana seseorang bisa menjadi manusia rakus dunia, meskipun dia tidak memiliki dunia.
Sulaiman adalah seorang nabi yang zuhud, meskipun beliau raja dunia. Dzulqarnain juga menjadi raja yang zuhud, meskipun kekuasaannya mencakup seluruh daratan dunia.
Prinsipnya adalah dunia hanya di tangan, dan tidak di hati.
Ibnul Qoyim mengatakan,
والأصل هو قطع علائق الباطن ، فمتى قطعها لم تضره علائق الظاهر ، فمتى كان المال في يدك وليس في قلبك لم يضرك ولو كثر ، ومتى كان في قلبك ضرك ولو لم يكن في يدك منه شيء
Prinsipnya adalah memutus hubungan keterkaitan dengan batin. Selama orang bisa memutusnya, maka kondisi luar tidak akan tidak akan membahayakannya. Ketika harta hanya ada di tanganmu, dan tidak ada di hatimu, maka harta itu tidak akan membahayakanmu, meskipun banyak. Selama harta itu di hatimu, akan membahayakanmu, meskipun tanganmu tidak memegangnya sepeserpun. (Madarijus Salikin, hlm. 465).
Selanjutnya Ibnul Qoyim menyebutkan riwayat dari Imam Ahmad, Ada orang yang bertanya kepada Imam Ahmad,
أيكون الرجل زاهدا ، ومعه ألف دينار؟
Bisakah seseorang menjadi zuhud, sementara dia memiliki harta 1000 dinar (4,25 Kg emas).
Jawab Imam Ahmad,
نعم على شريطة ألا يفرح إذا زادت ولا يحزن إذا نقصت، ولهذا كان الصحابة أزهد الأمة مع ما بأيديهم من الأموال
Bisa, dengan syarat, dia tidak merasa bangga ketika hartanya bertambah dan tidak merasa sedih ketika hartanya berkurang. Karena itulah, para sahabat menjadi manusia yang paling zuhud di tengah umah ini, meskipun mereka memiliki banyak harta.
Karena dunia tidak ada dalam hatinya. Sehingga keberadaan dan ketiadaan dunia tidak mempengaruhi kondisi batinnya.
Layaknya Toilet, Dibutuhkan Namun tidak Dicintai
Untuk membangun suasana batin semacam itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah meng-analogikan hubungan mukmin dengan harta, ibarat hubungan dia dengan toilet. Harta itu dibutuhkan, sebagaimana toilet, dan tidak dicintai sebagaimana layaknya toilet.
Syaikhul Islam mengatakan,
ثم ينبغي له أن يأخذ المال بسخاوة نفس؛ ليبارك له فيه، ولا يأخذه بإشراف وهلع؛ بل يكون المال عنده بمنزلة الخلاء الذي يحتاج إليه من غير أن يكون له في القلب مكانة
Kemuduian selayaknya dia mengambil harta dengan jiwa yang tenang, agar hartanya diberkahi. Dan jangan mengambilnya dengan rakus dan tamak. Namun harta baginya sebagaimana toilet, sesuatu yang dia butuhkan, namun tidak mendapatkan posisi sedikitpun dalam hatinya. (az-Zuhd wal Wara’, hlm. 95).
Subhanallah… teori yang mudah dipahami, namun perlu banyak latihan untuk bisa mempraktekkannya.
Demikian, Allahu a’lam.
Poster
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم


