بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Fenomena Akhir Zaman
🎙| Bersama: Ustadz Ammi Nur Baits, St. BA. Hafidzahullah
🗓 | Hari : Jum’at, 23 Rabi’ul Awal 1448 / 04 September 2026
🕰 | Waktu: 08:30 WQ | 12:30 WIB
🕌 | Tempat: Diwan Al-Abdulla Wakra Qatar



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengucapkan terima kasih kepada shahibul bait atas kesempatan dalam majelis ilmu.

Antara Dzikir, Cinta dan Ibadah

Ustadz, mengawali kajian dengan menyampaikan sebuah hadits :

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَليَّ ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبْثُ بِهِ قَالَ : (( لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ )) . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) .

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini telah banyak bagiku, maka beritahulah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang selalu.” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.”

(HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan) [HR. Tirmidzi, no. 3375. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].

Dengan adanya banyaknya dzikir akan menambah kecintaan kepada Allah ﷻ dan semakin besar cinta kepada Allah ﷻ maka akan semakin mudah dalam menjalankan segala perintah-Nya. Karena puncak ekspresi cinta adalah dengan menyembah (Ubudiyah).

Cinta orang musyrik adalah cinta yang terbagi dua terhadap Allah dan terhadap sesembahan mereka. Sedangkan cinta orang beriman adalah cinta yang murni dan besar pada Allah.

Sehingga inilah yang membedakan bagaimanakah peribadahan orang musyrik dan orang beriman.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”(QS. Al Baqarah: 165).

Maka, dalam Al-Qur’an banyak disebutkan kandungan tentang Allah ﷻ. Maka, semakin banyak membaca Al-Qur’an akan semakin terbangun rasa cinta kepada Allah ﷻ.

Dalail Nubuwah (Bukti kenabian)

Salah satu mukjizat Rasul adalah banyaknya berita dari Nabi ﷺ tentang peristiwa tanda hari kiamat yang terbukti.

Dalail Nubuwah (Bukti kenabian) Muhammad ﷺ ada tiga:

  1. Sebelum mendapatkan wahyu (diangkat menjadi Nabi ﷺ), seperti kejadian dibelahnya dada Nabi ﷺ, dan saat beliau ke syam matahari selalu menaunginya seperti dikabarkan pendeta Bukhaira.
  2. Setelah menjadi Nabi ﷺ, seperti terbelahnya bulan atas permintaan musyrikin. Tetapi mereka menyebut dengan sihir, padahal itu nyata.
  3. Setelah Wafatnya Nabi ﷺ, dan ini bentuknya khabar. Seperti kejadian akhir zaman yang terbukti setelah Wafatnya Nabi ﷺ dan dikabarkan para sahabat, maupun yang akan datang.

Dan ada berita yang dijaga kerahasiaannya oleh sahabat, seperti hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang pernah mengatakan,

حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ

Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua bejana ilmu. untuk satu bejana sudah saya sampaikan kepada kalian. Untuk bejana yang kedua, andai saya sampaikan kepada kalian maka kepalaku akan dipenggal. (HR. Bukhari 120)

Dalam riwayat lain, orang-orang mengkritik Abu Hurairah,

أَكْثَرْتَ أَكْثَرْتَ

“Kamu terlalu banyak menyampaikan hadis.”

Lalu Abu Hurairah mengatakan,

فَلَوْ حَدَّثْتُكُمْ بِكُلِّ مَا سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَرَمَيْتُمُونِي بِالْقَشْعِ ، وَلَمَا نَاظَرْتُمُونِي

Andai aku sampaikan semua yang pernah aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kalian akan melempariku dan kalian tidak akan mendebatku. (HR. Ahmad 10959 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Hadits Apa Yang Disembunyikan Abu Hurairah?

Hadis yang disembunyikan Abu Hurairah bukanlah hadis yang berkaitan tentang hukum. Tapi hadis yang berkaitan dengan fitnah dan kejadian di masa mendatang. Yang informasi ini sama sekali tidak mempengaruhi agama seseorang. Dalam arti, ketika orang itu tahu, tidak akan menambah ketaqwaannya kepada Allah. bahkan bisa jadi, jika masyarakat awam itu tahu, justru akan menimbulkan kekacauan di tengah mereka.

Seperti, besok akan terjadi pemberontakan, pembunuhan, si A membnuh si B, ada fitnah di Karbala, fitnah peperangan, dst.

Berita-berita fitnah ini, ketika hanya diketahui oleh orang yangn berilmu maka akan berada di posisi aman. Namun jika dipegang orang bodoh, akan bisa membahayakan. Karena itulah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu merahasiakannya sampai beliau meninggal. Karena jika beliau sampaikan, bisa jadi beliau akan dibunuh.

Shahibu Sirri Rasulullah

Kita lihat, Hudzaifah bin Al-Yaman yaitu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang mendapat julukan Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).

Rahasia Utama yang Dipercayai

  • Daftar Orang Munafik: Rasulullah ﷺ memberitahu Hudzaifah mengenai nama-nama orang munafik di Madinah yang tidak diketahui oleh sahabat lainnya.
  • Menjaga Amanah: Hudzaifah memegang teguh rahasia tersebut hingga Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu pun bertanya kepadanya apakah namanya termasuk dalam daftar orang munafik.

Fenomena Akhir Zaman

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

سَيَأتِي عَلَى النَّاس سَنَوَات خَدَّاعَات، يُصَدَّق فِيهَا الكَاذِب ويُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق، ويُؤْتَمَن فِيهَا الخَائِن ويُخَوَّن فِيهَا الأَمِين، ويَنْطِق فِيهَا الرُّوَيْبِضَة، قِيْلَ: ومَا الرُّوَيْبِضَة؟ قَالَ: الرَّجُل التَّافِه في أمْر العَامَّة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.”

[HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887].

Hadits ini menunjukkan:

  • Peringatan akan bahaya berbicara tanpa landasan ilmu.
  • Pentingnya kejujuran dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan.
  • Hadits ini juga menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan memperingatkan dari bahaya mengkhianati amanah. Termasuk dalam menyampaikan hadits-hadits Nabi ﷺ.

1. Berdusta atas Nama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam

Padahal berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dosa besar, bahkan bisa kafir.

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Beramal dengan Hadits Dhoif

Sebagian kalangan beralasan dengan bolehnya beramal dengan hadits dhoif.
Mengamalkan hadits dhaif (lemah) dibolehkan oleh mayoritas ulama (asal Derajat kelemahan tidak parah: Bukan hadits yang sangat lemah (syadid adh-dha’if), dan bukan pula hadits palsu (maudhu’) dan ada landasan hadits shahih yang menyinggung hal tersebut) dengan syarat tertentu, yaitu hanya untuk fadhail a’mal (keutamaan amal), motivasi (targhib), atau ancaman (tarhib), dan bukan untuk menetapkan hukum halal-haram atau akidah.

Contoh hadits palsu:

“Barang siapa yang mati, diperutnya ada sisa-sisa kopi, ia tidak akan ditanya oleh malaikat”. (Habib Umar al-Muthohar)

2. Menyebarkan hadits dusta

Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يَرَيْ أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang menyampaikan hadits dariku dengan suatu hadits yang masih diduga bahwa itu adalah dusta, maka ia termasuk salah satu dari dua pendusta.” (HR. Muslim)

Dusta tertinggi adalah dalam masalah agama, karena akan berdampak ke masyarakat dan berimbas dunia dan akhirat, seperti dustanya Yahudi yang merubah isi kitab. Demikian juga dustanya Nasrani yang menyampaikan apa yang tidak disampaikan Allah melalui nabi Isa alaihissalam.

Dusta atas nama agama bertingkat:

  1. Menjadi kafir: kekal di neraka.
  2. Pelaku bid’ah : amalannya tertolak.

Diantara karakter Yahudi adalah suka berdusta dan makan harta haram.

Firman-Nya dalam surat Al-Ma’idah ayat 42:

سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَكّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِۗ

Mereka (orang-orang Yahudi itu) sangat suka mendengar berita bohong lagi banyak memakan makanan yang haram.

Maka, jika kedustaan merajalela maka efeknya akan lebih banyak harta haram yang dimakan.

Demikian yang sering dipraktekkan oleh orang-orang Yahudi dan menjalar ke negeri kaum muslimin.

Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa peristiwa terkenal ketika Rasulullah ﷺ mengadili orang Yahudi atau memutuskan perkara yang melibatkan mereka secara adil dan tegas. Dan mereka orang Yahudi lebih menyukai diadili Rasulullah karena lebih adil dibandingkan hakim Yahudi.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 60:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَحَاكَمُوْٓا اِلَى الطَّاغُوْتِ وَقَدْ اُمِرُوْٓا اَنْ يَّكْفُرُوْا بِهٖۗ وَيُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّضِلَّهُمْ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا ۝٦٠

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman pada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan pada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak bertahkim kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sangat jauh.

Kisah Ketegasan Abdullah bin Rawahah

Rasulullah ﷺ menugaskan Abdullah bin Rawahah untuk menaksir hasil kurma penduduk Khaibar sebagai dasar penetapan kewajiban mereka.

Saat menjalankan tugas tersebut, penduduk Khaibar mencoba memberikan perhiasan sebagai suap, dengan harapan Abdullah mengurangi hasil taksiran sehingga kewajiban mereka menjadi lebih ringan.

Namun Abdullah bin Rawahah menolak dengan tegas. Ia tidak mau mengambil sedikit pun harta tersebut karena menyadari bahwa suap adalah harta yang haram.

Pelajaran Penting

  • Amanah harus dijaga, terutama ketika seseorang diberi tanggung jawab.
  • Suap tetap haram, meskipun pemberian tersebut terlihat menguntungkan.
  • Kejujuran diuji ketika seseorang berhadapan dengan godaan harta.
  • Seorang Muslim hendaknya berani mengatakan “tidak” kepada yang haram, sekalipun ada keuntungan yang bisa diperoleh.
  • Abdullah bin Rawahah memberikan teladan bahwa integritas lebih berharga daripada keuntungan dunia.
  • Intinya:
    Jangan tukarkan amanah dengan harta. Ketegasan menolak suap adalah bagian dari kejujuran dan menjaga amanah.

Kisah ini juga mengingatkan pada sabda Nabi ﷺ bahwa Allah melaknat orang yang memberi suap dan orang yang menerima suap.

Inilah fenomena akhir zaman yang diberitakan Nabi ﷺ dan telah terbukti terjadi pada saat ini.

Poster

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم